Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Tentang Rasa (Fajri Sight) : Perasaan Yang Sama; Pengecut VS Sembrono Part. 2



Dia tidak bisa mengingat, pun tidak bisa menghitung seberapa cepat detakan jantung yang halus menjadi bergerak dengan ritme yang cepat di beberapa kesempatan yang bisa diambilnya. Banyak waktu, dia melewatkan hitungan ketika telinganya sendiri bisa mendengar suara debaran itu dengan sangat keras. Banyak waktu lainnya, tangannya akan terangkat untuk ikut merasakan debaran itu sendiri dengan tangannya. Dua indera menjadi satu, pendengaran dan perasaan dengan sentuhan yang mampu membuatnya sadar betapa perasaannya sudah jauh berkembang tanpa bisa dia cegah.


Itu terjadi begitu saja. Rasanya jatuh dengan ritme langkah lembut. Perlahan demi perlahan, langkah demi langkah sebelum itu pada akhirnya jatuh seperti dia sedang melakukan sprint yang membuatnya terengah-engah. Namun jauh dari kata lelah, itu malah membuatnya merasakan kehangatan, kegembiraan yang unik yang selalu ingin ia coba tanpa bisa hentikan rasa penasarannya lagi.


Itu dimulai dari hanya kebiasaan yang berubah menjadi rasa nyaman. Dari kenyamanan yang berubah menjadi faktor lain dalam membangun setiap serat sel tubuhnya bekerja keras untuk memberi pasokan energi yang dibutuhkan untuk membangun tubuh layu-nya. Perasaan itu mengisinya bagai baterai yang tidak pernah lelah. Cukup untuk selalu bisa membuatnya merasakan udara segar yang selalu melingkupinya dalam sebuah kepuasan unik yang membuatnya butuh dan candu.


Kesadaranpun tidak menyapanya dalam watu terdekat. Itu harus melangkahi banyak pengalaman dan waktu, kemudian lebih banyak konfrontasi, kegilaan yang nyata akan rasa ketidakpercayaan dimana dia mengelak perasaan indah itu sendiri. Butuh lebih dari milyaran kali detik jam bergerak untuk membuatnya bisa menggenggam erat sapaan kesadaran yang menunggunya dengan sabar, agak lebih memaksa.


Indah.


Rasanya indah untuk sebagian besar waktu. Rasanya nyata untuk sebagian besar langkah yang diambilnya. Perasaan itu membuatnya begitu kuat dan cekikikan di dalam dirinya. Hal itu membuatnya tertawa dengan wajah memerah ketika dia melihat pantulan dirinya di kaca besar, menyadari betapa rasa itu membuatnya terlihat konyol karena pipinya yang terasa membengkak karena senyumannya tidak pernah pudar.


Pada waktu-waktu dimana dia masih berada dalam fase penyangkalan, dia tidak bisa meletakkan jari untuk menamai perasaan itu. Dia tidak bisa melontarkannya dengan keras apa yang sebenarnya dia rasakan. Lidahnya terasa kelu ketika dia berusaha untuk mencari apa yang cocok atas kesadaran apa yang dia terima.


Alasan. Mungkin.


Dia mencari banyak alasan untuk tidak mengambil langkah yang terlalu sembrono dan terburu-buru. Dia tidak ingin jatuh dalam kesimpulan yang tidak akan bisa dia tarik kembali ketika dia lontarkan dengan keras-keras, memantulkan suara pernyataan itu ke ruangan disekitar dengan udara yang dihirupnya, dia masih tidak bisa.


Benar. Fajri mungkin hanya menyalahartikan perasaannya saja. Mungkin dia salah membaca dan terlalu terbuai dalam prasangka romansa putus asa untuk mendapatkan perhatian lebih dari sekadar zona pertemanan disekelilingnya. Ketika itu, dalam usia muda dimana dia adalah seorang lelaki puber yang ingin menjelajah banyak pengalaman, dia jatuh pada rasa penasaran yang besar tentang cinta.


Dia tumbuh dengan mengamati orang-orang disekitarnya memiliki sebuah romansa indah yang digambarkan dengan warna merah muda cantik dan musim semi. Meski dia tidak tahu dan tidak merasakan musim semi itu secara nyata bagaimana terasa dan hanya melihatnya dari beberapa film luar negeri yang tidak sengaja dia tonton, dia bisa meletakkan jari pada perumpamaan itu.


Banyaknya pasang kekasih yang saling memadu dalam balutan kasih sayang berbeda daripada hubungan lainnya, dia yang seorang penasaran, sangat ingin merasakan dan memiliki hubungan itu. Dia ingin merasakan bagaimana jatuh cinta. Jadi, dengan pemikiran seperti itu, dia pastilah sedang membayangkannya hanya dengan satu orang yang berada disekitarnya dalam waktu yang lama.


Satu anak perempuan yang dimana mereka tumbuh bersama dan telah berbagi banyak hal. Tentu saja, orang terdekatnya yang sangat dia percayai. Dia memiliki banyak orang lain di sekitarnya, benar. Namun rasanya aneh untuk membayangkan romansa pada orang lain. Pun, memikirkannya juga membuatnya tidak begitu bersemangat.


Karena itulah, dia pasti memfantasikan perasaannya yang penasaran akan cinta pada sahabatnya. Itu pasti begitu. Tidak ada hal lain yang menjadi alasan mengapa dia pada akhirnya benar-benar jatuh pada perempuan itu. Atau mungkin, itu hanyalah sebuah hal yang baru saja dia realisasikan dengan nyata.


Bagai kilat di siang bolong, kesadaran terpahit menyambarnya hanya dalam waktu yang begitu singkat.


Rasa penasarannya membangkitkan realisasi nyata dari perasaan yang telah mencoba untuk memberitahunya lebih cepat. Itu adalah sebuah kesalahan besar.


Kesalahan dimana itu ternyata menimbulkan rasa sakit yang menyebar begitu cepat bagai wabah yang menyerangnya.


Dia bilang, dia berada di posisi netral. Dia akan melangkah maju jika ada kesempatan dan dia akan mundur jika poin negatif memiliki lebih banyak kekuatan untuk mendorongnya mundur. Pikirnya itu akan mudah. Rupanya dia tidak belajar lebih baik dari bagaimana semesta telah mempermainkan hidupnya lebih lama.


Jika Alpino adalah seorang yang pemberani karena perasaannya yang menggebu untuk Lisa, sahabat dari lelaki itu sendiri-, dimana dia yakin dia mampu untuk memperjuangkan Lisa agar berada disisinya dan tidak mempunyai ketakutan besar untuk kehilangan Lisa jika dia mengatakan rasa cintanya untuk perempuan itu jika saja langkahnya tidak diberhentikan oleh Sinar, Fajri adalah kebalikannya.


Fajri adalah seorang pengecut yang jatuh cinta pada sahabatnya. Pengecut yang hanya bisa memendam dalam relung hatinya, membuang jangkar perasaannya agar tersangkut pada batu dari negatifitas yang mencengkeram sehingga menahan kapal cintanya untuk berlayar dengan bebas. Sebesar dan sekuat apapun keinginannya untuk memiliki Jihan bukan hanya sebagai sahabatnya melainkan sebagai cinta dalam hidupnya, Dia tidak berani.


Fajri tidak berani untuk melangkahi garis yang dengan susah payah dia buat diantara mereka berdua. Itu membuatnya mengeluarkan banyak tenaga dan rasa sakit. Dia juga berusaha dengan keras membangun dinding yang kuat di antara mereka berdua. Semua itu dia lakukan hanya karena satu hal;


Dia takut kehilangan.


Jika Jihan diibaratkan oksigennya untuk bernapas, jika saja dalam hal ini dia menarik tali yang salah-, bagaimana cara dia untuk bernapas setelah ditinggalkan dalam kehampaan ruang udara dan rasa sakit yang membuatnya menggila?


Tentu. Fajri tidak akan pernah menyangkal bahwa dia mempunyai sisi buruk dalam memilih sisi gelap dirinya. Overthinking dan insekuriti adalah hal-hal yang selalu memenangkan pertempuran batinnya. Dibandingkan untuk menatap keindahan hubungannya yang akan berlangsung indah dengan Jihan jika saja dia berani utarakan cintanya yang dalam untuk perempuan itu, dia akan melakukannya dengan tanpa banyak beban pikiran. Namun semuanya tidak semudah itu.


Mereka sahabat. Sudah lama sekali sehingga akan ada banyak hal yang berubah menjadi jauh lebih aneh jika mereka meng-upgrade perasaan mereka. Dia sudah memperhitungkan hal itu. Dia sudah melakukannya sejak lama sekali dan bahkan sudah menonton secara nyata kejadian buruk yang sama dalam kasus mereka di beberapa kesempatan dalam fase pertumbuhan hidupnya yang singkat.


Teman dari temannya mengalami kasus serupa, tetapi dia lebih percaya diri dan-, katakanlah dia berhasil menjadikan sahabatnya sebagai pasangan, namun pada akhirnya itu adalah cerita dimana teman dari temannya ini kehilangan satu sama lain. Segalanya berubah menjadi lebih aneh sehingga mereka tidak lain dan tidak bukan hanyalah dua orang asing yang pernah berbagi banyak hal dan kenyamanan bersama.


Tidak hanya itu saja. Ada sepupu jauhnya yang juga memiliki kasus serupa, namun sayangnya, kisah sepupunya ini juga kandas bahkan sebelum di mulai. Mereka tetap bersahabat, meskipun-, namun itu jauh lebih aneh dan canggung sehingga mereka pada akhirnya terhapus oleh waktu, dan kemudian jarak hingga kelanjutannya adalah saling menghilang dan tidak pernah saling melihat setelah kejadian yang tidak pernah mereka bayangkan itu.


Banyak contoh yang ingin dia kemukakan. Namun, itu bisa menjadi daftar panjang cerita yang tidak ingin membuat sisi gelapnya semakin memakannya hidup-hidup.


Bestfriend to lovers, katanya.


Cerita yang indah hanya ada dalam buku fiksi semata dan Fajri setuju akan itu.


Tidak masalah. Tuturnya pada diri sendiri. Tidak masalah jika perasaan cintanya tidak bersambut dan kehidupan cintanya hanyalah langit mendung dan selalu gerimis. Tidak masalah selama dia berada di sisi perempuan itu. Tangan saling tergenggam, senyum saling terukir. Tatapan mata yang menyorot satu sama lain dengan rasa hormat dan pancaran rasa kenyamanan yang sama adalah hal yang membuatnya bisa kenyang untuk satu hari penuh.


Sudah cukup-, meski lubang kekurangan yang meronta bisa dilihat jelas dengan mata telanjang.


Dia tidak peduli. Dia cukup kuat untuk menahannya.


Jika saja Jihan tidak membuat ini semakin rumit.


Seperti ini, seperti bagaimana pembahasan mengenai ini muncul kembali kedalam gelembung nyaman yang mereka bagi satu sama lain. Berbaring dari bahu ke bahu yang saling menempel, tautan tangan yang tergeletak cocok bagai puzzle di antara tubuh mereka dan mata dengan pantulan berbintang menghadapi indahnya pemandangan malam hari di atap rumah kontrakan Jihan yang di sewanya selama lima tahun kebelakang. Tempat yang paling mereka sukai untuk bersantai setelah melakukan kegiatan yang sibuk di siang hari.


Fajri dan Jihan berbaring di atas kursi panjang berbentuk persegi yang beralaskan karpet bulu lembut yang di bawa Jihan dari dalam rumah kontrakkannya. Lampu peri yang mereka pasang di tiang-tiang tinggi di sekitar anak kaki kursi mengelilingi mereka dengan indah, berusaha bergabung dengan kerlip taburan bintang di langit malam. Hembusan angin yang semilir, meskipun agak dingin mengingat bahwa mereka berada di gedung paling atas-, menerpa wajah mereka yang damai dan memerah karena suhu. Namun, dengan tubuh yang saling berdekatan, sengatan hawa panas dari tubuh mereka berdua sudah cukup untuk menghalau para angin nakal itu.


Dan disinilah, percakapan itu muncul hingga membuat hati Fajri kembali mengores luka yang tak kunjung sembuh.


“Fajri,”


Suara lembut itu memanggil. Fajri menggumam sebagai tanda bahwa dia sedang mendengar. Jihan diam sebentar. Suara napasnya naik turun dengan damai di telinganya. Fajri merasakan usapan lembut ibu jari di punggung tangannya sehingga dia mengeratkan kembali tautan tangan mereka.


“Hari ini cerah banget, ya. Sampai udah malam pun masih secerah ini. Bintangnya lagi banyak banget. Indah, ya?”


Itu selalu dimulai dengan percakapan basa-basi. Kebiasaan yang Jihan miliki ketika dia sedang gugup untuk menyuarakan sesuatu. Fajri bisa merasakan bagaimana mata naga putih itu meliriknya diam-diam dan bibirnya yang digigit dengan tanpa sadar meyakinkan Fajri bahwa perempuan itu ingin mengatakan hal-hal yang sudah mereka hindari dalam beberapa bulan terakhir.


Tapi Fajri tidak menyela. Dia membiarkan Jihan untuk menyuarakan pikirannya keras-keras meskipun Fajri tidak lagi siap untuk hal ini. Namun, dia melepaskannya dan yakin akan akhir dari pembicaraan mereka seperti yang sudah-sudah.


“Fajri,” Perempuan itu memanggil. Suaranya lebih tenang daripada beberapa jam terakhir ketika dia sangat bersemangat untuk mencicipi berbagai macam street food yang ditangkap kedua matanya yang memunculkan api kebahagiaan itu.


“Iya, Jihan?” Fajri mengangkat suaranya. Menjawab dengan suaranya yang lebih lembut untuk membuat perempuan itu maju dengan apa yang ingin dia katakan meski Fajri sudah tahu.


“Tadi anak-anak nyariin Lo” Dia memulai. Fajri menahan diri untuk tidak menghela napas berat ketika Jihan memuntahkan hal yang sudah pasti kemana arah pembicaraan ini. “Mereka bilang mereka kangen sama lo. Tapi waktu lo jemput gue, lo milih buat nunggu di luar gedung latihan. Jadinya mereka agak kecewa gara-gara pilihan lo”


Anak-anak yang Jihan maksud adalah atlet yang dia latih. Impian Fajri yang sedang dijalankan oleh Jihan dengan perasaan yang bahagia dan menikmati sedangkan Fajri hanya bisa tersenyum dan ikut bahagia dalam pekerjaan yang dilakukan perempuan itu.


Dia memang sering kali datang berkunjung ketika sedang memiliki waktu senggang untuk melihat bagaimana cara Jihan melatih anak-anaknya. Itulah mengapa, para atlet yang dilatih oleh Jihan mengenalnya, dan mungkin dekat dengannya.


Fajri menyukai mereka sebenarnya. Namun mereka terlalu berisik dan mengganggu, dimana mereka jugalah yang berhasil membuat Fajri semakin merasa patah hati dan tersayat. Karena anak-anak itu yang membuat Jihan menjadi seperti;


“Mereka udah lama nggak ngeliat lo waktu gue lagi ngelatih, Gue sampai penasaran sendiri sebenarnya mereka itu anak-anak gue atau anak-anak lo, sih? tiap kali lo dateng mereka pasti nempel banget sama lo,” dia terkikik dengan lucu. Ada dengusan senang dalam bahan pembicaraannya malam ini. “Ruth juga jadi sering nanyain kehadiran lo sama gue. Gue kadang jadi ngerasa sebel sama tuh anak gara-gara bahan pembicaraannya lo terus”


Dia mengoceh dalam berbagai nada. Fajri mendengarkan. Bibirnya dia tarik menjadi senyuman tipis ketika dia menahan napasnya untuk apa yang akan keluar dari bibir Jihan selanjutnya.


“Tapi gara-gara tiap hari gue ngejawab mereka dengan ketus, terlebih lagi ke Ruth, mereka malah jadi godain gue cemburuan gara-gara pacar gue ditaksir sama mereka semua”


“Mereka bilang lo pacar gue” Jihan bergerak. Dia memilih untuk menghadap ke arahnya ketika mengungkap hal yang tidak ingin Fajri dengarkan saat harapannya muncul begitu saja seperti bunga yang mekar dengan gembira. Hal ini, tidak pernah terdengar baik di telinga maupun perasaanya.


“Mereka godain kita terus, Jri” lanjutnya. Fajri ingin berteriak untuk meminta Jihan berhenti. Namun, bibirnya kelu untuk bersua. “Mereka bilang kita pasangan serasi. Mereka bahkan iri sama gue. Sama kita, sih, lebih tepatnya”


Dalam bayang terindahnya, hal yang dikemukakan Jihan adalah satu angan terbesar yang ingin dia raih. Gonggongan dan raungan terkeras dari lubuk hatinya yang paling dalam ketika Jihan menyebutkannya dengan keras dan lantang. Memintanya untuk mengeluarkan semua perasaan yang sedang dia tahan dengan setiap sel kewarasan dan rasa takut yang ia miliki.


“Fajri, kalau boleh-,”


“Ji,” Fajri tidak sanggup. Dia bergerak untuk berhadapan dengan Jihan. Menyimpan banyak rasa sakit yang dia pilih untuk rasakan seorang diri adalah hal yang bodoh, namun benar untuk dilakukan. Karena pada dasarnya itu semua tidak akan seindah keinginan terbesar yang dia miliki. “Kita sepakat untuk nggak ngomongin soal hal ini, kan? Inget?”


Dia meminta dengan lemah. Suaranya hampir menyerah ketika dia menatap secara langsung ke arah mata yang balas menatapnya dengan tatapan tidak terlalu suka. Mereka bertatapan dalam waktu yang agak lama sebelum Jihan menyerah dan menghela napas dengan keras seolah dia melempar sebuah batu berat ke dalam air tak berdasar.


“Gue Inget,” Perempuan itu berbisik dengan suara yang agak keras. Matanya tertutup meyembunyikan mata indah yang disukai oleh Fajri dalam banyak hal yang berpendar di dalamnya. “Tapi gue selalu penasaran kenapa lo selalu ngeberhentiin percakapan kita tentang hal ini”


“Jihan..”


Fajri memanggil dengan lemah. Dia tidak bisa menahan goresan lain yang mendera hatinya. Bangkit, dia terduduk di samping tubuh Jihan yang masih berbaring. Tautan mereka masih erat. Tangan besar Fajri yang lain menangkup genggaman mereka dengan sorot mata kasih sayang bercampur dengan kesedihan nyata yang tak bisa dia gambarkan dengan kata-kata.


“Itu bukan perasaan lo yang sebenarnya” Dia memulai dengan fakta pahit yang sebenarnya sangat tidak ingin dia katakan dengan lantang. “Lo cuma bingung karena Ruth, Fataya, Eijo dan anak-anak lain sering godain kita berdua. Lo bingung dengan sorakan dan godaan mereka buat kita. Dan terakhir, lo cuma penasaran kenapa mereka selalu mojokin tentang hubungan kita berdua yang kelihatan deket banget dan nggak kayak yang mereka punya”


Napasnya sedikit tersendat, dia tidak ingin menangkap tatapan Jihan untuknya. Pertama kali mereka membahas hal ini, dia bisa melihat tatapan polos yang tidak paham apa-apa seperti seorang anak kecil yang sedang diberi petuah dan pengertian tentang hal yang mereka ingin tahu apa itu dan bagaimana cara kerjanya.


“Lo cuma terlalu sering kemakan desakan mereka tentang hubungan kita dalam skenario pemikiran yang mereka punya. Jadi, tolong, Ji-, itu bukan yang beneran lo mau. Itu cuma rasa penasaran yang bikin lo terpengaruh.”


Sakit rasanya untuk mengemukakan hal itu.


Karena apa yang dia katakan sekarang, adalah kenyataan yang sebenarnya.


Jihan itu naif.


Dia memang kuat dalam bidang olahraga. Itu adalah kemampuannya dan dia sangat mampu dan menguasai hal-hal seperti itu. Dia juga bisa menempatkan satu dan lain hal, dia bisa bertengkar dengan Alpino sepanjang waktu ketika dia ingin. Dia bisa memilah mana kesukaannya dan ketidaksukaannya.


Namun dari sebagian besar kehidupannya, Jihan adalah seorang yang mandiri dan tidak pernah terlalu peduli dengan urusan perasaan. Bisa dibilang, dia adalah perempuan lugu untuk permasalahan cinta. Namun dengan sikapnya yang sembrono dan tidak bisa menyimpan segala hal dalam pintu rahasianya yang tertutup, dia bertindak berdasarkan instingnya yang meminta jawab tanpa membawa perasaan sebenarnya yang seharusnya menjadi momok pengertian paling utama.


Fajri mengantisipasi hal ini, tentu saja.


Jihan mungkin bisa dibilang sama sepert Heksa. Maniak yang ambisius tentang impian dan pekerjaan mereka namun nol besar dalam hal perasaan. Fajri tau dengan benar, bahwa Jihan adalah seorang primadona sejak dia menjejakkan kaki di Sekolah Menengah Pertama. Banyak yang meminta perempuan itu untuk menjalin kisah romansa bersama, namun sayangnya, orang-orang itu selalu berakhir untuk menyerah karena Jihan lebih memilih untuk berkencan bersama busur dan panahnya. Itulah mengapa, karena pengetahuan ini terpatri jelas di benak Fajri yang membekas, Jihan sama sekali tidak tertarik dengan kisah romansa remaja.


Jihan belum pernah jatuh cinta, bahkan tidak dengan cinta pandangan pertama dimana remaja merasakannya. Fajri bisa menyetujui hal itu dengan sangat yakin, Jadi, membicarakan perihal perasaan untuk Jihan adalah hal yang tidak akan pernah bisa dilakukan dengan serius karena perempuan itu tidak tahu bagaimana rasanya. Dan bahkan, tidak mengerti hingga dia bisa memilah dirinya sendiri.


Sekarang, Jihan hanya sedang penasaran karena anak-anak yang dia latih, membimbingnya dalam pemikiran tertentu tentang hubungan yang ada di antara mereka berdua.


“Sekarang lebih baik kayaknya kita fokus sama langit, deh”


Fajri menarik tali lain untuk melepas sesak yang mencengkeram jantungnya dengan ikatan yang sangat kuat. Dia mendongak ke atas langit untuk membual tentang basa-basi lain, menyeret atensi Jihan pada pembicaraan lain daripada membicarakan hal yang akan membuat Fajri hilang dalam menghitung torehan sakit di dadanya.


“Cantik, kan?” tuturnya. Dia menatap Jihan dengan senyuman konyol yang berhasil di buatnya sebelum menarik perempuan itu untuk duduk. Ada ekspresi aneh di wajah Jihan sebelum perempuan itu mengangguk dengan bersemangat. “Kalau gitu, mau foto bareng?”


Satu hal yang saat ini membuat Jihan bersorak dengan riang gembira tanpa kepura-puraan yang nyata, seolah-olah melupakan percakapan serius mereka yang terjadi tak sampai satu menit yang lalu. Nyatanya, Fajri jarang untuk mengajak dan memberi izin pada perempuan itu untuk memotretnya atau melakukan foto bersama jika Jihan tidak merengek padanya. Jadi, ketika Fajri yang menawarkan, perempuan itu dengan bersemangat menarik keluar ponselnya yang secara ajaib berada di genggaman tangan perempuan itu yang sumringah.


“Wajahnya jangan di jelek-jelekin, tapi!” Dia berseru dengan senyuman lebar yang hampir merobek wajahnya ketika dia meletakkan ponsel di depan mereka sembari mendekatkan diri pada Fajri, persis seperti benalu yang menempel pada inangnya.


“iya, iya, dasar bawel”


Ada tawa lega yang Fajri keluarkan ketika dia masuk dalam frame kamera ponsel yang di genggam Jihan. Dia berterimakasih pada angin malam yang segar, bintang yang menyebar di langit gelap, serta terselamatkannya dia pada malam ini.


Meski Fajri tau, dia akan mengubur diri dalam kegelapan yang dia miliki beberapa jam kedepan. Setidaknya untuk saat ini, biarkan dia bersenang-senang dalam senyuman yang dia miliki dan juga hangat tubuh Jihan yang melingkupinya seperti selimut tebal di hari hujan yang dingin.


.........


Mencintai Jihan adalah kesalahan terbesar yang dirinya lakukan. Dia tidak akan pernah menyangkalnya. Dan jika saja dia diberi pilihan untuk kembali memutar waktu untuk mengubah setiap serat kehidupannya tentang hal ini, dia pasti akan memilih jalan untuk kembali melakukan kesalahan yang sama.


Kesalahan yang terkadang, membuatnya tersenyum dalam gelembung kecil kebahagiaan yang cukup untuk pernah dirinya meminta.


.........


...🍁...


...Tentang Rasa (Fajri Sight): Perasaan yang Sama; Pengecut Vs Sembrono. Part. 2 - End...


.........


...🍁...


...🍁🍁...


...🍁🍁🍁...


terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Halo ada rekomendasi novel keren novel keren karya kak MinNami, nih!


Jangan lupa mampir yaa🥰


...PROMOSI NOVEL KARYA MINNAMI...


...JUDUL : RUMAH TANGGA...


Cinta saja tak pernah cukup, begitulah kata para pepatah. Binar dan Albiru tidak pernah menyangka ujian cinta mereka justru hadir setelah mereka menikah. Masalah bertubi-tubi menghampiri rumah tangga mereka. Ada mertua dan ipar Binar yang terus mengganggu kenyamanan Binar. Belum lagi masalah orang ketiga yang selalu mencari celah untuk masuk di kehidupan mereka. Saat batas kesabaran Binar sudah diambang batas namun tidak ada satupun yang memihaknya. Lantas salahkan Binar bila ingin menyerah?



Selamat membaca🥰