
Merah.
Segalanya terlihat seperti warna merah di matanya saat ini. Dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi selain luapan emosi yang sudah tak terbendung. Empat puluh delapan jam yang lalu dia masih bisa menahan semua rasa amarah dan kekesalan dan juga pemberontakkan yang membuatnya merasa tertekan dan hampir gila. Dua puluh empat jam terakhir dihabiskannya dengan berdiskusi pada dirinya sendiri setelah mengunci pintu kamar dan tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam satu-satunya ruangan aman untuknya, terkecuali itu terasa seperti lima puluh persen mencekiknya dalam gelembung emosi yang menyeruak.
Tetapi, setelah lima jam terakhir dihabiskannya dengan asupan napas penenang diri, dengan bulan yang memancarkan cahaya indah yang seperti mengejeknya, dan dengan segudang rencana yang berseliweran di kepalanya yang sudah dia rancang dengan kilat dan terencana dalam buku catatan kesayangannya, dia malah menemukan sesuatu yang membuat hatinya serasa diremas dengan kuat oleh tangan besar berkuku tajam dan berlendir yang membuatnya hampir kehilangan napas saat itu juga.
"Lisa! Ini nggak seperti yang lo bayangkan! please dengerin gue!"
Suara itu jatuh dalam dengung telinganya yang tidak ia perbolehkan untuk menangkap alasan apapun yang akan dikeluarkan oleh sang pengkhianat.
"Lisa, tolong. tolong dengerin penjelasan gue, ya? Lisa lo percaya sama gue, kan? please... "
Suara itu bergetar, sarat akan ketakutan yang luar biasa melingkarinya. Tapi Lisa tidak peduli. Dia tidak peduli meskipun orang itu memohon dan berlutut padanya.
"Gue sama Heksa-, "
"Diam, brengsek."
Dua kata itu jatuh dari bibirnya yang bergetar tanpa dia kehendaki. Tidak ada alasan. Tidak ada pengampunan bagi orang yang berdosa karena merusak kepercayaannya.
Kecewa.
Mungkin satu kata itu terlalu ringan untuk menggambarkan apa yang dia rasakan saat ini. Napasnya memburu, tetapi dia meneguk kembali emosi yang bangkit dan makian yang ingin melepaskan diri.
Seorang Nalisa Rembulan Cakrawijaya yang saat ini tengah kacau balau di dalam dan seluruh tubuhnya, memilih untuk putar balik dan melangkah dengan hentakkan dan jarak lebar antara kaki satu dan lainnya untuk segera pergi dari sana. Yang dia lihat terakhir kali dalam kabut merah matanya adalah tatapan terkejut dan bersalah yang dia sendiri yakin ia balas dengan tatapan remeh dan jijik.
Ada tangisan disana. Tapi dia tidak peduli.
Tidak seharusnya dia melihat pemandangan yang membuatnya ingin memuntahkan seluruh makanannya yang bahkan dia lupa entah kapan dia membiarkan perutnya terisi. Lisa merasa sangat penuh dan mual. Ada hal besar dalam hidupnya yang harus dia tangani, namun sekarang Lisa malah mendapatkan kejutan dari sahabatnya yang telah ia anggap keluarga-, satu-satunya cinta dalam hidup Sinar, sang kakak yang ia jaga layaknya permata dalam hidup, membuatnya memiliki perasaan berkecamuk ini.
Dalam kemerahan bias di matanya dan air panas yang seakan ingin menyeruak dari kedua belah bola mata yang lelah, Lisa berhasil membanting pintu kamar milik seseorang yang keberadaannya malam ini benar ingin ia datangi.
Seseorang dengan rambut pendek yang diikat bak tangkai apel itu terperanjat, hampir menjatuhkan joy stick miliknya ketika mendengar bunyi debuman yang disebabkan oleh Lisa.
Matanya yang dibingkai dengan kacamata anti radiasi itu menajam, hampir marah. Tetapi kemudian sang empu terdiam dan menghela napas sebelum berbalik dan membiarkan Lisa untuk menjelaskan sebelum dia sendiri yang mencekik perempuan yang kini sudah duduk bersila dengan napas yang dihembus pendek-pendek hasil endapan emosi diatas tempat tidur hotelnya yang yang telah di reservasi untuk satu minggu lamanya.
“Apaan, sih lo, Lis? Untung gue engga ada riwayat penyakit jantung”
Lelaki itu mendengus. Pilihannya untuk menghentikan permainannya sesuai insting karena dia memahami Lisa seperti membalik telapak tangan. Alpino menghentikan semua kegiatannya dan duduk bersila di sebelah Lisa yang kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya, terlihat sangat frustasi.
“Gue pengen ngomong kotor sekarang, Al” Bisikan yang diredam seolah sedang menahan teriakan diberikan oleh Lisa dengan respon dengusan oleh lelaki rambut apel itu.
“Aneh Lo, biasanya juga ngomong kotor ngegas aja kenapa sekarang pake aba-aba?” Decakan diberikan Alpino sebagai balasan yang mampu dirinya pikirkan untuk menenangkan suasana.
“Anjing, Lo!”
Lisa mengangkat kepalanya dan menatap Alpino dengan tatapan tajam yang basah, matanya lembab dan merah, hampir terlihat seperti orang yang menangis dan begadang tanpa henti dalam beberapa hari. Rencana Alpino untuk menggoda Lisa disimpannya jauh di dibawah bibirnya.
“Astagfirullah, ukhti. Kenapa gue yang jadi di sembur?” lelaki itu beranjak berdiri, mencari saklar agar mereka bisa mengobrol dengan lebih baik, juga mungkin bisa sedikit menenangkan sahabatnya.
“Lo ada masalah apalagi sih, Lis? Masa calon pengantin udah jadi gila aja sebelum akad”
Tawa Alpino renyah bersamaan dengan terangnya lampu yang menenggelamkan ruangan menjadi terang benderang. Namun tetap saja tidak ada respon baik dari Lisa. Perempuan itu terlihat sangat hancur dan berantakkan. Alpino diam-diam mendekat dan menepuk kepala Lisa dengan lembut.
“Lo kenapa?” Alpino bertanya lagi, kali ini dengan lebih serius.
“Lo dua hari ngurung diri di kamar dan makan cuma pas waktu di bawain bang Sinar atau Hala doang dan sekarang lo keluar kamar udah jadi berantakkan gini? Seenggak sukanya itu lo jadi pengantinnya Bang Noren, Lis?”
“Lo tau sendiri gue tuh dipaksa nikah, Al”
Alpino jujur merasa bergidik. Lelaki itu mengigit bibirnya menahan perasaannya yang resah.
“Gue min-“
“Bisa nggak, sih gue mati aja seka-“
“HUSSH!!”
Alpino dengan kedua matanya yang membola besar bergegas membekap bibir Lisa dengan kedua tangannya.
“Amit-amit Nalisa! Lo tuh kalau ngomong ya dipikir dulu, anjir! Lo, ya, dateng-dateng bikin gue jantungan! Kalau lo mau mati, gue duluan yang bakalan ngebunuh elo!”
Lisa melepaskan dengan kasar telapak tangan Alpino dari wajahnya, berusaha untuk menggeser berat yang Alpino berikan ketika lelaki itu menghimpitnya seolah benar-benar akan berusaha membunuhnya dengan kedua tangan dan tubuh besar dia sendiri.
“Gue stress, Al”
Lisa berbisik dengan kedua tangannya yang kali ini mengacak rambutnya yang sudah berantakkan. Alpino yang berusaha menetralkan detak jantungnya atas adrenalin yang telah diberikan Lisa beralih menatap perempuan itu dengan tatapan sedih dan sayang yang bercampur. Orang yang pernah menjadi begitu spesial di hatinya itu membuatnya sangat ingin menjadi pelindung untuk perempuan itu.
“Lisa,” Alpino merubah cara duduknya menjadi sedikit lebih nyaman di sebelah Lisa, menatap kea rah langit-langit kamar hotel dan hening ruangan yang terasa sedikit menyegarkan oleh pendingin ruangan.
“Gue tau ini berat buat Lo, tapi gue mau tanya, emang engga ada sedikitpun perasaan yang ada dalam diri lo buat bang Noren? sedikit aja dengan segala usaha yang udah dia lakuin buat lo? Udah tiga bulan lamanya dia deketin lo dan gak seharipun absen buat bikin lo jatuh hati dan nyaman dengan dia, tetap aja nggak ada ruang buat dia?”
Lisa menghela napas, kali ini lebih dalam lagi.
“Udah gue bilang, gue nggak bisa dipaksa, Al” Kukunya kali ini menjadi sasaran empuk kunyahan gigi Lisa, tetapi dengan cepat Alpino menarik tangannya dengan paksa untuk menepuknya dan memberikan sedikit remasan. Berharap Lisa tidak kembali merusak kuku-kukunya lagi.
“Gue nggak ada perasaan untuk Kak Noren sampai sekarang dan gue nggak bisa nikah secepat ini sebelum semua impian gue terlaksana. Gue nggak bisa ada dalam hubungan dengan paksaan dan sekarang gue disakitin sama hal lain yang buat gue pengen banget ngehancurin sesuatu!”
Nadanya tinggi kali ini, emosi dan kilatan hal-hal yang membuat Lisa mual mulai berkecamuk di matanya.
“Ini,” Lisa menyerahkan buku catatannya pada Alpino yang terlihat bingung.
“Selama dua hari gue udah ngerancang apapun yang bakalan terjadi tiga hari lagi dan gue berharap lo, Jihan sama Fajri bisa bantuin gue. Pokoknya apapun yang ada di dalam buku itu harus terlaksana dan gue nggak mau ada penolakan apapun itu alasannya”
Tatapannya datar dan penuh tekad disaat yang bersamaan ketika dia memberikan benda itu pada lelaki yang kini terlihat serius. Alpino membuka catatan dengan hati-hati dan terperanjat ketika melihat isinya yang disusun dengan sangat rapi dan terencana.
“Sumpah? Ini beneran? Lo serius? ”
Lisa mengangguk. “Gue udah bilang apapun alasannya, gue nggak mau dapat penolakan sama sekali. Kalau enggak gue bakalan ngelakuin semuanya sendiri dan nekat. Lo tau, ‘kan kalau gue nekat gimana?”
Lelaki penggila game itu mengerang frustasi. Hal-hal seperti ini adalah apa yang ingin dia hindari, tetapi apapun yang terjadi dia tetap berada didalam garis yang sudah diberikan oleh Lisa dengan sepenuh hati. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Alpino akan melakukan apa saja untuk Lisa dalam hal-hal genting ataupun masalah sepele sama sekali.
“Tapi Hala nggak akan-“
“Anjing!”
Alpino terperanjat. Lisa tidak biasanya mengumpat ketika dia atau bahkan siapapun menyebut nama sahabatnya yang sudah dielukan sebagai sehidup-semati, dan seiya-sekata. Dengan kedua alis yang menekuk ke bawah penuh rasa penasaran, Alpino meletakkan dengan pelan buku catatan Lisa diatas ranjangnya sebelum berseru dengan lembut.
“Lo,” dia berhati-hati kembali. “Berantem sama Hala?”
Ada atmosfer menegangkan yang dikeluarkan kembali oleh Lisa seolah-olah rasa ingin menerkam sesuatu itu telah di push sampai dengan ujung tombaknya. Lisa berdecak dengan kasar dan rasa sakit.
“Gue lihat dia ciuman sama Heksa di balkon”
Alpino terdiam. Benar-benar terkejut seolah Lisa sedang melemparkan puluhan petasan banting ke arahnya tanpa aba-aba. Hening yang sangat lama ada diantara mereka sebelum Alpino mengumpulkan kembali sisa kewarasannya.
“Terus Bang Sinar..? gimana? Bukannya Hala sama Bang Sinar udah komitmen?”
“Gue ga pernah merasa sekecewa ini dan semarah ini dalam hidup gue, Al” Lisa membanting dirinya di atas kasur dengan wajahnya yang hampa. Perasaannya benar-benar berkecamuk seolah badai sedang menerjang di dalam dirinya.
“Gue gak masalah dengan diri gue sendiri. Lo tau sendiri se-setres apapun gue dengan tekanan dalam hidup gue, sampai masalah pernikahan paksa ini bisa-bisanya dilangsungkan tanpa consent dari gue, gue masih bisa cari jalan keluar segila apapun caranya”
Dia menghembuskan napas lelah seraya menunjuk buku catatan yang telah dia berikan pada Alpino yang sekarang tergeletak di dekat pangkuan sang lelaki apel.
“Tapi gue nggak bisa kalau abang gue yang disakitin. Brengsek, sakit hati banget gue, Anjing!!! Bisa-bisanya dia nyari masalah sama gue waktu gue lagi gila kayak begini?”
Tangan Alpino dengan cepat meraih jemari Lisa dengan lembut. Mengelus punggung tangan milik sang empu yang sekarang matanya yang memanas dan merah itu mengeluarkan bulir-bulir sejuk emosi yang sedari tadi coba ia tahan. Bak gunung meletus, tangisan diam Lisa membuat Alpino bungkam dengan perasaan yang campur aduk.
“Lisa..”
“Pokoknya, sebelum akad gue berlangsung, lo, Jihan sama Fajri harus bisa bantuin gue. Gue cuma punya kalian doang sekarang. Kalau engga ya, lo pasti bakalan liat jasad gue doang nanti”
“Hush! Gila ya, lo, Lis” Alpino mencengkeram tangan Lisa untuk membuat perempuan itu bungkam dengan hal-hal bodoh yang keluar dari bibirnya.
“Gue pastiin bakalan ada di belakang lo, Lis. Lo bisa percaya sama gue”
“Oke. Gue pegang ucapan Lo”
...…....
...[S.O.S!! HELP ME!!]...
Sparkling Eyes Jiii😍
???
Lisa lo kenapa??
Pak Guru Fajrii 2🧐
Ada masalah, Lis?
Kaget gue ada grup baru judulnya begitu
Alpinn Jelek🤪
Syukurlah kalian masih bangun.
Nggak ngeganggu tidur, kan?
Pak Guru Fajrii 2🧐
Aman, Al. Gue sama Jihan emang lagi nobar di kamarnya dia. Emangnya ada masalah apa, Al? Ngeri banget asli ini nama grup
Sparkling Eyes Jiii😍
Gue masiihh melekk
Lisa cantiknya gue kenapaa?
^^^Me^^^
^^^Gue minta tolong banget kalian bisa nggak ngumpul disini?^^^
^^^Di kamarnya Al^^^
^^^Ada yang mau gue bahas^^^
^^^Tapi kita berempat doang. Jangan ada yang lain.^^^
^^^Gue tunggu secepatnya.^^^
Sparkling Eyes Jiii😍
Berempat??
Alpinn Jelek🤪
Jihan ke sini aja yaa. Gabole nanya nanya oke?
Jri, kita tunggu kalian yak
Ada misi rahasia wkwk
Penting.
Pak Guru Fajrii 2🧐
Otw.
Terkirim 00.25 AM
”Masih bisa bercanda lo?”
Alpino menoleh pada Lisa dengan cengiran kecilnya yang menenangkan sebelum menjawab.
”Nggak masalah, kan, Lis? Biar mereka nggak tegang banget sebelum tau apa misi lo. Sekalian gue juga pengen nenangin diri. Soalnya rencana lo nggak masuk akal” Jawabnya dengan menggunakan gestur bahunya.
Lisa yang masih setia pada posisinya, meringkuk di atas kasur empuk dan diselimuti oleh selimut tebal hotel yang lembut oleh Alpino tadi, memperhatikan pergerakan lelaki itu yang sekarang sibuk membereskan kekacauan yang sebelumnya. Joystick yang diletakkan di lantai bersamaan dengan beberapa bungkus cemilan ringan ia simpan dengan baik di atas nakas.
Mereka masih diam menunggu dua orang lainnya. Ketika mata Lisa mulai memperhatikan wajah Alpino, Lisa sedikit bingung dengan perubahan ekspresi aneh yang dipakai oleh sahabatnya itu. Alpino terlihat lebih serius daripada biasanya. Kedua alisnya merajut menjadi satu sehingga memperlihatkan betapa tegangnya dia.
Memang, Alpino sejak tadi berusaha untuk mencairkan suasana, tetapi Lisa entah mengapa merasa bahwa lelaki itu sedang melalui hal yang lebih berat lagi dalam kepalanya. Bagaimana bahu itu sedikit meringkuk ketika dia menunduk adalah pertanda bahwa Alpino tidak sedang dalam kondisi yang santai.
”Al?” Lisa memanggil, berusaha untuk menggapai lelaki itu?
”Hmm?” jawaban sederhana, tetapi Alpino tetap menoleh pada Lisa dan menawarkan senyuman manisnya seperti biasa.
Banyak hal dari Alpino yang Lisa sadari bahwa dia mempertanyakannya. Sebenarnya juga, sudah lama Lisa tidak mempunyai waktu seperti ini dengan lelaki itu sehingga Lisa merasa dia bisa merasakan apapun yang tidak pernah bisa Lisa rasakan sebelumnya.
Rasanya, Alpino berbeda. Tetapi Nalisa tidak bisa meletakkan jari dimana perbedaan itu. Udara disekitar mereka bergeser, Lisa mencoba meraba-raba apa yang salah.
Mungkin, Alpino hanya sangat khawatir dengan rencananya yang akan gagal. Mungkin, Alpino khawatir jika Lisa akan jatuh pada kaki yang salah dan membahayakan nyawanya.
”Kenapa lo liatin gue begitu, Lis? Ganteng ya gue? Terpesona sama gue lo sekarang?” kedua alis Al ia naikkan seperti lelaki penggoda di luaran sana, terlihat lebih konyol karena Alpino melakukannya dengan lebih ekstra.
”Dih. Pede banget, lo” selaknya dengan cepat.
Lisa memperhatikan bagaimana tawa Alpino terasa lebih renyah. Ada nada santai di sana, tetapi masih banyak rahasia yang coba Alpino simpan dengan betapa canggungnya pergerakkannya.
”Al?”
”Apaan? Manggil mulu lo dari tadi”
Alpino mengambil duduk disebelahnya. Tangannya masih tidak berhenti bergerak, tampak gelisah. Sekarang jemari itu datang untuk memijat pergelangan kakinya yang terbalut selimut.
”lo takut ya?”
Lisa bertanya dengan suara kecil. Tidak ingin membuat suasana menjadi aneh di antara mereka. Tetapi dengan bagaimana pergerakan Alpino yang berhenti di kakinya, Lisa tahu bahwa semua ini pasti terasa aneh.
Alpino menghela napas dalam. Kali ini lelaki itu ikut bersandar di kepala ranjang bersebelahan dengan Nalisa. Pandangannya kosong ke arah televisi yang tergantung di hadapan mereka.
”Bukan gue yang harusnya lo tanya, ya cantik,” Suara Alpino agak ketat, tetapi ketika lelaki itu menoleh padanya, ekspresi yang ditampilkan berbanding jauh terbalik dari itu.
Ada tarikan bibir sebal seperti anak kecil yang sedang merajuk dan ekspresi konyol bersamaan dengan tangannya yang sudah mendorong ringan kepala Nalisa.
”Bukannya lo yang harusnya takut, ya? Lo yang berhubungan dengan malaikat maut, noh. Kenapa nanya gue?”
”Ih apaan, sih. Fitrah ini kepala!” Lisa berdecak.
Mungkin hanya perasaannya saja yang sedang jelek sehingga dia membayangkan yang aneh-aneh tentang bagaimana Alpino bereaksi.
Mereka jatuh dalam keheningan. Meski tidak begitu nyaman, tetapi keduanya tidak saling membuka suara.
Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pintu.
”Nah ini dia”
Lisa mengulas senyum kecil sebelum bergerak untuk duduk dengan benar saat wajah bingung Fajri dan Jihan terlihat di balik pintu yang dibukakan oleh Alpino.
...🍁...
...Pengkhiatan Dan Rencana Yang Harus Terus Berjalan...
.........
...🍁🍁🍁...