
Bersemangat untuk hari Jum'at depan yang akan datang, Noren tidak berpikir ketika dia menandai kalendernya dengan spidol merah secara berulang-ulang. Bukannya dia terlalu berlebihan dengan apa yang sedang dia lakukan, namun segalanya menjadi begitu berarti ketika dia hanya dengan tiba-tiba mendapatkan undangan langsung dari seorang Nalisa.
Dan bukannya untuk membuatnya terlihat konyol, pertemuan kelompok itu bukanlah pertemuan yang biasa dan mudah diabaikan. Itu adalah orang-orang terdekat yang Lisa miliki, orang-orang yang berarti dan berharga dalam hidup Lisa jika Noren bisa mengatakannya.
Dia pernah sekali dan pertama kali datang tanpa diundang ke acara pertemuan kelompok itu. Dia pernah memasukkan dirinya sendiri kedalam lingkaran yang nyaman dan menyenangkan itu. Benar, walaupun hal yang dia lakukan dengan sadar bisa dia katakan bahwa anak-anak dalam kelompok merasa agak tidak nyaman, mungkin bisa dibilang sangat tidak nyaman dengan kehadirannya, dia tetap memaksa untuk berada disana hingga pertemuan berakhir dengan mereka yang tepar karena kadar alkohol yang tak mampu mereka tangani dalam beberapa gelas yang mereka teguk.
Pada hari itu, Noren tidak berpikir banyak. Dia hanya memiliki satu tujuan dan itu adalah menjadi dekat dengan Lisa dan teman-teman terdekatnya. itu tidak berjalan dengan begitu baik karena Lisa bahkan tidak akan menatapnya dan memilih berbicara denga teman-teman nya saja. Bahkan, untuk satu pandangan dan perhatian saja, Lisa enggan untuk memberikannya pada Noren. Perempuan itu bahkan mengatakan dengan jelas bahwa dia membenci Noren dan mengutuknya dengan segenap perasaannya bahwa mereka tidak akan pernah bersama dan dia yakin bahwa dia akan menemukan cinta sejatinya seorang diri dan tentu saja itu bukan Noren.
Memikirkan hubungan mereka yang sekarang, Noren menjadi lebih hangat di dalam karena mereka sudah berada di tahap yang lebih baik seperti saat saat ini. Sekarang, mereka bisa dikatakan akrab dari seberapa besar frekuansi mereka bertemu dan berbicara satu sama lain meskipun kebanyakan Lisa hanya mengumpat padanya dan mendorongnya menjauh hanya dari kata-katanya.
Tidak apa apa, lagipula sekarang, Noren tau bagaimana rasanya begitu menyenangkan ketika dia hanya menggoda Nalisa seperti itu.
Dan dengan ditambah kenyataan bahwa Lisa mengundangnya secara pribadi ke acara yang sangat berharga itu, apa yang bisa disebut kebahagiaan oleh Noren sendiri jika itu lebih besar maknanya ketika dirinya sendiri merasakannya?
Senyumnya lebar ketika Noren membayangkan adegan kemarin disaat Lisa dengan tiba-tiba hanya mengundangnya seperti itu adalah hal biasa yang dia utarakan pada semua orang. Noren yakin, dia sedang merobek wajahnya sendiri dari seberapa penuh senyumnya saat ini.
Memikirkan sesuatu, Noren tersadar dari lamunannya dan dengan cepat menekan tombol telepon khusus kantor yang menghubungkannya dengan sekretarisnya.
"Nabila, bisa tolong masuk sebentar ke ruangan saya? ada yang ingin saya bahas denganmu saat ini mengenai penjadwalan dan beberapa hal lainnya"
"Baik, Pak. Saya akan segera kesana"
Begitu suara konfirmasi dari Nabila terdengar, Noren segera mematikan sabungan dan memilih untuk bersandar di kursi kebesarannya. Dia berputar disana sebentar, menikmati ruangan dingin dan nyamannya, mengabaikan bagaimana kasur di ruangan yang ia sekat dengan pintu memanggilnya untuk hanya merebahkan diri dari seberapa banyak pekerjaan yang ia lakukan sebelumnya. Pun juga, dari seberapa berat ia memikirkan kebahagiaan yang tiba-tiba menerpanya bagai badai.
Suara ketukan pintu membuatnya menghentikan tingkah konyol nya. menegakkan punggung dan membenarkan gestur tubuh, Noren mempersilahkan sekretarisnya untuk masuk kedalam ruangannya.
"Masuk"
Suaranya keras bergema di ruangan yang sepi dan luas. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita muda yang berusia dua puluh tujuh tahun jika Noren tidak salah ingat. Wanita itu satu tahun di bawahnya dan sudah menjadi sekretarisnya dalam waktu yang lumayan lama, empat sampai lima tahun jika dia coba menghitungnya.
"Ada yang bisa saya bantu pak? Ada jadwal yang harus saya ubah?"
Suara wanita itu sudah sangat familiar di telinganya. Noren mengangguk mempersilahkan Nabila untuk segera duduk dan mengambil tempat agar mereka bisa membicarakan hal-hal dengan lebih nyaman.
"Tolong kosongkan jadwal saya untuk Jum'at depan. Majukan atau mundurkan jadwal pertemuan. Terserah, saya butuh waktu kosong untuk hari Jum'at minggu depan" Dia bertanya tanpa berbasa-basi, terlalu semangat untuk penjadwalannya.
Nabila menatapnya sejenak dengan tatapan yang agak penasaran, karena Noren tiba-tiba saja terlihat sangat bersemangat dari kilatan ekspresi yang dia hadirkan untuk meminta hasil dari apa yang telah ia sebutkan sebelumnya.
Meskipun Nabila sudah melihat betapa absurdnya Noren yang sebenarnya dalam berekspresi ketika hanya ada Sinar di sekitarnya, dia belum pernah mengalami Noren yang bersemangat ketika hanya mereka berdua dalam satu ruangan yang sama. Lelaki itu selalu menyembunyikan ekspresinya dan bahkan Nabila bisa membedakan apakah Noren sedang berakting atau tidak. tapi yang satu ini, semangat dan bahagianya adalah tulus dari apa yang dia tunjukkan. Lelaki itu mungkin sedang tidak sadar bahwa dia tidak sedang di bawah kendalinya sendiri.
"Sebentar, ya, Pak. saya cek dulu apa memang bisa untuk mengosongkan jadwal di hari jumat"
"Harus bisa, soalnya saya ada janji penting" Noren membantah dengan cepat.
Nabila, abai pada ucapan Noren yang digumamkan dengan suara yang lebih kecil daripada apa yang dia harapkan biasanya, mulai menggulir tab kerjanya untuk mengecek jadwal bosnya sendiri.
"Jumat besok Anda memiliki pertemuan dengan Mr. Andrew terkait masalah kunjungan ke bagian produksi lapangan. disiang hari Anda memiliki janji temu dengan Mrs. Hellen terkait produk baru mengenai material interior bus Listrik yang percobaannya sedang berjalan saat ini, Pak"
Nabila menuturkan sembari memutar layar tab nya untuk diperlihatkan pada Noren. Wajah Noren seketika tertekuk melihat penjadwalan penting di hari yang sangat penting dia miliki terkait kehidupan pribadinya.
Meskipun itu adalah acara kumpul-kumpul untuk makan bersama di malam hari, Noren harus memiliki waktu untuk dirinya sepanjang hari. dia sangat ingin untuk membuat dirinya pantas dalam pertemuan kelompok dan mungkin akan memperkenalkan dirinya dengan lebih pantas dibanding sebelumnya. Dia tahu bagaimana Alpino dan juga Heksa masih begitu canggung di sekitarnya dari apa yang dia alami ketika mereka bertemu di beberapa kesempatan di luar acara itu sendiri.
Dia harus memastikan dirinya pantas untuk bersanding dengan Lisa dan mungkin dia akan mencuri perhatian Lisa pada malam hari itu dibandingkan dengan kehadiran Alpino disana. Demi apapun, dia agak tidak begitu senang dengan seberapa dekat Alpino dan Lisa meskipun Sinar mengatakan padanya bahwa mereka hanya sahabat dan tidak lebih.
Namun mengingat bagaimana Alpino memperlakukan Lisa dan bagaimana Lisa bertingkah disekitar Alpino, dia hanya iri dan terbakar api cemburu yang begitu mengganggunya. Noren tidak pernah merasa kalah dalam segala hal, namun disini dia, merasa tidak aman karena seorang sahabat lama yang dimiliki oleh calon pasangan hidupnya.
"Tidak bisakah untuk dimajukan di hari-hari yang lumayan kosong? hari rabu sepertinya bagus untuk bertemu dengan Mr. Andrew karena Saya hanya punya waktu sibuk di siang hari" dia meminta kemudian dengan tidak sadar.
"Saya minta maaf karena sepertinya penjadwalan dengan Mr. Andrew tidak bisa diganggu gugat, Pak. Mengingat Beliau memiliki waktu yang lumayan sibuk dan hanya bisa mengatur waktunya di hari itu"
Nabila menjabarkan. Dia melihat bagaimana kekecewaan hadir dengan cepat di wajah bosnya.
"Ah, iya, saya ingat"
Ada helaan napas yang diberikan oleh Noren. Dia mengetuk jari-jarinya di atas meja untuk menghasilkan nada sumbang yang aneh. Nabila meringis sebelum dia mencoba untuk mengatur penjadwalan yang lain sehingga Noren memiliki waktu kosong setengah hari yang lain.
"Maaf, Pak, bagaimana dengan pertemuan bersemana Mrs. Hellen kita majukan saja di hari selasa besok? Saya ingat bahwa Mrs. Hellen mengatakan dia hanya punya waktu yang lumayan kosong di hari selasa dan Jum'at. Kita bisa mengatur waktunya di hari Selasa sehingga Anda memiliki waktu bebas setelah jam makan siang, Pak"
Wajah Noren berbinar senang ketika Nabila menjabarkan opsi lain yang terdengar cocok dengan seleranya. Dia mengangguk tanpa banyak kata untuk menyetujui apapun yang Nabila katakan selama itu menguntungkannya.
"Tapi saya takut mengatakan bahwa di hari Selasa Anda akan memiliki banyak pekerjaan yang begitu padat. Anda tidak masalah dengan hal itu, Pak? ada banyak kegiatan di hari Selasa.. Apa itu baik-baik saja?β
Noren diam sejenak, tetapi dia mengabaikan segala hal jika dia bisa kosong untuk sisa hari di hari Jumat. toh dia juga sudah pernah melakukan 24 jam kerja dengan istirahat yang hanya sedikit. dia hanya perlu tidur di kantornya tanpa pulang ke rumah dan dia juga tidak masalah hanya untuk libur mengganggu Lisa satu hari saja.
Lagipula, dia tidak akan rugi banyak tentang itu. mengingat dia juga pernah meninggalkan Lisa beberapa hari dalam perjalan bisnis luar kotanya. semuanya baik untuknya. Dia bisa melakukan apapun agar hari jumatnya dapat ia pakai sesuka hatinya.
"Tidak masalah. Saya juga sudah terlalu terbiasa dengan banyak pekerjaan. Kamu bisa pulang lebih dulu jika pekerjaan di hari Selasa tidak selesai sesuai dengan jam kantor yang berlaku, Nabila. semuanya akan baik-baik saja untuk saya"
Nabila, tanpa bisa dicegah, senyum hadir di wajahnya dengan tiba-tiba. Noren terlihat anehnya sangat bersemangat dengan senyum ceria yang hadir di wajah yang seringkali memakai topeng itu. Tapi hari ini, sepertinya hal-hal baik datang padanya sehingga dia tidak sadar tengah melepaskan dirinya yang sesungguhnya di depan orang lain selain Sinar.
Nabila bertanya-tanya dalam diam, apa yang sebenarnya sedang dihadapi oleh lelaki itu akhir-akhir ini? Dia terlihat lebih tidak stress daripada hari-hari sebelumnya. Ada perubahan yang nyata dimana Nabila bisa rasakan di udara dan itu bereaksi juga padanya.
Noren saat ini terlihat seperti seseorang yang seharusnya berada dalam tingkat usianya dan tidak berusaha untuk membohongi dirinya sendiri seperti apa yang seringkali dia lakukan.
"Baik, terimakasih Nabila. saya mengharapkan berita bagus tentang itu"
Nabila mengangguk seraya berdiri dari posisinya.
"Saya akan mengusahakan hal itu, Pak. Jika tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya pamit undur diri dan segera melakukan tugas saya"
Noren diam sejenak. sebenarnya ada hal lain yang mengganggu dirinya. Tapi dia tidak bisa katakan begitu saja. Takut Nabila merasa aneh dengan pertanyaan yang akan dia lontarkan dengan tiba-tiba mengingat bahwa dia tidak pernah mengungkit hal-hal pribadi dengan orang lain, apalagi dengan Nabila sebagai sekretarisnya meskipun wanita itu sudah lama berada di sekitarnya.
Bukankah itu aneh?
Namun sekali lagi, Noren merasa frustasi jika dia tidak hanya mengeluarkan begitu saja apa yang sedang dia pikirkan. Jadi, ketika wanita itu mulai berjalan menuju pintu keluar, dia memanggil kembali dengan tiba-tiba. agak tidak aman. Nabila memperhatikan.
Ada hening sejenak ketika Nabila menunggu. Noren yang gelisah segera mengatakan masa bodoh! pada dirinya dan menatap perempuan itu tepat di kedua mata penasaran yang berubah menjadi sebuah keterkejutan semata.
Noren yakin, Nabila akan berpikir dia sudah gila untuk sisa hari itu
"Nabila, jika kamu mengundang seseorang datang ke sebuah acara pribadi yang begitu penting, pakaian apa yang kamu harapkan mereka untuk pakai? apa itu jas? atau kaus biasa? atau bagaimana?... "
Noren dengan aneh dan gugup, menggaruk tengkuknya dengan tiba-tiba. dia merasa sangat malu dan ingin memukul dirinya sendiri.
Nalisa Rembulan Cakrawijaya, lihatlah apa yang telah kau lakukan pada seorang Giovano yang malang ini.
"Err.. seperti, pakaian yang cocok untuk.. satu acara dan menimbulkan kesan yang baik.. "
Noren sudah gila. dia pasti sudah hilang akal ketika Nabila tiba-tiba tersenyum dengan aneh dan beberapa detik kemudian, wanita itu tertawa tanpa bisa dicegah.
Tentu saja Noren sangan percaya diri dengan selera fashion yang dia miliki. Dia bisa tampil dengan sangat menarik dan memikat mata orang banyak dengan apa yang dia kenalan di tubuhnya. Noren akan mengatakan bahwa dia tidak pernah merasa bingung dengan apapun yang akan dia pakai.
Seluruh kencannya bersama Lisa juga baik baik saja dan dia puas dengan penampilan yang dia pilih dengan hati-hati sekali. Dia tidak perlu pendapat orang lain, dia tidak perlu saran dari orang lain.
Tapi kenapa sekarang dia merasa begitu gugup? apakah ini sungguh yang dinamakan kekuatan dari undangan ekslusif sebenarnya? Noren tidak tahu, dia hanya resah.
Noren bisa memastikan dia mengutuk dirinya sendiri tentang ini dan akan mengakui bahwa dia sedang kesurupan sekarang. Ini tentu saja bukan dirinya. Noren tidak pernah seperti ini di hadapan orang lain.
Ini sangat.. ugh, menyebalkan dengan aneh.
"Diam." Dia meminta, namun suaranya tiba-tiba menghilang dan menyisakan rasa malu yang membuat wajahnya memanas.
"Oh, ternyata Anda memiliki kencan! baiklah, saya akan membantu Anda dengan senang hati, Pak Giovano"
Dan itulah kali pertama Nabila merasa begitu dekat dengan bosnya dimana dia telah bekerja dalam tahun-tahun hanya untuk merasa awkward dari seberapa banyak tingkah Noren yang hanya berubah jika bersama dengan Sinar saja.
Sekarang, Nabila sedang bereksperimen dalam tingkatan dimana posisi Sinar berada di hidup Noren.
Itu anehnya baik, dan juga agak menggemaskan.
.........
...π...
...Penjadwalan: Intermezzo; Saran - End...
.........
...π...
...ππ...
...πππ...
Terimakasih sudah membaca sampai disiniπ₯°
enjoy and see u next! π€
...βββββββ...
Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Triple.1, nih!
Jangan lupa mampir yaaπ₯°
...PROMO NOVEL KARYA TRIPLE.1...
...JUDUL: TRULY MADLY LOVE...
Hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Apalagi jika keadaan yang sangat memaksa membuat mereka terpaksa menjalaninya. Walaupun Lily lebih muda tujuh tahun dari Zack Alexander. Lily dapat membuktikan bahwa dia dapat bertahan dengan ketulusan cintanya. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalani hubungan jarak jauh. Pada tahun ke-lima, Zack menghilang. Lily kehilangan kontak dan semua akses terhadap Zack. Dua tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Namun Zack telah memiliki keluarga kecil. Akankah Lily menyerah tanpa menuntut penjelasan Zack?
Selamat membacaπ₯°