
Hari berlalu dengan kabur. Lisa tidak mencatat apa yang terjadi setelah Kakaknya menemui mereka bersama dengan Hala di sebelahnya. Sinar menjadi lebih pendiam, tetapi kali ini senyumannya masih terbilang cerah dan matanya masih berkerut dalam senyuman yang menyebar. Tetapi entahlah, itu tidak setulus yang bisa diingat oleh Lisa sebelumnya, tetapi ketika dia bertanya tentang apa yang terjadi dengan perubahan suasana hati yang aneh, Kakaknya hanya berkata bahwa segalanya baik-baik saja. Lelaki itu bahkan kembali menceritakan banyak Hal dan mengobrol dengan Jelita, tetapi kali ini anehnya, Hala berdiri disebelah lelaki itu hanya dalam diam dan memakan puding ditangannya yang sama dengan milik Lisa, hasil dari pembagian merata dari Hala. Itu agak canggung, seolah-olah sahabatnya itu sedang memaksakan diri dan bahkan, Sinar tidak terlihat begitu interaktif dengan sahabatnya.
Ketika mendapatkan jawaban yang sama dengan Hala bahwa mereka baik-baik saja, Lisa yakin bahwa perempuan itu mengatakan yang sebenarnya meski agak aneh, dia melepaskan. Tidak ingin membaca yang terlalu berlebihan dalam hubungan pribadi orang lain meskipun itu kakaknya dan sahabatnya, perempuan itu memilih untuk mengabaikan. Sudah cukup dengan banyak pemikiran stress sebelumnya, dia akan menyerahkan semua permasalahan pada para pihak utama. Sekarang anehnya, dia menikmati bagaimana perjalanan permainan dirinya dan Noren saat membahas banyak hal konyol yang dipaksa tahu oleh diri lelaki itu sendiri.
Hari-hari setelahnya adalah hari yang ramai pun tetap membuatnya terasa kosong. Dengan Sinar yang tiba-tiba mengeluh padanya dengan kemurungan aneh yang coba dia sembunyikan di balik wajah merengutnya, meminta diri bahwa lelaki itu akan memutuskan menginap untuk beberapa hari yang tidak diketahui di rumah Wildan untuk alasan kerjaan yang mulai menumpuk menyambut awal bulan, dan dengan kenyataan yang sama bahwa pekerjaannya lagi-lagi menjadi rumit dan membuat kepalanya sakit.
Tetapi itu tidak berlangsung dengan lama. Semua produk sudah mulai memasuki keputusan final, beberapa rumah produksi sudah menyetujui banyak desain yang mereka usulkan, biaya yang cukup terkoordinasi dan juga penjadwalan yang sudah tersusun sempurna. Sedikit demi sedikit semua berjalan dengan lebih santai meskipun tidak langsung di hari yang sama. Lisa sudah merasakan penurunan pekerjaannya setelah mereka merayakan pesta yang dijanjikan oleh Jelita secara kecil-kecilan dan hanya dengan keberadaan divisi penjualan saja. Mereka bersenang-senang hari itu, tetapi Lisa tetap merasa aneh untuk sebagian besar waktu.
Dilain dia merasa kesepian karena Kakaknya yang menghilang lagi dan dia kesepian di rumah semi besarnya sekali lagi, dan dengan Hala yang akhir-akhir ini menolak untuk menemaninya menginap di rumah atau hanya berjalan-jalan sebentar dengan Lisa untuk alasan bermain dan berkumpul menikmati longgarnya waktu dengan berbagai macam alasan aneh, dia merasa kurang puas dengan apa yang dia miliki sekarang. Pesta dengan Jelita dan rekan kerjanya sama sekali tidak membuatnya membebaskan diri. Dia hanya ingin merasakan sedikit… angin kebebasan.
Berjalan-jalan sepertinya terdengar begitu indah di telinganya. Lisa bahkan sudah mencari tempat yang bagus untuk dia datangi. Sesekali, melihat kecantikan dunia yang disuguhkan terdengar lebih baik ditelinganya daripada apapun.
Dia mencocokkan hari liburnya dengan rekomendasi tempat liburan. Dia tidak perlu berpergian dalam jangka waktu yang lama. Sehari sudah terlalu cukup baginya. Pun, dia hanya ingin merasakan kebebasan sejenak dan tidak ingin merasa kelelahan setelahnya. Tetapi banyak destinasi wisata alam yang terlalu jauh. Meskipun sangat indah dan memanjakan mata, dia tidak terlalu suka dengan jarak yang membentang. Belum lagi dia hanya mendapatkan hari libur di akhir pekan, dimana semua orang mendapatkan hari libur yang sama. Siapa yang tahu kemacetan mengerikan apa yang terjadi jika Lisa memutuskan untuk mendatangi satu tempat yang juga diincar oleh para keluarga yang ingin berlibur?
Menghela napas, dia mengirimkan pesan dalam obrolan grup yang akhir-akhir ini lebih sepi daripada yang seharusnya. Dia tahu bahwa Alpino masih banyak kegiatan. Belum lagi untuk mendekor ini itu dari studionya yang Lisa tahu masih kosong dan belum terisi perabot apapun karena sahabatnya itu sedang memikirkan banyak hal tentang dekor dan tata letak yang tentu saja, membutuhkan Lisa dalam tahap pengerjaan karena suatu hari yang Lisa lupa sudah berapa lama itu terlewat, Alpino meminta bantuannnya tentang itu.
Kemudian, obrolah grup itu hanya diisi oleh Heksa yang mengoceh dan mengambil percakapan tentang game dan meminta Fajri untuk memberikannya ide apa yang harus lelaki itu lakukan untuk mencari ide terbaik dalam satu pengembangan yang sedang dia kerjakan akhir-akhir ini. Jihan yang juga ikut memberikan saran meskipun mereka bertiga berakhir dalam percakapan konyol di beberapa titik karena Alpino yang membalas dengan jeda yang relatif panjang dan bahkan ketika pembicaraan ittu cukup basi untuk kembali di ungkit.
Lalu, Hala yang sepertinya hanya lebih fokus untuk membalas dengan meme-meme kucing lucu dan terkadang menggelitik dalam bayolan receh yang aneh. Lisa mendengus, bagaimana mungkin di satu titik grup hanya menjadi sepi seperti kuburan dan beberapa waktu kemudian itu dihancurkan oleh banyak notifikasi dan pertengkaran yang tidak terlalu penting hingga berakhir hanya dengan satu emot jempol dari Alpino yang sama sekali tidak membantu dan hanya membuat grup dalam mode diam yang tidak tertarik.
Lisa tersadar dari layar ponselnya dan pikirannya yang berkelana dengan monitor di depannya yang terabaikan menunjukkan rekomendasi tempat liburan ketika Hala menyapanya dengan satu tepukan di bahu. Perempuan itu terlihat lebih aneh beberapa hari ini dengan kedua matanya yang tak memanncarkan binar polos bahagia yang biasanya. Juga, ada lingkar hitam mata panda yang mengerikan di bawah matanya. Lisa tidak mengerti ada apa, tetapi ketika dia bertanya, perempuan itu hanya menggeleng dan memberikannya senyuman.
“Kenapa frustasi banget, lo, Lisa? Gue lihat-lihat lagi nyari referensi liburan, nih. Seru kayaknya”
Meskipun penampilan sahabatnya itu lebih mengerikan daripada sebelumnya, cerocos girangnya masih terdengar memantul dan baik-baik saja. Lisa memilih untuk menempatkan senyum terbaiknya, tetapi mengetahui dan sadar dari pertanyaan Hala, dia mengerang dan menjatuhkan punggungnya ke busa kursi putarnya yang kadang nyaman dan kadang tidak sama sekali.
“Iya, nih, La. Gue mau jalan-jalan, sih, rencananya. Lagi coba lihat-lihat tempat yang bagus dan nggak bikin capek. Pengennya gue mau ngajak anak-anak juga biar bareng. Tapi kayaknya mereka lagi pada sibuk semua, ya?” mengeluh, Lisa mengingat bagaimana kelompok kecilnya memutuskan melakukan curhat colongan tentang kerjaan mereka. Dan ketika di ingat bahwa setelah pesta kecil yang diadakan oleh Jelita, dia merengek ingin bertemu dengan Alpino di kos lelaki itu, tetapi sahabat kecilnya yang saat ini terasa sangat jauh, mengatakan bahwa dia sedang berada di luar kota dalam pemotretan acara keluarga besar. Agak menjengkelkan jika Lisa boleh jujur.
Alih-alih duduk untuk mendengarkan rengekan Lisa, Hala ada di belakangnya dengan dua tangan yang disampirkan untuk memijat kedua bahunya. Perempuan dengan rambut yang kali ini diikat ekor kuda itu melenguh, merasakan ototnya rileks perlahan-lahan dalam pegangan sahabatnya. Hala, terkikik sedikit mendengar suara itu.
“Kalau itu mah, susah kalau mau ajak anak-anak awal bulan ini. Paling juga pertengahan baru bisa kita bareng lagi. Gue ingat Jihan lagi sibuk persiapan acara di pulau sebelah, Fajri yang baru ngajar anak sekolah lain sekalian buka usaha dagang kecil-kecilan. Terus, Heksa juga lagi ada pengembangan main individual simple game buat anak-anak sebagai acara bulanan buat magang.. kalau Alpino, lo tau lah sendiri, ya, dia ngapain”
Hala mengoceh dan selesai ketika dia menekann satu titik simpul otot yang menggumpal. Mengerang senang karena kesakitan menghilang seketika dan membuatnya lebih lega, dia mengangguk dengan paham. Berterimakasih ketika perempuan itu menepuk tangan Hala untuk menyudahi kebaikannya merawat Lisa sendiri.
“Iya, sih. tapi tetep aja. Gue nggak pengen pergi sendirian..” cemberut menguasai wajah, dia berputar dan berbalik untuk mengejutkan Hala yang berdiri dengan kedua alis sudah naik dalam ekspresi bertanya.
“Lo mau pergi sama gue, nggak?”
“Eh?”
“Yailah, diajakin sama gue kok kagetan gitu. Lo sahabat gue apa bukan, nih? Kayak orang lain aja. Aneh” berdecak, dia menendang kaki Hala main-main. Perempuan itu meringis.
“Ya, kan, lo nanya tiba-tiba. Jadi, lo ngajakin gue buat pergi berdua doang, nih?”
“Nggak tau. Paling kalau misalnya gue nanya ke grup lagi dan ada keajaiban mereka mau ikut karena ada kelonggaran, siapa tau?” bahunya mengendik, melempar kepalanya ke belakang untuk bersandar, Lisa bergumam sedikit. “Terus kalau ngajak Kak Sinar juga bisa. Siapa tau dia bisa ngelempar kerjaannya dan lebih milih gue kalau gue ngerengek. Apalagi kalau tau lo ikut” menyeringai, Lisa mengintip satu mata lirikan pada Hala.
“Aduh..” Hala menggaruk pipinya dengan agak canggung sebelum memberikan ekspresi masam yang dipertanyakan Lisa. “Maaf Lis. Kayaknya gue nggak bisa, deh…”
“Dih, gitu, lo? Liburan bareng gue masa nggak mau?” Badannya sekarang lebih tegap, bertanya-tanya dengan serius. Tidak biasanya Hala tidak merengek untuk ikut dengannya. Tetapi, Hala tetap menggeleng. “Serius? Lo emangnya ada kerjaan apa, deh, sampai nggak mau jalan-jalan sama gue?” dia memaksa lagi, untuk jawaban.
“Gue mau nabung, Lis” ada ringisan sebelum senyuman tahu Lisa tangkap dengan cepat. “Biasalah. Tau, kan?”
“Ya, ya. Anak-anak Korea lo lagi?” Lisa melambai, sudah paham, tidak perlu melihat untuk mendapatkan anggukan yakin dari Hala.
“Seratus buar lo!” cekikikan lucu, Hala menepuk bahunya dengan ringan sebanyak dua kali. “Semoga lancar, ya, liburan lo. Nanti jangan lupa kirim gue foto yang cantik buat gue update di insta!”
“Dih, padahal bukan lo yang liburan?”
“Nggak apa-apa, buat pencitraan. Biar orang-orang tau gue bahagia dengan jalan-jalan mulu”
“Yeu, bisa aja lo, La!” Lisa tertawa, puas ketika dia memukuli lengan sahabatnya.
Hala bergerak, membuat pose aneh dan gerakan yang tidak mengenakkan dimata dalam acara menggoda yang lucu sebelum melambai dan melompat pada satu rekan kerjanya yang lewat dan bergelantungan di lengan perempuan yang Lisa ingat namanya sebagai Alula. Rekan kerja Hala hanya meringis dan mengangguk kecil pada Lisa sebelum memukul kepala Hala yang menyebabkan rengekan lebih banyak dari sahabatnya sehingga keduanya membuat drama kecil sebelum menghilang di bali pintu tertutup menuju lift.
Ketika ditinggalkan, Lisa kembali fokus pada monitornya, mengabaikan kekacauan grup kerjaan dan beberapa email yang dia harus cek sebelum pulang nanti sore. Tapi itu bisa menunggu nanti dan Lisa hanya ingin mencari lokasi terbaik dari destinasi wisatanya yang tidak terlalu mahal. Karena, semua pengeluarannya adalah dari dompetnya dan usahanya sendiri. Sedangkan uang yang diberikan Sinar dan kedua orang tuanya tersimpan rapi di bank terpisah dan hanya digunakan ketika Lisa menginginkannya atau ketika dia harus membayar angsuran pajak atau apapun yang bukan sebagai bagian dari kebahagiaan kecilnya sendiri.
Lisa baru selesai mengotak-atik beberapa hal dan membuka dua situs ketika ponselnya bergetar khas panggilan masuk. Meraih dengan penasaran, dia melihat satu caller id yang lagi-lagi tidak akan meninggalkannya begitu saja. Dan tidak dalam waktu dekat. Jadi, daripada membiarkan orang itu membuat kekacauan yang Lisa tau dampaknya akan lebih mengundang banyak orang, dia mengangkat panggilan yang ternyata video itu.
Menempatkannya di depan monitor, Lisa membungkuk untuk memasang earphones di kedua telinganya agar tidak ada orang usil yang bisa mengetahui percakapan dua sisi mereka. Melirik ke kanan dan ke kiri, selain dirinya di dalam ruangan, hanya ada dua karyawan dari divisi keuangan yang sepertinya sedang tertidur dengan lelap, bersandar satu sama lain. Lisa tahu, mereka berdua memilih lantai ruangan bagian penjualan karena lebih sepi di jam seperti ini. Beberapa yang lain memiliki pekerjaan mereka masing-masing yang terpisah sehingga tidak banyak gerombolan yang hadir disana dan sini.
“Halo, Lisa!”
Itu Noren. Suaranya terdengr begitu lembut dan bersemangat di beberapa titik ketika dia menyapa. Menyipitkan mata ketika Lisa menaikkan brightness untuk melihat lebih jernih pada pantulan cahaya yang membuat layarnya gelap, dia berhasil mendapatkan visual dimana Noren juga terlihat berada di ruang kerja miliknya sendiri. Bedanya, terasa lebih pribadi dan personal. Yah, lelaki itu memiliki ruangan sendiri karena dia adalah calon pewaris perusahaan itu, atau bahkan sudah memiliki tangannya di atas sana.
“Ngapain lo, Kak. berani banget videocall gue jam kerjaan gini?” Lisa memelankan suaranya. Dia memang masih berada di jam kerja, tetapi selama tidak ada yang melihat dan dia tidak menimbulkan kebisingan karena kerjaannya sudah 70% diselesaikan, tidak ada yang akan memarahinya. Lagipula, jika terlalu beresiko Lisa tidak akan mengangkat panggilan video ini sama sekali.
“Dibalas dulu dong sapaan aku, cantik” Noren tertawa geli, agak lucu sehingga yang dilakukan Lisa hanyalah memutar bola matanya malas. Ada pergerakan kasar pada kamera, tetapi itu hanya untuk distabilkan dan Lisa menemukan dua karakter yang mereka beli di acara comifuro beberapa waktu yang lalu.
“Gue emang cantik, nggak usah disebut-sebut” Lisa mengibas rambut imajinernya. Tertawa konyol dikepala karena merinding dengan dirinya sendiri sebelum dia memilih untuk berkomentar tentang action figur yang jelas-jelas berada di ruang kerja pribadi Noren. “Lo ngapain naruh mereka di meja kerja lo, Kak? sumpah, nggak malu kalau disebut nggak proesional sama calon rekan bisnis lo?”
“Oh, ya enggak, dong. Nggak ada yang berani protes ke aku tentang apapun yang aku lakuin di ruang pribadi aku sendiri” Noren menggeleng, dia terlihat berani dengan kata-katanya. Dua figur mini yang menggemaskan, dimana Lisa yang memillihkan itu untuk Noren sebelumnya berada di kedua tangannya dan terlihat lebih kecil daripada yang sebenarnya.
Lisa mengernyit, agak geli. Lagian, sejak kapan dia menonton anime? Lisa hanya suka dan tertarik ketika melihat karakter itu di acara kemarin. Jadi, dia mengambilnya dan memilihnya berdasarkan insting gemas dan kesukaan secara pribadi.
“Nggak ada yang bilang gue suka dan nonton animenya, tuh. Jangan ambil kesimpulan sendiri, dong” Lisa mengomel. Dia memilih untuk merilekskan dirinya dalam pembicaraan. Tidak buruk juga jika Lisa bisa mengakuinya. Noren tidak begitu menganggunya seperti yang dia pikirkan dan itu cukup bagus.
“Yah, kirain kamu juga nonton. Jadi, aku sia-sia doang, nih effortnya buat kamu?”
“Haduh, Kak. nggak usah sok nyesel gitu. Bukannya emang semua effot lo sia-sia, ya?”
“Aduh, sakit banget, dek kata-katanya” Noren bertingkah secara cepat, mencengkeram jantungnya. Itu beberapa waktu sebelum lelaki itu hanya meringis tawa lalu kembali dengan wajahnya yang lurus dan senyum tegas yang agak menakutkan hadir.
“Tapi tenang aja, semua effort aku buat kamu nggak ada yang pernah sia-sia, kok” senyuman tegas berubah menjadi seringai yang tahu. Lisa merinding, tidak paham bagaimana lelaki itu memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Tetapi Lisa tidak akan jatuh pada Noren. Tentu saja, dia tahu dirinya dan hatinya. Dan Noren sama sekali tidak ada di dalam keduanya.
“Yang penting percaya diri dulu, ya, Kak. malu kemudian” Lisa mengejek. Menertawakan ucapannya sendiri. Itu adalah sarkas yang tidak terlalu berat, tetapi dia harap menusuk. Namun, Noren sepertinya tidak mengambil apapun itu dengan benar. Lelaki itu masih lebih santai dan terlihat tertata seolah semua ada dalam genggamannya sendiri.
“Wah, iya, dong. Tapi aku yakin nggak bakalan malu nanti” Tangannya mengusap rambutnya yang masih tertata dengan rapi. Beberapa gerakan sedikit mengaburkan visi sebelum Noren memperlihatkan bahwa dia sedang menata dua figur itu di mejanya yang anehnya, agak kosong selain dari tumpukan berkas dan satu telepon kantor berwarna putih yang kontras.
“Suka-suka lo, deh, Kak Noren”
“Aku sengaja naruh ini di sini selain karena suka sering kangen sama kamu, aku lupa mau minta foto bareng kemarin. Jadi, yaudah, pakai yang ada aja”
“Dih, siapa yang mau foto sama lo, Kak? kalau lo minta pun gue nggak bakalan mau. Jangan berkhayal ketinggian, ya!”
Lisa membentak, agak ngeri. Matanya melotot ketika dia sadar mendengar cekikikan tawa senang dari Noren dan suara gumaman serak dari belakang. Mengaduh dalam antisipasi, dia berbalik untuk melihat apakah dia berhasil membangunkan kedua karyawan yang tertidur, tetapi untung baginya bahwa mereka masih pulas dan hanya terganggu dalam sedikit waktu saja. Lisa mengabaikan, dia tidak ingin mengganggu sedikit waktu istirahat curian mereka karena keduanya terlihat terlalu kelelahan.
“Diem, gue serius” Lisa berbisik-bisik. Kali ini, mencoba lebih tenang.
“Kamu tau nggak, sih kalau kamu gemesin kalau lagi marah-marah?”
Mulai. Baru saja tadi dia mengatakan bahwa Noren sudah menjadi lebih baik dengan godaannya, sekarang lelaki itu mulai kembali melancarkan aksinya.
“Pilih diem apa gue tutup telponnya sekarang?” Ancaman itu dalam bisikan. Tetapi tetap tegas dan menegancam.
“Lisa kenapa susah banget menghargai pujian, ya? Padahal aku serius, loh”
“Nggak butuh keseriusan lo sama sekali. Berhenti godain gue sebelum gue nyesel udah kasih kesempatan ngangkat vidcall lo di jam kerja gue”
Sebenarnya, jika Lisa bisa mengatakan, dia sudah menyesal karena memilih hal ini sejak tadi. Karena itu berarti mengganggu acaranya untuk fokus pada pemilihan destinasi wisata yang bagus dan cocok. Kapan lagi dia ditinggalkan oleh rekan kerjanya sendirian sehingga dia memiliki privasi lebih untuk bersantai dan berselancar di internet?
“Jangan dimatiin, Lisa” kali ini, Noren seperti bisa menempatkan diri. “Sebenarnya aku juga nggak bakalan nyangka kamu mau ngangkat telpon video aku. Aku udah yakinin diri bahwa kamu nggak bakalan ngangkat dan bakalan ngamuk sama aku pas jam istirahat nanti”
Noren tertawa. Lisa membatin, seharusnya itulah yang terjadi. Padahal lelaki itu tahu bahwa dia akan melakukan itu, tetapi kenapa masih juga berusaha untuk melanggar sesuatu yang sudah dia prediksi dengan tepat dan jelas?
Tapi sekali lagi, siapa Lisa untuk menghakiminya karena disinilah dia, mengangkat panggilan itu dan merasa santai dalam sedikit pembicaraan yang mereka bagi. Noren adalah temannya. Tetapi masih ada pengetahuan tentang perasaan lelaki itu sehingga Lisa tetap harus berhati-hati jauh lebih banyak.
“Ini kesempatan seumur hidup dan keberuntungan lo satu-satunya sampai lo mati nanti”
“Aduh, masa begitu? Jangan, dong” Noren terdengar geli dalam dengusannya.
“Tapi serius, aku sebenernya nggak nyangka bakalan diangkat. Aku seneng banget, Lisa”
“Nggak ada yang spesial dari ini, Kak Noren. Gue juga sering ngangkat telpon atau panggilan video orang lain selain lo” Lisa menjatuhkannya lagi. Oh, tentu saja dia akan melakukannya.
“Aku nggak peduli.” Noren melambai. Wajahnya terlihat berseri-seri. “Yang penting sekarang semuanya tentang aku sama Lisa. Jadi, yang lain nggak akan aku pedulikan”
Noren berkata dengan serius. Wajahnya ia dekatkan dan memperlihatkan ketika lagi-lagi dia mencoba merapikan penampilannya.
“Oh iya, Lisa. Sebenarnya ada tujuan yang bagus kenapa aku nelpon kamu”
Alis Lisa terangkat, penasaran.
“Mau liburan ke Pantai bareng aku?”
Merinding naik ke sekujur tubuh Lisa. Kebetulan apa lagi ini?
“Apa?”
“Hari Sabtu ini. Ayo liburan bareng sama Aku. Mau, ya?”
Liburan. Ini seakan-akan Noren berada disampingnya dan memata-matai semua keinginannya. Bagaimana bisa orang itu tau bahwa Lisa membutuhkan liburan?
Senyuman yakin dan percaya diri adalah apa yang Lisa lihat dari layar kecil ponselnya yang terlalu terang.
...🍁...
...Perjalanan Yang Direncanakan...
.........
...🍁🍁🍁...