Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Pengakuan Sinar



Lega adalah apa yang membasuh keseluruhan dirinya ketika dia menemukan perempuan yang dicarinya seperti orang gila dengan satu ponsel di telinga dalam panggilan yang terus berdering tak tergubris. Kepalanya yang berkabut sekarang seperti di siram seember cahaya matahari kejut, menghilangkan berat abu-abu dari sekelilingnya. Kakinya melangkah lebar-lebar, setengah berlari untuk langsung menarik perempuan itu dan memastikan bahwa dia baik-baik saja dan tidak kurang apapun.


Wajah yang penasaran dalam observasi, bersibobrok dengan sedikit kekhawatiran yang tertinggal ketika dia selesai dan yakin bahwa perempuan-nya baik-baik saja. Tidak ada yang salah sama sekali. Hatinya berkomat-kamit dalam banyak kata yang menimpali satu dan lainnya hingga membuat dirinya sendiri merasa begitu sulit untuk mengeluarkan kata.


Sinar, tiba-tiba merasa kesal. Dia ingin memarahi Hala karena membuatnya sangat cemas. Tanpa kabar dan tanpa pamit, perempuan itu memiliki sesuatu di wajahnya tanda bahwa dia tidak mengerti satu hal pun dan sama sekali tidak menyadari bagaimana kalutnya Sinar tentang keberadaannya.


Menarik napas yang dalam dengan bahu yang merosot dari ketegangan, Sinar berhasil memilah kata untuk ia sampaikan pertamakali. Sekarang, Hala dalam genggamannya sehingga dia bisa kembali membumi lagi, berharap bahwa ini tidak terjadi lagi di suatu hari di masa depan nanti. Jujurnya, Sinar ketakutan saat dia tidak mendapati Hala ketika dia yang bertanggung jawab untuk perempuan itu sejak awal acara mereka.


“Lo kemana aja, sih, La? Kenapa lo tiba-tiba hilang? Lo tau nggak, sih, gue nyariin lo? Bisa nggak, sih, kalau mau pergi itu pamit dulu? Seenggaknya gue tau lo dimana biar gue nggak panik setengah mati!”


Ups, rupanya dia sama sekali belum membumi. Pikirannya belum rasional sepenuhnya dan kabut kegelisahan masih mencari titik-titik serpih emosi kesal dan marah untuk digapai. Kedua tangan yang mencengkeram sisi lengan Hala bergetar dalam tahanan emosi yang masih mampu terbelenggu sebagian besar.


Sinar dapat melihat bagaimana Hala meringis karena cengkeramannya. Dia ingin mengendurkan pegangannya pada Hala, tetapi dia belum bisa melakukannya. Biarlah, dia ingin meringankan emosinya terlebih dahulu. Sinar harus memastikan bahwa Hala paham dimana letak kesalahannya sekarang yang membuatnya hampir gila.


Katakanlah dia berlebihan. Sinar hanya sedang ketakutan. Anehnya, perasaan itu terlalu kuat mengguncangnya.


“Aduh, Kak, tenang dulu. Kenapa datang-datang malah marahin gue, sih? satu-satu tanyanya, Kak” Hala menggerutu. Sinar merasakan sengatan cubitan yang membuatnya terkejut. Hilang dari kotak pikir apapun yang membuatnya hanya ingin melontar amarah pada Hala karena menjadi yang tidak begitu waspada dengan hatinya tentang perempuan itu. Sinar saat ini merasa sungguh dibodohi.


Apakah Hala benar-benar berusaha mengabaikan dan mengulur semua pertanyaan pentingnya?


Saat ini, tangannya ia tarik dengan tergesa untuk menempatkannya kembali di wajahnya. Menutup keseluruhan mimic emosi dan tidak habis pikir untuk menenangkan diri dari rasa ingin berteriak frustasi, dia berbalik. Jemarinya beralih mengacak rambutnya dengan gusar sebelum ia tempatkan di pinggangnya dengan diakhiri oleh helaan napas panjang berat yang bahkan membuat beberapa pasang mata berlalu-lalang mencuri pandang dengan rasa ingin tahu padanya.


Sekelebat kata negatif mampir di kepala Sinar, tetapi dia memilih untuk menutup mata dan kembali menenangkan diri. Yang terpenting saat ini adalah, Hala ada disini. Di depan matanya, disampingnya, berdiri dengan tanpa kurang satu apapun selain otak dan pikiran perempuan itu yang sangat ingin Sinar remas dengan kekuatan tangan super agar perempuan itu mampu berpikir lebih baik daripada merespon dengan gerutuan lain tanpa jawaban dari pertanyaan pentingnya yang ia butuhkan.


Berbalik, dia memasang wajah serius pada Hala.


“Ionatta Allysum Andromeda Hala.. Lo beneran nguji gue banget apa gimana, hah?” Sinar hampir membentak amarah kekesalan, tetapi dia menahan diri dengan pikiran yang masih dia pegang dengan sempurna bahwa dia tidak ingin menjatuhkan Hala di hadapan orang asing. Dia masih menghargai perempuannya.


“Lo paham nggak, sih, kalau lo udah hilang dan bikin gue panik? Nggak ada kabar? Nggak bisa dihubungi? Tolong, jangan bikin gue gila, La. Bisa nggak, kalau mau pergi pamit dulu sama gue? Seenggaknya sebagai basa-basi santun karena dari awal lo bareng gue dan lo udah jadi tanggung jawab gue”


Sinar ingin menenggelamkan kepalanya ke dalam air dingin ketika melihat Hala memiliki banyak waktu untuk menelaah semburan kata yang dia lontarkan sebelum pada akhirnya, perempuan itu sadar dengan menerapkan ekspresi bersalah. Sebenarnya, Sinar tidak ingin Hala merasa seperti itu, tetapi kadang kala, meskipun Hala telah menjadi sosok yang membuat Sinar ingin bergantung padanya, ada beberapa hal yang dimana perempuan itu memiliki keegoisan miliknya sendiri.


Termasuk hal-hal tentang apapun yang terjadi hari ini. Kalau saja Hala tahu apa yang Sinar rasakan beberapa saat yang lalu, Hala tidak akan bisa bertingkah terlalu bingung seperti ini. Pastilah, sisi egois Hala saat ini telah mengambil yang terbaik dari pikirannya.


“Maaf, Kak”


Itu seruan permintaan maaf yang tulus. Perempuan itu mulai paham dimana posisinya sekarang dan perasaan Sinar menjadi lebih baik saat ini. Meski ketakutan masih belum sepenuhnya pudar.


“Maaf banget, Kak. Gue nggak mikir sampai situ. Gue nggak tau kalau Kakak bakalan sepanik ini. Maksudnya, gue pikir karena gedungnya nggak begitu besar dan kalaupun gue nggak ketemu kalian, gue bisa kembali ke parkiran buat nungguin kalian. Gue nggak mikir kalau lo bakalan nyari gue sampai marahin gue begini. Gue sadar gue salah sekarang. Maaf, ya, Kak…”


Meskipun Sinar tidak tega untuk membuat Hala meminta maaf seperti ini, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia kembali merasa buruk karena pengakuan perempuan itu.


Sinar? Tidak akan panik seperti orang gila karena Hala yang hilang dari sisinya? Tidak akan panik hanya karena gedung yang bahkan tidak seluas perusahaannya? Oh, Hala pasti meremehkan perasaannya. Sinar terpelanting kebelakang. Dia harus tetap tenang dan tidak mengikuti perasaan buruknya sendiri atau hubungannya dengan Hala akan memburuk karena Sinar yakin, dia hanya akan berakhir menyalahkan dirinya sendiri nanti.


“Maaf, Kak. Gue tadi cuma mikir kalau-,”


“Udah. Minta maafnya simpan dulu. Sekarang, lo udah selesai belanjanya atau belum? Kita ngobrol di tempat lain yang lebih sepi dan yang pasti nggak di dalam ruangan yang sesak kayak gini” Sinar menahan diri, menggertak giginya di dalam bibir yang terkatup, dia melanjutkan. “…ya?”


Tetap, permohonan pada akhirnya. Dia tidak ingin terdengar terlalu memaksa meskipun dia tahu bahwa ini adalah paksaan. Sinar hanya ingin membuat dirinya dan perasaannya tenang. Sekali saja dan dalam keadaan ini saja. Selebihnya, dia tidak ingin melakukan ini lagi. Berharap bahwa dia tidak akan pernah memaksa perempuan itu untuk egonya.


Kali ini saja. Dia meraung dalam hati. Hala harus diperingatkan.


“Gue tadi lagi pengen bento cake yang gambarnya Uchiha Family. Tapi kata yang jual udah habis di borong fans mereka. Yaudah gue nyari yang lain. Dan rencana mau bawa yang ini pulang..”


Sinar dapat melihat bahwa Hala menjelaskan dengan hati-hati. Menunjuk pada satu karakter anime perempuan yang dia tidak ingat apa itu. Hati sinar retak. Dia terlalu menumpahkan banyak emosi kepada Hala sehingga perempuan itu menjadi waspada padanya.


“Yaudah. Kalau udah tau mau yang mana, langsung dipesan aja, ya, sekarang?” nadanya melembut. Sinar mencoba memberikan senyuman terbaik yang bisa dia tunjukkan. “Itu barangnya lo biar gue yang pegang. Lo urus kue lo aja sekarang, La. Terus, ada lagi yang mau dibeli sebelum kita ngobrol di luar?”


“Mau beli pancake buat kita makan bareng nanti, sama puding.. boleh?”


“Iya, boleh. Lagian, gue nggak pernah larang lo buat milih apapun yang lo suka dan lo pengen. Bukan hak gue”


Belum.


Hati kecil Sinar berbisik, meronta di dalam sel yang lemah.


Nanti, secepatnya, semoga.


Harap yang tak luntur adalah kotak pandora yang terkunci dengan rapat. Dipegang dengan erat bahwa suatu kesempatan itu akan datang menjadi sebuah kenyataan yang indah.


“Gue ikut kedalam, ya? Nemenin lo milih jajannya” tentu saja itu pintanya.


“Iya, Kak. ayo”


Setidaknya, Hala memiliki senyuman indahnya yang biasa ketika dia merespon dengan begitu baik dan tangan yang terbuka. Sinar sekali lagi, tidak sadar bagaimana warna merah amarahnya turun mendekati garis biru yang menenagkan.


......................


Tidak ada tempat dimana tidak ada orang yang menginjakkan kakinya di sekitar sana. Tentu saja. Mereka bahkan berputar-putar menyusup disekitar banyak pengunjung untuk hanya mencari tempat yang cocok untuk obrolan yang harus dan dipastikan untuk tetap berlangsung. Setidaknya Sinar gigih tentang hal itu.


Semua tempat telah dihadiri oleh banyak manusia. Tentu saja, ini adalah festival dan event yang dijadikan satu. Tidak heran bahwa beberapa orang akan meninggalkan sebuah tempat kosong tanpa penghuni. Hampir menyerah untuk hanya membawa Hala pergi dari tempat ini, mungkin pulang ke apartemennya atau hanya menemukan ruang kosong yang cocok untuk berbicara, Sinar menarik Hala untuk naik menuju rooftop yang terbuka di salah satu lorong beranak tangga yang tidak sengaja Sinar temukan.


Jadi, disinilah mereka. Berada di lantai dua ruang terbuka yang bahkan hanya merupakan petak kecil tempat untuk meletakkan barang-barang simpanan peralatan gedung pribadi. Angin menerpa wajah mereka dengan sadar, membuat sesak karena berdesakan dan berada disekitar orang banyak menghilang disambut dengan segar murni udara luar. Meskipun terlihat agak kotor dan berdebu, Sinar tidak peduli, yang terpenting adalah ruang untuk berbicara dan beberapa tempat untuk mereka bisa duduk dan mengistirahatkan kaki.


Menutup matanya dan berusaha untuk tidak bersandar pada dinding berdebu, Sinar mengambil beberapa waktu lebih lambat dari yang dia bayangkan bahwa dia akan kembali melontar emosi pada Hala. Berlawanan dari itu, Sinar sudah sangat yakin bahwa pikiran rasionalnya telah kembali seutuhnya. Meski ada secuil yang mungkin hilang karena dia dengan tidak tahu malu meraih jemari Hala untuk dia genggam dengan erat. Tetapi tentu saja, dia tidak akan melayangkan protes untuk secuil kewarasan yang hilang.


Telinga Sinar bergerak ketika Hala bergumam kecil. Lelaki itu yakin bahwa Hala adalah yang pertama akan membuka suara dan melanjutkan percakapan yang tertunda.


“Kak Sinar.. sekali lagi, gue minta maaf”


Langsung ke intinya, tanpa basa-basi. Dan lagi-lagi, maaf yang keluar, tetapi kali ini kesungguhan didapat dari bagaimana suaranya terdengar masuk ketelingan Sinar.


“Gue sekarang udah paham kenapa gue harus bener-bener minta maaf sama lo, Kak. Yang pertama karena gue pergi nggak bilang dulu ke lo atau bahkan ke Lisa. Yang kedua karena gue nggak bisa dihubungi. Gue nggak sadar tadi HP gue jadi mode silent. Mungkin tadi karena gue lagi fokus belanjar merch nggak sengaja tertekan waktu mau masukin HP ke dalam tas”


Sinar mengangguk, puas dengan bagaimana Hala menuturkan pemikirannnya dan rasa bersalah yang saat ini dia sadari dengan baik.


“Terus, gue juga minta maaf karena udah bikin lo panik dan nyariin gue. Gue sadar gue teledor karena gue nggak pergi sendirian kesini. Bahkan dari awal aja gue adalah sebagai orang yang di ajak. Gue seharusnya nggak semena-mena. Maaf, ya, Kak” tuturnya lagi dalam pengakuan.


“Bagus kalau lo paham, La. Gue kaget banget waktu sadar lo nggak ada sama gue. Jangan gini lagi, ya? Gue nggak masalah kalau lo pergi sendirian atau kemanapun lo mau dengan diri lo sendiri. Gue nggak masalah. Tapi ini, lo bareng gue di awal. Manalagi di sini rame. Meskipun tempatnya kecil, tetep aja, gue khawatir karena gue yang harusnya jagain lo. Kalau lo kenapa-kenapa, gue pasti ngerasa bersalah banget. Mau bilang apa nanti gue ke Mama sama Papa lo kalau, amit-amit, terjadi sesuatu sama lo dibawah tanggung jawab gue?”


Jujur, itu adalah sedikit yang bisa dia sebutkan. Sebenarnya, kepanikannya adalah segala tentang keamanan hatinya sendiri. Lebih dari itu, Sinar hanya takut jika terjadi sesuatu pada seseorang yang menjadi rumahnya dan dia akan kehilangan rumah itu bahkan ketika dia seharusnya menjaganya dengan baik. Sinar hanya ingin Hala baik-baik saja dan aman bersamanya.


“Kak, jangan gitu. Gue sadar. Maaf, ya”


Satu remasan di tangannya dapat Sinar rasakan. Sinar bisa pastikan, bahwa dia familiar dengan kehangatan ini dan dia yakin dia akan sangat rela untuk terus menggenggamnya hingga akhir harinya nanti.


“Iya, gue maafin. Tapi, nggak ada lain kali” Tegasnya dengan satu tatapan langsung ke mata bulat perempuannya dimana dia langsung mendapat balasan satu anggukan seperti sebuah perjanjian tak terucap.


Napas yang terhela, memberi jeda sejenak dari percakapan. Sinar menengadah untuk menatap awan yang bersih di langit siang menjelang sore hari yang cerah. Dengan dengung aliran pembersih dan pendingin udara di dalam gedung dan hembusan angin dari sela-sela celah ventilasi dari ruangan penyimpanan yang tertutup, Sinar merasa lega sejenak. Mampu membuat segala kekhawatirannya luruh untuk bagian sebenar-benarnya.


Punggung berdiri tegap, Sinar memutar tubuhnya untuk menatap Hala yang baru saja melempar kata seperti sedang memberikan pembelaan diri. Sinar menaikkan kedua alisnya dalam gestur bertanya.


“Sebenarnya, tadi gue lihat lo bahagia banget ngobrol sama Miss Jelita, Kak”


Satu lemparan itu membuat Sinar terperangah.


Apa-apaan, itu?


“Gue bahagia?” dia membeo. Ya, dia tidak akan pungkiri bahwa dia hilang dalam keseruannya untuk sesaat dan berhasil mengabaikan Hala begitu saja. Tidak sadar bahwa dia lebih memilih berbicara dengan Jelita hingga dia melupakan rumahnya sejenak.


Hala memberikan senyum, mengangguk pasti.


“Lo bahagia banget, loh. Kayak disiram bensin lagi. Apinya membara!! gue yang ngelihat itu, senang banget, Kak! Gue seneng lihat lo sebahagia itu dan sesantai itu buat ngobrol dan nunjukkin perasaan lo tanpa ketutup apapun keresahan lo sebelumnya. Bahkan, waktu kita main di festival aja lo kayak masih banyak banget batu ganjelannya”


Satu tangan menepuk genggaman tangan mereka, senyum sumringah Hala tampilkan dengan ringan. Sinar merasa terlempar.


“Makanya, gue putuskan buat biarin lo ngobrol banyak sama Miss. Jelita. Gue nggak mau ganggu percakapan kalian yang lagi seru-serunya itu, Kak. Gue nggak mau ganggu kebahagiaan lo, tau”


“Hala..”


Hala terkekeh lucu. Entah dari mana datangnya sepertinya dia sedang merasa gemas sekali dalam pembicaraan. Berbanding terbalik dengan sebelumnya.


“Nggak masalah, tau, Kak. Gue juga ikut seneng malah. Dan lagi yang lebih penting, ini emang tujuannya, Kan?”


Sinar mengerjap. Apa lagi yang Hala coba utarakan padanya?


“Apa?”


“Double date, Kak” Dia merengek, menempatkan satu jari di antara mereka dengan raut wajah berubah serius. “Kencan ganda. Jadi, Lisa sama Kak Noren. Dan tentunya, Lo sama Miss. Jelita. Double date!”


Sinar tidak tahan lagi. Apa-apaan omong kosong yang baru saja dikatakan Hala tepat di depan wajahnya itu?


“Hala, lo bego atau emang lagi pura-pura bego, gue tanya?”


Sinar tahu bahwa dia dapat merasakan keterkejutan Hala dari bagaimana perempuan itu terlonjak hanya dari ucapannya yang berang.


“Gue tanya sekali lagi. Ini lo beneran mikir nggak, sih waktu lo bilang itu ke gue?”


Sinar marah. Dia benar-benar marah.


Tidak. Rasanya dia lebih lelah, kecewa. Dia tidak tahu harus menempatkannya dimana. Semuanya terasa sangat berantakkan.


“Kak-,”


“Gue nggak paham sama pemikiran lo sekarang. Tapi gue harap lo beneran nggak tahu dan emang bodoh karena lo nggak sadar tentang ini. Tapi jujur, lo keterlaluan kalau bilang acara Double date ini buat gue sama orang lain dimana jelas-jelas lo yang pertamakali ada di sisi gue dan diajak langsung sama Noren buat ini”


Frustasi, Sinar memuntahkan segalanya. Dia sudah tidak tahan lagi.


Menarik diri dari Hala, dia berdiri. Bahkan, ketika dia memiliki dirinya sendiri, dia tidak tahu harus bereaksi apa. Hala yang masih duduk dengan kekacauan aneh yang tidak bisa Sinar baca, ikut berdiri dari tempatnya. Wajahnya tampak khawatir. Sinar ingin menertawakan dirinya sendiri.


“Lo seharusnya paham, Hala. Acara ini buat lo sama gue. Bukan orang lain random yang baru masuk dalam hidup gue. Buat Sinar sama Hala. Buat kita berdua”


Tatapan matanya langsung pada perempuan itu. Dia sakit ketika melihat Hala merasa bersalah. Sinar tidak ingin ini, tapi kelelahan benar-benar mengambil yang terbaik dari dirinya.


“Hala, gue nggak paham kenapa sampai sekarang, sampai detik ini juga lo nggak sadar sama perasaan gue ke lo. Gue nggak tau seberapa nggak taunya lo atau seberapa denial-nya lo tentang perasaan gue ke lo. Seharusnya, dengan semua yang udah gue lakuin, lo sadar kalau gue punya perasaan sama lo, Hala”


Ada sentakan halus yang diberikan Hala ketika dia mengungkap semuanya. Mata bulat perempuan itu menatapnya dalam banyak kata yang tidak bisa disampaikan. Sinar frustasi. Sejak tadi dia merasa panik karena hampir kehilangan, dan sekarang? Dia merasa sakit dan lelah karena Hala terus saja tidak bisa melihat seberapa besar cinta yang Sinar miliki untuk perempuan itu.


Sinar lelah. Dia hanya ingin menjatuhkan segalanya. Terserah konsekuensinya nanti, dia hanya ingin Hala sadar dan bisa melihat seberapa keras Sinar berjuang untuk menunjukkan cintanya pada perempuan itu. Dia tidak ingin menjadi pengecut lagi. Dia sudah lelah.


“Bahkan kalau bisa dibilang, semua orang tau kalau gue sayang sama lo, Hala. Lebih daripada lo sahabatnya adek gue. Gue cinta sama lo. Selama ini, lo rumah gue. Lo satu-satunya orang yang berhasil ada di hati gue dalam penempatan paling tinggi”


Sinar berusaha untuk meraih jemari Hala. Perempuan itu terlihat kurang fokus, tetapi matanya menunjukkan banyak hal tak terucap disana disamping keterkejutan yang mengambil alih semua kata yang bersemayam di lidah.


“Gue nggak tau apa yang buat lo nggak sadar sama perasaan gue yang udah dengan jelas gue tujukkan ke lo. Tapi yang pasti, gue nggak mau lagi diam karena lo udah keterlaluan tadi. Cuma lo yang gue sayang, Hala. Bukan orang lain. Cinta banget gue sama lo. Kenapa lo nggak bisa, sedikit aja lihat gue? Please, Hala. Jangan ngeremehin perasan gue..”


Sinar bisa melihat bagaimana perempuan itu membuang wajahnya agar tidak berhadapan langsung pada Sinar. Namun demikian, jemari mereka masih bertaut. Sinar memiliki banyak harapan dan dia berhadap bahwa, sesuatu yang dia inginkan adalah jawabannya.


Tapi alih-alih hal positif yang dia nantikan, diiringi dengan raut wajah penuh rasa bersalah dan mata yang berkaca-kaca menghunus pandangannya dalam satu rasa sakit pasti yang dilemparkan padanya. Sinar yakin, dia akan ditinggalkan dalam lubang besar rasa patah hati pertamanya.


“Kak.. Maaf.. maafin gue”


Suaranya bergetar. Sinar merasa tidak mampu.


“Hala..”


“Maafin gue, Kak. gue nggak bisa. Gue nggak tau.. ada.. ada orang yang.. gue..”


Satu senyum Sinar torehkan.


Ah, tidak hidupnya, tidak kisah cintanya. menyedihkan.


“Siapa?”


Itu adalah pertanyaan yang salah yang dia kemukakan. Seharusnya Sinar tidak bertanya lagi. Dia bahkan sudah tau siapa orang itu jauh sejak awal.


“Heksa”


Suaranya bergetar dalam perasaan bersalah yang tidak seharusnya.


“Gue suka sama Heksa, Kak Sinar.. Gue minta maaf..”


Sinar baru saja sembuh dalam kekalutan emosinya beberapa hari lalu dan dikuatkan oleh rumahnya yang berupa sosok perempuan di hadapannya itu. Lalu, jika patah hati kembali menelannya dalam kekalutan gila yang tak berujung, siapa yang mampu untuk menyembuhkannya saat rumahnyalah sebagai pelaku utama rasa sakitnya?


...🍁...


...Pengakuan Sinar...


.........


...🍁🍁🍁...


Note:


Chapter besok sudah masuk ke cerita karakter tokoh utama kita Nalisa dan Noren😊