Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Kekhawatiran Saudara; Maaf



Setelah keterkejutan yang diberikan oleh sahabatbya yang tiba-tiba saja mengklaim dirinya sedang sakit dan memilih untuk pulang dipertengahan hari kerja, dimana perempuan itu tidak pernah melakukan hal itu sama sekali-, disusul dengan bagaimana hadiah kejut lainnya datang ketika Jelita mengungkap fakta bahwa Kakaknya adalah orang yang menjemput sahabatnya alih-alih ojol yang disebutkan oleh Hala sebelumnya. Kemudian dengan fakta lain tentang bagaimana ketua divisinya itu mengatakan bahwa Hala dan Sinar melakukan sedikit adegan yang lumayan intim di area perkantoran hingga kejujuran Jelita tentang perasaan yang ia miliki untuk kakak lelakinya seorang-, Lisa tiba-tiba saja merasa pusing tujuh keliling


Lisa bahkan tidak mengharapkan apa-apa di hari itu. Karena memang, dia disibukkan dengan pekerjaan yang membludak seolah-olah beberapa hari santai sebelumnya adalah ketenangan sebelum badai menerjang. Leo sangat berisik untuk menekan kinerja dan poin profit perusahaan agar bisa lebih meningkat jauh di atas target statistik bulan sebelumya yang telah dijabarkan berjam-jam pada jam meeting berlangsung. Lisa bisa sedikit menganalisis bahwa Leo sepertinya lebih tertekan dari apapun karena dia melampiaskan semua target amarahnya pada bawahan yang juga pasti akan lebih tertekan dan membatin di sana-sini. Lelaki yang sudah tak begitu muda lagi itupun mungkin juga tidak punya alasan lain untuk mempekerjakan mereka dengan deadline waktu yang membuat Lisa bisa saja menggila.


Namun lebih daripada itu, dia masih penasaran dengan bagaimana keadaan Hala yang sakit dan darimana asal sang kakak yang datang tiba-tiba tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Dan juga, untuk apa pelukan di area kantor itu? Apa kakaknya sudah membuat pergerakan nyata untuk menarik Hala dalam genggaman penuh sulung Cakrawijaya itu?


Dan juga, satu pertanyaan masih menganggunya tentang bagaimana Hala memepertanyakan hubungannya dengan sang kakak yang jelas baik-baik saja! Ya, tidak ada yang salah antara dia dan kakaknya. Tetapi, semakin jam mulai bergerak dan hari mulai berganti, dia berpikir pasti ada sesuatu yang sedang salah disini.


Itu dimulai dari Hala yang tidak ditemukan di rumah perempuan itu sendiri ketika Lisa mengusul untuk menjenguk karena kekhawatiran. Kemudian, dia tidak menemukan kakaknya juga berada di rumah mereka untuk satu pertanyaan cepat. Lisa khawatir, tentu saja. Pesannya sama sekali tak digubris dan telponnya juga tidak bisa terhubung kepada sang empu. Dia agak frustasi. Belum lagi, Jelita tiba-tiba saja mengiriminya pesan diluar dari pekerjaan yang tentu saja menanyakan tentang kakaknya. Lisa tidak mengerti, kepalanya pusing ketika dia mencoba memilah apakah dia harus senang atau malah lebih sedih daripada yang seharusnya.


Karena satu, Jelita adalah orang yang begitu dia kagumi dan mungkin saja Lisa akan dengan senang hati menjadikan perempuan itu bagian dari keluarganya kelak di masa depan.


Tetapi, alasan kedua yang paling kuat adalah, Jelita tidak bisa masuk dan melangkah begitu saja di antara Sinar dan Hala. Di antara kakaknya dan juga sahabatnya dimana Lisa mendukung penuh hubungan yang terjalin di antara keduanya.


Mereka memang pantas untuk bersama dan Lisa tidak akan bisa mengubah perspektif untuk tetap mendukung dan mencomblangkan Sinar dan Hala. Sekalipun Jelita adalah orang yang ia puji dalam berbagai aspek indah yang menyenangkan, tetap saja, ada bagian yang dimana Wanita itu tidak bisa melangkahkan kakinya begitu saja.


Menghela napas dalam keanehan yang telah terjadi hanya dalam satu hari dan dengan kekhawatiran yang menggelegak di dasar hatinya, dia tertidur dalam satu pejaman mata dan ketidaksadaran yang menenggelamkannya begitu saja. Lisa tidak tahu bahwa dia menghabiskan waktu untuk beristirahat ketika dia menyentuh kasur jika dering ponselnya tidak membangunkannya dalam kejut yang membuatnya meringis dalam denyutan yang menusuk.


Tetapi tidak masalah. Itu adalah panggilan dari orang yang membuatnya cemas setengah mati dan pada akhirnya, dia bisa mendapat kabar yang baik tentang sang Kakak. Sinar memang tidak mengatakan dimana posisi tepatnya lelaki itu berada, tetapi si sulung mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan memberi kabar pada si bungsu tentang ketidakpulangan lelaki itu dalam berbagai bentuk alasan yang Sinar coba berkilah. Nalisa yang hanya bisa berpikir bahwa kakakya baik-baik saja, segera memberikan persetujuan cepat sementara pertanyaan yang menggunung menumpuk di belakang kepalanya, terabaikan.


Tidak masalah. Kepalanya berkata, memberi ketenangan. Setidaknya kakaknya memberitahu keadaan dan juga, oh, dia bahkan belum mendapat apapun kabar yang berhubungan dengan Hala. Itu agak membuatnya kembali sakit kepala.


Tidak. Lebih tepatnya perempuan itu masuk kedalam mode mencurigakan yang bisa Nalisa letakkan jarinya pada kata penuh arti itu.


Benar. Rasanya aneh ketika ia bagun keesokan harinya untuk tidak menemui kakaknya berkeliaran di rumahnya. Lisa memang terbiasa untuk hidup sendirian di rumah semi besar itu, tetapi dalam beberapa bulan terakhir kehadiran kakaknya menjadi yang paling konstan disana sehingga dia agak mencicip rasa aneh dilidahnya dalam bentuk sesuatu yang agaknya terasa sangat kosong


Berbanding terbalik dengan ketidakhadiran sang Kakak, Lisa dikejutkan dengan kehadiran Hala yang datang padanya dengan wajah sangat bersalah, mata berkaca-kaca dan ringisan meminta maaf dengan bibir yang jatuh dalam cemberut memelas permintaan maaf. Dalam beberapa menit yang tidak bisa dihitung oleh Lisa sendiri, dia sudah diseret menuju ruangan arsip yang kosong ketika Hala menumpahkan permintaan maafnya untuk tidak bisa memberi kabar pada Lisa sebelumnya.


“Terus, maksudnya ketemu sama kakak gue dan di jemput terus mesra-mesraan depan gedung kantor apa, ya? Emang kakak gue udah berubah jadi tukang ojol dadakan, La?”


Lisa tidak mengatakan itu untuk menyudutkan sahabatnya. Dia hanya curiga mengapa semua hal bisa terjadi begitu saja. Hala terbelalak. Dia terlihat agak sulit merangkai kata sebelum pada akhirnya membuat statemen lain tentang bagaimana dia dan Sinar sudah mengobrol sedari pagi tentang sakit yang Hala rasakan dan pada akhirnya Sinar yang khawatir memilih untuk menjemput Hala siang itu juga dan menemaninya hingga sore sebelum akhirnya mereka melakukan kunjungan dokter dan Hala mengakui bahwa dia sedikit berjalan-jalan bersama Sinar setelahnya ketika dia merasa lebih baik. Lisa mendengarkan dengan ekspresi yang agak berbeda. Jelas, dia curiga namun dia tidak tahu mengapa dia merasa lebih senang dan puas mengetahui cerita yang Hala tumpahkan padanya.


“Gue nggak mesra-mesraan di area kantor. Itu cuma refleks doang karena Kak Sinar khawatir sama gue. Beneran, Lisa, gue nggak bohong. Lagian siapa, sih yang ngasih tau lo beginian? Seharusnya tuh orang liat dulu baik-baik. Aduh, malah buat salah paham jadinya, kan” Hala menggerutu dengan cemoohoan dan wajah yang coba ia buang dalam keadaan sedikit panik.


“Terus kenapa gue bohong soal ojol, itu karena gue nggak mau lo godain gue. Kepala gue udah sakit banget dan gue nggak bisa tahan godaan lo tentang kakak lo yang cemas setengah mati sama gue. Padahal Kak Siar lebih protektif dan khawatir ke lo asal lo tau” lanjutnya masih dengan bibir yang mengerucut.


“Dih, gue juga tau situasi dan kondisi buat ngegodain lo, kali, La. Jangan mikir begitu, lo malah nyakitin gue kalau perspektif lo tentang gue begitu banget”


“Aduh Nalisaaa” Lisa sudah siap dengan hantaman yang diberikan oleh Hala ketika perempuan itu langsung merengkuhnya dengan kuat dan menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Lisa menggeleng ketika Hala mulai menumpahkan rengekan di bahunya.


“Jangan gitu, dong. Gue jadi ngerasa lebih bersalah ini. Maafin gue, ya? Lain kali gue nggak bakalan gitu lagi. Otak gue yang salah kemarin nggak bisa mikir lebih baik lagi. Maafin sahabat lo yang bego ini, ya, Nalisanya gue yang paling cantik, keren, gemesin? Hmm? Ya? Ya?”


Lisa menghela napas lembut. Mana bisa dia marah pada sahabatnya jika rengekan yang seperti ini akan terus menerus ditumpahkan padanya? Hala tidak akan menyerah jika dia tidak menerima permintaan maaf perempuan itu. Lisa yakin, Hala pasti akan teru mengicarnya dan menganggunya dengan jutaan maaf hingga Lisa luluh dalam waktu yang cepat ataupun lambat selagi Hala nekat untuk menempelinya dan merusuhinya agar perempuan itu dimaafkan.


Lagipula, dia juga seharusnya bersyukur bahwa Hala baik-baik saja dan terlihat sudah lebih bersemangat dari hari sebelumnya. Sahabatnya itu pasti sudah lebih baik dan tidak menderita sakit lagi yang membuat Lisa akan semakin cemas kedepannya. Lagipula, Sinar merawat Hala dengan baik dan Lisa tidak lebih dari senang untuk mengetahui berita bagus ini. Dia senang dengan apa yang terjadi dan semoga kakaknya bisa semakin dekat untuk mencetak kebahagiaan lelaki itu dengan menggapai cinta dalam hidupnya. Itu bagus, yah, semua terlihat cukup bagus sehingga Lisa mengenyahkan egonya sedikit lebih banyak.


“Iya, iya. Nih kalau nggak gue iyain lo nggak bakalan berhenti, La” Dia menepuk dan mengusap punggung Hala dengan lembut. Ada cekikikan kecil yang berhasil ia keluakan ketika Hala berpura-pura menghirup ingus imajiner agar tidak mengotori pakaiann Lisa. “Lain kali jangan bikin gue khawatir, lo. Sumpah, cepet kabarin gue kalau ada apa-apa. Jangan coba-coba bohong sama gue, lo, La. Atau habis ini beneran gue blacklist lo dari hidup gue. Gue nggak mau kenal sama lo lagi tau rasa , lo” seringainya main-main ketika dia menjauhkan Hala dari bahunya.


“IH NGGAK MAU!”


Tawa gemas Lisa pecah ketika Hala bertingkah seperti bocah saat dia merengek dan mencengkeram kedua lengan Lisa dengan keras. Tatapan matanya berkaca-kaca seperti dia akan menangis saat itu juga. Lisa menggeleng dengan geli. Bagaimana mungkin mereka masih terlihat seperti anak kecil yang sedang bermai ancaman dan dengan fakta bahwa sebenarnya usia Hala adalah satu tahun di atasnya. Memikirkan hal itu, Lisa segera menjentik dahi Hala untuk menydahi drama yang sedikit terlalu berlebihan ini.


“Kalau gitu, coba ceritain sama gue lo kemana aja sama kakak gue? Bisa-bisanya lo ngedate waktu lagi sakit? Ada gila-gilanya juga gue rasa lo berdua”


“Bukan ngedate, Lisa! Aduh, tuh, kan, lo ngegodain gue!”


“Kan sekarang lo nggak lagi sakit? Cepat kasih tau gue atau gue aduin ke Miss Ivora kalau lo bukannya istirahat karena sakit tapi ngebolos kerja biar bisa pacaran sama Kakak gue?”


Tatapan horor yang Hala tujukan padanya adalah apa yang membuat perasaan Lisa semakin terangkat. Dia sudah baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kakaknya baik-baik saja dan Hala ada di depannya dengan keadaan yang lebih bugar seperti sedia kala dimana Lisa akan dengan senang hati menggoda perempuan itu habis-habisan.


Kekhawatiranya mungkin tidak begitu berguna kemarin hari. Tetapi nyatanya, kejanggalan itu masih terasa di ujung lidahya. Dia tidak mengerti apa itu, tetapi dia mencoba untuk mencari tahu.


......................


Kejanggalan tentang Hala tidak terlalu penting dan sama sekali tidak untuk dipikirkan karena tentu saja, Hala tetaplah menjadi dirinya sendiri sebagaimana perempuan itu bertingkah seperti selayakya dia di hari-hari biasa. Jadi, Lisa tidak terlalu memikirkan hal aneh tentang sahabatnya setelah permintaan maaf dan moment di ruang arsip kosong itu. Segalanya mulai lancar dan semua hal terlihat baik saja dan selalu ada pada tempatnya.


Tetapi yang membuat Lisa merasa ingin menggigit jarinya adalah bagaimana Kakaknya tiba-tiba bertingkah agak aneh dua hari ini. Lelaki itu bahkan tidak pulang sama sekali dan tidak menghubunginya seperti yang seharusnya. Lisa tentu saja sudah mencoba untuk menghubungi Sinar terlebih dahulu dan berkali-kali, tetapi sang kakak nyatanya tak juga membalas semua yang coba ia lakukan untuk merai lelaki itu dan mengetahui apa yang terjadi pada sang Kakak. Biasanya, Kakaknya tidak akan pernah mengabaikan panggilannya, bahkan lelaki itu akan menelpon kembali jika tahu bahwa Lisa mengubungi sebelumnya.


Nalisa sudah mencoba bertanya pada Hala tentang bagaimana dan dimana sang kakak karena sahabatnya itu adalah orang yang terakhir ada bersama Hala. Lisa hanya khawatir dan memikirkan hal yang terburuk tentang Sinar yang sakit karena terjangkit virus dari Hala dan sedang beristirahat di suatu tempat atau lebih parah dari itu. Pikiran negatifnya selalu datang di saat-saat terburuk dan Lisa benci merasa seperti itu.


Dua hari berubah menjadi tiga dimana Lisa rasanya ingin merobek rambutnya detik itu juga. Dia khawatir sangat khawatir. Tentu saja. Itu kakaknya dan dia sama sekali tidak mendapatkan kabar apapun tentang lelaki itu. Dia pernah bertanya pada Noren ketika lelaki itu datang menjemputnya di kantor tentang keabsenan sang kakak. Noren hanya mengatakan bahwa Sinar pasti baik-baik saja dan sedang berada di suatu tempat sibuk dengan kerjaannya atau sedang menenangkan diri dari apapun yang sedang dialami oleh lelaki itu.


Lisa menghela napas, cemberut karena itu adalah jawaban yang sangat tidak membantu untuk meredakan kekhawatirannya. Namun, hari itu, Noren memastikan dan meyakinkannya bahwa Sinar tidak akan melakukan hal yang gila dan pasti akan kembali. Kakaknya hanya sedang disbukkan dengan laporan akhir tahun perusahaan dan hanya itu. Tidak ada yang salah pada Siar. Noren bahkan berani bersumpah untuk itu dan mau tidak mau Hala berusaha untuk percaya.


“Awas lo kalau kakak gue kenapa-kenapa dan nggak sesuai sama apa yang lo yakinin ke gue, lo yang gue apa-apain, Kak Noren!”


“Masih serem ya ancamannya ke aku, Dek” lelaki itu tertawa dengan ringan. Terlihat seperti tidak memiliki beban kekhawatiran yang sama seperti yang dimiliki oleh Lisa seorang. “Aku tau Sinar nggak bakalan gila ngelakuin hal-hal yang berbahaya atau gimana. Dia baik-baik aja. Aku yakin. Sinar juga paling cuma sibuk aja. Kamu tau, kan, ngurus eval perusahaan akhir bulan gimana? Pasti dia tenggelem di eval bulan ini, deh. Jangan mikir yang macam-macam, oke?”


“Tapi Kakak gue selalu ngasih kabar kalau dia sibuk” Lisa masih bersikeras. Dia tidak akan tenang jika Sinar masih belum menunjukkan batang hidungnya atau hanya sekedar mengirimi pesan atau menelponnya. Setidaknya dia harus tau bagaimana keadaan kakaknya itu.


Lisa tidak yakin mengapa dia sangat khawatir kali ini. Tetapi rasanya, seperti ada yang salah. Kakaknya pasti sedang mengalami suatu hal yang membuat lelaki itu menghilang begitu saja dari permukaan bumi. Atau jika bisa dibilang, Sinar sedang mencoba untuk menghindari Lisa selama mungkin.


Tapi, apa kesalahan yang dia perbuat?


“Huss, jangan bikin kepala kamu itu mikir yang aneh-aneh. Sinar baik-baik aja. Nanti malam dia pasti pulang ke rumah kamu, Kok, Dek. Aku serius”


Lisa tidak sadar ketika Noren mengusap kepalanya untuk menenangkannya. Itu adalah satu sentuhan yang tidak begitu ia permasalahkan. Karena nyatanya, dia merasa sedikit tenang dengan sentuhan dan ucapan yang coba sedikit ia percayai. Semoga saja Noren benar. Karena Noren adalah sahabat terdekat kakaknya, dia coba memastikan dia bisa mempercayai lelaki itu untuk kali ini. Lagipula, Noren sekarang adalah temannya dan sebagai seorang teman, Lisa juga harus bisa untuk percaya.


“Oke. Gue pegang kata-kata lo. Kalau lo bohong, gue bakalan tuntut lo dengan cara minta lo bikin seribu candi buat gue dalam semalam. Awas aja lo, ya, Kak”


Mata Noren terbelalak sebelum dia terbahak dengan geli.


“Loh? Aku bukan Bandung Bondowoso?”


“Nggak peduli. Pokoknya gue mau Kakak gue balik malam ini juga”


Seaneh apapun itu, Nalisa bersikeras. Sinar harus pulang malam itu juga.


......................


Entah apa yang dilakukan Noren setelah percakapan mereka waktu itu, di hari keempat kakaknya hadir setelah dering bell pintu yang memekakkan telinga. Disana, Sinar dengan senyuman manis berlesung pipinya hadir dalam balutan kaos santai dan juga celana pendek jeans robeknya memeluk paha tebalnya. Lisa, yang kesal karena dia harus menahan khawatir pada Sinar, jelas saja langsung menjambak rambut lelaki itu dan menyeretnya masuk kedalam rumah.


Nalisa siap untuk menguliti kakaknya hidup-hidup dalam omelan kasarnya yang dibalut kekhawatiran dan kelegaan yang berbaur menjadi satu dalam sebuah perasaan besar kekeluargaan. Dia sangat lega bahwa kakaknya baik-baik saja tetapi dia juga masih marah karena Sinar sama sekali tidak memberikannya kabar beberapa waktu belakangan. Ini seperti Kakakya tidak memperdulikannya lagi.


“Lo dari mana aja, sih, kak? telpon nggak di angkat, pesan gue juga nggak lo balas. Lo lupa kalau lo punya adek dan lo juga udah tinggal sama adek lo ini selama berbulan-bulan? Lo nggak ngerasa bersalah bikin adek lo khawatir karena lo hilang tanpa kabar? Mikir nggak, sih, Kak?”


“Aduh, gue baru datang kenapa di omelin, sih, dek?”


Sinar berusaha untuk membuat wajah lucu. Ada ringisan yang coba ia keluarkan dalam bentuk konyol yang dipaksakan. Lisa memutar bola matanya sebal. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah memukul perut sang kakak dan mencubit sisi pinggangnya. Dia ingn balas dendam karena kakakya mencoba melucu denganya.


“Nggak usah sok polos, lo. Jahat banget lo sama gue, Kak. Seenggaknya kasih kabar kalau mau menghilang. Gue jadi kepikiran tau nggak sih?!”


Lisa tahu dia terdengar sangat kekanak-kanakkan. Tapi siapa yang bisa menyalahkanya saat dia sungguh merasa aneh tidak menemukan kehadiran dan keberadaan kakakya disekitar. Aneh rasanya tidak mendapat kabar dari Sinar ketika dia sudah terbiasa kembali tinggal bersama orang lain di rumah semi luas itu.


“Padahal baru tiga hari doang -,”


“Empat hari.”


Sinar mendengus. Ada senyuman kecil tulus yang berhasil ia keluarkan. Lisa bisa melihat tatapan mata sayu dan lelah sang kakak yang menyimpan banyak rahasia dan binar kasih sayang dan kekhawatiran dan anehnya, rasa bersalah berpendar disana dengan cahaya yang membuat Lisa membeku.


Ada helaan napas berat dari sang sulung Cakrawijaya ketika Lisa merasakan dirinya di tarik dalam pelukan erat sang kakak. Itu adalah kehangatan saudara yang kembali Lisa rasakan dan dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Terlebih lagi, rasanya aneh ketika Sinar berbisik dalam bisikan yang menoreh hati.


“Maafin gue ya, Nalisa”


“Maafin Kakak lo yang nggak berguna ini….”


Lisa menghela napas lembut. Menutup mata, dia memilih untuk membalas pelukan sayang saudaranya dalam satu toreh senyuman masih rasa kasih sayang.


“Jangan bawel dan jangan terlalu lebay lo, kak. cukup janji sama gue kalau lo mau menghilang lagi, seenggaknya kabarin gue lebih dulu. Oke?”


Tepukan Lisa berikan di punggung sang kakak. Dia menanti tawa geli dari Sinar. Tetapi anehnya, itu tidak kunjung datang.


.


...🍁...


...Kekhawatiran Saudara; Maaf...


.........


...🍁🍁🍁...


...PROMOSI NOVEL KARYA SICHUZ...


...JUDUL: SUAMIKU DAUN MUDA...


Bagaimana jika hanya dengan sentuhan yang tak disengaja membuat seorang Arion Axell Hadinata terpaut hati pada wanita bernama Salwa , yang usianya jauh di atasnya. Apa lagi setelah mencari tahu ternyata wanita itu juga seorang janda. Axell adalah CEO muda yang sangat berbakat, bahkan di usianya yang ke 17 la sudah memegang kendali perusaahaan sang ayah. Lalu apa yang akan Axell lakukan pada wanita yang lebih cocok menjadi kakak nya dari pada kekasihnya, status dan rentang usia yang sangat mencolok apa kah akan membuat mereka bersatu?