Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Dua Sisi : Intermezzo; Rubah



Apa yang sedang dia pikirkan?


Itulah yang suara di kepala Lisa tanyakan sejak dia menjejakkan diri di dalam kamar miliknya. Itu hangat daripada udara malam yang dingin di luar, dan begitu nyaman di bandingkan ketidak-amanan yang diwaspadai di sekitar jalan pada malam hari.


Lisa sudah memikirkan sesuatu yang sedikit mengganggunya dan perubahan atmosfer yang tiba-tiba sekali. Ketika tangannya digantikan dari plastik penuh berisi snack dan camilan untuk sang kakak dengan hoodienya yang ia lepaskan, membuatnya hanya mengenakan tank-topnya saja dan meninggalkannya dalam celana jogging yang masih melilit kakinya-, matanya menangkap kehadiran boneka beruang yang ia gantungkan di gagang kayu gantungan baju dimana ia sering letakkan bajunya yang baru ia pakai dari kegiatan luar ruangannya.


Seperti hoodienya yang sekarang tergeletak di lengannya Lisa hendak menggantungkan hoodie yang mungkin sudah berbau asap bakaran cumi itu ke tempatnya yang biasa sebelum memutuskan apakah dia akan mencucinya atau hanya menjemurnya di luar saat cuaca cerah saja mengingat bahwa hoodie itu baru satu kali kesempatan dia memakainya.


Ola, boneka beruang itu masih tergantung dengan tali tambang yang berada di sekitar lehernya, tidak bergerak sama sekali seperti samsak yang siap menunggu pukulan. Lisa, dengan gerakan satu langkah yang cepat karena pikirannya penuh dengan hal-hal yang membingungkan, berhasil untuk sampai di depan boneka itu hanya dalam hitungan detik.


Dia termenung.


“Tadi gue sama Kak Noren… beneran kayak gitu?” serunya dengan tiba-tiba ketika bayangan memori yang baru saja terjadi mulai kembali memutar di kepalanya.


“Kenapa gue rasanya bener-bener enjoy aja tadi ngobrol ngalur-ngidul bareng dia?”


Pikirannya lagi kali ini sedang berbicara. Dia tidak paham, padahal baru empat hari dia merasa begitu bebas karena ketidakhadiran Noren, dan tentu saja baru beberapa jam yang lalu ketika dia menemukan Noren berada di tempat yang sama dan bernapas di sekitarnya bisa membuatnya begitu emosi dan kesal yang mencapai ubun-ubun, bisa berubah dengan begitu saja menjadi seperti dua orang yang sedang menghabiskan waktu santai bersama.


Pergeseran perubahannya terjadi begitu saja. Noren tidak mengganggunya selama waktu bermain gamenya yang penuh ambisi, dan Noren yang mengajaknya untuk bermain 20 pertanyaan dimana dia dengan suka rela membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dan melontarkan pertantaan-pertanyaan yang berakhir dengan aneh kepada Noren. Mereka bahkan saling tertawa dengan begitu puas ketika Lisa berhasil menganiaya sedikit tubuh Noren ketika lelaki itu ketahuan sedang berbohong dalam menjawab pertanyaan.


Pun rasanya, Lisa tidak menemukan rasa kesal di dalam dirinya ketika Noren memanggilnya dengan panggilan sayang dan apapun yang terdengar mengerikan di telinganya. Dia menikmati hari ini, dengan aneh.


“Apa, sih!” desisan dikeluarkan dengan begitu saja.


Lisa bergerak untuk menyentuh guratan dan ukiran dandelion yang terlihat sangat cantik jika dia boleh jujur. Helaan napasnya ia keluarkan lagi ketika ada kilatan emosi aneh yang datang sehingga dia dengan gemas mencengkeram buntalan bulu itu dengan sepuluh jarinya yang melengkung meraup bahan lembut itu.


“Gue pasti lagi capek aja tadi, ya, jadi enjoy aja ditemenin dan nggak di ganggu waktu gue lagi seneng-seneng” Gumamnya seiring buntalan bulu itu masih ia coba untuk mencengkeramnya dimana-mana. Dia menarik pipi boneka dengan rasa gemas yang tinggi sebelum berakhir untuk memukul kepala boneka beruang itu dengan tenaganya yang tersisa.


“Jangan kira Lo bakalan bebas dari hukuman lo, ya, Ola.” Matanya melotot, melihat tepat ke arah dua mata kelereng yang berkilau di bawah cahaya lampu. “Selama Noren ada disekitar gue, ada sakit yang bakalan lo derita, tunggu aja”


Dia menyeringai tiba-tiba sebelum tersenyum dengan senang dan mengusak kepala boneka itu. Moodnya tiba-tiba berubah dengan sangat cepat ketika dia begumam nada memuaskan yang agak aneh karena dia bahkan tidak tau lagu apa yang tengah dia dendangkan. Tapi itu bagus untuk menemaninya menggantung hoodie bekas pakainya dan melepaskan ikatan Ola dari tiang kayu itu.


Lisa tahu dengan baik, dia tidak ingin terbangun dan melihat kilatan horror dalam gelap kamarnya dengan bayangan boneka yang tergantung. Itu pasti akan membuatnya trauma sampai mati.


“Udah, ah. Mood gue lagi bagus. Bersih-bersih dulu sebelum maskeran sambil tidur!” Serunya dengan senang ketika dia meletakkan Ola di tempat sebelumnya di belakang pintu dan menutupinya lagi dengan kain lain.


“Lo juga sembunyi lagi, ya. Soalnya kalau gue ngeliat lo berasa gue lagi ngeliat pemilik asli lo. Bye”


Itu ditutup dengan satu pukulan lain di atas kepala boneka setelah dia selesai menyembunyikan beruang itu. Berbalik tanpa merasakan suatu apapun yang menyatakan bahwa dia agak aneh, dia memilih untuk memanjakan dirinya sebelum mengarungi alam mimpi dan kenikmatan tidur dengan perasaan yang nyaman.


“Eh, tapi ini rencana gue berhasil nggak sih, jatuhnya?” itu gumaman terakhir sebelum perempuan itu menjatuhkan dirinya di dalam bathtube yang sudah terisi dengan air hangat dan bathbomb beraroma buah-buahan segar menyeruak di dalam ruangan basah kamar mandi.


“Ah.. baguslah kalau begitu..”


...…....


Tiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda. Jika salah satunya mengalami waktu biasa untuk kenyaman diri, maka orang lain akan mengalami waktu gila untuk menghentikan dirinya dari virus kebahagiaan yang menyebar untuk menaklukkan diri dan bertekuk lutut hingga menyentuh lantai keras yang dingin.


Penggambarannya agak jauh berbeda dan terlalu berlebih-lebihan, tetapi siapa yang bisa menjabarkan apa yang dia rasakan pada malam ajaib yang luar biasa ini?


Jika gila memang bisa merubahnya dan mengalir di aliran darahnya yang mengandung banyak emosi positif dan membasmi segala hal buruk yang menghinggapinya di waktu-waktu yang lalu, maka itulah yang dia rasakan sekarang.


Noren tidak bisa berhenti tersenyum dan cekikikan. Di tangannya masih terdapat boneka berbentuk rubah yang masih menatapnya dengan ekspresi yang sama. Sudah selama tiga puluh menit lebih dia menatap sang boneka dengan cengirannya yang lebar dan perasaannya yang melambung tinggi. Noren mungkin mengatakan bahwa dirinya sedang mabuk kepayang saat ini hingga untuk mengganti pakaiannya sendiripun dia tidak bisa bergerak untuk melakukannya. Saat ini, kupu-kupu gilanya sedang mengambil alih dan ia tidak ingin mengambil jala untuk menangkap mereka yang sedang mengepak dengan bebas.


Biarlah. Ujarnya begitu saja. Dia harus dan ingin mengekspresikan dirinya di ruangan apartemennya yang luas dan sayangnya terkadang terasa sangat kosong dan dingin dibandingkan dengan apa yang sedang dia rasakan sekarang. Dia sudah menahan diri dalam waktu yang lama untuk tidak merasakan hal-hal seperti ini. Bukan atas kemauannya sebenarnya, tetapi memang belum ada yang bisa membuatnya merasa sangat hangat dibandingkan hari-hari seperti ini.


Hari-hari bersama dengan Nalisa atau bahkan hari-hari disaat ada Lisa disekitarnya meskipun dia harus berusaha dan merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya karena serangan bertubi dari perempuan itu. Noren sudah pernah bilang, kan? Jika Nalisa ada disekitarnya, ruangan yang kosong dan dingin itu akan menjadi sehangat mentari pagi dan bisa membuatnya meleleh begitu saja.


Noren mungkin tidak ingin mengakui, tapi dia tahu di sudut hatinya yang paling dalam bahwa dia berubah dari Noren yang dingin dan kaku menjadi Noren yang gila dan jahil. Noren yang bebas berekspresi dan Noren yang merasa superior dalam hal yang berbeda dari biasanya.


Hanya pada dua orang dalam hidupnya. Dan itu adalah duo Cakrawijaya dengan gen mereka yang entah bagaimana bisa membuatnya semakin gencar untuk berusaha agar bisa bersama dengan mereka dalam setiap aspek kehidupannya. Cakrawijaya yang merupakan sahabatnya yang akan ia ikat dan naikkan jabatan sebagai saudaranya, dan Cakrawijaya yang merupakan cinta dalam hidupnya untuk dia ikat menjadi pasangan hidupnya kelak.


Dua orang yang menjadi tujuan utamanya saat ini. Dia akan masuk kesana dan akhirnya menggenggam kebahagiaa hidupnya yang membuatnya tetap bertahan untuk menginjakkan diri di atas tanah keras ini.


“Ah, ini nggak boleh kotor”


Noren bergumam dengan senang. Jari telunjuknya ia usapkan dengan hati-hati ke atas kepala mainan itu. Dia tertawa dengan aneh menyadari aksinya sebelum pada akhirnya menyerah dengan apa yang sedang dia lakukan. Berdiri dari posisi duduknya, Noren merogoh ponsel dari saku. Mencari satu nomor yang harus dia hubungi sekarang juga.


Dia tidak bisa berbicara dengan serius jika masih tesenyum seperti orang gila, jadi, dia berdehem sebelum mengambil sikap tenang dan tegasnya ketika dering sambungan telpon berhenti di hitungan ketiga.


“Ah, ya, selamat malam Pak Giovano. Ada yang bisa Saya bantu malam hari ini, Pak? Berkas apa yang harusa Saya persiapkan untuk Anda?”


Suara seorang lelaki yang familiar dan sering ia dengar dari seberapa banyak orang itu berada di sekitarnya adalah apa yang mengalun dari sambungan telpon itu.


“Tidak ada yang begitu bermasalah, Pak Chandra. Bukan tentang berkas juga, tapi saya sedang butuh sesuatu saat ini. Apa bisa?”


Pak Chandra adalah salah satu asisten pribadinya disamping Nabila sebagai sekretaris pribadinya yang sudah berada di posisi itu dengan waktu yang cukup lama. Pak Chandra sendiri sudah terbiasa dengan telpon larut malamnya mengenai permasalahan kantor dan siap 24/7 untuk menemaninya berpergian dalam urusan bisnis. Sebenarnya, Chandra sendiri merupakan sekretaris pribadi milik ayahnya sebelum diserahkan untuk bekerja di bawah arahannya, itulah mengapa dia tidak akan segan untuk menelpon lelaki yang usianya hanya empat tahun di atasnya untuk melakukan segala hal untuk memenuhi apapun yang dia minta.


“Tentu saja. Saya siap dengan apa yang Anda minta jika itu sangat darurat dan dibutuhkan saat ini juga. Jadi, apa yang harus Saya lakukan sekarang, Pak?”


Noren mengangkat tangannya yang masih belum melepaskan hadiah yang Lisa berikan. Dia menghela napas sedikit sebelum berjalan menuju kamarnya dan meletakkan boneka itu dengan hati-hati di antara koleksinya. Dengan aneh boneka rubah yang terlihat sangat mencolok dan terlalu murah berada di antara koleksi super mahal yang dia punya, sangat tidak pada tempatnya jika orang lain yang melihat. Itu seperti seonggok barang tak bernilai yang disandingkan dengan emas puluhan karat.


Tapi tentu sajam dimata Noren, boneka itu tak ayal adalah barang berharga yang sama. Bahan melebih harga yang bisa dia beli dengan uang yang dia hasilkan.


“Tolong carikan kotak kaca untuk penyimpanan barang yang berkualitas. Kalau bisa, cari yang tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil. Sedang-sedang saja. Jangan kaca yang terlalu tipis, usahakan yang tebal dan tidak gampang pecah. Kualitas kaca harus bagus dan tidak buram, tidak juga yang mudah kotor atau berembun, Saya ingin meletakkan barang berharga disana. Kalau bisa cari juga yang ada pengamanannya.”


Dia menerka-nerka bahan kaca apa yang bagus untuk tempat dimana dia meletakkan hadiah itu dengan baik seraya dia terus memuntahkan kata pada lawan bicaranya.


“Ah, tambahkan bantal sebagai alas untuk meletakkan barang ini. Jangan yang terlalu mencolok, warna putih saja. Tambahkan bulu lembut disekitarnya, warna putih juga. Kalau bisa ada bagian lampu yang tidak terlalu terang di dalam kotak untuk sorotan pada benda berharga yang Saya punya ini. Jangan yang warna kuning”


“Baik, Pak Giovano”


Sudah berpengalaman begitu banyak dan paham tentang keharusan untuk tidak bertanya dan terlalu penasaran, Chandra hanya mendengarkan dan mencatat apapun yang diminta oleh atasannya itu. Meskipun lidahnya gatal untuk bertanya, dia tahu lebih baik diam dan tidak melangkah melewati batas.


“Dan juga,” Noren diam sejenak, memikirkan apakah dia harus atau tidak untuk melakukannya. Tetapi, ketika matanya jatuh pada salah satu barang koleksinya, dia maju dan menyentuh lekukan kaca itu dengan lembut. Napasnya ia keluarkan sebelum mengangguk untuk mengiyakan dirinya sendiri.


“Baik, akan saya sampaikan pada Mr. Herrmington secepatnya, Pak”


“Pak Chandra” Dia memanggil dalam suara yang tegas dan tidak bisa dibantah.


“Jika Beliau menawarkan putrinya lagi untuk dijodohkan pada Saya, tolong tolak itu dengan tegas. Saya tidak ingin ada percapakan lain selain tentang koleksi dan sketsa yang akan Saya serahkan pada Beliau” Noren menghela napas berat sebelum menambahkan kembali, “Dan tolong, jika Ms.Kavayuara bersikeras untuk menemui Saya karena mendengar tentang janji ini, Anda harus bisa menanganinya dan tidak akan mengacaukan pertemuan”


Ada hening sejenak di ujung sambungan sebelum suara persetujuan yang jelas di utarakan oleh Chandra. Lelaki itu tahu apa yang sedang Noren bicarakan, jadi, dia hanya mencoba yang terbaik untuk mencari tahu bagaimana cara mengatasi keadaan yang lebih baik lagi daripada beberapa waktu yang sudah-sudah saat dia mengalaminya.


“Saya ingin kotak kaca itu selesai dalam dua hari dan tidak kurang dari itu. Anda bisa titipkan pada Nabila ketika Saya tidak bisa ditemui”


Ada persetujuan lain dari Chandra. Noren mengangguk, berlawanan dari ekspresinya yang ikut tegas saat dia menyatakan keinginannya, dia tersenyum dengan sayang saat ini. Sembari membuka hoodienya ketika dia merasa panas.dia memberikan lambaian kecil pada boneka rubah itu sebelum duduk dan mengamati pantulan dirinya di cermin.


Kepalanya langsung berputar untuk menyamakan dirinya dengan boneka rubah kecil itu. Lisa mengatakan mereka mirip dalam hal kelicikan. Tentu saja, itu benar adanya.


Lampu imajiner yang tiba-tiba muncul di kepalanya membuatnya menyeringai dengan senang hati.


“Pak Chandra, Saya boleh minta tolong satu hal lagi?”


..Oh, ini akan menjadi sangat menyenangkan.


...….....


Seharusnya Lisa tahu ini akan terjadi. Seharusnya dia memiliki sensitifitas yang tinggi dengan hal-hal seperti ini.


Rubah. Tentu saja Noren sialan itu adalah rubah licik yang suka sekali membuatnya naik pitam. Padahal, beberapa malam yang lalu, dia merasa sedikit lebih lega dan nyaman ketika berada dalam gelembung kecil bersama dengan Noren dalam hal yang bahkan tidak bisa untuk dia tempatkan dimana seharusnya dia merasa nyaman dengan orang lain.


Lelaki itu tidak mudah menyerah begitu saja. Dia memiliki banyak sisi aneh dan menyeramkan. Terlalu berbahaya untuk menyelami kepribadiannya yang menyebalkan, gila dan luar biasa tidak waras dalam berbagai banyak hal.


Termasuk hari ini.


Lisa tidak pernah menyangka bahwa kehidupan kantornya yang aman, damai, dan sejahtera saat ini menjadi kekacauan yang luar biasa membuatnya tidak mampu untuk menunjukkan wajahnya dimana-mana. Terlebih lagi di ruangan tempat dia kerja sendiri.


Bagaimana mungkin dia bisa?


Ketika saat dia baru saja turun dari motor matic yang dibawa Alpino saat ini dengan alasan dia sedang malas untuk memakai motor besarnya, Lisa sudah bisa menjatuhkan rahangnya ke tanah dengan apa yang dia lihat di depan matanya.


Alpino sendiri, yang seharusnya langsung pulang untuk kembali beristirahat sebelum melakukan pekerjaan yang ia bawa ke kos-nya karena tidak mampu untuk begadang sehari penuh untuk mengedit di kantor pusat tempat dia bekerja-, memilih untuk turun dari motor dan membuka helmnya. Ingin melihat dengan jelas bagaimana semua kegilaan terpampang nyata di depan matanya.


Itu adalah karangan bunga yang berjejer hingga ke pintu masuk gedung dengan berbagai tulisan penyemangat yang penuh cinta dan pertanyaan-pertanyaan lain dalam permainan 20 pertanyaan yang beberapa malam lalu mereka mainkan bersama dalam gelembung kenyamanan yang baru terbentuk di antara mereka berdua. Belum lagi, ada truk makanan mini yang terparkir disana menyediakan kopi dan makanan gratis untuk seluruh karyawan kantor dengan banner tulisan penyemangat dan cinta dengan namanya yang ditulis besar-besaran disana.


Jangan lupakan emotikon rubah yang terselip di standee yang dibuat menjadi animasi yang-, jika bukan Lisa yang menjadi objek utamanya-, itu sangatlah imut dan lucu.


“Wow, Lisa.. ini beneran Bang Noren lakuin buat lo?”


Suara Alpino yang kagum dan sedikit geli karena tidak percaya membuat Lisa tersadar dari kegilaan apa yang ada di dalam dirinya. Dia bisa melihat Hala yang baru saja datang dan ikut mematung dengan wajah terkejutnya yang aneh dan suara tawa dan kagum Heksa sebelum anak itu bertanya apakah dia boleh ikut memesan makanan gratis dan kopi dari truk makanan mini itu.


“Al, mending lo nganterin gue pulang sekarang biar gue bisa segera enyah dari Negara ini”


Gigi Lisa menggeretak ketika dia berbicara. Bibirnya terkatup dalam tiap berat emosi yang sudah berada di ubun-ubun. Dia tidak menahan lagi ketika Alpino masih luar biasa ternganga denngan keadaan yang berada di hadapannya ini.


Lisa mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor yang tidak pernah sekalipun dia hubungi ketika nomor itu menjadi pengganggu tetap hidupnya.


Tapi untuk kali ini, dia yang menekan nomor itu terlebih dahulu untuk dihubungi. Dia akan memaki satu orang ini yang membuatnya gila bukan kepalang.


“Oh? Halo Nalisa.. tumben kamu-,”


“BRENGSEK LO SETANNNNN!!! ORANG GILA, LO!! ENYAH LO DARI HIDUP GUE!!!!!!”


Yah, sebuah teriakan untuk memulai hari yang baru.


.........


...🍁...


...Dua Sisi : Intermezzo; Rubah - End...


.........


...🍁...


...🍁🍁...


...🍁🍁🍁...


Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Nunuk Pujiati, nih!


Jangan lupa mampir yaa🥰


...PROMO NOVEL KARYA NUNUK PUJIATI...


...JUDUL: MENDADAK NIKAH...


Demi kebahagiaan saudara kembarnya, Raya rela menerima permintaan Mahen untuk menikah malam itu juga dan tanpa sepengetahuan orang terdekat. Selama menjadi suami-istri, kehidupan mereka tak ada manis-manisnya, pertengkaran serta kekonyolan selalu membuat kedua orang tua mereka geleng-geleng dan khawatir hubungan kedua anaknya akan kandas di tengah jalan. "Jangan pernah kamu merubah batasan kita, Mahen! Lihat saja, jika kamu melanggar semua, maka saat itu juga aku akan minta cerai!" Apakah Raya akhirnya bisa menerima Mahen sebagai suaminya atau Raya akhirnya memilih untuk bercerai, setelah semua masalah saudara kembarnya selesai?



Selamat membaca 🥰