
Jika boleh berkata jujur, Alpino bukanlah orang yang bisa dengan mudah merasa tenang dalam banyak kondisi yang mengharuskannya untuk panik. Alpino bukan pula orang yang mampu untuk mengendalikan dirinya berpikiran dengan waras dalam sebuah permasalahan apapun yang melibatkan banyak emosi.
Sebenarnya banyak hal membuatnya gila akhir-akhir ini. Banyak beban yang harus dia emban dalam kehidupannya. Tidak bisa dipungkiri, coping mechanism nya selalu membuatnya terlihat seperti tidak ada badai besar yang memporak-porandakan dirinya di dalam.
Sebagian besar orang selalu melihatnya terlalu santai dalam banyak hal. Teman-temannya selalu tahu bahwa dia bisa masalah dengan tenang dan perlahan juga berpemikiran luas. Tetapi apa yang mereka tidak tahu adalah, bahwa Alpino bisa hancur juga. Dirinya sama ketakutannya dengan orang-orang yang mempunyai banyak masalah yang menerkam.
Pada kesimpulannya, Alpino ingin mengatakan bahwa dia juga berantakkan.
Benar. Alpino, semenjak Noren muncul di dalam kehidupannya dan Nalisa adalah salah satu hal penting yang ikut andil membuat dunianya berantakkan. Membuat hidupnya penuh dengan kata menyerah akan satu hal yang selalu tidak bisa dia gapai bagaimanapun caranya. Pada satu hal yang menyakitkan dimana bahkan dirinya sendiri sama sekali tidak bisa bergerak dalam sebuah perjuangan.
Memang, Alpino bersyukur bahwa selain hal-hal yang menerjangnya dalam masalah hati, dia memiliki kehidupan yang sangat layak. Keluarga lengkap yang harmonis, lingkungan kerja yang nyaman dengan rekan kerja yang sangat supportif, teman-teman kecilnya yang sudah dia anggap sebagai sebuah keluarga utuh dan juga bangunan yang baru saja dia beli untuk dijadikan tempat usaha masa depannya yang tidak memiliki masalah sama sekali.
Selama ini hidupnya terasa sangat sempurna.
Tetapi tetap saja, sempurna tidak ada dalam kamus setiap makhluk yang hidup dan bernapas. Selalu ada titik kecil rapuh yang bisa menghancurkan pondasi kesempurnaan itu sendiri.
Dalam hal kehidupan Alpino sekarang adalah, hati.
Kedatangan Noren dalam kehidupannya adalah apa yang membuatnya uring-uringan, membuatnya tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan dirinya melihat bagaimana cintanya perlahan-lahan akan menjadi milik orang lain seumur hidup dan tidak bisa Alpino ganggu gugat meski hatinya meraung untuk meminta perempuan itu memilihnya.
Alpino hancur ketika dia tahu bahwa Nalisa bukanlah miliknya di dunia yang ia tinggali sekarang. Lelaki itu juga sama berantakkannya ketika dia mengharuskan dirinya untuk mengikhlaskan Nalisa bersama orang lain, membangun rumah tangga kecil mereka dimana Alpino berharap bahwa dirinyalah yang berada di sepatu Noren untuk mengambil posisi itu.
Sayangnya, dia sudah berjanji. Bagaimanapun dia menginginkan Nalisa untuk dirinya sendiri, untuk membahagiakan perempuan itu sampai Nalisa tidak tahu apa itu kesedihan-, dia dengan gamblang akan menyatakan bahwa dia tidak berdaya.
Sakit rasanya ketika dia melihat bagaimana Nalisa menjadi lebih kurus dari biasanya, wajah yang gembul dan menggemaskan itu kini telah berkurang kadarnya menjadi sedikit tirus dan kantung mata yang jelas terlihat sangat menyakitnya dalam pandangannya.
Alpino juga merasa patah ketika dia melihat binar kebahagiaan Nalisa semakin hari semakin redup di telan kegelapan dan emosi kehancuran dari perempuan yang menolak keras akan kehadiran Noren dan pernikahannya sendiri. Nalisa bahkan jatuh sakit dan tidak berdaya setelah bertengkar hebat dengan Noren tentang pernikahan ini.
Sekarang, Alpino hanya bisa mencoba untuk menenangkan hatinya dan mengatakan bahwa ikhlas adalah hal yang lebih baik dia lakukan dalam harap agar suatu hari nanti, Nalisa akan bahagia akan rumah tangga kecilnya. Mungkin di kemudian hari, seperti apa yang orang-orang sering katakan, cinta datang karena terbiasa. Alpino hanya harus berdoa untuk kebahagiaan sahabat tercintanya itu.
Benar. Saat ini dia harus mendukung Nalisa sebagai sosok sahabat yang baik yang selalu berada disisinya bagaimanapun keadaan perempuan itu. Alpino bersumpah bahwa dia akan menguburkan mayat siapapun jika Nalisa menyuruhnya untuk melakukan hal keji seperti itu.
Namun setelah menahan perasaannya dan mencoba ikhlas yang sangat menyakitkan untuk di lalui, Nalisa datang padanya dalam pemberontakkan terhadap keluarga dan calon suaminya. Perempuan itu datang padanya dengan seonggok rencanya yang mencuri napasnya dan membuatnya khawatir bukan main.
Selain tetap menjadi orang yang tidak berani melakukan apapun, Alpino hanya bisa menerima dan lagi-lagi akan berkomplot dengan Nalisa untuk senbuah rencanya yang melibatkan nyawa di dalamnya. Dan apa lagi yang dilakukan si badut pengecut ini selain mecoba untuk terlihat baik-baik saja dan tetap menjadi badut konyol agar perempuannya tidak khawatir untuknya?
Dimana pada kenyataannya Alpino ingin menentang keras karena dia ketakutan.
Bagaimana jika dia kehilangan Nalisa saat itu juga?
Alpino bisa menerima meskipun harus patah melihat cintanya dengan yang lain, tetapi dia tidak akan sanggup kehilangan Nalisa dan tidak bisa melihat senyuman perempuan itu lagi. Dia tidak akan mampu kehilangan seluruh Nalisa dalam hidupnya. Bahkan membayangkannya saja, Alpino tidak bisa.
Lalu sekarang, dia harus apa?
Alpino merasa dirinya ingin berteriak sekeras yang ia mau.
Alpino ingin melarang ide ini. Dia tidak bisa terus-menerus bertahan untuk mendukung perempuan itu. Ini buruk, dia butuh orang lain untuk berkomplot dengannya. Orang yang akan menolak mati-matian ide gila ini seperti dirinya sendiri adalah Hala.
Tapi Hala saat ini..
Bagaimana mungkin semua hal menjadi semakin rumit dan berliku?
”Lisa? Ini pasti gara-gara gue, ya?”
Duduk dengan tegak di tempatnya, Alpino mengernyit ketika Jihan bersuara dengan lirih. Awalnya perempuan itu juga memperlihatkan ekspresi yang sama dengannya. Terkejut adalah satu hal yang pasti ketika Lisa memberitahukan idenya kepada anak-anak lain dalam rundingan aneh berbentuk lingkaran di atas ranjang kecil di tengah ruangan yang dingin.
”Apaan, Ji? Nggak, kok. Ini ide gue sendiri. Lo harus dukung gue, ya? Gue percaya banget, nih, sama lo!”
Jantung Alpino terasa diremas dengan kuat ketika mendengar kekehan Nalisa. Bagaimana mungkin perempuan itu bisa tertawa ringan seperti itu dalam pembahasan berbahaya ini?
”Tapi kalau nggak ngobrol sama gue lo nggak bakalan kepikiran ini, Lis! Gue nggak mau, ya, lo kenapa-kenapa. Gertakan yang begini bahaya banget, Lis! Please, gue nggak mau kehilangan lo!”
Alpino diam-diam menyemangati Jihan di kepalanya. Berharap bahwa Jihan akan mencoba untuk mengubah pemikiran Lisa.
”Ya jangan sampai kenapa-kenapa lah! Makanya gue panggil kalian ke sini biar acara gue lancar! Gue udah persiapin semuanya matang-matang. Jadi, ini gue share ke lo semua supaya rencananya berhasil. Please.. gue mohon banget sama kalian bantu gue kali ini aja. Gue udah nggak tau mau gimana lagi. Ini satu-satunya yang gue bisa lakuin buat nyelamatin masa depan gue”
Nalisa merengek, Alpino ingin menyangkal apapun ucapan Lisa, tetapi bibirnya bahkan tidak bisa bergerak mengeluarkan sepatah katapun. Alias, Alpino lemah di lutut dan akan melakukan apapun permintaan Nalisa. Segila apapun itu. Seperti saat ini karena permintaan Nalisa baginya adalah sebuah perintah mutlak.
Lihatlah, Lisa. Bagaimana Alpino jatuh bangun untuknya.
”Gila, lo, Lis. Ini nggak semudah yang lo rencanain. Meski lo yakin sekalipun, kita nggak tau musibah bisa datang kapan aja, kan? Resikonya tinggi banget, Lisa. Mending lo pikirin lagi deh bener-bener”
Alpino ingin berterimakasih pada Fajri karena menyuarakan apa yang tidak bisa dia suarakan sebelumnya. Sepertinya, meskipun tanpa Hala yang akan menolak dengan keras apapun yang terjadi sekarang, dia terlalu berpikiran rendah pada teman-temannya yang lain.
Alpino berjanji bahwa dia akan meminta maaf segera pada Jihan dan Fajri. Seharusnya, Alpino bisa mempercayakan mereka untuk menolak rencana gila ini juga sama sepertinya.
”Gue tau musibah bakalan datang kapan aja. Tapi ini cara terakhir gue biar bisa bebas dari penjara mental dan fisik gue. Kalian mau lihat gue menderita sama monster psiko jelek itu? Kalian mau nanti berakhir lihat gue bunuh diri-,”
”Nalisa” tanpa sadar, suaranya sudah lebih dulu keluar daripada pikirannya. Suaranya ketat, tidak ingin membayangkan hal-hal buruk itu. ”Shhh. Oke? Jangan ngomong yang aneh, ya?” ada jari telunjuk di bibirnya dan senyuman tipis yang Alpino berikan pada perempuan itu.
Sejujurnya, dia juga ingin menenangkan diri sendiri daripada mendengarkan kelanjutannya. Nalisa sepertinya mampu berkompromi dengannya saat ini, jadi Alpino merasa sedikitnya lega.
”Pokoknya” Lisa melanjutkan. ”Gue butuh bantuan kalian tentang ini. Gue pecayain hidup gue sama kalian. Tolongin gue. Gue harus gimana lagi buat minta tolong sama kalian? Apa gue perlu bersujud sekarang di depan kalian?” rengeknya lagi, kali ini lebih serius.
”Lisa. Kita semua khawatir sama lo makanya kita ngelarang lo buat ngelakuin hal yang aneh begini. Ngerti, ya? Pasti ada cara buat nyelesaiin masalah ini, oke?”
Alpino berusaha menahan perasaannya. Tangannya kini terangkat lebih dulu untuk mengusap kepala Lisa dengan lembut, berharap perasaannya tersalurkan.
”Iya, Lisa. Gue nggak mau ambil resiko banyak karena lo tau sendiri kita dimana, kan? Banyak yang harus dilakukan, dipersiapkan dan harus bener-bener yakin buat ngelakuin ini semua. Lisa, lo nggak sayang nyawa?”
”Siapa yang nggak sayang nyawa, Ji. Gue udah di ujung tanduk. Sumpah, gue udah frustasi banget mau gimana lagi. Gue udah stess di tingkat paling akhir. Bisa-bisa gue depresi kalau sampai pernikahan gue terjadi. Gue nggak mau. Gue nggak mau berakhir sama Noren gila itu. Tolong selamatin gue, Ji”
Lisa memohon lagi. Alpino merasa dadanya terasa semakin sesak.
”Jihan, gue percaya lo karena lo pasti bisa tau mana yang aman ditangan lo dan mana yang engga. Gue tau tingkat akurasi lo tinggi dan lo tau tingkat keberhasilannya sampai mana. Gue yakin karena gue percaya bahwa gue bisa ngelakuin ini. Nggak ada keraguan sama sekali di dalam diri gue buat ngelakuin semua yang udah gue susun serapi mungkin kayak yang gue kasih ke kalian sekarang”
”Fajri, gue yakin lebih dari apapun lo tau gimana rasanya end up sama sesuatu yang nggak lo sukai. Gue juga percaya sama lo karena lo selalu peduli sama orang-orang yang lo sayangi. Gue salah satu dari teman lo dan gue yakin lo juga pasti peduli sama keselamatan gue. Lo juga pintar, Jri. Lo pasti bisa buat semua ini berhasil. Gue amat sangat percaya sama kemampuan lo”
Nalisa, dengan api yang membara di matanya berucap tanpa keraguan sama sekali. Seolah perempuan itu yakin bahwa apa yang dipergangnya saat ini memiliki keberhasilan hampir 99% berhasil. Alpino terpaku. Dia tahu bahwa dirinya sendiri, jatuh cinta dengan perempuan itu karena keberanian perempuan itu mengalahkan apapun di sekitarnya.
”Al. Gue nggak akan ngomong banyak sama lo. Gue tau lo takut dan khawatir sama gue” Alpino hampir tersedak udara ketika Lisa menoleh padanya dalam satu tatapan tajam yang tegas seolah-olah merobeknya menjadi potongan kecil.
“Tapi gue yakin lo bakalan selalu percaya sama gue dan akan selalu ada disisi gue. Itu aja yang penting bagi gue buat yakin kalian semua bakalan jalanin ide gue dan setuju buat bantu gue saat ini”
Lalu, tatapannya fokus pada buku yang sekarang berada di tengah lingkaran posisi mereka berempat.
”Sekarang, bantu gue buat merealisasikan ini semua. Kita cuma punya waktu sedikit dari sekarang. Kayaknya, itu cukup buat prepare ini semua”
Sekarang, itu adalah keputusan final. Alpino berasa dirinya menelan sesuatu yang salah dan pahit.
”Nalisa..” tatapan Jihan padanya berbinar. Ada kesedihan disana tetapi Alpino yakin dia membaca Jihan dengan cermat karena perempuan itu juga jatuh pada keteguhan yang Lisa berikan pada mereka semua.
”Kalau misalnya ini yang lo mau dan lo percaya. Gue janji gue bakalan bantuin lo sebisa gue. Enggak, gue bakalan bantuin lo sampai keseluruhan rencana ini sukses besar”
Ada senyuman yang diberikan oleh Jihan sebagai bentuk keyakinan pada Nalisa dimana Perempuan itu membalasnya dengan cengiran lebar dan jabat tangan erat yang tidak akan dilepaskan dalam waktu singkat.
“Wow, wow.. bentar dulu” Fajri terlihat menghela napas kasar. Ada ekspresi yang masih tidak setuju di wajanya. Dia pasti memikirkan banyak hal sama seperti Alpino. Tetapi, Alpino menunggu meski jantungnya berdebar dengan kencang dan ada harapan yang sama agar Fajri juga tetap menolak.
”Seratus persen yakin.”
”Tanpa keraguan sama sekali?”
”Solid 100. Tanpa ragu”
”Gimana kalau ada kesahalan yang fatal?”
Jantung Alpino mencelos. Rasanya penunjang kehidupannya itu telah melorot dari posisinya dan jatuh jauh ke dalam asam lambungnya.
”Gue bakal tanggung resikonya. Apapun itu”
Jawaban Tangguh Nalisa tanpa jeda membuat Alpino frustasi. Dia ingin keluar sesegera mungkin dari pembahasan ini. Mulutnya pahit. Dia ingin merokok agar dia tidak gila di satu titik dimana percakapan ini mungkin tidak akan berakhir sama sekali.
”Serius?”
”Ayolah, Jri. Lo mau tanya apa lagi anjir. Lama-lama lo yang gue kunyah. Gue seribu persen, serius.”
Ada napas panjang dari Fajri.
”Oke. Gue bantu”
Alpino merasa nyawanya melayang begitu saja dari raganya. Sepertinya, semuanya akan berjalan mau atau tidak mau. Suka atau tidak suka.
”Yeah! Gue tau gue bisa percayain semuanya sama lo! Sahabat sahabat gue emang yang terbaik!”
Nalisa melompat dari duduknya. Binar kebahagiaannya kembali terpancar dari matanya. Senyum lebar yang khas muncul lagi dari ekspresinya. Alpino tidak tahu apakah dia merasa lega dengan bagaimana kebahagiaan Nalisa yang sebenarnya muncul lagi atau merasakan ketakutannya yang menyebar dengan sangat tidak bersahabat.
”Gue yakin rencana lo pasti berhasil, Lisa! Gue bakalan usaha yang terbaik!” Jihan ikut berseru, memeluk perempuan itu dengan sangat erat. ”Gue seneng lo yang ini balik lagi!!” lanjutnya dalam sorak sorai.
”Iya dong, pasti. Rencananya bakalan berhasil! Gue yakin gue gabakalan mati karena kalian bakalan jadi sayap pelindungnya gue! Hehe”
”Oke. Jadi gue udah susun rencananya. Nah, buat Jihan, gue minta tolong lo urus bagian yang-,”
”Bentar. Kita kekurangan orang, nggak sih? Hala sama Heks-”
”Diam”
Alpino menggigit bibirnya ketika suara Lisa kembali dalam mode ketat kemarahan. Fajri yang tidak tahu apapun, merasa kebingungan atas reaksi yang dia dapatkan.
”Jangan bahas apapun tentang orang-orang penghianat kayak mereka.” Nadanya masih sama, mencekam.
”Pengkhianat?”
Alpino menepuk punggung Fajri. Memberikan gestur pada lelaki itu untuk hanya diam dan membiarkan ini berlalu. Sementara Lisa masih fokus pada buku dan rencananya, Alpino membuka bibirnya membentuk serangkaian kata untuk mengusir kebingungan Fajri dan Jihan yang tampangnya saat ini seperti orang bodoh tidak tahu apapun.
Namun, mereka berdua sepertinya paham untuk tidak bertanya lebih jauh. Alpino bersyukur ketika Jihan mulai menanyakan tugas-tugasnya dalam ide gila milik Nalisa.
”Oh, kalau itu gue punya! Butuh berapa, nih, biar aman? Nanti gue tanyain ke Master gue buat koordinasi secepatnya” Jihan buka suara. Terdengar agak bersemangat daripada sebelumnya.
“Terus tugas gue apa? Jangan yang bikin gue repot, ya” Fajri menimpali. Nalisa tertawa dengan riang ketika dia memukul Fajri dengan kekuatannya yang kelewat gembira.
Untuk saat ini, Alpino tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan bagaimana dengan perasaannya. Semua terasa bercampur baur. Kepala dan hatinya sudah sama-sama ingin meledak.
..........
Tiga jam berlalu hanya untuk merancang ide gila milik Nalisa. Sekarang, perempuan itu sudah terlelap dengan kelegaan dan rasa senang yang memancar dari wajah lelahnya. Alpino bangkit untuk memperbaiki posisi tidur Nalisa. Dengan perlahan menyelimuti perempuan itu dengan benar. Dalam hati berharap bahwa Lisa bisa tidur lebih nyenyak daripada sebelumnya.
Fajri dan Jihan masih berada di dalam ruangan. Menunggu Alpino bersuara. Atau lebih tepatnya menunggu waktu yang tepat untuk membombardirnya dengan banyak pertanyaan yang pasti bersarang di kepala mereka.
Alpino mengangguk. Seolah mengetahui apa maksud darinya, Jihan dan Fajri berjalan menuju pintu kamar. Alpino di belakang mengekori mereka.
Menutup pintu dengan perlahan, dia bersandar di daun pintu, bersiap dengan apapun yang akan dibicarakan oleh dua orang yang terlihat tidak terlalu puas dengan reaksinya sendiri.
”Lo yakin?” Fajri menyeletuk dengan cepat. Seolah tidak ingin membuang-buang waktu lagi.
”Lo tau gue nggak bisa bilang nggak buat nolongin, Lisa, Jri. Lo pasti paham posisi gue gimana, kan?” Dia menjawab dengan lelah. Alpino tidak tahu harus berkata apa lagi.
”Tapi dari rekasi lo udah menyatakan kalau lo takut setengah mati, Al. Lo siap memangnya dengan konsekuensi ini?” Pertanyaan Fajri menusuk lagi. Alpino merasa kelelahan menimpanya dua kali lipat lebih banyak karena ini.
”Sejujurnya gue nggak siap. Tapi apa yang gue bisa lakuin lagi? Lo lihat kan gimana senangnya Lisa waktu ngejelasin ide gila ini tadi? Kalau dia yakin seratus persen, yang bisa gue lakuin ya jadi pendukungnya seratus persen juga. Gue juga harus yakin tanpa ragu buat ngelakuin ini biar semuanya berjalan lancar, Jri”
Alpino tau Fajri terlihat tidak senang. Jihan disebelahnya bahkan tidak bisa melontarkan apapun. Mungkin karena perempuan itu terlalu terkejut dengan pembahasan sebelumnya atau bisa karena beban kepercayaan dari Lisa yang begitu besar untuknya sehingga dia bahkan tidak mampu untuk bertanya apa-apa lagi. Atau mungkin hanya faktor kelelahan dan mengantuk, mengingat ini sudah hampir tiga pagi.
Alpino mungkin terlalu parno. Itu pasti karena dia terlalu memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dia pikirkan.
”Gue ngerasa lagi ngelakuin sebuah kriminalitas, Al. Anjir”
”Memang kriminal, sih, kayaknya”
”Ngaco, lo” Fajri tiba-tiba menyeletuk. Padahal Alpino hanya membenarkan apa yang dia katakan sebelumnya.
”Yah. Mau gimana lagi. Pokoknya gue berharap yang terbaik semoga segalanya berjalan dengan lancar dan nggak ada resiko sedikitpun di hari H. Gue minta tolong banget sama kalian, ya. Please. Pokoknya ini harus lancar. Gue bakalan nyalahin diri gue sendiri kalau ada sesuatu yang salah nantinya”
Senyumnya ia paksakan dengan lemah. Alpino sudah tidak tahu lagi. Bahkan, dia merasa muak dengan ketidakberdayaan dirinya sendiri. Ingin rasanya dia memukul kepalanya ke tembok dengan keras. Tetapi bahkan untuk mengerahkan kekuatannya saja dia sudah tidak mampu lagi.
”Jangan gitu, Al. Gue sama Jihan juga udah janji bakalan bantuin Lisa semampu kita. Jangan semuanya lo bebankan di pundak lo. Lo juga manusia biasa. Sekarang yang dibutuhin Lisa cuma keyakinan dan usaha kita buat bantu dia keluar dari masalah ini. Lo nggak sendiri. Kita ada disini buat kebahagiaan Lisa juga, oke?”
Alpino berdecih, sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman kecil.
”Yaiyalah. Gue selalu ingat kalau gue punya kalian yang selalu ada”
”Anjir, ekspresi lo dan kata-kata lo menggelikan kayak pedo sial”
”Sialan. Gue baru aja memuji lo dari hati gue yang paling dalam??”
Alpino tertawa. Akhirnya dia bisa melepaskannya dengan tanpa keresahan saat kepalan tangan Fajri bersarang di bahunya. Sakit, tetapi inilah apa yang dia butuhkan. Sebuah pukulan yang membawanya kembali ke dalam kenyataan hidup. Yang membawanya bisa kembali menapak di bumi lagi, keluar dari pikirannya yang sudah kisruh.
”Diem lo. Sekarang kasih tau kita apa yang terjadi sama Hala Heksa? Kenapa Lisa bisa benci banget sama mereka kayak tadi?”
Ah. Seharusnya Alpino tidak lebih dulu bersyukur karena Fajri membawanya keluar dari ruang kepala berantakkannya itu. Pertanyaan Fajri adalah hal yang sebenarnya coba dia abaikan karena dia juga tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi Lisa mengatakan bahwa Hala mengkhianatinya. Juga, mengkhianati Sinar.
Hal ini sudah pasti bukan bahan bercandaan.
Mengusap matanya yang sudah lelah, Alpino menjelaskan kepada mereka apa yang dia dapatkan dari Lisa sebelumnya. Di kedua bola matanya, Alpino bisa melihat keterkejutan yang sama yang ia berikan pada Nalisa saat pertamakali mendengar hal itu juga.
...🍁...
...Misi Rahasia Dan Kekhawatiran Alpino...
.........
...🍁🍁🍁...