
Dia menutup pintu dengan perlahan, bersandar dibaliknya untuk mendengar deru mesin mobil yang berlalu dari pekarangan rumahnya. Diam-diam membuka pintu kembali, Lisa bisa melihat sisi belakang mobil Noren mulai pergi dan menjauh. Helaan napasnya jatuh, sebelum akhirnya dia kembali menutup pintu rumahnya. Salah satu tangannya menggenggam kertas berisi kue ikan dan yang lainnya berhasil memijat pelipisnya yang berdenyut.
“Ya ampun..” giginya bergemeletuk.
Lisa mendorong dirinya untuk bangkit dan berjalan dengan malas ke dalam ruangan. “Capek banget, sih ngehadapin manusia satu itu. Sumpah, deh” dia menggerutu, aroma kue ikan ditangannya tiba-tiba saja membuat perutnya bergetar dan dia merasa mual. “Apalagi dia beliin beginian, nggak bakal habis. Buang-buang uang aja, sih. Emang ya, orang kaya tuh beda banget” Perempuan itu mencibir sebelum menginjakkan kaki di ruang tamu. Matanya melihat ke sekeliling, dia tahu bahwa kakaknya pasti sudah pulang.
Benar saja, Sinar berada di sofa, menatapnya dengan cengiran menggoda yang sejak pagi tidak pernah hilang dari wajah yang ingin ditonjok oleh Lisa itu. Sayangnya, kakaknya terlalu tampan, jadi properti itu harus sedikitnya untuk dijaga.
Lisa berdiri tepat di hadapan Sinar dengan tatapan tajam, berharap tatapannya bisa memotong tubuh sang kakak menjadi banyak bagian. Setidaknya, dia ingin kakaknya peka bahwa dia sedang sangat kesal.
“Adek gue baru pulang, nih. Gimana, seru nggak ngedatenya?” Sinar menaik-turunkan alisnya, menggoda sang adik yang memutar matanya dengan kesal. Lisa menahan diri, maju sebentar untuk memberikan kertas kue ikan kepada kakaknya dengan kasar.
“ngedate gundulmu, kak” Lisa meludahkan kata sebelum jatuh untuk duduk di sebelah sang kakak yang matanya sudah melirik kertas makanan ditanganya dengan tatapan berbinar.
“Wuih, pulang-pulang dapat makanan. Enak banget” cengirannya lebar dan dengan cepat pria itu menggigit satu kue ikan dengan gembira. “Makasih lho, masih peduli sama gue” lalu ada tawa disela kunyahan. Lisa menatap kakaknya dengan jijik sebelum mengusap wajahnya yang lelah.
“Kak,” dia mengurai sedikit rambutnya yang berantakkan disekitar wajahnya, tahu bahwa mandi dan tidur adalah opsi terbaik sejauh ini. Tetapi tetap saja, dia ingin berbicara serius dengan kakaknya yang menyebalkan yang sialnya dia sayang dengan sepenuh hati. Jika saja kakaknya lebih baik lagi, Lisa mungkin tidak akan mengeluh setiap waktu.
“Lo kok jahat banget sih sama gue? gue capek mau pulang lo malah narik Alpino dari ngejemput gue. Terus lo malah nambahin capeknya gue dengan ngirim Noren ke gue dan ngasih tau tempat yang paling gue senengin. Lancar banget lo ngasih jalan ke dia ya, kak”
Lisa melirik ke arah kakaknya yang tersenyum geli. Menelan gigitan terakhir dari kue ikan pertamanya, dia berbalik ke adiknya dan memberikan usapan sayang di kepala Lisa yang berbanding terbalik sekali dengan apa yang sedang mereka diskusikan.
“’Kan udah gue bilang dek. Gue bakalan dukung Noren sepenuhnya” dia nyengir. “Tapi gue juga mikirin kesejahteraan lo, ‘kan? gue tau lo pasti lagi capek banget karena launching produk baru akhir-akhir ini dikerjaan lo. Gue sebagai kakak yang baik pengen banget buat adeknya ceria lagi. Karena gue tau apa yang bisa naikkin mood lo, ya.. meskipun bukan gue yang nemenin, tapi tetap aja ‘kan lo bisa agak longgar dari stres?”
Sinar tersenyum sebelum bangkit. Cakrawijaya sulung itu bergerak dengan cekatan ke arah dapur, meninggalkan Lisa yang mengernyit bingung ketika kemudian kakaknya muncul dengan satu susu putih hangat ditangannya. Menyerahkan ke Lisa, senyuman Sinar benar-benar membuat Lisa aman dan nyaman.
“Jadi, gimana tteokbingsu-nya? Enak?” Lisa memegang gelas susu dengan cemberut di wajahnya, kemudian mengangguk kecil. “Enak sih, tapi temen makannya yang nggak enak. Malah bikin capek” Dia mengomel dengan suara kecil sebelum meminum susu yang diberikan Sinar. Lisa merasa lelahnya menguap tiba-tiba dan rileks mengambil alih tubuhnya.
“Nggak apa–apa, toh masih pendekatan. Nanti juga makin nyaman” Sinar terkikik sebelum dia kembali dengan cemilan malam yang diberikan sang adik untuknya.
Ada waktu yang hening dan nyaman. Lisa bersandar di sofa dengan perasaan lembut dan ketenangan. Di sebelahnya, Sinar hadir dengan sangat cocok seperti potongan puzzle yang utuh. Lisa hampir tertidur jika saja Sinar tidak menepuk bahunya dengan lembut.
“Mandi dulu gih, dek. Biar lebih enak tidurnya” Suara sang kakak lembut. Lisa mengangguk sebelum meletakkan susu yang tinggal sedikit di atas meja kopi di depannya. Ingin bergerak, dia mengingat sesuatu sebelum akhirnya duduk lagi dan terang–terangan menatap kakaknya yang hanya memberikan wajah penasaran pada apa yang akan dia katakan.
“Kak, lo berapa lama disini?” Dia bertanya dengan ragu. Yah, Sinar tidak pernah tinggal lama sejak dia mengurus bisnis keluarga mereka yang ada di Jepang dan Singapura. Belakangan ini, dia mengambil alih perusahaan yang ada di Jepang dan kembali hanya dalam waktu yang singkat tetapi teratur. Juga, akhir-akhir ini ketika Sinar lebih lama berada bersamanya dan bersikap semanis ini dengan dirinya, dia jadi ingin kakaknya lebih lama bersamanya. Sinar tersenyum manis sebelum mengelus punggung Lisa.
“Lama” Dia tertawa kecil, penuh rasa sayang. “Gue ambil alih perusahaan disini, dek. Cabang kantor Papa yang kemarin dipegang Mas Zaki sebelumnya, sekarang gue yang pegang. Di tempat sebelumnya udah ada Mas Erlangga yang handle. Papa juga udah ngasih izin. Jadi, ya.. lo harus biasain gue disini terus” cengirannya semakin lebar dan Lisa tidak pernah lebih bahagia dari pada mendengar kakaknya akan bersamanya terus. Dia berhambur ke pelukan kakaknya seketika. Tawa puas keluar dari bibirnya. Meskipun Lisa tidak begitu senang dengan godaan-godaan dari sang kakak, tetap saja Sinar adalah yang terbaik dan dia tidak akan segan membuat Sinar ada di dekatnya selamanya.
Yah, menjadi adik yang dimanjakan sang kakak semanis Sinar adalah yang terbaik. Lisa merasa sangat beruntung, tetapi di sisi lain yang sedang ingin dia abaikan, dia sama sekali sedang tidak berada dalam lingkaran kata beruntung itu sendiri.
“Lho, tumben peluk peluk?” Sinar terkikik geli. Tangannya terangkat dengan insting untuk mengusap rambut Lisa dengan sayang. Lisa berdecak sebelum melepaskan pelukannya dan berdiri dengan cepat. “Seneng sih gue, lo bakal disini terus. Tapi gue yakin lo pasti punya maksud lain” Lisa menuding, meraih tasnya yang tergeletak di sofa bekas dia duduk sebelumnya dan kembali menatap Sinar dengan intimidasi.
“Lo pasti mau bantuin temen lo buat deket sama gue, ‘kan?” Lisa melotot, tetapi tidak ada asin yang keluar dari ucapannya. Lisa tahu bahwa kakaknya akan memuluskan jalan apapun untuk Noren, tapi dia tidak akan goyah di kakinya karena dia memiliki prinsip yang kuat. Sinar mengangkat kedua bahunya dan dia tertawa, senang dengan olok-olokan.
“Dan deketin Hala dong, pastinya” Dia mengejek seperti anak kecil dengan lidah yang menyembul dari bibirnya yang ditipiskan dan Lisa berdecih geli sebelum tertawa. “Gue doain deh berhasil naklukin tuh anak. Yaudah deh kak, gue mau ke kamar, ya. Capek banget gue, sumpah” Lisa melambai pada kakaknya dan berjalan dengan ringan ke kamarnya. Tetapi kemudan berhenti ketika sang kakak memanggilnya dengan ragu.
Lisa berbalik dan memberikan tatapan bertanya, yang sebenarnya sudah setengah sadar karena dia sangat lelah sekali.
“Um.. btw dek, ngapain si Hala minta nomer Noren ke gue ya, dek?”
Lisa mengerjap. Hala ternyata benar-benar meminta nomor Noren pada kakaknya. Perempuan itu menggeleng tidak percaya sebelum mendesah. “Yah, mungkin mau ngedeketin temen lo itu kak. Makanya ayo gercep, ketikung tau rasa lo” Lisa tertawa keras, berbalik dan melambai. Sinar mengerang sebelum memekik bahwa itu tidak akan terjadi. Meyakinkannya bahwa Noren tidak akan melirik Hala karena pria itu sudah mendeklarasikan diri untuk Lisa.
Masuk ke dalam kamar mandi, Lisa menatap dirinya dicermin besarnya. Matanya menelusuri bayangannya yang sudah terlihat sangat kusam karena kelelahan yang melanda dan tubuh yang lengket karena butuh mandi. Tetapi anehnya, Noren dan ucapannya melayang-layang di kepalanya. Lisa memikirkan banyak hal yang terjadi di kedai tadi. Memikirkan bagaimana Noren terlihat santai dan bersenang-senang di sekitarnya. Yakin sekali bahwa dia memiliki minat yang sangat besar untuk Lisa.
“Kenapa gue…?”
“Aku udah cinta sama kamu, Lisa”
Lisa berdecih tidak terima ketika mengingat ucapan Noren yang satu itu. Dia meremehkan.
Karena,
“Cinta, ya?”
Lisa mendorong tubuhnya dari pintu sebelum melucuti pakaian dari tubuhnya.
“Lo nggak bisa bilang cinta semudah itu, kak. Gue nggak akan percaya sampai kata itu bisa bener-bener dibuktiin”
...….....
Pagi datang begitu cepat. Lisa mengerang ketika dia harus kembali ke rutinitasnya yang biasa. Pergi kerja dipagi hari, digoda oleh kakaknya yang menyebalkan, bertengkar dengan Alpino karena kemarin malah pergi bermain dengan Sinar dan memulai kembali dengan pekerjaan barunya, masih sama menerima tatapan-tatapan penuh rasa ingin tahu dan menyedihkan dari teman-teman Hala di divisi pemasaran.
Lisa melihat bagaimana anak–anak divisi sebelah terlihat lebih lelah dari pada biasanya. Memang benar seperti itu-, sudah sewajarnya. Karena ketika mereka mengeluarkan produk baru, maka tim pemasaran akan bekerja lebih ekstra daripada biasanya. Dia saja baru mendapati Hala diantar terlambat oleh Heksa. Matanya masih merah karena kurang tidur. Dia cemberut ketika Miss Ivora, ketua divisinya menatapnya dengan tatapan tegas dan dibawa ke ruang santai untuk ditegur. Tetapi Hala masih bisa merengek seperti bayi kepada ketua divisinya seolah-olah dia hanya merengek pada ibunya.
Lisa menggeleng sebelum matanya terpaku kembali ke arah kelopak mawar putih yang masih segar, mengingatkannya kepada Noren dan kartu yang dia lempar ke dalam lemari ketika dia selesai mandi tadi malam. Berpikir kembali, Lisa menjadi tidak begitu tenang dengan apa yang akan dilakukan Noren kali ini. Semoga saja bukan hal-hal yang membuatnya ingin muntah lagi.
Dia sadar ditatap oleh Anela dengan aneh. Lisa melambai padanya dan perempuan itu hanya mengangguk sebelum fokus pada lipstik dan kaca ditangannya.
Dia tersentak ketika Jelita berjalan dengan salah satu bunga tulip putih itu. “Eh, Miss Jelita” Lisa bersuara tanpa bisa dicegah. Perempuan berkacamata itu berhenti sebelum menatap Lisa dengan bingung.
“Iya, kenapa Lisa?” Lisa gugup sejenak sebelum berdiri dari bilik kursinya. “Um.. bunganya mau diapain?” Jelita berkedip sebelum tersenyum kecil, Lisa memperhatikan dengan gugup.
Dia mengikuti langkah Jelita yang ringan di depannya dan masih bisa mendengar penuturan Ivora untuk Hala. Berusaha membuat anak itu lebih tepat waktu bagaimanapun lelahnya pekerjaan. Meskipun Lisa tahu ini sudah keberapa kalinya Hala dimarahi, tetapi dia tetap menempati posisi pertama orang yang dipedulikan oleh Ivora dan merupakan anggota yang berdedikasi juga.
Lisa mengangkat bahu ketika dia melihat bagaimana Hala benar-benar merengek pada Ivora untuk dimaafkan layaknya seorang anak kecil. Jelita berdehem padanya dan Lisa tersentak. Perempuan itu tersenyum gugup sebelum mengambil dirinya di tempat Jelita sebelumnya. Bunga jauh lebih segar ketika Jelita memegangnya dengan lembut dan dengan air yang sudah diganti.
Lisa sebenarnya tidak begitu ramah tentang bunga ini karena tahu asalnya dari siapa, tetap Jelita terlihat senang dengan bunga-bungaan. Mungkin, Lisa bisa mendekati orang yang dikaguminya dengan hal ini juga. Jadi, dia memegang bunga dengan selembut mungkin agar Jelita memperhatikan.
“Sepertinya Miss Jelita suka bunga, ya?” Lisa berusaha mencoba membuka suara. Ada senyum simpul dari Jelita yang menandakan bahwa dia benar. “Iya saya suka. Mereka kelihatan sangat cantik, ‘kan? apa lagi putih melambangkan kemurnian. Saya suka. Gimana menurut kamu, Lisa?” jemari Lisa yang sudah merapikan bunga di dalam vas agak terganggu ketika atasannya bertanya balik padanya. Dia sumringah sebelum mengangguk dengan cepat.
“Sebenarnya, itu bagus, sih. Tapi saya beneran nggak tau banyak tentang bunga.. cuma tau.. mereka cantik” suaranya mengecil diujung dan Jelita tertawa lembut. Perempuan yang terlihat sangat terdidik dan berwibawa itu mengajak Lisa untuk kembali dan Lisa bisa melihat betapa mudahnya Jelita menempatkan bunga itu di tempat yang terihat lebih anggun dari sebelumnya.
“Satu pertanyaan cepat, ”
Lisa hampir menjatuhkan vas yang dipegangnya ketika Jelita bertanya. Tetapi akhirnya dia bisa menyeimbangkan vas dan meletakkannya dengan baik tanpa membuat kekacauan. Jantungnya berdegub kencang dan dia melihat wajah kaget yang sama dari Jelita sebelum dia mundur dan tersenyum geli.
“I-iya?”
Jelita mendengus geli sebelum menggeleng. Dia menunjuk bunga sebelum beralih pada Lisa. “Bunganya.. dari pacar kamu?” suara Jelita tegas dalam pertanyaan tetapi Lisa linglung dan menggeleng keras. “Nggak kok” dia menggigit bibirnya sebelum melanjutkan. “Nggak punya pacar atau apapun.. Bukan dari pacar” Lisa resah, kepalanya berputar dan membayangkan Noren yang tersenyum padanya dengan bunga dan Caramel Macciato dan juga perjalanan mereka kemarin. Belum lagi, Tittle Noren adalah calon suaminya yang dimana pria itu sangat bersikeras. Tetapi Lisa tetap tidak akan mendapatkannya. Lisa tidak ingin kedapatan jengkel di depan senior yang dikaguminya, jadi dia hanya nyengir berusaha terlihat tidak bersalah.
“Dari temen, sih..” Dia menggaruk tengkuknya, melirik ke arah Hala yang baru saja keluar dari ruang istirahat setelah dimarahi. Di belakangmya Ivora mengikuti, yang terlihat puas dan tatapan anak-anak divisi pemasaran yang memicing padanya. “Hadiah karena berhasil launching produk kemarin katanya” Lanjutnya kemudian. Dia tidak berusaha berbohong, tetapi dia juga sebenarnya tidak menganggap Noren sebagai teman atau apapun. Lisa hanya ingin mengakhiri pembicaraan sampai disini saja.
Jelita mengangguk dan tersenym kecil menyadari kegugupan anggotanya.
“Ah teman yang baik hati” Dia bergumam.”Kalau gitu, kamu bisa balik duduk dan kerja dengan penuh semangat!” Jelita melambai kecil sebelum kembali duduk dikursinya. Lisa membungkuk dengan sopan sebelum kembali duduk di tempat kerjanya sendiri.
Bingung sebenarnya. Lisa senang karena Jelita berbicara banyak padanya hari ini, tetapi dia juga jengkel karena mengingat Noren terus menerus karena isi percakapan mereka. Kepalanya tiba–tiba pusing.
Tapi tidak beberapa lama kemudian, sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.
“Nalisa Rembulan Cakrawijaya?”
Lisa berdiri dengan cepat ketika Pak Leo memanggilnya dengan dingin. Berbalik, dia bisa melihat buket bunga merah ditangan bossnya dan juga kotak besar berpita ungu yang cantik. Wajah pak Leo sulit dibaca, tetapi itu tidak terlukiskan marah atau jengkel, mungkin hanya terkejut atau ketidakpercayaan dan kegemasan pada yang lebih muda. Dia berkedip cepat ketika pak Leo meletakkan buket dan kotak besar itu di mejanya sebelum kedua tangannya terdampar di pinggang.
“Lain kali jangan letakkan paketmu di sembarang tempat” dia mengomel. “Dan jangan membawa hal-hal aneh dikantor. Simpan romansamu di luar, ini agak menjengkelkan” Bos muda itu cemberut, menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. Dia menatap kedua tangannya dengan tatapan yang membakar. Anak–anak diruangan berdiri tidak percaya dengan apa yang terjadi. Lisa sudah keringat dingin.
“Saya tidak akan melakukan ini lain kali, Saya bos kamu, Nalisa” Leo berbicara dengan nada atasan yang tegas dan sedikit kaku, Lisa hampir tidak bergerak di tempatnya, menunduk. “Hanya sekali ini saja saya toleransi dan ini juga karena pengirimnya agak mengejutkan saya.”
Lisa mengangkat kepalanya dengan cepat. Berharap bahwa apa yang akan dikatakan oleh atasannya itu bukan apa yang sedang dia pikirkan sekarang.
Tetapi Pria muda yang usianya hanya terpaut empat tahun lebih tua dari Lisa itu melanjutkan dengan senyuman yang bahkan tidak ingin Lisa baca sama sekali apa artinnya sebelum dia melanutkan,
“Saya nggak nyangka, lho kalau Mas Noren Agustion Giofano itu calonnya kamu. Tadi yang nganter kebetulan kenalan saya yang jadi tangan kanannya Mas Noren. Selamat ya, Lisa”
Leo menepuk pundaknya dengan cengiran senang. Berbanding terbalik dengan intimidasi sebelumnya yang sekarang lenyap tergantikan. Namun untuk Lisa ini adalah saat di mana dia merasa bahwa tubuhnya disengat listrik berkekuatan tinggi.
“P-pak..?”
Dia bisa merasakan anak–anak lain, anggota lain histeris disekitarnya.
Noren sialan!!
Lisa tiba–tiba ingin menghilang dan menendangnya jauh dari galaksi bima sakti ini.
“Oke, oke, kembali bekerja semuanya!” Leo bertepuk tangan. “Mbak Ivora dan Hala, datang ke kantor saya dalam lima belas menit. Saya butuh pembahasan lanjutan dan berkas kemarin hari ini”
Dan begitulah, Kepala Tim dari perusahaan Materiel de Maison itu berjalan kembali ke ruangannya seolah–olah dia sedang tidak sedang membuat kegemparan di dalam kantor. Lisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang gemetar sebelum terduduk dikursinya. Meringis, dia tahu anak–anak histeris dan dia tidak bisa mendengar apapun lagi karena terlalu berisik disekitarnya. Suara rekan divisinya adalah yang paling memekakkan telinga.
Ponselnya bergetar. Ketika Lisa meraihnya, dia melihat satu notifikasi dari nomor tidak dikenal.
_____
nomor tidak dikenal
Pagi Lisa, semoga harinya lancar, ya. Aku lupa buat catatan sebenarnya, jadi untuk sampaiin maksudku,
Semoga bunga paginya yang segar bisa nambah keceriaan kamu, ya. Dan itu fortune cookienya sudah kakak pesankan langsung ke koki, Jangan takut, isinya peruntungan bagus untuk kamu, kok.
salam sayang,
Yours, Noren.
____
...... ...
...🍁...
...Kejutan Baru, Terus Berlanjut-End...