Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Mesin Capit dan 20 Pertanyaan Part.1



Seharusnya Lisa tahu bahwa dia tidak harus bersusah payah untuk mencoba sesuatu ketika ucapan Noren mutlak adanya. Seharusnya juga dia tidak lupa bahwa Noren mampu untuk melakukan apapun sesuai dengan keinginannya. Sejauh apapun Lisa berusaha, itu memperlihatkan bahwa Noren akan mengambil banyak cara untuk membuat usaha Lisa sia-sia semata.


Garis bawahi, dengan cara apapun itu.


Nalisa seharusnya melihat hal itu datang ketika Hala mengatakan bahwa dia tidak bisa ikut pada acara makan siang untuk menemani sahabatnya. Tentu saja itu juga ada menunjukkan ada hubungannya dengan Sinar yang tiba-tiba menyapa wajahnya ketika dia turun ke basement bersama dengan Hala yang merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi permintaan Lisa. Perempuan itu sudah memiliki janji lain dengan kakaknya yang memberikan seringaian cerah mengalahkan matahari terik di siang hari ketika lelaki itu melambai dengan begitu ceria.


Hal itu juga di hadiahi dengan kehadiran Noren yang muncul di sebelah Sinar begitu saja seolah dia ingin menunjukkan bahwa dia ikut hadir siang itu. Melihat dari bagaimana raut wajah kemenangan Noren terpeta dengan jelas, Lisa pasti tahu ini adalah akal-akalan Noren untuk memastikan bahwa mereka akan melakukan kencan makan siang sesuai dengan ucapan lelaki itu semalam.


Sial! Giovanno dan segala akal liciknya. Noren sungguh bisa disamakan dengan seekor rubah.


Yah, apapun. Lagipula, Lisa sudah berjanji dan dia harus menepatinya. Tidak apa-apa, rencananya pasti akan baik-baik saja, dia juga sudah melepaskan rasa kesal dan emosinya pada Ola malam tadi, jadi hari ini dia akan baik-baik saja dengan kejadiran Noren. Tentu seperti itu keadaan seharusnya ketika dia memastikan bahwa dia bisa menjadi dirinya dan bersabar untuk mengatakan; Ya sudahlah. Semuanya akan baik-baik saja dan aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk bertengkar.


Jadi disinilah dia berakhir, mau tidak mau, ingin tidak ingin, terpaksa atau tidak. Dia akan berakhir di suatu tempat yang sudah ditetapkan tanpa dirinya ikut campur dalam suara untuk memilih, dengan sosok Noren yang duduk santai berhadapan dengannya dan senyum yang tidak pernah luntur akhir-akhir ini ketika Lisa melihatnya. Yang mengejutkannya, itu adalah salah satu restoran Korea yang tidak pernah sepi pengunjung. Yah, dia tidak akan mengeluh tentang ini sama sekali.


“Jadi, kenapa kamu nggak bawa Hala buat makan bareng kita sekarang?”


Lisa yang baru saja membuka buku menu yang disajikan kepadanya merasa lengah dengan tiba-tiba. Dia mengangkat kedua alisnya untuk menunjukkan wajah tidak terkesan.


“Lo serius nanya gitu?”


Dia menggertakkan giginya, bosan pada keisengan Noren yang membuatnya sekali lagi tidak lupa untuk membuat perisai sabar di depan tubuhnya secara imajiner. Dia harus santai dan senang dengan makan siang kali ini karena tanpa sadar Lisa sudah mengidam Jjampong dan King Cheese Mandu yang menarik matanya dengan gambar yang tersaji ketika pertamakali dia membuka buku menu tersebut. Mungkin, memesan Bul Yangyeom Chicken sebagai pelengkap. Tiba-tiba perasaannya terangkat dengan penuh rasa gembira.


Lisa sadar Noren memperhatikannya karena dia tidak mengusik tawa mengejek dari lelaki itu. Dia sudah terlalu banyak memikirkan apa yang ingin dia pesan sebagai dessert dan minuman yang cocok untuk menemani Jjampong pedasnya.


“Semangat banget ngeliat buku menunya, Dek”


Suara senang Noren yang tiba-tiba mengusik telinganya membuat Lisa agak terkejut. Dia mengangkat wajahnya yang tenggelam dari buku menu untuk keseluruhan mengalihkan atensinya kepada sang lelaki. Lisa mendengus sedikit sebelum mengangguk untuk sebuah jawaban.


“Gue kaget lo milih tempat makan siang disini. Emang biasanya juga makan siang beginian, apa?” Lisa memilih bertanya daripada meyakinkankan jawaban gestur sebelumnya.


Dia sudah menentukan menu sejak pertamakali membuka menu, jadi, dia menyerahkan menu itu kembali kepada Noren agar lelaki itu bisa memilih dengan cepat. Dia sudah membayangkan mandu yang lembut dan pedas dari Jjampong juga ayam pilihannya. Tidak peduli bahwa nanti dia akan mendapatkan perut yang sakit karena pilihannya, dia hanya ingin menikmati sajian yang diberikan yang membuat air liur menggumpal di dalam mulutnya.


“Nggak sih, ini pertamakali aku kesini. Aku juga kalau makan nggak begitu pemilih meskipun biasanya datang ke Resto Prancis atau Jepang, Atau buat sendiri”


Lisa mengerjap ketika dia mendengar penuturan terakhir dari Noren. Ah, Lisa menggeleng. Dia tidak akan membuka mulutnya untuk bertanya apakah Noren benar-benar memasak untuk dirinya sendiri atau dibuatkan okeh koki atau assistant rumah tangganya. Dia akan diam, tidak akan bertanya untuk kepuasan lelaki itu.


“Oh,” Lisa mengangguk tanpa minat sebagai jawaban terakhir. Perempuan itu memiih untuk fokus pada udara disekitar yang membawa aroma makanan yang khas, juga bagaimana manis dan segarnya patbingsu di meja beberapa pelanggan lain. Senyumnya merekah dengan senang sehingga dia diam-diam bersenandung.


“Jadi, lo milih makan disini khusus buat gue? Pasti informasi dari Kak Sinar lagi, iya, kan?” Menggoyangkan kepala dan bahunya sebagai reaksi dari apa yang dikatakannya seolah dia benar-benar tahu jalan yang di ambil Noren seperti biasanya. Tidak ada yang spesial.


Noren tertawa kecil. Dia meletakkan buku menu sebelum mengangkat tangannya untuk memberi kode pada waitress bahwa mereka siap memesan. Seorang perempuan yang sekitar berusia sama seperti mereka datang dan menawarkan senyum sebagai sapaan awal sebelum dia mengambil buku menu dan meminta pesanan apa yang sudah mereka tentukan.


Untuk kesenangan Lisa, dia mengabaikan Noren dan membuka suaranya terlebih dahulu untuk menyuarakan pesanannya. Tentu saja, dengan kapasitasnya menyukai banyak makanan favorit, maka menu yang dia sampaikan beragam macam rupanya. Noren terlihat kagum dari seberapa bahagianya Lisa dengan hanya pesanan makanannya saja.


Benar kata orang, ambil hati seorang perempuan dengan makanan. Hal yang paling ampuh untuk melihat bagaimana mereka bahagia dan puas.


“Satu Jjampong plus tambahan bubuk cabe, satu King Chesee Mandu dan satu Bul Yangyeom Chicken. Minumnya Ice Jeju Tea dengan tambahan es dan buat dessertnya Sakura Bingsu. Untuk dessertnya dikeluarin terakhir aja, ya, Kak”


Perempuan yang mencatat pesanan Lisa tersenyum dengan senang hati seraya mengangguk. Dia mengatakan ulang pesanan Lisa untuk memastikan sebelum beralih pada Noren untuk menerima pesanan dari yang lain.


“Satu Bibimbap dan Eomukguk. Untuk minumannya Seoul Black Cofee Pot”


“Ada tambahan dessert, Pak?”


Noren menggeleng dengan tenang. “Itu saja” lanjutnya kemudian.


“Baik. Pak” sang waitress mengangguk. Dia menutup buku catatannya sebelum menunduk sedikit sebelum undur diri. “Untuk dessertnya, jika sudah ingin di keleuarkan, bisa panggil waitress lain yang berjaga. Terimakasih dan mohon tunggu sebentar untuk pesanannya, ya” Lalu ada senyum keramahtamahan yang diberikan sebelum perempuan itu bergegas menyerahkan menu pesanan mereka.


“Sedikit banget makan, lo, Kak. Kalau emang ga suka mananan beginian, ya, mending cari tempat lain, sih” Lisa mengomel tiba-tiba tanpa bisa dia cegah. “Lagian lo maksain banget ngikutin rekomendasi Kak Sinar. Dih” Lagi, dia utarakan pendapatnya ketika dia menggulir ponselnya setelah melirik Noren dengan sudut matanya.


Lelaki itu lagi-lagi terkekeh. Tak henti untuk mengatakan bahwa dia takjub dengan apapun yang sedang Lisa tunjukkan dihadapannya.


“Kamu tuh, ya. Kenapa, sih, suka beropini sendiri? Siapa juga yang bilang kalau aku maksain diri? Aku juga nggak tanya ke Sinar kesukaan kamu apa. Ini emang bener aku yang pure usaha sendiri, loh.” Noren terdengar sangat senang saat Lisa kembali menatapnya dengan tatapan menghakimi yang tidak dipercaya.


“Tadi sekitar jam Sembilan aku udah makan beberapa makanan ringan Soalnya ada meeting dengan salah satu klien dari Amerika. Dia pengen coba makanan daerah sini, jadi aku temenin dia buat nyari makan. Engga enak dong kalau aku ngebiarin dia makan sendiri?” Dia mulai menjelaskan meskipun Lisa sama sekali tidak meminta kejelasan apapun.


“Dan juga, aku ngak tanya Sinar untuk milih lokasi kencan makan siang kita ini” Lisa mendecih kata kencan dengan tanpa bisa dia tahan dalam bisikan. Meskipun begitu dan menarik atensi dari Noren sendiri, lelaki itu hanya mengabaikannya dan lebih fokus dengan kelucuan yang Lisa berikan dari ekspresinya.


“Inget nggak pertamakali kita jalan ke kedai tteokbingsu yang kamu suka? Waktu milih mau di resto mana dan sekiranya ngelihat menu apa yang kamu suka, aku jadi kepikiran waktu itu”


Lisa terllihat agak terkejut ketika dia mendengar penuturan Noren. Lelaki itu bahkan ingat nama makanan yang dia campuradukkan dan pilihan pesanan pedas-manis miiknya. Lisa tiba-tiba merinding entah dari mana dan dia sungguh takjub dengan bagaimana Noren bisa mengingat itu semua hanya tentang seorang Nalisa.


Rasanya agak aneh dan membuatnya merinding. Noren sungguh berada di level lain sebagai seorang asing yang berusaha menarik dirinya untuk jatuh ke lubang romansa yang sedang dia gali dan ciptakan dengan banyak usaha yang Lisa harapkan akan berhenti ditengah-tengah jalan.


“Sumpah, lo masih inget aja yang waktu itu. Padahal udah lama banget” Dia memutar matanya dengan malas untuk menutupi bagaimana dia sedikit takut dengan dedikasi lelaki itu. Tapi tentu saja, dia adalah perempuan yang gigih. “Kalau lo Alpino atau temen-temen gue yang lain, sih, gue nggak masalah. Tapi gue bahkan kenal lo nggak lebih dari hampir tiga bulanan, ya, Kak”


“Aduh gimana, ya, Lisa” dia meringis main-main, menutupi bagaimana ada sedikit ketidaksenangan ketika Lisa menyebutkan nama Alpino. “Percaya aja kalau itu namanya kekuatan cinta”


“DIH! Muntah paku gue lo nyebut begituan!” Perempuan itu hampir histeris bahkan sebelum Noren berhasil untuk berucap lebih. “Diem! Jangan ngomongin gituan atau gue enyah dari sini! Aduh, gue merinding sekujur tubuh! Gila, lo”


Kali ini, tawa kepuasan Noren tidak dia sembunyikan dengan diam-diam. Lelaki itu terlihat sangat geli ketika dia memperhatikan bagaimana Lisa membuat wajah horror dan kedua tangan yang memeluk dirinya sendiri. Untungnya, lantunan music K-pop yang diputar keras di restoran tersebut bisa sedikit menyamarkan suara tawa itu dan tidak terlalu mengganggu pelanggan lain.


“Jangan gemes gemes kenapa, dek? Rasanya jadi cepat ingin memiliki akunya”


Lisa melotot, “Nggak usah mimpi, lo!” semburnya dengan cepat kemudian.


Lisa tidak ingin membayangkan apapun yang Noren bayangkan karena dia tidak akan terpengaruh oleh lelaki aneh itu. Apakah sekiranya Lisa benar-benar sanggup hanya untuk mengikuti Noren kemanapun dan menyerah dengan emosinya sendiri yang gampang tersulut?


Dia hanya ingin berdamai dengan perasaannya dan membuat Noren menyerah. Tetapi kenapa rasanya seperti dia melewati cobaan yang begitu berat hanya untuk mengenyahkan lelaki menyebalkan itu?


……


Itu adalah Jumat malam yang tenang. Lisa, setelah melewati makan siang empat hari yang lalu dengan Noren benar-benar harus memikirkan ulang permasalahan hidupnya yang semakin kacau. Meski setelah acara yang sebenarnya menyenangkan karena makanan yang dipesannya sedikit meluluhkan hatinya, kebiasaan Noren yang senang sekali untuk menggodanya selalu menjadi sesuatu yang membuatnya ingin menjambak rambutnya saat itu juga.


Di hari itu, mereka makan sambil saling mencemooh satu sama lain. Yang berbeda adalah, cemoohan yang Lisa keluarkan adalah hal-hal sarkastik yang setelah dia pikir lagi dia penasaran dengan apakah Noren merasa sakit hati dengan lisannya yang tidak bisa dia filter ketika berada di sekitar lelaki itu.


Sedangkan cemoohan yang Noren berikan padanya adalah seringai menggoda dan beberapa pick-up line chessy yang menyebalkan dan membuatnya merinding. Noren memang memiliki banyak kata-kata pujian yang membuat Lisa mempertanyakan apakah dirinya memang seperti itu atau lelaki itu hanya melebih-lebihkan saja. Tapi sebagian besar yang dia keluarkan dari bibirnya yang seperti sudah tidak bisa di sumbat dengan penyumbat apapun adalah kata rayuan menyebalkan dan tidak pada tempatnya.


Sebenarnya dari semua itu, ada yang membuat Lisa bertanya-tanya. Karena, kapanpun dia merasa ucapannya sudah melebihi batas dan mungkin tidak bisa diterima oleh dirinya sendiri, dia akan bertingkah aneh dengan membuat keheningan canggung yang aneh dan mengalihkan wajahnya ke arah lain. Dia bahkan akan menggumamkan sesuatu dan melambatkan kunyahannya.


Lagi, Noren adalah sosok licik, menyebalkan dan tentu saja sangat aneh dan pemaksa. Jangan lupakan kekeras kepalaan yang dia miliki. Lisa mungkin hanya membaca lebih jauh kebiasaan yang tiba-tiba dua sadari sedikitnya. Dia mengingatkan dirinya untuk berhenti dan tidak berpikir apapun tentang lelaki itu sama sekali.


Empat hari kemudian mereka sama sekali tidak bertemu karena Noren memiliki beberapa masalah bisnis dan urusannya sehingga dia diharuskan untuk mengurung diri dalam gedung perusahaannya. Sinar juga tanpa dia minta memberikannya sedikit informasi bahwa Noren memiliki pertemuan luar kota dengan salah satu klien lama miliknya yang sama sekali tidak ingin Lisa tahu.


Seharusnya kakaknya itu sadar diri bahwa, tidak ada Noren berarti hari bebas tanpa gangguan untuknya.


Dia tertawa ketika dia tahu bahwa dia bebas karena tidak akan mekihat wajah itu dalam waktu dekat. Untuk empat hari berharganya, dia merasa sangat bersemangat dan mampu melakukan apapun. Dia bahkan bisa menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan sendirian sesuai dengan kesukaannya.


Dan itu adalah malam ini. Dia akan melakukan jogging santai dan mengunjungi salah satu jalanan yang diberi nama Jalan Surga. Warga menamainya begitu karena itu adalah salah satu jalan yang berpusat pada salah satu minimarket kecil dengan harga murah dan disepanjang jalan akan adanya tenda-tenda makanan dan pejaja dagangan kaki lima. Biasanya juga, di Jalan surge ini banyak orang yang melakukan Hunting Street Food. Mereka juga menyediakan beberapa stan game di depan ruko yang tidak buka 24 jam.


Jadi, dalam waktu bebas yang dia miliki dalan kesenangan hati yang membuncah, Lisa ingin pergi kesana. Mungkin hanya membeli tahu bulat dan sotong dengan bumbu pedas asin atau bahkan mungkin dia akan berburu sate cumi dan telur gulung. Memikirkannya saja Lisa semangat Lisa sudah membuncah dua kali lipat lebih banyak.


Malam ini, Sinar mengatakan bahwa dia akan mengurung dirinya di dalam kamar dan fokus pada gamenya. Lelaki itu mengatakan bahwa dia tidak ingin ada gangguan apapun. Lisa boleh melakukan ha-hal yang dia suka. Termasuk pergi ke mana saja dia inginkan. Namun untuk hal itu, dia tentu saja meninggalkan pesan untuk kakaknya dengan menempelkan post-it di daun pintu kamar Sinar dan memberikannya pesan cepat untuk kakaknya jika saja Sinar tidak melihat pesannya yang tertempel itu. Karena dia tahu, Sinar jika sudah tenggelam dalam game bersama teman-teman online-nya itu, dia sangat sulit untuk kehilangan fokus. Terlalu tenggelam dalam permainan yang Lisa tidak begitu mengerti.


Namun, sepertinya dewi fortune sungguh ingin mengejek kebebasannya. Lisa bersumpah dia seperti melihat sesosok lelaki yang katanya sedang sibuk dengan urusan bisnisnya atau apapun itu. Tetapi kenapa dia sekarang berada tepat di depan minimarket yang Lisa lewati untuk menuju tempat dimana dia bisa bermain mesin capit?


Dia mengerjap beberapa kali. Berdiri persis di tengah-tengah jalan yang ramai hanya untuk membuktikan bahwa dia hanya salah lihat. Namun benar adanya, ketika lelaki itu berbalik untuk menunjuukkan wajahnya secara keseluruhan. Itu benar seorang Noren Agustion Giovano.


Hell. Apa yang sedang lelaki itu lakukan di tempat seperti ini pada malam hari? Dia terlihat sangat tersesat.


Lisa berusaha untuk mengabaikan Noren yang tanganya memegang plastik kecil yang dia duga hasil dari belanjanya di minimarket itu. Untuk keterkejutannya lagi, lelaki yang bermandikan uang itu berada di Jalan Surga dengan makanan ringan yang dia beli di minimarket murah? Oh, Lisa tidak paham dengan apa yang sedang dia lihat pada malam ini. Dia rasa dia sedang mabuk tahu bulat dan telur gulung. Pasti.


Kepalanya ia gelengkan dengan cepat sebelum diam-diam dia menarik tudung jaketnya untuk menyembunyikan kepalanya dan berjalan dengan sangat cepat, berharap Noren tidak pernah melihatnya sama sekali dan biarkan dia dalam ketenangan dan kebahagiaan yang dia rasakan hari ini.


Namun tentu saja, keberuntungannya seperti sudah habis saat dia merasakan tangannya tiba-tiba di tarik dan wajahnya yang terhempas dengan terkejut untuk melihat sang pelaku.


“Oh, ternyata aku nggak salah orang, ya” Itu suara yang agak tenang dan lega tetapi dihadiahkan dengan senyuman lebar yang sayang.


Kenapa, sih? dari sebagian besar banyak orang yang berada di sana, kenapa dia harus ketahuan dan kenapa Noren bisa sadar bahwa itu adalah dia?!


Sepertinya Lisa harus mengajukan banding pada dewi fortune untuk megembalikan keberuntungannya dengan cepat.


“Ya Allah, lo ngapain sih narik-narik gue? Kaget gue, tau nggak?!” Lisa dengan refleks yang tiba-tiba mengambil alih dirinya, mendorong Noren untuk melepaskan dirinya. Noren yang sepertinya juga lengah, melepaskan Lisa dengan tanpa banyak usaha.


“Lo ngapain, sih, tiba-tiba ada disini? Ngikutin gue, lo? Ngaku?!” Dia menggertak, menodong tusuk telur gulung tepat di depan wajah Noren yang terkejut.


“Eh, enggak!” Noren mengelak, berhati-hati dengan todongan Lisa yang jika benar-benar dilakukan, itu akan sangat berbahaya. “Aku nggak ngikutin kamu, dek. Sumpah” Dia menenangkan lagi, berusaha menampikan kejujuran dari suara dan ekspresinya.


“Terus? Kenapa lo bisa ada disini? Dan kenapa lo bisa tau kalau gue ada disini? Ngaku lo!” Suaranya agak tinggi, menyebabkan beberapa orang menatap ke arah mereka. Noren panik untuk menenangkan Lisa.


“Aduh, dek. Serius gue bisa jelasin. Jangan teriak-teriak gitu, nanti orang ngiranya aku nyakitin kamu” Suaranya berharap, memohon tiba-tiba. Lisa mengerjap, agak aneh ketika mendengar nada itu dari suara Noren.


Matanya diam-diam melirik ke sekitar dan tentu saja, orang-orang terlihat tertarik dengan apa yang terjadi pada mereka. Lisa berdehem, mencoba untuk menenangkan diri sebelum dia mengangguk dan menyuruh Noren untuk menjelaskan. Noren terlihat sangat lega. Dia memulai dengan sedikit gumaman kecil seperti berpikir.


“Sebenarnya aku nggak tau kenapa tiba-tiba bisa disini,sih” dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia hanya mencoba berpikir apa yang pantas untuk dibicarakan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman lainnya.


“Pikiran aku agak penuh aja, jadi milih buat muter-muter di jalan. Tapi rasanya nggak bener kalau cuma di dalam mobil. Jadi, waktu liat orang-orang banyak parkir di depan, aku jadinya tanpa sadar ikut parkir dan milih buat liat-liat daerah disini” dia menawarkan senyuman simpul. Matanya menjelajah ke segala arah untuk memperhatikan keramaian yang tidak terlalu berdesak-desakan. Lagipula ini sudah agak terlalu larut untuk beberaa orang lain.


“Rupanya aku bisa agak jernihkan pikiran aku disini. Aku baru aja dari dalem buat beli minuman soda. Lihat” dia menganglat plastik kecilnya di depan wajah Lisa. Perempuan itu mengangguk dengan tanpa sadar.


“Terus waktu aku lagi diem aja dan merhatiin orang-orang secara random karena emang benar gabut dan butuh nyegerin otak, eh aku ketemu yang mirip kamu. Aku kira orang lain, jadi aku awalnya nggak berani buat nyapa. Tapi waktu aku tiba-tiba ngenalin hoodie yang aku kasih buat kamu dan nggak sengaja ngeliat sedikit wajah kamu walaupun nggak jelas, aku beraniin buat nyapa. Tapi kamunya enggak denger” dia mendesis sedikit untuk penjelasan. Ada senyum senang di wajahnya ketika Lisa mengalihkan perhatiannya dari anak rambut Noren yang berterbangan ditiup angin malam ke seluruh wajahnya dan menemukan senyuman itu.


Lisa bahkan tidak sadar bahwa dia sedang memakai hoodie yang Noren belikan waktu itu. Oh betapa keberuntungan sedang bersembunyi darinya.


“jadi, aku narik kamu buat mastiin. Eh rupanya itu bener kamu Insting aku kalau udah nyangkut kamu emang nggak pernah salah, ya, Lisa” lanjutnya kemudian dengan senyuman bodoh.


“Diem” Lisa menggertakkan giginya.


“Oke, jadi karena lo udah tau ini gue, lo mau ngapain?” Lisa seharusnya tau bahwa dia tidak boleh mengajukan pertanyaan seperti ini karena dia seharusnya segera pamit dan pergi. Jika dia bertanya tentang ini, Noren pastilah akan mengatakan;


“Mau nemenin kamu?” ada nada pertanyaan ketika dia menjawab pertamakali. Dia terdiam sebentar sebelum mengangkat tangannya untuk memberhentikan omelan dan ketidaksetujuan Lisa ketika dia mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.


“Aku mau nemenin kamu” Itu adalah kalimat penegasan yang berbeda dari pertanyaan awalnya. Ada senyuman kemenangan ketika dia mengangkat ponselnya tepat di depan wajah Lisa untuk menunjukkan bahwa dia meminta izin pada Sinar untuk membawa Lisa berjalan-jalan di Jalan Surga. Dan untuk keterkejutan Lisa, Sinar membalas pesan itu dengan persetujuan yang mudah.


Lisa ingin marah.


Kakaknya itu bahkan tidak bisa diganggu olehnya, oleh pesan yang dikirimnya tetapi bisa membalas pesan Noren dalam durasi sesingkat-singkatnya?


Dia bersumpah akan melakukan sesuatu tentang Sinar ketika dia sudah pulang ke rumah nanti.


“Aku udah izin sama Sinar. Jadi kamu jangan khawatir. Aku nggak akan ngelakuin hal yang aneh-aneh. Aku cuma mau nemenin kamu doang, Nalisa”


Kehilangan energinya dengan cepat. Lisa hanya meratapi kehidupannya yang gila.


“Jadi, ada rencana?” Noren bertanya lagi kali ini. Dengan penuh percaya diri saat postur tubuhnya terlihat lebih tegas. Dia merapatkan hoodienya sendiri sebelum merapikan rambutnya yang dimainkan oleh angin.


Lisa tidak bisa berdebat lebih banyak lagi. Jadi yang bisa dia lakukan hanyalah menghela napas berat dan menggigit kasar telur gulung yang dia todongkan sebagai ancaman pada Noren sebelumnya.


“Main” dia berseru dengan pasrah.


“Gue mau main di sebelah sana” Dia menunjuk ke arah mesin capit dan beberapa permainan yang tersedia dan anehnya, sepi.


Dengan semangat yang tiba-tiba membara, Noren merangkul bahunya dan menariknya untuk berjalan dengan cepat ke arah yang Lisa tunjukkan.


“Ayo!”


Apalagi yang bisa Lisa lakukan selain mengikuti?


Malam ini akan menjadi malam yang panjang kembali.


.........


...🍁...


...Mesin Capit dan 10 Pertanyaan Part. 1- End...


.........


...🍁...


...🍁🍁...


...🍁🍁🍁...


Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


Enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Icha Lauren, nih!


Jangan lupa mampir yaa🥰


...PROMO NOVEL KARYA ICHA LAUREN...


...JUDUL: MISS BLACK : PEWARIS CEO YANG TERBUANG...


Sebutan anak haram melekat pada diri Rose sejak kecil karena ia tidak mengetahui siapa ayah kandungnya. Setelah sang ibu meninggal, Rose diasuh oleh paman dan bibinya. Namun bibi dan sepupunya yang kejam selalu memperlakukan Rose sebagai pembantu. Hingga pada usia empat belas tahun, nasibnya berubah total. Seorang pria bernama Denzel mengatakan bahwa Rose adalah pewaris dari Louis Brown, CEO Brown Group yang terbunuh secara misterius. Namun demi keselamatan dirinya Rose harus tetap menyembunyikan identitas aslinya. Rose memilih menjadi mahasiswi biasa di fakultas seni. Tidak ada yang mengetahui bahwa Rose sesungguhnya adalah pemilik perusahaan property Brown Group yang bernama Miss Black, sekaligus seorang violinis terkenal. Namun identitas aslinya hampir terbongkar ketika Luke, anak angkat Louis Brown datang untuk menuntut haknya. Akankah Rose dan Luke terlibat persaingan atau hubungan mereka justru berubah menjadi cinta?



Selamat membaca🥰