
Kencan sahabat mereka tetap berjalan dengan baik dan begitu mulus. Setelah berpamitan dengan agak canggung pada ketiga orang yang merupakan tokoh utama penyebab atmosfir aneh di sebuah ruangan penuh dengan banyak orang, mereka berkendara menuju toko es krim pinggir jalan mana saja yang mereka temui pertama kali.
Keresahan yang mengandap perlahan-lahan di ambil alih oleh kesegaran yang menerpa dengan begitu baik dan ringan. Menyebabkan perasaan puas semakin menjadi pemenang utama dalam berbagai macam bentuk perasaan yang timbul.
Es krim di tangan mereka berdua menjadi penyejuk yang cocok dalam kesegaran siang hari sebelum benar-benar mengisi perut dengan makanan berat yang dibutuhkan oleh tubuh sebagai bentuk energi utama dalam kegiatan mereka. Satu tangan masih menggenggam substansi dingin dengan perasa redvelvet yang dihiasi dengan topping almond dan fla cokelat, sedangkan yang lain menggenggam satu cup berukuran sedang dengan perasa kopi susu dan lelehan cokelat putih yang bertabur springkle manis berbentuk bintang dan bulan sebagai hiasan tambahan rasa dan tampilan.
Mereka berdua duduk di salah satu kursi di luar toko eskrim dengan payung berwarna-warni yang mencolok demi untuk menghabiskan dan menikmati es krim sebagai penyegaran. Bercengkrama entah apa diawali dengan membahas permasalahan yang timbul di rumah penjualan Madevision sebelumnya hingga sebuah permainan yang tiba-tiba mereka mainkan dari ponsel Alpino sebagai penghilang waktu sampai es krim mereka berdua benar-benar sudah tidak bersisa lagi.
Hari itu adalah sabtu yang terik dan agak panas. Cuaca memang menyegarkan dengan awan yang berarak bak kapal di atas samudera biru terang yang tenang dan damai. Namun tetap saja, sinar mentari mencoba untuk terus menyorot benda-benda dan membakarnya dalam sapaan yang tidak terlalu ramah disiang hari. Beruntungnya mereka menemukan tempat kosong di tempat penuh dengan masyarakat umum yang berusaha untuk menikmati hari libur yang mereka pantas untuk dapatkan.
Setelah beberapa putaran game dimana Lisa memenangkan dua dengan Alpino yang hanya bisa memenangkan satu, dan dengan es krim yang sudah tidak bisa dinikmati lagi, yang kemudian dihadiahi oleh perut keroncongan bercampur rasa penasaran yang begitu kuat, Lisa dengan rengekannya meminta Alpino untuk segera pergi ketempat manapun yang menjadi tempat spesial bagi lelaki itu. Dia sudah sangat penasaran dan begitu lapar. Bekal yang sudah disiapkan oleh Sinar pun hanya sekedar camilan semata sehingga Lisa berseru dengan tuntutan lebih agar Alpino tidak membuang-buang waktu dan segera mengantarnya ketempat yang lelaki itu kode sejak awal hari tadi.
Alpino, seperti orang yang begitu sayang pada kesukaan yang ditampilkan dan lemah dengan apapun yang dipinta oleh sahabatnya itu, segera mengiyakan dengan tawaran mereka akan mengambil take-away dan memakannya di tempat yang akan dia tunjukkan pada Lisa. Tentu saja, perempuan itu menyetujui dengan semangat membara dan meminta untuk memesan makanan Jepang dan beberapa side dish dengan alasan bahwa dia sangat merindukan Negara dan makanan khas mereka.
Perjalanan yang akhirnya mereka tempuh tidak memakan waktu yang terlalu jauh. Itu seperti Alpino sejak awal berusaha mengrahkan mereka dalam tujuan dan jalur yang sama untuk menuju ke tempat yang akan Lisa jejakkan kakinya disana. Lisa, berhasil sibuk dengan ponsel dan aplikasi pesan makanan milik Alpino yang diserahkan dengan sukarela oleh sahabatnya itu, bergumam dan tidak terlalu fokus dengan jalanan. Dia masih sibuk menambahkan makanan ke keranjang bersamaan dengan beberapa tanya tentang apa makanan yang diinginkan oleh Alpino.
Itu seperti hanya dua puluh menit dari rumah penjualan Madevision dan sepuluh menit dari toko tempat mereka menikmati es krim ketika mobil berhenti tepat di sebuah tempat parkir yang agak sepi. Sebuah bangunan berdiri dengan cantik di depan mereka dengan sulur-sulur tumbuhan yang merambat di sela dinding dengan ukiran batu alam yang begitu cantik. Corak berwarna abu muda dan gelap itu terlihat seperti desain yang menggugah mata dan masih tetap menonjolkan aura simple-modern bangunan tersebut.
Lisa menatap apa yang disuguhkan padanya dengan tatapan takjub yang penasaran. Tempatnya indah dan sejuk, tidak begitu jauh dari pusat kota dan masih merupakan tempat yang mudah di jangkau oleh banyak orang. Tempat yang agak strategis untuk tempat penjualan jika dia bisa mengatakannya. Di sisi-sisinya ada bangunan lain yang merupakan toko penjualan aksesoris dan kaca film, yang kemudian juga bisa Lisa daftarkan adalah toko pernak-pernik pakaian dan satu toko yang menjajakan ikan hias yang menarik mata.
Mengembalikan perhatiannya pada bangunan kosong yang terlihat begitu sejuk dengan eksteriornya yang memanjakan mata meskipun hanya di bagian tampilan batu alam dan suluran tumbuhan yang menumbuhkan bunga-bungaan kecil berwarna merah muda dan putih, Lisa bisa melihat seberapa luas bangunan itu di dalamnya. Meskipun agak kecil di luar, dia tahu di balik pintu itu masih akan membawanya ke banyak ruangan yang bisa dia eksplor lebih jauh lagi. Bangunan itu juga bertingkat, tetapi sepertinya hanya da satu ruangan di atas yang sangat luas seolah-olah Lisa bisa pakai untuk berbain bola sepak di dalamnya.
“Ini dimana, Al?”
Mulutnya pada akhirnya terbuka untuk menuntut tanya. Dia sendiri masih terkagum-kagum dengan tempat yang dirasa memanjakan matanya hanya dari bangunan kosong yang belum terisi apapun. Semuanya terlihat cantik bahkan saat kosong, Lisa bisa membayangkan betapa luar biasanya bangunan itu jika sudah didekorasi dan diisi sedemikian rupa.
Alpino, yang baru saja mengikuti Lisa keluar dari mobilnya yang sudah terparkir rapi dan sempurna di sisi parkiran yang cocok, menghampiri perempuan itu dengan senyuman lebar di wajahnya. Dia menepuk bahu Lisa dua kali sebelum menarik perempuan itu untuk mengikutinya masuk ke dalam bangunan. Dengan wajah penasaran yang bertanya-tanya dengan aneh, Lisa menuruti kemana ingin lelaki itu membawanya.
Bangunan yang dilihat cantik dan modern dari luar dengan tampilan seperti minimalis, benarlah apa yang dipikirkan Lisa untuk bagian dalamnya. Itu luas dengan empat ruangan lain yang tersebar di belakang. Belum lagi ada satu ruangan terakhir sebelum dia di hadapkan dengan tanah lapang yang ditanami dengan rumput liar yang masih berantakkan, agak tidak cocok dengan tampilan luar dan dalamnya yang begitu halus. Lisa juga bisa melihat satu kolam ikan kecil di sudut kiri dekat dengan pagar pembatas. Air yang menggenang masih terlihat kotor, tetapi ada beberapa ekor ikan yang masih berenang tak terganggu disana. Beberapa hanya ikan-ikan kecil dengan ekor warna-warni dan satu ikan koi yang tidak cocok kehadirannya dengan tempat kumuh yang berantakkan.
“Gimana, bagus nggak tempatnya?”
Alpino yang sejak tadi membiarkan Lisa berlalu-lalang dengan semangat dan penasaran di dalam ruangan bangunan yang dia bawa masuk, tiba-tiba sudah hadir tepat di belakang Lisa yang masih mengamati gerakan ekor ikan koi berwarna merah hitam dengan ukuran sebesar kepalan tangannya. Terperanjat dengan masih wajah terkejutnya, dia berbalik untuk melihat wajah sumringah Alpino tepat di kedua matanya.
“Bagus banget, loh. Al. Gue aja sampai kaget lo bawa kesini. Tapi bangunannya masih kosong, ini juga kasihan ikannya ditinggal begini di air kotor juga. Tapi ini dimana, sih? lo nggak jawab dari tadi gue tanya”
Terlalu bersemangat tentang banyak hal yang baru, Lisa sama sekali tidak bisa berhenti untuk berbicara dan bertanya. Alpino yang sejak tadi mendengar dan mengamati, terkekeh geli dengan reaksi yang diberikan sang sahabat padanya.
“Nanti gue jelasin semuanya. Ayo kedepan dulu, makanannya udah sampai. Nanti dingin, lho” Suaranya di dendangkan dengan lembut. Meletakkan tangannya di lengan Lisa, dia menarik perempuan itu perlahan untuk mengikuti permintaannya.
Lisa, yang masih dengan semangat membara dan ingin tahu, hanya pasrah dengan ajakan Alpino untuk kembali masuk kedalam ruangan yang masih bersih itu. Dia bahkan tidak lupa untuk melambai kecil pada ikan yang masih berenang di kolam kecil kumuh,, agak tidak rela untuk sekedar meninggalkan dengan hasrat ingin membersihkan ruang tempat ikan itu berenang.
Alpino membawa Lisa ke ruang tengah dan dikejutkan dengan adanya dua meja persegi yang di satukan dengan dua kursi yang sebelumnya tidak ada di sana. Juga, ada beberapa makanan yang Lisa ingat dia pesan ketika di perjalanan, sudah tertata dengan rapi dan terlihat sangat menggoda sehingga Lisa yakin dia bisa mendengar suara perutnya sendiri bergemuruh untuk diisi.
Itu diletakkan di dekat sebuah jendela besar yang lebih bersih daripada jendela di sisi yang lain, seolah-olah Alpino berusaha untuk membuat acara mereka lebih bersih dan nyaman. Lisa tersenyum dengan gembira ketika dia sudah berlari kecil menuju kursi dimana Alpino meletakkan tas kecilnya yang dia sadari tidak di bawanya ketika dia turun dari mobil sebelumnya.
“Lo yang nata beginian? Tadi gue nggak lihat sama sekali, lho” Lisa berseru ketika dia berhasil duduk di kursinya. Mengusap kedua tangannya dengan gembira, perempuan itu langsung mengambil sebuah sushi dengan tangan kosong dan melahapnya dengan segera. “Enak banget sumpah” lanjutnya dalam keadaan masih menunyah
Alpino menghela napas dengan senyum kecil meskipun keningnya berkerut agak tidak suka. Lelaki itu menarik tangan Lisa dan mencelupkannya ke salah satu mangkuk yang sudah diisi dengan air dimana lelaki itu sudah mempersiapkannya karena paham dengan apa yang terjadi. Dia sudah terlalu hapal bagaimana kelakuan Lisa seperti membalik telapak tangannya.
“Cuci tangan dulu, pinter” Gemasnya ketika dia selesai membasuh tangan Lisa dengan air dan mengelapnya kemudian dengan handuk bersih. “Jangan kebiasaan makan langsung hap pake tangan gitu. Mana belum di cuci. Makan kuman baru tau rasa, lo” Meskipun dia menggerutu, Alpino tetap membasuh tangan Lisa dengan telaten sebelum dia memberikan sahabatnya sumpit dan sendok garpu yang dia letakkan tepat di piring kecil bersebelahan dengan mangkuk ramen bagian perempuan itu.
Lisa hanya meringis sebelum membasuh tenggorokkannya dengan air dingin yang sudah di persiapkan. Angin berhembus dengan lembut, menyebarkan bau lezat makanan di sekitar. Perut Lisa semakin bergemuruh sehingga dia mengabaikan omelan Alpino dan sesegera mungkin mencicipi makanan yang sudah tersaji di depan mata.
“Emang, ya, cewek kalau sudah di depan makanan seolah yang lain nggak berwujud sama sekali” helaan napas Alpino terdengar begitu suka lebih daripada dia mengeluh. Mendudukkan dirinya dan ikut berkutat dengan makanan, mereka mencciptakan suasana hening yang nyaman yang disertai dengan gumaman senang bernada dari Lisa.
“Udah. Makan aja jangan banyak ngomong. Lo berhutang banyak penjelasan buat gue, Al” Lisa mengetuk piring Alpino dengan garpu miliknya. Matanya melotot pada Alpino dengan lucu sebelum kembali menikmati kunyahannya.
“Hmm” Ada jeda sejenak seolah Alpino sedang menimbang sesuatu sebelum dia melanjutkan, “Lo percaya nggak kalau gue bilang ini gedung punya gue?”
“Yah, kalau dibilang banyak duit, sih, nggak juga. Tapi doain deh rekening gue tambah gendut sampe gue bingung mau buang duit kemana lagi” Ada tawa yang dilontarkan sebelum Alpino kembali memasang suara yang lebih serius. “Tapi beneran, lo harus percaya kalau bangunan ini seluruhnya udah hak milik gue, Nalisa”
“Bukti?” Ada satu alis terangkat yang ditampilkan Lisa.
“Dih nggak percayaan banget sama gue” Dengan cekikikan geli, Alpino memilih untuk memasukkan satu suapan sushi lain ke mulut Lisa yang diterima dengan baik oleh perempuan itu. Masih dengan tatapan yang sama dengan sebelumnya.
“Meskipun gue nggak langsung bayar lunas, tapi gue beneran udah DP ini gedung. Aduh, bukan gedung juga sih, bangunan inilah pokoknya. Alhamdulillah-nya biaya cicilan perbulannya juga nggak gede banget. Penghasilan gue masih bisalah menutupi biaya buat tempat ini”
“Serius?” Kali ini, perhatian Lisa sepenuhnya teralihkan pada Alpino seorang. Lelaki itu terlihat lebih serius daripada yang sebelumnya.
“Lo..” Alpino memulai, agak sedikit gugup sebelum dia menampilkan tarikan senyuman kecil diwajahnya. Ada perasaan was-was aneh yang Lisa perhatikan dimana seharusnya sahabatnya tidak perlu merasa aneh disekitarnya.
“Lo masih inget nggak, salah satu impian besar gue yang pernah gue ceritain ke lo waktu lo pertamakali nemenin gue interview kerja di ODEZA?”
..........
...🍁...
...Daun Gugur : Impian Dan Pilihan Terakhir...
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
enjoy and see u next! 🤗
Btw guys, sekarang per bab ga bisa lebih dari 3k kata, jadi mulai dari bab ini akan dipotong jadi 2 bagian. tapi tenang aja langsung double up kok🥺 semoga bacanya tetap enjoy ya. terimakasih 🙏
...☟☟☟☟☟☟☟...
Oh iya ada rekomendasi lagi novel keren karya kak Yayuk, nih!
Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA YAYUK TRIATMAJA...
...JUDUL: RANJANG SANG MAFIA...
Maya Larasati seorang sekretaris yang sangat cantik dan mempunyai seorang kekasih. Kekasihnya ingin menikahinya agar tidak ada orang yang yang memilikinya dan menyuruhnya untuk berhenti bekerja.
Maya sebenarnya sayang kalau berhenti bekerja tapi karena sangat mencintai kekasihnya membuatnya berhenti bekerja dan mereka pun menikah.
Uang pesangon Maya sangat besar membuat suaminya menyuruh untuk membeli rumah yang besar dan Maya pun setuju.
Cobaan datang ketika keluarga suaminya ikut menumpang di rumahnya dan memperlakukan Maya seperti pelayan ditambah suaminya selingkuh membuat Maya mengajukan berpisah.
Di tengah keterpurukan Maya bertemu dengan sang mafia.
Apakah sang mafia bisa meluluhkan hati Maya yang sudah membeku.
Selamat membaca❤