Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Acara Kelompok; Presented by Noren Part. 2 - End



“Anjir! Ini ada pesta apaan, mewah banget dekorannya!”


Itu adalah suara Heksa yang tercengang ketika dia baru saja menginjakkan kakinya di dalam ruangan game di rumah Lisa. Mereka datang disaat yang tepat dimana makanan yang dipesan oleh Noren datang keseluruhannya. Masih panas, tertata di atas meja yang di letakkan lebih dekat dengan sofa santai dan bersebelahan dengan meja khusus camilan ringan dan kue-kue lucu yang Lisa pilih tadi pagi.


“Mantep, Lisa. Lo mau ngerayain apaan ini? Itu makanan banyak banget, aslian!” Fajri yang ikut menyelinap disebelah Heksa juga ternganga. Terkejut dengan kemewahan acara yang seharusnya tidak memakan banyak waktu untuk persiapan. Itu hanya acara kumpul kelompok yang mereka rencakan dengan tiba-tiba karena waktu kosong anak-anak seluruhnya jatuh pada hari itu.


“Ya ngerayain kita ngumpul bareng setelah dikerjain sama kerjaan kita, tau!” Lisa berseru, keluar dari dapur untuk membawakan minuman dengan berbagai varian rasa yang cukup banyak. Mengingat teman-temannya sangat suka makan dan banyak minum air berasa.


“Udah, ayo masuk. Ngapain pada di pintu. Kak Noren, nih bawain minumannya ke ke meja” Lisa menyerahkan minuman yang ia bawa kepada Noren yang berada di dalam ruangan. Siap untuk menata dan melaksanakan permintaan Lisa. Noren, tanpa basa-basi atau membantah langsung menghampiri perempuan itu dan mengambil minuman dari tangannya. Heksa dan Fajri masing-masing saling menoleh seolah bertukar pikiran hanya dari pandangan.


“Eh, halo, Bang Noren! Lama nggak ketemu, ya, kita” Heksa menyapa dengan cengiran bodoh. Berusaha untuk tidak membuat Noren agak terganggu dengan dia yang tidak menyadari pertamakali bahwa lelaki itu ada disana.


“Halo. Masuk aja kalian langsung, makanannya boleh langsung dimakan juga, kok” Noren tersenyum. Mencoba untuk terlihat seramah mungkin. Dia memang sudah lebih dikenal oleh anak-anak perkumpulan ini. Namun, dia ingat bagaimana perilakunya di acara Fajri saat itu. Jadi lelaki itu lebih berhati-hati kembali.


“Asyik! Ayo masuk, Jri! Banyak makanan di dalam! Serbu!!” Heksa dengan cengiran cerahnya yang masa bodoh dengan keadaan, mulai menarik Fajri untuk masuk dan merampas satu chiki yang terdekat. Menenteng tas besarnya di bahu, dia terlihat seperti anak berusia belasan tahun. Fajri mengutuk, mencoba untuk menyadarkan monster tak tahu malu dari sahabatnya itu.


Nalisa tertawa dengan keras. Dia merindukan suasana dimana rumahnya seramai ini dengan kehadiran anak-anaknya.


“Eh? Seriusan banyak makanan? Gue laper aslian, belum makan dari pagi, nih!”


Kali ini seruan dari Alpino yang datang tergopoh-gopoh berlari dari pintu depan ketika mendengar seruan Heksa yang terlalu keras. Terlampau terbiasa dengan jeritan temannya dari berapa lama mereka bersama, Alpino muncul dengan tiba- tiba di depan Lisa.


“Al!!!”


Dengan sangat gembira, Lisa segera berhambur memeluk Alpino dengan erat. Jujur, perempuan itu sangat merindukan sahabatnya. Alpino yang hadir di depan matanya saat ini sungguh membuatnya ingin menangis. Ini bahkan belum ada satu bulan lamanya mereka berpisah dan tidak bertemu, namun nyatanya waktu itu tetap terasa lebih lama dari apapun.


“Alpino, lo kemana aja, gilaaa! Susah banget buat ditemuin. Gue seneng banget lo bisa dateng ke sini sekarang! Lo nggak kangen gue??”


Lisa mendongak dari tempatnya mengusel dada Alpino dengan manja. Perempuan itu tahu bahwa dia terlalu lengket saat ini. Namun, dengan adanya Alpino di depannya, berdiri dekat dengannya dan ada di dalam pelukan eratnya, siapa dia untuk peduli dengan orang lain yang berada di sana. Dia bahkan tertawa dengan senang hati saat Alpino tersenyum dengan sayang padanya dan mengusak rambutnya dengan gemas. Tipikal saat mereka bertemu biasanya setelah sekian lama tidak berjumpa. Dalam hal ini, itu adalah dua sampai tiga hari, tidak hampir satu bulan penuh seperti ini.


“Nalisaaa, bayi gue yang lucu dan gemes. Akhirnya kita ketemu lagi setelah sekian purnama, ya? Aduh, utututu anak ayamnya gue yang satu ini. Kangen banget lo sama gue, ya? Iya, kan? Ngaku lo!”


Tawa Alpino adalah apa yang sekarang tertular pada Nalisa sekarang. Bak dunia hanya milik berdua, Nalisa kembali memeluk tubuh sahabatnya itu. Mencubiti pinggang Alpino dengan sebal yang dibuat-buat. Nalisa bahkan menghiraukan banyak pasang mata yang mengintip dari balik ruangan. Namun saat ini yang dibutuhkannya adalah melepas rindu dengan sahabat masa kecilnya yang jahat karena tidak ada di sisinya untuk waktu yang cukup membuatnya kesal.


“Menurut lo ajalah, njir!! Lo udah susah buat di temui, jarang jadi ojolnya gue lagi, terus susah buat dihubungin. Menurut lo gue kangen nggak sama lo?”


“Idih idih, bahasanya jangan kasar-kasar, neng geulis” Alpino tertawa gemas. Lelaki tinggi yang sekarang rambutnya di potong agak pendek dan rapi itu menepuk kedua pipi Lisa dengan ceria. “Ya maaf. Kita sama-sama sibuk, jadi lo tau lah kenapa gue ga bisa jadi ksatria baja hitam lo yang selalu ada di samping lo lagi”


Alpino menjelaskan. Raut wajahnya berubah menjadi disayangi dan sedikit gurat sedih yang coba dipendam kuat-kuat di belakang. “Maaf deh. Nanti kalau kerjaan gue dan kerjaan lo udah ringan lagi, udah tinggal sedikit-, segini,” Alpino mengerucutkan jari telunjuk dan jempolnya hingga meninggalkan celah tipis di antara keduanya di depan mata Lisa untuk menggambarkan ucapannya, yang dimana itu membuat Lisa tertawa geli.


“Gue bisa jadi ojol pribadi lo lagi dan gue bisa jadi tumbal buat lo apa-apain deh. Gue janji nih”


Tangannya dengan gemas mencubit kedua pipi Lisa, dimana sang empu tidak begitu terganggu dan malah melepas tawa dengan ceria. Lisa tidak bisa peduli pada apapun saat ini, karena dia hanya kembali merajuk pada Alpino sebelum ia di hentikan dengan suara dehaman yang tiba-tiba.


Terkejut, Lisa mundur dari Alpino untuk memberikan tatapan laser kematian pada Noren yang menganggu euforianya.


“Apaan, sih, Kak?” Sinisnya.


“Udah, ah, Lis. Gue laperr. Katanya ada banyak makanan. Mana, mana?” Alpino yang sadar diri, segera membuat jarak yang halus dengan Lisa.


“Di dalem adaa. Masuk ada, Al. Gue udah siapin makanan kesukaan lo, tau”


“Serius? Wuih mantap betul!” dengan tergesa, Alpino segera masuk ke dalam ruangan. Menyapa teman-temannya yang berpura-pura untuk lebih fokus pada makanan dan persiapan pemasangan game pada perangkat milik Lisa. Tidak lupa pula Alpino menyapa Noren dengan bersahabat. Dia tidak ingin mencari gara-gara meski perasaannya juga masihlah campuraduk di dalam.


“Lisaaa, gue kangen lo!”


Itu teriakan dari Jihan yang masuk berbarengan dengan Hala mengekor di belakangnya. Cemberut Lisa yang hadir di wajah kini tergantikan dengan senyuman lebar yang bahagia saat mendapati sahabat-sahabat terbaiknya datang dan hadir di waktu yang tepat.


“Jihannn, gue juga kangenn. Lo kenapa lama banget di pulau sana?” Lisa memeluk Jihan dengan erat tertawa ketika sahabatnya itu menggoyangkan pelukan mereka ke kanan dan ke kiri persis seperti anak kecil yang berbahagia. Disisinya, Hala hanya tertawa kecil dengan penempatan jarak yang agak lebar.


“Ada tambahan kegiatan dari walikotanya disana, Lis. Terus, ada acara tahunan gitu, jadi kita disana agak lama” Jihan mulai bercerita dengan semangat. “Oh iya, oleh-olehnya ada di rumah gue. Nggak gue bawa kesini. Kalau mau harus pada ambil satu-satu ke rumah gue pokoknya!”


“Dih pelit banget sih lo kenapa nggak di bawa sekalian aja?”


“Nggak mau, pokoknya harus dateng sendiri!”


“Yaelah, Jiii”


Tipikal perempuan, mereka berdua mulai heboh membicarakan banyak hal. Jihan bercerita dengan antusias tentang acara tahunan yang mengadakan pertunjukan bela diri bahkan panahan dengan kuda. Bahkan, perempuan itu menceritakan bagaimana dia di ajarkan memanah di atas kuda oleh penyelenggara setelah acara usai. Wajah jihan berbinar dengan bahagia. Mendengar dan melihat bagaimana antusias sahabatnya bercerita dengan menggebu, hati Lisa terasa menghangat. Inilah yang ia rindukan ketika bersama dengan sahabat-sahabatnya.


“udah, ayo masuk dulu kedalam. Nanti kita cerita. Ada banyak makanan di dalem, Ji” Lisa mendorong Jihan untuk masuk ke ruangan yang sudah mulai heboh dengan anak laki-laki di sana. Mengobrol dengan penuh semangat seolah-olah mereka tidak hanya berada di perumahan yang ramai penduduk.


“Hah? Banyak banget, Lis? Terus ini sampai di dekor segala, anjir. Dedikasi lo totalitas banget” Jihan hampir histeris. Matanya menelaah dengan terkejut ke dalam ruangan.


“Iya sengaja gue dekor. Lucu, kan? Terus ini sebenernya makanannya dari Kak Noren, sih”


“Enak aja! Pokoknya ini semua acara gue! Kak Noren hari ini jadi babu gue, makanya gue biarin dia ambil sebagian”


“Tapi fokus dari acara kan makan-makan. Jadi kalau boleh gue bilang, sih, acara kali ini presented by Kak Noren, sih”


“ENGGA, YA! Jihan malesin banget, sumpah!!”


Lisa memukul perempuan dengan rambut cepol satu yang lucu itu dengan sebal. Dia tahu bahwa Jihan hanya menggodanya. Lisa juga sebenarnya menikmati hal-hal seperti ini.


“Iya deh, iya! Dah, gue mau masuk! Mau makan!” Dan dengan begitu, Jihan mulai sedikit berlari untuk masuk ke dalam ruangan yang sudah ricuh itu.


Tatapan Lisa kini beralih pada Hala yang hanya diam sejak tadi. Senyuman kecil perempuan itu tidak seperti biasanya. Bahkan, tingkah lakunya juga agak aneh. Biasanya, Hala adalah sahabatnya yang juga lengket padanya. Namun kali ini, dia seperti menjaga jarak.


Lisa mendekat dan meraih leher Hala dengan gemas, membuat perempuan itu mengaduh kaget.


“Lo ngapain diem diem bengong gitu? Nungguin kakak gue, ya?”


Ada kerjapan kejut dari Hala. Perempuan itu agak tersentak sebelum menggeleng dengan cemberutnya.


“Lo kalau ngomong sembarangan, ih. Gue nggak nungguin siapa-siapa” Hala berkilah. Perempuan itu bahkan berusaha untuk lepas dari cengkeraman kepiting Lisa.


“Ya kali aja nungguin Kak Sinar. Emang tuh anak belum ada dateng sama sekali. Nggak ada kabar juga ke gue.” Memikirkan hal itu, Lisa ingat sesuatu. “Eh, gue juga jadi jarang lihat Kak Sinar karena jarang tidur di rumah lagi. Alasannya kerjaan. Lo tau nggak, La? Kak Sinar sekarang kayaknya lebih nyaman di rumah Mas Wildan daripada sama gue”


Hala terkekeh, mencubit pinggang Lisa dengan gemas.


“Kali aja emang karena lagi sibuk, Lis. Lo aja dulu waktu ditinggal Kak Sinar juga nggak ada ngeluh. Tumben banget sekarang ngeluh karena Kakak lo nggak bareng lo?”


“Ya, kan agak aneh aja karena udah lama Kak Sinar bareng sama gue. Sekarang Kakak juga jarang chat sama gue. Kemarin terakhir ketemu waktu dia nemenin gue di resort..” Lisa berpikir sejenak. Mengingat kapan Kakaknya memberinya kabar.


“Kalian ada ngobrol, kan, pasti?”


Lisa menunggu jawaban. Hala terlihat diam sejenak dan anehnya, perempuan itu agak gelisah.


“Hmm.. akhir-akhir ini nggak, sih. Terakhir ketemu dan ngobrol malah waktu kita bareng ke comifuro..”


Lisa mengerutkan kedu alisnya dengan refleks. Itu aneh. Dia bersumpah pasti ada yang salah.


“Sumpah selama itu lo nggak ada kontakan sama kakak gue lagi?”


Ada raut yang aneh dan tidak yakin di wajah Hala. Penasaran, Lisa ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


“La-,”


“Lisa, ayoo sini. Mau main game buatan gue nggak?!”


Lisa baru saja ingin mengemukakan rasa penasarannya ketika teriakan Heksa mengejutkannya. Dia berbalik, melihat anak-anak lainnya yang sudah melambai padanya dengan antusias. Disana, ada Alpino yang tersenyum lebar seolah mengajaknya untuk segera bergabung dengan mereka. Noren yang berdiri di ambang pintu menaikkan salah satu alisnya seolah sedang menunggu. Meskipun raut wajah Noren terlihat kesal, namun lelaki itu sama sekali tidak berkutik yang aneh-aneh atau menjadi penganggu.


“Ayo, Lisa! Gue juga udah laper, nih. Kalau lo nggak cepat gabung sama Heksa, tuh anak nggak bakalan diem sampai kita di grebek tetangga” Hala tertawa, terlihat melarikan diri.


Lisa menghela napas, berusaha untuk tidak berpikir yang aneh-aneh. Hari ini dia akan bersenang-senang bersama teman-temannya. Hanya itu yang dia butuhkan untuk melepas semua kegelisahaan dan kesepiannya serta dari beban kerja yang menghalangi waktu bersenang-senang miliknya.


Dan dengan itu, ruangan game tempat bersantai dan home theater yang luas itu berubah menjadi tempat sempit dengan sorakan dan teriakan seperti binatang buas di tengah hutan. Perasaan aneh terlupakan. Bahkan, Noren pun terlihat ikut andil dalam kesenangan yang dibagikan oleh para dewasa muda yang saat ini terlihat seperti anak kecil dengan keseruan permainan mereka.


Anehnya, meski dengan ketidakhadiran Sinar ditengah-tengah mereka, Noren mampu berbaur dengan sangat baik hingga dia melupakan rasa kesalnya dengan kehadiran Alpino yang sangat lengket dengan sosok Nalisa. Bertumpuk dari bahu ke bahu seperti lem dan perangko.


Setidaknya, hari itu adalah hari yang baik. Meski beberapa di antaranya menelan rasa pahit dibelakang perasaan mereka masing-masing.


...🍁...


...Acara Kelompok; Presented by Noren - End...


.........


...🍁🍁🍁...


Halo, ini Choco lagi😁


Chapter ini sebenarnya lanjutan dari chapter sebelumnya karena Choco lupa kalau nt nggak bisa lebih dari 3k kata dalam 1 bab. jadi Choco pecah ke dua bab🤧


maaf ya karena bab nya terputus karena pengumuman, karena Choco nggak sadar kalau kebijakan 3k kata masih berlaku dan pengumuman di up di jam yang sama setelah Choco up chapter sebelumnya hehe🥲🙏


apapun itu, selamat membaca!!


sehat sehat buat teman teman readers semua❤❤❤