Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Hari Baik; Percakapan Santai Yang Tidak Terduga Part 2



Meskipun rasanya aneh dengan pertanyaan yang Heksa sampaikan padanya, mereka kini tengah berada di dalam sebuah taman bermain hewan peliharaan indoor yang Heksa klaim sebagai tempat singgah setiap kali dia dan Hala membawa Pipang untuk acara jalan-jalannya. Sebenarnya, Lisa juga sudah pernah dibawa ke tempat yang sama oleh Hala saat mereka singgah sebentar setelah menjemput Pipang dari vet.


Terakhir kali pertanyaan aneh dilontarkan padanya adalah saat Hala menanyai perihal Sinar yang mana lelaki itu menghilang beberapa hari dan pulang dengan murung hingga akhirnya bisa menjadi Kakaknya yang seperti sedia kala dalam hitungan waktu stress yang membuatnya terkekan. Sekarang? ada apa lagi yang terjadi dengan sahabat baiknya, Alpino yang sangat dia sayangi itu?


"Uh, Sa" Lisa memulai, tidak yakin. "Tentang pertanyaan lo sebelumnya, emang kenapa lo bisa nanya gitu?"


Heksa yang sedang menyesap Amerikano dinginnya, tiba tiba mengangkat kedua alisnya dan menoleh.


"Emang ada sesuatu, ya, sama Alpino?" Dia sedikitnya agak khawatir. Tidak ingin sesuatu terjadi pada sahabat dekatnya itu.


"Al baik baik aja, kan? aduh, Sa. jangan bikin gue mikir aneh-aneh, deh.. pertanyaannya lo bikin tekanan batin buat gue, anjir. Udah tau Al sibuk kerja, Lo nanya yang aneh-aneh" Dia membentak, agak kesal karena khawatir yang tiba-tiba.


"Loh emang apa yang buat lo mikir dia nggak baik-baik aja?" Heksa bertanya dengan sedikit rasa penasaran seolah-olah dia bisa menebak isi pikiran Lisa dan tau apa permasalahan yang sebenarnya terjadi, tetapi Lisa tidak yakin permasalahan apa yang coba Heksa sudutkan padanya.


"Soalnya terakhir kali, Hala nanya gue pertanyaan yang sama. Tapi tentang Kakak gue. Terus, Kak Sinar tiba-tiba aja hilang beberapa hari dan pulang ke rumah dengan murung. Makanya, gue takut kalau Al juga ada apa-apa dan dia nggak bilang ke gue sama sekali"


Alis Heksa keduanya naik, membuat Lisa mengerjap dengan gugup.


“Sa, Lo jangan bikin gue takut, Anjir. Alpino nggak kenapa-kenapa, kan?” Dia bertanya lagi, mendesak dan mengguncang tubuh lelaki itu dengan agak tidak sabar.


“Aduh, lo jangan panik gitu. Gue, kan, cuma nanya. Nggak ada apa-apa, kok. Al baik-baik aja. Kemarin gue baru nemenin dia modif motor sekalian nyari kamera baru buat pribadi” Heksa menjelaskan, agak terengah dengan tarikan dan dorongan yang brutal Lisa kerahkan untuk lelaki itu.


“Sumpah, lo, ya, Sa. Gue kira ada apa-apa. Gue jadi mikir yang nggak-nggak, anjir. Mana sekarang Al sulit banget gue kontakin. Takut ganggu dia yang lagi mondar-mandir kerja gara-gara ODEZA kebanjiran klien” Lisa mengomel.


Heksa geli, tetapi Lisa tahu ada yang lain dari isyarat apapun itu yang coba lelaki itu sembunyikan.


“Kan udah gue bilang, Alpino baik-baik aja” Heksa kembali menyesap minumannya, melirik ke arah Pipang yang sedang melompat kesana-kemari mengejar seekor betina dengan warna belang tiga yang merupakan peliharaan pemilik usaha tempat mereka berada sekarang. “Lagian, gue kemarin nggak sengaja lihat dia ngabarin lo lewat chat, deh. Emang seriusan lo nggak pernah kontakan lagi sama dia?” lanjut sebuah pertanyaan dari Heksa membuat Lisa menggembungkan pipinya sebal.


“Ya kontakan, sih. tapi tetep aja, nggak sebanyak biasanya. Al biasanya nggak pernah putus ngabarin gue dan cerita ini itu. Tapi sekarang dia cuma kadang ngabarin lagi dimana dan lagi apa. Terus ingetin gue makan dan semangat kerja doang. Lo liat dia ngabarin gue seriusan waktu lo nemenin dia modif motor, Sa? Kok Al nggak ada ngasih tau ke gue kalau dia bareng lo?”


Lemparan pertanyaan panjang lebar Lisa muntahkan. Dia tidak bisa untuk tidak membawa keluar topik pembicaraan karena Heksa yang mengangkat hal-hal ini lebih dulu. Heksa berusaha mencerna, wajahnya agak terlihat aneh ketika Lisa berucap tanpa henti.


“Coba lo pelan-pelan ngomongnya dan nanya satu-satu bisa?” Lelaki itu menggerutu di bawah napasnya, Lisa hanya membalas dengan senyuman tidak peduli dan hanya menunggu untuk jawaban.


“Ya iya, gue nemenin dia. Itupun dadakan. Pas banget dia baru pulang kerja waktu itu dan ketemu sama gue di warmindo Ko Akoh. Nggak janjian sebenarnya, tapi dia tiba-tiba aja ngajakin gue gitu. Yaudah, daripada gue bosen, gue ikut aja” Jawabannya lancar.


“Disitu, sih, gue ngeliat dia ngabarin lo. Nggak sengaja waktu gue dibelakang dia lagi ngantri bayar makanan” lanjutnya cepat, mengendikkan kedua bahunya. “Dan jawaban buat pertanyaan lo yang kedua, ya, ngapain dia ngabarin kalau lagi sama gue? Toh awalnya kan emang dia udah rencanain buat pergi sendirian. Siapa juga yang tau kalau dia bakal ketemu gue, kan?” Cengiran konyol Heksa tiba-tiba muncul. Lisa melotot dalam gerakan refleks.


“Ekspresi lo santai, dong, Sa. Serem banget” Lisa mencibir, sedang yang diberitahu terlihat lebih santai dan tenang-tenang saja.


Merasa lebih lega dari sebelumnya, Lisa menyesap Red Velvet-nya dengan perasaan yang lebih baik. Lebih tenang, perempuan itu bahkan bisa menghargai kesejukan dan rasa manis tercecap dilidahnya.


“Tapi, iya, juga, sih. Ngapain Al ngabarin kalau dia bareng lo? Kan lo nggak terlalu penting buat dikabarin ke gue, ya? Gue, mah, cuma butuh kabar Al doang” Lisa mengejek, mencoba untuk menurunkan suasana hati yang sebelumnya terasa menegangkan dan membuatnya panik.


“Dih, gitu, lo?” Heksa melempar tatapan iritasi, membuat Lisa terbahak geli.


“Ya, siapa suruh lo bikin gue kaget dengan pertanyaan aneh? Padahal hubungan gue sama Alpino baik-baik, aja. Nggak ada yang salah selain kita dipisahkan sementara oleh pekerjaan duniawi yang bikin jengkel”


“Hadah, bahasa lo sok puitis” Heksa memutar matanya, mengejek dalam candaan yang diperhatikan oleh Lisa dengan paham.


“Biarin, sih. sewot amat Anda” Balas Lisa kemudian.


Rasanya agak lebih tenang dan menyenangkan. Duduk dan bercanda bersama salah satu dari lingkar pertemanan eratnya dimana mereka bahkan jarang hanya berdua dengan salah satu dari masing-masing. Biasanya, akan ada lebih dari dua-, tiga atau bahkan empat dan kemudian hanya keseluruhan. Tiba-tiba, Lisa merindukan Alpino dan dia ingin kembali bermain dalam jangka waktu yang panjang dengan sahabatnya itu. Seminggu tanpa bertemu dengan Alpino, rasanya sudah seperti selamanya. Lisa berjanji akan memaksa Alpino untuk keluar dengannya di waktu senggang yang sekiranya bisa dia bagi nanti.


Heksa memutar cangkir di tangannya. Lisa memperhatikan karena ada sedikit reaksi aneh yang tidak pada tempatnya. Seolah ada sesuatu yang Heksa ingin kemukakan, tetapi lelaki itu memilih untuk memilah kata terbaik yang bisa dia pikirkan di dalam kepalanya. Lisa tidak mendesak, dia menunggu dengan tenang. Tidak akan ada percakapan yang salah hari ini, karena dia tahu bahwa hari ini akan menjadi baik-baik saja dan percakapan mereka adalah percakapan santai yang tidak akan membuat banyak beban pikiran di kepala.


Lama, Lisa menjadi lebih dari tidak sabar.


“Aduh, lo mikir kelamaan, sumpah. Cepet kasih tau gue apa yang mau lo omongin?” Lisa menggertak, menyikut lengan Heksa membuat lelai itu mengaduh dengan tekejut. Tatapannya horror, tetapi dia menjadi lebih sedikit dari agresi ketika tangannya yang lain mengusap tempat dimana hasil sikutan Lisa berada.


“Ya sabar!” Heksa membentak dengan ringisan bak anak-anak yang mengadu.


“Lagian, lama banget..”


Heksa menghela napas, senyuman ia tarik menjadi garis lurus yang tipis dengan mata yang menatap lurus tak tertarik.


“Pertanyaan gue masih sama, Lis” tuturnya dengan nada normal yang sama ketika dia bersikap seperti selayaknya dirinya sendiri. Tidak bermain-main lagi.


“Tentang hubungan lo sama Alpino. Baik-baik aja, kan?” Heksa bertanya lagi. Kali ini, Lisa menghela napas lelah. Memangnya, ada apa hubungannya dengan Alpino? Apakah terlihat tidak baik-baik saja? Dia saja terkejut dengan pertanyaan aneh itu. Seharusnya Heksa tahu bahwa tidak ada masalah antara dia dan Alpino. Mengapa rasanya seperti dia sedang disudutkan disini?


“Sumpah, ya, Sa..” Lisa memulai, kali ini mencoba untuk menjadi lebih tegas dan mempersiapkan diri untuk mengomeli Heksa karena pertanyaan yang tidak berbobot setelah dia tahu bahwa Alpino-nya secara keseluruhan, baik-baik saja.


“Apa yang harus lo cemaskan antara gue dan Alpino yang nyatanya udah gue bilang kalau kita baik-baik aja?” Lisa menggenggam gelas minumannya dengan erat, mencoba untuk menuturkan dalam kalimat lebih layak daripada dia hanya marah-marah tidak jelas. Ingat, dia harus tenang dan ini hanyalah percakapan santai yang tidak membutuhkan banyak urat leher untuk diperdebatkan.


“Emang, gue sama Al udah jarang banget sekarang main dalam jangka waktu yang panjang berduaan doang. Dia juga jarang nganter jemput gue lagi ke kantor. Bahkan buat nelpon, pun, kita harus janjian dulu. Kalau misalnya udah janjian dan nggak juga kejadian, berarti gue ataupun Alpino udah ketiduran dan kita masing-masing paham dengan keadaan. Al juga sering ngechat gue meskipun nggak sesering yang dulu. Cuma kabar disini dan disana, omelin gue harus ini dan itu, perhatiin gue meski dalam teks singkat padat dan jelas, tetap aja kita masing-masing saling paham dan saling ngerti. Saling perhatiin satu sama lain”


“Dan itu semua nggak serta merta tanpa alasan. Ada, kok, alasan yang kuat. Udah gue bilang dari tadi kalau Alpino sibuk tingkat dewa dengan ODEZA, apalagi sama studio barunya itu yang lagi dia dekor sedemikian rupa. Juga, gue? Kerjaan gue rasanya udah segununug aja dari mulai minggu lalu. Sibuk ini, sibuk itu, rasanya sampe kepala gue mau pecah dan kalau pulang harus langsung istirahat, kalau nggak, ya nenangin diri sambil makan”


“Tapi tetep aja, gue sama Alpino nggak bener-bener putus kontak atau bahkan menghindar satu sama lain. Lagian, buat apa juga, sih? kita nggak ada masalah, nggak pernah berantem sama sekali. Kita baik-baik aja dan hubungan persahabatan gue dan Alpino nggak bakalan putus cuma karena hidup butuh duit dan cara menghasilkan duit adalah denga bekerja”


“Sial, gue entah kenapa rasanya jadi kesel sama kerjaan gue dan kerjaannya Alpino. Kenapa, sih, bulan ini tuh nggak kayak bulan biasanya? Argh! Gue kayaknya harus culik Alpino-gue buat healing. Lama-lama kalau kerja terus, tipes yang ada!”


Lisa, yang sejak awal sudah sebal dan tidak senang dengan pertanyaan yang terlontar, tiba-tiba saja semakin memanas dengan argument terakhir yang dia lontarkan. Rasanya, dia ingin membakar apa saja yang membuatnya frustasi. Padahal jika dia kembali kedalam kewarasannya lagi, hari ini adalah harinya berlibur dan bahkan sama sekali tidak diganggu dengan kerjaan. Rasanya, Lisa agak bodoh sesaat. Tiba-tiba, dia menoleh kearah Heksa yang menatapnya dengan tatapan terkesan yang aneh.


Jari telunjuk Lisa terangkat dengan tegas, menunjuk Heksa yang kelabakan di tempatnya. Antara ingin tertawa, atau bahkan lebih terkejut dengan reaksi Lisa yang seperti sedang terbakar api raksasa.


“Lo!” jeritnya frustasi, “Lagian ngapain nanya pertanyaan yang bikin gue sebel, sih? jelas-jelas ini hari libur gue dan lo bikin gue mikirin kerjaan. Bukannya ngobrol santai, lo malah buat gue jadi tambah setres mikirin kerjaan yang nggak ada habisnya” setelahnya, Lisa memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Terduduk sebelum menenggelamkan wajahnya yang memanas di atas kayu meja setelah membuat Heksa terpukau dalam beberapa detik adegan yang seperti keluar dari dalam layar.


“Wow..” satu tanggapan dan suara tepukan tangan Heksa membuat Lisa mengerang. Lebih daripada kesal, dia malu dengan apa yang baru saja dia lakukan. Dan tentu saja, dia menyalahkan itu semua pada Heksa.


“Sumpah, badut banget gue lo bikin, Sa!” Desisnya saat dia memberikan tatapan membunuh pada Heksa yang terkikik.


“Padahal lo sendiri yang ngelakuin, Lis” Membuang wajahnya untuk tidak tertawa lebih banyak, Heksa mendengus menahan kegelian yang merambat tubuhnya karena reaksi. “Gila, sih, cuma karena gue bawa Alpino, lo langsung memanas kayak gini”


“Ya, soalnya pertanyaan lo nggak bermutu, Heksa!” Sela Lisa cepat.


Heksa mengangguk kecil, berupaya untuk tidak terlalu mengulur pembicaraan. Dia sebenarnya ingin menanyakan hal cepat dalam sebuah rasa penasarannya dalam beberapa waktu yang disimpan begitu lama.


“Oke, oke. Sorry” Serunya cepat. Kali ini, dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dalam keseriusan yang tiba-tiba hadir. “Jadi, gue tangkap dari cerita lo kalau sebenarnya hubungan lo sama Al baik-baik aja dan nggak ada masalah sama sekali. Cuma kalian jarang bareng aja karena kerjaan Alpino dan kerjaan lo lagi banyak-banyak nya”


Lisa mengangguk cepat dan tegas sebagai jawaban. Lagian, memang itu yang terjadi, kan?


Lisa mengerjap. Ah, jadi ini adalah dasar apa yang membuat Heksa bertanya tentang hubungannya dengan Alpino, dan tentu saja Lisa tahu siapa perempuan yang disebutkan oleh Heksa.


“Oh..” Lisa menyela. Dia berdecih dengan gelengan yang seakan meremehkan dasar rasa penasaran sahabat lingkar pertemanan mereka ini. “Gue tau kok siapa cewek yang lo maksud ini. Itu temennya Al di kerjaan. Kina namanya kalau gue nggak salah inget.”


“Lho? Lo kenal sama Kina juga?” Heksa terlihat terkejut, matanya mencoba untuk tidak terlalu berekasi berlebihan.


“Idih, ternyata lo juga tau namanya. Jangan bilang cewek ini, cewek ini, dong. Langsung sebut namanya” dia mencibir.


“Ya, kan… lo tau, lah” Heksa beralasan


“Emang kenapa kalau Al jalan sama Kina?” tanyanya cepat tanpa kepahitan yang berarti. Heksa sepertinya sedang memeriksa, tetapi Lisa tidak mengerti mengapa lelaki itu harus bertingkah seperti itu.


“Ya, maksud gue.. lo nggak ngerasain sesuatu gitu? Cemburu.. atau apalah? Soalnya Al, kan, jarang sama lo lagi dan lebih sering sama Kina. Lo nggak masalah?”


Lisa berbalik, menatap Heksa secara penuh seolah-olah lelaki itu menumbuhkan lebih banyak bola mata di kepalanya. Tentu saja, rasanya aneh Heksa bertanya hal tidak masuk akal begitu.


“Kenapa gue harus cemburu?” Dia bertanya, penasaran. “Gue seneng, kali. Al nggak sendirian di tempat kerjanya. Dia punya temen lain yang bisa bantu dia dalam segala hal yang dia butuh. Gue jadi nggak perlu cemas dan khawatir gimana Al disana. Karena gue nggak selalu ada buat Al. Jadi, meskipun awalnya gue ngerasa kayak digantiin sama Kina, gue sekarang lebih bersyukur karena Kina ada disana buat Alpino. Gue bahkan rasanya mau berterimakasih sama dia”


Senyum hadir di wajah Lisa. Benar, dia dulu, ketika pertama kali Alpino mengatakan bahwa dia menemukan calon studio impian lelaki itu bersama Kina, dia merasa tergantikan sebagai seseorang yang lebih dekat dengan lelaki itu. Tetapi lebih sering kesini, semakin memikirkannya, Lisa merasa lebih baik. Alpino layak untuk dijaga dan ditemani di tempat kerjanya yang terkadang keras dan banyak keluhan yang sahabatnya itu ceritakan padanya. Setidaknya sekarang, disamping Alpino, ada orang lain yang berteman untuk lelaki itu, dimana Alpino pasti juga merasa sangat dijaga oleh orang lain dan tidak merasa sendirian. Itulah yang terbaik yang diharapkan oleh Lisa.


“Lo..serius?” Heksa bertanya, kali ini lebih tenang dari sebelumnya. Meski Lisa yakin bahwa itu sedikit dipaksakan.


“Padahal lo sama Al deket banget, Lis. Udah lama banget malah. Kenapa kalian nggak pacaran aja, sih?” Heksa menyentak dengan tiba-tiba, membuat Lisa hampir kehilangan pegangannya pada gelas kaca yang berharga. Permepuan itu agak panik.


“Dih, mulut lo bisa nggak ngomong yang bener?” Kali ini, dengan mata melotot sebal dan pukulan yang dia layangkan dengan tidak tertahan di punggung Heksa, adalah apa yang pantas lelaki itu dapatkan.


“Udah bener banget, ini. Padahal kalau pacaran, pasti gue dukung seratus persen, deh. Berani sumpah nih, gue” Heksa mengangkat telapak tangannya, sejajar dengan telinga. Berpose seolah-olah dia siap untuk sumpah.


“Yaudah, kalau gitu kenapa nggak lo sama Hala yang pacaran aja? Gue juga dukung seratus persen dan gue berani sumpah juga, nih” Lisa menantang. Dia tidak takut untuk mengembalikan kata konyol yang Heksa keluarkan sebelumnya.


“Lah, malah nyasar kemana-mana, nih anak” Heksa menggerutu, menatap tidak suka pada Lisa dalam seringai malas yang jelas.


“Tapi serius, lo nggak ada rasa lebih apa sama Al?”


Serius, kenapa Heksa membawa hal aneh ini kepermukaan?


“Alpino itu temen gue, Sa. Sahabat kecil gue. Bahkan udah kayak saudara gue sendiri. Ya, nggak bakalan mungkin gue pacaran sama Al. pertanyaan lo aneh, sumpah”


Menggerutu, Lisa menyeruput Red Velvetnya yang tinggal setengah hingga habis. Lagian, dia bahkan tidak memikirkan apapun yang bisa membuat Heksa memandang bahwa dia dan Alpino bisa menjadi sesuatu dalam hubungan romantis.


“Haduh..” Heksa mendesah, seakan kalah dalam sesuatu ketika dia menggelengkan kepalanya.


“Oke, kalau gitu, gue balikin pertanyaan ke lo, deh. Kenapa nggak lo aja yang pacaran sama Hala? Padahal udah deket banget, tidur peluk-pelukan lagi. Masa nggak ada rasa berlebih, sih?” Mengangkat alis menantang, Lisa menyaksikan bagaimana umpan yang dia lempar berhasil tertangkap.


“Anjing, pertanyaan lo nggak guna banget” Misuh, Heksa terlihat lebih sebal dari sebelumnya. “Gue sama Hala nggak ada apa-apa. Sahabat doang. Lagian, bisa-bisa gue digorok sama Abang lo, tuh, kalau gue pacarin calonnya”


Lisa mengerjap, terkejut dengan lontaran gerutuan sebal Heksa.


“Hah? Lo tau kalau Kak Sinar suka sama Hala?”


“Setan juga tau kalau Abang lo bucin sama Hala-nya gue. Kayaknya tuh, ya, gue udah jadi musuh nomor satunya abang lo kalau lo tau”


“Dih, Hala-nya gue tapi ngomongin orang lain bucin sama kepemilikan lo. Aneh”


“Lo juga, ya. Bilang Alpinonya-lo tapi masih sok keras bilang cuma sahabatan doang”


“Ya emang sahabat?!”


Lisa, bahkan tidak tahu mengapa Heksa terdengar menyudutkannya lebih jauh seolah berusaha menggores sesuatu yang medekati jantungnya.


“Haduh…” Heksa menghela napas ketika dia mengambil Pipang yang terngah terlentang di salah satu bantal bulu sebelum memasangkan tali untuk membawa kucing itu kembali berjalan-jalan.


“Gue ingetin, jangan sampai lo nyesel, ya, Lisa”


Mengernyit dengan sesuatu perasaan tak mau kalah, Lisa membalas;


“Gue juga ingetin, jangan sampai lo nyesel, ya, Heksa”


“Dih? Dibalikin?”


“Ya iya. Pokoknya, awas lo sampai nyesel Hala nggak sama lo. Gue ketawa paling keras”


“Yaudah kalau gitu, awas, ya, kalau lo juga sampai nyesel ngelepasin Alpino gitu aja. Gue juga bakalan bikin pesta di hari patah hatinya lo”


Lisa mengerjap. Heksa melempar wajah konyolnya yang menjengkelkan. Lisa rasanya ingin mengacak wajah menyebalkan itu. Tetapi dia mencoba untuk tenang. Dia tidak akan menggila disini hanya karena kelakuan dan omongan tak bermutu Heksa.


“Gue pastiin nggak bakalan nyesel!”


“Kalau gitu gue juga”


Benar seperti itu?


...🍁🍁🍁...


...Hari Baik; Percakapan Santai Yang Tidak Terduga Part 2...


.........


...🍁🍁🍁...


...PROMOSI NOVEL KARYA AGE NAIRI...


...JUDUL: KAMUFLASE CINTA SANG CEO...


Sakit yang terdalam adalah yang tidak terlihat oleh mata. Bagai tombak yang menusuk jantung, tetapi tombak itu tidak terlihat. Namun, dapat dirasakan di dalam hati. Elena harus terlibat pernikahan dengan pria asing yang ditemuinya di hutan pegunungan, walaupun pernikahannya diawali dari suatu kesalahpahaman Merrik memperlakukan dia dengan baik. Namun, semua itu hanyalah kamuflase. Kepalsuan cinta Merrik membuatnya tidak mempercayai laki-laki lagi.