
”Sa, lo udah selesai ngebersihin bug di level 27 sistem buat game yang mau di launching hasil dari meet kita kemarin, belum? Gue butuh, nih, buat laporan ke Pak Adnan”
“Udah. Udah gue kirim ke email lo cetak birunya. Ntar lo bisa Cobain deh udah lancar apa belum tuh level. Kalau ada kesalahan kasih ke gue lagi biar langsung gue kerjain”
”Oke, sob. Thanks. Eh, kalau yang upgrade kemarin udah lo kelarin juga, Sa?”
”Udah aman. Langsung di pegang sama Ko Feng juga. Nanti kalau ada apa-apa langsung aja ke beliau. Ada lagi nggak yang perlu gue tangani hari ini?”
”Kalau yang design karakter barunya Si Taka buat game Hero Combat 2 udah kelar?”
”Baru setengah, sih. Paling tambah finishing sama nge-smooth animasi nya. Ntar bisa masuk ke beta game dulu buat jadi percobaan sebelum finishing release-nya. Ini buat tiga bulan lagi, kan, ya?”
”Anjir, kece banget lo semua lo kerjain secepat itu. Semangat banget ngejar kartap nya, Sa. Proud lah gue sama lo. Sudah, ah. Gue mau ke ruang Pak Adnan dulu. Jangan lupa istirahat lo, Sa. Udah kayak mayat hidup tau nggak, lo”
”Yoi. Sob. Aman”
Heksa menghela napas tajam. Bahunya yang tegang terasa sakit ketika dia gerakkan. Namun, dia harus terus mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai. Dia harus kembali memoles karakter, meningkatkan keterampilan sistem dan apapun yang bisa dia kerjakan akan dia habiskan waktunya disana. Heksa tidak bisa beristirahat barang sebentarpun. Dia harus bergerak dan terus melakukan aktifitas. Jika dia berhenti, dia akan hancur.
Heksa pernah melakukannya sekali. Dia berhenti mengerjakan apapun, berhenti membuat dirinya sibuk dan mencoba untuk menetralkan perasaannya serta mengikuti kemauan jeritan tubuhnya yang lelah. Namun hasil yang dirinya dapat dari itu adalah tangisan diam di tengah malam yang gelap dengan kasur dingin dan tidak nyaman.
Heksa sudah rusak. Dia harus terus bekerja atau jika tidak Heksa akan runtuh seperti kepingan puzzle yang terhempas. Dia tidak ingin menangis karena merasa hampa, karena kekosongan di sisinya membuatnya sangat tidak nyaman. Rasa itu terus membayangi Heksa seperti kegelapan yang ingin menelannya secara utuh. Setelah Hala pergi, Heksa tidak sama lagi.
Berbeda dengan bug yang selalu dia kerjakan dan selesaikan pada game dan pekerjannya, dia tidak bisa menyelesaikan apapun yang salah di dalam hidupnya. Jika dia tidur sebentar, ada banyak ledakan di dalam kepalanya dan dia akan mulai berpikir yang macam-macam. Jika Heksa mencoba untuk menutup matanya, banyak siluet yang membuat jantungnya terasa diremas dengan cengkeraman batu.
Heksa tidak bisa beristirahat. Dia tidak bisa membiarkan dirinya memikirkan banyak hal yang pada akhirnya membuat kepalanya sakit dan hatinya menderu sebuah keinginan dan kerinduan. Segala hal telah dirinya coba untuk hidup selayaknya hari-hari biasa dimana dia bisa menjalaninya dengan santai. Tetapi sayangnya, setelah satu orang yang selalu ada disisinya menghilang-, dia tidak bisa berfungsi dengan baik lagi.
Heksa merasa sangat frustasi. Ketika dia menutup mata, bayangan Hala menguasai pikirannya. Ketika dia mencoba beristirahat, dia berakhir menatap dinding gelap kamarnya yang dingin dengan air mata yang menetes tanpa sadar di wajahnya. Heksa membenci itu semua. Benci bagaimana dia tidak bisa hidup dengan layak setelah Hala tidak ada disisi nya lagi.
Jadi, daripada memilih untuk berkubang, Heksa membuat dirinya produktif. Heksa mengejar berbagai macam proyek yang telah lama mangkrak di PC-nya. Bahkan baru-baru ini lelaki itu sudah mencoba membuat beta game mini bertemakan penjelajahan kucing hitam mencari rumahnya. Dimana dia berpura-pura itu bukanlah kucing milik Hala, Pipang, yang juga Heksa rindukan untuk bermain dengan makhluk berbulu itu. Heksa juga menyangkal jika dia sudah menentukan endingnya dengan menunjukkan rumah sang kucing berbentuk seperti rumah milik Hala dan dengan sepasang manusia yang karakternya mirip seperti dirinya dan perempuan itu.
Heksa menyangkal bahwa dia sangat merindukan Hala. Namun pada kenyataanya dia sangat merindukan perempuan itu sehingga rasanya sakit sekali di dadanya. Heksa tidak menyangka bahwa kehilangan orang yang sudah dia anggap rumah tempat dirinya pulang membuatnya bisa sehancur ini.
Memang, Heksa bisa melihat Hala ketika mereka berkumpul di acara tahun baru di rumah Nalisa. Heksa bisa melihat bagaimana wajah Hala yang lembab dan tidak seceria biasanya ada di sisi Sinar yang sekarang menjaganya karena mereka memiliki komitmen satu sama lain. Heksa tidak mempermasalahkan hal itu, bahkan jika boleh jujur, dia tidak akan menganggap bahwa hubungan itu ada di antara Sinar dan Hala.
Bagaimana dia bisa menganggap mereka memiliki hubungan meski sebatas komitmen setelah Hala mengatakan bahwa perempuan itu mencintainya? Heksa tidak akan bisa merasakan apa yang ada di antara Hala dan Sinar itu adalah benar adanya. Dia masih sangsi dengan bagaimana Hala masih tidak akan pulang ke rumahnya dan membiarkan Heksa yang sudah sekarat ini untuk hanya beristirahat di pelukannya barang sebentar saja.
Heksa tidak pernah sejauh ini dari Hala. Heksa tidak pernah kehilangan kehangatan dari Hala meski hanya sehari lamanya. Hala akan selalu ada disisinya. Selalu tahu apa yang dia butuhkan dan selalu menjaganya seperti dia penting untuk perempuan itu. Sekarang, ketika dia hanya bisa melihat Hala dari kejauhan dan bahkan tidak sesering biasanya, Heksa rusak. Heksa tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri seolah setengah hidupnya dirampas begitu saja dari dirinya.
Sekarang Hala tidak pernah pulang ke rumah. Tidak pernah sekalipun bertanya tentang keadaan dirinya dan menghindarinya secara terang-terangan, Heksa merasa ada emosi yang menggenang di perutnya dengan tidak enak. Heksa tidak tahu apa itu tetapi dia membencinya.
Dia benci bagaimana hidupnya berantakkan. Heksa benci bagaimana kehadiran Hala adalah apa yang sekarang sangat dia butuhkan. Heksa membenci hidupnya yang tidak pernah dia bayangkan akan ada di titik jatuh terjauh seperti ini.
Heksa benci bagaimana otaknya akan memutar pertanyaan-pertanyaan aneh tentang perempuan itu. Apakah Hala makan dengan baik? Tidur dengan nyenyak? Dimana dia tinggal saat ini? Bagaimana harinya di tempat kerja? Apakah dia baik-baik saja? Apakah Hala merindukannya seperti apa yang dia rasakan saat ini?
Banyak. Banyak pertanyaan yang melayang dikepalanya dimana dia menepisnya dengan kembali bekerja dan fokus pada permainan gamenya yang ia mainkan di waktu-waktu dirinya sudah merasa kelelahan dan tubuhnya memberontak memberikan sinyal padanya untuk beristirahat.
Jadi, daripada dia memikirkan hal-hal bodoh itu, sekarang yang dia pikirkan adalah bekerja, bekerja, dan bekerja. Dia akan beristirahat ketika tubuhnya sudah berada di level terakhir tidak bisa menahannya lagi.
Layaknya game yang tidak berhasil mencapai akhir tujuan; game over.
Ponselnya berdering, membuat Heksa terkejut dan hampir limbung. Lelaki itu bahkan tidak percaya bahwa dia sudah melamun semenjak Robi beranjak pergi dan tidak bertanya apapun lagi padanya. Mengucek matanya yang hampir juling karena radiasi monitor PC yang membias matanya terus-menerus, Heksa memilih untuk mengangkat ponselnya.
Caller Id menampilkan nama Alpino di sana. Heksa sudah tahu kemana percakapan ini berjalan.
”Halo, Al. Gimana?” Suaranya serak, memanggil sahabatnya di ujung sana yang sepertinya sudah selesai dengan pekerjaannya.
”Lo udah persiapan buat lima hari besok nggak, Sa? Jangan lupa habis kerja lo ke sini bawa barang-barang lo. Karyawannya Bang Noren bakalan jemput jam 7. Lo bisa, kan?”
Suara Alpino santai. Ada background noise yang sepertinya menunjukkan bahwa dia belum sampai di tempat Alpino sama sekali. Rasanya terdengar seperti kebisingan di warmindo Ko Akoh.
”Udah gue. Aman, Al. Nanti sebelum jam 7 gue udah di tempat lo. Ini mau nyelesaiin kerjaan dikit doang. Aman” Heksa menjawab tanpa kebohongan. Dia hanya harus menyelesaikan sedikit dari game kucing hitamnya di level ke tiga sebelum menutup hari ini dan pulang ke rumahnya yang dingin dan gelap itu.
”Udah, nanti aja, Sa. Ini kalau kita telat nggak enak asli, deh. Mending lo pulang sekarang terus beres-beres. Lo udah dapat cuti nya, kan?”
Heksa menghela napas kecil. Memang benar yang dikerjakannya sekarang adalah game personalnya dan seluruh kerjaan dari kantor sudah dia lakukan hampir segalanya. Cuti-nya juga sudah diurus oleh Noren, jadi, dia memang tidak seharusnya terlambat untuk hari ini.
”Iya, deh. Ini gue siap-siap dulu buat pulang. Paling jam setengah 7 gue udah di rumah lo, Al” Jawabnya seraya mulai beranjak membersihkan.
”Oke. Gue sama Fajri tunggu lo di rumah gue, ya. Bye”
Dan dengan begitu panggilan terputus. Heksa mengantongi ponselnya. Tangannya mulai bergerak membereskan kaleng-kaleng kopi yang berserakan. Setelah beberapa menit dia membersihkan dan mengepak barang, Heksa pamit pulang pada anak-anak kantor seadanya dan mulai melajukan motornya membelah keramaian lalu lintas ditemani dengan biasan jingga matahari sore.
Lama dia memandangi pekarangan rumah milik Hala dan bertarung dengan pikirannya untuk masuk atau tidak karena dia memiliki akses untuk hanya menginjakkan kakinya di rumah kosong perempuan itu, dirinya lagi-lagi dikejutkan dengan kehadiran orang baru yang menepuk pundaknya secara tiba-tiba. Untung saja kakinya kuat menahan sisi-sisi motornya yang belum di standart.
”Eh, Bu Dian? Ada apa ya, Bu?” dengan masih terengah-engah karena keterkejutan, dia menyapa wanita paruh baya yang merupakan tetangga baik mereka yang memiliki senyum manis di depannya.
”Maaf ya ibu buat kaget Nak Heksa. Tapi tadi ada titipan dari Nak Hala. Katanya minta tolong dikasihin sama Nak Heksa kalau Nak Heksa pulang. Soalnya mau dipakai hari ini, ya?” Bu Dian dengan ramah memberikan satu set pakaian formal yang Heksa sadari adalah pakaian yang akan dirinya kenakan untuk menghadiri pernikahan Noren dan Nalisa minggu ini.
Setahu Heksa, pakaian itu dirinya kenakan ketika menghadiri acara penting kantornya dua bulan yang lalu dan tidak pernah dirinya kenakan lagi sampai hari ini. Pakaian itu tersimpan rapi di sudut lemari Hala yang memang disimpan oleh perempuan itu dengan baik. Heksa sendiri bahkan tidak sadar bahwa dia belum meletakkan pakaian untuk acara pernikahan di koper kecilnya.
”Oh. Terimakasih banyak, ya, Bu. Maaf kalau merepotkan. Tadi Hala ke sini, ya bu?” meskipun ini adalah pertanyaan yang memalukan karena jawabannya sudah pasti terpampang jelas dan nyata disana, Heksa tetap ingin memastikan.
Memastikan bahwa Hala akhirnya menginjakkan kaki dirumahnya lagi. Bahwa Hala pulang. Meskipun tidak bertemu dengan dirinya, Hala tetap memikirkannya dan mempersiapkan apa saja yang dia lupakan dan dia butuhkan. Hala masih memperhatikannya, Hala masih mengkhawatirkannya.
Jantung Heksa berdebar tidak karuan. Ada rasa sakit yang membuatnya sesak namun ada dengung bahagia dengan kenyataan bahwa masih ada dirinya di pikiran Hala. Rasanya bercampur baur membuat Heksa merasa ingin memuntahkan cairan kopi yang mengisi lambungnya sejak pagi hari tadi.
”lho, iya, toh. Tadi Nak Hala ke sini bawain ini buat Nak Heksa. Kalau engga Ibu dapat ini dari mana?” Bu Dian tertawa renyah sembari memberikan pakaian milik Heksa.
”Terimakasih banyak, ya bu” Dengan senyuman yang tiba-tiba menarik sudut bibirnya, Heksa mengambil pakaiannya dengan hati-hati.
”Iya sama-sama, Nak Heksa. Tapi tadi ibu lihat Nak Hala dateng sama cowok, lho. Kayaknya pernah, sih, Ibu lihat cowoknya itu tapi nggak sering. Kalau boleh tau, Itu pacar barunya Nak Hala, ya?”
Baru saja ada binar baik di hatinya, itu sudah dihancurkan lagi oleh ucapan tetangganya. Entah kenapa, Heksa merasa muak dengan gambaran itu. Dia sedang tidak ingin mendengar apapun tentang Sinar dan Hala. Jantungnya mengepal lagi. Rasanya seperti Hala-nya dirampas begitu saja oleh orang lain. Meskipun pikiran warasnya mengatakan bahwa hal ini bukanlah masalah, tetapi dadanya yang sesak tidak ingin mendengar apapun lagi yang berkaitan dengan ini.
Heksa merasa sangat muak secara tiba-tiba.
Muak ketika yang dia pikirkan adalah perempuan itu sejak awal. Muak ketika segala hal disekitarnya mengingatkannya tentang kehampaan tanpa perempuan itu disisinya. Muak karena perempuan itu dirampas oleh orang lain sebegitu mudahnya. Muak karena segala hal yang mencakup Hala membuat Heksa lemah di lutut.
Perasaan muak itu sekarang berputar di dadanya dan dia hanya ingin berteriak kepada siapapun. Heksa sudah tidak tahan lagi dengan apapun ini yang membuatnya jatuh dalam spiral kebingungan dan emosi yang membara.
Hala adalah miliknya dan dia akan mengambil miliknya kembali. Heksa akan pastikan Hala akan berada di tangannya lagi. Apapun yang terjadi.
”Nggak tau, bu. Tapi terimakasih, ya Heksa masuk dulu mau siap-siap buat pergi. Bu Dian sehat-sehat, ya” Itulah hal terakhir yang dia sampaikan pada tetangganya sebelum dia memasuki rumahnya dengan langkah seribu.
Heksa tidak ingin kehilangan Hala lagi.
..........
Ada banyak waktu dimana Heksa mencoba untuk mendekati Hala hanya untuk berbicara dengan perempuan itu. Tetapi, tiga hari pertama terasa seperti neraka dimana Sinar akan selalu ada disebelah perempuan itu. Sinar selalu dimana-mana dan disekitar Hala, membuat Heksa semakin jengkel. Dia hanya ingin berbicara berdua dengan perempuan itu, kenapa rasanya sangat sulit?
Hala benar-benar berpegang teguh pada acaranya untuk menghindari Heksa dimanapun dia berada. Dengan bertingkah layaknya mereka tidak ada masalah satu sama lain di depan teman-teman mereka tetapi ada jarak yang terlihat sangat senjang di antara mereka.
Heksa mencoba menahan diri untuk tidak menarik Hala untuk membuat perempuan itu menjauh dari keramaian dan hanya berbicara padanya. Demi Tuhan Heksa hanya ingin membuat percakapan dengan perempuan itu. Mengapa rasanya begitu sulit?
Padahal dulu, mereka tidak jauh dan asing seperti ini. Mereka akan berbicara disetiap kesempatan dan mereka akan terhibur dengan masing-masing obrolan aneh mereka. Heksa merindukan itu. Hell, dia sangat merindukan Hala sampai batas yang tidak wajar.
Namun Heksa tidak menyerah untuk kali ini. Ketika dia melihat setelan jas formalnya tergantung rapi di lemari hotel, Heksa kembali mengingat bahwa Hala masihlah memiliki perhatian yang sama untuk dirinya. Heksa tidak akan tinggal diam dan membiarkan Hala menjauh. Dia akan berbicara dengan perempuan itu. Dia bersumpah.
Tapi Heksa mengakui bahwa dirinya putus asa untuk segala percobaannya. Tiap kali dia meminta pada Hala hanya untuk berbicara padanya barang sebentar saja, perempuan itu hanya memberikannya gelengan dan senyum kecut takut-takut yang diarahkan padanya. Itu membuat Heksa kesal. Dia sangat membenci situasi seperti ini.
Dipenghujung hari seperti ini, yang terpikirkan oleh Heksa adalah mengirim pesan pada perempuan itu. Ini sudah hampir tengah malam sehingga bagi Heksa ini adalah percobaan terakhir dihari itu. Jika pesannya hari ini hanya dianggap angin lalu oleh perempuan itu, Heksa akan mencoba lagi besok. Dia akan melakukannya sampai Hala mau bertemu dan berbicara dengannya.
Me:
Hala, lo benerang nggak mau ngobrol bareng gue lagi, ya? Sumpah, la, gue kangen banget sama lo. Kita ngobrol sebentar, mau, ya? Gue tunggu di balkon lorong kamar M/N lantai 7. Gue bakalan nunggu sampai lo datang.
Jadi, please, datang dan ngobrol sama gue, ya?
Terkirim, 23.18
Terbaca, 00.02
...🍁...
...Konfrontasi ; Hasil Reaksi Heksa 1/2...
.........
...🍁🍁🍁...