
“Udah selesai belum ngambeknya?”
Mereka sekarang berada di dalam mobil Alpino. Selesai dari tempat pemandian umum lima belas menit dari calon studio milik Alpino, mereka berhenti di depan minimarket untuk membeli camilan sebelum kembali ke rumah Lisa untuk makan malam bersama Sinar. Lelaki yang lebih tua itu sudah memanggil mereka untuk segera pulang dan makan malam bersama. Sinar sudah memasak beberapa makanan untuk empat orang. Kelihatannya, lelaki itu juga masih bersama Hala sampai saat ini.
Itu sekitar pukul enam lebih lima belas ketika cemberut Lisa mulai hilang di antara mengemil onigiri tuna mayo dan teh kotak kemasan bersamaan dengan beberapa sosis pedas yang sudah tergeletak di dalam plastik putih siap untuk menunggu disantap.
Lisa menghela napas, membuka sedikit kaca jendela mobil dan menurunkan jok kursinya untuk bersantai. Dia benar-benar kelelahan sekarang. Semua energinya sudah terkuras 90% jika dia bisa menghitung dalam persen.
“Nggak ngambek, cuma lapar doang”
Suara Lisa masih jutek. Alpino yang sadar menggeleng kecil. Membiarkan perempuan itu untuk tenang terlebih dahulu. Dia mengambil ponselnya. Membalas beberapa obrolan grup dan menonton siaran olahraga yang dia simpan di daftar watch listnya. Alpino masih menunggu, dia tahu Lisa membutuhkan waktu untuk menjadi sedikit lebih tenang.
Satu ronde penuh menonton cuplikan permainan bola basket berdurasi hampir dua puluh menit ketika Lisa mendengus keras seolah meminta perhatian darinya. Alpino tersenyum, ketika dia menoleh, dia sudah mendapatkan Lisa yang memegang satu sosis pedas yang sudah setengah. Perempuan itu untuk urusan makanan tidak pernah lelah mengunyah.
“Gimana? Udah baikan?”
“Gue masih males sama lo. Padahal hari ini gue udah tenang nggak di gangguin sama Kak Noren. Kenapa harus lo bahas, sih?” Itu disuarakan dengan lucu, seperti suara terjepit anak bebek yang menggemaskan.
“Kan gue cuma nanya, sih, Lisa. Soalnya tadi kan pembicaraannya tentang perasaan. Dan yang harus gue pertanyakan dengan benar, ya, cuma itu. Daripada gue godain tentang pacaran sama gue, lo milih yang mana?”
Mengesampingkan perasaannya, dia memilih untuk mencoba menenangkan Lisa dan memberi penuturan yang layak. Lisa masih menggerutu, tetapi dia bahkan tidak memilih di antara kedua itu. Perempuan itu malah melakukan argument lain yang masih berkaitan tentang kekesalannya dengan Noren.
“Gue melakukan gencatan senjata, tau”
“Hah?” lo nyerah?”
“Anjir, Al! kalau gue nyerah berarti gue setuju dong nikah sama dia. Ya, nggak bakalan. Gue bilang gencatan senjata. Berdamai, penangguhan buat diri gue. Damainya tapi sama konfllik yang ada di diri gue sendiri. Lo paham nggak, sih?”
“Iyadeh, sesuka Lisa aja nyebutnya gimana. Tapi gue masih nggak ngeti, coba jelasin sama gue dengan lebih detail”
Lisa berdecak. Dia menjatuhkan dirinya kembali ke sandaran kursi. Menonton beberapa orang berlalu lalang di depan kaca mobil.
“Ya gitu. Gue emosi sih sama dia. Dia tuh, kayak, apa, ya? Ngeyel banget jadi orang. Nggak pernah berhenti kalau kemauan dia nggak kesampaian. Jadi, daripada gue capek emosi terus mendingan gue iyain apa yang dia mau aja. Gue lakuin apa yang dia mau. Biarin dia mikir sendiri kenapa gue gini, gue gitu. Tapi tetep aja, nggak ada perbedaan sama sekali. Gue yang pusing”
Alpino mendengarkan. Masih menunggu apapun yang akan di tuturkan oleh Lisa.
“Selama beberapa bulan ini gue nurut banget deh sama Kak Noren. Mau ini-itu ya terserah. Intinya gue pengen bikin dia capek aja sama gue. Tapi anehnya, tetap aja emosi gue selalu nggak terkontrol kalau disekitar dia. Jadi, kita masih sering cekcok dan adu argument”
Masih dengan ekspresi yang sama, Lisa menjelaskan dan Alpino mendengarkan. Ada sedikit perasaan aneh yang mencubit Alpino ketika Lisa tiba-tiba mengeryit dan menoleh padanya dengan cepat.
“Tapi, Al”
Oh. Dia tahu apa ini.
Mungkin?
Atau mungkin dia salah?
Tapi, yah, apa gunanya lagi untuknya?
Iya, kan?
“Akhir-akhir ini emosi gue sama dia ya kayak pertengkaran biasanya. Nggak terlalu yang pengen ngulitin dia hidup-hidup gitu, loh. Gue jadi, oh, yaudahlah emang anaknya begitu mau gimana lagi? Dan gue anehnya udah jadi biasa aja sama dia. Kita emang sering jalan bareng dan ya, udah gitu aja. Makanya gue sampai ngerasa ngundang Kak Noren ke pertemuan kita itu, ya, hal yang wajar karena gue udah nganggap dia kayak orang biasa. Kayak anak kecil”
Lisa tertawa. Kali ini dia terlihat lebih santai dari sebelumnya.
“Tapi lo ngambek waktu gue nyebut nama Bang Noren? Sekarang kenapa lo malah tiba-tiba biasa aja gitu?”
“Ya karena gue ingat kalau gue juga harus ngomelin tentang kehadiran dia yang nyatanya kayak nggak pernah absen dari waktu hidup gue. Gue kan capek. Dia, tuh, kayak nggak ada kerjaan aja ngintilin gue tiap hari. Jadi, rasanya nggak ada Kak Noren yang gangguin waktu libur gue tuh, berharga banget gitu. Kalau lo ngomongin dia, rasanya dia ngebayangin hidup gue lagi. Makanya gue sebel”
Lisa dengan moodnya yang berubah-ubah. Terkadang Alpino lupa bagian dimana Lisa yang seperti kotak Pandora. Agak tidak bisa ditebak meskipun banyak waktu dia hanya seperti buku yang terbuka.
“Hm. Ini berarti lo udah mulai su-“
Alpino tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Lisa sudah lebih dulu membungkam bibirnya dengan kesepuluh jari. Lelaki itu bahkan belum sempat berkedip untuk menyadari seberapa cepat Lisa bertindak. Wajah perempuan itu terlihat begitu datar, seolah sudah siap membunuh Alpino kapan saja dengan mencekiknya.
“Temen”
Lisa berucap tegas.
“Gue udah nganggep Kak Noren sebagai temen. Jadi, jangan berani lo selesaikan kata-kata yang bakalan memicu pertumpahan darah”
Lisa perlahan menarik tangannya kembali. Tatapan tajam yang bisa dibayangkan berkilat merah membunuh itu perlahan menjadi tatapan mata polos berbintang yang dibumbui dengan senyuman manis kekanak-kanakkan.
Alpino, merinding.
“Haduh Lisa..” Dia menghela napas, agak takut-takut di awal karena berhati-hati dengan pergerakan sahabatnya. Lisa bisa saja menyerang dengan tidak tertebak.
“Semuanya aja lo anggap temen, sahabat. Kapan cinta-cintaanya, deh? Emang lo nggak pernah jatuh cinta apa? Nggak pernah suka sama orang? Padahal kelihatannya Bang Noren effortnya gede, loh. Kenapa lo bisa nggak sedikitpun baper sama Bang Noren? Gue jadi penasaran. Apa jangan-jangan lo punya kelainan?”
“Ngawur!”
“Ya… kan… masa lo nggak pernah ngerasain gituan sih, Lis? Maksud gue, perasaan”
Lisa mendesis. Cemberutnya kembali dan dia mencari pelampiasan kesal dengan membuka kemasan sosis milihnya seolah sedang merobek sesuatu. Pun, ketika menggigitnya dia melirik ke arah Alpino seolah-olah mengatakan bahwa dia akan mengigit dan mengunyah Alpino jika dia berani berkata yang aneh-aneh lagi.
Suara berisik beberapa orang yang berlalu lalang membuat Alpino sedikitnya menjadi lebih santai. Lisa yang kelelahan akan sedikit sulit di urus. Apalagi, pembicaraan mereka, sedikit lebih berat dari apa yang coba ia pikirkan. Alpino tidak beruasaha memikirkan hatinya yang sudah rusak. Dia bahkan hampir tidak merasakan apa-apa lagi saat ini. Dia hanya ingin menikmati, setidaknya sebelum ruangan kecil petak kamar kosnya menjadi pendengar deru tangisnya kembali.
“Gue pernah suka sama orang, kok.” Sewotnya.
“Hah? Gimana?”
Dia tidak pernah mendengar hal ini. Dia berani bersumpah, Lisa tidak mengatakan apapun tentang hal itu sama sekali.
“Aduh, itu waktu di Jepang. Tapi sukanya sebatas kagum doang sih. Gue nggak ngerasain yang bener-bener suka. Atau cinta gitu”
Lisa melambai, seolah-olah bom yang dia jatuhkan pada Alpino dan hampir menghancurkan kewarasannya bukanlah hal yang bermasalah sama sekali.
Tidak apa-apa, Alpino hanya harus melupakannya. Hal itu tidak penting lagi ketika dia sudah mendapatkan opsi pilihan terakhir miliknya.
“Tapi, ya, gue belum ngerasa jatuh cinta sama siapa-siapa. Gue juga udah cerita sama Hala tentang ini. Sangking nyamannya gue karena ada Lo, Kak Sinar sama anak-anak lain gue jadi nggak mikir cinta-cintaan, deh. Tapi gue juga nggak nolak kalau pangeran berkuda putih gue tiba-tiba dateng dan ngajarin apa itu arti cinta. Aduh, gue jadi berharap, kan”
“Dih, gila lo udah keluar. Padahal pangeran berkuda putih lo udah di depan mata, juga”
Lisa memutar bola matanya tidak tertarik. Abai, dia memilih untuk menutup jendela dan memaksa Alpino untuk menghidupkan pendingin mobil. Ponselnya bergetar sejak tadi, pesan dari Sinar terus berdatangan untuk meminta sang adik segera pulang. Alpino mengangkat kedua bahunya, semuanya sudah selesai. Pembicaraan patah hatinya sudah selesai. Biarkan ruangan kosnya yang akan menjadi saksi kegilaanya.
Tapi, hidup terus berjalan, kan?
“Al, gue lupa nanya” Lisa kembali bersuara. Dia agak sibuk mencari lagu yang cocok untuk perjalanan pulang ke rumah. Alpino menghidupkan mesin mobil, membiarkannya panas sebentar.
“Apa?”
“Studio, lo. Nama buat studio lo, Apa? Lo nggak ngasih tau ke gue tadi. Gue juga lupa buat nanya” Ada cengengesan lucu dari wajah lelah perempuan itu.
Alpino tersenyum, bergumam seolah-olah sedang berpikir keras menyebut kata yang tepat. Tapi sesungguhnya dia sama sekali tidak melakukannya dengan sulit karena dia sudah memiliki plan tentang itu juga.
“Nanti” bisiknya.
Lagu mash-up milik Fabio Asher dengan judul Bertahan Terluka dan Rumah Singgah yang tengah viral di salah satu media sosial, tiba-tiba saja mengalun dari siaran radio yang Lisa pilih, menggantikkan iklan komersial sebelumnya. Seolah-olah mendukung rasa patah hatinya, Alpino mengumpat keras-keras di dalam hatinya. Tangannya mencengkeram kemudi untuk menahan diri ketika dia mulai menjalankan mobil.
“Nanti, kalau lo udah nemuin Pangeran berkuda putihnya lo dan ngerasain jatuh cinta yang sebenarnya, gue bakalan ngasih lo kepercayaan buat ngasih nama studio gue, Nalisa”
“Hah? Loh kok gitu?”
“Gue tunggu, ya, Lisa..”
Alpino seharusnya tau itu, meskipun Sinar tidak menghalangi perasaannya tentang janji brengsek itu, Dia tidak pernah mempunyai kesempatan untuk menyelinap ke dalam hati Nalisa.
Dia hanyalah, pecundang dengan cinta yang patah.
Dan untuk saat ini, Alpin bersumpah bahwa ini adalah akhir perjalanan hatinya yang menggebu untuk Nalisa. Dia bersumpah akan meletakkan perasaan itu terkunci di dalam hatinya dan akan mencari kebahagiaan lain. Atau mungkin tidak merasakan cinta sama sekali?
Tapi entahlah, semoga perjalanan move-on nya bisa berhasil.
Seharusnya begitu.
...……...
...🍁...
... Tak Bisa Lebih Dari Part. 2 End...
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
enjoy and see u next! 🤗
Setelah ini kapal kita akan berjalan sesuai garis waktu🥰
konflik nya akan semakin menjurus ke inti meskipun perlahan-lahan.
Tungguin ya kisah Nalisa-Noren-Alpino lainnya dan kisah Sinar-Hala-Heksa di chapter berikutnya❤ Karena ceritanya lebih luas dari yang aku perkirakan, semua karakter yang muncul disini kisahnya saling berkaitan. semoga kalian yang membaca ini bisa menikmati alur nya. Terimakasih banyak❤🥰
...☟☟☟☟☟☟☟...
Oh iya ada rekomendasi lagi novel keren karya kak Eet Wahyuni, nih!
Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA EET WAHYUNI SHANDI...
...JUDUL: THE REALM OF CULITIVATION...
Bagaimana rasanya, jika kamu hidup dalam dunia fantasy dari novel yang kamu buat sendiri? Ya! Itulah yang dialami oleh Ryana Zhang. Seorang author wanita dari dunia modern dan masuk ke tahun 775 dalam tubuh Zhang Rui, yang menjadi tokoh sampah dan paling sial dalam novelnya sendiri.
Dia harus berjuang untuk memutar alur cerita agar bisa selamat dari kejamnya dunia budidaya di novel 'The Realm Of Cultivation' sebuah novel fantasy yang menuai banyak hujatan.
Selamat membaca🥰