
Lisa sudah tidak tahan lagi.
Dia sudah berada di ambang batasnya.
Orang-orang sering mengatakan, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semuanya bisa dicapai dengan usaha dan tentu saja niat yang kuat. Lisa seringkali mendengar hal seperti ini lewat di telinganya. Dia juga ingat bagaimana Papa dan Mamanya pernah mengatakan nasihat itu padanya di suatu waktu ketika dia masih kecil atau bahkan ketika dia berada di masa remaja saat sedang mengalami sedikit keterpurukan tentang masalah nilai dan pelajaran di sekolahnya.
Kamu bisa, kamu pasti berhasil. Niat dan usaha adalah yang terpenting! Ketidakmungkinan bisa menjadi nyata suatu hari nanti dan kamu akan bisa membanggakannya!
Tentu saja, itu adalah kalimat penyemangat dan penuh vibes positif yang jika disampaikan kepada orang yang tepat, akan membangkitkan jiwa semangat dan pantang menyerah. Keyakinan yang kuat akan mendorong orang itu menuju tak terbatas dan melampauinya, seperti apa yang dikatakan Buzz Lightyear dalam film Toy’s Story, dimana dia mengikuti series film anak-anak itu.
Lisa yakin, itu adalah prinsip yang Noren pegang teguh, dekat dengan dadanya yang membangkitkan kepercayaan diri tak ternilai harganya sehingga dia terus maju dan maju. Tidak ada kata kalah dalam setiap langkah yang dia ambil. Langkah kakinya seperti mengobarkan api penuh kepercayaan dan kekeraskepalaan yang nyata. Lisa hampir takjub dengan bagaimana dia bisa terperangkap dalam satu hal yang menjadi tujuan ketidakmungkinan yang menjadi mungkin dari seorang Noren Agustion Giovano. Dalam hal ini, dengan tanda kutip akan menyatakan; Pengganggu dalam kehidupan seorang Nalisa Rembulan Cakrawijaya.
Prinsipnya bagus. Oh, tentu saja itu sangat bagus.
Tapi, jika Lisa bisa meminta, dia ingin prinsip itu tidak diarahkan dan ditujukan padanya. Dia memohon sekali untuk hal yang satu ini.
Dia lelah. Dia sudah mengatakannya dalam banyak waktu, bukan?
Jelas, dia tidak mengembangkan perasaan apapun. Sama sekali.
Lisa tidak bisa terus-menerus menangani emosinya yang semakin hari semakin membuatnya frustasi dan kehilangan bagaimana perasaan santai untuk menikmati diri dan menjadi bagaimana dia seharusnya. Kepalanya terus saja memikirkan bagaimana dia harus melepaskan diri dari jeratan Noren. Itu semua mempengaruhinya. Emosinya yang harus berperang setiap waktu bahkan mampu mempengaruhi bagaimana dia ditempat kerja.
Jika bisa dibilang, dia menjadi lebih pendiam dari bagaimana dia biasanya. Bibirnya bahkan tidak bisa ditarik untuk membuat senyum manis yang nyata untuk menyapa dan bergaul dengan teman-teman kantornya. Dia bahkan hampir tidak fokus pada pekerjaannya karena kepala dan hatinya terus menerus berperang mencari siasat bagaimana menghindar dari eksistensi Noren yang semakin berusaha untuk menempeli dirinya bagai perangko dan mungkin akan berkamuflase lebih menjadi permen karet.
Pak Leo, dalam beberapa hari terakhir sering kali mendapati kesalahannya saat bekerja. Sehingga banyak waktu, pria itu akan mengomentari dan mengingatkannya untuk fokus dalam pekerjaan. Pria itu juga kadang terlihat agak khawatir dengan bagaimana temper emosi Lisa yang bahkan tidak sedamai sebelumnya. Untuk menambahi hal itu, perang dingin yang meletus di antara Elena, Anela dan juga Ayu memperburuk segalanya.
Tapi tentu saja, Lisa bangga bahwa dia tidak terjerumus dalam perang dingin itu. Oh, dia pasti akan melakukannya dan ikut menambah beban emosinya jika saja Jelita tidak membuat Lisa menempel padanya setiap waktu sehingga Lisa bisa berlindung dari balik bahu perempuan yang dikaguminya itu.
Perang itu terjadi dalam lima atau enam hari penuh. Dan untuk keterkejutan Lisa, ketika dia melangkahkan kaki di pagi hari memasuki ruangan kantornya yang sudah agak ramai karena Alpino sedikit terlambat untuk mengantarkannya bekerja, Lisa mendapati ketiga rekan divisinya itu sudah duduk melingkar dan bergerombol untuk menggosipkan informasi panas lagi seputar apapun yang sedang seru-serunya untuk dibicarakan. Lisa bahkan tidak sadar bahwa dia sudah berhenti di pintu masuk ruangan, tidak bergerak sedikitpun karena keterkejutannya.
“Nalisa, kamu lagi kamuflase jadi pintu, ya?”
Lisa terperanjat ketika suara lembut yang penasaran dari kepala divisinya, tersirat sedikit sarkastik yang tidak menyakiti hati, diubah menjadi kekonyolan candaan yang membuat Lisa malu dan langsung menggeser tubuhnya. Dia mendapati Jelita yang berdiri dengan senyuman manis dan tawa lembut di wajah cantiknya. Lisa tahu, perempuan itu pasti sedang menertawai ekspresinya yang kikuk.
“Uh, maaf Miss. Saya nggak begitu fokus tadi” Lisa mencoba membuat alasan. Matanya melirik ke arah rekan kerjanya yang lagi-lagi sedang berdiskusi dengan heboh dengan tawa nyaring yang memantul di ruangan kantor yang tidak sepi. Bagaimanapun, Jelita sepertinya paham dengan apa yang membuat Lisa keluar dari trans kesadarannya untuk beberapa detik kehadirannya.
“Oh, mereka sudah berbaikan, ya?”
Jelita mengangkat suara sebelum tersenyum dengan senang hati. Lisa memperhatikan, Jelita sepertinya lebih sering tersenyum akhir-akhir ini dan itu entah bagaimana berhasil menghangatkan hatinya dan membuat bibirnya menarik senyuman meski dia sedang sangat tidak bersemangat sebelum dia berangkat hari ini. Bahkan, Alpino saja menjadi objek dari semburan omelannya meski dia sadar diri bahwa tidak seharusnya Alpino yang berbaik hati untuk mengantarnya berangkat kerja harus dia marahi seperti itu karena keterlambatan yang tidak dengan sengaja dia lakukan.
“Saya senang kalau semua sudah baik-baik saja” Jelita terlihat sangat puas. “Kan sudah saya bilang sebelumnya, mereka pasti bakalan nemuin cara buat nyelesaiin apapun yang buat mereka bertengkar” Lanjutnya kemudian sebelum menunjukkan gestur untuk mengikutinya menuju kelompok rekan kerja mereka. “Ayo, kayaknya mereka lagi ngobrolin hal seru, deh. Saya juga mau ikut nimbrung”
Jelita dan berbagai macam keterbukaan yang tiba-tiba pada Lisa. Itu adalah beberapa hal yang Lisa pelajari dari kedekatannya yang secara natural terbentuk ketika dia memiliki banyak waktu untuk menempel pada perempuan hebat itu. Jadi, dengan rasa senang yang tiba-tiba menjalarinya, Lisa melangkah dengan riang mengikuti langkah kaki lebar yang dibentuk oleh Jelita sebagai kebiasaan jalannya. Kakinya yang terbalut heels merah berkilau yang membalut kakinya yang mungil itu mengeluarkan bunyi ketukan berirama.
“Ada hal bagus yang ingin dibagi hari ini, anak-anak?”
“Miss Jelita!!!”
Lisa bisa melihat bagaimana ketiga pasang mata perempuan itu menyala dengan senang hati dan menarik Jelita untuk memulai bahan gossip panas di pagi hari yang mereka hebohkan sebelumnya. Atmosfernya tiba-tiba berubah dan Lisa sedikitnya menyukai perasaan dimana zona nyamannya kembali seperti semula.
...….....
“Ini”
Lisa bisa melihat bagaimana mata Hala mengerjap terkejut dari balik kacamata bacanya. Perempuan itu mengernyitkan kedua alisnya melihat apa yang baru saja Lisa sodorkan di atas mejanya. Menutupi buku catatan yang penuh dengan coretan pulpen serta layar komputer yang menyala seperti sedang mengejek.
“Hah?” Seperti baru keluar dari apapun yang sedang dia fokuskan, Lisa hanya mendapat pertanyaan bodoh yang sangat tidak perlu dan terdiri dari tiga kata khas itu.
“Makan siang buat lo” Lisa menawarkan kembali. Kali ini dia mengangkat makanan delivery yang lagi-lagi dibelikan oleh Noren untuknya, menyingkirkan buku catatan Hala dan kembali menempatkan kotak makanan di atas meja yang bersih dan menempatkan tangan Hala yang memegang pulpen berada di atas bungkusan itu.
“Ih ngapain?!” Hala menolak. Reaksi yang sudah diperkirakan oleh Lisa sebelum dia memutuskan apa yang sedang dilakukannya.
Ruangan kantor sedang sepi karena jam istirahat yang berlangsung. Disana, mereka hanya berdua saja, dengan Hala yang masih memiliki pekerjaan tambahan seperti apa yang berhasil Lisa tangkap dari pembicaraan sekali lalu ketua divisi Hala dan juga Pak Leo ketika dia berada di ruangan fotokopi dan bersebelahan dengan mini pantry.
“Buat lo makan, lah” Lisa bersikeras. Mundur sedikit sebelum menepuk bahu Hala dengan lembut. “Gue tau lo lagi bantuin divisi media sosial buat naikin engagement produk kita, ‘kan? Makanya lo nggak tiba-tiba lari ke gue buat makan bareng. Sekarang, lo makan ini sambil ngerjain kerjaan tambahan lo. Jangan sampai lo nggak makan siang. Miss Ivora aja lagi keluar juga ngambil makanan, tuh”
“Aduh perhatian banget emang sobat gue satu ini” suara Hala adalah suara terharu yang seperti dibuat-buat. Lisa tertawa sebelum mengangkat kedua alisnya dan memukul dadanya untuk membanggakan dirinya dalam candaan yang dilemparkan Hala untuk menggodanya.
“Tapi, ini, kan, dari Kak Noren? Nggak enak deh gue bagi-bagi makanan lo gini yang khusus buat lo doang. Udah, gue nggak apa-apa. Paling nanti gue makan kue dari pantry aja, minta waktu break sedikit ke Mbak Ivora”
“Nggak usah, Hala. Gue mau makan di luar. Miss Jelita traktirin kita soalnya” Lisa menunjuk ke arah rekan-rekannya yang masih mengobrol seru dengan Miss Jelita tentang menu makanan yang akan mereka pilih untuk makan siang spesial karena yang membayarkan adalah Miss Jelita sendiri tanpa paksaan apapun yang berusaha mereka kerahkan. “Lagian, gue ngelarang keras lo cuma makan kue dari mini pantry doang. Nggak bakalan kenyang, tipes yang ada lo”
Hala meringis mendengar omelan Lisa lagi sebelum mendengus dan mengangguk dengan rasa terimakasih atas makanan yang diberikan padanya ketika dia sangat membutuhkan karena perutnya menggonggong lapar sejak beberapa waktu lalu.
“Yaudah, makasih banyak, ya. Have fun kalian. Selamat makan siang, Lisa! Jangan lupa harus makan yang banyak pokoknya, oke?”
Lisa tertawa kecil sebelum mengangkat jempolnya untuk mengatakan bahwa dia tahu dan dia akan melakukannya dengan benar sesuai dengan permintaan Hala. Toh, dia sudah pastikan bahwa dia akan makan enak hari ini karena Jelita bersikeras bahwa mereka akan mengambil apapun yang mereka inginkan tanpa dibayang-bayangi harga. Semua ada pada Jelita dan Lisa tahu apa yang membuat kepala divisinya itu berani mengeluarkan uang secara cuma-cuma karena ketiga orang yang perang dingin hampir seminggu itu sudah berhasil bersatu kembali dan menemukan cara menjadi hangat satu sama lain seperti sebelumnya.
“Oke, gue pergi dulu. Udah ditungguin yang lain, nggak enak gue”
“Iyaa, Sudah sana pergi. Hati-hati dijalan!”
“Sip. Aman!”
...….....
“Daripada ngeluarin emosi yang bikin capek jiwa dan raga, kenapa nggak milih untuk berdamai dengan keadaan dan ikutin aja apa maunya dia? Bukannya lebih capek, ya, bertengkar sama emosi sendiri yang bikin gila alih-alih ikuti aja alurnya mau gimana?. Enakan diem aja dan biarin dia lakuin apa yang dia mau dan kita iya-iya aja sampai dia capek sendiri dan tau akhirnya bakal gimana, kan?”
“Kalau misalnya kita udah nggak mau dan bertentangan sama dia, jangan balas pakai emosi atau kemarahan. Lebih enak, tuh, iyain aja apa maunya dia. Kalau misalnya kita malah nolak, dia nggak bakalan nyerah dan malah lebih milih maju terus. Capek banget, kan?”
“Jadi, ya, kita lebih milih buat nenangin diri. Sepakat buat ngikutin aja alurnya gimana buat kita masing-masing. Nanti kalau hasilnya emang nggak sebaik dan sebagus apa yang dia pikirin, yang dia pilih, dia juga bakalan nyerah gitu aja. Nggak ada ruginya buat kita, kan?”
“Jiwa tenang, raga tenang, tinggal ikutin alur, nggak ada yang bikin susah sama sekali. Nikmatin aja jalannya. Toh kalau kita emang nggak bisa dipaksa dalam satu hal, meskipun dia berusaha sekuat tenaga, ya, pasti hasilnya nggak akan sesuai kemauan dia, kan?”
“Ini, tuh, bukannya nyerah,ya. Tapi buat meminimalkan energi yang bikin kita stress dan bahkan sampai berantem perang dingin kayak kemarin. Daripada buang tenaga sia-sia, mending nikmatin sambil lihat hasil akhirnya gimana. Selesai”
“Kalau dari awal udah nggak cocok, hasilnya juga nggak bakalan sesuai dengan apa yang dia inginkan. Mudah.”
Lisa tiba-tiba merasa bodoh selama percakapan yang berlangsung saat mereka makan bersama. Setelah duduk di suatu restoran pedas manis yang memiliki menu terlengkap untuk selera masing-masing rekannya, satu persatu yang mengalami perang dingin mulai membuka suara untuk bercerita.
Itu adalah perang tentang perbedaan pendapat dalam salah satu proyek yang mereka kerjakan bertiga. Lisa tidak ikut dalam projek itu karena dia harus menyortir dan melakukan survey lapangan bersama dengan Jelita, masih dalam satu produk yang sama seperti sebelumnya. Pak Leo menyuruh anak-anak lainnya untuk melakuka survey produk baru dan hanya mereka bertiga yang sedang ditugaskan untuk hal itu. Jadi, Lisa bahkan tidak mengerti apapun yang menyebabkan pertengkaran sejak hari ini.
Bukan hanya tentang pertengkaran itu sendiri, melainkan bagaimana cara mereka menjabarkan permasalahan dan juga pada akhirnya penyelesaian dari kasus mereka sendiri. Lisa tidak menyangka, bahwa mereka bahkan bisa melakukan hal yang diluar dugaannya.
Dari pada berusaha untuk bertengkar dan menolak, bukannya lebih baik untuk bergabung dengannya dan melihat seberapa jauh dia akan melangkah sebelum akhirnya mengakui kekalahannya saat dia menyerah?
Gila.
Lisa bahkan tidak berpikir sejauh itu. Dia hanya fokus pada bagaimana cara menyingkir dari permasalahan hidupnya dengan emosi dan kemarahan yang terus bergejolak sehingga membuatnya merasa kelelahan luar dan dalam.
Jika ada metode ini sejak lama, kenapa Lisa bersusah payah hanya untuk membuang semua kemarahan langsung pada Noren dan membuat dirinya sendiri frustasi?
Bodoh. Seharusnya Lisa tahu ini lebih awal.
Dia tidak harus merasa gila dalam lebih dari empat puluh hari. Dia akan bisa terbiasa dengan ini dan mengibarkan bendera kemenangan ketika Noren menyerah nantinya.
Tentu saja, apa lagi yang dia butuhkan selain Noren yang mundur dengan sendirinya ketika dia pada akhirnya bisa melihat bahwa Lisa sama sekali tidak bisa dia tumbangkan dalam urusan perasaan yang dipaksa?
Hell, yeah! Dia akan berterimakasih pada ketiga rekan kerjanya lain waktu.
Kepalanya saat ini sudah membuat banyak skenario untuk mulali melakukan siasat licik terbarunya. Itu tidak akan mudah di awal. Dia yakin bahwa emosinya akan dengan mudah tersulut. Namun satu-satunya hal yang dia harus lakukan untuk mendapat ketenangan hidup adalah ini.
Jika dia bisa melakukannya, cepat atau lambat, Noren akan segera menyerah.
Pasti.
“Nalisa?”
Dia terkesiap ketika Jelita menyentuh tangannya yang memegang sumpit, Wajahnya terlihat agak cemas karena Lisa yakin dia pasti sudah terlalu lama diam dengan makanan yang setengah jalan masuk ke mulutnya. Kepalanya memutar banyak ide-ide baru dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia bisa berbaik hati dan menuruti apapun yang Noren mau sehingga dia bisa melihat akhir dari kekalahan Noren yang sesungguhnya.
“Eh, iya?” Lisa menyeringai kikuk. Tawanya keluar dengan aneh sebelum dia berdehem, membersihkan tenggorokkannya yang sedikit tersumbat. “Maaf, maaf. Tadi saya lagi kepikiran hal yang lain. Apa pembicaraannya sudah selesai? Atau udah masuk pembahaasan berbeda?” tanyanya kemudian.
Dia bisa melihat bagaimana Anela tertawa dan menyenggolnya karena perempuan itu duduk persis di sebelah kirinya, sedangkan Elena dan Ayu hanya menatapnya dengan penasaran dan seringai yang Lisa tahu apa artinya itu. Mereka pasti akan menggodanya tentang banyak hal yang bisa mereka ungkap di atas meja makan saat ini juga.
“Nggak, kok. Ini kita baru aja mau ngomongin tentang lo sama calon suami lo yang ganteng dan baik hati itu” Ayu menyembur kata yang Lisa sudah pastikan bahwa ini akan terjadi. Lagi. “Sumpah, ya, gue masih iri banget sama lo, Nalisa! Gue kan juga pengen yang kayak Mas Noren gitu satu. Hehe”
“Mas Noren?”
Lisa terkejut, tawanya tiba-tiba lepas seolah-olah hal paling lucu dalam hidupnya adalah apa yang sedang dia dengarkan sekarang. Ayu menatapnya dengan cemberut yang paling panjang ketika perempuan itu mencubitnya karena menertawai panggilan Ayu kepada Noren.
“Emang salah, ya, gue manggil gitu?” Ayu mengoceh sebelum dia mencubit Elena yang berada di sebelahnya yang ikut menertawai wajah polos Ayu yang tiba-tiba hadir seolah-olah dia bukanlah orang yang memiliki mulut besar untuk memulai obrolan gossip di pagi hari.
“Gue pengen bilang lo salah, tapi kok manggil calon suaminya Lisa pakai panggilan Mas lucu juga, ya?” Elena mulai ikut dalam pembicaraan lagi. Menyelamatkan wajah Ayu yang sudah merah padam. Merasa diselamatkan, Ayu semakin menjadi-jadi dengan celetukkan yang dia hebohkan kembali.
“Tuh, kan, bener! Cocok, jadi Mas Noren” Imbuhnya lagi, kali ini dengan bersemangat. Lisa tidak bisa untuk tidak berhenti tertawa.
Rasanya konyol. Telinganya tidak bisa terasa geli ketika dia mendengar rekan-rekannya mulai menyetujui apapun yang Ayu muntahkan dari mulutnya yang tanpa filter itu.
“Berarti nanti kalau Pak Noren dipanggil jadi Mas Noren, Nalisa panggilannya jadi Mbak Nalisa, dong?”
“Elena, lo bisa diem nggak?!” Lisa menyembut, perutnya masih terasa geli. Dia anehnya merasa pusingd engan cara yang tidak begitu buruk.
“Loh? Bukannya kalau panggilannya Mas itu, nanti Pak Noren manggilnya jadi, Dek Lisa? Begitu, ‘kan, ya?”
Lisa mengerjap. Meja makan yang semula ramai dari godaan-godaan aneh yang terlontar mengocok perut berhenti begitu saja. Menjadi sunyi senyap dari ucapan yang dikeluarkan dari Jelita.
Perempuan yang lebih tua dan memiliki lebih banyak pengaruh daripada empat yang lain, menatap mereka satu persatu dengan kebingungan yang nyata terletak di wajahnya ketika dia baru saja selesai meyuap makanan.
“Kenapa? Saya salah?”
Dengan itu kemudian, Jelita membangkitkan tawa yang lebih bergemuruh dan lepas di antara perempuan yang sekarang memukul meja dengan heboh
Lisa menarik bibirnya menjadi garis tipis dengan ekspresi lurus yang berusaha dia sabar-sabarkan diri. Kalah dengan keadaan dimana sekarang dia adalah bahan olok-olokan nyata dari satu kelompok rekan divisinya yang telah kembali dari medan perang yang dingin.
Itu bagus.
Tapi, bisa tidak, lepaskan Lisa dari bahan tertawaan yang sangat unfaedah ini? Tolong?
...….....
Kak Noren (Orang gila)
Sore, Lisanya Noren. haha
Aku sudah di depan, ya, jemput kamu.
Nggak usah buru-buru keluarnya nggak apa-apa. Kamu santai saja.
Oh iya, tadi aku baru aja cek film. Aku ketemu satu film yang kayaknya bakalan kamu suka,deh.
Kebetulan tiketnya sudah aku pesan tadi karena refleks ingat kalau kamu suka dengan yang ini. Opini aku sih dari film yang kita tonton waktu kamu ngajak aku itu..
Kak Noren (Orang gila)
Mau nonton bareng?
^^^Me.^^^
^^^Oke. Boleh.^^^
^^^Read 17.14 PM^^^
Kak Noren (Orang gila)
???
^^^Me.^^^
^^^Ini gue lagi di lift^^^
^^^tunggu bentar, ok.^^^
^^^Btw, pesenin popcorn caramel yang medium sama cola, ya. Nggak terima penolakan.^^^
^^^Read, 17.15 PM^^^
.........
...🍁...
...If You Cant Fight Him, Join Him Part.1 - End...
.........
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Raf Sinary, nih!
Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA RAF SINARY...
...JUDUL: PERNIKAHAN TERPAKSA TAMARA...
Tamara mendapat hukuman dari ayahnya untuk pindah sekolah dan dimasukkan ke pesantren. Namun, siapa sangka justru di pondok itu ia bertemu dengan cinta pertamanya dan berlanjut hingga bertunangan tetapi dia harus LDR selama empat tahun untuk menyelesaikan kuliahnya setelah itu baru diberikan restu untuk menikah. Ketika waktu pernikahan tiba, tunangannya yang bernama Reza menghilang entah kemana. Dia hanya memberikan kabar kalau tidak bisa menikah dengan Tamara. Ayahnya yang sudah menyebarkan undangan kepada semua rekan kerjanya tentu sangat malu. Pada saat yang bersamaan Tamara mendapat lamaran dari guru ngajinya. Kemudian ayahnya memaksa dia untuk menerima lamaran ustad tersebut. Hatinya sangat hancur, terluka dua kali. Oleh pengkhianatan Reza dan pemaksaan ayahnya. Tamara harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai demi menyelamatkan nama baik keluarganya dari rasa malu. Bagaimana perasaan Tamara menerima nasibnya?
Selamat membaca🥰