Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Tempat Pelarian; Calon Rumah Dimana Hati Tertuju. Part 3



Sinar paham bahwa dia meracau dalam hitungan waktu yang lama. Ini dipastikan dari bagaimana perubahan posisi mereka. Saat ini mereka sudah berbaring di atas lantai dingin, bersebelahan seperti ruangan bowling itu adalah milik mereka berdua dan tidak ada yang bisa menganggu apapun yang dia dan Hala lakukan disana. Sebenarnya memang seperti itu adanya. Sinar menyewa ruangan bowling khusus hanya untuknya dan Hala sehingga dia bisa mencurahkan banyak kata tanpa terhalang oleh pandangan menghakimi orang lain yang tidak pernah berada di dalam sepatu yang sama dengannya. Yang dia butuhkan hanyalah racauan tentang bagaimana perasaannya yang ingin dia keluarkan dengan suara keras. Ditemani oleh satu-satunya orang yang dia pegang dekat dengan hatinya dan berharap bahwa orang itu berada di sisinya dalam segala bentuk hal buruk rupa yang ia racaukan.


Sinar tidak menangis. Dia merasa bangga dengan dirinya sendiri bahwa tidak ada air mata yang keluar pada malam itu ketika dia mengeluarkan bentuk emosinya yang terpendam setelah sekian lama. Meskipun begitu, perasaannya sungguh lega dari seberapa banyak beban yang telah dia keluarkan ke dunia luar hanya dari bibirnya yang berkomat-kamit memuntah kata. Mulai dari hal-hal yang menyedihkan hingga membuatnya marah, lalu kembali lagi pada hal-hal yang menyakitkan tentang perasaan dan kehidupan beban yang di bawanya.


Hala disisi lain, mendengarkan dengan sabar. Perempuan itu bahkan tidak melepaskan pandangannya dari Sinar dan hanya diam, sesekali memberikannya respon dengan gestur yang menunjukkan bahwa dia sedang mendengarkan seluruh tumpahan emosi Sinar. Lelaki itu merasa sangat bersyukur bahwa malam ini dia ditemani dengan orang yang benar. Meskipun di beberapa waktu Hala terlihat tidak setuju dengan ucapannya yang merendahkan diri, tetapi perempuan itu tidak berkomentar karena tidak ingin menyela apapun yang Sinar kemukakan.


Barulah sekarang, ketika mereka hanya berbaring di lantai yang dingin dengan kedua pandangan terfokus pada langit-langit ruangan, kesepian menyandera mereka dari bagaimana bibir Sinar mengatup dan menelan beberapa kata yang tidak bisa ia kemukakan dengan jelas dan lantang. Ada alasan pribadi untuk itu, tetapi sekarang, dia menunggu respon yang akan Hala berikan padanya.


Deru napas mereka terdengar lebih keras di ruangan yang sunyi. Sinar menggerakkan tangannya untuk mengambil jemari Hala dalam genggamannya. Diam-diam, dia membutuhkannya untuk mengontrol diri dan juga memastikan bahwa dia disana tidak sendirian. Harapan dalam dadanya membuncah dalam raungan tentang bagaimana keinginannya agar Hala tidak melihatnya sebagai figur buruk setelah dia melepaskan monster jeleknya ke dunia luar. Dia tidak bisa memastikan, hanya harap yang datang dalam deguban jantungnya yang memercik sedikit penyesalan. Sekarang, dia hanya harus menunggu apa yang akan Hala komentari tentang racauan jelek hampir satu jam lamanya ketika dia melihat papan angka di salah satu dinding ruangan yang menunjukkan waktu.


“Berat banget hidup lo, ya, Kak…”


Sinar menahan napasnya ketika Hala berucap kata dalam respon yang sedikit membuatnya miris. Dia tersenyum kecut, berusaha untuk memulihkan kembali pernapasannya dalam ritme tenang. Ada sedikit desir di dadanya ketika dia merasakan jemari Hala mengelus permukaan tangannya. Dia merasa agak lebih baik dari apa yang dia perkirakan karena Hala tidak memberikannya komentar jelek setelah apa yang perempuan itu dengar.


“Selama ini gue kira hidup lo aman-aman aja tau, Kak” Mata Hala mencari matanya ketika mereka bergerak untuk berganti posisi. Sekarang, Hala memindahkan semua tubuhnya ke bagian kanan menghadap ke arah Sinar. Lelaki itu agak terkejut dengan ucapan yang terlontar dan keseriusan yang datang dari Hala. Bukannya Hala tidak serius sejak awal, tetapi dia merasa lebih di perhatikan secara keseluruhan.


Sayangnya, Sinar lengah pada sesuatu. Untuk itulah dia cepat membuka suara dalam tanya.


“Tapi lo udah ngeliat gue nangis jelek waktu itu masih bilang hidup gue aman-aman aja?”


“Yaampun, bentar. Gue belum selesai ngomong udah di sanggah aja” Hala meringis ketika melihat bias di wajah Sinar. “Bentar dong, ah, Kak. Gue punya alasan!”


“Apa?”


Hala menghembus napas jengkel dengan kedua mata yang memutar dalam dramatisasi yang disengaja. Sinar menunggu, kembali dalam keseriusan yang nyata sama seperti sebelumnya. Rasa was-was muncul dengan tidak terduga dimana Hala bisa merasakannya bahkan hanya dengan menyelam dalam mata gelap jernih yang dalam itu.


“Dalam pembelaan gue,” Perempuan itu memulai. Jemarinya masih sibuk mengusap kulit punggung tangan Sinar dengan gerakan berpola sama dan teratur. “Gue temenan sama Lisa udah dari kecil. Sekitar umur gue sepuluh dan Lisa Sembilan. Setiap main sama dia, gue jarang banget ngeliat lo, Kak. Bahkan, gue tau kalau Lisa punya seorang kakak itu dari foto-foto yang dipajang di rumahnya”


“Lisa selalu cerita kalau kakaknya itu keren banget. Meski juga jarang ketemu, Lisa tau kalau lo selalu ngasih yang terbaik buat keluarga tapi masih dengan kasih perhatian buat dia dari hal-hal kecil. Setiap kali lo kasih hadiah ke Lisa, dia cerita ke gue dengan bangganya. Setiap kali lo kasih kabar ke dia, bahkan dengan mulai video call atau pap random sana-sini, Lisa nggak pernah bosen ngabarin gue dan bilang kalau dia sayang sama lo dan kangen banget sama lo. Lo selalu yang terbaik buat Lisa dari sudut manapun itu”


“Tau nggak, sih? gue yang di doktrin sama setiap cerita positif Lisa tentang lo jadi ikut kagum sama lo, Kak. gue jadi penasaran tiap kali main ke rumah keluarga lo buat ketemu sama lo. Gue penasaran banget sebenarnya kakak yang dikagumi Lisa itu gimana kalau ketemu secara personal. Gue bahkan udah punya planning kalau ketemu sama lo, gue mau belajar buat bikin adek gue bangga dan sayang sama gue kayak Lisa sama lo. Soalnya, dimata Lisa, lo sesempurna itu sebagai kakaknya dia dan sebagai sulung Cakrawijaya”


Ada sayatan di hatinya, rasanya sait sekali sehingga menyebabkan pendarahan di dalam. Sinar tersentak dalam keseriusannya. Hatinya serasa diremas dengan keras ketika Hala menyebutkan perasaan Lisa untuk dirinya sebagai kakak dan sulung dalam keluarga. Dadanya sesak, sehingga dia tidak tahu bahwa dia sudah mencengkeram jemari Hala dengan kedua tangannya. Matanya tertutup dengan erat, berusaha untuk tidak menangis karena penuturan kejut yang dibawakan Hala. Dia sudah tidak menangis sejauh ini, tetapi jika Hala mengungkapkan adorasi adiknya mengenai dirinya yang payah itu, dia tidak tahu apakah dia sanggup untuk terus menahan air matanya lebih lama lagi.


Dia malu. Dia adalah sulung Cakrawijaya yang tidak boleh menangis, bukan di didik sebagai anak lelaki yang cengeng. Tetapi hatinya sedang tergores saat ini. Dia bisa merasakan tali penyangga itu semakin tipis dan teriris.


Hala paham apa yang terjadi pada rekasi Sinar, sehingga perempuan itu memberikan jeda pada ceritanya. Dia membiarkan tangannya di cengkeram dalam cengkeraman besi. Tidak peduli apakah itu akan kebas dan memerah dalam beberapa waktu kedepan. Dia tidak akan mengomentari itu. Biarlah Sinar berusaha menenangkan diri.


“Lo pasti nggak tau dan nggak ingat pertamakali kita ketemu kayak gimana, Kak. tapi,ya, nggak ada yang spesial banget dari pertemuan pertama kita. Gue yang masih bocah belasan tahun akhirnya ketemu sama lo dengan cara kagum yang sama waktu lo dateng ke acara penerimaan murid baru di SMP buat nemenin Lisa gantiin orangtua lo yang lagi ada kerjaan penting. Dari sana, gue tau kenapa Lisa sesayang itu sama lo. Karena lo yang perhatian sama dia bahkan dari hal-hal kecil dan gimana kalian itu beneran keliatan kayak kakak adek yang bikin semua orang iri sama hubungan persaudaraan kalian”


“Gue selalu perhatiin gimana cara lo ngetreat Lisa dan juga temen-temennya dulu termasuk gue dan Alpino. Kasih sayang lo, tuh, kayak nggak ada habisnya buat adek lo, Kak gue kagum banget sumpah sama lo waktu itu. Jadi, setiap kali lo dateng ke Indo, gue selalu perhatiin gerak-gerik dan sikap lo. Gue analisis, tuh, semuanya dari apa yang lo perbuat. Dan dari sanalah gue bisa bilang kalau hidup lo aman aman aja dan bahkan bisa dibilang hidup lo lancar banget kak. Kayak, ya, emang lo sesempurna itu jadi manusia”


“Nggak ada manusia yang sempurna, Dek”


Sinar menarik jemari Hala untuk ia bawa ke dekat hidungnya. Jemari yang sudah terengkuh sempurna dengan tangan besarnya itu, ia letakkan tepat di atas hidungnya dalam pernapasan yang teratur dan kedua mata tertutup untuk mendengarkan apapun yang Hala sampaikan. Emosinya campuraduk dan dia tidak bisa menetapkan dimana dia berada sekarang. Rasanya, dia mual dengan cara baik yang buruk.


“Iya gue tau” Hala merespon tutur sebelumnya. “Itulah makanya gue agak kaget ngelihat lo nangis di kursi itu. Di depan acara pemakaman nenek lo. Padahal itu udah sore banget, pelawat juga udah agak berkurang. Gue rencananya mau datang buat nenangin Lisa, tapi malah berakhir nenangin lo yang udah nangis jelek, Kak”


“Emang jelek, gue sadar. Lemah banget gue waktu itu, cengeng banget. Padahal gue seharusnya nggak boleh nangis, ya?”


“Huss, apaan. Kalo lo ngomong begitu mending diem aja. Nggak penting” Hala mengoceh dengan nada ketus. Dalam mata terpejam saja, Sinar bisa merasakan bahwa Hala tengah memarahinya yang seperti anak kecil.


“Tapi serius, Kak. gue waktu itu nggak kepikiran apa-apa selain lo emang lagi kehilangan aja. Gue nggak pernah tau kalau waktu itu lo dapat masalah yang lebih besar daripada kehilangan. Maaf, ya, Kak. gue waktu itu nggak bisa berbuat apa-apa selain ngomongin hal-hal aneh dan bahkan dengan sok pahlawannya gue nenangin dan bahkan nyentuh lo sembarangan. Gue ngerasa ngeri sendiri dengan apa yang gue perbuat”


Mata Sinar terbuka dengan cepat. Binarnya menghunus kedua mata Hala dengan tatapan paling tidak setuju dengan penuturan ucapan maaf yang tidak perlu. Itu tidak berguna, karena kedatangan Hala waktu itu adalah sebuah anugerah yang diberikan untuknya. Sesuatu yang sangat dia hargai dan berterimakasih. Jadi, sekarang, dia tidak suka mendengar perempuan itu merusak kenangan berharga yang ia pegang dekat dengan jantungnya. Moment dimana pertamakali dia jatuh cinta dan menemukan rumah di sela kegelapan yang mengancam untuk membunuh dan menenggelamkannya.


“Jangan ngerusak hari itu dengan ngeremehin apa yang lo perbuat. Gue benci kalau lo bilang begitu. Asal lo tau, hari itu penting dan berharga banget buat gue”


Itu satu ketegasan yang dia berikan dalam raut wajah serius dan lurus untuk Hala yang terkesiap. Perempuan itu terlihat agak ngeri dengan nada tinggi dan tersinggung yang Sinar berikan padanya.


“Kak, itu hari kemalangan lo… kenapa malah bilang itu berharga buat lo?”


Sinar mengatupkan rahangnya. Dia melepas jemari Hala dari genggamannya dan bergerak untuk segera duduk. Lagi-lagi, dia merasa seperti orang bodoh yang berusaha menempatkan nama pada emosi yang sekarang bergulung di dalam dadanya. Itu datang dengan gemuruh lain yang membuatnya ingin marah dan kesal-, di dampingi oleh kesedihan yang menyeret di belakangnya. Sinar menahan dirinya untuk kembali berpikir jernih. Dia tidak bisa bilang apa yang sebenarnya dia rasakan pada hari itu. Tidak sekarang, belum.


Hala yang tau untuk tidak menarik garis dalam percakapan tentang hal itu, segera paham. Dia kembali pada posisi terlentang sebelum melanjutkan. Berusaha lebih berhati-hati. Perempuan itu tidak ingin kembali membuat Sinar menggila.


“Oke, jadi dari apa yang gue sampaikan tadi, gue beneran sedari awal memandang lo sebagai sosok yang mudah buat di kagumi. Tapi gue sadar dan minta maaf karena emang, gue nggak pernah berpikir lebih lajut tentang perjuangan lo di baliknya. Jadi, yang bisa gue bilang cuma, Maaf. Maaf kalau lo menderita selama itu dengan beban gila-gilaan yang lo tanggung, Kak. Gue minta maaf”


Sinar terkesiap, dia menoleh pada Hala yang menorehkan senyuman tulus permintaan maaf di wajahnya. Perempuan itu segera bangkit dan menemaninya duduk dalam gestur posisi yang sama.


“Gue dengerin semua yang lo ceritain dari awal tadi dan nggak ada yang nggak coba gue cerna dan pahami dari setiap kata yang lo ucapin, Kak. Jujur, gue ikut sakit denger gimana cerita hidup lo yang lo tanggung sendiri. Kalau gue jadi lo, mungkin ada kali gue ikut gila. Tapi sekali lagi, gue jadi tau kalau benar-benar nggak ada orang yang nggak punya segudang masalah di baliknya. Mungkin karena gue terlalu sering mengasihani diri gue dan masalah gue sendiri, jadi yang gue lihat orang-orang hidupnya baik-baik aja. Ternyata gue lupa, kalau mereka pinter nyembunyiin segalanya di balik layar yang coba mereka sembunyiin”


Sinar mengernyit, mencoba mencerna ucapan Hala yang membuat kepalanya sedikit sakit. Ada senyuman aneh tang tertoreh tetapi perempuan itu coba hempaskan dengan tangan yang melambai mencoba membuang kata yang tak perlu dari angin yang menangkap disekitar.


“Tapi, ada beberapa hal yang harus gue tarik garis disini, Kak” lanjut perempuan itu seolah dia punya segudang kata untuk disampaikan. “Lo cerita tentang sakit lo selama ini. Lo cerita tentang seberapa gagal lo jadi seorang sahabat dan seberapa gagal lo jadi kakak yang baik buat adek lo tanpa ngasih tau gue konteks sebenarnya dibalik dua permasalahan itu”


Sinar terkesiap. Seharusnya dia tau bahwa Hala mampu menangkap semua kata pilahan yang tak terucap dalam sebuah rahasia yang masih harus dipendam.


“Maaf..”


“Nggak usah minta maaf, Kak. Gue tau bahwa nggak semuanya bisa lo ceritain sebebas yang lo mau. Tapi gue bisa sedikit ambil sesuatu dari ini. Hubungan lo sama Kak Noren pasti lagi nggak baik-baik aja alias kalian berantem, dan hubungan lo sama Lisa juga lagi ada sedikit masalah”


“Tapi gue nggak tau kenapa lo bisa bilang diri lo gagal buat jadi saudara yang baik setelah apa yang gue bilang tentang seberapa besar Lisa kagum dan sayang sama lo? Tentang seberapa baiknya lo ngetreat Lisa kayak dia adalah orang yang paling berharga yang lo miliki? Lo pasti gila kalau bilang lo gagal jadi seorang Kakak. Gue nggak terima”


Asal Hala tau, perempuan itu pasti akan mengumpat padanya dan mengatainya dengan segudang kata jelek dan kegagalan yang pantas untuk dia dapatkan. Asal Hala tau apa yang sudah dia perbuat…


“Tapi, dari yang bisa gue tangkap, nggak mungkin lo ada masalah sama dua orang sekaligus yang terikat… dalam masalah.. perjodohan..?”


Mata Hala membola, dia terperangah ketika berbalik sepenuhnya pada Sinar. Lelaki yang kini terkejut setengah mati karena Hala mampu memukulnya telak di titik terpeting masalahnya dimana dia bahkan tidak menyebutkannya dengan lantang secara spesifik.


“Apalagi yang lo perbuat kali ini, Kak?”


“Hala..”


Perempuan itu menggeleng, mengacak rambutnya frustasi. Dia mungkin menemukan titik titik dimana dia bisa menyambungkannya menjadi satu kesatuan cerita yang utuh. Sinar merasa agak takut sekarang.


“Lo.. percaya sama gue, kan, La? Lo bilang, lo bisa percaya sama gue meski cuma nol koma persen. Lo.. percaya kalau gue udah ngelakuin yang terbaik, kan?”


“Kak, bukan itu masalahnya..” Hala mengela napas. Dia terdiam ketika menenggelamkan kepalanya diantara dua lututnya yang ditekuk. Hening beberapa lama sebelum dia hanya mengeluh dalam keluhan frustasi yang sama.


“Gue nggak tau persis apa yang terjadi. Tapi.. kalau gue bilang dari awal lo udah salah,gimana?” Matanya tajam, menatap Sinar dengan pertanyaan yang tegas.


“Hala..tolong, bisa nggak lo di posisi gue.. buat kali ini?”


“Gue udah pernah bilang kalau lo pasti tau yang terbaik buat Lisa karena lo adalah kakaknya.” Hala menghela napas, lelah dan khawatir. Tetapi dia terlihat pasrah lebih dari apapun. “Gue coba buat tetap percaya sama lo, Kak. asal lo juga percaya sama diri lo sendiri”


Sinar menggigit bibir bawahnya keras, itu bisa berdarah jika Hala tidak segera menarik rahangnya dengan lembut sehingga bibirnya terlepas dari jeratan. Ada senyuman kecil di wajah Hala yang tidak terlalu jauh dari zona pernapasannya. Dia masih bisa mencium aroma menenangkan perempuan itu.


“Gue nggak bisa berbuat jauh karena itu bukan zona gue buat gue tangani. Tapi, karena lo tau yang terbaik, gue yakin lo pasti bisa ngatasin semua masalah yang terjadi. Lagian, yang gue mohon saat ini dan yang terpenting adalah, Nalisa. Adek lo, kak. gue mau dia baik-baik aja. Dan dengan ini, gue tau lo juga pasti memohon yang sama, kan?”


Sinar mengangguk. Tentu saja, yang terpenting adalah adiknya untuk saat ini. Dia hanya harus berusaha menjaga sang adik dari kelicikan Noren lainnya. Mungkin, jika memang benar pernikahan itu akan berlanjut, dia pastikan akan berdiri di sisi adiknya. Namun, ketakutan terbesarnya adalah, kepasrahannya pada patuh kedua orangtuanya dan ketidak becusannya dalam menjaga. Ketakutan gilanya dan sisi penurutnya akan kekuasaan yang lebih tinggi akan membuatnya tak berkutik. Tetapi, Hala tidak harus mengetahui hal itu.


Sinar merasa sangat menyedihkan. Dia mengasihani dirinya sendiri.


“Oke, kalau gitu, bagus” Suara ceria dari Hala mengejutkan Sinar. Perempuan itu melompat berdiri dan mengulurkan tangannya di depan sulung Cakrawijaya itu. Sinar meraihnya dengan perlahan, menguatkan diri dari hal-hal yang sebenarnya masih belum terkupas habis.


“Ayo kita pulang. Lo harus istirahat yang penuh, Kak!” Hala tertawa, seolah-olah sebelumnya mereka tidak hanya mendengarkan keburukan dan menjatuhkan permasalahan gila yang membuatnya ingin merobek diri menjadi pecahan kecil, atau bahkan membuatnya berpikir ingin menjadi tumbuhan yang hanya berfotosintesis dan tidak mendapati banyak masalah gila-gilaan.


“Gue nggak akan biarin lo tidur terlalu larut, Kak. Ayo! Lo harus minum susu hangat sebelum tidur biar perasaan lo lebih lega dan ringan. Lo juga seenggaknya harus bersih-bersih dan ganti dengan piyama yang hangat. Lo juga sebelu-“


“Tidur bareng gue, La..”


“HAH?!”


Respon Hala yang terkesiap, membuat Sinar sadar dengan kata yang dia ucapkan tanpa sengaja. Dia kelabakan sendiri ketika terdengar terlalu ambigu.


“Maksud gue, lo tidur di tempat gue.. gue masih belum mau sendirian” tukasnya cepat menangani kesalahpahaman.


“Loh? Kan ada Lisa?”


“Bukan, ke apart gue. Apart pribadi gue, La”


“Lo punya Apart, Kak?”


Sinar menarik jemari Hala lagi dalam harapan yang dia torehkan dengan senyum tipis di wajahnya. Tatapannya lurus pada perempuan yang kini dalam genggamannya, berharap Hala tidak akan menolaknya.


Cukup lama mereka terdiam dalam posisi yang agak canggung. Tetapi Sinar tetap memegang teguh permintaannya. Dan ketika Hala hanya menghela napas dalam yang terlalu dilebih-lebihkan, Sinar tahu dia menang dalam hal ini.


“Oke. Tapi, kabarin Lisa dulu. Gue yakin dia khawatir karena lo belum pulang. Dan gue, harus kabarin Heksa buat nyuruh dia nemenin pipang di rumah”


Mengabaikan ucapan terakhir, ponsel Sinar sudah berada di tangannya dalam sekejap dengan caller id Lalily menghias layar dalam panggilan yang sedang berusaha untuk terhubung.


Setidaknya malam ini, Apart kosong itu, bisa disulap menjadi kehangatan ketika dia membawa rumahnya untuk menginap disana. Meski hanya sebentar.


.........


...🍁...


...Tempat Pelarian; Calon Rumah Dimana Hati Tertuju. Part 3...


.........


...🍁🍁🍁...


...PROMOSI NOVEL KARYA SANTI SUKI...


...JUDUL: DUDA VS ANAK PERAWAN...


Yusuf, Duda muda dan keren yang beranak satu. Karena kebaikan akhlaknya banyak disukai oleh kaum hawa. Zulaikha, masih berseragam OSIS .Bilqis , mahasiswi magang di tempat anaknya sekolah. Sarah, CEO muda atasannya di kantor. Yusuf, membesarkan Asiah seorang diri. Anak gadis kecil aktif dengan rasa ingin tahu kuat. Kecerdasan dan gaya bicaranya sering membuat orang mati kutu.