Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Hari Pernikahan (Noren Sight)



Noren tidak bisa berhenti tersenyum. Jantungnya berdebar dengan debaran halus yang membuat adrenalinnya terpacu sehingga membuatnya tidak bisa diam. Sejak tadi, kakinya membawanya melangkah kesana-kemari tidak tentu arah. Gerakkannya pun tidak stabil, terkadang dia bisa melompat kecil untuk melepaskan bola-bola energinya yang terlalu berlebihan. Rahangnya juga terasa sakit karena dari seberapa lama dan besar seringainya tertarik.


Lagu Marry You milik Bruno Mars mengalun di venue yang megah, bocor ke dalam ruangan yang sekarang di huni oleh Noren sebelum sebentar lagi lelaki itu akan keluar dan menyapa para tamu. Beberapa kali Noren bersiul mengikuti melodi atau dengan terang-terangan ikut bernyanyi bersama. Dia tidak bisa menyembunyikan seberapa bahagia dia saat ini.


Tentu saja, hari ini adalah hari dimana akhirnya dia akan mengucap sumpah janji suci untuk mengikat Nalisa menjadi miliknya untuk selamanya. Noren sudah menghapal kalimatnya semalam suntuk. Dia sudah memastikan bahwa tidak akan ada kalimat yang salah dalam pengucapan dan dia tidak akan mengacaukan kalimatnya di depan penghulu dan semua tamu undangan yang menyaksikan moment indah kehidupannya yang akan dia pegang seumur hidup.


Noren tentu sangat gugup. Dia sudah menantikan hari ini akan tiba. Bayangan tentang membina hubungan rumah tangga yang harmonis dan domestik menyentuh hatinya dengan khayalan dan imaji keinginan yang menghangatkan sanubari. Bayangan tentang melihat senyuman Nalisa di pagi hari bersamanya, memasak bersama dan membunuh waktu yang berjalan lambat dengan obrolan hangat dan rasa kasih sayang dimana-mana. Noren sangat menantikannya.


Sekarang, dia baru saja selesai dengan make up pengantinnya. Tuxedo hitam yang sudah dirinya persiapakan sejak jauh hari dan di desain dengan permintaan khusus sudah terbalut dengan indah di tubuhnya. Hairstyle-nya yang coba mati-matian dia pastikan cocok dengan penampilannya saat ini sudah disetujui oleh hati kecilnya yang sangat puas. Untuk mengatakan bahwa dia sudah siap adalah hal yang sangat merendahkan karena pada dasarnya, Noren sudah sangat siap untuk keluar dan menjabat tangan penghulu dan mengucap sumpah pernikahannya disana dengan suara yang tegas tanpa keragu-raguan sedikitpun.


”So, what a man gotta do~ What a man gotta do~ To be totally locked up by you~”


Noren menyanyikan bait lagu dari Jonas Brothers yang baru saja mengalun menggantikan musik cerianya Bruno Mars. Dentuman melodi berbaur dengan detakan jantungnya yang semakin bersemangat. Dia hanya harus membenarkan sedikit letak pin di sakunya sebelum dia keluar. Dia ingin keluar sesegera mungkin untuk melihat bagaimana indahnya dekorasi pernikahan yang sudah dia rancang sedemikian rupa. Noren sangat bersemangat untuk menyapa semua orang di luar dan menunjukkan betapa bahagianya saat ini.


Noren ingin membagikan kebahagiaan yang menggetarkan hatinya. Dia adalah pemeran utama hari ini dan semua orang harus menatap dirinya sebagai orang yang paling penting dan paling bahagia dalam hidup. Dia akan memamerkan betapa indahnya hari ini pada semua tamu undangan dan memamerkan betapa cantiknya pasangan hidupnya kelak. Noren sudah membayangkan bagaimana Nalisa akan terlihat ketika dia di antar oleh Ayahnya melalui entrace kaca bertabur mawar untuk diserahkan kehidupan perempuan itu kepadanya.


Nalisa pasti akan terlihat sangat luar biasa. Noren bersumpah akan hal itu.


”Sayang? Sudah siap?”


Noren menoleh ketika pintu ruangannya terbuka untuk menunjukkan wajah ibunya yang tersenyum dengan sahaja. Noren mengangguk, berjalan menuju wanita paruh baya yang sudah melahirkannya dan menjadikannya seorang lelaki yang seperti saat ini. Meskipun banyak waktu tidak mengenakkan dan membuatnyan hingga sampai di tahap gila, tetapi ibunya akan tetap menjadi apa yang dia hormati. Apalagi, wanita itu terlihat sangat anggun dengan balutan dress kebaya biru langit yang berenda.


”Sebentar lagi, Mi. Aku lagi nungguin touch-up terakhir. Gimana keadaan di luar?” Noren bertanya dengan nada yang sedikit meninggi. Tidak bisa menyembunyikan betapa bersemangatnya dia.


”Semuanya baik. Memang agak berangin di atas, tapi kayaknya bakalan aman. Mami udah pastiin cuaca nggak bakalan buruk. Tamu juga udah rame di venue. Mereka nungguin kamu doang, nih. Lama banget siap-siapnya” Ibunya tertawa, tangannya yang masih sehat bergerak untuk membenahi sedikit kusut lipatan baju di sekitar lengannya, menepuk sedikit untuk membuatnya tampak sempurna kembali.


”Ganteng sekali anaknya Mami.. semoga lancar, ya, sayang. Jangan buru-buru nanti ngucapin akad-nya. Jangan gugup, oke?”


Noren terkekeh. Dia terkejut dengan seberapa terbukanya dirinya hari ini. Biasanya, dia tidak akan menunjukkan sisi ini kepada Ibunya atau orang lain yang tidak dia kehendaki untuk melihatnya pada sisi ini. Sebenarnya, tidak banyak waktu dimana dia bisa bersikap sangat ceria, tapi disinilah dia. Endorfin kebahagiaan tersalurkan ke seluruh tubuh dengan kecepatan yang luar biasa sehingga membuatnya mabuk dan tidak bisa menyembunyikan apapun lagi pada siapapun. Noren bersumpah dia pasti akan banyak tersenyum dan mengejutkan banyak tamu undangan dan kolega yang tidak akan mempercayai apa yang mereka lihat.


”Nggak bakalan gugup, Mi. Aku udah pastiin semuanya bakalan berjalan lancar. Sekarang, Mami temenin Papa aja di luar, oke? Sebentar lagi aku pasti keluar, kok” Noren segera mendorong Jessica dengan lembut ke luar ruangan.


Melambai pada ibunya, Noren kembali masuk dan berjalan ke cermin besar untuk memperhatikan penampilannya kembali. Dia hanya perlu menunggu assistant yang bertanggung jawab untuk mengambilkannya jam tangan yang tertinggal entah dimana ketika perempuan muda itu meminta maaf padanya dengan ketakutan dan rasa bersalah. Tetapi karena suasana hati Noren baik, dia tidak mempermasalahkan hal itu. Menunggu sedikit tidak masalah karena dia yakin Nalisa akan tetap menjadi istrinya di penghujung hari kelak.


”Sebentar lagi, ya, sayang.. sebentar lagi kita bakalan hidup bareng.. gue seneng banget” Noren terkekeh. Dia tidak sabar untuk segera menggandeng tangan Nalisa yang sudah berubah status menjad istrinya. Lagu lain diputar dan Noren menjadi tidak sabar.


Beberapa menit kemudian, Noren bersyukur ketika perempuan yang bertugas itu datang padanya dan memakaikannya jam tangan mahal yang dia beli bersama cincin pernikahan. Meskipun cincin itu belum tersemat di jari manis Nalisa, dia pastikan dia akan melakukannya setelah mengucapkan ikrar nanti. Sekarang, dia hanya fokus pada parfum yang disemprotkan di bagian tubuhnya sebelum perempuan itu mengatakan bahwa dia bisa keluar dari ruangan sekarang.


Jadi, Noren melangkah untuk berada di tempat dimana dia akan melangsungkan acara pernikahannya. Ketika Lift terbuka, semua angin segar dan bau bunga menyeruak menyerbu indera penciuman dan perasanya. Angin memainkan helai rambutnya yang baru ditata, tetapi tidak masalah karena Noren yakin style-nya mampu menahan godaan angin yang hanya mencoba untuk memberikan penghiburan tambahan.


Meskipun Noren sudah melihat bagaimana hasilnya sebelumnya, dia masih takjub dengan dekor yang dirinya pilih untuk hari pernikahannya ini. Rooftop di sayap barat yang memiliki pemandangan laut yang indah di kejauhan sana membuat segalanya terlihat lebih enak dipandang mata. Ada bunga-bunga putih bertaburan di sekitarnya, berbaur padu dengan jalinan lampu-lampu peri cantik dan beberapa lampion yang akan terlihat sama menakjubkannya ketika pesta dansa malam dimulai.


Uliran dedaunan hijau bersatu padu dengan peralatan indah dan berkilau sebagai tempat para tamu duduk dan menyaksikan acara pernikahan berlangsung. Buffet makanan manis dan camilan berjajar di sudut-sudut dengan dekoran yang menarik mata. Gelas-gelas berbagai ukuran dan minuman mulai dari jus sampai dengan wine tersedia dengan layak di mejar bar yang sebelumnya hanya merupakan lahan kosong dengan suanasa santai untuk melihat matahari terbenam atau menikmati keindahan bulan dan deru ombak dari kejauhan.


Baru saja Noren melangkah untuk menikmati keindahan acara pernikahannya, dirinya sudah diserbu dengan kolega-kolega yang berusaha untuk berbaur dan mencungkil informasi-informasi apapun darinya. Bahkan, ucapan selamat adalah apa yang pertamakali dia dengar saat mendapati dirinya dikerubungi oleh beberapa pria dan wanita yang ikut andil sebagai penyokong perusahaanya.


”Halo, Mr. Giovano. Sayang sekali, tapi saya ucapkan selamat atas pernikahan Anda hari ini. Sebenarnya, saya masih berharap Anda bisa bergabung bersama keluarga besar Ferderric. Tetapi, jika ini yang membuat Anda bahagia, saya ikut senang dengan kebahagiaan Anda. Ini hari yang besar, bukan?”


Suara Mr.Herrmington mengejutkan Noren. Dengan segera, matanya mencari asal dimana pria paruh baya yang terlihat masih sangat bugar dengan mata biru cerahnya dan wajah tirus dengan jawline yang menonjol dimana tidak menunjukkan seberapa berumur sebenarnya beliau, datang dalam jarak pandangnya dengan secangkir anggur merah di tangannya. Noren tersenyum, membungkuk sedikit untuk menyapa pria paruh baya itu.


”Terimakasih banyak Mr.Herrmington. sebenarnya pernikahannya baru saja akan dilaksanakan sebentar lagi, tetapi saya sangat tersanjung atas ucapan dari Anda. Terimakasih juga sudah berkenan untuk hadir di acara Saya” Noren bergerak sedikit untuk mendekati Herrmington. Menjabat tangan pria itu dengan mantap.


”Sebelumnya saya meminta maaf atas kesia-siaan yang saya lakukan karena telah menolak bergabung besama keluarga besar Anda. Kesalahan saya, tetapi saya tidak menyesal karena saya bahagia dengan apa yang saya pilih. Mungkin lain kali, kita bisa bergabung dalam bisnis yang menguntungkan saja untuk kedua belah pihak. Saya akan sangat menghargainya” Ucapnya dengan kekehan kecil.


Herrmington tertawa lepas. Mereka bergerak perlahan-lahan untuk melihat seorang pianist tengah memamerkan skillnya yang luar biasa hebat untuk dipertontonkan kepada para tamu undangan.


”Wah, sekali pebisnis tetap pebisnis, ya, Mr. Giovano” Pria itu agak tampak tidak puas, tetapi dia mengharapkan ucapan Noren untuk diberikan padanya sejak awal. ”Putri saya akan sangat sedih karena tidak dapat bersanding bersama Anda dalam pernikahan luar biasa ini. Tetapi, dia sangat hebat karena masih mampu untuk datang bersama saya”


Alisnya terangkat ketika mendengar penuturan pria disebelahnya. Pengrajin seni yang luar biasa dan sudah menghasilkan ribuan karya mendunia itu baik dari seni lukis dan seni rakit yang dimiliki Herrmington dan sudah menjadi kepercayaan Noren untuk membantunya membuat semua pajangan khusus di kamarnya itu, memberikan gestur yang sangat tidak halus dalam menunjukkan seorang perempuan dengan balutan dress putih layaknya dia adalah sang pengantin itu sendiri berdiri dengan memegang sebuah gelas yang Noren tebak adalah anggur putih yang hampir tidak tersisa.


Kavayuara berdiri di depan kue pernikahannya yang menjulang tinggi sebanyak tujuh tingkat, terlihat seperti sedang mengagumi detail kristal dari kue itu sendiri. Noren agak terkejut dengan bagaimana perempuan itu menampilkan dirinya, tetapi dia tidak ambil pusing karena dia tentu saja tidak begitu peduli perempuan lain selain orang yang dicintainya yang tengah bersiap di ruangan lain di lantai bawah. Menunggu pembukaan acara selesai sehingga dia bisa muncul dan duduk disebelahnya sementara Noren akan mengucapkan ikrar pernikahan.


Tetapi bayangannya dibuat rusak karena ucapan lain dari Herrmington yang membawanya kembali ke dunia nyata dimana acara masih belum di mulai. Diam-diam, Noren mengutuk bagaimana waktu berjalan dengan sangat lambat dan MC masih belum melangsungkan sambutan pembuka.


”Hampirilah dia sebentar, Mr. Giovanno. Saya akan sangat menghargainya”


”Baik, Kalau begitu saya undur diri, Mr.Herrmington. Selamat menikmati hidangannya”


Meskipun Noren tidak ingin melakukannya, tetapi demi menjalin hubungan yang baik dan masih dalam suasana yang segar, Noren melakukannya. Jadi, dia menghampiri Kavayuara dengan segera.


”Selamat pagi, Miss. Mencari pengantin pria anda yang tersesat?” Noren sedikit menggoda. Tentu saja, Noren tahu iktikad apa yang membuat Kavayuara memakai gaun pengantin di acara pernikahannya dengan Nalisa. Itu sangat jelas terlihat, namun Noren sebenarnya sangat tidak terkesan.


Dia juga tidak peduli bagaimana penampilan orang-orang yang datang. Baginya, ketika Nalisa muncul nanti, semua orang terlihat seperti batu sementara perempuannya yang akan menjadi istrinya sebentar lagi itu adalah sebuah kemuliaan yang sangat dia cintai. Ratu untuk hatinya, permata yang bersinar di sebuah ruangan yang penuh sesak.


”Sepertinya saya sudah menemukannya, ya?” Kavayuara tertawa, tidak terkejut sedikitpun seolah-olah dia sudah menantikan hal ini terjadi.


”Maaf, saya rasa anda salah orang. Mau saya bantu carikan pendamping pria yang cocok untuk anda, Miss?” Noren tersenyum kecil.


”Ouh. Jahatnya...” Kavayuara tertawa.


”Bukannya selalu gitu, ya? Gue masih kaget waktu bokap lo bilang kalau lo datang ke sini. Dan makin kaget waktu lo malah muncul dalam pakaian gini. Mau ngajak gue kawin lari?” Noren menjatuhkan keformalan karena dia dan Kavayuara sudah melampaui itu.


”Yah, kalau bisa gue mau sih ngajak lo kawin lari. Tapi masalahnya lo mau nggak?” Ada senyum di balik suara sopan yang masuk ke telinga Noren.


”Ini hari pernikahan gue sama cinta pertama dan terakhir gue. Jadi lo tau apa jawabannya, kan?” Noren tidak sadar nada dinginnya muncul lagi. entah kenapa, membayangkan dirinya sendiri meninggalkan Nalisa membuatnya gatal dalam rasa pahit. Meskipun dia tidak akan pernah melakukannya.


”Inget jarak, Kav” tegasnya. ”Lo tau gue nggak suka kalau lo ada di dekat gue. Jangan ngerusak hari pernikahan gue dengan apapun rencana gila yang ada di otak lo. Gue udah nolak lo ratusan kali dan gue pastiin bakal ngelakuinnya lagi” Noren mengingatkan. Giginya bergemeletuk, tidak menyukai cara mata Kavayuara berkilau dengan niat.


”Aduh. Sakit banget dengernya” Perempuan itu terkekeh, seolah-olah sedang membalik keadaan dengan menggodanya. ”Gue jadi penasaran gimana sih si Nalisa Nalisa itu yang bikin lo tergila-gila sampai kayak gini? Masa semua usaha gue gagal mulu gara-gara cewek itu? Lo kena pelet, ya, Ren? Kasihannya pangeran gue ini~”


”Jangan mulai, Kava” Noren memutar matanya.


Noren memilih untuk bergerak dari perempuan itu dan mencari tempat yang lebih segar. Cuaca saat ini sangat berangin. Awan juga bergerombol memecah kelompok di atas sana tetapi tidak ada tanda-tanda akan hujan seperti apa yang Ibunya katakan tadi. Noren berdoa agar cuaca tidak akan mengganggu pernikahannya.


”Tapi, tapi, Lo mau denger rencana gue buat ngerebut lo dari si Nalisa, nggak, Ren? Jangan pergi dulu dong” Kavayuara bersenandung dengan bersemangat. Perempuan itu mengikuti langkah kakinya dengan jarak yang tidak begitu di sukai Noren.


”Jangan bikin mood gue rusak, Kav. Gue ngobrol sama lo cuma gara-gara bokap lo yang minta. Selebihnya, lo harus tau batas atau lo bakalan tau akibatnya kalau ngelanggar” Suaranya telak. Tatapan matanya tajam pada perempuan berbalut gaun pengantin dibelakangnya yang memiliki cemberut besar di wajahnya.


”Aahh. seramnyaa.. gue jadi makin sukaaa” Meskipun begitu, Kavayuara tetap menjadi dirinya sendiri yang tidak bisa dinasehati. Noren benci bagaimana dia harus berurusan dengan perempuan manja dan keras kepala itu.


”Jangan ikutin gue. Acara udah mau dimulai. Behave, Kav. I promise what I said. Ancaman gue nggak main-main”


Dia berbalik penuh untuk menghadapi perempuan itu. Kavayuara melihatnya dengan gestur tidak peduli, tetapi Noren yakin dia sadar diri untuk berhenti melakukan hal yang aneh. Terbukti dari helaan napas dan bola mata yang dia putar dengan kesal menunjukkan kekalahan kecilnya.


”Ya sudah, deh” tangannya dia angkat layaknya tanda menyerah. Tetapi Noren tahu bahwa perempuan itu belum selesai dengan apapun yang akan di suarakannya.


”Tapi.. Lo yakin nggak kalau Nalisa juga cinta sama lo? Gue sedih kalau yang lo nikahin nggak punya cinta sebesar yang gue punya ke lo. Kasihan nati lo nya nyesel udah sia sia in gue”


Noren berkedip. Gesturnya tegang ketika perempuan itu menyeringai penuh. Tetapi dia tidak akan terbuai pada bujuk maut Kavayuara yang menjengkelkan. Memang benar bahwa pernikahan ini adalah paksaan dan dia yang mengatur segalanya agar acara berjalan dengan lancar. Hell, bahkan Nalisa menolaknya mentah-mentah dan harus melalui berbagaimacam ancaman agar bisa membawa perempuan itu ke tempat ini.


Tetapi Noren tidak peduli. Noren tahu cepat atau lambat Nalisa akan mencintainya karena perempuan itu hanya sedang denial. Selama Nalisa menjadi miliknya seutuhnya, maka cinta Nalisa padanya akan berkembang seiring waktu. Dia akan memastikan itu terjadi.


”Dia cinta sama gue dan gue cinta sama dia. Pernikahan ini terjadi atas dasar cinta kami satu sama lain jadi jangan pernah lo remehin hal ini. Kalau lo nggak mau ngasih ucapan selamat buat pernikahan gue, lebih baik lo diam, brengsek”


Tidak peduli perempuan atau laki-laki, jika Noren tidak menyukai sesuatu, dia tidak segan-segan melayangkan makiannya. Pertanyaan Kavayuara membuatnya kesal setengah mati.


Noren akan beranjak pergi ketika MC sudah memulai sambutannya. Dia harus berdiri di pelaminan untuk menunggu Lisa datang bersama dengan calon ayah mertuanya. Jantungnya yang sempat tenggelam karena kebencian saat berbicara dengan Kavayuara, sekarang bersih kembali dengan cepat. Dia akan menikah, suanasa hatinya yang gelap antara dia dan Kavayuara tidak cocok untuk hari bahagianya.


Dia menghela napas. Seharusnya dia tidak mendatangi perempuan busuk ini. Dia harus menunggu Nalisanya. Dia tidak sabar tentang hal itu.


”Kalau gitu, kalau tiba-tiba pernikahan lo rusak hari ini. Inget, gue ada disini buat lo, ya, Noren. Temuin gue aja dan gue bakalan nyambut lo dengan tangan terbuka lebar”


Noren tidak memperdulikan Perempuan itu. Telinganya menghalau apapun yang diucapkan oleh Kavayuara dan sesegera mungkin pergi dari tempat itu. Dia tidak peduli hal lain selain pernikahannya dengan Nalisa.


Cukup itu saja yang dia pikirkan, hatinya akan berubah menjadi berbunga kembali seperti sebelum dia bertemu dengan perempuan ular biadab itu. Sekarang, dengan cengiran lebar dan jantung yang berdegub tidak karuan, Noren berdiri di sebelah MC dan penghulu yang sudah menantinya.


Dari tempatnya berdiri, Noren bisa melihat orang tuanya dan calon mertuanya berada di sayap kanan dekat dengannya. Menantikan acara meriah yang akan dimulai.


Noren membenarkan jasnya. Takut takut jika dia merusak penampilannya hari ini. Dia berharap bahwa dirinya tidak terlihat seperti orang bodoh. Kegugupannya muncul berkali-kali lipat dari sebelumnya, dimana dia sangat yakin bahwa dia mampu untuk menjalani ini dengan tenang. Tetapi kemudian Ia menelan saliva yang menggumpal dengan tidak sadar. Tiba-tiba sekali, dia jadi terlalu sadar dengan jantung yang bertalu tak karuan. Matanya masih terarah pada pintu lift yang akan membawa Nalisa untuk muncul dan datang ke pelukannya.


Iringan melodi yang dikerjakan oleh pianist dan violinist menambah khidmatnya suasana. MC yang bertugas tak tanggung-tanggung berbicara sejak tadi sehingga Noren tidak tahu apakah dia bisa fokus menenangkan diri atau hanya menendang lelaki berkacamata yang berisik itu.


Noren tidak sabar. Dia ingin segera melihat Nalisa dalam balutan kemuliaan gaun pernikahan yang dirinya pilih. Tetapi, Noren agak tidak yakin apakah dia akan tegar jika dia terlalu jatuh dalam pesona perempuan itu. Yang pasti, Noren hanya ingin Nalisa muncul sesegera mungkin agar kebingungannya ini bisa terjawab dengan jawaban yang pasti.


Hari ini adalah hari bahagianya. Tidak ada yang bisa merusaknya meskipun ada gangguan kecil di tengah jalan. Tetapi Noren yakin bahwa, acara akan lancar sampai akhir.


Sayangnya, bagai sambaran petir di tengah hari, Nalisa yang muncul dalam gandengan Ayah perempuan itu membuat sesuatu yang tidak pernah Noren pikirkan terjadi.


Dia bahkan tidak sempat untuk bernapas ketika perempuan itu, dengan kegilaan nyata, berlari menuju pagar pembatas yang tidak terganggu satu apapun. Meneriakkan berbagai hal sebelum akhirnya melompat kebawah tanpa keragu-raguan sedikitpun.


Tatapan mata Nalisa nyalang padanya sebelum perempuan itu melompat, dan Noren merasa jantungnya meluncur dari rongga dadanya sebelum dia meneriakkan nama perempuannya dengan penuh rasa sakit dan ketakutan.


”NALISA!!!!!!”


Semua orang menjerit, tetapi yang bisa Noren dengar hanyalah dirinya sendiri.


...🍁...







...[Noren]...



...[Kavayuara]...


.........


...🍁🍁🍁...