
Itu adalah hari Senin sore yang sibuk ketika Sinar berada di dalam kantornya. Lagi-lagi sibuk berkutat dengan laporan produksi dan penjualan akhir bulan serta kinerja para karyawan. Mengurus beberapa hal terkait pembaruan data kerjasama antara beberapa perusahaan yang telah bekerjasama dengannya dalam waktu yang lama maupun yang baru bergabung menaruh percaya pada sisi positif dan keuntungan aliansi membuat Sinar sama sekali belum beranjak dari kursi kebesarannya yang ditemani dengan Wildan sebagai asisten pribadinya dan Citra sebagai sekretarisnya yang ikut andil dalam proses memecah kepala seperti ini.
Kacamata baca bertengger di atas hidung mancungnya, agak sedikit pegal ketika berlama-lama menahan gagang kacamata hingga membuatnya pangkal hidungnya sedikit memerah. Membuang berkas yang sudah diperbaharui dalam kesepakatan yang cocok, bubuhan tanda tangan dan cap basah sudah cukup untuk membuat dokumen sah secara hukum-, tanda bahwa dia sudah selesai dengan yang satu itu. Lelaki itu membiarkan Wildan untuk mengurus sisanya dan Citra untuk menyimpannya dalam arsip yang sudah sesuai dengan kriteria perempuan seusianya itu hapal.
“Apa masih ada yang harus kita lakukan lagi? Ini sudah lewat waktu pulang..” Sinar mengecek arlojinya ketika pandangannya jatuh pada jendela yang menampakkan langit jingga, tanda petang telah tiba. Dia melirik ke arah Citra, dimana perempuan itu terlihat kelabakan karena pertanyaan yang tiba-tiba mengisi ruang sunyi.
“Ah, maaf atas reaksi saya, Pak” Citra berdehem untuk menenangkan dirinya. Jemari lentik perempuan itu sibuk menyimpan lembaran berkas dengan cepat namun rapih. , Setelah terbiasa bekerja dengan Sinar, perempuan itu hapal bagaimana cara dia menyerahkan berkas khusus yang harus dipilah dan dirapihkan.
“Sebenarnya, masih ada beberapa yang harus Bapak periksa tentang pembaharuan kontrak kerjasama antara rumah produksi dan pemasok bahan, juga tentang ajuan resign tiga karyawan selama 2 minggu ini, serta eval perkembangan kinerja PPIC dan Quality. Ada penurunan kinerja sebanyak 0.3% dan itu akan mempengaruhi hasil akhir dari barang produksi kita”
Perempuan itu menjelaskan sembari membuka catatannya yang berada di dalam tablet yang tidak pernah absen dari sisinya saat bekerja. Citra menunjukkan penjelasannya kepada Sinar dari layar terang yang membuat mata Sinar menyipit. Cemberutnya terlihat lebih besar karena menyadari bahwa dia masih harus bekerja extra untuk sisa hari itu. Senin memang bukanlah hari terbaik yang ada, jadi dia menahan untuk mengeluh.
“Ah, dan jangan lupa untuk mengecek email keluhan karyawan yang sudah saya sortir ke email khusus Bapak tentang karyawan seperti sebelumnya. Karena, ada beberapa keluhan yang saya rasa cukup penting untuk ditangani sesegera mungkin, Pak”
Tambah perempuan itu cepa. Menyimpan tablet di atas tumpukan berkas yang hampir menggunung, Citra mencoba untuk tidak memperlihatkan wajah masamnya yang lelah. Perempuan itu pasti mengeluh di dalam hatinya karena masih mengerjakan pekerjaan yang membuatnya mual di jam kerja yang sudah seharusnya berakhir untuknya. Kepala perempuan itu pasti juga dipenuhi dengan makian karena Sinar tak juga untuk melepaskannya pulang. Mengeluh bahwa dia akan mendapatkan lembur hari ini terlihat jelas tercetak pada wajahnya. Sinar bisa membaca itu dengan baik dan jelas sekali.
“Ah..” Dengusnya dengan wajah yang tak kalah masam. Jangan salahkan Sinar karena dia juga ingin bergegas pulang dan membersihkan diri sebelum bersantai bersama adiknya di rumah. “Banyak juga, ya” lanjutnya dengan gumaman.
“Kita bisa menyelesaikannya sesegera mungkin jika kita mulai dari sekarang dan tidak menunda-nunda waktu, Pak. Saya akan menjelaskan tentang keluhan karyawan sementara Bapak sendiri bisa mulai memperbaharui berkas kontrak dengan perusahaan pemasok bahan milik Mr.Noel. Jika seperti itu, saya yakin kita akan selesai kurang lebih pukul sepuluh atau sebelas paling lama”
Perempuan itu terlihat menghitung waktu dengan senyuman yang agak jengkel. Sinar bisa menilai bagaimana Citra sepertinya bergegas untuk sesuatu sejak tadi pagi. Perempuan itu bersemangat sekali menyapanya dan mengerjakan pekerjaannya. Yakin bahwa ada sesuatu hal yang akan perempuan itu jadwalkan setelah pulang kerja yang dinantikannya. Tetapi pada akhirnya, perempuan itu terjebak bersamanya untuk mengurus berkas yang tidak habis sejak mereka mengurung diri disana setelah makan siang berakhir.
Bersandar pada kursinya, Sinar menghela napas dalam. Dia juga ingin beristirahat dan sama sekali tidak ingin mengambil waktu para pekerjanya larut di hari ini. Kepalanya agak pusing sedari pagi dan dia sudah muak dengan apapun berkas yang harus diperbaharui dan beberapa keluhan yang harus dia dengarkan dan mendiskusikan untuk mencari jalan keluarnya. Terlebih hari Senin ini, segalanya terasa seperti waktu berjalan duakali lipat lebih lama. Sinar sebenarnya juga merengek di dalam hatinya untuk hanya membuang semuanya keluar dan dia bebas dari tanggung jawab yang membuatnya muak dalam waktu-waktu tertentu seperti hari ini.
Akhir bulan bukanlah hal yang begitu dia senangi karena hal-hal yang seperti ini. Mengapa mereka harus mengurus evaluasi perbulan seperti ini? Ah, tentu saja agar perusahaannya tidak mengalami penurunan dan kerugian yang menyebabkan kegoyahan dalam pondasinya dan beresiko kehilangan kepercayaan aliansi dan pemasok saham.
“Begini saja, Citra” Mengeluarkan sisi profesionalnya, dia menenangkan sekretarisnya dengan nada wibawa. Wildan yang sejak tadi berdiam diri dan sibuk dengan arsip bagiannya sendiri ikut memperhatikan.
“Karena ini sudah di luar jam kerja, kita ambil yang lebih cepat untuk diselesaikan dan lebih ringan dalam pembahasan. Untuk berkas lain yang harus dibuat ulang dan didiskusikan kembali, kita bisa melakukannya esok hari. Jadi, untuk hari ini kita bisa menyebutnya selesai dan semua orang bisa pulang dan beristirahat. Bukankah kamu sepertinya sedang terburu untuk melakukan sesuatu?”
Sinar tidak mencoba untuk mengintimidasi, tetapi perempuan itu terlihat agak malu karena tertangkap basah tentang apa yang sebenarnya dia inginkan. Ringisan terlihat dari wajahnya yang panik dan memerah sebelum mencoba menenangkan diri dengan mengangguk menyetujui.
“Ah, Bapak memperhatikan. Maafkan saya” dia memulai dengan permohonan maaf, tetapi langsung kembali pada posisi siap untuk menjelaskan apa yang bisa mereka kerjakan untuk hari ini. “Kita bisa menangani perihal ajuan resign yang masuk selama dua minggu ini, jika Bapak tidak keberatan?” tawarnya kemudian.
“Tentu saja kedengarannya bagus. Setelah itu kamu bisa jelaskan saja keluhan karyawan yang urgent kepada Saya secara ringkas. Bisa?” Sinar melirik perempuan itu dari balik kacamata bacanya. Ada gurat keterkejutan dan cemberut kecil yang dihapuskan dengan anggukan yakin. Dia tahu perempuan itu sudah berusaha keras untuk meringkas semuanya dalam email yang dikirimkan, tetapi Sinar merasa sedang tidak ingin menyakiti matanya lagi dengan membaca surat elektronik itu.
“Ah, tentu saja bisa, Pak”
“Bagus. Kalau begitu, alasan apa yang diberikan oleh pengajuan resign pertama kita?”
Dan begitulah semuanya dimulai. Sinar yang meskipun lelah tetap saja memberikan kualitas terbaiknya tentang perusahaan. Dia adalah pilar di perusahaan yang sekarang dia pegang sehingga mau tidak mau, lelaki itu harus bertanggung jawab secara penuh dengan apa yang sekarang berada di tangannya. Lembur sudah merupakan makanannya dari tahun ke tahun, perjalanan bisnis adalah temannya dari satu tempat ke tempat lainnya. Itu adalah apa yang orang tuanya bebankan tanggung jawab padanya, untuk memimpin sebuah perusahaan dengan ribuan karyawan yang berada di bawah tangannya dan kepercayaan rekan bisnis. Dia harus mampu untuk menangani semua hal itu.
Satu setengah jam yang terasa seperti keabadian setelah mereka berhasil menangani masalah yang timbul di perusahaan dalam evaluasi akhir bulan. Banyak yang terjadi hanya dalam waktu satu bulan dan itu membuat kepala Sinar terasa hampir pecah. Tetapi untungnya, hampir semuanya berhasil ia tangani untuk kali ini seperti yang sudah-sudah.
Mempersilahkan Citra untuk segera pulang, Sinar merosot di kursinya sembari mengeluh. Tampilan professional sudah berganti, luntur dari wajahnya dan tubuhnya karena disana hanya tinggal dirinya seorang dan juga Wildan yang sibuk membereskan berkas-berkas penting yang sudah tersusun rapi dan tinggal di simpan kembali ke ruang penyimpanan arsip penting. Lelaki yang sudah berusia tigapuluhan dan masih melajang itu tetap setia berada di sisi Sinar sebagaimana motto-nya untuk menangani dan mengawasi Sinar dalam pekerjaannya. Termasuk hal-hal seperti ini.
“Ya Allah, gila banget kerjaan hari ini. Kepala gue rasanya mau meledak. Sudah ngebul ini semua asap di atasnya. Capek banget gue, Mas”
Wildan terkekeh. Tumpukan berkas ditangannya sudah cukup rapi untuk segera di masukkan ke dalam ruang arsip. Dia sudah mengurutkan tiap map berdasarkan abjad dan tingkat kepentingan. Ketika dia beranjak, Wildan mengambil kesempatan untuk meluruskan postur tubuhnya. Sinar memperhatikan dengan cibiran yang keluar dari bibirnya yang manyun sedikit menyerupai bebek saat ini.
“Nggak usah flexing otot, Mas. Gue juga punya” serunya dalam satu candaan konyol yang dia harap mampu untuk sedikit mengusir rasa lelah dan jenuhnya. Wildan tertawa geli.
“Mas nggak flexing, kamunya aja yang cemburu sama otot Mas. Orang punyamu nggak sebagus punya Mas, kan, Dek? ngaku aja” Ah, Sinar lupa bagaimana Wildan juga bisa membalas candaannya, jadi, ketika dia dikejutkan dengan serangan balasan langsung, dia agak kewalahan. “Lagian kamunya juga di ajak nge-gym bareng suka bolos. Salah sendiri, jangan nyindir Mas begitu”
Seringai diberikan oleh yang lebih tua. Lelaki dengan lesung pipi dan wajah yang tegas itu tertawa mengejek ketika dia melenggang pergi melewati pintu yang sebelumnya di lewati oleh Citra dalam keburu-buruan yang terlihat dengan sangat jelas. Tanpa di tanya kemana lelaki itu menghilang, Sinar sudah paham bahwa Wildan akan berada di ruangan arsip khusus di ruangan lelaki itu yang memang sengaja Sinar letakkan dan beri kepercayaan padanya.
“Dih siapa juga yang bolos? Gue kan banyak kerjaan jadi selagi ada waktu buat rebahan dan nge-game ngapain disia-siain, kan?” Masih mengoceh, Sinar tidak perduli bahwa dia terdengar seperti seorang anak kecil sekarang. Toh di ruangan ini hanya ada dirinya dan tentu saja, jika Wildan memergokinya dalam mode mengoceh khas bocah, itu adalah hal yang sangat wajar dan sudah biasa.
Jadi, mengambil waktu dalam keheningan ruangan yang nyaman dan dengan suhu udara rendah yang memeluk kulit dalam kesejukan, Sinar merebahkan punggungnya pada kursi empuk yang sedari tadi tak lepas memeluk bagian tubuhnya dari pinggang hingga paha. Beruntungnya dia, kursi itu adalah satu-satunya yang membuatnya bisa bertahan dari segala keributan di kepalanya dan puluhan berkas yang harus dia baca dan tanda tangani, belum lagi pembicaraan ini itu dengan beberapa kepala pemasok barang dari beberapa tempat berbeda.
“Siap-siap pulang, gih, dek. Bareng Mas sekalian”
Suara Wildan mengejutkannya. Matanya terbuka dengan cepat hanya untuk bersitatap dengan wajah Wildan yang sudah dia hapal di luar kepala akibat terlalu banyak waktu yang dihabiskan bersama dengan lelaki itu.
“Bentar, deh, Mas. Gue mau istirahat sebentar. Kepala gue masih pusing ini. Istirahat dulu, lah, sebentar. Mas kalau mau nyebat, tuh, jendelahnya di buka sedikit aja kayak biasa” Tunjuknya dengan menggunakan dagu. Sekarang, alih-alih dia menyamankan punggungnya di kursi empuk, dia memilih untuk merebahkan dirinya di atas meja yang sudah bersih setelah melonggarkan dasi yang terasa mencekik.
“Pulang ajalah, Dek. Lihat kamu, tuh udah kayak nggak ada tenaga gitu. Mending tidur di kamar habis bersih-bersih”
“Bentar lagi, deh, Mas. Masih males gerak ini gue. Janji bentar lagi. Mas nyebat aja dulu sana. Nurunin pusing” Sinar bersikeras. Memang, kepalanya agak sakit karena dia terlalu memaksakan diri beberapa waktu terakhir, namun itu masih bisa dia tangani dengan baik. Lagipula dia sudah terbiasa dengan perasaan pusing di jam-jam rawan seperti itu.
“Yaudah, Mas disini aja. Juga mau rebahan, lagi nggak pahit mulut Mas, kok” Pasrah lelaki yang lebih tua seolah tidak akan meninggalkannya begitu saja.
Itu adalah waktu-waktu yang lumayan nyaman hingga Sinar yakin dia bisa saja tertidur saat itu juga. Tapi nyatanya, dia tidak bisa karena lagi-lagi pikirannya melanglang buana. Bergerak dari posisinya, dia mencari yang lebih baik agar bisa berbicara lebih leluasa dengan Wildan. Tiba-tiba saja kepalanya di penuhi dengan pertanyaan yang ia khususkan untuk yang lebih tua.
“Mas kenapa, sih, nyuruh Gue buat move on?”
“Ya, kan, Mas udah bilang. Kamu aja sampai saat ini nggak ada proses sama sekali. Udah berapa tahun coba kamu naksir sama dia tapi sampai sekarang masih di fase yang sama? Bukannya kamu udah bilang kalau kamu udah berusaha buat bikin dia sadar kalau kamu suka sama dia? Tapi mana, nih? Hitung, deh, udah berapa tahun?”
Wildan bangkit dari posisi rebahannya di atas sofa ruangan yang memang sengaja disediakan disana. Sinar cemberut saat Wildan mengacungkan enam jari padanya seolah-olah terkejut dengan ekspresi yang dipaksakan.
“Oh, sudah enam tahun! Lama sekali tanpa perubahan apapun” Suara terkejutnya tidak bernada dan tidak terdengar begitu terkesan. “Kamu udah naksir dia dari pertamakali kamu ngurusin bisnis sementara disini gantiin Pak Galvaro yang lagi sakit dan almarhumah Bu Mulan yang meninggal waktu itu, kan? Belum lagi waktu itu, perusahaan inti di Jepang goyah karena kamu salah nanganin Eval hingga digatikan Zaki sementara, kan? Iya apa iya?”
Sinar mengernyit, dia lupa bahwa dia menceritakan segalanya secara detail hanya pada lelaki itu dan sekarang dia sangat menyesal dalam sebagian besar hal. Bagaimana lelaki itu bisa mengingat hal yang sudah dia ceritakan lama sekali tentang dia jatuh cinta pada sahabat adiknya yang baru dia sadari kehadirannya ketika mereka bertemu di pemakaman neneknya setelah dia dituntut habis-habisan oleh keinginan Papanya yang sedang sakit saat itu. Dia ingat beban berat yang dia pikul dan tak terbendung, dia ingat rasa sakit dari sebuah harapan, tuntutan dan tanggung jawab yang dibebankan secara keseluruhan padanya hingga ia rusak di suatu tempat dimana pada akhirnya Hala menangkapnya untuk memberikan kehagatan yang dia butuhkan.
Sinar menghela napas berat. Itu adalah waktu-waktu yang tidak ingin namun sangat penting baginya untuk mengingat. Karena saat itu adalah saat dirinya paling hancur dan saat dirinya menemukan sesuatu yang bisa dia pegang seperti pilar, sesuatu seperti rumah dimana dia hanya ingin pulang.
“Ya. Seharusnya Mas Wildan support gue dong buat bisa dapatin Hala, bukannya malah nyuruh gue move-on. Dan Mas Wildan harus tau, kalau udah lumayan ada perubahan antara gue sama Hala. Mas aja yang nggak tau!” Dia bersikeras. Sebenarnya dia agak ragu, tetapi mengingat bagaimana terakhir kali mereka keluar bersama meski berakhir agak canggung karena kehadiran Jelita diantara mereka-, Sinar masihlah merasa bahwa dia dan Hala sudah semakin dekat dari waktu ke waktu. Dia hanya harus bergerak lebih lincah lagi, sedikit lebih banyak lagi-, langkah lebar lagi. Yah, begitu.
“Ah beneran? Kayaknya Mas nggak ngelihat, tuh, perubahannya? Atau kayaknya emang kamu, ya yang nggak beneran usaha buat deketin dia?” kedua alis Wildan terangkat untuk mengusili. “Mas juga nyuruh kamu move-on karena punya alasan. Nggak main nyuruh gitu aja, lho, Dek”
“Dih, Mas nggak percaya karena bukan Mas yang jalanin” Dia berdecih, masih bersikeras dengan apapun yang Sinar percayai. Toh ada benarnya juga bahwa dia yang selama ini berusaha dan dia yang tahu sudah sampai mana hubungan yang sedang dia bangun untuk cinta dalam hidupnya. Tapi memang berhubung pekerjaannya yang gila menyita waktu dan pekerjaan milik Hala yang agak kurang sinkron dengan jadwalnya, ditambah dengan kehadrian Heksa menyebabkan proses yang sedang dibangun Sinar agak sedikit terhambat. Dia tahu dia kesal dengan itu sebenarnya.
“Lagian Gue juga usaha, ya!” Cemoohnya cepat. “Terus sok pake alasan apaan nyuruh gue move-on?” Tantangnya lagi. Kali ini, dia jujur merasa bahwa dia sudah seperti seorang bocah yang sedang ngambek karena egonya tersenggol oleh orang lain.
Kali ini Wildan tidak bisa menghentikan dirinya untuk tertawa. Dia puas dalam mengusili Sinar seperti apa yang sedang dia lakukan, namun dia juga serius tetang apa yang sedang dia kemukakan pada lelaki yang lebih muda dimana sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Wildan baru saja akan menjawab tanya yang dilayangkan dengan nada jelas jengkel ketika ponsel Sinar berdering memekak ruangan sunyi.
“Ah, Mama tumben banget nelpon?” itu bisikan yang Sinar kemukakan dalam deret pertanyaan ketika dia meraih ponselnya. Menekan tombol terima, dia segera mendengar lantunan suara indah familiar dari wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu.
“Halo, Mama. Gimana, Ma?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. Dia tahu itu agak tidak sopan, namun rasa penasaran mengambil yang terbaik dari dirinya.
“Halo sayang, apa kabar? Baik disana, kan?” sebagai seorang Ibu, naluri bertanya adalah yang terdepan dalam lantunan kasih sayang. Entah karena terbiasa atau memang basa basi pembuka pembicaraan jarak jauh.
“Sinar baik, Ma. Mama gimana disana? Tumben telpon Sinar jam segini? Ada kabar?” tanyanya langsung. Bukannya tidak sopan, hanya saja instingnya sedang mengambil yang terbaik dari dirinya. Sinar tahu ada yang tidak beres sedang terjadi.
“Ah, Mama baik disini. Kamu, tuh, ya, pertanyaannya. Emangnya kalau Mama telpon harus ada kabar dulu, gitu?”
Sinar meringis. Mamanya terlalu buruk dalam menyimpan sesuatu hal. Tentu saja dia tahu bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan orang tua itu. Sudah terbiasa dan terlalu hapal dengan kondisi seperti ini. Seringainya tipis, agak sedikit menyedihkan.
“Ya, kan, Sinar cuma tanya. Kalau nggak ada ya udah, Ma. Maafin Sinar, ya” Kalah, lagi.
“Nggak sayang. Hahaha, kamu ini jangan terlalu sering meminta maaf” seru Mamanya dengan suara yang lebih sumringah. “Memang ada kabar yang ingin Mama sampaikan buat kamu sama Lisa”
“Apa?” dia mengernyit. Kali ini perasaannya agak tidak enak.
“Mama sama Papa besok bakalan pulang ke sana. Soalnya mau ngurus pernikahan adik kamu”
“HAH?!” Jujur, keterkejutan adalah apa yang tidak bisa disembunyikan oleh Sinar saat ini.
“Aduh, Nak, jangan teriak begitu. Telinga Mama sakit” Omel ibunya dari sambungan telepon.
“Bentar, bentar. Ma, siapa yang mau nikah dan kenapa tiba-tiba Mama sama papa mau kesini buat urus pernikahan? Emangnya Lisa udah setuju? Kan waktu itu peraturannya harus sampai Lisa yang setuju sendiri?”
“Kamu ini pakai bertanya lagi. Ya adik kamu yang akan menikah. Peraturannya tidak belaku lagi, Sinar. Soalnya Nak Noren sudah kesini kemarin dan meminta restu pernikahan untuk pertengahan bulan depan. Mama sama Papa sudah diskusi dengan keluarga mereka kemarin”
Bagai kilat yang menghantamnya begitu keras dan tiba-tiba, Sinar bisa merasakan kepalanya yang berdenyut dan emosi yang mengalir deras terdengar di kedua telinganya.
Oh, untuk itulah Noren melakukan perjalanan luar negeri. Dan untuk itulah instingnya yang bekerja.
......................
...🍁...
...Keputusan Sinar; Kabar Pertama...
......................
...🍁🍁...
...PROMOSI NOVEL KARYA IMAMAH NUR...
...JUDUL: TERPAKSA MENIKAH PUTRI MAFIA...
Nathan Alberto terpaksa menikahi Chexil Felixia menggantikan adik kembarnya, Tristan Alberto. Awal pernikahan Nathan dan Chexil berkomitmen untuk belajar saling mencintai. Namun, keadaan berubah tatkala Nathan yang sedang membantu agen kepolisian untuk menangkap para mafia narkoba jaringan internasional melihat mertuanya -Felix Fernandez- ada di tengah - tengah musuh.
Kalau kutahu kau putri Felix Fernandez yang notabennya adalah seorang ... akh, seumur hidup aku tidak akan pernah menikahimu ." Chexil terdiam, dia tahu Nathan memang terpaksa menikahinya. Dia tidak tahu kenapa Nathan membenci ayahnya.
Dapatkah hubungan keduanya bertahan dalam kesalahan pahaman, ataukah mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah?