Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Keputusan Sinar; Desak Langkah Mundur



“Lo dimana, brengsek?! Mau kabur lo setelah bikin masalah sama gue?”


“Jangan teriak di telinga gue, Nar. Suara lo udah kayak mau ngebunuh orang aja, asli”


“Gue emang mau ngebunuh lo kalau lo nggak ngasih tau posisi lo dimana sekarang, bang.sat!”


“Gue lagi mau main hide and seek, nih. Cari gue sampai ketemu, dong, biar seru”


“Anjing lo, ya, sumpah! Lihat aja lo, sekali gue nemuin lo, habis lo sama gue, brengsek!”


“Okay kalau lo insist. See you when I see you, bro?”


“Bangsat!”


Buagh!!


Satu tinjuan berhasil ia layangkan pada satu-satunya orang yang pantas untuk mendapatkan hal itu. Emosinya yang sejak semalam ia tekan jauh di bawah kesadarannya tidak mampu surut begitu saja. Dia sudah mencoba untuk menenangkan diri, sudah mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia harus berbicara dengan Noren menggunakan kepala dingin. Tidak ada permasalahan yang timbul jika mereka berbicara baik-baik dengan pikiran koheren. Dia yakin dengan banyak pemikiran positif yang mereka gunakan, Sinar akan bisa memberikan opsi yang lebih baik dalam melihat permasalahan yang sedang terjadi ini.


Tetapi sayangnya, sejak Sinar mencoba untuk menghubungi Noren dari pagi sekali, sahabatnya itu pada akhirnya memilih jalan yang lain untuk memancing emosi gilanya keluar. Dimulai dari panggilan telepon yang terangkat pada panggilan hitungan ke tujuh hingga akhirnya Noren bermain susah untuk ditemukan. Segala keinginan Sinar untuk mengobrol baik-baik pupus sudah.


Sinar sudah merasa mual dengan tingkah sahabatnya yang berusaha untuk mencoba seberapa bisa dia bertahan dalam emosi positif sebelum dia berbalik sepenuhnya dengan mata merah dan kepala mengebul asap kejengkelan, akhirnya terpancing juga. Melepaskan pekerjaannya pada Wildan, dia mengemudi mencari Noren sendirian seperti orang gila.


Tentu saja Noren tidak ada di apartemen ketika sahabatnya itu mengusul sebuah permainan Hide And Seek. Bukan juga di pperusahaannya karena Sinar sudah mengacak-acak tempat itu untuk menemukan Noren. Memaki selama perjalanan, dia memutar otak dimana Noren sebenarnya berada saat ini. Dia sudah mencoba untuk meretas posisi Noren menggunakan lokasi ponsel Noren yang aktif ketika mereka mengobrol di telepon beberapa saat yang lalu.


Tentu saja, sahabat gilanya yang sudah merencanakan permainan ini, mempersulit apapun yang sedang Sinar lakukan. Kepala Sinar berdenyut, dia terus mencoba memikirkan dimana posisi sahabatnya itu sebenarnya. Noren tidak mungkin pergi terlalu jauh dari kota. Dia juga tidak mungkin masih berada di Negara lain karena panggilan mereka bukan sambungan luar negeri. Pun, Noren bukan tipe yang akan melarikan diri, dia pasti sudah menuggu Sinar di suatu tempat sembari bersenang-senang dengan kegilaan Sinar saat ini. Menunggu pada akhirnya kapan dia ditemukan.


Butuh dua jam bagi Sinar dan puluhan lampu merah kota ia kelilingi untuk mencari dimana sahabatnya itu berada. Ketika dia mengisi bensin mobilnya yang sekarat di salah satu Pertamina, dia melihat banner resort di pantai pingiran kota pada salah satu toko seberang jalan. Memukul kepalanya pada kemudi, dia langsung tahu dimana sahabatnya itu berada.


Tentu saja, salah satu tempat yang akan Noren datangi adalah sebuah resort yang pernah diceritakannya saat mereka masih terpisah dua benua. Itu adalah resort kepemilikan adik keluarga Giovano sehingga Noren punya andil kepemilikan di dalamnya dari seberapa besar lelaki itu sebagai pemasok saham pribadi di dalamnya. Tanpa pikir panjang, Sinar segera mengemudi menuju tempat itu. Dia memang tidak tahu benar poisi pasti sahabatnya karena resort bukanlah tempat kecil untuk menemukan satu orang. Tapi dengan emosi miliknya yang menggebu, Sinar yakin dia bisa menemukan Noren seberapa kecilpun presentasenya.


Ketika dia menemukan Noren, dia berjanji untuk menghajar lelaki itu sebagai pelepasan emosinya. Dan benar saja, Noren yang tidak akan pernah melarikan diri itu sudah menunggunya dengan tangan terbuka dan senyum lebar menantang seolah dia sudah bosan menunggu dalam permainan. Sinar yang kalap segera menghajar Noren detik itu juga. Tidak peduli dengan staff yang mengantarnya menjerit melihat aksi karena belum berhasil beranjak pergi dari tempat kejadian perkara.


Noren tertawa terbahak-bahak seperti orang gila ketika Sinar menghajarnya lagi untuk yang kedua kalinya.


“Brengsek lo, sialan! Apa maksud lo bikin permasalahan begini? Isi kepala lo apaan coba gue tanya, brengsek? Kenapa lo nggak bilang ke gue dulu sebelum lo dengan bodoh dan sok heroiknya nemuin keluarga gue?!” Emosi Sinar membara bahkan ketika dia sudah melampiaskan pukulan tak tertahan pada Noren.


“Astaga, mending lo tenang dulu, deh. Sakit anjir, pukulan lo” Noren memegang pipinya perlahan. Mencoba membuat ekspresi terluka, dia meringis saat sengatan masih menyuarakan rasa sakit.


“Berhenti main-main sama gue, bajingan!”


Noren berdecih. Meludah pada satu sisi saat dia merasakan karat dari darah yang mengucur dari luka gesekan gusi dan gigi juga benturan yang disebabkan oleh Sinar.


“Nar, mending lo diem dulu sebelum gue ikut emosi dan malah buat semua permasalahan konyol ini semakin besar? Dari awal juga ini sama sekali bukan permasalahan karena lo tau akhirnya bakalan begini, kan?”


Sesantai dan sedinginnya Noren, dia juga adalah sosok yang mudah untuk terpancing dalam hal-hal mendesak. Dia sudah tahu akhir akan seperti ini dan lelaki itu mencoba yang terbaik untuk tetap tenang karena dia yang memulai semuanya. Tetapi dia tidak tahan untuk mendapatkan kekerasan apapun lagi dari kebodohan yang Sinar layangkan padanya. Sahabatnya itu perlu untuk membiasakan diri dengan situasi yang seharusnya dia sudah tahu pada akhirnya. Mengapa semua hal dipermasalahkan sebesar itu? Sinar seperti sudah kehilangan pikirannya sejak awal, pikir Noren mudah.


“Emosi lo bilang? Seharusnya lo sadar diri, Noren. Yang buat semua hal makin rumit, tuh, lo dari awal. Dan apa yang lo bilang dengan akhir yang udah gue tau? Seinget gue seharusnya nggak begini? Kalau emang bakalan ada diskusi lagi, kenapa gue nggak di ajak? Kesannya lo yang malah maksa keadaan. Lo yang maksa semuanya lancar dengan akhiran yang begini. Brengsek!”


“Sinar, lo tau nggak, sih, sebenarnya sejak awal, lo nggak ada pengaruh sama sekali tentang hal ini? Lo nggak terlalu penting dalam diskusi perihal beginian. Dan sebenarnya, izin dari lo sama sekali nggak bisa dibilang berguna karena semua hal bukan berupa urusan lo. Ini urusan gue, orang tua gue, orang tua lo dan Nalisa. Lo cuma sebagai pelengkap doang. Kehadiran lo, tuh, cuma sebatas formalitas doang, Nar”


Rahang Sinar jelas jatuh dengan penuturan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Dia tidak habis pikir dengan apa yang dituturkan Noren. Ada satu pukulan penuh yang menohok jantung dan perasaannya. Ucapan Noren seperti peluru yang ditembakkan langsung menuju titik kunci sasaran. Mulutnya terbuka dan tertutup seakan banyak kata yang tidak bisa disampaikan secara langsung sehingga dia tidak bisa memilih untuk mengeluarkan yang mana terlebih darhulu. Noren tersenyum kecil, mengusap bibirnya yang masih berdarah.


“Gue nikah sama Nalisa cuma butuh restu dari Mama sama Papa lo. Urusan lo mau setuju apa nggak, ya, itu nggak bakalan jadi momok penghalang buat segala hal terjadi. Lo cuma kakaknya Nalisa doang. Selagi orang tua lo masih hidup, segala keputusan masih pada mereka. Lisa itu anak mereka, bukan anak lo, Nar. Sekali lagi, gue nggak perlu restu dari lo”


“Brengsek!”


Sinar baru saja akan melayangkan tinjuannya kembali dari tangan terkepalnya yang bergetar ketika Noren mencengkeramnya dengan keras. Tatapan mata sekeras batu milik Noren jatuh pada kedua mata Sinar seperti hunusan pisau berujung tajam.


“Udah cukup lo mukulin gue. Gue emang udah mikirin tangan lo mana yang duluan nyapa wajah gue. Tapi gue rasa, ini udah cukup. Lagipula, lo udah DP emosi lo sebelum gue pergi. Inget?”


Sinar mengikuti gerakan Noren yang mengingatkannya pada perkataan aneh sahabatnya itu tiga hari yang lalu. Di malam ketika instingnya menyuruhnya untuk pergi menemui Noren dan dia malah melakukan sesi curhat colongan dengan sahabatnya itu. Sinar berdeguk, dia bahkan merasakan pahit ketika menyebut Noren sebagai sahabatnya lagi. Lelaki itu jauh seperti monster yang mengisi raga sahabatnya daripada yang seharusnya.


Menepis tangannya dari cengkeraman Noren, Sinar mundur. Dia mencoba yang terbaik untuk menahan dirinya lagi. Menghela napas dalam dan berat, dia menghunuskan tatapan pada Noren yang tersenyum senang seolah mereka tidak melakukan pertengkaran apapun. Lelaki itu sangat santai bahkan setelah melemparkan kata menyakitkan pada Sinar.


“Sekarang, daripada lo bertingkah kayak orang kesurupan gitu, kita nyari angin aja ke pantai. Lo juga bisa nenangin diri lo sambil gue cerita tentang hasil diskusi gue dengan orang tua lo gimana. Pernikahan gue sama adek lo bakalan di gelar sebentar lagi, lho. Lo nggak penasaran?”


“Gila lo, Ren. Sumpah, kewarasan lo udah nggak ada lagi”


“Sejak kapan gue punya kewarasan kalau itu udah nyangkut soal adek lo?”


Sinar bisa merasakan dirinya merinding. Seringaian Noren tidak main-main saat ini. Memang, dia tidak tumbuh berdekatan dengan Noren dalam beberapa tahun dan hanya disatukan kembali setelah melakukan panggilan telpon dan pesan yang tidak terlalu sering terjadi sampai mereka bekerja di Negara yang sama dan menjalin kerjasama satu sama lain. Dia sudah tahu posisi jatuh Noren dan dia sudah hapal bagaimana tingkah lelaki itu yang berubah sesuai dengan mood-nya dalam satu hari. Dia juga sudah melihat bagaimana Noren yang gila kerja hingga gila karena cinta dalam satu waktu yang sama.


Tapi, melihat sahabatnya yang menggebu seperti ini, licik dalam jalannya sendiri dan pemikiran yang berbeda daripada apa yang sebenarnya dia tunjukkan di luar, Sinar merasa berhadapan dengan orang lain. Itu adalah apa yang dia pikirkan ketika melihat Noren pertamakali. Namun dia merasa lebih ragu daripada apapun yang dia percayai, tentang bagaimana sosok yang di depannya ini adalah Noren Agustion Giovano sebenarnya. Noren memang licik, namun orang yang didepannya ini sama sekali berbeda. Jauh dari apapun yang bisa dia pikirkan dan dia lebih-lebihkan.


“Lo sadar nggak, Ren? Lebih daripada lo ngungkapin cinta sama adek gue, lo malah jatuhnya obsesi sama Nalisa. Lo bisa bedain cinta sama obsesi, nggak?”


Dalam lantunan suara yang lebih tenang tanpa gejolak amarah, Sinar mengutarakan sebuah pertanyaan dalam nada kekecewaan yang ia telan jauh. Perasaannya campuraduk hingga dia tidak bisa menempatkan dimana dia sekarang. Jauh daripada itu, dia merasa sangat bersalah dengan adiknya. Dia merasa gagal untuk melindungi adiknya dari orang seperti Noren. Awalnya dia kira, semua hal akan baik-baik saja dan dia bisa mempercayai sahabatnya seperti dia mempercayai keluarga. Namun apa yang sebenarnya dia lakukan? Dia hanya membuka pintu pada sesosok monster yang akan menjadi kekacauan dalam hidup adiknya. Dia merasa menjadi sosok orang yang payah dan sangat salah.


“Gue nggak terobsesi sama Nalisa, Nar. Gue cinta sama dia. Ini namanya perjuangan. Gue lagi berjuang buat cinta dan hidup gue. Buat cahaya dalam hidup gue yang harus gue kejar”


Noren memberi gestur untuk mengikutinya. Lelaki itu berjalan dengan langkah yang ringan menuju pantai yang saat itu tidak ada orang sama sekali karena dia sudah memesan pantai untuk dirinya sendiri dan Sinar dalam permasalahan obrolan yang satu ini. Dia hanya ingin pemandangan untuk dirinya sendiri dan puas dalam berbagai banyak aspek yang bisa dia dapatkan. Terlebih, dia tahu bahwa dia akan memenangkan perdebatan dengan Sinar bagaimanapun sahabatnya itu mencoba untuk mengkonfrontasinya.


“Ini jelas bukan perjuangan, Noren” Sinar menutur kata, berusaha untuk tetap sadar dari perasaan yang menenggelamkannya.


“Tau apa lo tentang perjuangan” Noren membalas dengan intonasi yang menampar.


Tatapannya keras ketika dia menoleh pada Sinar. Tamparan keras dari angin pantai dan terik matahari menjelang siang menyengat di kulit kering tanpa pelindung apapun. Desiran pasit pantai yang berbenturan langsung dengan ombak menambah ribut di telinga-, merusak sedikit kinerja otak yang macet.


Sinar mengangkat pandangannya pada satu garis lurus pada Noren. Matanya yang menatap berusaha menyembunyikan kilatan rasa sakit dan keterkejutan lebih lanjut ketika Noren mengangkat suaranya lagi untuk menyerangnya dari berbagai sisi.


“Orang kayak lo yang nggak bisa bergerak maju buat memperjuangkan cinta dan perasaannya nggak usah ngajarin gue tentang perjuangan, Nar. Lo selalu datang ke gue buat ngomongin tentang perasaan lo dengan Hala itu tanpa pernah ada perubahan. Itu lagi dan itu lagi rengekan lo ke gue. Lo sebut lo berjuang dan tau tentang arti berjuang kalau lo sendiri nggak pernah ngelakuin definisi yang sebenarnya dari kata itu”


Noren memutar matanya dalam kilatan amarah yang mulai menguasai dirinya. Berbalik, dia berusaha untuk tetap tenang. Kakinya yang tak terbalut alas kaki apapun bertabrakan langsung dengan pasir pantai yang lembut membuai namun menyengat dalam panas matahari yang memanggang mereka terus menerus.


“Yang berjuang disini, tuh, gue kalau lo mau tau. Yang serius disini itu selalu gue. Gue mencoba segala hal buat bikin adek lo ngeliat gue. Di sela-sela kesibukan gue, gue sempatin waktu gue buat nemuin adek lo. Buat mikir apa yang bisa nyenangin hati dia. Lo kira mudah buat dapat penolakan terus menerus? Cacian dari adek lo terus menerus tentang seberapa besar effort gue buat dia? Lo kira mudah buat mutar otak apalagi yang harus gue perbuat untuk menarik perhatian adek lo? Nggak ada yang mudah sekalipun gue udah buat rencana bertahun-tahun sebelumnya”


“Hampir tiga bulan ini gue berjuang buat buktiin seberapa besar cinta gue ke dia. Gue buktiin seberapa pantas gue buat dia dari perlakuan gue. Bahkan, gue selalu belajar buat coba hal-hal baru yang mungkin bisa bikin Nalisa tau dan sadar bahwa gue ke dia itu serius. Tapi apa yang gue dapat?” Noren tertawa terbahak dalam humor yang sama sekali tidak ada saat dia mulai memuntahkan kata selanjutnya.


“Temen” lagi, ada tawa hambar yang Noren kemukakan. Sinar yang mengekor, merasa jantungnya terbentur sesuatu dalam kesadaran. “Dari sebanyak itu effort yang gue lakuin buat adek lo, apa yang gue dapat? Cuma sebatas hubungan temen doang dari dia. Jadi selama ini, perjuangan yang gue lakuin hanya berbuah dalam hubungan sebatas pertemanan? Emang apa yang gue lakuin sama apa yang temen lakuin itu sama? Mudah banget adek lo merendahkan perasaan gue kayak gitu?”


“Tapi perasaan nggak bisa dipaksa, Ren. Mana tau emang posisi lo cuma sebagai temen buat dia? Lagipula itu juga udah kemajuan. Bisa aja kalau lo berjuang sedikit lebih lama lagi, dia luluh sama lo. Bukan dengan pemaksaan gini, Ren”


“Diem lo, brengsek” Noren menggertakkan giginya kuat-kuat sehingga Sinar bisa sayup-sayup mendengar “Gue berjuang bukan buat dapatin status temen. Tapi gue berjuang buat dapat tempat yang pantas di hatinya”


“Memang kalau dengan pemaksaan begini, lo bisa dapat hatinya?”


“Seenggaknya gue dapat raganya”


Sinar menggeleng dengan tidak percaya. Noren sungguh membuatnya stress. Kepalanya sudah kembali dalam denyutan sakit yang parah.


“Sinting”


“Gue emang secinta itu sama adek lo, Nar” Senyuman lebarnya ia tunjukkan, berikan pada sahabatnyadengan satu tepukan ringan di bahu yang dengan cepat Sinar hempaskan. “Kalau gue udah dapat raganya, gue juga perlahan bisa dapat hatinya. Seenggaknya, dia udah seutuhnya jadi milik gue”


“Obsesi gila lo nggak bakalan bikin lo kemana-mana dan nggak bakalan bikin adek gue cinta sama lo”


Sinar mengingatkan kembali. Noren, dengan langkah ringannya memutari Sinar dalam gerakan berupa lingkaran penuh sebelum mendorong lelaki itu untuk merasakan ombak pantai di kakinya, terkekeh. Melingkarkan lengannya dalam rangkulan lembut persabahatan. Dia membuai Sinar dalam ucapan ringannya yang konyol.


“Seenggaknya gue bukan pecudang kayak lo, bestfriend”


Tentu saja itu adalah satu kalimat sarkas dengan penekanan ejekan canda di ujungnya. Tetapi mendengarnya sedekat itu, Sinar merasa tubuhnya berat seperti membatu sedangkan disisi lain, dia sudah tidak bisa berpikir rasional lagi. Dia hampir gila dengan tingkah dan ejekan Noren yang memakannya hidup-hidup dari kaki hingga ke kepala.


“Seenggaknya gue bukan orang gila penuh obsesi kayak lo, Noren”


Sadar diri dan keaadan, Sinar segera mendorong Noren menjauh. Dia butuh udara segar untuk bernapas dan memulihkan keadaannya yang berantakkan. Belum selesai dengan desakan ibunya, bagaimana cara dirinya melindungi adiknya dan senyuman bahagia milik Lisa, dia dihadapkan untuk berdamai pada keadaan dimana sahabatnya memaksanya berpikir bahwa ini adalah jalan yang benar untuk di ambil. Bahwa apapun yang Sinar lakukan adalah tidak begitu penting dan dia benar seorang pecundang yang kalah. Dia tidak berkembang dan dia selalu tertinggal jauh. Dia dihadapkan dengan kenyataan dimana dia tumbuh dalam tuntutan yang membuat kepalanya tidak bekerja dengan baik dan selalu memilih jalan lurus dalam ketetapan hidup dari kedua orang tuanya. Dia sudah dididik untuk melangkah mundur ketika orang lain mengancamnya dalam sebuah fakta tamparan meskipun hal itu adalah manipulasi belaka.


Sinar benci ketika dia merasa gagal dan tidak bisa melakukan apapun dan terbuai dengan kalimat yang disampaikan oleh orang lain. Tentang bagaimana dirinya benar tidak bisa untuk melakukan perlawanan berlebih yang tidak perlu. Hatinya berkata dia harus berjuang untuk kebebasan adiknya karena dia akan selalu merasa bersalah jika dia tidak melakukan apapun utntuk adiknya, tetapi kepalanya sudah diisi dengan fakta bahwa dia menyedihkan, bahwa dia adalah pecundang dan bahwa dia sama sekali tidak melakukan perkembangan diri yang spesifik. Dia benci ketika dia tidak bisa mengendalikan dirinya sebaik apapun Sinar berusaha.


Sinar benci mengetahui dirinya lemah dalam keputusan hidup yang dia ambil. Dia benci ketika dia hanya bisa menutup mata dan mengangguk pada ucapan Noren selanjutnya dan dia hanya bisa menagih kepercayaan dalam janji yang diyakini oleh sahabatnya dengan tegas sebelum tawa hadir dan segala hal yang rusak tidak terlihat begitu rusak lagi dalam pandangannya.


“Jangan sakiti adek gue, Ren. Lo udah janji sama gue” dia menelan ludahnya keras, “Lo udah janji sama gue buat nggak nyaitin Nalisa. Gue pegang janji lo sampai akhir, Ren”


“Jangan khawatir. Gue udah janji sama lo gue nggak bakalan sakitin dia. Nalisa orang yang gue sayang, Nar. Nggak bakalan gue sanggup buat sakitin dia. Gue janji”


“Gue pegang janji lo”


“Gue berani bertaruh buat itu, bro. Sekarang, nikmati hari libur curian lo dan nikmati pantainya, sahabat!”


Sinar benci bahwa dia kalah dan diharuskan mundur dalam satu pukulan telak. Dia hanya ingin melarikan diri.


...………...


Dering sambungan membuat Sinar berdegub, dia memohon dalam lirih harap. Tiga dering sambung yang terasa seperti selamanya, dia segera menyembur kata.


“Hala, gue butuh lo. Tolong, gue butuh lo. Kasih waktu lo buat gue. Gue mohon”


.........


...🍁...


...Keputusan Sinar; Desak Langkah Mundur...


.........


...🍁🍁🍁...


...PROMOSI NOVEL KARYA ANGGRAENI ARP...


...JUDUL: CINTA DALAM BALAS DENDAM...


Grisella Yudisti, adalah seorang gadis muda yang memiliki banyak kemampuan. semenjak Grisella kecil ia tidak pernah merasakan keramaian di luar sana, karena selama ini ia hanya di didik di rumah seperti sekolah dan lainnya .


Suatu saat tahta ayahnya diambil oleh keluarga pendatang baru yang bermarga Jian, setelah hampir enam belas tahun selalu di rumah, Grisella di perintahkan ayahnya untuk keluar dan bersekolah di asrama yang sama dengan anak tunggal keluarga Jian.