
Satu bulan.
Lebih tepatnya, satu bulan lima belas hari.
Bukannya Lisa menghitungnya, tapi, oh dia melakukannya.
Lisa jengah, tentu saja. Matanya bahka sudah tidak begitu asing lagi dengan penampakan minuman dingin beraneka ragam yang dipilih random dari papan menu dan snack atau kue favoritnya berada di atas meja kerjanya di pagi hari. Lalu ketika siang hari, dia akan mendapati delivery makanan atau beberapa makan siang yang akan dititipkan kepada Hala atau bahkan beberapa orang di kantornya untuk mengantarkan makanan itu kepada Lisa.
Lagi, di sore hari untuk beberapa kesempatan, alih-alih Alpino atau kakaknya yang menjemputnya, Noren hadir dengan senyumannya yang menyentuh mata. Lelaki itu datang dengan tangannya yang terangkat di depan dadanya dan melambai kecil padanya dengan harapan yang muncul di matanya.
Sudah banyak penolakan, sudah banyak emosi yang Lisa kerahkan. Sayangnya, lelaki itu dengan kekeraskepalaannya yang tak kunjung hancur, tetap datang dan datang lagi untuknya. Dia sangat gigih untuk hanya menyeret Lisa datang padanya dan menawarkan banyak hal yang sama sekali tidak Lisa butuhkan.
Jujur, untuk sebagian waktu yang melelahkan, Lisa hanya ingin menangis.
Bukannya Lisa lemah. Menangis juga bukan kesukaannya untuk dilakukan. Namun, jika dia sudah terlalu lelah dan frustasi, setelah berteriak dengan keras, menangis adalah salah satu jalan untuk mengeluarkan dan mengungkapkan rasa frustasi dan stress yang menguasainya. Tapi tentu saja, sampai saat ini, dia tidak menitikkan air matanya sama sekali di depan Noren, dia hanya ingin mencekik lelaki itu agar berhenti.
Hanya, tolong, berhenti dari apapun yang dia lakukan.
Tapi tentu saja, yang kita bicarakan disini adalah seorang Noren Agustion Giovano. Makhluk menyebalkan yang hanya Lisa inginkan untuk enyah dari pandangannya, selalu saja berhasil untuk memastikan bahwa dia hadir dan Lisa sama sekali tidak bisa menghapus kehadirannya dimana saja sejauh matanya memandang. Lelaki itu, bahkan, sialnya sudah memberikannnya separuh dirinya dari bagaimana boneka beruang putih dandelion yang masih tak tersentuh olehnya, hanya menatapnya di ruang kamar tidur Lisa sambil tersenyum dalam benang hitam yang tebal.
Untuk beberapa minggu setelah merasa lebih tidak aman dengan kehadiran boneka itu, Lisa memiih untuk menutupnya dengan selimut dan menghilangkan jejak bahwa boneka itu masih ada di sana. Kehadirannya nyata, namun untuk kepuasan Lisa yang hanya sedikit, sebagian dari Noren sudah tidak mengiritasi matanya karena kain yang dia letakkan untuk membungkus boneka itu.
Tentu saja, menyingkirkan boneka itu bukanlah salah satu jalan dimana dia juga bisa menghapus Noren dari hidupnya. Lelaki itu, bahkan dengan tidak tanggung-tanggung mengundang dirinya sendiri ke rumahnya dengan alasan memiliki janji bermain game bersama Sinar.
Oh, itu dia. Kakaknya yang menyebalkan dengan cara yang sama.
Dan itu terjadi lagi untuk hari ini. Hari ke empat puluh lima yang melelahkan.
Matanya menatap nyalang pada tampilan Noren yang tengah melambai padanya dengan lambaian kecil yang sama seperti waktu-waktu yang lalu. Sepertinya sudah menjadi ciri khas yang Lisa hapal dari seberapa sering dia berhadapan langsung dengan lelaki itu. Seperti tidak memiliki rasa lelah dengan penolakan yang terus menerus, wajah Noren masih terlihat santai dan bersenang-senang.
Lisa tidak tahu apa yang lucu ketika dia dengan sangat terpaksa masuk ke dalam mobil lagi. Tentu saja, dia tidak ingin adanya paksaan dan adegan drama yang akan dipertontonkan untuk semua karyawan di jam pulang yang mengenal dirinya meski dari divisi yang berbeda. Meminta tolong pada Hala yang saat ini sudah berjalan memisah darinya untuk menunggu Heksa di halte, pasti akan membuat kesan yang aneh dan banyak pertanyaan dari orang-orang disekitarnya.
Sudah menjadi rahasia umum di kantor, Noren adalah bahan gossip yang panas. Tentang bagaimana dedikasi Noren untuk memastikan bahwa Lisa terawat dengan baik, menyempatkan diri untuk menjemput dia secara langsung. Noren sudah menjadi obrolan terbanyak dengan desas-desus yang meninggikan namanya. Lisa juga sudah tidak asing lagi dengan orang-orang yang menggodanya selama kehadirannya di kantor dan meninggikan tentang hubunagan Noren dan dirinya.
Balasannya? Tentu saja yang bisa dia lakukan hanyalah menyunggingkan senyuman palsu hanya untuk menjaga profesionalisme yang dibanggakannya dan tidak ingin merusak citra dirinya yang baik. Dia tidak akan menumpahkan emosinya yang begitu besar pada orang-orang tak bersalah yang diam-diam hanya menuang bensin ke dalam api, membuat Lisa memuntahkan api besar kepada Noren setiap kali Noren menyihir dirinya untuk berhasil muncul di hadapan Lisa dalam waktu-waktu yang tidak di harapkan.
Juga, sebenarnya Lisa bingung bagaimana mungkin Noren berhasil untuk hadir ketika Lisa sedang menimbun emosi jelek dalam setiap aspek yang tidak di sukainya. Dan begitulah, Noren hadir hanya untuk memperburuk kepalanya yang suadah hampir pecah.
Untuk hari ini, sama saja.
Lisa yang baru saja masuk ke dalam mobil Noren yang sudah di hapalnya luar kepala, dengan aroma mobil yang segar dimana dia berhasil untuk mengingat aroma mobil Noren dan bahkan secara tidak langsung, dia sudah tahu merk apa yang digunakan oleh lelaki itu dari sebagian besar Lisa berada di dalam mobilnya dalam empat puluh lima hari terakhir.
Tanpa salam dan tanpa menyapa, Lisa melempar tas nya ke kursi kosong di belakang. Memakai safetybelt dan menyandarkan dirinya dengan kursi yang dia tekan untuk mundur ke belakang agar dia bisa merebahkan diri dan mengistirahatkan punggungnya sejenak. Kepala Lisa sudah penuh dengan bagaimana omelan Pak Leo yang menyakiti telinganya dan bagaimana teman-temannya juga sedang melakukan perang dingin satu sama lain entah karena apa. Lisa tidak ikut-ikutan sehingga dia hanya bisa menempel pada Jelita sepanjang hari dan syukurnya untuk kesukaan Lisa, Jelita tidak mengeluh tentang apapun yang terjadi.
“Hari yang panjang, ya?”
Suara Noren tenang, namun tetap menjengkelkan di telinga Lisa. Dia tidak tahu bagaimana filter telinganya bekerja, namun dia memilih untuk hanya melipat tangannya di depan dada dan menutup matanya. Alih-alih menjawab pertanyaan dari Noren, Lisa melemparkan pertanyaan untuk lelaki itu dengan cepat.
“Sekarang, lo pengen makan di mana lagi, emang?”
Agak ketus. Lisa tidak peduli. Toh, Noren sama sekali tidak bisa melihat penolakan nyata yang hadir seperti dia bisa melihat seekor gajah di depan matanya, namun dia memilih buta dan menutup matanya. Rasanya agak tidak adil membayangkan bagaimana Noren hanya bisa menarik emosi Lisa yang membuatnya kelelahan sedangkan lelaki itu sama sekali tidak terpengaruh oleh apapun.
Seperti batu.
Benar, dia keras kepala. Telinganya pasti juga terbuat dari batu.
“Hm. Emang Lisa mau makan bareng aku?”
Suaranya terdengar bersamaan dengan deru mesin mobil yang melaju membelah jalan. Suara radio yang dihidupkan, sayup-sayup terdengar di telinga Lisa. Noren sepertinya sengaja mengecilkan volume radio agar bisa berbicara dengan penuh perhatian pada Lisa. Sayangnya, Lisa tidak suka itu. Untuk kali ini, dia hanya mendengus. Matanya mengintip pada Noren yang sama sekali tidak terganggu dengan sikapnya yang menjengkelkan.
Sabar. Lisa mengingatkan dirinya agar tidak hanya menjambak Noren saat itu juga. Dia masih sayang nyawanya dan ingin hidup lebih lama lagi. Dia juga tidak ingin mati konyol dan bahkan, dia tidak ingin jasadnya ditemukan bersama dengan Noren.
Sampai kematianpun, dia tidak ingin ditempatkan bersama dengan Noren.
Ah, andai saja Noren tau.
Tidak, coret itu. Noren sudah tau tentang itu namun dia memilih untuk tidak peduli dan lebih mendengarkan dirinya sendiri.
Noren Agustion Giovano.Bisakah Lisa mengukir nama itu di atas batu nisan secepatnya? Lisa tidak jahat, dia hanya jengkel. Mungkin saja Lisa bisa mengukir nama itu, namun dia harus melakukan percobaan pembunuhan terlebih dahulu dengan kedua tangannya dan mempercayai otaknya yang licik. Kedengarannya, menyenangkan.
“Jangan sok polos gitu, lo. Gue merinding dengernya” Lisa memuntahkan kejengkelan yang sama. Dia menoleh untuk menatap Noren dengan tatapan paling tajam yang ia bisa lakukan, namun lelaki itu hanya terkekeh geli seolah-olah dia tidak hanya sedang membangkitkan sisi psikopat yang Lisa miliki. “Sepanjang lo ngejemput gue secara paksa, nggak ada, tuh, yang namanya pulang langsung pulang. Lo pasti nyulik gue dulu buat pergi ke mana aja sesuai dengan kesukaan lo. Gue bahkan nggak bisa punya pendapat disini”
Dia mengoceh omelan yang berdasarkan fakta. Selama Noren menjemputnya, dia tidak pernah pulang tepat waktu untuk kesukaannya.
“Emang bener?”
Huh. Noren mencoba memancing emosinya untuk keluar. Lagi dan lagi.
“Nggak usah bikin gue ngecelakain kita berdua sekarang, ya, kak.” Lisa mendengus ancaman. “Emosi gue udah level dewa kayaknya setiap bareng sama lo. Darah tinggi gue lama–lama.
“Kamu kalau emosi gitu lucu” Noren melirik ke arahnya dengan senyuman aneh sebelum dia kembali mengarahkan pandangannya ke arah jalan raya yang ramai dengan orang pulang kerja. “Aku jadi makin suka” lanjutnya.
Nalisa, dengan setiap ons kewarasan yang masih dia pertahankan, berusaha untuk tidak melakukan serangan bar-bar kepada oknum yang membuatnya iritasi. Matanya berkedut ketika dia menyesuaikan pernapasannya untuk mengatur emosi yang menggelegak.
Sembari mencerca, Lisa memilih untuk berbalik dan memunggungi Noren, Meski agak tidak nyaman denga posisinya dan safetybelt yang terasa mencekik meski sudah agak longgar, Lisa tidak peduli. Dia hanya ingin menutup matanya dan telinganya dan bahkan menjauhkan pandangannya dari kehadiran Noren.
Lama-lama, dia juga yang rasanya akan kehilangan kewarasannya dalam waktu yang singkat.
“Daripada lo berusaha bikin gue marah dan menggila, cepat kasih tau gue lo mau kemana dan kita mau makan apa. Biar gue bisa ngalihin pikiran gue dari adegan pembunuhan yang gue susun dengan baik di kepala gue dan nyari tempat beli tanah makam lo.”
Suaranya teredam dari bagaimana dia memposisikan diri, tapi dia harap Noren mendengarnya dengan baik. Dan untuk semua kemuliaan yang dia harapkan, lelaki itu merespon dengan tawa yang khas dimilikinya sebelum dia menjawab pertanyaan yang di lontarkan Lisa dengan jawaban yang benar, tidak berusaha untuk menggoda Lisa lebih jauh lagi kali ini.
“Kayaknya makan ramen enak, deh. Aku lagi pengen nyobain restoran Jepang baru yang buka di sebelah toko bunga yang dua minggu lalu aku ajakin kamu kesana” Mobil berbelok ke kanan ketika suara Noren terdengar lagi. “Kebetulan, pemiliknya anak rekan bisnis aku yang lebih milih buka restoran Jepang daripada nerusin bisnis keluarga Ayahnya. Kata temen-temen yang udah nyoba, sih, makanannya enak terus rekomended. Jadi, karena penasaran, aku mau makan bareng kamu, dek, buat percobaan rasa pertama”
Suaranya terdengar lebih tidak menuntut, itu terlalu lembut seperti ajakan dan harapan yang bisa saja dipatahkan ketika penawarannya di tolak. Namun, dengan Lisa yang berada di sini setelah banyak paksaan dan drama yang dilakukan beberapa waktu sebelumya sehingga dia dengan sukarela datang dan masuk ke dalam mobil, Lisa tahu bahwa ucapan Noren dan ajakan lelaki itu adalah final bagaimanapun caranya. Lisa adalah tawanan disini, dan seberapa keraspun dia mencoba untuk melarikan diri, Noren mempunyai segala cara untuk menariknya kembali agar rencana yang dia buat tidak pernah gagal.
Itu seperti Noren mengikatnya dalam borgol imajiner, sehingga dia tidak pernah kehilangan ide atau cara apapun agar Lisa mendengarkannya dan ikut dengannya.
Pemaksaan yang membuatnya lama-lama menjadi lebih gila daripada apapun yang pernah dia pikirkan.
Lisa tidak punya jawaban apapun selain menyetujui, jadi, oke kecil dia keluarkan dari bibirnya yang sudah malas membentuk kata. Lagi pula, selama itu adalah makanan gratis yang disajikan untuknya, Lisa akan memakannya dengan khidmat dan sungguh-sungguh. Dia hanya akan membayangkan bahwa dia berada di sana seorang diri, bukan dengan orang yang sangat tidak dia sukai keberadaannya dan menjadi pengganggunya selama hampir dua bulan berturut-turut.
“Asal lo jangan coba-coba ngeracunin gue pake apapun yang bisa bikin gue mati atau kesengsem sama lo, gue oke”
Tawa yang Noren keluarkan begitu jelas dan lepas. Seolah-olah dia menikmati hal ini lebih dari apapun yang ada di dunia. Lisa bisa merasakan mata yang mengawasinya dari balik punggungnya ketika mereka berhenti di lampu merah. Dengan suara radio yang memutar lagu asing yang ceria di telinganya perlahan-lahan dihidupkan dengan volume yang lebih tinggi oleh Noren setelah dia puas untuk menertawai apapun yang Lisa katakan.
“Sayang banget, ya” Dia bersuara dengan lebih nyaman dan ada nada geli dalam suaranya. “Aku nggak mau kamu mati, sih, aku kan pengen hidup lama bareng kamu”
Ada merinding yang membuat bulu kuduk Lisa berdiri, dia akan berbalik untuk mulai menyumpal mulut Noren dengan tisu yang siap dia tarik dan buat menjadi gumpalan besar sehingga lelaki itu bisa menutup mulut besarnya yang menyakiti telinga Lisa dengan apapun yang dia keluarkan dan katakan.
Tapi, Noren berbicara lagi. Kali ini benar-benar menyulut rasa frustasinya sehingga dia mengerang dengan keras dalam balutan stress dan permohohan agar dia bisa dibebaskan dari sosok pengganggu yang bisa membuatnya mati berdiri ini.
Oh Mama Giovanno, mengapa bisa Anda menciptakan kehadiran manusia yang menjengkelkan seperti Noren?
Lisa meringis, menangis dalam hatinya yang sudah lelah.
“Dan sayangnya juga, racun yang buat kamu kesengsem belum disempurnakan sama peneliti yang aku sewa. Karena itu, sekarang aku usaha dengan kemampuan aku sendiri dulu, biar kamu bisa kesengsem sama aku dan kita bisa hidup bahagia bareng berdua”
Noren menoleh pada Lisa yang sudah menatapnya dengan terang-terangan dengan wajah galak dan merah menyatakan seberapa kesal dia hari ini.
“Iya, kan, sayang?”
Noren tidak ingin mati, tentu saja. Namun kali ini, dia hampir terkena serangan jantung dan kepanikan ketika Lisa menyerangnya dengan brutal. Dia hampir mencelakai mereka berdua sebelum akhirnya dia berhasil menepikan mobil, dan tentu saja, serangan yang Lisa berikan untuk rambutnya yang akan berantakkan dan rontok, adalah apa yang dia dapatkan pada sisa hari itu.
Meskipun pada akhirnya mereka bisa mencicipi ramen enak bersama, dan dengan tambahan dessert yang dipesan dengan senang hati oleh Lisa untuk menurunkan kadar emosi dan darah tingginya pada Noren. Untuk kesukaan Noren di hari itu, dia mungkin berhasil mencetak kencan soren hari lainnya bersama Lisa.
Meski dengan paksaan dan sedikit ancaman yang tidak berbahaya,
Noren merasa puas dalam setiap langkah yang dia ambil dalam hidupnya.
.........
...🍁...
...Kegigihan Yang Tak Pernah Padam - End...
.........
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak CovieVy, nih!
Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA COVIEVY...
...JUDUL: CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER...
Reza Firto Adijaya adalah CEO muda, berusia 27 tahun. Seorang pria berlimpah akan harta, tahta, dan wanita. Bersiteru dengan Aurora Safitri, seorang mahasiswi miskin yang mendapat SISTEM KEKAYAAN: HACKER. Setiap misi yang diselesaikan, akan dibayar mahal oleh SISTEM. Misinya antara lain adalah Mengeksploitasi keamanan data pada perusahaan. Kebetulan Reza mendirikan perusahaan dalam bidang Online, membuat dia selalu menjadi bulan-bulanan misi dari NONA HACKER yang satu ini. Suatu saat Aura ditangkap oleh bandit suruhan Reza. Lalu terjadi hal yang tak terduga membuat Reza akhirnya tergila-gila pada gadis itu. Namun, Aura sedang mencintai pria masa sekolahnya. Bagaimana perjuangan Reza untuk mendapatkan hati Aura?
Selamat membaca🥰