
“Fajri sama Jihan udah di dalem, paling cuma nungguin Hala sama Heksa yang lagi di jalan. Mungkin tadi kejebak lampu merah di belakang kita”
Suara Alpino menyapa teinganya ketika dia turun dari jok belakang motor yang sudah dihapalnya bagaimana empuk busa yang selalu menyapa bagian belakangnya dari seberapa sering Alpino mengantarnya dari sekian banyak waktu dengan menggunakan motor yang sama. Lelaki itu sekarang tengah memarkirkan motornya di area parkir café yang luas dan penuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat lainnya yang sedang singgah juga di lokasi itu. Tempatnya agak begitu penuh, namun Fajri, selaku sang pembuat acara perkumpulan malam ini berhasil mereservasi tempat untuk acara yang akan mereka adakan.
Biasanya mereka memang akan mengadakan pertemuan seperti ini di beberapa waktu kosong yang sengaja mereka luangkan untuk mempererat hubungan pertemanan mereka. Namun, dihari ini juga sepertinya adalah hari yang cocok untuk mengapresiasi dan membanggakan seorang Fajri yang telah sukses mendidik salah satu anak yang dia latih dalam bidang olahraga berhasil memenangkan sebuah turnamen voli tingkat nasional. Sebagai sahabat yang baik dalam sebuah pertemanan yang erat, Lisa sungguh merasa begitu senang dan bangga dengan pencapaian yang telah Fajri capai pada saat ini sehingga dia begitu menantikan skill story telling milik Fajri tentang bagaimana dia akan membanggakan pencapaiannya yang satu ini seperti sebelum-sebelumnya.
Itu adalah hal yang bagus, Lisa bahkan merasakan kepuasan tersendiri hadir ketika dia melihat sahabatnya kembali mencetak kesuksesan yang sangat baik .Dan lagi, untuk melihat Jihan menatap Fajri dengan mata hati yang perempuan itu selalu miliki untuk Fajri adalah apa yang tidak ingin Lisa lewatkan pada malam hari ini. Melihat kedua orang itu yang sudah jelas-jelas saling jatuh hati satu sama lain namun masih dalam tahap denial yang keras, membuat Lisa gemas bukan kepalang. Dia selalu bertanya-tanya, mengapa semua temannya memiliki kisah cinta yang menggemaskan dalam artian bahwa Lisa sangat ingin mereka semua cepat sadar dan bersatu sehingga hubungan yang nyata akan terbentuk dengan sempurna?
Mereka terlau keras pada diri mereka sendiri. Pikirannya mengatakan hal itu dengan keras.
“Oh iya” Lisa yang sadar bahwa Alpino berbicara padanya mulai menjawab dengan cepat. Dia agak kesusahan daalam menjaga tampilannya karena angin malam yang agak kencang malam ini belum lagi dengan bagaimana Alpino membawa motor dengan kecepatan yang berada di atas rata-rata. Dia jadi merasa ribet sendiri dengan tampilannya.
“Tadi aja gue nggak lihat mereka di belakang kita. Mungkin sebentar lagi juga sampai. Malam ini rame banget dari biasanya ya. Tumben banget sampai bisa bikin kemacetan kecil segala..” Dia menggerutu sembari sibuk untuk membuka helmnya sendiri.
Mungkin karena insting atau sudah seringkali terbiasa, tangan Alpino bergerak untuk membantu Lisa membuka helm yang dia kenakan dengan sentuhan yang lembut. Lisa diam tak bergerak dan membiarkan lelaki itu mengurusnya dengan baik Alpino yang memiliki senyuman yang manis dan agak konyol di wajahnya itu adalah pemandangan sehari-hari yang selalu Lisa lihat ketika mereka sedang bersama. Lisa tahu apa yang akan Alpino lakukan setelah helm di lepas dan diletakkan di atas tangki motor besarnya, tangannya kemudian akan kembali lagi dengan cekatan merapikan helaian rambut Lisa yang berantakkan. Menepuk dengan lembut disekitar mahkota kepalanya sebelum berbisik senang bahwa tampilan Lisa sudah rapi kembali.
Lisa menawarkan satu senyum dan cengiran lebar pada sahabatnya yang hanya mengangkat kedua alisnya mengerti dengan apa yang Lisa sampaikan hanya dari gestur.
“Mungkin emang lagi pada mau keluar sekarang kali, ya” Alpino bergumam seraya melirik ke arah sekitar dan kemudian pada jalan raya yang masih ramai kendaraan yang lalu lalang. Dia kali ini berbalik merapikan pakaiannya sendiri sebelum meregangkan tubuhnya yang agak kaku. “Sebentar lagi kayaknya juga udah sampai” Lanjutnya kemudian.
“Yaudah, ayo kedalam dulu. Jihan sama Fajri mungkin udah lama nungguin kita. Telat sepuluh menit soalnya, sih” dia bergumam ketika melihat jam yang tertera di ponsel miliknya dengan wallpaper foto dirinya dan Sinar di ladang dandelion yang indah disuatu-waktu saat pertamakali Lisa tinggal bersama kakaknya dalam waktu yang lama di Jepang.
Ketika Alpino mengangguk untuk mengiyakan, mereka kemudian berjalan masuk beriringan kedalam café yang hangat dengan biasan lampu kuning yang tidak menyakitkan mata. Interior yang lembut dan segar juga terlihat sangat memanjakan mata. Alunan musik yang sedang naik daun dari Secret Number yang Lisa pernah dengar beberapa waktu belakang dengan judul Love, Maybe menyapa telinganya.
Lisa tersenyum, dengan senang hati mengikuti ritme musik yang candu di telinganya. Dia tahu Alpino memperhatikan, jadi dia hanya melirik ke arah sahabatnya dan memberikan seringai yang tahu. Alpino Hanya berdecih geli dengan sedikit kekehan sebelum dia mengarahkan Lisa untuk segera naik ke lantai tiga di mana kedua temannya yang lain sudah menunggu.
Itu adalah ruangan terbuka dengan payung-payung transparan dan lampu peri yang didekor sedemikian rupa untuk memanjakan mata para pengunjung. Naik hanya untuk berbelok ke kiri sedikit, Lisa dan Alpino sudah bisa menemukan Fajri dan Jihan yang terlihat sedang mengobrol seru dengan candaan yang terlihat seperti sangat lucu sekali. Lisa menahan diri untuk tidak terlalu bersemangat dengan interaksi yang mereka sajikan di depan matanya, dia meilih untuk melambai dan memanggil keduanya dengan bersemangat.
“Oh, Lisa sudah datang! Ayo, sini, sini!” Jihan membalas lambaiannya dengan bersemangat. Perempuan itu segera berdiri dan menyapa Lisa dengan pelukan erat sebelum membawanya duduk bersebelahan dengannya. Alpino menyapa di belakang, memepertemukan kepalan tangannya dengan Fajri sebagai salam pertama sebelum menyapa Jihan dengan caranya yang khas, yaitu mengolok-olok perempuan itu dari peampilannya yang bisa dibilang sangat feminm untuk acara malam hari ini.
“Lo jangan nyari ribut sama gue, ya malam ini, Al” Itu geraman pertama yang didesiskan Jihan saat Alpino hanya tertawa dan mengambil tempat duduk di sebelah Fajri dengan cepat. “Jangan kira gue pake dress gini nggak bakalan bisa duel bareng lo sekarang juga”
“Waduh, ngeri banget, boss. Gue mundur, deh, ga boleh ganggu yang lagi senggol bacok” Bukan Alpino namanya jika dia tidak mencari keributan dengan Jihan. Perempuan yang mudah tersulut emosinya jika sudah menyangkut Alpino itu mulai terpancing.
“Lo mau ngerasain heels gue sebagai makanan pembuka, ya, Al?”
“Gue nggak salah denger, nih? Lo pake heels, Ji? Kaki lo bisa kerjasama dengan yang gituan ya?”
“Anj-“
“Kalian kalau mau bertengkar jangan disini deh, jangan bikin gue naik darah dan ngelempar kalian dari sini sekarang juga”
Suara final dari Fajri membuat Jihan cemberut dan mengurungkan niatnya untuk hanya melempatkan heels yang dia pakai tepat pada wajah Alpino dan mungkin hanya akan membuatnya beringas dan memaksa lelaki itu untuk menelan heelsnya malam ini juga. Tapi, karena Fajri sudah angkat suara, dia tidak bisa dan tidak ingin mengacaukan lebih jauh.
“Nggak asik, ah. Pawangnya udah cepat banget ngejinakin. Gue lagi seneng mau godain Jihan, Jri, jangan ganggu gue!”
“Diem lo, monyet. Jangan rusak malam gue”
Pukulan keras di belakang kepala Alpino adalah apa yang menyapa telinga mereka. Ringisan Alpino kemudian bergema sebelum mereka mulai beradu argument yang tidak terlalu berat disana. Segalanya adalah olok-olokan yang sama seperti biasanya ketika Fajri akan membelokkan kegilaan Alpino dari hanya mengambil pertengkaran dengan Jihan pada dirinya sendiri. Karena jika tidak seperti itu, Jihan akan mengambil hal ini dengan serius dan itu tidak cocok untuk tujuan dari pertemuan mereka malam ini.
Dengusan Jihan yang sedikit lebih tenang dari kekeselannya dapat Lisa rasakan dari seberapa dekat perempuan itu duduk disebelahnya. Lisa menawarkan senyuman kecil ketika Jihan sudah sepenuhnya berbalik padanya, bersiap untuk mempertanyakan hal-hal lain yang bisa membangkitkan suasana segar dan ringan yang cocok dengan acara malam ini.
“Ini pada belum datang, ya? Hala dimana? Bukannya kalian bareng berempat?” Meskipun Jihan memusatkan seluruh perhatiannya pada Lisa, perempuan itu masih bisa dengan cekatan memberikannya sebuah gelas berisi minuman dingin yang sudah dipersiapkan disana. Dari baunya Lisa bisa menerka itu adalah sari anggur manis kesukaan perempuan itu. Lisa menerimanya dengan senang hati.
“Kecebak macet kayaknya, sih, Ji. Malam ini lumayan macet soalnya. Kayaknya pada punya acara juga kayak kita deh orang-orang hari ini” Dia tertawa, menjawab dengan sedikit candaan.
“Berarti mereka juga lagi rayain keberhasilan anak didik mereka menang turnamen nasional dong kalau acaranya kayak kita gini” Jihan, dengan selera humor perempuan itu yang cukup unik, membalasnya dengan seringaian konyol di wajahnya.
“Ya, bukan gitu juga konsepnya, Ji”
Dia mendengus tawa. Mengangkat gelas minumannya pada Jihan yang dengan cepat mempertemukan gelas miliknya sendiri untuk membuat dentingan khas antara dua gelas kaca. Ada percakapan yang langsung tersuguh dengan lancar di antara mereka berdua. Banyak cerita yang dengan senang hati Jihan ceritakan dengan semangat menggebu. Perempuan dengan mata sipit yang cantik yang selalu Lisa samakan dengan mata naga putih di sebuah movie yang ia tonton itu selalu bisa membuat Lisa kewalahan dari seberapa banyak cerita menarik yang bisa dia ceritakan padanya.
Mereka mulai tenggelam dalam pembicaraan ketika di pertengahan acara Hala dan Heksa bergabung menambahkan suasana menjadi lebih ramai lagi. Heksa yang selalu bisa membuat kegaduhan jika dicampur dengan Alpino dan Fajri, mulai membuat segalanya menjadi lebih riuh. Mereka membahas hal-hal random dan beberapa pukulan dan umpatan mulai terdengar di sana-sini.
“Ini serius acara kita malam ini All You Can Eat, kan? Gue bisa makan sepuasnya dong disini?” Heksa, dengan semangat menggebu merangkul Fajri dengan erat. Lelaki yang dirangkul dengan heboh itu berusaha untuk meloloskan diri dari cengkeraman maut yang menyerangnya. “Semuanya pure pake duit lo, kan? Gila, makan banyak gue malam ini, gratis lagi. Makasih sahabat sultan gue~”
“Lo dateng dateng sumpah lebih ngerusuh daripada Alpino, nyet. Lepasin gue, su!”
“Ah, elah, lo nggak seneng apa dapat pelukan sayang dari sahabat lo yang keren gini? Sayang banget gue sama lo, Jri. Ini lo mendadak kaya gimana dah? Kalau misalnya gara-gara anak didik lo berhasil menang di turnamen nasional, sering-sering gini, deh. Seneng banget nih gue” serunya lagi kemudian.
“Salah banget ini gue ngundang lo emang. Al, lepasin ini temen lo dari gue! Bisa-bisa mati kehabisan napas gue, anjir!”
“Tapi gue juga pengen nempel sama lo malam ini, Jri. Soalnya dompet gue aman dan perut gue kenyang. Makasih banyak ya sobat gue yang mendadak kaya~ Sini gue tambahin pake cium, sini Fajri, sini~ Muah~ Muah~”
“SINTING! LEPASIN GUE ANJIR!! ENYAH KALIAN SEMUA”
Tipikal teman-temannya yang sudah menggila jika berkumpul satu sama lain adalah pemandangan yang membuat Lisa merasakan betapa dia merasa kebahagiaan yang sederhana dan kehangatan di dadanya ketika melihat interaksi mereka bersama yang terlalu erat. Jika bisa dikatakan bagaimana dia dan yang lainnya saat ini tertawa dengan adegan-adegan yang menjadi tontonan menyenangkan dan mengocok perut di matanya, adalah apa yang membuatnya selalu bersemangat dan merindukan pertemuan kelompok mereka di waktu-waktu mereka masing-masing yang seringkali sibuk dengan kerjaan. Belum lagi akhir-akhir ini Alpino juga seringkali absen dari kegiatannya mengantar-jemput Lisa atau bahkan berkumpul hanya berdua saja untuk berjalan-jalan di sore hari setelah kerja. Atau bahkan hanya diam di kos Alpino dan menonton lelaki itu mengedit foto dan video dari pekerjaanya.
Memikirkan kembali waktu-waktu kosong yang ia jalani, itu semua dipenuhi dengan satu orang yang lain dan tidak bukan adalah Noren sendiri. Lisa diam sejenak ketika dia sadar dan mengingat kebelakang bagaimana harinya yang selalu ditemani oleh Noren dan bukan Alpino atau teman-temannya yang lain. Bahkan dengan Hala pun, bisa dihitung dengan jari karena pekerjaan mereka yang juga akhir-akhir ini meningkat begitu saja.
Mengingat Noren, dia tiba-tiba menyadari bahwa dia sudah mengundang begitu saja Noren kedalam pertemuan kelompok ini. Dia meringis, tahu bahwa dia belum memberitahukan hal ini kepada teman-temannya. Dan juga tentu saja, seharusnya dia mengatakan pada Fajri yang membayar bahwa dia membawa orang tambahan dalam acara mereka. Diam-diam, dia merasa gelisah. Apakah Fajri akan keberatan dengan hal ini?
Lisa tiba-tiba merasa tidak enak dengan apa yang otak impulsif nya lakukan. Dia mungkin sudah melakukan hal yang bodoh saat ini.
Oh, Nalisa. Apa yang sedang kau lakukan? Mempersulit diri sendiri?
Ah, teserahlah. Lisa bisa membayarkan makanan untuk Noren. Dia yang harus bertanggung jawab tentang hal ini karena dia yang mengajukannya secara sepihak tanpa persetujuan, kan? Tidak apa-apa, dia akan mengatakannya pada Fajri nanti.
Lisa menggigit bibir bawahnya, agak gugup dan membodohi dirinya sendiri. Kenapa dia melakukan hal seperti itu juga tanpa memberitahu teman-temannya? Dia pasti sudah dikutuk. Noren pasti sudah mengutuknya dan menghipnotisnya begitu saja. Itu pasti! Benar, kan?
Dia membuka ponselnya untuk melihat percakapannya terakhir dengan Noren dimana dia membagikan map lokasi tempat café berada dan dimana mereka akan bertemu. Lisa bahkan tidak sadar bahwa dia begitu santai dalam bertukar pesan dengan lelaki itu.
Tapi apalagi yang dia pikirkan selain pada kenyataan bahwa;
“Oh, iya, Lisa. Bang Sinar bisa datang, kan? Nggak bentrok sama jadwal kerjanya?”
Ya. Tentu saja. Itu adalah kehadiran Sinar yang membuatnya secara impulsif mengundang Noren ke acara kumpul-kumpul mereka. Waktu itu dan bahkan sampai tadi sore dia hanya memikirkan bahwa tidak masalah mengundang Noren untuk datang karena akan ada kakaknya yang hadir juga di acara. Mengingat Noren adalah sahabat kental kakaknya, dia hanya berpikir dengan cepat bahwa kakaknya mungkin akan senang juga dengan kehadiran Noren disana.
Lagipula, Lisa merasa bahwa dia dan Noren sudah menjadi lebih dekat dan hubungan mereka sudah dalam tahap yang baik meskipun mereka sering bertengkar di beberapa waktu dan Noren seringkali membuat kepalanya pecah atau mempermalukan dirinya dengan pengakuan cinta yang berlebihan sehingga rasa malu itu adalah hal biasa yang dia dapatkan dalam kejutan hidupnya di hari-hari tertentu yang seperti neraka berjalan.
Noren, dalam hidupnya mungkin sudah seperti, entahlah;
Teman?
Apakah itu kata yang cocok untuk menggambarkan kedekatan mereka dari seberapa banyak waktu yang mereka habiskan bersama akhir-akhir ini?
Lisa hanya berharap pemikirannya kali ini tidak akan membuatnya gila dan menghancurkan malam yang sangat baik ini. Tiba-tiba saja, dia merasa gugup dan jengkel.
“Lisa?”
Dia yakin, dia pasti telah di cuci otaknya oleh Noren di suatu waktu tertentu diantara pertemuan mereka yang terkadang agak gila.
Ya, Pasti itu, kan?
Tapi jika Lisa mengatakannya seperti itu, dia tidak merasa bahwa dia terpaksa untuk mengajak Noren pada hari ini untuk datang. Dia hanya merasa itu wajar untuk mengajak lelaki itu datang karena dia adalah sahabat Sinar yang juga diundang dalam pertemuan kelompok. Apakah alasan mengundang Lisa untuk menemani kakaknya tidak bisa dijadikan sebagai sebuah alasan yang bagus?
Yah, jika memikirkan tentang bagaimana kakaknya pasti akan mencoba untuk melakukan pendekatan dan menggoda Hala pada malam hari ini adalah apa yang akan kakaknya lakukan dengan pasti, kehadiran Noren pastilah sangat tidak dibutuhkan, kan?
Hidup penuh kejutan, itulah yang dia pikirkan sebelumnya. Terkejut dengan tindakan yang dia ambil sendiri juga merupakan kejutan aneh lainnya dalam hidup yang jungkir balik. Lalu, jika Lisa merasa dia tidak menyesal telah mengundang Noren kedalam pertemuan kelompok ini, apakah itu merupakan kejutan lain yang harus dia pikirkan dengan keras tentang kewarasannya yang sedang dia jalankan saat ini?
Noren adalah teman kakaknya yang diundang dalam acara malam ini. Dan dalam kepercayaannya yang lain, dia perlahan-lahan sudah mulai menganggap dan menempatkan Noren di dalam status yang sama sebagai seorang teman.
Teman lain dan teman dekat dalam kelompok jika dijadikan satu, bukankah akan menjadi lingkaran teman yang lebih besar dan mungkin akan lebih menyenangkan kehadirannya?
Lisa hanya berharap dengan sangat bahwa Noren tidak akan menjadi orang yang menyebalkan malam ini. Dia berharap penuh pada Noren dan jika itu tidak berhasil hanya dari harapan dan doa yang dengan cepat ia panjatkan, dia bersumpah akan membuat Noren mengalami neraka yang sama dengan apapun yang juga ia rasakan ketika Noren mulai berulah.
Lisa akan memastikan itu terjadi.
“Uh,” dia memulai dengan ringisan. Jari telunjuknya menggaruk pipinya dengan gerakan lambat sebelum memberikan senyuman yang agak dipaksakan dan mengkhawatirkan.
“Kenapa? Bang Sinar nggak bisa datang, ya?” Fajri, dengan rasa penasarannya yang tinggi dan mungkin sudah agak menerka-nerka bahwa undangan yang ia tujukan untuk Sinar tidak akan mampu membuat orang yang lebih tua itu datang.
Tapi tentu saja itu salah besar karena Sinar dengan senang hati akan meluangkan waktu untuk menghadiri acara apapun yang dibuat oleh kelompok kecil temannya dengan tujuan menghabiskan waktu untuk menggoda pujaan hatinya yang juga berada disana. Dan juga, tidak menutup fakta bahwa lelaki yang tidak mempunyai banyak teman itu senang jika bergaul bersama dengan Alpino, Heksa dan Fajri. Dia tidak akan melewatkan kesempatan ini sama sekali.
“Dateng, kok. Gue udah pastiin Kak Sinar dateng. Dia juga ga bakalan bilang nggak kalau ada acara kayak ginian, kan?” Lisa menutup keresahannya dengan tawa.
“Oh, baguslah kalau gitu. Gue kira kerjaan Bang SInar banyak sampai nggak bisa dateng. Gue soalnya juga lagi pengen ngomongin soal basket sama dia. Abang lo dulu pernah jadi kapten tim basket sekolahnya, kan, ya, sebelum fokus ke bisnis?”
Lisa mengangguk, mengiyakan apapun yang dikatakaan Fajri dengan menggebu-gebu.
Menghela napas, Lisa merasakan adrenalin yang datang padanya berangsur-angsur mereda. Tentu saja dia sekarang, dengan angin dingin yang menyegarkan kepalanya, dia bisa berpikir lebih jernih dari apapun yang membuatnya kalut.
Kali ini, Lisa yakin bahwa dia tidak sedang melakukan kesalahan dengan mengundang Noren untuk datang ke acara mereka. Hitung-hitung, Lisa juga membayar apapun yang Noren keluarkan untuknya dari seberapa banyak pertemuan mereka. Lagipula, dia juga ingin menempatkan hubungannya dengan Noren di zona yang lebih cocok untuk mereka berdua.
“Jri, sebenernya gue lupa mau bilang ini ke lo. Maaf, ya”
Fajri memperhatikan dengan bingung. Begitu juga dengan semua anggota yang berada disana.
“Loh, kenapa?”
Mengangkat tangannya untuk menyingkirkan helaian rambutnya yang menghalangi mata, dia tersenyum dengan ringisan yang tertera di wajah sebelum dia memberikan cengiran permintaan maaf.
“Sebenernya gue ada ngundang satu orang lagi buat gabung sama kita. Tapi serius, nanti gue yang ikut bayar bagiannya dia. Lo jangan khawatir, ya? Serius ini gue”
“Hah?”
“Lo ngundang orang lain di pertemuan kelompok kita, Lisa?” Kali ini Alpino yang bersuara. Lisa bisa melihat bagaimana raut keterkejutan hadir di wajah sahabatnya.
Lisa mengangguk dengan mantap, namun tangannya ia geser untuk hanya menepuk paha Alpino menenangkan. Dia tidak tahu kenapa, itu hanya refleks dan kebiasaannya saja dari seberapa lama dia bersama dengan lelaki itu.
“Sebenarnya bukan orang lain, sih” Lisa bergumam kecil, helaan napas dia ambil sebelum melanjutkan;
“Gue ngundang-,”
“Gue nggak tau kalau lo ngundang Noren ke acara anak-anak, Dek”
Tentu saja, itu Sinar yang datang dengan tiba-tiba di waktu yang entah bisa dibilang baik atau tidak. Tapi, disanalah dia berdiri, Noren yang menawarkan senyumannya dan sapaan penuh percaya diri ke dalam kelompok yang saat ini diam dengan keterkejutan mereka masing-masing.
“Loh, Kak Noren?”
“Hai. Makasih ya, udah bolehin gue buat gabung bareng kalian. Jadi, siapa tuan rumah malam ini? Gue belum dikasih tau sama Lisa soalnya…”
Malam ini, akan menjadi malam yang baik.
‘kan?
.........
...🍁...
...Feels Like Dejavu But Not At The Same Time - End...
.........
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
Aku: gimana caranya agar bisa menjadikan cerita ini penuh dengan drama dan sangat mendramatisir... 🤡🤡🤡
also, aku: gimana caranya agar berhenti memperlambat alur cerita 😀😀😀 /nangis😭/
btw terimakasih sudah membaca sampai disini dan memberikan dukungan pada karya milik Chocooya🥰
Enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Dara, nih!
Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA DARA...
...JUDUL: MENDADAK NIKAH...
Berniat memasang bubu Zena malah menemukan sesosok pria
yang pingsan di tepi sungai, lantas ia dan neneknya menolong pemuda tersebut. Suatu hari pria yang bernama Satya itu ingin membalas kebaikan orang yang telah menyelamatkannya, namun siapa sangka yang dilakukannya malah berujung petaka. Membawa pada sebuah kesalahpahaman yang mengharuskan Zena dan Satya menikah hari itu juga. Setelah pernikahan, Satya memperlakukan Zena dengan sangat baik hingga hal itu perlahan membuat sang istri jatuh cinta. Namun suatu kebenaran membuat Zena harus menelan pil pahit, karena Satya ternyata sudah punya kekasih. Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah perasaan Zena akan terbalas? atau dia hanya menjadi peran antagonis di kisah cinta suaminya?
Selamat membaca🥰