
Itu adalah malam terpanjang yang pernah Noren miliki dalam hidupnya. Selama dia bernapas dan melakukan sesuatu hal yang telah di gariskan dalam takdir hidupnya, malamnya tidak pernah terasa seterlambat itu. Bagaikan menghitung detik dalam jam, ketika dia melihat garis pada jam dinding beberapa waktu lalu yang tidak bisa diingatnya, itu bahka hampir tak bergerak sama sekali.
Dia tidak bisa menghitung sudah berapa lama dia berada di kamarnya yang gelap. Duduk bersandar di dashboard ranjangnya, matanya masih senantiasa menatap pada satu garis lurus dalam pandangan kosong. Bajunya yang setengah basah masih melekat di tubuhnya, bersamaan dengan kaus kaki yang abai ia lepaskan naik ke atas ranjangnya yang dingin. Tidak terpengaruh risih pada kelembapan di tubuhnya, rasa sakit hati lebih membekukan perasa pada fisiknya.
Dia tahu bahwa dia sampai di dalam apartemennya yang kosong ketika jarum jam menunjuk pukul setengah satu malam. Dia ingat bahwa dia mengantar Lisa kembali ke rumah perempuan itu dengan menggunakan taksi yang untungnya masih dapat dipesan tengah malam karena bus yang beroperasi sudah habis untuk waktu itu. Mereka pulang dengan selamat, Noren mengantarkan Lisa tak kurang dari satu apapun. Di dalam perjalanan, Noren hanya mencoba yang terbaik untuk tidak lepas kendali ketika Lisa tidak merasakan kesakitan apapun yang Noren rasakan. Perempuan itu masih bertingkah seperti sebelumnya dengan senyum ceria dan beberapa cerita panjang lebar yang tak lelah dia omelkan.
Noren ingat Lisa mencoba mengajaknya untuk berbicara dalam lakon konyol dan dia dipaksa untuk tertawa dalam candaan aneh yang mencubit jantung Noren. Mereka juga bertukar camilan dari permainan mereka dengan hanya Nalisa seorang yang terlihat sangat gembira.
Noren mati rasa, tidak untuk mencintai Lisa dan bukan tentang perasaannya. Tetapi dia mati rasa untuk bersabar dalam hal-hal besar seperti itu. Dia tidak bisa tinggal diam tentang perasaannya, tentang bagaimana perjuangannya agar perempuan yang dicintainya bisa melihat dirinya secara penuh sebagai orang yang layak. Tentang bagaimana keseriusan hati dan perasaan yang tertuju dan ia kemukakan dengan sangat gamblang pada Lisa hanya dipatahkan dengan keputusan ringan yang sama sekali tak repot-repot untuk dipikirkan kembali matang-matang.
Jelas sekali, Lisa begitu meremehkan tentang seberapa besar rasa cintanya.
Dan jelas sekali, Lisa meremehkan tentang seberapa keras kepalanya dia untuk mengejar apa yang dia inginkan. Lisa tidak mempertimbangkan sejauh apa Noren siap bertindak untuk hal sepenting itu.
Mungkin dalam hidupnya, Noren tidak bisa memilih tentang apa yang dia harus lakukan. Semuanya sudah di gariskan ketika dia lahir kedalam keluarga Giovano. Ketentuan hidup yang ia jalani bukanlah seutuhnya ada dalam mimpi Noren. Ayahnya adalah apa yang menarik garis dari kehidupan yang ia jalani sekarang. Bahkan, bermimpi pun Noren tidak bisa.
Tetapi, dia mempunyai banyak mimpi dan kekuatan hidup ketika Nalisa masuk ke dalam hidupnya. Ketika dia mengerti apapun perasaan yang sedang dia rasakan, bungsu Cakrawijaya itu adalah apa yang membuatnya tetap bernapas dan mencoba untuk merelakan segala hal yang coba ia harapkan dalam hidup. Noren bangkit dan bersemangat menjalani garis hidupnya adalah karena cintanya pada Lisa yang berkembang.
Noren ingat ketika dia meminta kepada Papanya untuk tidak ikut campur dalam hubungan percintaannya. Dia tahu, terlahir sebagai anak dari pebisnis, dia diharapkan untuk dipertemukan dengan anak dari pebisnis lain yang layak dan cocok untuk bisa mengembangkan kedua belah perusahaan. Noren paham bahwa suatu waktu Papanya akan menjodohkannya dengan putri rekan kerjanya atau apapun itu. Jadi, dia melangkah lebih awal untuk mengecualikan dia dalam acara perjodohan konyol yang bodoh.
Papanya tentu saja tidak suka dengan keputusan yang diambilnya, karena sebagai seorang pebisnis (lagi-lagi) perusahaan yang telah dibangun sejak nol hingga mengalami pertumbuhan gila-gilaan hingga namanya dikenal dunia adalah apa yang harus dijaga dan jangan sampai runtuh disuatu-waktu terburuk. Perjodohan adalah hal yang diharuskan, tetapi ketika Noren mengatakan bahwa dia akan meminang Nalisa dari keluarga Cakrawijaya, Papanya melepaskannya begitu saja dan mendukungnya dengan dukungan penuh dalam sebuah cengiran lebar rasa bangga.
Itu hanyalah kebetulan bahwa orang yang dicintainya adalah anak dari salah satu pebisnis menjanjikan juga. Mengabaikan fakta itu, Noren tidak peduli dengan hal-hal disamping bagaimana dia merasa. Lagipula, dia tidak menikah untuk menyatukan dua perusahaan. Itu adalah tentang hatinya dan perempuan pilihannya. Itu adalah satu-satunya hidup yang dia butuhkan dan sebagai udara untuk bisa terus bernapas dalam segala beban gila-gilaan di kehidupan brengsek yang dia jalani.
Perasaannya adalah apa yang dia pegang dan dia percayai dalam proses pertumbuhannya. Meskipun jauh dan tidak pernah bertemu selain ketika dia melihat perempuan itu di ladang kecil bunga dandelion buatan, jantungnya tetap berdebar untuk perempuan itu kapanpun dia mengingat rupa dan suara, serta senyuman indah yang selalu terpatri di kepalanya. Dia selalu meminta Sinar untuk memberinya kabar tentang adik perempuan lelaki itu, dan berterimakasih ketika Sinar selalu memberitahunya apapun perihal tentang Lisa tanpa dia harus berusaha terlalu banyak.
Noren sudah sampai di titik ini. Dia sudah melakukan banyak hal agar Papanya mempercayainya untuk mengambil alih perusahaan di Indonesia daripada di bagian Eropa sana dimana dia tahu itu lebih menjanjikan karirnya. Tetapi Noren sudah cukup dengan jarak yang terbentang jauh antara dia dan cintanya. Dia hanya ingin hidup layak dalam euphoria bahagia dan persetan dengan karir yang dia jalankan selama hampir menghabiskan masa mudanya. Ah masa muda, dia bahkan tidak mendapatkan hal yang layak dari itu semua.
Noren sudah bergerak sangat jauh, dia bahkan rela untuk melakukan pendekatan yang membuatnya bersabar agar tidak terlalu mengejutkan Lisa dengan buncahan perasaan yang ingin ia lemparkan dan lingkupi hanya untuk Lisa seorang. Noren sudah cukup muak dengan hal-hal yang ia hati-hatikan untuk menarik Lisa dalam pesonanya. Usaha untuk membuat Lisa cinta padanya dan menerima lamaran pernikahannya agar ikatan mereka menguat dalam janji rumah tangga indah yang ia impikan, saat ini terguncang karena penolakan yang perempuan itu lemparkan padanya.
Apakah benar langkah yang ia mulai sudah salah dari awal?
Salahkah dia ketika dia hanya ingin mengikat perempuan itu dalam hubungan cinta murni sehidup semati? Apakah itu terlalu cepat dan tiba-tiba?
Noren berpikir itu tidak sama sekali. Lelaki itu bahkan sudah terjerat dalam dan terikat erat dalam buncahan cinta yang selalu ada sejak lama hanya untuk Lisa. Dia bersabar dan terus bersabar, memendam dan tidak pernah kelepasan dalam satu dan hal lainnya. Dia menjaga itu dengan hati-hati agar orang lain tidak terlalu kewalahan dengan perasaannya.
Jika Lisa merasa bahwa dia melangkah dengan kaki yang salah, atau jika Lisa mengatakan bahwa perasaannya salah dan diluar batas, hingga Lisa meremehkan apa yang dia rasakan untuk perempuan itu-,
Bukankah itu termasuk hal yang paling jahat di dunia?
“Jahat, ya..”
Noren menyeringai. Tubuhnya bergerak setelah lama tidak dia gerakan. Tatapan matanya berkeliaran hanya dari satu garis lurus menatap jam dinding yang terhalang gelap ruangan karena dia tidak menghidupkan saklar lampu sama sekali. Tidak begitu diperlukan ketika kepalanya sedang berkecamuk bagai badai yang bertarung dengan angin ribut.
Satu-satunya penerangan disana adalah sebuah kotak redup yang menyorot pada satu boneka murah dari mesin capit yang dimenangkan Lisa untuknya. Sebuah boneka rubah yang terletak di tengah bagian penting lainnya dalam koleksi indah khusus miliknya.
Boneka itu tergeletak bagai raja yang memimpin. Bergerak dari posisinya, dia berjalan dengan langkah pelan, tertatih namun mantap ketika dia menekan saklar untuk pada akhirnya menerangi seluruh ruangan yang gelap.
Itu berpendar dalam putih yang menyilaukan mata untuk sesaat sebelum berhambur menjadi hangat di sekitar. Noren tidak bisa mengalihkan pandangannya ketika dia berhenti tepat di depan semua koleksi yang dia miliki. Keseluruhannya mengingatkannya pada satu dan bukan lain, seorang yang sangat dia cintai dan memiliki tempat khusus dalam hatinya.
Bola Kristal dengan berbagai macam bentuk dandelion megah di dalamnya.
Itu adalah koleksi khusus yang dia pesankan langsung dari pengrajin ternama dunia. Beberapa adalah skesta yang dia buat dan desain sendiri. Noren bergumam dengan gumaman rendah yang licik, puas dalam sentuhan ringan yang ia sapukan pada beberapa bola Kristal berharganya.
Tergeletak di samping kanan kotak kaca yang menyimpan boneka rubah yang menjadi barang berharga nomor satu dari banyaknya koleksi berharganya, adalah salah satu bola Kristal baru yang dia pesankan pada Mr.Herrmington sekitar dua bulan yang lalu ketika dia memesan kotak kaca untuk boneka rubah dari Lisa.
Di dalamnya terukir miniatur mesin capit boneka dan seorang perempuan yang sedang berfokus pada permainannya, ada satu figur kecil lelaki yang terlihat antusias duduk di sebelahnya dengan memegang banyak benih dandelion yang bertebaran alih-alih cokelat dan permen seperti yang seharusnya. Jika bola Kristal itu di guncang, maka ada serpihan salju Kristal yang akan berhamburan seperti debu peri.
Di bagian sebelah kanan adalah koleksi favoritnya daripada yang lain. Itu adalah bola Kristal dengan figur seorang remaja perempuan yang tengah berdiri di sepetak ladang dandelion. Tangannya terangkat di depan dada, menggenggam dandelion matang yang siap untuk dihembus. Perawakan remaja itu persis seperti Lisa berusia 17 tahun dalam ingatannya. Dengan rok tutu berwarna biru dan cardigan putih. Topi berpiercing yang terganti dengan topi bundar berpita merah adalah apa yang melengkapi figur tersebut.
Noren mengangkat bola Kristal itu. Mengguncangnya dengan lembut. Napasnya berhembus hangat ketika melihat keindahan yang hampir sama dengan apa yang tertanam di inti otaknya pada hari itu. Lebih daripada debu peri yang indah, itu adalah hembusan harapan dari benih dandelion yang berterbangan seolah-olah seperti butiran kapas dengan kerlip indah yang layaknya bintang dan harapan yang mengelilingi sang figur, bersatu dengan rintikan salju lembut pertama di musim dingin.
“Lo nolak gue dengan seenteng itu setelah apa yang gue lakuin buat ngedapetin dan ngeluluhin hati lo, bukannya itu bisa dibilang kejahatan, ya?” suaranya bergema di gelap malam yang sunyi. Ah, bahkan saat ini sama sekali tidak bisa dibilang malam. Sudah terlalu pagi untuk bisa menyebutnya.
“Jahat banget, ya, lo, Nalisa Rembulan Cakrawijaya..”
Gumamnya lagi ketika dia mengusap halus sisi permukaan bola Kristal yang terawat.
“Tapi emang dengan begitu lo bisa bikin gue berhenti buat memiliki lo seutuhnya? Lo cuma punya gue, Lisa. Gue nggak bakalan tinggal diam dan ngelepasin lo begitu aja”
Mendesis, kepalanya yang tertunduk seperti tak punya tenaga itu, ia tengadahkan. Bibirnya masih membentuk seringaian lebar sedangkan matanya terpejam erat.
“Ah, gimana, nih? Padahal gue udah janji sama Sinar kalau gue nggak bakalan pakai cara sejauh ini. Tapi lo yang bikin gue ambil keputusan gila sebagai cara terakhir buat ngikat lo seutuhnya.”
“Gimana, nih? Kalau gue ngelakuin hal ini, jangan salahin gue, ya, Lisa?”
Lagi ada cekikikan ketika dia menggeleng, geli sendiri dengan isi kepalanya sendiri.
“Persetan dengan teman. Jangan bilang hal bodoh yang nggak masuk akal begitu dong, sayang” berdecak, Noren bergerak kembali. Mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan otot-ototnya, dia merasa sangat puas. Nyanyian dengan nada kelewat ceria yang aneh terbentuk dari pita suara yang dia keluarkan melalui bibirnya.
“Gue bakalan ngasih satu kesempatan buat lo, Lisa. Tapi, kalau gue cuma diam aja sampai satu kesempatan yang gue kasih ke lo berakhir di sia-siain lagi, gue kayaknya udah cukup bersabar buat itu, deh”
Langkahnya ia hentikan di depan kaca lemari full body yang sengaja ia miliki untuk memudahkannya berpakaian, ia diam sejenak. Senyuman licik masih tergambar dengan jelas di wajahnya. Mengupas pakaiannya yang lembab, dia bergumam dengan nada ringan sembari mata mengikuti pergerakkannya dengan luwes.
“Maka dari itu, gue punya hal lain yang wajib gue lakuin daripada harus bersabar dengan ujung yang lagi-lagi sama. Yah, kalau yang lo bilang tentang keras kepala lo itu benar adanya dalam situasi kayak gini”
Puas dengan menelusuri lekuk tubuhnya yang ia banggakan, dia segera mengambil baju ganti yang lebih nyaman. Berjalan dengan hanya menggunakan ****** ***** di kamarnya sendiri adalah hal umum yang ia lakukan. Toh itu adalah ruang pribadinya dan dia bebas melakukan apapun.
Puas dengan apa yang dia kenakan pada saat itu, Noren segera meraih ponselnya. Menekan nomor yang familiar dan menjadi panggilan yang sering masuk ke dalam ponsel pribadinya, dia merebahkan dirinya dengan lemparan kecil ke atas ranjang empuknya. Lengannya menjadi pengganti bantal sementara untuk kepala. Matanya berbinar dengan decihan geli yang tidak bisa dia tahan. Noren selalu suka kemana akhirnya harus melangkah dalam hal-hal seperti ini.
Tidak apa-apa. Toh Lisa yang sudah membangunkan monster dalam dirinya. Lisa yang sudah membangkitkan sisi liciknya dan Lisa adalah orang yang bertanggung jawab untuk itu.
Nalisa harus tahu, bahwa tidak ada yang tidak bisa Noren tangani, bahkan tentang hal-hal mengenai perasaan itu sendiri. Lelaki itu sama sekali tidak akan mundur dan menyerah.
Ada seribu satu cara yang akan dia lakukan.
Termasuk dalam hal ini.
Dering terputus ketika panggilang di angkat. Noren tidak melihat waktu ketika dia menelpon, tetapi dia senang ketika orang di ujung sana mengangkat panggilan tidak lebih dari dering panjang kelima.
“Pa, bisa adakan pertemuan dengan keluarga Cakrawijaya? Hanya Mr. dan Mrs. Cakrawijaya saja, tidak yang lain. Bahkan Sinar”
Tanpa basa-basi, dia langsung mencerca.
“Ya. Noren sudah siap. Kalau Papa sama Mami juga siap, kapan saja dalam minggu ini Noren terima pertemuannya. Ada yang harus Noren bahas tentang pernikahan”
.........
...🍁...
...Rencana Noren; Bola Kristal Dan Keputusan...
.........
...🍁🍁🍁...
Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Aveei, nih! Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMOSI NOVEL KARYA AVEEI...
...JUDUL: TERNYATA ITU CINTA...
Cinta itu tidak punya mata, mulut dan telinga, tapi ia hanya punya hati. Tidak perlu semua indera untuk mengenal apa itu cinta, tapi jika kamu ingin mengenalnya lebih dekat coba tanya hatimu -Langit Angkasa
Aku tidak tahu dan tidak mengenal apa itu cinta, tapi aku nyaman ada di dekatmu dan aku tidak mau kamu menjauh dariku. Apa itu yang dinamakan cinta?
Sebuah kisah sederhana dari sepasang remaja yang baru belajar mengenal apa itu Cinta dan pengorbanan.
Selamat membaca🥰