
Nalisa sudah tidak ingat sejak kapan dia berakhir terbaring di lantai terdingin kamar tidurnya. Terakhir kali yang perempuan itu ingat adalah bagaimana dia terduduk di sudut paling pojok kasur tidurnya dan menatap kosong lantai keramik putih yang kusam dalam kegelapan. Dia tidak pernah ingat saat dimana emosinya memuncak seumur hidupnya. Dia juga tidak pernah mengira bahwa hari itu akan tiba juga. Ini adalah puncak tertinggi emosinya sehingga dia bahkan sudah sangat lelah untuk mengamuk.
Pertengkaran dengan Noren pagi tadi, atau entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak saat itu adalah ujung tombak dari seluruh luapan kekesalan dan kemarahannya yang meledak. Nalisa bahkan untuk bergerak dari tempat dinginnya yang menusuk saja rasanya sudah tidak sanggup.
Jujur, Lisa lelah dengan emosi yang bukan untuk dirinya sama sekali. Bulan-bulan terakhir adalah neraka baginya. Terlebih lagi di bulan ini adalah detik-detik menuju kematian hidupnya. Tentu saja ini adalah hal yang berlebihan untuk dikatan, tetapi berakhir menikahi seorang iblis adalah sesuatu yang membuatnya akan terjun bebas ke dalam neraka kehidupan yang tidak pernah Lisa minta sama sekali.
Saat ini, Lisa tidak mengerti bagaimana cara menggerakkan tubuhnya. Jujur dia sangat lelah dengan semua hal yang bergejolak dan menendang bagian hidupnya. Rasanya dia hanya ingin berbaring saja dan tidak melakukan apapun lagi sampai dirinya siap untuk bangkit kembali. Tapi, ini dingin. Sangat dingin daripada yang biasanya tubuhnya bisa tolerir.
Merinding seluruh badan adalah apa yang dia rasakan. Lisa ingin menangis karena dingin yang menusuk kulitnya. Dia ingin meminta tolong pada siapapun yang bisa membantunya untuk membuatnya hangat di bawah selimut-, atau apa saja yang bisa menyingkirkan tusukan-tusukan es yang tidak manusiawi.
Sayangnya, suaranya sama sekali tidak bisa ia serukan. Memanggil kakaknya saja rasanya tidak bisa dia lakukan. Air mata luruh lagi, dia benci bagaimana dirinya merasa sangat tidak berguna. Nalisa benci bagaimana dia terjatuh hanya karena hal bodoh seperti ini saja.
Biasanya, Nalisa adalah orang yang kuat dan cerdas. Dia tidak mudah tumbang dari badai apapun yang menerjang. Mungkin saat ini, ombak yang menghempas kapal pendiriannya mulai goyah dan rapuh sehingga pertahanannya runtuh sepenuhnya.
Lisa mengutuk, seharusnya yang merasakan hal ini bukan dirinya, tetapi monster dalam hidupnya lah yang bertanggung jawab dan merasakan rasa sakit yang sama yang sedang Nalisa rasakan saat ini. Jujur dalam hatinya yang paling dalam, Nalisa tidak akan pernah bisa memaafkan Noren yang telah memporak-porandakan pondasi kehidupannya yang sempurna.
”K-kak Sinar..”
Dia berusaha untuk memanggil ketika secercah harapan muncul saat Lisa sendiri mendengar suara-suara ribut di depan sana. Samar-samar Lisa bisa mengetahui siapa saja yang berada di balik pintu. Tentu saja itu adalah Kakak dan teman-temannya. Suara Sinar dan Alpino adalah hal yang paling keras yang masuk ke dalam telinga Lisa yang berdenging.
”Dek? Lo engga apa-apa? Gue masuk, ya?”
Lisa mengangguk. Rasanya terharu ketika mendengar suara lembut sang kakak yang khawatir. Air matanya jatuh lagi dan sekarang dia terisak tanpa suara masih di posisi yang sama.
”Lisa? Jawab gue dek, please” Lagi, Sinar mendesak.
“Kak, gue butuh lo… dingin..” Suara Lisa lirih, tetapi dia berharap bahwa Kakaknya mendengarnya dengan sangat jelas.
”Dek, kalau lo nggak jawab gue, gue dobrak ya pintunya? Gue takut lo kenapa-kenapa di dalam. Dek? Lisa?”
”Udah lah bang Sinar! Dobrak aja pintunya. Gue yakin Lisa nggak baik-baik aja di dalam!!” Suara Alpino yang panik mengikuti setelahnya
Lisa bersumpah dia tidak pernah merasakan pingsan selama hidupnya. Tetapi mungkin itulah yang terjadi ketika rasa sakit di kepalanya menusuknya seperti ribuan jarum yang berebut untuk mengoyak otaknya. Padangannya mulai buram dan samar-samar ditelan kegelapan yang hening dan panjang.
Apa yang Lisa sadari sebelum dia blackout setelahnya adalah wajah panik dan pucat pasi kakaknya juga Alpino yang tekejut setengah mati. Jika Lisa tidak ada di posisi aneh dan sakit seperti ini, Lisa pasti akan menertawakan bagaimana konyolnya wajah mereka. Tetapi sayangnya, kegelapan sudah menelannya secara utuh.
”LISA!!”
Katakanlah Lisa sangat mendramatisir tentang hal konyol ini. Tapi sayangnya, karena seumur hidupnya dia tidak pernah berada di tempat dimana dia harus dipaksa melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan dalam hidupnya dan menyangkut hal-hal yang akan mengikatnya sepanjang sisa kehidupannya, shock adalah apa yang bisa menjelaskan keadaan Lisa saat ini.
...........
Lisa sebenarnya tidak ingat kapan terakhir kali dia jatuh sakit. Tapi sekarang disinilah dirinya berada, di ranjang yang empuk dan hangat dengan kompres bayi di atas keningnya yang berkeringat dan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya hingga ke dada.
Tubuhnya terasa sangat sakit dan tulangnya rasanya patah dimana-mana. Lisa ingin menangis, tetapi menghembuskan napas saja rasanya terlalu panas. Dia tidak ingin membasahi wajahnya dengan air mata panas yang akan lebih membakar tubuhnya yang sudah memerah itu.
”K..kak?”
”Lo sudah sadar,, dek?”
Ada suara kejutan dari sisi kanannya. Suara bunyi gedebuk membuat pukulan di sisi kepala Lisa. Dia meringis, matanya yang buram dan kabur tidak mampu menangkap apapun yang terjadi di sekelilingnya. Ada tangan di mana-mana disekitar tubuhnya, tetapi rasanya tidak berbahaya. Itu lembut dan itu membuat Lisa merasa sangat nyaman. Dia yakin Kakaknya sekarang tengah merawatnya dengan baik dan penuh kehati-hatian.
”Jangan banyak gerak dulu, ya, dek. Lo masih panas” Suara Sinar serak. Rasanya kekhawatiran Kakaknya menjangkau Lisa dengan keras.
”Mau minum..” dia meminta. Rasanya haus sekali seperti sudah lama dia tidak menelan air untuk membasahi tenggorokkannya.
”Al, tolong ambilin airnya ya, gue bantu Lisa duduk. Sebentar..”
”Oke, Bang” Sahut suara lain yang diperintah. Dan itu berada di sisi kanan Sinar dinilai dari mana Lisa melihat sekelebat bayangan kabur yang sedang bergerak untuk mematuhi perintah Kakaknya.
’Oh’ Lisa membatin. ’Al masih disini, ya..’
“Pelan-pelan ya, dek..”
“Ini, diminum ya, Lisa. Kalau terlalu banyak, pukul aja tangan gue, oke?”
Setelah kakaknya berhasil mendudukkan Lisa di kepala ranjang, Lisa dapat merasakan Alpino bergerak lebih dekat ke sisinya dan perlahan-lahan memberikan gelas berisi air minum di atas bibirnya. Lisa mematuhi semua apa yang diisyaratkan kedua orang itu padanya.
Setelah berhasil meminum lima teguk yang lama, Lisa memukul tangan Alpino dengan tanpa tenaga, tetapi itu sudah sangat mampu untuk membuat Al segera menjauhkan gelas darinya.
Mengucek kedua matanya, Lisa berusaha untuk memulihkan pandangannya yang kabur. Disana, setelah ia mampu melihat dengan lumayan jelas, Lisa menemukan bagaimana pucat dan lelahnya wajah kedua orang yang telah menjaganya itu. Meski ada senyum yang tertarik di masing-masing bibir mereka, namun Lisa dapat melihat bahu yang turun karena rasa letih akibat menjaganya yang sedang sakit.
”Kak.. udah berapa lama gue tidur?” dia berbisik, berdehem sedikit untuk membiarkan suaranya keluar dengan lancar.
”Udah tiga hari lo tidur nggak bangun-bangun, dek. Gue khawatir banget. Takut lo kenapa-kenapa. Tapi syukurlah sekarang lo udah sadar. Gimana perasaan lo sekarang? Masih sakit? Pusing? Butuh apa lo, dek? Bilang sama gue, ya?” Sinar mengoceh dengan banyak pertanyaan yang bahkan tidak bisa Lisa daftarkan dikepalanya.
”Bang, pelan-pelan, dong. Itu anaknya baru bangun jangan dikasih pertanyaan segambreng. Santai, oke” Alpino menepuk bahu Sinar yang tegang. Berusaha untuk mencairkan suasana dan menenangkan Sinar yang juga kelihatan kalut.
”Oh.. iya. Maaf gue nggak sadar langsung ngomel. Maaf ya, dek. Yang penting sekarang lo coba bilang ke gue gimana perasaan lo? Udah agak baikan?” Tanyanya lagi tapi kali ini lebih lembut.
”Udah dong pasti. Lisa kan anak kuat, nggak mungkin kalau dia nggak baik-baik aja, iya kan Lis? Masa lo nggak percaya, sih, Bang? Adek lo nih, senggol bacok padahal, mah”
Baru saja Lisa ingin menjawab pertanyaan sang Kakak, Alpino sudah lebih dulu memberikan jawaban untuknya. Meski agak tidak sesuai, tetapi Lisa berhasil menarik senyuman di wajahnya. Berterimakasih karena Alpino mampu untuk membuat suasanya tidak terlalu berlarut-larut.
”Gue nggak nanyain lo, ya, Al. lo dari kemarin beneran nggak bisa diem banget, gila”
”Ya, kan, biar lo nggak tegang-tegang amat bang. Gue juga bingung kalau nanti lo juga ikutan sakit. Ntar siapa yang bakalan jagain kalau abang sama adeknya sakit barengan? Gue kan yang kelabakan? Lo harusnya berterimakasih sama gue nggak, sih?”
”Kak.. Lapar..” Dia mengeluh. Tidak ingin menjadi objek yang berlarut-larut jika dia menjawab pertanyaan kakaknya yang sudah disuarakan langsung oleh Alpino. Diam-diam Lisa sungguh sangat berterimakasih pada sahabatnya itu yang benar-benar paham apa yang dia inginkan dalam situasi seperti ini.
”Oh? Oke. Gue udah buat bubur kesukaan lo. Udah tinggal dipanasin doang. Sebentar, ya?”
Ada satu usakan lembut dikepalanya yang terasa sangat menenangkan. Meskipun Lisa yakin bahwa rambutnya saat ini basah dari keringat dan berminyak dilihat dari bagaimana dia pingsan dan tertidur selama tiga hari tidak sadarkan diri, dia tidak yakin bahwa penampilan fisiknya dalam kondisi yang baik, jadi dia berharap sebaliknya. Demikian begitu, Kakaknya tidak segan-segan untuk tetap menyayanginya seperti biasa.
”Al, lo tolong jagain adek gue dulu, ya. Kalau ada apa-apa langsung teriak. Denger?”
”Iya Bang. Lisa kalau sama gue aman pokoknya!” ada dua jempol yang diberikan oleh Alpino dengan wajah sumringahnya yang nakal. Sinar yang mendapati rekasi seperti itu hanya mendengus dan sesegera mungkin pergi untuk menyiapkan makanan yang diminta oleh sang adik kesayangannya itu.
Sekarang yang berada di kamar tinggal Lisa dan Alpino.
Lisa melihat bagaimana raut wajah Alpino juga sama lelahnya dengan sang Kakak. Ada kantung mata yang jelas sekali disana. Hati Lisa menghangat. Rasanya dia mendapatkan banyak kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Dia merasa sangat berharga. Begitupula dengan realisasi yang didapat, dia merasa sedih karena orang-orang yang menyayanginya terbebani oleh keadaannya saat ini.
Semuanya harus disalahkan pada monster iblis bernama Noren sialan itu. Lisa bersumpah suatu saat nanti dia akan membalas Noren dengan hal yang setimpal dengan neraka yang orang itu berikan padanya.
”Nah, putri tidur. Gimana tidur panjangnya? Enak nggak?” Suara Alpino lelah, tetapi lelaki itu berusaha untuk menaikkan nadanya menjadi sebuah penghiburan.
”Gue bukan putri tidur, ya” Lisa terkekeh. Dia ingin menampar tangan Alpino seperti biasa ketika sahabatnya itu mulai menggodanya macam-macam. ”Tapi gue nggak nyangka bisa blackout selama itu. Padahal rasanya gue Cuma tidur dua jam doang, loh, Al” lanjutnya masih dengan suara serak yang terbata.
”Masa, sih? Enak banget kalau gitu. Berasa melintasi dimensi waktu, ya? Wah, hebat ya lo udah ngerasa begituan. Tapi saran gue, sih, untuk sekali aja, ya, asah kehebatan lo yang ini. Sepi juga kalau tidur dua jam di lo tapi tiga hari di gue. Nggak ada yang bisa gue gangguin lagi, deh”
”Aneh lo. Itu bukan kehebatan, tau. Gue sakit banget. Rasanya kepala gue pecah dan tulang gue patah semua” Lisa mencibir. Tetapi dia berusaha membuat suaranya tidak begitu terdengar seperti ringisan orang sakit.
Tapi sayangnya, Alpino segera melunak dan meraih tangannya. Ada pijatan lembut di lengan dan pergelangan tangannya. Rasanya, Lisa bisa merasakan kekhawatiran Alpino mengalir dari sentuhan dan denyut nadi lelaki itu.
”Gue Cuma bercanda. Jangan khawatir, Al. gue bentar lagi sembuh. Gue janji ini cuma kecapekan doang” Lisa berusaha untuk menenangkan sahabatnya yang kini hanya tersenyum dengan lemah.
”Dih, siapa yang khawatir. Gue tau lo kuat, kok. Ini gue lagi pijetin tulangnya Iron Man yang lagi kurang oli. Gue nggak khawatir karena gue yakin sahabat gue yang ini bukan orang yang lemah. Lo kan selain Iron Man juga jelmaan Samson”
”Gue lagi sakit pun masih bisa lo katain, ya, Al. Sahabat macam apa, lo” Lisa tertawa kecil. Napasnya satu-satu karena panas tubuhnya, tetapi itu tidak menghentikannya untuk mengalahkan seruan Alpino sebelumnya.
”Sahabat yang selalu ada di sisi lo kapanpun lo perlu bantuan dan akan selalu khawatir tentang segala hal yang buat lo sakit. Gue sahabat macam itu. Oh iya, satu lagi. Gue juga sahabat yang bakalan dukung lo kalau lo nyuruh gue nguburin mayat orang yang lo bunuh, lho. Kapan lagi ada sahabat macam gue, kan? Seharusnya lo bersyukur, tau!”
Alpino tertawa. Tangannya yang tadi memijat pergelangan tangannya sekarang bergerak untuk membenarkan letak selimut dan setelahnya mencubit pipi Lisa dengan lembut sekali, hampir tak berasa.
”Dih, tadi katanya lo nggak khawatir” Lisa mencibir. Tetapi tertawa ketika Alpino dengan nakal merapikan helaian rambutnya dan menepuk kepalanya dengan gerakan lucu.
”Tapi makasih banyak, ya, Al. Dan maaf karena sudah buat lo susah dan menyita waktu lo yang berharga. Gue jadi nggak enak, nih”
”Sumpah, kalau lo ngomong gitu, gue cekokin bubur panas langsung ke tenggorokkan lo tau rasa lo, Lis” Alpino menggerutu, kali ini dia terlihat terlalu tegas untuk kelembutan sebelumnya. ”Lo nggak pernah sama sekali ngerepotin gue dan nggak pernah sama sekali menyita waktu gue. Gue marah asli kalau lo mikir gitu, Lisa..” Kemudian, nadanya terdengar sedih.
”Yang gue mau sekarang lo harus sembuh secepatnya, ya? Masa Nalisa yang kuat dan keren bisa tumbang gini? Kayak bukan lo tau..” suaranya lemah.
”Ya ’kan gue juga manusia, Al. Bisa sakit juga”
”Oh, gue kira lo spesies yang ga bisa tumbang”
”Tau deh, ngomong sama lo berbelit-belit. Sekarang gue lapar. Mana makanan gue” Lisa merengek. Perutnya keroncongan. Mungkin efek tidak ada asupan yang nyata dalam beberapa waktu. Jikapun ada, mungkin itu adalah force feeding dan dia juga tidak sadar dia bisa merasakan itu.
”Oh iya,ya. Bentar coba gue panggil abang lo-,”
“Al..Lisa..”
Belum siap Alpino beranjak dari posisi duduknya, Hala sudah muncul di balik pintu dengan wajah yang sangat resah. Nampan makanan yang mengebul dari panas bubur terlihat dengan samar-samar memenuhi udara di kamar Lisa.
”Hala? Loh, mana Bang-,”
Wajah Hala terlihat pucat pasi dan resah. Alpino sadar bahwa ada yang tidak beres. Begitupun Lisa. Dia mencoba untuk bertanya, tetapi satu pucuk surat yang rusak karena cengkeraman yang tidak wajar menarik perhatian mereka.
Jantung Lisa tenggelam. Sekarang, setelah dia perhatikan lagi dan ruangan terasa sangat sepi-, dipecahkan oleh suara keras Kakaknya yang seperti memarahi sesuatu,
Atau,
Seseorang.
”Ma, Pa. Lisa lagi sakit. Kenapa nggak bisa nunggu beberapa hari lagi sampai Lisa pulih, sih? Mama sama Papa nggak khawatir sama kesehatan Lisa? Gimana mungkin undangan bisa kesebar sekarang dan kalian mau bawa kami kesana? Ke gedung pernikahan yang bahkan anak mama aja nggak mau-,”
Plak!!!
Suara tamparan menggema. Lisa merasa merinding seluruh tubuh.
”Diam, Sinar. Kamu nggak ada hubungannya dengan ini. Dan Jaga ucapan kamu!”
Suara kepala keluarga Cakrawijaya itu bagai petir di siang bolong. Tidak dapat disanggah.
...🍁...
...Undangan Pernikahan...
.........
...🍁🍁🍁...