
Setelah keluar dari restoran dengan situasi yang tidak begitu baik, Sinar sama sekali tidak bisa menemukan Lisa. Lelaki itu agak bingung bagaimana adiknya bisa menghilang secepat itu padahal Ayahnya menyuruh dirinya untuk mengejar sang adik tidak sampai dengan lima menit yang lalu. Celingak-celinguk seperti orang yang mencurigakan, Sinar memutuskan untuk turun dan bertanya kepada staff yang bertugas. Pasti ada yang melihat kemana adiknya pergi.
Jadi, Sinar memutuskan untuk menuruni lift. Banyak hal yang berputar dikepalanya. Sejujurnya dia tahu bahwa dia sudah salah dari pertamakali setuju dengan menjodohkan Noren kepada adik semata wayang dan kesayangannya tentu saja. Namun, dia tidak serta merta melakukan itu tanpa ada keputusan yang cocok menurut pandanganya pada waktu itu.
Noren sama sekali tidak berbahaya ketika dia meminta izin dan restu kepadanya dan keluarganya saat itu. Berjanji bahwa dia tidak akan memaksa perasaannya pada Lisa dan mengatakan bahwa dia akan mendekati adiknya dan membuat perempuan itu jatuh cinta padanya secara alami. Tapi bagaimana dengan kenyataan yang terjadi sekarang? Bahkan perseteruannya dengan Noren sama sekali belum berakhir.
“Permisi, apa Anda kebetulan melihat adik saya yang datang dengan saya beberapa waktu yang lalu? Reservasi ruangan atas nama Cakrawijaya dan adik saya memakai gaun semi pendek berwarna biru muda..”
Terlepas dari bagaimana kepalanya memiliki seribu pikiran acak yang simpang siur berantakkan, sarafnya ternyata masih berguna untuk dirinya secara reflek bertanya tentang adiknya kepada salah satu pelayan yang melintas di depannya setelah pintu lift terbuka secara tiba-tiba tanpa benar-benar dirinya sadari.
Pelayan itu terlihat agak bingung untuk sesaat sebelum pada akhirnya diselamatkan oleh salah satu pelayan yang mengantar Sinar dan Lisa ke ruangan makan malam tadi.
“Maaf, Tuan Cakrawijaya. Tadi Nona Cakrawijaya sudah keluar dari restoran. Jika Anda sedang mencarinya, Nona berlari ke arah kanan dari pintu utama” Pelayan itu membungkuk sopan dan Sinar segera berterimakasih pada sang pelayan.
“Terimakasih banyak. Ah, ini. Tips untukmu. Sekali lagi, terimakasih”
Sinar dengan cepat mengeluarkan tiga uang limapuluh ribuan kepada pelayan perempuan itu sebelum bergegas keluar dari restoran dan menuju pintu utama. Dia harus mencari adiknya secepatnya. Takut Lisa pergi jauh dan entah kemana.
Sinar agak kelimpungan ketika dia sudah berada di pintu utama. Berbelok ke arah kanan sesuai dengan intruksi, dia disapa dengan banyaknya pejalan kaki yang berlalu-lalang. Gusar, Sinar memutar otaknya yang sudah berisik untuk mencari tahu dimana adiknya akan berada di jam malam yang rawan seperti saat ini.
“Lisa lo kemana, sih? Jangan pergi jauh-jauh lo, dek!” lelaki itu mengerang, mengacak rambutnya yang rapi. Dia sudah stress karena kesalahannya sendiri. Sedari tadi, Sinar hanya diam karena dia merasa bersalah dan tentu saja karena dia kalah suara dari banyak orang di dalam ruangan itu.
Andai saja tadi dia berada di sisi adiknya dan memihak perempuan itu..
“Argh! Sinar kenapa lo bego banget, sih?! Apa yang bisa lo lakuin dengan benar dalam hidup ini, hah? sial!!”
Biarlah orang-orang melihatnya dengan aneh. Dia bahkan sama sekali tidak peduli dengan bagaimana pandangan orang lain terhadapnya. Dia sudah membuat banyak hal berantakkan sejak awal sekali. Jadi, apalagi yang diharapkan dari citranya yang perusak dan menjengkelkan ini? Bahkan untuk menjaga kebahagiaan adik semata wayangnyapun dia sama sekali tidak bisa dan malah mengacaukannya.
“Lisa, lo kemana, sih, dek? Jangan bikin gue khawatir..” suaranya serak. Jantungnya sama sekali tidak bisa berhenti berdetak karena terlampau cemas. Dengan tangan gemetar Sinar segera meraih ponselnya untuk menelpon sang adik. Berharap Lisa mengangkat panggilannya dengan segera.
Dua, tiga dan empat panggilan yang telah Sinar coba untuk mendapatkan kabar dari sang adik sama sekali tidak berbuah manis. Lelaki itu menghela napas gusar. Kepalanya sudah penuh. Satu hal yang sekarang dia pikirkan adalah mencari adiknya di tempat dimana dia bisa berada. Sekarang, dia membutuhkan mobilnya. Jadi, Sinar dengan lunglai memilih untuk menuju tempat parkir.
Dia baru saja menyerahkan tips kepada Parking Valet ketika caller id Huston tertera di layar ponsel yang sudah ia letakkan di holder mobilnya. Menghela napas, Sinar yakin Ayahnya pasti sedang mempertanyakan kemana adiknya pergi dan apakah dia sudah bersama Lisa saat ini yang pada dasarnya, melihat siluet sosok adiknya saja dia tidak.
Dengan berat hati, Sinar menggeser caller id untuk menerima panggilan sang Ayah. Berkendara dengan perlahan-lahan, dia takut jika dia kelabakan dan tidak fokus, bahaya akan mengincarnya dan orang-orang yang tidak bersalah disekitarnya. Dia harus cukup tenang utuk saat ini.
“Ya, Pa?” Sinar mencoba untuk berhati-hati. Tau benar bahwa Ayahnya yang keras ketika marah akan lebih mengerikan dan menyakiti hatinya lebih jauh lagi.
“Kamu dimana sekarang?” Suara Ayahnya terdengar sangat berat dan tegas. Sinar bergidik sesaat.
“Baru ngambil mobil keluar dari resto, Pa. Maaf, aku belum ketemu sama Lisa..” Menggigit bibir, Sinar melanjutkan dengan lebih cepat. “Tapi aku janji bakalan cepat ketemu sama Lisa. Dia nggak bakalan pergi jau-.”
“Pergi saja ke Halte Anggrek II di dekat perempatan jalan besar. Papa sudah telpon adik kamu tadi dan suruh dia buat nunggu disana”
Ucapan Sinar yang terpotong tidak serta merta membuatnya tenang. Meskipun dia agak lega dengan keberadaan sang adik, dia tahu bagaimana Ayahnya yang pemaksa itu mampu untuk membuat Lisa yang keras kepala untuk berhenti dan diam di tempatnya.
“Baik, Pa. Aku kesana sekarang jemput Lisa sekarang juga. Kasih aku waktu sepuluh menit buat bawa Lisa balik ke resto lagi, ya, Pa” Kembali mengemudi dengan pasti karena dia sudah memiliki tujuan pasti, Sinar memiliki banyak skenario di kepalanya untuk membujuk adiknya sekaligus menenangkan perempuan itu.
“Nggak perlu balik kesini lagi. Semuanya juga udah selesai. Bawa aja adikmu itu pulang ke rumah. Ini sudah malam dan pastikan kamu jagain adik kamu dengan benar”
“Baik, Pa..”
Daripada ingin memperpanjang masalah, Sinar memilih untuk mengiyakan saja keinginan Ayahnya. Dia baru saja ingin memutuskan panggilan dan menenangkan dirinya sendiri dari ketegangan yang masih menguasai tubuhnya, Ayahnya sudah kembali bersuara dengan keputusan final. Sinar tahu bahwa dia tidak bisa pergi kemana-mana lagi dan harus dengan sukarela menyaksikan adiknya tersakiti dirumah perempuan itu sendiri.
“Sinar, dengarkan Papa. Mulai sekarang sampai pernikahan selesai, kamu harus jagain adik kamu di rumahnya. Kerjaanmu bawa pulang ke rumah dan Papa sudah suruh Wildan buat ngurus segala hal di kantor Nggak ada pergi kerja sendiri, nggak ada ninggalin adik kamu sendiri. Lisa harus dijaga dan Papa nggak mau ada kabar yang jelek lagi tentang adik kamu itu”
Suara tegas itu terpotong sebentar sebelum suara tegas dengan nada yang kencang kembali memutuskan keinginannya yang disuarakan.
“Jangan sampai nama keluarga kita jelek di depan kolega. Jangan sampai adik kamu mempermalukan keluarga kita. Ingat itu, Sinar”
Keluarganya mungkin sudah kelewatan untuk saat ini. Sinar bahkan tidak tahu kapan keluarganya bisa menjadi sangat berbisa seperti ini. Apa yang sebenarnya Noren lakukan kepada kedua orangtuanya?
...….....
“Lisa nggak mau, Pa! Kenapa, sih, Papa dan Mama sekarang kayak gini? Papa tau sendiri kalau Lisa nggak pernah mau dipaksa kayak gini! Jangan suruh-suruh Lisa buat hal yang nggak pernah Lisa mau, Pa!”
“Lisa kamu bisa dengerin Papa, nggak? Selama ini Papa selalu kasih yang terbaik sama kamu, jangan ngebantah Papa sekarang. Kamu nggak sayang sama Papa? Suka kamu kalau kamu permaluin Papa kayak gitu di depan orang? Iya?”
“Papa yang nggak sayang aku! Papa yang mau ngejual aku ke orang lain! Papa yang mau menyalahgunakan anak Papa! Papa, ini pemaksaan, Pa! Lisa punya hidup sendiri!”
“Sudah dua puluh tiga tahun kamu Papa sayang, Papa besarin dengan benar, Papa didik kamu dengan bagus. Ini sekarang yang kamu balas ke Papa? Kalau emang Papa nggak sayang sama kamu, sejak kecil udah Papa suruh orang lain buat jagain kamu. Atau kalau perlu, nggak bakalan ada nama Cakrawijaya di kamu sampai saat ini, Lisa”
“…Pa? Papa kenapa..? Kenapa Papa jadi gini sama Lisa… apa salah Lisa sama Papa sebenarnya sampai Papa ngambil kebebasan Lisa? Papa.. Lisa sayang sama Papa, tapi tolong jangan gini sama Lisa, Pa…”
“Papa sayang sama kamu, Lisa. Karena Papa sayang, Papa ingin yang terbaik buat anak perempuan Papa satu-satunya. Papa nggak bakalan ngelepas kamu ke orang yang salah. Noren anak baik. Dia bisa jagain kamu, Lisa. Papa nggak ngejual kamu, tapi Papa ingin kamu berada di tangan yang baik. Dengerin papa, Oke?”
“Tapi aku nggak bisa, Pa! Kak Noren bukan orang baik. Lisa nggak mau nikah. Jangan ambil kebebasan Lisa. Tolong Pa.. Lisa nggak mau”
“Kamu lagi nggak bisa mikir yang bagus sekarang. Papa sama Mama nggak pernah nuntut kamu yang nggak-nggak, kan? Dari dulu kami selalu sayang dan selalu berusaha yang terbaik buat kamu. Kamu mau apa dan ngelakuin apa selalu Papa bebaskan. Kamu nggak mikir sejauh ini apa yang udah kami lakukan buat kamu, Lisa?”
“Pa.. tapi Lisa nggak mau nikah sama orang yang nggak Lisa cinta, Pa. Tolong..”
“Sudah cukup. Papa nggak mau dengar penolakan. Sekarang kamu diam disana jangan kemana-mana. Sinar bakalan jemput kamu sebentar lagi. Kalau sampai kamu pergi atau nggak pulang malam ini ke rumah, Papa nggak akan segan-segan bawa kamu ke Jepang dan Papa kurung kamu di rumah utama sampai hari pernikahan kamu. Dengar Papa?!”
“Papa..”
Lisa tidak tahu kapan dia berhenti menangis dan hanya tersisa sesegukan yang menyayat hati. Dia tidak menginginkan apapun selain hanya berbaring sendirian di kamarnya yang gelap. Perempuan itu marah kecewa dan tidak percaya dengan apa yang terjadi di dalam hidupnya.
Memang benar selama ini bahwa keluarganya selalu mendukungnya. Selalu bersikap baik dengan dirinya dan membiarkan Lisa memilih kehidupannya. Tapi dia sama sekali tidak tahu bahwa kebebasan itu berbayar. Bahwa apa yang dia dapatkan semasa dia kecil sampai dengan remaja memiliki batas yang mengerikan.
Pernikahan adalah satu hal yang sebenarnya menakutkan untuknya. Dia bahkan tidak pernah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Hanya kekaguman pada beberapa orang dalam setiap perjalanan hidupnya. Tidak pernah benar-benar berpikir bahwa dia akan menemui pernikahan secepat ini dengan orang gila yang sama sekali tidak bisa dia lihat sebagai calon pasangan hidupnya.
Pernikahan adalah sakral. Sehidup semati dan Lisa tidak ingin pernikahan impiannya dihancurkan sampai seperti ini. Dia ingin bertemu dengan pangeran kuda putihnya, merasakan jantung berdebar karena jatuh cinta dan menikah dengan seseorang yang dia inginkan hingga pikirannya mengatakan bahwa orang itu adalah yang dia inginkan dalam hidupnya sampai dia mati.
Perkataan Ayahnya selama di telepon beberapa saat lalu adalah sambaran petir mengerikan dalam kehidupannya. Ayahnya yang selalu dia banggakan dan dia sayangi bisa-bisanya menekannya sedemikian rupa hingga mengancamnya sampai seperti itu.
Lisa merasa mual, ingin mengeluarkan semua yang berada di dalam perutnya namun itu hanya air yang kosong. Tidak ada yang bisa keluar dari bibirnya karena semuanya menyangkut di dadanya. Dia benci hal ini. Dia membenci bagaimana hidupnya terbalik sedemikian rupa.
Noren mengerikan. Monster itu sangat mengerikan. Dia adalah badai penghancur dan juga monster yang mengoyak hampir keseluruhan cahaya hidup Lisa.
Lisa tidak mengerti mengapa. Jika Noren benar-benar mencintainya, kenapa dia harus seegois itu untuk mendapatkan dirinya? Benar, Noren sudah berusaha sedemikian rupa untuk mendapatkan hatinya. Noren sudah melakukan banyak hal untuk membuat Lisa jatuh hati pada lelaki itu.
Lisa selalu percaya pada cinta. Dia sangat yakin perasaan itu sangat indah dan begitu bijaksana. Dia menginginkan hal itu. Ingin perasaan mencintai dan dicintai dengan orang yang tepat. Orang yang cocok untuk dirinya.
Namun, jika seperti ini, esensi cinta akan membuat Lisa membuang semua pikiran indahnya ke selokan. Lisa takut dia akan takut dengan parafrasa cinta itu sendiri dan Noren adalah orang yang membuatnya seperti ini.
“Dek.. mau temenin Kakak ke bawah, nggak? Kita ngobrol disana biar lebih enak. Gimana?”
Kepala Lisa terangkat mendengar suara Kakaknya dari balik pintu yang tertutup. Ruangan sangat hening sehingga bahkan bisikan sang kakak bisa di dengarnya dengan sangat keras di telinganya, di balik kemelut hati dan pikirannya, juga isi hatinya yang berdarah.
“Gue tau lo pasti lagi pengen sendirian. Tapi gue nggak bisa biarin lo sendirian sekarang. Apalagi tadi.. tadi Papa sudah ngobrol sama gue. Gue tau.. Papa pasti bikin lo terguncang ‘kan, dek?”
Lisa merintih. Teringat lagi percakapannya dengan Papanya beberapa jam yang lalu sebelum dia akhirnya mengunci diri di kamar gelap mengerikan dan dingin yang menusuk kulit. Ketika Sinar akhirnya menjemputnya dan mengantarnya untuk pulang ke rumah yang sama sekali tidak bisa dia rasakan kenyamanan lagi. Segalanya seperti sangat menyiksanya.
“Dek, ayolah.. ayo turun, ya? Gue udah buatin susu hangat kesukaan lo.. pake madu. Gue juga udah siapin raindrop mocha.. gue masih ingat loh kalau itu comfort food lo kalau lagi sedih… ya..”
Kakaknya terdengar sangat sedih sama seperti dirinya, tetapi tidak terlalu hancur seperti dia. Tiba-tiba, Lisa merasa marah. Dia marah dengan sang Kakak. Emosinya meluap-luap seolah jika dia tidak mengeluarkannya, dia akan meledak seperti gunung api.
“Gue benci lo, Kak! Gue benci, lo! Nggak usah sok perhatian sama gue! Semua ini salah lo! Lo juga bertanggung jawab dengan kehancuran gue! Gue benci lo kak.. gue benci!”
Dia meledak. Melempar bantalnya pada pintu dengan keras. Matanya masih kabur karena genangan air mata yang membanjiri.
Untuk sesaat suara sang Kakak sama sekali tidak terdengar. Lisa yakin bahwa Kakaknya sadar bahwa lelaki itu juga ikut andil dengan semua kehancuran ini. Lagipula, yang memperkenalkan Noren pertamakali adalah sang Kakak. Noren juga adalah orang yang berstatus sahabat untuk Sinar. Mereka berdua pasti sekongkol untuk menghancurkan dirinya.
Jelas, dengan pemikiran itu, Lisa berteriak lagi. Dia membenci semuanya. Dia benci kegilaan ini.
Dia tidak mau menikah!
“Dek..” suara Sinar bergetar ketika lelaki itu dengan beraninya memanggilnya kembali.
“Lo yang ngehancurin gue, Kak! Lo seharusnya ada di sisi gue. Tapi kenapa… kenapa lo nggak ngelakuin hal yang seharusnya lo lakuin.. kenapa lo juga ikut ngejatuhin gue Kak.. lo tau kalau pandangan gue terhadap pernikahan.. kalau.. kalau gue punya pilihan sendiri. Itu akhir hidup gue, Kak..” Lisa sesegukan. Suaranya agak cadel.
“lo tau gimana pandangan gue tentang cinta.. tentang pernikahan.. kenapa lo juga ikut jadi orang jahat di hidup gue, Kak.. kenapa..”
Dia tahu pikirannya sangat tidak rasional sekarang. Tapi itulah yang bisa dia pikirkan. Kebanyakan karena rasa sakit hati yang tidak bisa tersalurkan dengan baik. Racauan yang dia kira benar adalah apa yang dia kemukakan pada akhirnya.
“Maaf.. maafin gue, dek. Gue tau ini kesalahan gue..” Suara Sinar serak. Benar-benar seperti menahan diri dari menghancurkan dirinya sendiri. Lisa tidak perduli. Kakaknya harus tau dimana tempat dia berdiri sekarang.
“Karena itu, gue disini buat ngakuin semua kesalahan gue. Gue mau minta maaf sama lo dengan benar, dek. Tolongin gue. Gue udah capek dengan perasaan bersalah. Seenggaknya, dengan lo dengerin dari sisi gue, lo bisa tau seberapa besar gue berharap gue bisa jadi tameng buat lo dek. Gue sayang banget sama lo. Nggak pernah sedikitpun terlintas di hidup gue buat nyakitin atau ngehancurin adek gue sendiri”
Lisa menutup telinganya. Dia tidak ingin suara kesedihan sang Kakak menghancurkan dirinya untuk melepaskan kemarahan yang berapi-api. Seseorang harus merasakan kemarahannya. Jika dia tidak bisa mengamuk di depan orang tuanya ataupun Noren sendiri, setidaknya ada satu orang yang dia lampiaskan. Sinar juga bersalah, jadi Lisa tidak akan merasa buruk tentang ini ketika dia sudah sadar.
“Pergi, kak. Gue nggak mau denger apapun dari lo! Pergi! Lo sama aja kayak yang lain!”
“Dek.. please.. lo bisa marahin gue sesuka lo. Pukul gue, hajar gue. Terserah lo mau ngapain gue. Tapi tolong lo keluar, ya, dek? Kita ngobrol bareng. Lo boleh nyakitin gue biar lo tenang. Ayo, keluar, ya, sayangnya kakak?”
Sinar berseru dengan kata-kata yang patah di ujung Lidah. Lisa duduk dengan tidak berdaya. Dia tau sedang terlalu mendramatisir sekarang. Tetapi apalah daya ketika dia merasakan segalanya hancur di bawah kakinya. Hidupnya yang indah tiba-tiba berubah menjadi neraka.
Pernikahan tidak mengerikan, kata mereka.
Hidupmu akan baik-baik saja jika menikah, kata mereka.
Menikah saja tidak apa-apa. Cinta datang dengan sendirinya, kata mereka.
Persetan!
Orang-orang hanya bisa berbicara. Mereka hanya bisa mengada-ada. Tiap orang tidak memiliki kisah yang sama. Bagi Lisa, pernikahan adalah apa yang dia impikan. Cahaya cerah hidupnya dalam menghabiskan masa tua bersama orang yang tepat dan penuh cinta. Bukan dengan apa yang dinamakan pengekangan dan paksaan atas dasar cinta dan obsesi dari pihak lain yang sangat egois.
“Dek.. keluar, ya? Ayo? Nggak baik kalau lo sendirian disana terus.. gue takut lo sakit..”
Sinar masih mencoba. Kali ini Lisa mendengar ketukan hati-hati di pintunya. Memejamkan mata dengan erat, kepalanya terasa begitu berat. Pilihannya hanya dua, mengurung dirinya dan hancur dalam kegelapan kamarnya sendiri atau keluar untuk menghajar kakaknya dan mengeluarkan semua emosinya hingga perasaannya lega dan tetap hancur setelahnya.
“Lisa..”
Sinar hampir menyerah untuk membujuknya. Lisa hanya diam, menatap pintu kamarny dalam kegelapan dengan satu pandangan lurus.
“Nalisa..”
Itu satu suara lagi. Lisa masih diam. Untuk beberapa saat, Sinar tidak berusaha lagi. Tapi Lisa tahu sang kakak masih ada di depan pintunya. Menyandar dengan punggungnya di daun pintu.
Lisa tidak tahu apa yang dia lakukan ketika dia dengan goyah pada akhirnya berjalan menuju pintu. Perlahan-lahan dalam satu garis lurus. Matanya yang terbiasa dengan gelap setelah beberapa saat akhirnya bertemu dengan seberkas cahaya ketika dia membuka daun pintu. Sinar hampir terjungkal, tapi dengan sigap sang Kakak menahan tubuhnya di atas kedua kakinya yang kokoh.
“Dek..” ada senyum yang tertarik di wajah Sinar yang kusut.
“….makasih..”
Bugh!
“Gue masih marah sama lo!”
Satu pukulan ia berikan ke bahu Sinar. Lelaki itu mengaduh, tetapi puas ketika dia hanya tersenyum dan menarik Lisa dalam satu pelukan erat.
“Pukul gue sepuas lo, dek. Gue pantas buat dapatin pukulan lo”
Lisa tidak tahu mengapa, tetapi ketika Kakaknya mendekapnya sedemikian rupa dengan rasa sayang dan bersalah yang bisa dia rasakan hanya dari gerakan dan hembusan napas yang kasar, dia menangis lagi. Kali ini lebih kencang ketika dia ikut memeluk kakaknya dengan erat.
Lisa tahu dia tidak akan mati ketika dia dinikahkan secara paksa. Dia tahu matahari tidak akan terbit dari barat ketika dia pada akhirnya menikah dengan Noren. Lisa juga tahu bahwa tata surya tidak akan saling menabrak ketika Noren berhasil menjadikannya seorang istri.
Tapi Lisa juga tahu bahwa senyumnya tak akan sama lagi dan bahwa dirinya tidak akan bisa memandang dunia dengan cara yang sama lagi. Meskipun matahari bersinar dan pagi menyapa, kegelapan akan menguasai Lisa seperti mengejeknya sampai mati.
...🍁...
...Kakak dan Adik; Pertengkaran Saudara...
.........
...🍁🍁🍁...
:((