
Lisa mengamati bagaimana mobil masuk ke dalam kawasan yang sangat dikenalnya. Pertamakali dia pergi ke daerah ini adalah bersama dengan ayah dan kakaknya ketika mengunjungi kota yang dia tempati sekarang. Lisa ingat benar waktu itu ketika dia ingin makanan yang manis dan pedas sekaligus, dan kemudian ayahnya lah yang mengusulkan untuk mengonsumsi patbingsu beserta tteokbokki di salah satu kedai Korea kecil bernama ‘Han Jjang Sweetspicy’ dimana papan kedai itu berada tepat didepan matanya kemudian.
Lisa ternganga, menatap ke arah Noren dengan secepat kilat dan pria itu hanya tersenyum kecil seolah- olah mengetahui bahwa ini semua ia ketahui dari Sinar. Hah, siapa lagi yang akan memberitahu hal pribadi ini kepada orang asing kecuali kakaknya yang sudah memberikan jalan hijau pada pria itu?
Mobil kemudian diparkirkan di parkiran bersebelahan dengan toko roti kecil yang mengeluarkan uap yang sangat jelas, wangi roti yang baru dipanggang pastilah semerbak jika dia membuka kaca mobil atau melangkah keluar sekarang juga. Lisa menekan keinginannya untuk berlari ke dalam dan memesan kue beras super pedas dan bingsu kesukaannya. Menaikkan egonya agar Noren tidak terlihat begitu bangga dengan pencapaiannya hari ini.
Noren menoleh padanya ketika dia masih memberikan tatapan tajam. Ada tawa kecil ketika Noren menarik lepas topinya dan meninggalkan helaian rambut lembut yang jatuh disekitar dan membentuk surai berantakkan yang dengan segera kembali rapi saat jemari pria itu meratakannya secara santai dan terarah.
“Nggak mau turun nih, dek?” Noren berbicara. Lisa menahan napasnya sejenak sebelum menghentak safety belt dan membuka pintu mobil dengan kasar. “Ini gue udah turun, kok” Dia melotot sebelum beranjak keluar dari mobil dan kemudian membanting pintu mobil mahal itu dengan agak keras. Lisa tahu diri, jadi dia menurunkan kekuatannya pada kendaraan itu. Dia bisa melihat Noren yang menatapnya dengan geli dari kaca sebelum bersiap untuk turun. Tidak ingin berjalan bersamaan dengan yang lebih tua, Lisa segera mungkin berjalan cepat ke dalam kedai.
Benar saja, ketika dia berjalan, aroma manis dari es kacang merah bercampur dengan pedasnya tteokbokki dan gurihnya tokkebi hot dog. dia jadi ingin sekali mencicipi tokkebi hot dog, tetapi bingsu dan tteokbokki adalah hal utama yang harus dikonsumsinya pertamakali. Lisa tidak berbohong bahwa dia sangat bersemangat untuk lidahnya segera mencicipi makanan itu.
Lisa mengambil duduk di ujung kursi yang terlihat nyaman sebelum akhirnya membuka jaketnya dan menarik ponselnya keluar. Ruangan di sekitar telah lama diperbaharui dan terlihat begitu menarik. Lisa jadi ingin mengajak teman-temannya untuk menghabiskan waktu bersama di tempat itu. tetapi kemudian teringat bahwa mungkin mereka akan mengacaukan suasana dengan betapa berisiknya mereka semua. Mengingat bahwa teman-temannya agak sedikit tidak waras dan tidak mempunyai sopan santun untuk sekitar sama sekali.
Lisa bisa melihat karyawan yang ingin menghampirinya dengan buku menu ditangan. Anak perempuan itu terlihat manis sekali dengan dua kuncir di kepalanya, terlihat seperti dia baru lulus sekolah menengah pertama.
“Selamat sore, kak”
Anak itu menyapa dengan manis. Lisa duduk lebih tegak dengan senyum lebar di wajahnya. “Ini menunya, kakak bisa pilih dengan santai” Dia mengulurkan menu yang Lisa terima dengan senang hati. “Terimakasih” Lisa menjawab, membuka buku menu dan melihat-lihat menu apa yang ada disana. Ah, melihat gambarnya saja sudah membuatnya meneteskan air liur.
“Jika saya boleh bertanya, kakak sendirian atau sedang menunggu teman?” anak itu bertanya lagi, masih setia dengan pena dan kertas ditangannya untuk mencatat.
“Oh aku-,”
“Dia bersama saya”
Suara Noren tiba–tiba menginterupsi. Lisa cemberut ketika pria itu mengambil duduk di hadapannya dengan santai. Dia menoleh pada anak perempuan yang terlihat seperti tercengang, yakin bahwa terpesona dengan keindahan dan ketampanan wajah Noren didepan matanya.
“Wah, kakak ganteng” Anak itu terkikik malu. Lisa yang mendengar rasanya ingin muntah saja. Kenapa sih, rasanya jika ada Noren mood nya jadi turun drastis? Yah, meskipun sebenarnya Noren lah yang membawanya kesini, tapi tetap saja kesal.
“Terimakasih adik kecil” Noren tersenyum tipis. Lisa bisa melihat bagaimana anak perempuan itu tersipu dengan wajah yang memerah. Menyembunyikan wajahnya di balik kertas yang ia pegang. Mendengus, Lisa menyerahkan menu kepada Noren dengan tidak santai.
“Gue pesan paket tteokbokki super pedas sama medium strawberry Choco bingsu, ya. Oh juga, iced lime water” Lisa mengocehkan menu. Anak itu mengangguk dan mulai mencatatat. “Oh iya, tambahan triangle bbap juga” Lisa menuntaskan menunya sebelum bersandar dikursinya, tiba–tiba merasa sadar diri dengan tatapan pria yang lebih tua yang mengajaknya ke kedai ini di tempat pertama, dia mendongak, Noren terlihat memandangnya dari balik menu. Ketahuan menatap, Noren segera menutup menu dan menyerahkan pada anak itu.
“Pesanan saya disamain aja ya sama dia” Suaranya agak lembut, Lisa bisa melihat bagaimana anak itu mengangguk dengan antusias “Tapi bingsu-nya yang small aja, without Choco, oke? Makasih” ada senyum setelah ucapannya, anak itu hampir memekik. Anggukannya dua kali lipat lebih cepat.
“Oke, kak. Silahkan ditunggu ya, terimakasih sudah memesan!” Anak itu membungkuk sopan sebelum berlari kecil ke dapur, meninggalkan Lisa dan Noren hanya berdua saja. Kedai memang tidak terlalu sepi, hanya ada beberapa orang di stan yang berbeda dan bisa dihitung dengan jari.
Noren mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. Pria itu juga ikut bersandar dan mengamati interior sekitar.
“Gue yakin pasti kak Sinar yang ngasih tau lo tempat ini, ‘kan?” Lisa buka suara. Diam-diam dia masih kesal dengan kelakuan kakaknya yang meresahkan. Bilangnya sih, terserah Lisa, tapi kalau informasi pribadinya selalu dibocorkan seperti ini juga Lisa jadi risih juga ‘kan, makin nggak mau dia berurusan dengan Noren pastinya. Tapi kemudian pria itu tersenyum dan mengangguk ringan.
“Sebenernya sih, iya.. udah lama. Tapi Sinar suka ngerjain aku, aku agak susah percaya” dia mengakui “Awalnya juga aku ragu bawa kamu kesini. tapi Sinar yakinin aku kalau kamu suka banget sama makanan disini, jadi aku nyoba peruntungan aku” Jemarinya mengetuk meja menghasilkan nada yang beraturan. Lisa melirik ke arah jenjang jemari pria itu.
“Tapi pas lihat kamu seneng banget aku jadi lega. Rupanya si Sinar nggak bohong sama aku” Dia nyengir. “Seneng lihat kamu seneng, Lis” senyumnya lebar, Lisa mendengus, mempertahankan dirinya untuk tidak mengejek.
“Nggak usah gitu” Lisa menyahut, menahan dirinya. “Tapi,” Dia melanjutkan.
“Emangnya lo nggak apa-apa dateng ketempat kayak gini? lo ‘kan biasanya juga pasti datengnya ketempat yang mewah-mewah, ‘kan? ini cuma kedai kecil yang bahkan sulit buat dijangkau dan pasti bukan selera lo. Lain kali jangan paksain diri lo deh, kak” Lisa mengangkat kedua bahunya dengan malas.
“Lihat sendiri ‘kan, kak” dia memulai lagi, menunjuk dirinya dan sekitar ruangan. “Ini tempatnya gue. tempat sederhana dengan makanan yang sederhana. Disini nggak ada mewah-mewahnya sama sekali, yakin lidah lo nggak bisa nerima makanan disini deh. Percaya sama gue” Dia melambai di depan wajahya, cara duduknya semakin santai dengan perkataannya yang penuh percaya diri.
“Sedangkan tempat lo pasti yang mewah, masakan koki, restoran bintang lima…” Lisa tersenyum sinis. “Kita beda banget, kak. Lo yakin mau ngerakjel bareng gue kalau lo nekat nikahin gue? ntar yang ada hidup lo kesiksa kak” Lisa melotot, terlihat sungguh-sungguh dalam drama yang dia buat.
Noren terdiam sejenak, memperhatikan bagaimana perubahan emosi dari perempuan yang duduk didepannya. terlihat nyata sekali bahwa Lisa menikmati dunianya. Noren membiarkan Lisa mengoceh terlebih dahulu sebelum tertawa lepas. Dia menekan perutnya sebelum menggeleng dan memperbaiki cara duduknya.
“Lo lucu deh, Lis” dia memulai, membuat perempuan itu tersedak. “Gini,” dia mengambil napas dalam sebelum menyatukan jemarinya untuk memulai percakapan. “Memang kamu tau apa tentang aku?”
Dia menembak.
Lisa tergagap, terlihat seperti ikan yang terkapar di tepi pantai. terlihat begitu lucu.
“Kamu nggak boleh ngambil stereotype dari sudut pandang kamu sendiri. kita belum kenal ‘kan? baiknya kita harus kenalan dulu sebelum kamu ngejudge aku kayak gitu, loh” Dia terlihat tidak mempunyai beban sama sekali ketika mengatakannya, sedangkan perempuan dihadapannya bersemu malu.
“Aku nggak ngebenerin semua yang kamu bilang, dek. Coba aku tanya dulu, emang kamu tau aku gimana sebelum kita ketemu? emang kamu tau kebiasaan aku gimana, cara pandang aku gimana dan sifat aku gimana?” dia memojokkan, “Belum tau, ‘kan?”
Lisa menahan napasnya, Noren tahu perempuan itu kesal. Emosi Lisa memang sulit untuk dikendalikan ketika dia tidak suka dengan seseorang atau sesuatu, tetapi Noren belajar untuk menyikapinya dengan benar. Lagipula dia sudah memantau perempuan ini sejak dulu, jatuh cinta dan dirinya dengan mudah membiarkan menerima bagaimanapun perempuan itu. Meskipun Lisa bahkan tidak tahu sama sekali.
Ups, masih terlalu dini untuk membahas perasaannya, ‘kan?
Noren menghela napas lucu. tatapannya masih terlihat sayang pada perempuan itu. “Gimana kalau kamu coba nurunin ego kamu dan kenalan sama aku? calon suami kamu? biar nanti perjalanan kita lebih mudah. Mau kan?”
Pria itu mencoba bernegosiasi. Lisa mengernyit, mendengar dengan tidak suka nada yang dipakai oleh Noren.
“Bentar bentar” dia menolak, “Lo sendiri gimana? lo juga pasti belum kenal kan sama gue? kenapa bersikeras banget pengen nikah sama gue? kenapa harus gue?” Lisa menyelipkan rambutnya ke belakang. Suasana menjadi agak panas disini, tetapi Noren terlihat sangat tenang seolah-olah tidak sedang menyudutkan yang lain.
“Kak, gini ya, kita bahkan baru aja kenal. Lo tiba-tiba dateng ke kehidupan gue dan bilang kalau lo bakalan nikahin gue. Kak, nikah itu ada prosesnya. Dari mulai suka, jatuh cinta satu sama lain terus-,”
“Tapi aku udah cinta sama kamu, Nalisa”
Lisa mengerjap. kehilangan kata-katanya.
“Aku udah cinta sama kamu, lho” Noren meyakinkan.
Lisa memutar matanya malas. jatuh kembali ke sandaran kursi. dia melipat kedua tangan didepan dada dan menatap Noren dengan kesal.
“No, no, no, jangan ngomong hal yang nggak berdasar ya, kak” Dia memicing malas, kemudian sadar bahwa dia akan kehilangan kesabarannya menghadapi Noren jika perbincangan ini terus dilanjutkan.
“Tapi-,”
“Gue nggak mau denger apapun dulu, lo ngerusak kencan tteokbingsu gue setelah bertahun-tahun lamanya nggak ketemu sama dia!” Lisa melompat dari kursinya, mengecek ke arah bau dari makanan yang dipesannya. Benar saja, pesanan mereka sudah menuju ke meja mereka. Lisa melihat dengan mata berbinar.
“Gini, sebelum tteokbingsu gue dateng, gue mau bilang, kak” dia berbalik pada Noren dan duduk kembali, kali ini terlihat lebih tenang. Ada senyuman kecil di wajahnya yang mencoba memaklumi suasana dan tidak ingin berdebat.
“Kata cinta itu dalem kak. Maknanya benar-benar serius. Lo atau siapapun nggak bisa ngeremehin seberapa besar arti dibalik kata itu, jadi-, jangan sembarangan ngucapin kata itu. Yah, gue cuma ngasih tau ini aja biar lo nggak sembarangan ngomong gitu ke orang-orang yang lo temuin”
Noren diam. Dia mengamati bagaimana perempuan itu menjelaskan dengan anggun. Lisa-, Nalisa Rembulan Cakrawijaya hanya tidak tahu, belum. Perempuan itu belum tahu betapa jantungnya berdetak tak karuan dan perasaan ingin memiliki sang empu telah bersarang sejak lama sekali. Seharusnya ungkapan cinta itu adalah hal luar biasa yang ingin dia sampaikan kepada Lisa.
Sekarang, dadanya terasa sakit dan sesak, begitu penuh. Noren hanya,…
Dia mengepalkan tangannya dengan kencang.
“Terimakasih”
Lisa berujar dengan suara lucunya ketika anak perempuan itu telah menyiapkan pesanan mereka di atas meja. Anak perempuan itu mengangguk sebelum pergi untuk memberi privasi kembali pada mereka.
“Nah, karena ini beneran makanan kesukaan gue dan gue lagi capek banget pengen naikin mood, gue bakal ngelonggarin diri gue di depan lo deh, kak”
Noren mengerjap. Pria itu mendongak dengan cepat ketika dia menangkap senyuman lebar dari perempuan di depannya. lagi – lagi rasanya begitu.. penuh.
Noren berdecih sayang, seringai muncul di wajahnya dengan nyata.
“lo bener-bener ya…” dia membatin
“sesuatu…”
...…....
Mereka baru saja selesai menyantap perpaduan makanan yang tidak cocok sama sekali. Noren belum bisa tahu kenapa Lisa suka sekali dengan pedas dan manis yang menjadi satu. Tteokbokki super pedas sama sekali tidak cocok dengan bingsu, tetapi perempuan itu memakannya seperti snack yang saling melengkapi.
Lisa terlihat begitu senang pada akhirnya bisa kembali merasakan makanan yang dia suka. Dia terlihat begitu kenyang dan puas. Mereka kini sudah ada di dalam mobil. Perempuan itu bersenandung dengan lucu dan Noren tidak bisa tidak memekarkan senyumannya. Mungkin poin mereka satu sama untuk hari ini.
“Udah kenyang makannya?”
Dia bertanya dengan manis, berpindah dari tatapannya pada kedai yang masih didepan mata ke arah Lisa yang yang sedang mengamati dirinya dari kamera ponselnya. Perempuan itu mengangguk dengan semangat.
“Kenyang banget. pengen kesini lagi kapan-kapan sama anak-anak” dia nyengir dengan polos. “Soalnya udah lama banget gue nggak makan ini. Makasih ya”
Lisa mematikan ponselnya sebelum tersentak dan wajahnya mulai mengatur sendiri. Dia berdehem, “Sekali ini aja gue manis di depan lo, bukan berarti gue luluh dan mau sama lo ya! gue cuma senang aja bisa ngerasain tteokbingsu lagi”
Lisa tetaplah Lisa, kembali mengomel dan menatap dengan sarkas ke arah Noren. Yang lebih tua mengangguk paham dan terkekeh lucu.
“Iyaa aku paham kok, tapi seneng liat kamu yang kayak gini, semoga aja secepatnya bisa ngeruntuhin tembok tebalnya kamu, dek” dia berujar, Lisa berdecak dan menggeleng dengan tegas. “Kan udah gue bilang cuma kali ini doang. lain kali gue gabakal cepet luluh didepan lo. Liat aja deh, ya” Lisa memicing padanya kemudian mengejek seolah-olah dia masihlah anak kecil berusia tujuh tahun. Lisa yang lelah dan puas terlihat memanjakan mata dan ego seorang Noren.
“Kamu lucu, deh”
Noren tidak kalah. Lisa berdecak sebelum beralih padanya dengan delikan sebal. “Iya gue emang lucu. udah ah ayo gue mau pulang, udah capek banget, mau mandi juga. Bawa gue pulang ih, ini juga udah malem”
Lisa menatap keluar, gelap tetapi gemerlap. Lampu-lampu di sekitar menyala dengan cantik, tetapi dia merasa tubuhnya sudah mulai menyerah dan dia hanya merindukan kasurnya yang lembut dan mandi air hangat untuk tubuhnya yang lelah. Noren mengangguk tetapi sesuatu membuatnya menarik kembali safetybeltnya.
“Tunggu sebentar ya disini”
“Ih, ngapain lagi sih! gue mau tidurrr”
“Udah tunggu sebentar ya. Sebentarr aja”
Lisa mengerjap ketika Noren keluar dari mobil. dia mengeluh, ingin memanggil kembali pria itu, kalau perlu dia akan menarik Noren untuk masuk ke mobil dan segera mengemudi pulang karena dia sungguh sangat butuh istirahat.
“Ih, apaan sih itu orang. tau gini gue pulang langsung aja. Nyebelin” Perempuan itu menghembukan napas kesal. Mengambil ponselnya dia mulai membuka percakapan grup anak-anak bobroknya.
Disana selalu ramai, Lisa bahkan tidak tahu percakapan penting apa yang ada disana. Selama ini hanyalah Alpino dan Heksa yang selalu saja mengobrak-abrik penuh personal romansa antara Jihan dan Fajri yang tidak kunjung mendapatkan titik terang alias nggak official karena takut ngerusak hubungan pertemanan mereka, ataupun hanya Hala yang menasehati duo sejoli penyuka game itu untuk berhenti menggoda Jihan dan Fajri. Meskipun terkadang anak itu ikut-ikutan juga. Ataupun kebanyakan mengobrol tentang game, jadwal-jadwal yang tidak penting, rencana-rencana nongkrong yang hampir sebagiannya hanya menjadi wacana.
Tapi kali ini sepertinya mereka sedang membahas tentang dirinya. Alpino mengumumkan pertama bahwa Lisa sedang bersama dengan Noren hari ini, dan anak-anak mulai menyeru namanya dan berspekulasi sendiri-sendiri. Hala bahkan mengatakan untuk tidak mengganggunya dengan menelpon ataupun mengirim pesan spam dan mereka berakhir mengolok-olok Lisa sejak tadi.
Untung saja Lisa sedang lelah sekali, jadi dia menyimpan kutukannya pada teman-temannya hingga energinya terisi penuh untuk mendobrak.
Pintu mobil terbuka kembali, angin dingin menyerbu, Lisa menoleh untuk mendapati Noren yang menyerahkan sekantong kue ikan dihadapannya.
“Kue ikan?” dia bergumam, “Hah buat apa?”
Noren menyodorkan sekali lagi dan Lisa dengan terpaksa mengambilnya.
“Coba deh bilang makasih aja nggak susah lho, Lis”
Noren tersenyum kecil, menaikkan kedua alisnya pada sang perempuan yang mengernyit. “Buat apa makasih kan gue nggak minta” Lisa mengangkat kedua bahunya, tetapi dia cukup tertarik dengan bau dari kue ikan yang masih panas. “Lo ngasih gini ke gue biar gue gendut ,ya?” Lisa menatap tajam Noren setelah berspekulasi sendiri. Noren menghela napas kecil seraya menghidupkan mesin mobil.
“Coba deh pikirannya positif” Dia bergumam. “Cuma pengen beliin kamu cemilan, toh makan satu doang nggak bakal gendut, ‘kan?” mobil mulai bergerak, dan Lisa mulai merasa nyaman dengan pendingin mobil yang sejuk. “Ini ‘kan banyak, bukan cuma satu” dia berdalih lagi.
“Buat Sinar. Ucapan terimakasih juga sudah biarin aku bawa kamu hari ini”
Dia melirik sedikit pada Lisa dan tersenyum. Lisa mencibir, “Kalau bukan gara-gara lo yang nyuruh kak Sinar buat main sama Alpino juga nggak bakalan mau gue sama lo hari ini”
“Iya deh iyaa.. tapi yang penting aku seneng hari ini. Lihat kamu senyum bener-bener bikin aku tenang”
Lisa mengerjap. menatap kue ikan di tangannya sebelum membuang wajahnya ke luar jendela. “Nggak usah ngomong yang nggak-nggak. Gue udah bilang gue longgarin hari ini gara-gara lo bawa gue ketempat kesukaan gue” Suaranya kecil, Lisa malas berdebat karena hari ini dia banyak sekali berpikir dan mengeluh sendiri.
“Udah, gue capek. Gue hidupin lagu, ya?”
Noren bergumam, “Nyalain aja” ujarnya dan kemudian membiarkan suasana jatuh dengan nyaman di sekitar mereka berdua dengan lagu manis yang mengisi disekitar. Lagu idola yang sedang naik daun yang dimana bercerita tentang musim semi dan kisah masa kecil.
Perjalanan cukup nyaman dan tidak memakan waktu yang banyak. Lisa bisa melihat jalan ke arah rumahnya terasa cukup akrab. Dia merasa lega membanjirinya. Ingin sesegera mungkin menjauh dari Noren yang sejak tadi membuat pikirannya berantakkan.
“Omong-omong tadi pagi,”
Noren memecah keheningan, wajahnya beralih ke arah Lisa. Ada gurat kelelahan tetapi rasa puas menutupinya. “Gimana bunga sama kopinya? Semoga bisa buat pagi kamu berjalan lancar, ya” Senyuman hadir, dan Lisa seolah-olah tidak bisa lepas menatap wajah pria itu yang penuh dengan hal-hal yang sulit untuk dibaca.
“Yang tadi pagi..”
Dia berbicara pelan. “Nggak usah kasih lagi. Gue hampir kena serangan jantung dapet itu semua dari lo. Cheesy banget, bukan gaya gue”
Dia memuntahkan sarkasme. Noren menghela napas, tetapi tidak sedikitpun dia merasa kesal dengan perempuan yang sudah mengambil hatinya itu.
“Tapi itu gaya aku buat ngedapetin kamu”
Mobil berhenti di pelataran rumah Lisa. Perempuan itu bisa melihat mobil Sinar di depan, yang artinya kakaknya sudah berada di rumah. Mungkin sedang menunggu kepulangan sang adik. Tiba-tiba Lisa merasa lidahnya asam, kakaknya pasti akan menggodanya lagi sepanjang malam dan tidak membiarkan dia tidur nyenyak.
“Jangan kasih lagi, jangan usaha lagi. Lo bakal selalu gue tolak, kak” Lisa menoleh ke arah Noren dengan senyuman tegas. “Takutnya nanti kakak sakit hati. mending nyerah aja, deh” Dia melambai. “Lagipula gue bukan cewek yang cocok buat kakak. Takutnya kakak nyesel sama gue. Coba deh dipikir-pikir lagi ya dari pada sia-sia”
Perempuan itu mengambil barang-barangnya, kemudian turun dan merasa sangat bebas. Noren memperhatikan.
“Oh iya, makasih ya kue ikannya. Udah gue bilang makasih, ‘kan? nggak sampai jumpa lain kali, kak! selamat tinggal!!”
Lisa melambai dengan semangat sebelum berlari kedalam rumahnya. Noren memperhatikan ketika perempuan itu terlihat panik untuk sesegera mungkin menghilang dari pandangannya. Ketika Lisa sudah berada di balik pintu, ia menghela napas, menjatuhkan diri di kursi mobilnya, menutup matanya dengan erat.
“Siapa bilang selamat tinggal?” dia tersenyum kecil. “Nggak akan ada yang namanya selamat tinggal dari lo, Lisa. Kita liat aja nanti, siapa yang bakalan bertekuk lutut. Gue yakinkan, itu lo. Tunggu aja ya tanggal mainnya.. kesayangannya gue”
Noren menyeringai. Kemudian ada tawa lucu sebelum dia menarik kembali dirinya dan mulai menekan gas dengan ringan.
“Lo pasti bakalan nyandang nama Giovano suatu hari nanti, secepatnya.. Pasti”
...…....
......🍁......
...Perlahan-lahan, Sedikit Demi Sedikit-End...