Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Tentang rasa (Fajri Sight) : Perasaan yang Sama; Pengecut VS Sembrono



“Jri, maaf ya, lo jadi nunggu lama gara-gara gue”


Saat itu cuaca sedang cerah. Matahari tidak tertutup sehelai gumpalan awan sama sekali. Langit juga sedang tidak diselimuti oleh putih halus nan lembut dari awan yang berarak. Para awan seperti sedang berusaha untuk menetapkan kelompok mereka yang tersebar, hampir bisa dihitung oleh jari ketika mereka mulai mengambang dan berarak dalam kelompok yang lebih kecil sehingga memungkinkan orang-orang di bawahnya hanya terpaku dan menyaksikan langit biru cerah yang membentang layaknya samudera di atas kepala.


Fajri, yang saat ini menunggu dengan santai di sebuah kursi di tempat yang lebih teduh sangat suka dengan cuaca hari ini. Terbukti dari matanya yang tidak lepas dari langit. Kepalanya ia tengadahkan ke atas untuk memaparkan keseluruhan wajah yang terlindungi dari bayangan bangunan untuk mengikuti dan membentuk imaji aneh tentang gambaran awan yang berkelompok di bening biru yang indah.


Dia baru saja selesai dengan pekerjaannya, mengajar di salah satu sekolah negeri untuk menggantikan guru olahraga kelas delapan yang sedang cuti untuk beberapa waktu dalam jangka yang lumayan panjang karena satu dan lain hal yang tidak di paparkan oleh sang kepala sekolah. Fajri tidak mengeluh tentang hal itu, malah, dia sangat suka. Meski hanya sementara, seperti apa yang dia lakukan setiap waktu, dia sangat senang untuk mengajari anak-anak tentang kemampuannya dalam bidang olahraga kesukaannya.


Itu adaah pekerjaannya. Seorang guru olahraga lepas dan pelatih panggilan yang mempunyai banyak waktu dan siap untuk dipanggil dan dibutuhkan kapan saja. Rasa cinta yang dia tumbuhkan untuk bidang olaharaga apapun itu sangat besar sehingga meskipun semesta tidak membiarkan dia berada di jalan impian indah yang telah dia rancang dalam waktu yang lama sekali, setidaknya dia bisa mencicipi kegiatan yang sama meski dengan porsi yang berbeda.


Fajri tentu saja, tenggelam dalam keindahan yang ditampilkan dunia untuknya dalam pandangan yang bisa dia puja, sehingga telinganya tertutup untuk mendengar panggilan dari orang yang sedang ditunggunya. Dia masih bergumam dengan tenang ketika dia menggerakkan otot lengannya dan tubuhnya, hampir terperanjat di sela kuapan bibirnya yang terbuka lebar untuk menghalau rasa kantuk yang tiba-tiba datang karena kenyamanan yang ditawarkan semesta padanya ketika satu wajah penuh seorang perempuan terpapar terlalu dekat dengan kesukaannya.


Fajri merasa ngeri saat wajah perempuan yang dia tunggu tengah menampilkan senyuman lebar yang menampakkan barisan gigi putihnya yang rapi. Mata sipitnya yang cantik seperti pada mata naga betina putih di film The Dragon Series yang menjadi tontonan favoritnya, tenggelam seperti mata sabit dari tekanan kedua pipinya yang membengkak dari tawa yang lebar.


Ada satu waktu yang membuat Fajri kehilangan beberapa detik napas yang seharusnya ia ambil sebelum pada akhirnya, satu sentuhan di dagu yang memaksa mulutnya untuk tertutup itu menyadarkannya. Ada kekehan geli dari suara indah sang perempuan ketika Fajri keluar dari apapun yang membuatnya membeku seperti layaknya patung sebelum akhirnya dia mendengus dan membuang wajahnya dengan cepat. Jantungnya bergerak gila-gilaan seperti dia baru saja menyelesakan satu marathon cepat dengan jarak tempuh yang lumayan jauh.


Perempuan itu, yang sekarang hanya tertawa dan mengacak rambutnya dengan semangat seolah memiliki segudang energi sungguh sangat tidak berhati-hati tentang apa yang dia perbuat untuk jantung Fajri sendiri. Rasanya, ketika melihat perempuan itu begitu dekat dengannya, meraihnya dengan tanpa sadar dan menempel padanya seperti gurita yang lengket, Fajri bisa berubah menjadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak karena jantungnya yang bekerja terlalu keras untuk menyuarakan perasaannya.


Namun tentu saja, dia bukan seorang Fajri yang dengan mudah menunjukkan itu semua kepada satu-satunya orang yang dia bisikkan hanya untuk dirinya sendiri bahwa perempuan itu adalah miiliknya, Seseorang yang berhasill mengambil jantungnya dan menggenggamnya di telapak tangan bebas yang-, meskipun lentik, agak kasar dengan resiko pekerjaannya.


Tentu saja, meskipun begitu, telapak tangan yang sekarang memukul bahunya karena menertawai kekonyolannya, sudah berada dalam genggaman erat yang Fajri inisiatifkan sendiri. Seperti sudah terbiasa, perempuan yang tiba-tiba menghentikkan tawanya dan menukarnya dengan senyuman lebar yang senang-, balas menggenggam tangannya dengan rasa suka yang bisa dia katakan sama.


“Jangan melamun kalau lagi diluar, Fajri!” Perempuan itu mengingatkan dengan menghadiahi satu ktukan di pangkal hidungnya. Fajri tersenyum tanpa sadar. Dia mengabaikan denyutan rasa yang menggonggong padanya dalam jeruji besi yang dia buat jauh di dalam sana.


“Nggak lagi ngelamun, kok” Dia menjawab dengan acuh tak acuh. Jarinya dia arahkan ke atas langit, mencoba menarik perhatian perempuan itu. “Ji, liat deh” tangannya yang menggenggam jemari lentik itu ia goyangkan ketika sang perempuan sudah terjatuh dan ikut duduk disebelahnya.


“Cantik, ya, langitnya? Bersih gitu. Awannya juga bagus. Lagi cerah cerahnya banget hari ini, kan?”


“Hmm?”


Jihan mengikuti arah pandang dan telunjuk Fajri dengan patuh, penasaran dengan apa yang menjadi arah perhatian sang lelaki.


“Oh,” dia melanjutkan dengan senang hati. “Bener, cantik banget ya, langitnya” Perempuan itu bersorak dengan gembira sebelum mulai melakukan sedikit lebih banyak pergerakkan dengan satu tangannya yang bebas, seolah-olah tidak ingin melepaskan tautan tangan mereka. Fajri tersenyum suka, paham dengan kebiasaan dari perempuan itu sendiri.


“Bentar, ambil foto dulu~”


“Emang bisa foto pake satu tangan?”


Sebenarnya, pertanyaan itu sangat tidak perlu ia lontarkan pada sang perempuan karena Jihan sudah terbiasa dengan penngendalian ketegasan tangannya. Dia adalah seorang pelatih atlet panah yang telah memenangkan juara Nasional di bawah pengawasannya. Tidak bisa dipungkiri lagi dengan kemampuannya memegang benda, tangannya tidak akan goyah walau dia mengangkat mereka dalam satu garis lurus untuk waktu yang lama.


Jihan tidak menjawab, melainkan dia hanya memberi lirikan kotor yang tidak terkesan pada Fajri sebelum fokus pada ponselnya sendiri. Lidah berwarna merah muda yang sehat itu meluncur sedikit dari balik celah bibir tipis yang menggemaskan. Kebiasaan yang dimiliki oleh Jihan ketika perempuan itu ingin fokus pada satu hal.


Fajri membiarkan Jihan melakukan apa yang dia mau. Membiarkan beberapa banyak jempretan foto langit di dalam galeri ponselnya yang tersimpan sampai dia menemukan foto yang dia sukai. Dia tidak begitu peduli pada waktu, asalkan bersama Jihan, dia mempunyai banyak waktu diseluruh dunia untuk diberika pada perempuan itu.


“Gue dari pagi ada di dalam gedung, jadi nggak sempat liat langit hari ini” curhatnya ketika dia fokus pada beberapa foto yang berhasil dia tangkap. Ada senyuman puas ketika dia berhasil menemukan satu yang menyenangkan hatinya. “Makasih ya udah bikin gue sadar kalau hari ini indah banget. Ah, kalau bernapas pun, cuacanya nggak begitu terik, tapi malah segar, ya?”


Jihan mulai mengomel lebih banyak. Omelan dalam arti celotehan riang yang suka. Memuntahkan kegembiraan yang ia bisa lepaskan dengan nyaman di sekitar Fajri yang tidak merasa terganggu. Fajri bisa bersumpah bahwa dia memiliki mata hati pada sahabatnya itu.


Napasnya terkesiap ketika Jihan mulai memeluk lengannya dan meletakkan kepalanya di bahu Fajri seolah-olah itu adalah bantal paling nyaman di seluruh dunia. Mata yang bermahkotakan bulu lentik dan tebal yang terawat itu masih menatap keindahan suasana disekitar mereka tanpa gangguan satupun. Meskipun Fajri harusnya sudah terbiasa dengan perlakuan seperti ini bahkan lebih intim dari Jihan, dia tidak bisa untuk tidak merasa terkejut ketika lebih banyak skinship terjadi di antara mereka.


Salahkan itu pada hatinya yang lemah dan rapuh.


Memperhatikan Jihan kembali, Fajri memamahami satu hal tetang keadaan Jihan hari ini.


Ah, perasaan perempuan itu pasti sedang sangat baik. Dia yakin pelatihan yang dilakukan Jihan sedang dalam keadaan yang berjalan dengan lancar dan segala sesuatu hal tidak merusak mood perempuan itu yang sering sekali berubah-ubah. Fajri merasa lebih lega, senang dengan hasil observasi yang dia tangkap.


“Jri, lo hari ini ada kerjaan lain, nggak?”


Fajri menoleh ketika merasakan jemari Jihan bergerak membentuk pola aneh di pergelangan tangannya. Kedua alisnya terangkat ketika dia mendengar pertanyaan lain yang dikemukakan oleh Jihan secara tiba-tiba.


“Nggak ada. Hari ini cuma sampai jam dua tadi doang. Ini kan gue cuma mau jemput lo sebelum nganter lo pulang”


Dia membalas sesuai dengan apa rencananya hari ini. Sebenarnya, tidak hanya mengantar Jihan pulang ke rumah untuk segera pulang ketempatnya sendiri. Melainkan, dia akan bersantai di rumah perempuan itu dalam beberapa jam ke depan entah melakukan apapun yang akan mereka lakukan disana seperti biasanya. Mungkin juga, dia akan memasakkan makan malam untuk mereka berdua seperti yang sudah-sudah. Sebisa mungkin, Fajri ingin lebih banyak menghabiskann waktu dengan perempuan itu.


“Hmm…”


Ketika Jihan hanya bersenandung. Fajri tau ada hal lain yang akan mereka lakukan hari ini. Tentu saja, seperti yang sudah dihapalnya luar kepala, ketika Jihan akhirnya melompat dengan senang dan secara sengaja menariknya untuk segera berdiri, dengan cekikikan yang terlihat sangat bersemangat , dia menyerukan satu keinginan yang harus Fajri turuti. Suka atau tidak, perempuan itu tidak menerima penolakan sama sekali.


“Kalau gitu, karena cuacanya cerah banget, ayo kita ngedate!”


Jihan dan ucapannya.


Fajri terkadang harus menyadarkan dirinya sendiri bahwa, dia memiliki garis yang telah dia buat di antara dirinya dan Jihan.


Denyutan itu datang lagi. Kali ini meraung dengan lebih parah sehingga Fajri hanya bisa meringis dari ucapan yang dia keluarkan dengan secepat bagaimana otaknya bekerja.


“Ih!” Jihan berseru, terlihat memutar bola matanya dengan gemas. “Kalau gue bilang ngedate, ya ngedate! Nggak usah ngerusak suasana deh, lo. Fajri nyebelin!”


Dia merajuk. Mengomel dengan gemas ketika dia mencubiti pinggang Fajri dengan beringas.


“Loh, tapi, kan-,”


“Udah, bawel!” Jihan mencubit lebih keras kali ini, membuat Fajri tertawa terbahak-bahak dan sangat puas. “Lo milih diem apa nanti yang bertugas buat milih menu makanan dan snacknya, lo semua?” Ancamnya dengan jelas. Fajri menatapnya dengan sengit secara tiba-tiba.


“Dih?” bibir Fajri membentuk ketidaksukaan yang nyata. “Nanti yang ada kalau gue milih lo nya malah bilang terserah mulu. Di kasih yang terserah gue, lo malah ngambek. Ogah, gue”


“Ya makannya!” Jihan memekik di sela tawanya.


“Ayooo!!!”


Dan begitulah, ketika tangannya yang masih tertaut genggam oleh sang perempuan yang kini cekikikan dengan kesenangan nyata tanpa kepura-puraan, Fajri tidak bisa untuk tidak mengalah dan hanya mengikuti apapun yang perempuan itu inginkan.


Apapun yang Jihan inginkan,


Sebagai seorang sahabat yang jatuh di jalur yang salah, Fajri pasrah pada tali yang menariknya.


Siapa bilang jatuh cinta pada sahabat itu mudah?


Bagi Fajri, tidak ada yang mudah ketika kau mempunyai rasa untuk seseorang yang sudah kau ikat dalam hubungan persahabatan.


Itu hanyalah sesuatu yang berdiri di antara, hancur atau tersakiti.


Dan yang paling tidak ingin Fajri alami adalah, kehilangan.


Baginya, kehilangan Jihan dalam hidupnya, baik sebagai orang yang dicintainya maupun sebagai seorang sahabat yang berarti dunia baginya, adalah hal yang paling mengerikan dalam hidupnya.


Dalam hati dia berdoa. Sambil mengeratkan genggaman tangan mereka berdua, dia kembali mengucap harap.


"Tetap bareng gue, Ji. Gue nggak bisa mikirin kehidupan gue tanpa lo. Sebagai siapapun lo disisi gue, gue nggak peduli. Nggak apa apa gue yang sakit asal lo bareng gue terus. asal lo, bisa gue genggam kayak gini terus.... ya?"


.........


...🍁...


...Tentang Rasa (Fajri Sight): Perasaan yang Sama; Pengecut Vs Sembrono. Part. 1...


.........


...🍁...


...🍁🍁...


...🍁🍁🍁...


terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Putri Nilam Sari, nih!


Jangan lupa mampir yaa🥰


...PROMO NOVEL KARYA PUTRI NILAM SARI...


...JUDUL: HEI!!! GADIS BERKACAMATA...


Perjalanan Eisha si gadis berkacamata dalam merubah penampilan dan menggapai impiannya dibantu Adnan seorang pria misterius dan bersikap dingin serta bermasalah di lingkungan nya. Namun benih cinta yang tumbuh diantara mereka belum sempat mekar karena kesalahpahaman dan kejadian tak terduga. Hingga Pertemuan tak disangka kembali memulai kisah yang belum usai, namun bagaimana dengan takdir yang memberikan kejutan bagi mereka, akankah kisah mereka berakhir bahagia??



jangan lupa mampir ya🥰


selamat membaca❤