Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Bro Time: Perasaan dan Keputusan Satu Sisi (Kembali ke Masa-Masa Itu)



Warmindo Ko Akoh adalah warmindo yang paling highclass dengan harga yang sangat terjangkau dan mengayomi para anak kos. Sebenarnya highclass sendiri adalah julukan yang diberikan Fajri ketika Alpino mengajak mereka untuk mencoba makan di sana pada akhir bulan dari rekomendasi teman magangnya. Bisa dibilang, tempat nongkrong wajib khusus mereka yang ditetapkan langsung ketika mereka mendudukkan diri di tempat paling strategis dan nyaman di salah satu ruangan yang disediakan disana, adalah harta karunnya para anak kos yang ingin makan enak namun terhalang persoalan ekonomi, biasanya di akhir bulan dan menyebabkan kesengsaraan karena tidak bisa makan enak meski perut menjerit untuk meminta.


Warmindo Ko Akoh sendiri, jika di lihat dari luar adalah tempat yang sama seperti warmindo lainnya, namun agak lebih luas dari kebanyakan, dan sangat sederhana. Warna dindingnya adalah warna biru muda yang tidak menyakitkan mata dan diisi dengan meja dan kursi yang lumayan cukup untuk para mahasiswa maupun remaja lain untuk saling bercengkrama dan satu meja bisa diisi lebih dari 5 orang. Tempatnya seringkali ramai pengunjung dan sudah dipastikan menjadi favorit bagi remaja penikmat makan enak dengan biaya rendah. Namun uniknya, warmindo ini dibagi menjadi 3 bagian, dan itu adalah satu fakta yang sampai saat ini masih menjadi kekaguman tersendiri bagi Alpino.


Seperti yang dikatakan sebelumnya, ruangan pertama adalah tempat nongkrong biasa yang diisi oleh remaja yang hanya ingin makan dan mengerjakan tugas tidak sampai berjam-jam, atau hanya makan disana saja dengan durasi waktu yang tidak begitu lama. Diisi dengan tempat penyajian makanan dan stan batagor Bandung yang sangat digemari dan selalu habis bahkan sebelum sore hari.


Di ruangan kedua adalah tempat lesehan yang dilapisi dengan karpet lembut dan beberapa meja panjang. Biasanya ini digunakan untuk remaja atau mahasiswa yang ingin mabar atau hanya mengerjakan tugas dengan lebih fokus saja, menikmati wifi gratis yang disediakan disana. Atau seringkali menjadi tempat mojok bagi para sebagian kekasih remaja yang tidak ingin diganggu oleh bising di luar atau nyamuk di ruangan bagian belakang. Dan bahkan, fasilitas yang diberikan oleh Ko Akoh sangat tidak main-main. Selain karpet bulu lembut yang terbentang satu ruangan penuh, kipas angin di letakkan di dua sudut dan disediakan beberapa mainan untuk mengisi kebosanan, seperti jenga, gaplek atau UNO.


Lalu bagian ketiga adalah tempat nongkrong yang paling favorit menurut Alpino sendiri. Meskipun merupakan ruang terbuka, Alpino merasa lebih leluasa untuk bernapas dan lebih bebas. Pun tempat itu merupakan tempat bebas untuk merokok, jadi tidak ada batasan ketika dia ingin sebat sedikit untuk melegakan perasaannya jika harinya sedang sangat buruk. Alpino sebenarnya bukan perokok berat, hanya saja dia melakukannya ketika dia benar-benar kalut. Jadi, ya, hari ini adalah hari dimana dia akan mengambil beberapa hisapan nikotin untuk melegakan perasaannya.


Ruangan terbuka ketiga ini adalah tempat yang didekorasi seperti di sebuah café, ada dua pavilion kecil di sudut, tetapi lebih banyak tempat lesehan dengan dinding yang diukir seperti kayu, namun ada yang dibiarkan polos layaknya dinding biasa, dan yang paling unik, anak-anak bebas mencoret apapun di sana, berkreasi apapun, namun jika ada coretan dengan kata kasar yang tidak enak di lihat, Ko Akoh atau para pekerjanya akan segera membersihkannya. Biasanya dilakukan per minggu dan Alpino tidak akan pernah berhenti kagum dengan apa semua yang dilakukan tempat ini.


Sejujurnya Alpino sendiri tidak akan percaya jika ini adalah warmindo, namun di sebut café juga tidak bisa, toh spanduk yang dipasang lebar jelas-jelas mengatakan bahwa tempat itu adalah warmindo dan bagian luarnya benar-benar terlihat sangat sederhana dan mengayomi remaja kelas ekonomi sulit, namun ketika sudah menjelajah ke dalam, kesederhanaan itu seperti hilang di telan bumi Yah, sebenarnya tidak begitu mewah, hanya saja, dengan tempat yang luas dan fasilitas yang membuat kenyamanan menjadi faktor nomor satu, makanan disana sangat variatif dan beragam, serta, sangat murah meriah.


Dia bahkan hampir tidak percaya bahwa makanan disana tidak ada yang lebih di atas dua puluh lima ribu, kecuali alkohol, yang memang disediakan di sana tetapi hanya boleh dipesan dalam kadar tertentu yang sudah ditetapkan oleh Ko Akoh sendiri. Katanya sih, agar tidak ada yang benar-benar mabuk di warmindo itu. Itulah kenapa juga, harga alkohol di sana dimahalkan agar tidak ada yang mau membeli dan puas dengan minuman apa yang disajikan disana.


Alpino juga pernah bertemu dengan Ko Akoh sendiri. Tipikal Alpino yang mudah berbaur mungkin membuat Ko Akoh menjadi bersemangat ketika bercerita ini itu dengannya. Dan dia bahkan ingat ketika pertama kali Ko Akoh sendiri duduk bersama mereka bertiga dan membahas soal bisnis yang dijalankan Ko Akoh yang dermawan ini. Dia bahkan pernah bertanya apakah tidak rugi dengan biaya yang dia keluarkan untuk tempat ini namun menjual makanan kembali dengan harga yang murah meriah, namun Ko Akoh hanya mengatakan dengan lambaian tangan dan mata sipit dengan senyum lebarnya bahwa, dia juga pernah berada di masa menjadi anak kos dengan kasus ekonomi yang sulit. Dia membuat warmindo itu untuk membantu para anak kos bisa makan dengan variatif. Anak Kos-friendly, katanya.


Pertemuan itu sendiri menjadi makan-makan gratis bagi Alpino, Heksa dan Fajri. Siapa mereka yang tidak menyukai makan gratis? Jadilah sejak saat itu, mereka selalu berkunjung menjadi pelanggan tetap warmindo. Lagipula, makanan enak, harga terjangkau dan suasana yang nyaman untuk berkeluh kesah atau han loya untuk beristirahat sejenak, siapa yang tidak mau, ‘kan?


Jadi disinilah dia berada. Duduk di tempat yang telah mereka klaim sejak awal, menyandarkan diri di dinding kasar belakangnya, menikmati sedikit genjrengan gitar anak tongkrongan di pavilion sudut menyanyikan lagu yang entah apa seperti sedang menguji air, mempelajari satu lagu baru untuk dinyanyikan bersama-sama di rombongan mereka. Alpino sedikit merasa tenang, napasnya pun tidak memburu seperti yang sebelumya. Matanya dia tutup sejenak, masih menunggu teman-temannya untuk segera sampai. Alpino memutuskan untuk memesan sepiring batagor tanpa pare dan sekaleng kola selagi menunggu.


Tidak sampai dua puluh menit kemudian, setelah pesanannya datang dan hampir habis setengah, Heksa mengejutkannya dengan tepukan di bahunya, membuat Alpino terperanjat dan hampir mengutuk kasar. Si pelaku hanya tertawa melihat wajah terkejut aneh Alpino sebelum menyamankan diri di tempatnya dan merebut menu yang tergeletak tepat di depan kaki Alpino sendiri.


“Cepat banget lo datengnya? Ngebut pasti” Alpino berkomentar saat melihat Heksa bersenandung kecil membolak-balik kertas menu. Alis Heksa terangkat, melirik Alpino sejenak sebelum kembali memilih makanannya sendiri. “Nggak juga, sih. Gue baru aja ada di sekitar sini jadi nyampenya cepat. Eh, ini lo yang bayar kan bener?”


“Iya, pesen aja sesuka lo, gue kan udah bilang tadi” Cengiran yang diberikan Heksa lebar ketika dia terkikik dan berdiri, berjalan dengan semangat untuk memesan beberapa makanan lagi untuknya. Alpino memperhatikan ketika temannya itu pergi dan kembali lagi tidak sampai lima menit kemudian. Heksa duduk dengan helaan napas puas sebelum meraih kaleng kola Alpino dan menenggaknya cepat.


“Pesen makanan sih pesen, tapi nggak punya gue juga lo embat, nyet”


Heksa memutar matanya sebelum meletakkan kembali minuman itu di depan Alpino. “Pelit banget lo sumpah, gue haus numpang minum sedikit aja. Minuman gue baru banget di pesen” Alpino mengerjap cepat, bibirnya di tarik menjadi garis tipis sebelum memukul kepala Heksa. Anak itu kalau dibiarkan memang biasanya selalu membuatnya hanya ingin melempar Heksa menjauh dari depan matanya sekarang juga. Tapi sayangnya, atau sialnya, Heksa sedang dibutuhkan olehnya disini.


“Emang punya temen monyet banget, anjing”


“Monyet atau anjing? Konsisten dong”Heksa mengejek kembali. Alpino menghela napas berat sebelum menendang pinggang Heksa yang baru saja mengeluarkan ponselnya. Hampir terjatuh dari tangan, Heksa mengumpat kembali pada Alpino.


“Anjing!”


“Kotor banget mulut lo, Sa. Gue aduin emak lo tau rasa”


“Sama aja sama lo, bangsat”


“Astagfirullah, seharusnya nggak gue ajak ke sini, lo. Bagusnya gue rukiyah sekalian”


Heksa memutar bola matanya malas. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding kasar di belakang. Menyamankan dirinya disana sebelum meletakkan ponsel di depan mereka berdua, bersebelahann dengan ponsel milik Alpino sendiri. Bro time yang mereka lakukan memang biasanya saling mengumpulkan ponsel dan lebih fokus dengan percakapan mereka. Inilah yang membuat mereka bisa nyaman satu sama lain, karena saling mengerti.


“Sayang banget, kebal gue mah kalau di rukiyah”


“Ya karena setannya, lo, kan, Sa?” Celetuk Alpino kemudian. Heksa terbahak, “Tau aja, ih, yang lebih setan”


“Brengsek”


Nyaman mungkin adalah hal yang bisa dikatakan Alpino beribu kali. Selama berteman dengan Heksa dan Fajri, dia menemukan itu di antara mereka bertiga. Bukannya dengan Lisa tidak. Hanya saja, ada hal-hal yang terpisah dan berbeda di sebuah pertemanan antara lelaki dan perempuan. Dan jelas, dia tidak akan bisa mengatakan perasaannya pada Lisa, seseorang yang akan menjadi objek utama dalam percakapan mereka malam ini.


“Ngapain lo disekitar sini, Sa?” Alpino kembali membuka pertanyaan. Heksa mengangkat bahunya sembari mencuri makanan milik Alpino kembali yang hanya dipelototi oleh sang empu. “Nemenin Hala nyari makan tadi. Dia lagi banyak mau, makanya jam berapa aja harus diturutin”


“Emang babunya Hala ya lo, ga bisa bilang enggak ke doi” Alpino menyeletuk. Heksa tertawa, dia melambai dengan malas. “Ga bisa bilang enggak mah gue. Emang kenyataannya gitu. Lo juga nyadar diri, ya, nyet. Lo babunya Lisa, kan? Ojol pribadinya juga sekalian, tuh”


“Sesama babu nggak usah saling tunjuk, ya”


“Sial, Fajri, Lo bikin gue kaget sumpah!”


Alpino mengusap dadanya saat Fajri tiba-tiba datang di antara mereka. Dia menepuk bahu Heksa yang berada di sebelahnya sebelum mengeluarkan ponsel dan meletakkannya di antara ponsel yang lain, terlihat lebih siap daripada dua orang lainnya. Heksa menepuk kembali bahu Fajri sebagai sapaan selamat datang. Membiarkan Fajri mencari tempat nyamannya untuk duduk.


“Maaf, maaf. Nggak bermaksud, gue. Gue kira kalian udah sadar kehadiran gue” Fajri memberikan cengiran khasnya yang menunjukkan gigi gingsulnya.


“Ya mana kita sadar, lo juga dateng kayak setan, gaada suara sama sekali, sumpah” Heksa menimpali.


“Ya masa gue datang harus banget pake barongsai, atau gelar konser gitu biar lo berdua sadar?”


“Oalah emang asu”


Heksa dengan cekatan berganti posisi saat dirinya akan dilayangkan pukulan sayang oleh dua orang lainnya. Sadar diri karena dia memang selalu keceplosan ketika mengumpat. “Sekali lagi keluar kata kasar dari mulut lo, gue bungkam pake bungkus rokoknya Al, lo, Sa”


“Yee, gue mulu di jadiin korban padahal mulut kalian berdua sama aja nggak ada filternya” Heksa mencibir. Sekarang dia sudah menyamankan diri di sebelah kanannya Alpino yang tenang, berhadapan dengan Fajri yang tertawa puas. “Yaudah sekarang kita fokus ke bintang utama dulu disini,” Heksa menunjuk Alpino yang tersedak di kaleng kolanya, membuat wajah malas pada Heksa.


“Si Fajri lo tawarin pesen makan dulu, Sa” Alpino menawarkan.


“Nggak usah, gue udah pesen di depan tadi. Biar bisa lebih enak ngomongin masalah lo, Al” Fajri menawarkan seringai. Anak itu benar-benar sudah prepare untuk curhatan malam hari sahabatnya dan Alpino tidak bisa lebih takjub lagi. “Lagian gue nggak bisa pulang telat hari ini, besok gue ngajar pagi. Sekarang coba cerita lo lagi ada masalah apa sama Lisa?”


Alpino tertawa. tanpa dia mengeluh satu kata pun, Fajri dan Heksa sudah bisa menebaknya dengan tepat. Lelaki yang kini mengusak rambutnya sendiri mencibir pada pertanyaan yang Fajri ajukan. “Kok lo tau sih ini tentang Lisa? Kalau masalahnya bukan tentang perasaan gue buat Lisa, nggak malu, lo?”


“Oalah emang Anjing”


“Tuh mulut lo nggak ada filternya juga, ya, Jri!” Heksa menunjuk Fajri dengan puas, yang ditunjuk menepis tangan Heksa dengan dibumbui pelototan dari mata sinis Fajri sendiri.


“Kesel gue. Kan udah gue bilang gue nggak bisa pulang telat. Kalau misalnya lo udah nyebat gini dan manggil kita sampe mau traktir suka-suka gini apalagi kalau bukan Lisa masalahnya? Lo mana mau nyebat kalau bukan karena masalah lo dengan Lisa. Kalaupun lo frustasi dengan kerjaan paling lo malakin kita berdua, bukan malah loyal gini. Emang anjing, kita udah kenal berapa lama sih, nyet?”


“Monyet apa Anjing sih yang bener? Lo berdua nggak konsisten banget, sih jadi orang” Heksa mencibir sambil mencuri satu batagor terakhir dari piring Alpino. Sadar degan konsekuensinya, Heksa mendongak untuk menemukan tatapan yang tidak puas dari dua temannya. Cengirannya mengembang sebelum dia duduk tegak seolah tanpa dosa. Heksa hanya mengaduh saat Alpino memukul kepala belakangnya dengan sedikit kesal.


“Gue lupa kalau kita lagi mode serius, lo tuh paling rese, Sa. Pesen lagi batagor gue, kali ini banyakin tahunya, sono!”


Heksa memutar bola matanya malas sebelum melompat berdiri dan tanpa kata melenggang ke depan untuk memesan lagi sesuai perintah. Alpino hanya mendengus ketika melihat Heksa sudah menghilang dari pandangan dan mulai kembali berkutat dengan rokoknya. Fajri masih diam memperhatikan temannya yang seperti tengah mengalami hari paling sulit.


“Lo beneran nggak apa-apa nemenin gue malam ini? Ngajar lo besok keganggu, enggak?” Alpino kembali angkat suara setelah dia menghembuskan asap rokoknya.


“Nggak apa-apa. Untuk lo aja nih gue relain jam tidur gue” Alpino tersenyum kecil, kembali mengambil hisapan nikotin yang dia butuhkan.


“Lagian gue udah tau cepat atau lambat lo juga bakalan manggil kita-kita buat bahas tentang perasaan lo sama Lisa. Gue cuma nggak nyangka aja kalau bakal selama ini. Gue kira lo bakalan stress kayak begini tuh waktu Bang Noren dikenalin ke kita sebagai calon suaminya Lisa. Tapi rupanya lo bertahan lama juga”


Alpino diam sejenak. Matanya memperhatikan Fajri yang kini tengah menyandarkan diri dengan kedua tangannya yang menopang tubuhnya di belakang. Rambutnya yang pendek kali ini dibiarkan jatuh di dekat alis matanya, biasanya Fajri adalah orang yang sedikit rewel dengan rambutnya bahkan ketika dia hanya ingin pergi ke luar barang sebentar saja.


Mungkin tadi, sebelum Alpino mengirim pesan di grup, lelaki itu tengah bersiap untuk istirahat mengingat ini sudah jam sepuluh malam. Alpino yang paham rutinitas Fajri ketika akan mengajar di pagi hari selalu tidur tidak lewat jam sepuluh. Lagi-lagi, Alpino menjadi orang yang sedikit menyebalkan untuk merusak malam teman-temannya. Namun siapa dia, jika Fajri tidak ingin datang maka dia tidak. jadi mengetahui Fajri tetap datang bahkan harus mengambil waktu istirahatnya, siapa dia untuk tidak merasa sedikit lebih berharga di mata teman-temannya.


“Sudah gue bilang, gue juara bertahan sih kalau masalah ini. Ya, mungkin nggak sehebat lo, Jri”


“Lah kok malah bawa-bawa gue” Fajri mencibir, tahu persis kemana jalan pembicaraan yang dilemparkan oleh Alpino.


Alpino tertawa kecil, menghisap nikotinnya lagi, dia menghembuskannya jauh dari tempat Fajri berada. “Lagian gue juga udah tau kali kalau cepat atau lambat calonnya Lisa bakal datang juga. Gue udah kalah start dari awal, Jri. Lo tau sendiri gue udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi dari awal. Udah ada peringatannya gue, dikasih garis jauh dari awal gue mulai paham perasaan gue sendiri”


Fajri diam sejenak. Matanya beralih dari wajah Alpino yang terlihat tenang meskipun dia tahu temannya itu menyimpan banyak hal di balik topeng yang dia kenakan, yang sedikit demi sedikit ia runtuhkan, ia lepaskan pada malam ini. Fajri paham apa yang akan terjadi, apa yang akan dimuntahkan oleh Alpino tentang perasaannya. Dia sudah bersiap sejak Noren di kenalkan pada hari itu- ah, ralat, mengenalkan dirinya sendiri pada hari itu, beberapa minggu yang lalu. Fajri sudah bersiap untuk permintaan Bro Time yang akan di ajukan. Maka dari itu, dia tidak mengeluh ketika dia bahkan sudah bersiap di dalam selimutnya untuk tidur, dia malah bergerak untuk pergi ketika Alpino mengirim pesan di grup mereka.


“Gue tau lo ada perasaan sama Lisa bahkan sebelum lo mulai terbuka sama kita-kita. Itupun lo nggak bilang kapan dan gimana. Lo juga cuma numpahin kata kalau lo ga bisa maju buat perjuangin perasaan lo tanpa ada alasan yang jelas. Lo sering bilang kalau lo nggak bakal bisa sama Lisa, udah ada penghalang atau garis apapun itu. Tapi Lo nggak pernah ngasih tau ke kita sebenarnya kenapa. Sekarang, coba lo jujur ke kita, kasih tau apa yang bikin lo stuck dan malah terlihat menyedihkan gini karena perasaan lo nggak bakalan pernah kemana-mana”


Alpino tersenyum. Tatapannya lurus melihat coretan di dinding seberang yang kali ini sudah penuh. Di mata Fajri sekarang, temannya benar-benar sudah melewati batas yang bisa dia tanggung. Perasaannya sudah terkubur lama sekali dan sudah saatnya dia melepaskannya kali ini. Fajri hanya ingin Alpino lebih lega dan terbuka pada mereka. Mungkin itu bisa membantu Alpino untuk bernapas dengan lebih ringan jika dia menjatuhkan semuanya begitu saja. Walaupun semua masalah tidak membutuhkan solusi atau apapun, dia hanya ingin temannya itu membuang sebagian besar rasa sakitnya agar dia merasa bahwa dia tidak sendirian. Hanya bercerita, itu saja. Toh Fajri juga bukan expert dalam menimpali cerita dan memberi nasihat, namun setidaknya telinganya terbuka lebar untuk mendengarkan.


“Yaelah, Jri” Alpino pada akhirnya membuka suara. Tatapan mata sayu yang dibuat jenaka itu menangkap tatapan Fajri yang serius. “Seharusnya lo nanyain dulu kerjaan gue gimana nggak sih? tanya ke gue ada apa hari ini sebelum ngomongin hal sepersonal ini? Ah anjir, kayaknya emang harus ngomongin hal gelap banget nggak sih malam ini?”


Alpino mencoba untuk meruntuhkan suasana yang terlalu serius, dia mungkin ingin ini menjadi pembicaraan yang harus di dengarkan, tetapi dia tiba-tiba menjadi canggung dalam atmosfir ini. Dia tidak begitu baik dalam mengutarakan perasaannya keras-keras, itupun ketika dia mengatakan dulu dengan terang dan jelas bahwa dia memiliki perasaan pada Lisa karena Fajri yang lebih dulu membuka suara tentang hubungan lelaki itu dengan Jihan.


“Nggak apa-apa, kalau gelap nanti biar gue suruh Ko Akoh masang banyak lampu lagi disini, kalau nggak nanti hp-nya dihidupin aja senternya, beres” Fajri mengomel di bawah napasnya, ikut berusaha membuat Alpino nyaman dengan pembicaraan malam ini.


“Gila emang lo, Jri”


Fajri tertawa, “Baru tau lo?” napasnya sedikit memburu krena tawa sebelum dia menambahkan, “Lagian kalau kerjaan lo mulus nggak bakal se-frustasi ini gue liat. Sedih banget jadi lo, Al. Udahlah kerjaan nggak mulus, liat the love of your life jalan sama calon suaminya. Makin gila kan lo jadinya. Hadahh”


Alpino terperajat, terbatuk dari asap yang dihirupnya, kepalanya melecut melihat ke arah Fajri dengan tatapan horror dan tidak percaya. Bung, dia tidak mengatakan apapun kepada Fajri atau bahkan siapapun tentang kejadian hari ini dimana kerjaannya yang tidak lancar dan pada akhirnya menemukan Lisa dan Noren sedang bersama di alun-alun seolah sedang menikmati waktu hanya berdua saja.


“Jri?” dia memulai, tangannya memeluk dirinya and mengusap kedua sikunya yang terbalut kemeja tipis lengan panjang kotak-kotaknya. “Cenayang lo? Sumpah gue merinding parah, Jri. Sumpah nggak bohong gue”


Fajri sendiri terdiam, dia terkejut dengan reaksi yang di berikan Alpino. Padahal anak itu hanya menebak saja jalan cerita yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Fajri bahkan tidak begitu yakin itu terjadi, tapi dia menebak dengan tepat sasaran dan yang bisa dia katakan pada Alpino adalah, “Oh, jadi beneran?” dikeluarkan dengan celetukan tidak percaya.


Alpino mendesah sebelum akhirnya mengangguk dengan lemah. Dia mematikan rokok yang sudah habis sebelum kembali menenggak kolanya dalam sekali tegukan dan langsung meremukkan kaleng kosong itu. Baru saja Alpino ingin berbicara, suara Heksa sudah menginterupsi mereka berdua.


“Oh jadi gitu, ngobrolin hal penting nggak nunggu gue?”


Suaranya sedikit jutek. Dia membawa nampan berisi beberapa gelas minuman dan makanan ringan yang dipesan, disebelahnya yang berjalan beriringan dengannya adalah karyawan Ko Akoh yang membawa sebagian lagi pesanan mereka. Heksa meletakkan makanan di antara mereka dengan cepat, membantu yang lain meletakkan sisa makanan mereka di tikar yang mereka duduki. Heksa meletakkan sepiring batagor baru dan dua kaleng kola di depan Alpino dengan sengaja sebelum berterimakasih pada karyawan yang mengantar makanan mereka sebelum membiarkannya kembali untuk bekerja. Alpino menatap Heksa dengan heran, yang kini dengan santai menyesap susu soda gembiranya sebelum kembali mengadiahi mereka tatapan terkhianati.


“Udah sampai mana ceritanya? Sumpah ini gue ditinggalin?” Wajahnya kembali membuat ekspresi kesal yang aneh.


“Ya enggak lah, ini gue sama Fajri lagi basa-basi doang. Kita juga lagi main tebak-tebakan doang. Mana mungkin gue ngobrolin hal penting tanpa lo padahal gue ngajak lo juga di awal” Alpino menjelaskan. Dia sedikit tertawa melihat perubahan suasana. Heksa biasanya bersikap masa bodoh dan cuek, namun jika dalam keadaan yang serius, dia harus diikutsertakan dan bisa menjadi duri dalam daging, menyebalkan dan kadang-kadang membuat Alpino dan Fajri ingin marah. “Lagian juga lo lama banget. Ini juga apaan maksud lo ngasih gue kola sampe dua biji gini?”


Heksa nyengir sedikit sebelum mengambil kentang goreng yang berada tepat di depannya. “Nggak apa-apa, mending mabuk kola daripada mabuk miras, kan? Udah, minum aja biar lo rileks mau cerita. Ini gue udah siap, makanan udah siap, Fajri juga udah siap lahir batin. Sekarang cerita apa aja yang harus diceritain dan jangan sampe ada yang disembunyiin biar lo nggak keliatan kusut kayak orang depresi yang baru putus cinta, deh, Al”


Alpino mengegrtakan giginya. Matanya di latih untuk melihat pada pesanan makanan mereka yang penuh. Alpino meringis, ini bisa saja merupakan warmindo dengan harga murah, namun melihat banyaknya piring dan berbagai macam makanan ringan yang dipesan, dia jadi merasa kasihan dengan isi dompetnya. Uangnya pasti menangis ketika dia menyerahkan total habis makanan yang dipesan di kasir nanti. Alpino lupa jika teman-temannya yang kadang tidak tahu di untung ini makan seperti sapi yang mempunyai empat lambung.


Tapi menyingkirkan hal itu, dimana dia tahu bahwa itu akan menjadi pikiran terakhir yang harus datang padanya karena konsekuensi menawarkan teraktiran pada teman-temannya adalah sebuah hal yang harus dia perhitungkan dengan kewarasannya lain kali, dia lebih memilih untuk kembali pada inti apa yang akan dia keluarkan malam ini, perasaannya ingin di bebaskan, jadi dia memaafkan teman-temannya untuk mengosongkan dompetnya pada malam ini. Tidak apa-apa jika itu sebanding dengan usaha dan waktu mereka untuk menemani dirinya.


“Lo juga, Sa. Kenapa lo nggak nanyain tentang kerjaan gue atau hari gue dulu? Malah ngomongin masalah percintaan gue” Dia mengoceh kembali, mencoba untuk membiarkan dirinya rileks untuk memulai bercerita tentang perasaannya, mengambil waktu lebih banyak untuk merasa sedikit lebih nyaman.


“Haduh,” Heksa mengaduh dengan sedikit dramatis. Fajri di sebelahnya yang sedang mengaduk mie nyemek pedas dengan telur kesukaannya terkikik kecil di sela gigitan. “Lo tuh kebaca banget tau nggak sih, Al? lo nggak bakalan berani bayarin kita-kita makan kalau lo lagi nggak kalut banget. Udah pasti hari ini kerjaan lo lagi nggak baik-baik aja dan pasti ada masalah dengan perasaan lo sendiri. Mana tau hari ini habis dapat kerjaan yang buat lo jengkel, lo malah ketemu Lisa lagi jalan-jalan sama Bang Noren, kan? Ya pasti hasilnya adalah lo yang frustasi dan tertekan kayak lo sekarang”


Heksa tertawa setelahnya, meninju bahu Fajri untuk mendukung argument yang dia keluarkan. Fajri tersedak pedas makanannya dan Alpino memberikan ekspresi yang tidak percaya sebelum mengusap wajahnya dengan pasrah. Mungkin Heksa juga bagian dari cenayang seperti Fajri. Ya, mereka sama gilanya, tapi Alpino sendiri tidak percaya bahwa tebakan asal kedua temannya itu persis meninju dirinya sendiri karena fakta itu seperti terbaca jelas di seluruh wajahnya. Atau memang juga karena dia memberikan ekspresi yang begitu nyata, menggambarkan apa yang terjadi padanya sepanjang hari.


“Emang lo sama Fajri sama aja gilanya. Sama-sama keturunan cenayang kalian berdua. Ngeri banget, sumpah”


“Lah, gue bener?” Heksa tercengang sejenak. Tangannya aktif memukul punggung Fajri yang masih terbatuk yang mencari minuman untuk meredakan panas tenggorokkannya. “Gue kira lo bakalan ngomelin gue lagi. Anjir” Heksa tertawa puas, tangannya yang menepuk punggung Fajri dengan tidak berbelas kasih segera di tepis dengan si empu, yang kini malah menjadi sau-satunya yang mengumpati Heksa sendiri.


“Kayaknya cerita hidup gue mudah ketebak banget, ya?” Alpino menggeleng. Tangannya mengusap dadanya pelan. Berpura-pura meratapi kehidupannya yang trasnparan dan rasa sakit yang dengan mudah terbaca seperti buku yang terbuka.


“Ini serius?” Heksa memanggil, berusaha untuk menjadi lebih tenang dari pada sebelumnya. “Pantes lo udah kayak nggak ketolong banget, Al”


“Sialan lo, Sa” Alpino melayangkan tangannya, berusaha untuk memukul kepala Heksa lagi. Yang hampir menjadi korban, mengelak dengan cengiran di wajahnya, menyelamatkan diri untuk tidak ada satupun tangan yang akan menyentuhnya lagi dengan tidak terhormat dan menimbulkan rasa sakit. Sudah cukup dia dianiaya tadi sore ketika menjemput Hala dan beberapa saat yang lalu ketika dia mendapatkan pukulan yang cukup dari Alpino dan juga Fajri.


“Hari ini kayak sial banget hidup gue” Alpino memulai. Dia tidak ingin menghabiskan banyak waktu Fajri lagi karena mengingat bahwa temannya itu akan pergi bekerja pagi-pagi sekali. Sedangkan Heksa sepertinya tidak begitu peduli dengan waktu, dia juga masuk kerja sekitar jam sembilan pagi, jadi Heksa yang terbiasa begadang tidak ambil pusing dengan waktu tidurnya.


“Mungkin nggak bisa dibilang sial banget, sih. tapi rasanya kayak campur aduk gitu, paham enggak, sih?” Dia mencoba untuk menjabarkan. Tangannya yang kosong bergerak di udara seolah menggambarkan sesuatu, namun berakhir dengan jemarinya yang mengusak rambutnya dengan frustasi. “Gue kira hari ini kerjaan bakalan lancar-lancar aja, toh client kita nggak terlalu banyak omong waktu pesan jasa kita buat sesi prewedding. Tapi sumpah, salah banget pikiran gue waktu gue pikir semuanya bakalan lancar kayak biasanya”


Alpino memilih untuk memuntahkan kekesalannya dari awal tentang pekerjaannya agar lebih mudah mengekspresikan kenapa dia menjadi sangat emosional hari ini. Mengapa perasaannya seolah tidak bisa diajak kerjasama untuk mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Jadi, ketika tangannya gatal untuk memegang sesuatu dan mulutnya terasa pahit, dia kembali mengambil bungkus rokoknya dan mulai menyesap kembali rasa nikotin itu sendiri di mulutnya.


“Rupanya mereka tuh ribet banget. Udah take berkali-kali tetap aja kurang ini, kurang itu. Padahal jelas-jelas sebelumnya udah kita jelasin konsepnya kayak gimana dan hasilnya kayak gimana. Udah deal juga malahan. Mereka beneran keras kepala dan malah bikin pose sendiri, nggak mau nurut waktu di atur. Gue emosi banget waktu itu, tapi Kina nenangin gue dan kita yang awalnya mikir cuma kerja sampai sore doang berakhir selesai sekitar jam delapan tadi. Apa nggak emosi gue, mana tim gue juga belum ada makan dari siang, cuma cemilan dikit banget yang Kina syukurnya siapin buat kita”


Alpino menghela napas, tahu dia akan kembali emosi mengingat kejadian tadi siang, dia menurukan suaranya dan mencoba untuk bernapas lebih dalam lagi. Minuman dingin yang disiapkan Heksa mungkin menjadi sesuatu yang saat ini dia berterimakasih. Jadi, meminum kolanya kembali agar emosinya sedikit mereda, dia merasa sedikit lebih baik kemudian.


“Manalagi pakai acara baju pengantinnya basah kena semprotan air mancur di alun-alun. Udah gue bilang nggak bakalan bisa kalau disana, karena takutnya merusak property sama pakaian. Tapi masih keukeuh aja itu orang. Manalagi kepala tim gue yang awalnya nggak mau cekcok milih buat ngeiyain, akhirnya tim kita di suruh tanggung jawab, ya kita bersikeras nggak maulah karena bukan salah kita” Mengigat kembali apa yang terjadi, dia sungguh ingin menenggelamkan sang mempelai wanita ke dalam air mancur kota jika saja dia bisa dan tidak punya perasaan belas kasih.


“Pada akhirnya, ada itu cekcok antara kepala tim gue sama mempelainya bilang itu bukan tanggung jawab kita. Toh yang ngubah tempat tiba-tiba dan keras kepala itu mereka, jadi ya itu konsekuensinya. Jadi, habis cekcok selama hampir satu jam akhirnya mereka ngerasa bersalah juga dan minta lanjut aja lagi buat sesi pemotretan. Jadi, ya, sampai jam delapan akhirnya kita selesai buat kerjain sesi prewedding itu orang aja. Gue pengen misuh disitu, tapi mana bisa. Gue harus professional, kan?” Dia menghela napas lagi, tanganya ia ketukkan di atas lututnya yang berbalut celana jeans hitam miliknya.


“Manalagi gue dinasehatin ini itu sama kepala tim gue buat lebih sabar. Ya, gimana mau sabar orang gue liat tim gue udah kasihan banget disana, panas-panasan dan berusaha ngelakuin yang terbaik buat client. Eh malah diperlakukan kayak gitu banget. Apa nggak emosi, gue?”


Asap rokoknya berhembus dengan lebih tebal. Kedua alisnya kali ini mengernyit dengan kesal membuat ekspresinya begitu tegang. Heksa dan Fajri berusaha untuk tidak memotong apapun yang dicurahkan oleh Alpino kali ini. Karena tentu saja, sejauh pekerjaan Alpino yang dicurhati ke mereka beberapa waktu yang lalu-lalu, tidak ada yang benar-benar membuatnya seemosi itu. Biasanya Alpino akan merenngek dan meminta mereka berdua untuk membelikan sesuatu karena dia sedang tidak mood dengan pekerjaannya atau mengajak mereka untuk pergi bermain di arcade sampai lupa waktu.


“Sebenarnya pas gue udah selesai,” Alpino menghela napas. Diam sejenak saat jemarinya menjentik abu rokok ke dalam asbak yang memang sudah disediakan di sana. “Gue udah baik-baik aja karena gue pikir gue bisa langsung tidur aja tanpa ngurusin apapun lagi. Emosi gue reda pas gue mikir gue bisa langsung istirahat dan pas banget besok tim gue diliburkan”


“Tapi?”


Fajri angkat bicara. Alpino menoleh ke asal suara dan mendapati ekspresi Fajri yang tidak bisa dia baca sekarang, dan mungkin dia tidak mau karena perasaannya kali ini membuatnya mual. Dia bahkan tidak bisa mengatakan apakah dia lega sepenuhnya, sakit, atau bahkan bisa dia menunjuk pada satu emosi yang sangat menggambarkannya. Dia hanya bisa mengatakan bahwa dia sedang ada di fase berada di bawah awan berwarna abu-abu dengan deskripsi perasaan aneh dan campur aduk. Alpino hanya bingung, dan kesal, dan sedih, dan sakit, dan segala hal yang tidak bisa dia tentukan ada di mana sebenarnya perasaannya. Itu sangat complicated.


Jadi yang bisa dia lakukan adalah tersenyum kecil yang bahkan terasa sangat hambar. Kepalanya dia benturkan ke dinding di belakang dengan pelan, namun berkali-kali dengan matanya yang tertutup.


“Gue ketemu Lisa sama Bang Noren di alun-alun. Pas banget gue baru aja selesai nyimpan kamera gue dan pamitan sama anak-anak tim. Gue capek banget tadi, capek yang capek banget. Kalian pasti paham lah gimana rasanya” Dia lagi-lagi menghela napas sebelum menghisap kembali rokoknya. Diam-diam dia memperhatikan Heksa yang mengeluarkan vape miliknya, lebih tenang untuk menghisap liquid daripada langsung pada batang nikotin sepertinya.


“Awalnya gue nggak mau nyamperin mereka berdua. Bang Noren kayaknya lagi seneng banget. Mana dia ketawa dan senyum lebar banget waktu ngegodain Lisa” Dia diam sejenak, mengingat bagaimana ekspresi bahagia yang ditawarkan Noren untuk Lisa. Padahal sebelumnya dari pertemuan mereka saat Noren mengatakan bahwa dia adalah calon suami Lisa, Noren terlihat seperti menjaga diri dan tidak menunjukkan banyak ekspresi selain sedikit sombong dan terlihat sangat menonjol dan dominan dengan auranya. Tapi ketika dia bertemu mereka berdua, Noren terlihat sangat santai berada hanya bersama dengan Lisa. Dia terlihat bebas dan seperti orang yang begitu puas.


Lisa juga terlihat lucu disana. Alpino yakin bahwa Lisa masih memakai pakaian kantornya dengan heels biasa yang dipakainya untuk bekerja. Mungkin Noren menjemput Lisa dan membawa perempuan itu berjalan-jalan sebelum mereka pada akhirnya berada di alun-alun. Alpino paham, dia tau bahwa ekspresi Lisa terlihat frustasi setelah beberapa godaan yang dilemparkan oleh Noren. Sahabatnya yang diam-diam dia miliki perasaan itu merengek dan hampir melayangkan pukulan pada Noren, seperti apa yang biasa Lisa lakukan padanya jika perempuan itu sudah kewalahan.


Jadi dengan hal itu, melihat Lisa yang frustasi sendiri, Alpino tidak menyadari bahwa dirinya sendiri sudah berjalan mendekati mereka berdua. Memanggil Lisa seola-olah dia telah terprogram dan tidak tahu bahwa dia sendiri melakukan hal itu.


“Tapi waktu gue lihat Nalisa udah kewalahan dan keliatan kesal banget, gue refleks buat deketin mereka dan gue juga nggak sadar kalau gue malah manggil Lisa. Gue tau Bang Noren kesel banget sama keberadaan gue dan pas Lisa meluk gue, muka Bang Noren asem banget. Ya, gue paham kenapa dia begitu, tapi, sumpah demi Allah, gue ngerasa superior banget disana. Gue ngerasa pengen bilang kalau, ini loh, gue yang udah tau gimana Lisa. Gue yang bisa nenangin dia, gue yang bisa bikin dia manja di depan gue. Ini loh gue, yang udah lama sama Lisa dan gue yang udah deket sama dia lebih dulu”


“Gue seolah-olah pengen nunjukin kalau Lisa itu punya gue. Cuma gue yang boleh nge-eksplorasi semua hal yang Lisa lakuin, semua perasaan Lisa, dan semua hal yang Lisa butuhkan. Cuma gue yang bisa bikin Lisa santai dan nyaman”


Lagi-lagi dia terdiam beberapa saat. Kali ini, Heksa yang meyelanya dengan suara kecil, tidak ingin membuat dia tersinggung. Meskipun tidak dipungkiri, ada rasa tidak enak yang buruk di dalam hatinya, yang dia tepis secepat itu datang, Tidak mungkin dia akan membuat masalah disini dan melampiaskan semuanya pada teman-temannya. Dia harus bisa mengontrol dan tidak membiarkan emosi jelek menguasai dirinya.


“Tapi lo ngerasa bersalah setelahnya, kan?”


Senyuman miring yang lelah di keluarkan oleh Alpino secara refleks. Dia tanpa sadar menoleh pada teman-temannya yang mendengarkan semua keluh kesahnya dan seluruh fokus mereka ada padanya. Bahunya yang tegak kini melorot, seolah-olah dia hanya ingin berbaring dan menutup mata disana. Ketika dia membuka telinganya lebar-lebar, dia mendengar genjrengan gitar lagi yang kali ini melantunkan lagu milik Rossa-Terlalu Cinta, membuat Alpino hanya ingin mengerang frustasi. Meskipun Lisa juga tidak menginginkan kehadiran Noren dalam hidupnya, dia juga tidak bisa melakuan apapun untuk itu. Dan siapa yang bisa paham mengenai hati dan perasaan, Lisa bisa saja luluh suatu hari nanti dan akan meninggalkan Alpino jauh di belakang dengan rasa sakit yang tidak akan pernah hilang dan terkurung dalam waktu.


“Gue ngerasa jahat banget sama Bang Noren secara tiba-tiba. Seharusnya gue nggak boleh kayak gitu di depan dia. Gue nggak boleh ngeliatin seolah-olah Lisa itu punya gue, ya walaupun pada kenyataannya Lisa memang bukan milik gue” Alpino meringis dengan ucapannya sendiri. Sakit di dalam benar-benar sudah lebih dari seribu kali dia rasakan, tetapi tetap dia simpan dalam-dalam di lubuk hatinya dan dia tidak bisa mengatakan keras-keras atau bahkan melangkahi garis dan palang yang sudah di tetapkan untuknya agar dia menjauh.


“Jadi gue nahan diri gue disana buat ngejauh. Tapi Lisa tiba-tiba ngajakin gue makan bareng mereka. Ya, tentu aja gue mau nolak awalnya, tapi Lisa maksa dan pada akhirnya Bang Noren setuju buat ngajak gue makan bareng sama mereka. Dan sumpah, gue bisa liat wajah terpaksanya dia waktu gue ada di antara mereka”


Benar. Dia bisa mengingat bagaimana senyum Noren yang tidak sampai ke matanya dan bagaimana Noren membiarkan Lisa bercengkrama dengannya seolah-olah Noren tidak ada disana. Lelaki itu hanya diam dan menikmati makanannya yang Alpino bahkan bisa tau bahwa lelaki itu sama sekali tidak menikmati dirinya sendiri. Lisa bahkan seolah tidak menyadari bahwa ada Noren di antara mereka. Lisa selalu mengajak Alpino untuk mengobrol dari awal hingga akhir. Dan Alpino ingat bagaimana Lisa lebih ingin diantar olehnya untuk pulang ke rumahnya.


“Gue kayak orang gila di dalam. Ngerasa tertekan banget, Sa, Jri. Gue seneng banget karena Lisa cuma ngeliat gue disana, tapi gue ngerasa jahat banget karena udah ngehancurin malamnya Bang Noren. Gue seneng karena perhatian Lisa selalu ditujukan buat gue, karena Lisa butuhnya sama gue, tapi gue ngerasa bersalah sama Bang Sinar karena ngelanggar apa yang udah gue janjiin sama dia”


“Gue juga ngerasa kayak antagonis yang ngehancurin hubungan orang disana, padahal seharusnya gue yang ngerasa tersakiti karena gimanapun, gue nggak bakalan bisa ngelangkah buat dapatin Lisa dihidup gue lebih dari seorang sahabat. Gue rasanya pengen mukul diri gue sendiri saat itu juga”


Alpino meletakan rokoknya yang tinggal setengah di asbak. Kedua jarinya kini mengacak rambutnya yang sudah kusut, persis seperti orang yang benar-benar frustasi. Dia diam sebentar, rombongan yang menyanyikan lagu di pavilion ujung semakin semangat untuk memberikannya lagu-lagu galau seolah mendukung perasaannya saat ini. Kali ini yang mereka mainkan adalah lagu dari Judika- Aku Yang Tersakiti, dan Alpino sungguh rasanya ingin membalik pavilion itu beserta orang-orang sialan yang sudah ikut andil untuk membuatnya menoreh rasa sakit dan frustasi di dalam. Jika saja angin segar pada malam itu tidak berhembus dan menyegarkan dirinya sehingga dia bisa waras sedikit, mungkin hal gila akan benar-benar dia lakukan jika dia tidak ditenangkan oleh sesuatu.


“Gue asli tau banget kenapa gue bisa kehilangan kontrol gini. Awal gue udah emosi banget sama kerjaan gue, ditambah dengan pertemuan gue dengan Lisa sama Bang Noren. Apalagi yang bisa bikin gue meledak selain dua hal itu? Gue coba buat nahan semuanya tapi gue rasanya terlalu lemah. Gue pengen marah sama keadaan tapi nggak bisa. Karena, buat apa? Gue nggak punya hak buat marah selain marahin diri gue sendiri"


Diam lagi. Wajahnya diterpa dengan angin malam yang dingin. Itu menyegarkan kepalanya yang panas. Matanya jatuh pda kaleng kola yang berada di tangannya. Mengguncangnya sedikit sebelum bibirnya kembali terbuka untuk membisikkan perasaanya yang lara.


“Lagian, kenapa gue harus punya perasaan, sih?” Desahnya kemudian sebelum menghabiskan setengah kaleng kola yang tersisa dalam satu tegukan. Meringis setelahnya ketika soda keras menyakiti tenggorokkannya. “Kadang gue berharap gue nggak punya perasaan aja. Gue lebih milih jadi orang tanpa perasaan daripada ngerasain sakit kayak gini. Dulu gue kira cuma jadi sahabatnya Lisa doang bakalan baik-baik aja di gue. Tapi ternyata waktu ada orang lain yang muncul dan bisa perjuangin perasaannya ke Lisa dengan bebas, gue jadi tau rasa sakitnya begini banget. Gue ngerasa dimakan dari dalam ke luar” tambahnya dengan suara yang lirih.


“Anjing banget nggak, sih? Sedih banget kisah cinta gue”


Alpino tertawa miris, terdengar sangat terluka ketika dia kembali membuka kaleng kola baru. Dia akan berususan dengan perutnya besok pagi, dia tidak peduli. Yang terpenting adalah perasaannya yang terlepas di tengah deru angin malam dan percakapan menyedihkan yang harus dia keluarkan atau jika tidak dia akan meledak kapan saja jika ditahan lebih lama lagi.


Telinga Alpino berdengung saat dia menyadari sepi yang tercipta di antara mereka. Tidak ada genjrengan gitar lagi seolah-olah orang-orang di pavilion sana mengerti rasa sakitnya dan tidak ingin membuatnya lebih frustasi lagi. Diam-diam dia menjadi sedikit sadar diri, agak panik jika orang lain mendengar ceritanya yang krusial dan menyedihkan. Sedikit mempermalukan dirinya sendiri. Jadi, dia duduk tegak dan kepalanya melecut ke arah rombongan di pavilion dan mendapati mereka tengah asyik bermain jenga di sana dengan konsetrasi penuh seolah tidak peduli pada suasana sekitarnya.


Ada dentingan gelas kaca yang beradu dengan piring secara tiba-tiba dan dia menoleh dengan cepat untuk mendapati Heksa yang meringis ketika dia tertangkap basah hampir menumpahkan isi makanan Fajri yang tinggal sedikit dengan mie yang terlihat sudah mengembang.


Alpino berdecih tawa ketika Heksa mengangkat kedua tangannya di udara seolah dia pasrah jika tertangkap dan didakwa dengan tuduhan merusak suasana yang telah diciptakan untuk mengheningkan cipta dari rasa sakit. Alpino yang mengetahuinya dengan refleks menendang lutut Heksa yang terdekat dan dengan berhati-hati tidak menyenggol makanan apapun di sekitarnya.


“Brengsek, lo, Sa. Ngagetin gue aja”


“Hehe, Sorry. Tadi tenggorokkan gue kering, habis minum ga sengaja nyenggol piringnya Fajri” Anak itu mengusap tengkuk lehernya kikuk, yang diberikan hadiah sikutan dan Fajri yang jengah namun bersyukur karena bisa sedikitnya mencairkan suasana kembali.


Alpino menggeleng, paham dengan kelakukan teman-temannya yang sebenarnya ingin membuatnya lebih tenang. Alpino bisa merasakan sedikit pergeseran emosinya, dan dia merasa benar-benar bisa bernapas dengan baik kali ini. Tidak ada yang dipendam, semuanya telah keluar. Semua keluh kesah tentang perasaannya. Tentang betapa inginnya dia selesai dengan perasaannya sendiri namun jauh di lubuk hati dia malah takut untuk kehilangan.


“Sebenarnya sih, Al. Gue penasaran” Fajri angkat bicara ketika dia berada di suapan kedua batagor miliknya. Mencicipi rasa pedas dan bumbu kacang khas yang dia sukai dan mengangguk kemudian untuk mengatakan kepada Fajri bahwa dia sedang mendengarkan.


“Lo buat janji apa sih sama bang Sinar sampai lo benar-benar nggak bisa ngapa-ngapain tentang perasaan lo sendiri? Lagian, ya, namanya perasaan tuh nggak bisa di kontrol. Lo mau berusaha buat nggak suka sama siapa aja, kalau misalnya perasaan lo bilang suka, ya mana bisa di larang, mana bisa lo kontrol. Yang ada perasaan lo malah makin besar sampai akhirnya lo sendiri ngerasa sakit kayak begini, kan?”


“Lagian juga, ya, nih gue bilangin. Banyak kisah percintaan yang sakit di luar sana. Lo nggak bisa nge-judge perasaan lo sendiri dan kisah cinta lo sendiri yang menyedihkan. Jatuh cinta ya pasti ada fasenya sakit. Dimana-mana yang namanya jatuh nggak ada yang nggak bikin sakit, kan? Apalagi kalau tentang perasaan. Ngobatin lukanya nggak bisa pake obat fisik”


Alpino tersenyum ketika dia memperhatikan Fajri mengomelinya dengan menggebu-gebu, terlihat begitu serius. Mode gurunya ketika mengajar dikeluarkan olehnya sekarang tepat di depan mata Alpino dan Heksa. Alpino menghela napas, kali ini lebih dalam lagi.


“Sakit ya, Jri. Kayak lo kan juga ngalamin, ya?”


“Loh kok malah balik ke gue lagi?” Sensi Fajri tiba-tiba muncul ke permukaan. “Gue lagi ngomongin lo, nih. Bukan kisah cinta gue. Kita nggak lagi adu nasib sakit-sakitan sekarang. Gila lo”


Tertawa, Alpino merasa geli ketika mendengar Fajri mengumpatinya lagi. Wajahnya tertekuk lebih kesal dengan keadaan.


“Iya, maaf deh” Dia bersuara ketika merasa bahwa Fajri sudah lebih dari siap untuk mengomel lagi. “Tentang janji gue sama Bang Sinar..” Dia berhenti sebentar, menimbang. “udah lama sih sebenarnya, tapi namanya janji, nggak bisa gue lupain gitu aja. Itu waktu Lisa balik dari Jepang, waktu kita mau masuk kuliah kalau nggak salah”


Alpino mengingat, berusaha untuk memperkirakan kapan Sinar membuatnya berjanji dengannya tentang perasaan dan tentu saja tentang Lisa.


“Eh bentar deh” Heksa menyela. “Lo emang udah dari kecil banget ya ketemu Lisa? Jadi ini lo udah suka banget sama Lisa dari kecil? Kalau iya, sih, gila kali lo dipaksa bikin janji di usia lo yang masih belia-,” Ada ringisan geli dari Heksa ketika dia menyebutkan kata terakhir sebelum melanjutkan. “Dan tetap nyimpan perasaan lo sampai sekarang. Kuat banget hati lo, terbuat dari baja?”


Alpino terkejut, tertawa puas ketika dia melihat raut wajah Heksa yang meringis, menatapnya dengan tidak percaya. Alpino menggeleng, melambai dengan cepat di depan kedua teman-temanya.


“Oh iya juga, lo nggak pernah cerita ke kita awal persahabatan lo dengan the love of your life, nih, Al”


“The love of your life banget bahasa lo, anjir” Heksa memukul Fajri disebelahnya yang mengaduh, mengusap lengannya setelah melempar tatapan kematian pada lelaki dengan rahang tegas dan garis lesung pipi yang terlihat saat lelaki itu menyeringai geli.


“Rese banget sumpah, lo, Sa. Pengen gue jual aja, tapi nggak yakin laku di pasaran”


“Setan, lo!”


Tidak ada yang lebih menenangkan Alpino daripada melihat teman-temannya menyumpah satu sama lain. Perasaan yang lega dan aman ini membuatnya percaya bahwa menceritakan apapun dengan mereka adalah hal yang tepat. Matanya dilatih untuk menjauh dari percakapan kedua temannya yang kali ini melontarkan macam-macam serangan balasan untuk masing-masing dari mereka dan lebih memilih untuk memutar kenangannya kembali ke saat-saat itu. Dimana dia menemukan Lisa di taman bermain yang sedang sepi di sore hari, hampir gelap. Dan setelahnya, mereka dekat dan menjadi tak terpisahkan sampai saat ini.


Tak terpisahkan, mungkin adalah kata yang terasa sangat salah di lidahnya kali ini.


“Kalau di bilang dari kecil, sih, nggak juga. Gimana ya ceritanya..” Dia bergumam, mengusap dagunya dan melirik kedua temannya yang kini sudah berfokus kembali padanya meski masih terlihat sikutan kematian di antara keduanya.


“Gue ketemu Lisa waktu gue umur tujuh tahun, dan awalnya sih karena gue nemuin salah satu antingnya yang hilang…”


“Cinderella banget, Anjir!”


Alpino tertawa, menyeringai ketika dia kembali pada hari itu, beberapa tahun yang lalu ketika dia menemukan sebuah anting berbentuk aneh yang berkilau di balik tiang panjatan berbentuk kubus bertingkat di taman.


Anting yang menjadi saksi awal pertemuan mereka yang sederhana.


...…....


Taman Kota, Rabu, 27 April 2005. Alpino Husein Adithama (7 tahun)


Sebenarnya hari itu adalah hari yang biasa. Dimana Alpino lebih memilih untuk mengasingkan diri menunggu jemputan di taman kota. Seperti biasanya ketika dia baru pulang dari sekolah. Rumah dan sekolahnya berjarak setengah jam dengan menaiki motor, dan sekolah dekat dengan taman kota. Dibandingkan dia menunggu ibunya untuk menjemputnya di depan sekolah , dia lebih memilih untuk bermain seorang diri di taman kota.


Berjalan kurang lebih sepuluh menit, dia sudah di hadiahi dengan berbagai macam permainan yang disediakan disana.


Tempat favoritnya adalah tempat memanjat berbentuk kubus yang lumayan tinggi untuk anak seusianya, tapi dia senang bergelantungan disana dan duduk di tiang bagian atas sembari menunggu dan mungkin melihat suasana kota dan jalan raya yang ramai kendaraan dengan ketenangan yang dia miliki. Dihadiahi dengan suasana sore hari berwarna jingga dan angin sepoi-sepoi yang menghilangi gerah, adalah satu hal yang dia senangi untuk mengusir rasa bosannya menunggu.


Ibunya sendiri memang sudah terlalu sering terlambat menjemputnya. Dia tidak mengomentari hal itu, pun tidak mengeluh karena dia tahu ibunya adalah wanita yang sibuk. Dia adalah salah satu dari pengajar di taman kanak-kanak yang tempatnya sendiri jauh dari sekolahnya. Jadi, menunggu ibunya yang akan datang selama setengah jam perjalanan jika tidak macet, adalah hal yang wajar dan dia lakukan setiap hari.


Sebenarnya jam pelajarannya hanya sampai pukul tiga sore, tapi terkadang dia mengikuti ekstrakulikuler dan menghabiskan waktu sampai pukul empat atau lima. Jadilah dia meminta ibunya untuk menjemputnya di jam-jam seperti itu. Jika tidak pukul empat, maka pukul lima dia sudah selesai dan menanti kehadiran ibunya di taman kota. Terkadang jika dia sedang tidak ingin melakukan apa-apa dan hanya ingin pulang, dia akan meminta tolong pada gurunya untuk menelpon ibunya agar menjemputnya lebih cepat daripada yang seharusnya dan yang akan datang menjemputnya adalah tetangga ataupun bibi yang berada di kompleks yang sama dengannya.


Hari ini adalah hari yang lumayan melelahkan, namun lebih membuatnya puas setelah berpanas-panasan di lapangan untuk menendang bola dan mencetak skor. Dia keluar dari gerbang sekolah pukul empat lewat lima belas sebelum berjalan dengan riang menuju taman kota. Sebelum sampai disana dia mampir ke warung untuk memesan es untuk melepaskan dahaga.


Alpino mengira itu adalah hari yang biasa. Hari dimana dia hanya menonton para anak kecil untuk bermain disana, berteriak dan tertawa, terkadang ada yang menangis dan didampingi oleh orang tua mereka. Bermain disana sampai lelah dan sampai orang tua mereka memutuskan untuk menyudahi hari bermain mereka. Dia sendiri suka menikmati bagaimana kegiatan orang lain. Terkadang sebuah ketenangan dengan hanya menjadi penonton adalah cukup baginya dan itu memudahkannya untuk tidak merasa dua kali lebih lelah setelah belajar dan melakukan kegiatan lapangan.


Namun hari ini sepertinya sedikit berbeda. Cuaca panas kini berganti dengan awan gelap yang berarak bergerombol di atas kepalanya menghalangi sinar matahari yang menyengat kulit meskipun sudah sore hari. Angin berhembus lebih kencang dari biasanya dan suanasa yang cerah kini memudar menjadi beberapa titik gelap dan teduh. Hujan sepertinya sebentar lagi akan datang. Dia mengangkat tangannya dan melihat arloji, mendapati jam masih menunjukkan pukul empat lewat dua puluh. Berharap dengan was-was dalam hati, semoga ibunya menjemputnya lebih cepat kali ini. Kalau tidak mungkin dia harus kembali berteduh di salah satu wahana permainan yang memiliki atap untuknya bernaung.


Memasuki taman kota, dia melihat hanya ada beberapa orang di sana. Memilih untuk mengabaikan, dia berjalan menuju tempat bermain yang sudah di klaim menjadi tempat miliknya seorang diri, karena setiap kali dia hadir disana, hanya dialah satu-satunya yang berhasil untuk naik sampai ke puncak. Membuat anak-anak lain iri dan lebih memilih untuk memainkan wahana yang lain.


Kali ini ketika dia meletakkan tas ranselnya di sandaran tiang, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di terpa sedikit sinar matahari yang masih berusaha untuk menyusup. Dengan rasa penasaran yang tinggi, dia berjongkok untuk mendapatkan benda apa yang menarik perhatiannya. Itu kecil, hampir tidak terlihat di bawah pasir yang menutupi. Namun ketika Alpino menyeka debu dan pasir, dia bisa melihat satu perhiasan yang sering di pakai ibunya di telinga. Sebuah anting yang berbentuk seperti tulang anjing. Alpino mengernyit, siapa yang memakai anting berbentuk tulang anjing yang seperti di kartun-kartun? Itu perak dan terasa agak berat di tangannya. Mengangkat bahu, Alpino memilih untuk memasukkannya ke dalam kantung seragam sekolahnya sebelum memilih untuk memanjat kemudian.


Tidak ada yang perlu membuatnya mengeluh, karena dengan selama ini mengangkat tubuhnya menaiki tiang-tiang itu, itu membuat dirinya terasa lebih ringan dari apapun. Dia bahkan bersumpah dia memanjat hal itu tanpa membuang peluh sama sekali. Bibirnya tanpa sadar menggumamkan lagu di iklan tv yang paling sering dia dengarkan. Dan dengan itulah dia bisa kehilangan waktu dengan memanjat dan bernyanyi sesukanya. Tidak ada yang menghalangi.


Butuh dua puluh menit lebih lama ketika dia melihat ke arah sekitarnya. Dimana orang-orang pada memilih untuk pergi dari taman ketika angin semakin berhembus dengan kencang. Dia sendiri merasa begitu kedinginan dengan hanya memakai lengan pendek dan tentu saja celana pendek berwarna merahnya yang sudah agak kotor karena debu dan beberapa karat di bagian tiang tempatnya bergelantungan.


Alpino sendiri berdecak malas ketika dia pada akhirnya berharap bahwa ibunya benar-benar datang untuk menjemputnya. Cemberut besar hadir di wajahnya ketika angin semakin kencang menghancurkan tatanan rambutnya. Dengan malas, dia memilih untuk turun karena suhu di atas terasa membuat bulunya naik karena merinding kedinginan. Dia sudah berpikir untuk naik ke wahana perosotan yang digabungkan dengan sebuah ruangan yang memiliki atap di atasnya untuk berteduh kalau-kalau hujan tiba-tiba datang.


Baru saja dia mengambil tas ranselnya dan ingin menyeretnya ke tempat dimana dia ingin beristirahat, dia menemukan seorang anak seusianya. Dengan rambut yang diikat dua yang menjulur melebihi telinganya, anak perempuan itu terlihat sangat khawatir. Dia tidak memakai seragam sekolah, dan alpino yakin meskipun dia tidak memperhatikan ratusan anak-anak di sekolahnya, dia tidak pernah melihat anak perempuan itu sampai saat ini. Wajah itu terlihat sangat baru, dan tidak seperti dia pernah mengenal orang lain seperti itu.


Anak perempuan itu terlihat kebingungan. Rambutnya bergerak dengan gelisah di tiup angin dan bagian dari gerakan kepalanya yang seperti dilatih untuk melihat sesuatu dengan teliti. Matanya bergerak ke sana kemari. Sudah pasti anak itu mencari sesuatu yang berharga yang tidak bisa dia tinggalkan begitu saja.


Jadi, mengingat bahwa hanya ada Alpino sendiri dan anak perempuan itu disana, hanya mereka yang tinggal disana dan terlihat seperti perempuan itu tidak akan pergi dalam waktu yang cepat, Alpjno dengan tanpa pemikiran lebih lanjut mendekati sang perempuan. Yang tiba-tiba membuat perempuan itu menatapnya dengan tatapan ragu dan khawatir.


“Halo, lagi nyari sesuatu, ya?” dengan modal keramah tamahan dan sopan santun yang di ajarkan oleh orang tua dan sekolahnya, Alpino menyapa. Anak perempuan itu terlihat agak ragu-ragu sebelum memberikannya senyum yang terlihat sedikit sedih.


“Iya. Aku lagi nyari sesuatu yang kayaknya jatuh di sekitar sini. Aku nggak sadar, dan sadarnya waktu aku lagi ke toilet sebelah sana” Dia menunjuk ke arah toilet umum yang memang di bangun di belakang area taman bermain. Alpino mengangguk kemudian.


“Nyari apa? Mana tau aku bisa bantu kamu? Sebentar lagi hujan, nggak mungkin kan kamu nyari hujan-hujanan?” Alpino menawarkan. Meskipun dia agak ragu bahwa dia bisa membantu anak itu dengan baik.


“Oh? Serius kamu mau bantu?” Mata anak perempuan itu terlihat sangat berbinar seolah-olah dia menemukan seorang penyelamat. Alpino dengan senyum merekah di wajahnya mengangguk dengan sangat yakin.


“Iya. Kalau dua orang yang nyari kan lebih cepat dari pada satu. Lagian aku juga lagi nungguin Mama buat jemput” Alpino mengangkat bahunya, matanya sudah dilatih untuk meneliti sekitar dan kakinya sudah menendang batu terdekat untuk mencari tau apakah sesuatu yang dicari perempuan itu ada di sana.


“Makasih banyak, ya” Suara anak perempuan itu terdengar begitu riang gembira. Dan Alpino tidak bisa tidak senang mendengarnya.


“Aku lagi nyari sesuatu yang berharga. Mama aku yang ngasih waktu ulang tahun ke lima kalau nggak salah. Aku pakai sampai sekarang karena aku suka dengan hadiahnya” dia terdengar bersemangat dan sedih dalam satu paduan kata. Alpino mendengarkan.


“Oh kalau gitu berarti harus di temuin secepatnya dong. Kan berharga banget” Alpino menoleh tepat waktu ketika anak perempuan itu mengangguk dengan kuat. “Kalau boleh tau bentukannya apa, ya?” tanyanya lagi kemudian. Berharap itu sesuatu yang mudah untuk di temukan.


“Anting” anak perempuan itu bergumam. Alpino berdiri sejenak, mengerjap disana. Tiba-tiba kantung seragamnya terasa lebih berat dari sebelumnya. “Bentuknya yang kayak gini” Dia memperlihatkan satu anting yang bergoyang di telinga kanannya. Wajahnya terlihat sedih, dan Alpino terkejut bahwa apa yang anak itu cari adalah salah satu barang penemuannya yang tidak dia sengaja.


“Oh..” Dia bergumam sejenak sebelum tangannya merogoh kantung di mana dia meletakkan anting berbentuk tulang anjing yang aneh itu. “Mungkin ini yang kamu cari?” Dia memegangnya di bagian runcing, membuat bandul itu bergoyang terpat di depan mata sang anak perempuan yang berbinar.


“IYA!!”


Itu jeritan yang sedikit menyakitkan di telinga Apino. Dia mengusap telinganya yang terasa berdengung, sedang anak perempuan di depannya terlihat meminta maaf seolah dia paham bahwa dia menyakiti yang lain.


“Syukurlah kalau gitu” Alpino menawarkan senyum ketika dia memberikan anting itu kepada sang pemilik yang terlihat sangat ceria. Wajahnya berseri-seri dan sangat cerah di cuaca yang begitu gelap dan dingin.


“Makasih ya! Ini berharga banget buat aku. Makasih banget kamu udah nemuin anting ini” Alpino mengangguk, melambai dengan bingung ketika dia dicerca banyak ucapan terimakasih. Padahal dia juga menemukan itu secara tidak sengaja.


“Iya sama sama” dia membalas kemudian. “Tapi aku penasaran deh, kenapa kamu mau pake anting tulang anjing?”


Alpino diam sejenak. Merasa tidak enak ketika melontarkan pertanyaan itu. Mungkin anak perempuan itu tersinggung dengan ucapannya, mungkin seharusnya dia tidak mengatakan hal itu dengan jelas. Orang-orang punya selera mereka masing-masing. Dia tidak ingin terdengar seperti menghakimi anak perempuan itu.


“Tulang anjing?” Anak perempuan itu mengulangi, dan mau tidak mau Alpino merasa sedikit malu.


“Eh, iya?” serunya dengan suara kecil untuk menjawab pertanyaan. Dia menggaruk tengkuknya dengan kikuk.


Hal-hal yang tidak enak di sekitar mereka tiba-tiba membuat Alpino bingung ketika anak perempuan itu tertawa dengan puas. Memegangi perutnya yang mungkin terasa geli karena hal lucu yang di dengar telinganya. Alpino merasa dua kali lebih malu daripada apapun.


“ini bukan tulang anjing” dia melambaikan kedua tangannya di depan wajah Alpino dengan gemetar sisa tawa yang ada. “Ini tuh kunci inggris. Bentuknya kayak kunci inggris. Masa kamu nggak bisa lihat perbedaan antara tulang anjing dan kunci inggris?” Anak perempuan itu tertawa lagi. Mendekat, dia meletakkan bandul anting di telapak tangannya dan memastikan bahwa Alpino memperhatikan dengan lebih jelas lagi.


Alpino memerah. Wajahnya panas karena rasa malu ketika dia mengambil lamat-lamat bentuk bandul anting yang di perlihatkan tepat di depan matanya hingga pada akhirnya dia bisa melihat perbedaan dari kedua benda yang disebutkan. Alpino mengoceh di bawah napasnya untuk permintaan maaf dan rasa malu yang menguasai dirinya.


“Nggak apa-apa” Anak perempuan itu menarik tangannya lagi. Terlihat lebih senang dari pada sebelumnya. “Mama kasih ini buat aku karena waktu itu Mama sama Papa lagi ngerintis bisnis sparepart gitu, aku nggak paham. Kata Mama antingnya aku ini sebagai penanda kalau itu adalah keberuntungan buat usaha keluarga aku. Sebagai pengingat juga katanya karena nggak mudah rintis usaha kecil. Tapi aku senang karena akhirnya sekarang usaha Mama sama Papa mulai jalan dengan baik”


Dia bercerita seolah-olah Alpino adalah teman lamanya yang bisa dia ceritakan apapun. Alpino mengangguk. Diam-diam senang untuk mendengarkan.


“Tapi kenapa bentuknya kayak tulang anjing? Aku aja nggak bakalan sadar kalau nggak lihat dari dekat”


“Bukan tulang anjing!” Anak perempuan itu merengek. “Itu kunci inggris” Cemberut besar hadir di wajahnya dan Alpino senang dengan reaksi. Jadi, dia kembali menggoda anak perempuan itu dengan bersemangat.


Baru saja sang perempuan ingin membantah godaan yang di lontarkan Alpino, rintik hujan turun sebagai peringatan. Sebelum akhirnya bulir semakin besar dan Alpino dengan refleks menarik tangan sang permpuan untuk dibawa berteduh di salah satu wahana perosotan dengan atap di atasnya. Berusaha sebisa mungkin agar mereka berdua tetap kering dan tidak menangkap sakit oleh bakteri yang dibawa hujan.


Ada beberapa omelan yang dilontarkan untuk diri sendiri. Anak perempuan itu terlihat begitu sedih dengan hujan yang turun, tapi berterimakasih kemudian karena Alpino dengan cepat membawanya untuk berteduh.


“Ngomong-ngomong aku belum tau nama kamu” Alpino menoleh dengan cepat dari kegiatannya yang menampung air hujan dengan tangannya. Dia juga baru sadar belum berkenalan sejak tadi. Jadi, dengan seringai yang besar, dia mengusap tangannya yang basah ke celana seragamnya. Tidak masalah, karena dia memiliki lebih dari satu seragam, jadi satu seragam kotor dan basah tidak masalah.


Tangan Alpino yang sudah sedikit kering di sodorkan di depan wajah perempuan itu. Alpino menawarkan senyum terbaiknya ketika dia menyebut namanya.


“Alpino Husein Adhitama. Kamu bisa manggil aku Alpino, atau Al, atau Pino. Terserah mau yang mana”


Ada tawa yang di lontarkan oleh sang perempuan sebelum meyambut uluran tangan Alpino dengan ramah.


Alpino mengangguk. Menggoyangkan genggaman tangan mereka sebelum dia mengambil kembali tangannya. Alpino yang memiliki ide lain, berucap dengan refleks yang membuatnya tertawa ketika melihat yang lain sudah siap untuk memberikan pukulan peringatan padanya.


“Salam kenal juga, anting tulang anjing!”


Dan dengan godaan itu, mereka menjadi dekat. Bertemu beberapa kali di taman dan pada akhirnya saling berkunjung ke rumah mereka masing-masing. Uluran tangan yang terbuka, anting-anting yang mendekatkan mereka menjadi sebuah saksi bagaimana pertemanan mereka terbentuk dengan sangat baik.


...….....


Kediaman Cakrawijaya, Minggu, 11 November 2007. Alpino Husein Adithama (9 tahun)


Mengatakan bahwa Alpino cemburu adalah sesuatu yang kurang dari cukup. Dia hanya merasa sedikit, iri, sedikit ditinggalkan. Bukan maksud bahwa dia tidak mempunyai teman sama sekali. Tidak, dia adalah anak yang lumayan aktif dan mungkin dikenal di hampir seluruh sekolah karena tingkahnya yang konyol dan prestasinya di bidang olahraga. Dia juga tidak kekurangan kasih sayang dari keluarganya ataupun teman-teman dekatnya di sekolah dan teman bermainnya.


Namun, apa yang diharapkan dari anak berusia sembilan tahun yang masih merasa bahwa dunianya saat ini tengah di rampas dan sedang bersenang-senang dengan orang baru?


Dunianya dalam konteks ini adalah teman terdekatnya. Satu-satunya orang yang tidak akan dia lepas dalam seumur hidupnya. Karena dalam dua tahun belakangan ini adalah waktu-waktu paling menyenangkan dan paling lengkap yang pernah dia minta. Alpino dan Lisa, semenjak hari itu adalah dua orang yang lengket seperti lem. Dimana ada Nalisa, disitu ada Alpino. Dan begitu pula sebaliknya. Alpino sendiri sudah menetapkan bahwa Lisa dan dia sama sekali tidak terpisahkan bahkan selama dua tahun berjalan pertemanan mereka.


Kali ini, dia berada di rumah Lisa setelah Lisa mengundangnya untuk mampir. Mereka tidak satu sekolah, namun mereka bisa memiiki waktu untuk masing-masing tanpa pernah absen sama sekali. Sekarang taman bukanlah tempat yang akan dikunjungi oleh Alpino selepas sekolah, melainkan rumah Lisa adalah tujuannya sekarang, atau begitupula sebaliknya. Rumah Lisa rupanya tidak jauh dari taman kota, jadi berjalan dua puluh menit lebih lama tidak membuat Alpino mengeluh. Itupun jika mereka mampir ke rumahnya adalah waktu Ibu Alpino cepat menjemputnya. Mereka akan berhenti di kediaman Cakrawijaya terlebih dahulu untuk menjemput Lisa yang baru pulang dari sekolahnya dan kemudian mereka terdampar di kamar Alpino untuk bermain playstation bersama.


Tapi kali ini, tidak, beberapa minggu ini, mereka jarang sekali bersama. Itu disebabkan oleh Lisa yang mempunyai teman baru. Sebenarnya Lisa juga memiliki banyak teman dekat, namun kehadiran satu orang ini yang begitu tiba-tiba membuat Alpino jengkel setengah mati. Namanya Hala. Alpino tidak bisa mengingat nama anak perempuan lainnya dengan baik karena betapa susahnya itu terucap dari lidahnya. Nama anak perempuan itu aneh, dan Alpino tidak repot-repot untuk menghapalnya sama sekali.


Sudah satu minggu Lisa akan berbicara tentang anak perempuan bernama Hala ini. Lisa akan lebih memiliki banyak topik pembicaraan tentang teman barunya itu. Terkadang itu membuat Alpino jengkel karena Lisa asik menceritakan bagaimana mereka menjadi dekat satu sama lain. Itu dimulai dari Hala yang suka menggambar sesuatu yang unik, katanya. Dan mereka bahkan bisa bercerita apapun, hal-hal aneh yang tidak bisa dipikirkan oleh anak-anak lainnya tentang imajinasi yang mereka punya. Lisa bahkan mengatakan bahwa dia belajar banyak tentang dunia imajinasi aneh ini dan juga beberapa dasar menggambar. Mereka bahkan mendesain baju satu sama lain bersama di sela-sela pembicaraan tentang apakah peri itu ada atau hanya jelmaan dari serangga yang bersayap.


Lisa mengatakan bahwa itu keren untuk memiliki imajinasi liar sebagai anak perempuan. Tentang dongeng Disney dan beberapa diantaranya pembicaraan tentang kartun anak-anak yang unik yang akan mereka tonton satu sama lain dan saling bercerita ketika mereka memiliki istirahat makan siang bersama, dan mungkin kelas gabungan bersama. Lisa bercerita padanya bahwa mereka akan diam-diam pergi ke kantin untuk membeli beberapa makanan ringan dan duduk di dekat lapangan basket sambil memperhatikan beberapa pemain disana. Terkadang menjadi reporter dan mengomentari cara pemain basket melempar bola memasuki keranjang. Mereka akan berpura-pura sebagai juri yang menilai acara permainan.


Siapa yang tidak iri ketika anak berusia sembilan tahun yang tidak satu sekolahan dengan teman baiknya, tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan teman yang dia jaga erat di dekat hatinya, mendengarkan setiap celotehan yang keluar dari bibir temannya tentang orang lain yang bahkan hadir dengan tiba-tiba di tengah persahabatan mereka.


Alpino jelas cemburu. Dan itu membuatnya menjadi anak yang paling menyebalkan ketika Nalisa berada di sekitar.


Suatu hari, Hala mampir ketika Alpino tengah berada di kamar Lisa. Bermain game dari ponsel yang dipinjamkan oleh Lisa sendiri padanya. Rutinitas biasa ketika anak lelaki itu berbaring di atas kasur Lisa dan menunggu Lisa kembali membawa makanan ke kamarnya agar mereka bisa bermain bersama. Atau dia yang bermain dan Lisa mengerjakan pekerjaan rumahnya. Tapi kali ini berbeda karena adanya tamu yang tidak diinginkan membuntuti Lisa dari belakang. Dan tentu saja, itu adalah Hala yang selalu di ceritakan Lisa dan menjadi sumber rasa cemburunya.


Kesan Alpino pertamakali melihat Hala adalah menjengkelkan. Anak perempuan dengan mata bulat dan rambut panjang yang di urai sampai atas pinggang terlalu menganggu untuknya. Bahkan ketika dia berhasil mengambil lebih banyak perhatian milik Lisa. Alpino tidak menyukainya. Jadi disanalah dia, bertingkah menjengkelkan dengan mengolok-olok anak perempuan baru yang ternyata berusia di atas dirinya satu tahun.


Lisa memarahinya. Tentu saja. Mereka mengadakan kontes mengambek satu sama lain dan pada akhirnya tidak bertemu selama hampir satu minggu. Tentu saja Alpino merasa sangat menyesal. Mana lagi ketika pada akhirnya Hala berkunjung ke rumahnya yang dia bahkan tidak tahu dari mana anak perempuan itu tau kediamannya, untuk meminta maaf jika dia melakukan kesalahan, dan anak usia sepuluh tahun yang sama sekali tidak bersalah itu membawakannya sebungkus permen yupi dan memintanya untuk berbaikan dengan Lisa saat itu.


Tentu saja, sikap arogan yang dimiliki Alpino menghilang begitu saja dan dia pada akhirnya kembali meminta maaf dan mengatakan bahwa dia akan berbaikan dengan Lisa secepatnya. Dia juga mengatakan bahwa dia bersalah dan bercerita dengan malu bahwa dia merasa Hala seperti merebut sahabatnya dengan kehadirannya. Hala tertawa saat itu juga, dan mengatakan bahwa kenapa mereka tidak menjadi teman satu sama lain saja. Hala akan berusaha membuat Alpino dan Lisa baik-baik saja dan tentu saja, akan menjaga batas di antara mereka berdua.


Pada saat itu, Alpino baru saja bersemangat untuk segera menemui Lisa, namun dia tidak sempat untuk melaksanakan keinginannya karena dia terserang flu berat dan demam. Dia tidak bisa menemui Lisa sampai dia sembuh total, dan Alpino menjadi anak yang benar-benar sedih dan semakin sedih.


Namun hal yang dia sadari adalah, kehadiran Lisa yang tiba-tiba dan menjaganya. Anak perempuan itu berkunjung ke rumahnya untuk mengetahui apakah dia baik-baik saja. Untuk menjaganya dan mengurusnya sebaik mungkin ketika bahkan Alpino tidak membutuhkannya. Lisa mungkin lebih dewasa dari pada dirinya dalam konteks anak berusia sembilan tahun. Itulah mengapa dia menjadi sadar diri, malu dengan kelakuannya yang masih seperti anak-anak.


Ada atau tidak adanya orang baru di antara mereka, perhatian Lisa padanya selalu konstan. Lisa tidak pernah meninggalkan Alpino dan dia tidak pernah melupakan anak lelaki yang menjadi temannya itu. Alpino benar-benar merasa bersalah.


Dia tentu saja meminta maaf pada Lisa. Mengatakan bahwa dia tidak akan terlalu cemburu dengan pertemanan baru yang Lisa miliki. Dan Lisa, dengan senyum senang mengatakan bahwa itu bagus untuknya dan membuat Alpino untuk meminta maaf dengan baik pada Hala.


Dan tentu saja dia melakukannya.


“Ini”


Saat Alpino benar-benar pulih dari serangan demam dan flunya, Lisa yang hadir di kamarnya menyerahkannya sesuatu yang membuatnya mengernyit bingung. Tangan Lisa sudah melayang tepat di hadapannya, dengan telapak tangan yang terbuka dan menunjukkan sebuah anting berbandul kunci inggris yang menjadi saksi awal pertemanan mereka yang sudah berjalan hingga dua tahun kemudian. Alpino tiba-tiba merasa takut akan kehilangan sahabatnya secara tiba-tiba.


“Kenapa?” Dia kembali bertanya, namun Lisa hanya tersenyum dan menarik tangan Alpino untuk menerima hadiah kecil darinya.


“Buat Alpino yang udah sembuh” Lisa mengumumkan. “Iya tau, ini berharga buat aku karena dari Mama. Tapi Alpino juga temen aku yang berharga. Aku mau kasih itu ke kamu supaya kamu inget kalau aku nggak bakalan capek jadi temennya Alpino. Aku juga mau kasih itu biar kamu tau kalau kamu itu berharga dan nggak bisa digantikan dengan apapun”


Senyuman Lisa merekah dengan cerah. Alpino diam-diam ikut tersenyum.


“Makasih ya udah mau jadi temen aku sampai sekarang. Aku seneng banget punya Alpino dalam hidup aku”


Alpino tidak bisa merasa lebih senang dari pada ini.


Mungkin, pada waktu itu dia merasa senang ketika Hala mengatakan bahwa dia akan menjaga batas pertemaannya dengan Lisa. Mungkin, dia menjadi lebih superior karena Lisa mengatakan bahwa dia sangat berharga dan memberikan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya untuk Alpino seorang. Namun beberapa tahun kemudian, setelah masa puber menyerangnya, dia tahu bahwa ada perbedaan antara persahabatan laki-laki dan perempuan. Dan itu membuatnya merasa lebih bersalah dan malu.


...…....


Sekolah Menengah Pertama Negeri 11 Adhiyaksa. Alpino Husein Adithama (12 tahun)


Alpino tidak akan pernah menyangka bahwa dia akan melanjutkan pendidikannya di tempat yang sama dengan Nalisa dan juga Hala. Tentu saja, dia bahkan tidak berbohong ketika dia terkejut ketika mereka bertemu di satu kelas yang sama. Dirinya, Nalisa, dan juga Hala. Bukannya Alpino tidak senang dengan itu, dia masih merasa bersalah dengan Hala. Dan tentu saja ketika melihat bagaimana Lisa merasa nyaman dengan kehadiran Hala bersamanya menjadi faktor yang membuat Alpino mau tidak mau harus turun tangan untuk melepas perasaan bersalahnya dan benar-benar meminta maaf dengan Hala.


Suatu hari, ketika Lisa mengundurkan diri dari pertemuan mereka bertiga setelah pulang sekolah karena ibunya tiba-tiba menjemputnya dengan cepat dan tanpa disangka, Alpino di tinggalkan hanya berdua dengan Hala saja yang katanya masih menunggu seseorang untuk pulang bersama. Disana, mereka agak sedikit canggung, namun Hala sepertinya lebih mudah untuk membiarkan suasana di sekitar mereka menjadi tidak terlalu tegang. Alpino juga bisa melihat, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Hala bersikap di sekitar Lisa begitu berhati-hati saat Alpino ada disekitar mereka. Dan mau tidak mau, Alpino harus memarahi dirinya sendiri tentang hal itu. Padahal itu terjadi ketika mereka berada di kelas lima Sekolah Dasar dan sekarang mereka sudah menduduki Sekolan Menengah Pertama. Seharusnya mereka sudah lupa tentang hal-hal kekakanakkan itu.


Alpino dengan pelan mengatakan bahwa dia meminta maaf karena sikapnya yang tidak di benarkan. Dan dia mengatakan pada Hala untuk bersikap semaunya dan senyamannya dia di sekitar Lisa, meskipun ada dirinya di sekitar. Dia juga mengatakan bahwa dia bukan Alpino berusia sembilan tahun lagi yang cemburuan karena temannya di renggut oleh orang baru. Dan jujur dia sendiri merasa malu dengan sikapnya saat itu.


Hala membalasnya dengan tawa yang puas dan sedkit godaan yang entah sejak kapan berhasil di lontarkan oleh perempuan itu di sekitarnya. Dia terlihat lebih rileks saat berhadapan dengan Alpino ketika dia berusaha untuk membuka matanya dan menyadari.


“Aku kira kamu suka sama Lisa”


Ucapan itu membuat Alpino tersedak. Matanya membulat dengan aneh dan dia yakin bahwa itu menjadi bahan olok-olokan yang nyata dari Hala untuknya. Alpino menggeleng dengan kuat menolak tentang apapun yang di ucapkan mungkin secara sembarangan oleh perempuan itu.


“Aku sama Lisa cuma temen deket. Sahabat kecil aja”


Itu adalah sanggahan yang dia keluarkan dengan tegas. Alpino tau ada sesuatu yang membuat Hala tidak percaya padanya. Ada api di mata perempuan itu yang menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak percaya. Namun segalanya ia tepis dan tegaskan kembali pada Hala, bahwa dia sedang dalam mode paling serius yang dia bisa tunjukkan.


“Nggak ada apa-apa diantara kita berdua. Aku dan Lisa hanya sahabat kecil, kamu bisa percaya sama aku”


Oh betapa salahnya dia ketika dia mengucapkan kata itu dengan seluruh keyakinan yang membara di usianya yang menginjak dua belas tahun.


...…....


Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Taruma Nagara. Alpino Husein Adithama (15 tahun)


Bumerang, atau mungkin pada kenyataannya begitu. Lisa mengatakan bahwa dia akan menempuh pendidikan di Jepang, mengikuti langkah kakaknya yang akan di nobatkan sebagai penerus perusahaan orang tuanya yang sedang berkembang disana. Mereka baru saja akan membahas sekolah lanjutan bersama, namun Lisa datang padanya dengan mengatakan bahwa dia tidak bisa lagi menemani masa sekolah Alpino karena harus pergi ke luar negeri untuk tuntutan dari orang tuanya.


Dia tahu bahwa orang tua Lisa sendiri adalah pengusaha yang sekarang bisnisnya tengah maju-majunya dan sangat berkembang, tapi dia tidak bisa memikirkan bahwa sahabatnya akan pergi meninggalkannya dengan sangat tiba-tiba sekali. Sedih bukanlah hal yang bisa menggambarkannya sekarang, dia merasa sangat kehilangan.


Lisa bahkan pamit hanya lima hari sebelum kepergiannya. Dan Alpino merasa bahwa dunianya tidak baik-baik saja. Segala hal yang tengah dihabiskan oleh mereka berdua dan tak terpisahkan menjadi sesuatu yang sangat membuatnya kehilangan. Meskipun dia bisa menghubungi Lisa dengan panggilan telepon atau video call di jam-jam tertentu, tetap saja rasa kosong dan kehilangan selalu menghampiri dan menghantuinya.


Dia punya banyak teman, tentu saja. Temannya semakin bertambah dari hari ke hari semakin dia tumbuh dan berkembang, semakin dia naik tingkat dan semakin dia mulai menguasai ekstrakulikuler olahraga. Namun tetap saja, tidak ada yang seperti Lisa. Tidak ada teman-temannya yang bisa menggantikan posisi Lisa. Hal kosong yang ada di dalam hidupnya hanya bisa menjadi tempat Lisa seorang, dan dia tidak bohong ketika dia merasa tidak senang menjalani kehidupannya yang sekarang.


Dia mulai masuk ke Sekolah Menengah Atas tanpa sahabat baiknya. Namun lagi-lagi, dia semakin tidak mengerti ketika Hala menjadi orang yang menemaninya sementara dia merasa sedih karena tidak bisa bermain dan bersama lagi dengan Lisa. Ya, dia satu sekolah lagi dengan Hala, yang membawa Heksa dalam hidupnya dan menjadi sesuatu yang tetap dan sinkron dalam kehidupan SMA-nya yang tiba-tiba dia tapaki.


Sebelum dia mengenal fotografi, dia adalah ace dalam bidang olahraga. Dia bertemu dengan Fajri yang membawa Jihan sebagai pelengkap tetap dalam lingkar pertemanannya ketika dia berhasil mencetak homerun di saah satu pertandingan baseball yang di adakan di acara perkenalan sekolah.


Lingkar pertemanan eratnya yang di mulai dari Lisa, membawa Hala dalam hidupnya. Hala kemudian membawa Heksa ketika Lisa pergi untuk pendikan di luar negeri. Yang kemudian membuat dia menghabiskan harinya dengan berada di klub olahraga, bertemu dengan Fajri sebagai rekan tim-nya, dan Jihan yang selalu mebuatnya ingin mematahkan leher perempuan cerewet dan menyebalkan itu.


Meskipun Lisa membawa banyak orang baik dalam hidupnya, tetap saja rasanya hampa ketika perempuan itu tidak berada di sekitarnya. Satu tahun pertama menjadi yang terberat. Meskipun Lisa masih menghiburnya melalui panggilan. Dia merasa bahwa mereka benar-benar jauh. Lalu kemudian ada itu, sebuah foto yang dikirimkan Lisa padanya. Dengan fokus perempuan itu yang bersanding dengan bunga sakura yang baru mekar namun tidak di duga, perempuan itu malah memamerkan sebuah benjh dandelion yang siap untuk menjelajah ditangannya, bukannya kelopak indah sakura yang berguguran.


Lisa terlihat sangat lembut disana. Sangat cantik dan sangat luar biasa. Alpino tidak tahu bagaimana cara dia mengucapkan sesuatu untuk memuji keindahan yang Lisa berikan. Dan bahkan ketika mereka menelpon pada malam hari dengan perbedaan waktu yang disesuaikan, Alpino merasakan jantungnya berdetak dengan tidak karuan. Hal aneh yang tiba-tiba dia rasakan ketika dia berpikir betapa lembut dan indah suara Lisa terdengar di telinganya meski perempuan itu terdengar sangat mengantuk.


Setelah malam itu, dia diam-diam mengambil kamera lama milik ayahnya dan mulai mengabadikan banyak tempat yang dia ingat pernah dia lalui bersama Lisa. Tempat yang menjadi saksi bisu tawa dan pertengkaran kecil mereka.


Melihat kembali pada foto yang di ambil olehnya. Dia terduduk di suatu tempat di dekat danau dimana dia berkendara hampir empat puluh menit dari rumahnya. Menyadari sesuatu bahwa dia merindukan Lisa, dengan sangat dalam kali ini. Mengingat semua hal yang dia lalui dengan Lisa dan mengingat ucapan yang dikatakan oleh Hala padanya ketika mereka menyelesaikan masalah tentang batas pertemanan.


“Aku kira kamu suka sama Lisa”


Dan itu adalah hal yang dia pikirkan ketika dia akan tertidur, ketika dia akan mengangkat kameranya untuk membidik sesuatu yang bisa dia kirimkan pada Lisa dan bersemangat saat dia mendapatkan balasan dari Lisa berupa voice note atau hanya beberapa bubble pesan yang dikirimkan untuk menghargai karyanya.


Dan hal itu adalah yang dia pikirkan ketika dia keluar dari klub olahraga dan memilih klub fotografi. Tentang bagaimana perasaannya untuk Lisa yang sebenarnya. Tentang rasa cemburu yang dia rasakan, yang selalu dia tepis ketika Lisa menjadi orang yang selalu di kagumi banyak lelaki lain di sekolah mereka dahulu sebelum dia pindah ke Jepang. Dan tentang rasa sakit yang dia dapatkan ketika Lisa memilih untuk pergi dan tidak ada disampingnya lagi.


Perasaan yang membuatnya ketakutan setengah mati hingga pada malam itu ketika Lisa menelponnya, dia berpura-pura untuk tertidur dan tidak membiarkan dering ponselnya membuatnya semakin sadar dengan apa yang dia rasakan.


“Gue.. suka sama Lisa…”


Gumamannya di sela perasaannya yang membuatnya mual.


Dia menjalani dua tahun lainnya tanpa Lisa dengan perasaan yang aneh, namun begitu merindu. Ada banyak tahapan yang dia dapatkan dalam perjalanan dari tahun ke tahun, dan hal terakhir yang dia pijaki adalah tahap menerima.


“Gue suka sama lo, Lisa. Gue jatuh cinta sama Lo dan gue kangen sama lo. Tolong cepat pulang. Gue pengen ngeliat lo lagi, disamping gue”


...…....


Bandara Internasional, Jumat, 15 September 2017. Alpino Husein Adithama (18 tahun)


“Al, Gue pulang”


Entah sejak kapan panggilan mereka berubah dari aku-kamu menjadi gue-lo. Tidak ada yang menyadarinya bahkan ketika Lisa memberikan pesan yang mengatakan bahwa dia akan kembali ke Indonesia. Mereka sama sekali tidak membahas tentang itu. Selama mereka bisa saling berkomunikasi, itu bukan merupakan sebuah masalah. Alpino tidak tahu berapa lama Lisa akan berada bersamanya lagi, tapi seharian setelah dia mendapatkan pesan seperti itu dari Lisa, dia merasa sangat bahagia dan ringan. Dia bahkan tidak ingat sedang bersenandung saat sedang mengerjakan tugas dari klub fotografi dengan tema kebebasan. Dia bahkan tidak ingat bahwa dia menyapa Jihan ketika dia mengambil foto percobaan di lapangan panahan di sekolah mereka. Padahal biasanya dia dan Jihan sama sekali tidak akur.


Ketidak akuran itu dimulai dari dia yang menghancurkan hampir sebagian besar anak panah yang sudah di siapkan oleh Jihan sendiri untuk percobaan bagi anak klub yang baru saja bergabung. Jihan bahkan tidak habis pikir dan tidak menyangka bagaimana bisa lelaki itu menghancurkan jerih payahnya hanya dari tendangan bola yang melesat ke area club panah. Itu menyebabkan mereka menjadi tom dan jerry di dalam kelompok kecil mereka.


Jihan saja harus menyadarkan dirinya dua kali ketika dia menyadari bahwa Alpino sama sekali tidak melempar sesuatu yang membuatnya ingin menendang lelaki itu, malah Alpino sendiri menawarkan Jihan apakah perempuan itu mau menjadi modelnya untuk tema tugas fotografinya. Awalnya Jihan tentu saja menolak, namun dengan Alpino yang bersikeras untuk membiarkannya memotret Jihan yang sedang melakukan kegiatan yang dia sukai, mau tidak mau Jihan luluh dan membiarkan Alpino melakukan apapun asal perempuan itu tidak merasa terganggu. Jadi, dengan senang hati, Alpino memotret kegiatan yang Jihan lakukan.


Awalnya Jihan merasa risih dan bingung. Namun ketika Alpino menghampirinya untuk menunjukkan hasil fotonya, Jihan mau tidak mau merasa kagum. Padahal itu adalah foto yang sangat biasa, namun Alpino memotretnya dengan luar biasa seolah-olah dia menggali kepribadian dan kesukaan Jihan hanya dalam sebuah jepretan yang indah yang membuat Jihan merasa takjub. Dia bahkan bertanya-tanya apa yang dipikirkan oleh Alpino ketika dia meninggalkan klub olahraga yang dimana lelaki itu memiliki jiwa di dalamnya dan sangat berbakat.


Namun, hanya dari jepretan itu saja, Jihan bisa paham dengan apa yang dilakukan dan dipilih oleh Alpino sendiri. Meskipun dia tidak tahu ada arti lain di balik keinginan Alpino untuk mengambil jejak ini setelah keluar dari klub olahraga.


Tentu saja, lain dan tidak bukan adalah karena seorang Nalisa Rembulan Cakrawijaya. Yang pada akhirnya kembali menjejakkan diri di kota tempat dimana mereka bisa berkumpul kembali. Alpino merasa sangat bersemangat ketika menjemput Lisa di bandara. Tentu saja dengan kehadiran Hala dan Heksa bersamanya. Fajri dan Jihan absen karena mereka masih berkutat dengan klub olahraga mereka sendiri yang memiliki jadwal, jadi Alpino sendiri sudah cukup puas dengan hanya membawa kedua temannya yang lain. Toh, Lisa pasti juga senang jika Hala juga menjemputnya.


Waktu terasa begitu lama ketika dia menunggu kehadiran Lisa. Namun kemudian itu terbayarkan ketika dia pada akhirnya berhasil melihat Lisa, berdiri secara nyata dan bukan dari layar ponsel atau monitor laptopnya. Melambai padanya dengan riang dan senyum yang lebar dan indah. Perempuan itu berlari ke arah mereka dan menubrukkan tubuhnya dengan Alpino pertama kali. Dan Alpino tidak tahu, dia tidak bisa mendeskripsikan betapa dia sangat merindukan Lisa dan merasa bahwa Lisa pada akhirnya, nyata berada di dalam pelukannya. Dia berharap Lisa tidak pergi kemana-mana lagi.


“Sumpah, Lis. Lo makin cantik aja!” Itu suara pekikan Hala yang sudah menarik Lisa dalam pelukannya. Meninggalkan Alpino dengan sejuta hangat yang kembali dia rasakan. Dia bisa melihat keceriaan dan keindahan yang berada di depan matanya. Disuguhkan dengan tanpa terhalang apapun.


Jantungnya yang semula berdegub dengan ringan di dadanya, kini bertalu dengan lebih cepat lagi ketika Lisa tertawa dengan puas. Mendengarnya begitu dekat dengan dirinya, Alpino merasakan seluruh tubuhnya menjadi lega dan rileks.


“Oh, ini yang namanya Heksa, ya?”


Kali ini Lisa berhasil melihat kehadiran Heksa di antara mereka. Benar, dia hanya mengenal Alpino dan juga Hala, dia belum bertemu dengan anak-anak kelompok kecil mereka lainnya. Mereka hanya sering berbalas pesan kelompok di dalam satu grup yang sama, dan ini pertamakalinya Lisa akan menemui orang-orang yang hadir merusuh di dalam satu grup itu.


“Iya, Gue Heksa. Akhirnya ketemu, ya, kita” Heksa mengambil uluran tangan Lisa dan menggoyangkannya untuk berkenalan. Lisa terdengar sangat ramah dan Alpino hanya ingin melepaskan tangan yang tergenggam itu. Tapi dia tidak ada disini untuk membiarkan monster jelek menguasainya. Jadi dia hanya tersenyum dan memutuskan untuk membawa mereka semua pulang, terutama Lisa dengan alasan bahwa Lisa harus beristirahat.


“Kalau gitu, lusa ke rumah gue, ya! Gue juga pengen kenalan sama Fajri sama Jihan. Nanti sekalian perayaan kepulangan gue deh. Gue yang bikin pesta kecil-kecilannya”


Itu ajakan Lisa di tengah tawanya yang riang ketika mereka berada di dalam mobil. Lisa dengan bersemangat mengatakan bahwa dia membawa oleh-oleh yang banyak untuk teman-teman barunya dan tentu saja, untuk sahabat lamanya, Alpino dan Hala.


...…....


Rumah Nalisa, Sabtu, 25 September 2017. Alpino Husein Adithama (18 tahun)


Sudah lebih dari seminggu kepulangan Lisa kembali di sisinya. Mereka kembali ke rutinitas tiga tahun yang lalu. Semuanya masih sama, mereka masih bertengkar tentang game mana yang mereka akan mainkan. Tentang mengapa Alpino menjadi lebih jago dan Lisa menuduhnya menggunakan cara curang meskipun perempuan itu melihat bahwa Alpino tidak melakukan cara curang apapun untuk memenangkan permainan tersebut.


Mereka masih sering bertengkar tentang makanan kecil yang harus mereka makan hari itu, atau menu untuk makan siang karena mereka sudah lapar. Namun mereka masih sama cocoknya ketika mereka memilih untuk bercerita tentang ini dan itu, saling menghargai dan mendengarkan. Saling mensupport satu sama lain dan tidak mengolok-olok dalam cerita yang serius dan membutuhkan banyak perhatian.


Seminggu setelah Lisa pulang, Alpino sadar bahwa mereka semakin dekat. Bahwa dia semakin lengket. Yang berbeda sekarang terlihat sangat menonjol di sisinya. Dia jadi lebih peka tentang segala hal yang berhubungan dengan Lisa. Tentang bagaimana Lisa lebih menyukai apel daripada jeruk, tentang Lisa yang lebih memilih karakter laki-laki berotot dalam semua permainan game mereka, tentang bagaimana Lisa akan bercerita ketika dia terlalu bersemangat. Dia bahkan bisa tahu kapan Lisa sedang sedih dan kesepian.


Semakin perasaannya terbuka, dan semakin dia menyadari bahwa perasaannya untuk Lisa telah berubah menjadi lebih jauh, dia menjadi lebih peka tentang Lisa. Dia menjadi lebih suka menyentuh Lisa dalam hal memberikan kenyamanan untuk perempuan itu. Berbaring berdua di kamar dan menonton salah satu drama korea dengan scene menyedihkan yang sedang booming pada waktu itu terasa lebih intim dari pada biasanya. Namun mungkin itu hanya satu sisi yang dirasakan oleh Alpino sendiri. Karena dia tau, bahwa Lisa yang lebih manja daripada biasanya ini, masihlah Lisa yang menawarkannya bandul anting berharga untuknya. Masihlah sahabatnya yang memperlakukan dia seperti orang yang sangat berharga.


Semakin Alpino sadar dengan perasaannya, dia sadar bahwa apa yang dilakukan Lisa padanya, masihlah perlakuan seorang sabahat. Sama. Segalanya sama seperti saat pertamakali bertemu, saat pertamakali mereka memutuskan untuk berteman, saat pertama kali mereka memutuskan untuk memperkuat ikatan persahabatan mereka. Segalanya masih sama, hanya Apino sendiri yang merasakan perasaan berbunga dan berdebar-debar.


Tetapi, masih banyak jalan yang harus dia tempuh. Masih banyak jalan yang masih dia miliki. Masa depan masih panjang, dia masih memiliki lebih dari seribu waktu untuk menggerakkan perasaan Lisa agar bisa melihatnya. Dia masih memiliki banyak waktu untuk berjuang.


Itulah yang dia pikirkan sampai kejadian itu membuatnya tidak bisa melakukan apapun lagi. Satu janji yang telah dia sepakati membuatnya layu di dalam.


Janji sialan yang membuatnya menangis untuk pertamakalinya dalam kehidupan masa remajanya.


Semuanya karena itu, Sinar Adibima Cakrawijaya.


Bang Sinar, dia memanggilnya seperti itu.


Itu malam minggu ketika dia berkunjung ke rumah pribadi milik Lisa. Dia sudah pindah dari kediaman Cakrawijaya ke rumah yang menjadi hak miliknya sejak dia berada di Jepang sebelumnya. Rumah yang sudah berada di atas namanya itu adalah tempat yang dia tempati sekarang. Alpino tidak perlu repot-repot membantu Lisa pindahan karena semua barangnya sudah dimasukkan ke dalam rumah itu berangsur-angsur selama tiga tahun dimana ketika Lisa masih berada di Jepang. Jadi, ketika dia pulang, rumah pribadinya sudah siap untuk dia huni.


Rencananya pada malam itu adalah waktu menonton mereka. Seperti biasa, Lisa mengajaknya untuk menonton di kamarnya. Memesan makanan bersama dan bahkan berjanji untuk mengadakan acara permainan dan bercerita tentang ini itu, apapun yang terjadi. Dan Lisa sudah meminta Alpino untuk memperlihatkan tugas fotografinya selama dia berada di klub itu. Jadi, Alpino tentu saja dengan rela menyetujuinya.


Tentang Sinar sendiri, Alpino jarang sekali bertemu dengan lelaki dewasa itu. Dia bahkan hampir lupa bagaimana rupa anak pertama keluarga Cakrawijaya itu jika saja Lisa tidak meletakkan foto kakaknya di sekitar rumahnya. Foto keluarga ataupun hanya fotonya bersama Sinar. Selama dia dekat dengan Lisa, lelaki itu benar-benar seperti bayangan. Sulit sekali untuk ditemui, namun ketika bertemu, Sinar adalah orang yang ramah, meskipun terselip ketegasan di raut wajahnya yang terlihat sudah sangat dilatih dan dididik sejak dia kecil. Alpino sudah paham tentang hal itu dan beban anak lelaki pertama keluarga pengusaha.


Jadi, Alpino sendiri tidak mengharapkan untuk bertemu dengan Sinar pada hari itu. Dia bersikap sewajarnya, tentu saja, meskipun dia memiliki perasaan yang lebih terhadap sahabatnya, dia tidak akan pernah mau menyakiti Lisa ataupun membuat suasana menjadi tidak nyaman di antara mereka.


Tapi insiden itu datang secara tiba-tiba. Mereka bukannya menonton film yang mereka tentukan, melainkan adalah film horror yang tiba-tiba terputar di layar tv lebar di kamar Lisa. Dia sudah mengajukan untuk mengganti film, namun Lisa terlihat begitu bersemangat untuk menonton tayangan horror itu.


Segalanya berjalan dengan baik dan santai, namun ketika Alpino merasakan sesuatu yang merangkak di kakinya, di bawah selimut yang mereka bagi bersama-, secara refleks dia berteriak dan menghantam ke tubuh Lisa di sebelahnya yang sedang fokus. Dia sendiri tidak sadar bahkan dia menggulingkan Lisa di bawahnya yang sedang panik. Kakinya sendiri mengibas selimut. Dia yakin suaranya sangat jelek sekali terdengar. Belum lagi diimbangi dengan suara teriakan Lisa yang terkejut.


Tangannya memeluk bahu Alpino untuk perlindungan sementara Alpino sendiri berusaha untuk menyelamatkan nyawanya tentang apa yang ada di balik selimut itu. Namun ketika kepala cicak itu muncul dari balik selimut dan merayap cepat menghilang dari atas kasur, adrenalin yang terjadi pada dirinya tiba-tiba surut dan kelegaan menguasai mereka.


Alpino menoleh pada Lisa, yang mengejutkannya, wajah mereka begitu dekat. Dia tidak sadar ketika dia bahkan terlihat seperti memeluk Lisa, mengurung tubuh perempuan itu dengan badannya yang sudah terbangun sempurna sejak tiga tahun belakangan dia mengurus tubuhnya dengan baik. Lisa sendiri, dengan kedua matanya yang membola dan tangannya yang berpegangan di bahu Alpino, membuatnya seperti sedang berada dalam adegan yang tidak bisa dikatakan pantas.


Posisi mereka sangat tidak memungkinkan orang lain untuk menyebutnya sebagi dua orang sahabat. Tentu saja, dengan posisi yang tidak senonoh seperti itu, antara seorang perempuan dan laki-laki, tentu saja akan membuat spekulasi kotor tentang mereka. Namun dalam gelembung yang konyol yang mereka ciptakan, Alpino dan Lisa tertawa terbahak-bahak tentang situasi mereka. Lisa bahkan masih sempat untuk mencubit bahu Alpino dengan posisi yang tidak berubah.


Namun sayangnya, Sinar datang di saat itu juga.


Lelaki itu terlihat merah. Marah dengan apa yang dia temukan di kamar adik perempuan satu-satunya dan kesayangannya. Rahang lelaki itu mengeras ketika melihat mereka disana. Alpino, dengan jantung yang berdebar seperti orang gila dengan cepat membenarkan posisi mereka. Dia duduk dengan tegang di sebelah Lisa yang berusaha untuk duduk dengan benar.


“Loh kak Sinar sudah datang?”


Lisa hanya menyapa dengan terkejut, tidak ada apapun yang membuatnya takut seolah-olah mereka tidak melakukan hal apapun yang membuat orang lain salah paham.


“Bang, gue bisa jelasin-,”


“Lo ikut gue kebawah. Nalisa, lo kunci pintu dan jangan keluar kamar malam ini.”


Ucapan lelaki itu final ketika dia menatap Alpino dengan tatapan tajam membunuh. Lisa yang seperti tidak paham situasi merengek mengatakan bahwa mereka sedang dalam keseruan menonton.


“Gue bilang lo kunci pintu dan jangan keluar kamar malam ini. Gue mau bicara sama Al”


“Kak Sinar, lo nyebelin sumpah!”


“Gue nggak peduli. Sekarang Al, lo denger kata gue, turun. Gue mau bicara berdua sama lo”


Alpino meringis. Bukan ini yang seharusnya dia lalui malam dengan sahabatnya itu. Sinar pasti marah besar dengannya. Itu sudah pasti terjadi. Jadi, dengan jantung yang seperti mau keluar dari rusuknya, dia turun dengan patuh. Pamit pada Lisa dengan cepat sebelum melewati Sinar yang berada di ambang pintu untuk turun ke bawah. Dia yakin malam ini dia pasti mati di tangan Sinar. Tidak menyadari bahwa sejak malam itu, harapannya sudah pupus dan hilang, menyisakan sakit yang terus bergelung di dalam kotak yang kuncinya telah dia buang dan menghilang ke dasar laut mati yang dalam di suatu tempat di dalam hatinya.


“Kak, lo tau kan kita nggak ngapa-ngapain? Lo tau kan gue sama Al nggak ada apa-apa? Kita cuma sahabat doang, kak. Dan lo tau itu, kan?”


Sinar masih belum bergeming. Dia hanya menutup pintu dengan peringatan bahwa Lisa tidak boleh keluar kamar malam ini. Urusannya dengan Alpino masih panjang.


...….....


Alpino merasa bahwa dia tidak akan selamat kali ini. Dia tau bahwa Sinar adalah orang yang tegas. Namun di satu sisi dan di banyak cerita lainnya yang telah Lisa bagi dengannya, Sinar adalah orang yang ramah dan juga lucu. Lelaki itu perhatian dan bahkan terlihat seperti bayi besar yang suka ngambek dan cemberut di sebagian besar waktu.


Namun Sinar, tidak bisa dipungkiri adalah seorang kakak lelaki yang protketif terhadap adik perempuan satu-satunya. Alpino yakin dia akan berubah menjadi bubur ketika Sinar berbicara dengannya tentang masalah ini. Bagaimanapun, Alpino paham bahwa apa yang terjadi tadi sangat tidak bisa dibenarkan.


Bagaimana jika ada setan lewat dan dia tergoda untuk melakukan sesuatu yang membuatnya menyesal? Pada saat ini Alpino merasa begitu kotor dan benci terhadap apa yang terjadi beberapa waktu lalu.


Matanya terlatih pada anakan tangga yang mehubungkan lantai bawah dengan kamar Lisa. Telinganya menjadi begitu sensitif untuk mencari dengar suara langkah kaki milik Sinar yang akan mengeksekusinya malam ini juga. Dia ingin bersiap dengan segala hal yang terjadi, namun dalam waktu singkat yang diberikan Sinar padanya, tidak akan bisa membuatnya siap secepat itu.


Dia masih butuh waktu untuk bernapas, namun ketika dia baru saja ingin mengambil napas dalam pertamanya, suara langkah kaki Sinar yang berat membuatnya menahan napas dengan cepat. Dia bisa melihat aura gelap disekitar wajah lelah dan marah Sinar. Alpino, habis malam ini tanpa bersisa.


Sinar tanpa kata duduk di hadapan Alpino dengan ketegasan yang dia miliki. Ada diam sejenak yang terasa sangat lama sekali, dimana Alpino bahkan hampir lupa untuk bernapas kalau saja rasa sesak tidak membuatnya sadar bahwa dia perlu oksigen. Meskipun rasanya salah untuk bernapas di sekitar singa yang terbangun, dia tetap membutuhkan udara agar dia tetap hidup malam ini.


Merasa Sinar tidak akan bersuara, dia mengajukan diri untuk membela apapun yang tertangkap basah oleh Sinar tadi.


“Bang Sinar” dia memulai dengan takut-takut. “Bang, yang tadi itu sumpah gue nggak ada unsur kesengajaan. Gue cuma kaget aja karena ada yang gerak di dalam selimut dan itu refleks gue yang buat semua itu terjadi. Gue nggak ada niatan apapun yang jelek ke Lisa-, gue berani sumpah, Bang”


Dia mengeluarkannya dalam satu tarikan napas yang tercekat. Berusaha untuk mencairkan suasana ketegangan yang terlalu kental di sekitar mereka.


“Bang, lo tau sendiri, kan, gue sama Lisa udah bareng berapa lama? Gue nggak mungkin ngelakuin hal buruk ke Lisa, bang. Gue yang jagain dia selama ini, dan gue tentu aja nggak bakalan mau Lisa kenapa-kenapa. Percaya sama gue, bang. Yang lo liat tadi bukan apa-apa, itu cuma kesalahan doang, bang”


Dia mencoba lagi untuk membela dirinya sendiri. Lagian yang dia bilang adalah sepenuhnya benar. Meskipun dia memiliki perasaan lebih untuk Lisa, dia tidak akan semena-mena dengan perempuan itu. Dia masih punya batasan dan dia tidak gila untuk melakukan hal tidak senonoh pada Lisa. Sahabatnya dan seorang perempuan yang memiliki seluruh hatinya.


“Lo kayaknya harus berhenti, deh, Al”


Alpino mengerjap. Terkejut dengan ucapan tiba-tiba dari Sinar. Lelaki itu terlihat panik dengan maksud aneh yang dilontarkan oleh sang lawan bicara.


“Berhenti apaan, Bang? Gue nggak ngapa-ngapain, sumpah”


Jika maksud Sinar adalah berhenti untuk menjadi sahabat Lisa, untuk enyah dari kehidupan Lisa, dia tidak akan sanggup untuk melakukannya. Lisa adalah separuh hidupnya, dan seseorang yang menguasai hatinya ketika bahkan dia menyadari hal itu saat Lisa tidak ada di sampingnya. Dadanya bergemuruh, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa sementara Sinar menatapnya dengan tatapan paling serius.


“Berhenti buat naruh perasaan sama adek gue”


Alpino terdiam. Jantungnya tiba-tiba ikut berhenti untuk berdetak dalam sepersekian detik.


“Ap-,”


“Jangan kira gue nggak tau gimana perasaan lo yang sebenarnya sama adek gue, Al” Sinar tiba-tiba berucap.


Suaranya membelah udara, ikut menoreh belahan luka di hati Alpino sendiri. Lidahanya kini keluar untuk membasahi bibirnya yang tiba-tiba kering. “Gue paham perasaan lo sama adek gue. Gue tau gimana orang lagi jatuh cinta. Dan lo sendiri, bukan setahun dua tahun ada di sisi Lisa. Meskipun gue jarang ketemu sama Lo, waktu tiga tahun yang gue habiskan di sekitar adek gue bisa buat gue paham perilaku lo sebenarnya yang naruh perasaan lo secara terbuka buat adek gue”


“Bang-,”


Suara Alpino bergetar untuk hanya memanggil saja. Dia tidak tahu untuk berkata apapun lagi ketika bahkan Hala sendiri, yang mengatakan bahwa dia menyukai Lisa pada usia dua belas tahun-, bahkan tidak pernah mengangkat percakapan itu lagi. Dia percaya bahwa Hala sendiri paham dengan perasaan Alpino yang mengatakan bahwa mereka adalah sepasang sahabat saja. Bahkan sampai detik ini, Hala tidak mencurigai apapun yang berada di antara dia dan Lisa.


“Lisa tau?” Alpino berbisik, menanyakan hal yang membuatnya takut. Jika Sinar saja bisa mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada adiknya sejelas matahari pagi, apakah Lisa juga sudah pasti paham tentang perasaannya?


“Sayangnya, enggak” Alpino tidak tahu apakah dia harus lega atau menangis mendengar penuturan ini. Tapi untuk saat ini, dia akan mengambil opsi yang pertama. Dia hanya takut, jika Lisa tahu tentang perasaannya, dia berpotensi besar kehilangan perempuan itu.


“Dia terlalu sayang sama lo sebagai sahabatnya dia. Dia juga nggak pernah nunjukin ketertarikan tentang romansa selama gue bareng sama dia, jadi, dia pure ngeliat lo sebagai sahabatnya yang paling dia sayang aja, kayaknya”


Campur aduk. Perasaannya terasa seperti dituangkan di dalam mangkuk dan di aduk menjadi rata sehingga dia tidak tahu bagaimana memilah satu perasaaan dan emosi yang tepat untuk menggambarkan bagaimana dirinya sekarang.


“Gue sebenarnya marah sama lo karena hal tadi. Gue nggak suka kalau ngeliat adek gue di posisi nggak baik kayak gitu. Lo cowok dan dia cewek, kalian di kamar, ruangan tertutup yang nggak ada siapa-siapa disini selain kalian berdua. Gue marah karena kalian dengan santainya nganggap itu bukan apa-apa. Meskipun kali ini lo bisa nguasain diri lo sendiri, lo nggak bakal tau kalau tiba-tiba aja setan lewat dan lo gelap mata? Adek gue yang udah gue jaga dari kecil dan satu-satunya bisa rusak di tangan lo”


“Gue minta maaf…” bisiknya, merasa bersalah dan bodoh. Dia seharusnya lebih awas dengan apa yang dia lakukan. Seberapapun dekatnya dia dengan Lisa, dia seharusnya tetap memiliki batas di antara mereka berdua. Dia seharusnya lebih paham hal itu daripada siapapun.


“Lain kali, tolong jangan sampai kejadian ini keulang lagi” Sinar menghela napas. Tubuhnya dan posturnya yang tegang kini sedikit jatuh dibelakangnya. Sinar menyandarkan sikunya di kedua lututnya dan dia mengusap wajahnya yang lelah.


Lelaki itu baru saja sampai disini dari Jepang untuk menyusul adiknya dalam rangka liburan yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Sudah pasti Sinar juga lelah dengan semua hal dan dia harus istirahat.


“Iya Bang, gue bakal paham batasan gue sama Lisa. Gue usahain hal ini nggak kejadian lagi”


Alpino meremas tangannya yang basah. Dia bahkan tidak sadar bahwa dia berkeringat, padahal suhu ruangan rendah karena pendingin yang di hidupkan.


Ada hening yang lama. Alpino bisa mendengar suara helaan napas Sinar yang berat seakan-akan dia ingin menyampaikan satu hal lagi, yang kali ini mungkin menjadi kematian kedua bagi Alpino.


Oh, lihat betapa benarnya dia.


“Al,” Kepalanya melecut ke arah Sinar saat namanya di panggil.


“Gue sebenarnya nggak tega mau bilang ini ke, lo. Gue tau ini bakalan susah buat lo. Tapi gue harap lo bisa janjiin satu hal ini ke gue. Hal paling penting yang harus lo pegang. Janji yang harus lo tepati buat gue. Buat Lisa juga”


Alpino diam. Dia tidak bisa bersuara karena dia bahkan tidak tahu apa yang berani dia ucapkan di situasi yang seperti ini.


“Gue serius dengan apa yang gue bilang tadi. Gue serius tentang-,” Sinar diam sejenak sebelum menghela napas lebih dalam dan melihat Alpino dengan raut yang tidak bisa dibaca. Mungkin itu semacam kasihan, tapi lebih dalam dari itu. “Gue serius tentang lo harus berhenti, Al”


“…”


“Lo harus berhenti berharap dan naruh perasaan lo ke Lisa. Lo harus bisa move on dan selesaiin perasaan lo sekarang juga. Lo masih bisa nemuin orang lain yang bisa sayang dan cinta sama lo. Orang lain yang bisa lo kasih perasaan berharga lo yang sekarang tertuju buat adek gue. Gue minta tolong, buat berhenti berharap sama Nalisa”


Hancur mungkin bukan kata yang mudah untuk di ucapkan. Namun disinilah Alpino, mendengar serpihan perasaannya yang pecah berkeping-keping dan menggores dinding rapuh di sekitarnya hingga berdarah. Suara darah yang mengalir deras terdengar dengan keras di telinganya. Dan dia bertahan untuk mendengar apapun lagi yang diucapkan oleh Sinar setelahnya. Dia mencoba.


“Ada satu orang ini” Sinar berkata lagi, Alpino hampir melewatkan suara itu di teilnganya. “Seseorang yang sudah bikin keluarga gue percaya bahwa dia bisa ngebahagiain Lisa. Satu orang yang sudah berjanji buat ngasih Lisa segalanya dan menjanjikan kebahagiaan buat Lisa. Satu orang ini yang udah ngelangkah lebih jauh daripada yang lo bayangkan, Al”


Alpino tersentak sedikit. Kepalanya dia tengadahkan untuk tidak membiarkan air matanya keluar dengan begitu saja tepat di depan Sinar.


“Gue… bahkan nggak dibolehin untuk berjuang, Bang?”


Sinar membuang wajahnya, terlihat bersalah dengan ucapan yang dia keluarkan sebelumnya.


“Al, lo bisa janji sama gue?” Dia mengalihkan pembicaraan, membuat Alpino merasa sesak di dalam. “Janji buat nggak berharap sama adek gue. Janji buat jagain dan bahagiain Lisa hanya sebatas sahabat dan teman dekat aja? Janji buat, move on dan nemuin orang lain selain adik gue?”


“Bang Sinar”


“Janji sama gue, Al. Lo bisa nepatin semua itu kan?”


“Lo kenapa jahat banget sama gue, bang?” Alpino berbisik lirih.


“Gue nggak bisa move on secepat itu bahkan ketika gue nggak bisa berjuang buat Lisa. Lo nggak bisa maksa gue kayak gini, bang. Lo jahat banget sama gue”


Sinar diam sejenak. Dia tahu bahwa dia keterlaluan. Tapi apa lagi yang bisa dia lakukan? Dia berada di tengah-tengah dua sisi. Untuk terjun ke salah satunya akan membuat dampak yang besar, dan terjun ke arah lain adalah membuatnya menjadi orang yang jahat meskipun Sinar sendiri berusaha untuk melindungi dua garis itu sendiri.


“Kalau gitu, janji sama gue buat nggak berharap sama Lisa dan janji buat jagain dan ngebahagiain Lisa hanya sebatas sahabat dan teman dekat aja? Bisa, kan?” Sinar mengulanginya lagi, janji yang ia desak untuk Alpino setujui. “Gue ngelakuin ini buat ngelindungi hati lo juga, Al. gue tau lo tulus sama adek gue. Tapi lo nggak bisa sama sekali buat maju. Gue berharap yang terbaik buat lo juga, Al. Lo harus paham tentang hal itu juga”


“Tapi, emang harus gini, bang? Emang Lisa udah ngeiyain semuanya dan yakin kalau dia bakalan bahagia sama orang itu? Lo yakin kalau orang itu adalah orang yang tepat buat Lisa?”


“Al, dengerin gue. Ini yang terbaik buat lo juga”


“Ini cuma keputusan sepihak doang dari lo, Bang Sinar!”


Sinar berdiri. Dia tahu bahwa ini tidak akan berakhir begitu saja. Lisa yang keras kepala akan turun dan bertanya-tanya kenapa Alpino atau Sinar tidak kembali ke kamarnya. Lisa sudah khawatir tentang kondisi sahabatnya dan disini dia, masih berargumen dengan sahabat adiknya itu.


“Lo cuma punya satu opsi dalam hal ini, Al. Please dengerin gue dan janji sama gue”


“Perasaan nggak bisa dipaksa” Alpino berargumen.


Sinar mengerang. Ini tidak akan mudah, tapi dia harus meyakinkan ini akan berhasil.


“Kalau lo nggak bisa gue ajak kerja sama, gue bakal bawa Lisa pulang sama gue dan nggak bakal gue biarin balik lagi ke sini sampai kapanpun. Gue bilang, gue cuma nggak mau lo tersakiti. Seharusnya lo paham dari awal, Alpino”


Tatapan Alpino jatuh ke tangannya yang bergetar. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi perasaan jelek menguasainya menjadi ketakutan tersendiri baginya.


“Lo ngancem gue, Bang?”


“Janji sama gue, Al”


Alpino menghela napas dalam. Dia berdiri, matanya sudah berkaca-kaca dan dia sudah acak-acakan di dalam. Giginya tenggelam di bibir bawahnya, yakin itu akan menimbulkan luka ketika dia merasakan rasa karat darah di lidahnya.


“Kalau gue penuhin janji ini, lo bisa janji juga nggak ke gue kalau Lisa bisa bahagia?”


“Alpino.”


“Oke. Gue janji”


Finalnya. Helaan napasnya terdengar kasar di udara bersamaan dengan pecahan hatinya yang sudah tidak terselamatkan lagi.


“Gue janji gue bakalan usaha buat berhenti berharap sama Lisa dan gue janji gue bakalan jagain dan bahagiain Lisa semampu gue sebatas sahabat dan teman dekatnya. Tapi gue nggak bisa janji buat bisa move on dari dia dan cari pengganti dia dalam hati gue”


Sinar, dengan senyum yang dipaksakan, dan lega, mendekat untuk mendekap Alpino yang terlihat sangat hancur. Tangan Sinar menepuk punggung Alpino dengan sayang, menguatkan lelaki itu meskipun dirinya sendiri yang telah menghancurkan apapun yang menjadi harapan bagi anak remaja itu.


“Makasih, Al. Maafin gue udah maksa lo begini. Tapi dengan ini, gue cuma berharap yang terbaik buat lo”


Alpino tidak akan menyangka bahwa dia, di usianya yang baru delapan belas tahun, mengalami patah hati pertamanya. Janji yang menghancurkan harapan romansanya, dan tekanan dari perasaan yang harus dia simpan dalam-dalam, jauh di dalam lubuk hatinya.


..........


...🍁...


...Bro Time: Perasaan dan Keputusan Satu Sisi (Kembali ke Masa-Masa Itu) – End....