Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Tempat Pelarian; Calon Rumah Dimana Hati Tertuju. Part 1



Sinar tahu bahwa keputusannya impulsive. Dia seharusnya tidak mendesak orang lain untuk berada disisinya ketika dia sedang merasa kalut setengah mati. Tetapi dia tidak bisa menahan untuk dirinya sendiri atau dia hanya akan gila dengan semua perasaan yang membuncah bagai air kotor yang keruh dan juga kepalanya yang penuh seolah dia hanya ingin menghantamnya dengan sesuatu yang sangat keras. Untuk kali ini, dia benci karena dia tidak bisa berpikir dengan jernih.


Jalan satu-satunya adalah dia tidak ingin sendirian. Dia tidak bisa meminta adiknya untuk bersamanya karena masalah utamanya menyeret Lisa untuk hal ini. Segala sumber ada pada adik perempuannya dan dia tidak mau merasa lebih bersalah jika dia melihat sang adik. Untuk waktu gilanya yang seperti ini, dia hanya ingin menjauh dari adiknya. Tidak ingin memperlihatkan seberapa buruk dia menjadi seorang kakak yang tidak bisa melindung adiknya sendiri dan tidak ingin memperlihatkan betapa lemahnya dia sebagai seseorang yang selalu di anggap ceria dan kuat oleh orang disekitarnya.


Sinar tidak memiliki siapa-siapa untuk dipanggil. Dia hanya memiliki Noren dan Wildan, dan tentu saja adik perempuannya. Selama dia besar dan berkembang menjadi sosok dirinya yang sekarang, orang-orang yang tulus padanya hanya bisa dihitung dengan jari. Dia tidak memiliki teman yang layak, pun jika bisa dibilang, Noren pun sekarang tidak bisa ia katakan apakah masih berupa sahabatnya yang tulus dan selalu ada untuknya setelah apa yang lelaki itu lakukan padanya. Merendahkannya dan meremehkannya terang-terangan seperti itu. Tapi siapa dia untuk mengelak karena ucapan yang Noren berikan adalah berupa fakta apa adanya. Dan tentu saja, dia tidak bisa berbagi dengan Wildan karena lelaki itu tidak harus mengurusi sebagian besar hidupnya.


Jadi, dengan pikirannya yang sudah dipenuhi hal-hal bodoh yang menyebabkannya tidak bisa bernapas dengan baik, dia memilih satu-satunya orang yang bisa menenangkannya. Yang sangat dia butuhkan dan dia yakin akan memberikannya sebuah ketenangan dan kehangatan yang saat ini sangat dia harapkan. Sangat dia rindukan untuk mendapat tempat bersandar dan pulang. Rumah adalah satu-satunya hal yang sempat dia pikirkan untuk memanggil orang ini, tetapi dia tidak tahu apakah Hala akan senang dengan julukan itu yang berasal darinya.


Hala sudah memberinya rumah enam tahun silam. Sahabat adik perempuannya itu sudah memberikannya kehangatan dan kekuatan untuk tetap bertahan sampai sekarang. Untuk tetap percaya bahwa dia bisa melakukan banyak hal yang berada di luar gapaiannya. Hala adalah satu-satunya orang yang melihatnya di titik paling rendah dan bahkan melihat kelemahannya dalam meneteskan air mata. Satu-satunya perempuan yang menetap di hatinya dan tidak berubah sampai sekarang. Orang yang akan dia panggil sebagai tempat pulang dan kenyamanan meskipun dia tahu bahwa dia tidak bisa melabeli Hala seperti itu dengan bagaimana hubungan yang mereka bangun sekarang. Itu bahkan jauh daripada yang bisa diperkirakan oleh Sinar.


Namun masa bodoh dengan itu, dia hanya butuh Hala untuk bersamanya. Dia ingin perempuan itu ada untuknya bahkan dengan cara membuat perempuan itu bolos kerja ketika dia memaksa Hala untuk menemaninya karena dia membutuhkan perempuan itu saat ini juga.


Berkendara dengan pikiran yang berkecamuk, dia bahkan tidak menyadari sejak kapan dia bisa sampai di basement kantor tempat Hala dan adiknya bekerja. Diam-diam, ketika dia memarkir mobil di sisi jalan halaman depan gendung perkantoran yang tidak bisa dibilang kecil pun tidak begitu besar-, Sinar sesegera mungkin menghubungi Hala saat itu juga.


Dia tidak peduli. Sinar sudah siap untuk masuk dan meminta izin membebaskan Hala dari kerjaan detik itu juga pada Leo atau siapapun yang memiliki jabatan paling tinggi yang membawahi divisi kerja Hala. Meskipun dia tidak ingin membuat keributan dan memancing atensi adik perempuannya yang juga bekerja di tempat yang sama, tetapi jika Hala benar tidak bisa untuk berada disisinya saat ini, dia akan nekat melakukannya. Tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Dia akan meangani masalah dari keributan itu besok jika dia sudah sembuh sepenuhnya dan tidak merasa segila hari itu.


Berutungnya dan bersyukurnya dia, tidak ada keributan yang harus dia tangani hari ini. Hala mengangkat telponnya pada dering keempat dan mengatakan bahwa dia akan meminta izin dan kemudian turun beberapa saat lagi. Sinar harus tinggal di dalam mobil karena Hala berjanji akan mendapatkan kebebasan dengan alasan yang sudah dia persiapkan. Jadi untuk itu, Sinar menurut. Dia menyandarkan kepalanya dan punggungnya ke kursi lembut mobilnya. Memejamkan mata sembari menetralkan hembusan napasnya yang terasa sesak.


Menunggu disana seperti selamanya saat dia masih juga belum merasa tenang. Melihat ke arah dimana pintu gedung perusahaan yang transparan akan menampilkan Hala, dia gelisah seperti cacing kepanasan di dalam mobil yang bersuhu rendah. Masih tidak bisa diam, dia merutuk dalam hati mengapa perempuan itu memakan waktu yang lama sekali hanya untuk turun dan menghampirinya.


Ketika Sinar merasa kepalanya akan pecah, dia berhasil melihat sosok Hala yang turun dengan tergesa. Memakai hoodie berwarna hijau gelap, dengan tas jinjing kecil dan langkah kaki yang dipercepat seolah berlari ketika perempuan itu tahu dan hapal kendaraan yang dinaiki oleh Sinar, lelaki itu segera membuka pintu mobilnya untuk keluar dan menghampiri perempuan yang sedang melihat kesana-kemari seolah sedang menguji air pada keadaan sekitar.


Masa bodoh, dia segera melebarkan langkah kakinya besar-besar dan dihadapkan langsung oleh pemandangan mata bulat yang terkejut karena kehadirannya dan juga panik yang bisa Sinar daftarkan ketika dia sudah menarik Hala dalam pelukan eratnya bak seekor koala. Sinar dengan napas yang berat ia lepaskan, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hala. Akhirnya, dia merasa napasnya mulai teratur kembali ketika menghirup aroma yang sama seperti rumah. Seperti ketika dia selalu berada disekeliling Hala pada waktu-waktu tertentu dan aroma yang masih sama seperti enam tahun silam. Aroma ketenangan yang dia dapatkan dari segala hal yang membuatnya jatuh.


“Uwah!!” Hala terdengar gelagapan. Tangannya berusa untuk mendorong Sinar melepaskan pelukannya, setidaknya menjauh untuk beberapa saat dan tidak melakukan hal seperti itu di lingkungan kantor yang masih bisa dilihat oleh siapa saja yang lewat di sekitaran sana. “Kak, lepas dulu, aduh. Jangan disini.. Kak Sinar gue lagi panik, tapi nggak gini juga. Lepas, ya?”


Suara Hala, meskipun panik dan mungkin gelagapan karena tingkah Sinar yang tiba-tiba, tetap terdengar lembut di telinga Sinar. Mengabaikan permintaan, dia malah mengeratkan pelukannya pada Hala. Mencoba untuk tidak lepas dari kehangatan rumah yang dia cari. Dari tempatnya bersandar. Energinya yang hilang perlahan-lahan mulai terisi kembali meski dari segi yang minimum. Sinar merasa lebih tenang.


“Butuh ini…” Gumamnya tepat di telinga Hala sebagai bisikan. “Mau ngerasain ketenangan sebentar aja, La”


Dia tahu Hala merinding dengan apa yang dilakukannya dari bagaimana tubuh perempuan itu tegang untuk beberapa saat dimana Sinar bisa terus mengambil kesempatan untuk mengupas kegilaannya yang perlahan membuatnya lebih ringan. Kekalutan bak benang rusak itu mulai mengendur sedikit demi sedikit.


“Kak, ini masih dilingkungan kantor. Gue izin sakit, ini, serius. Nanti apa yang bakalan dibilang sama orang yang denger kalo gue izin sakit tapi malah melakukan adegan beginian depan kantor” Hala merengek. Meskipun begitu, tangan perempuan itu yang berada di punggungnya kebingungan apakah akan menepuknya dengan tepukan penenang atau malah mendorongnya untuk menjauh. Perempuan itu seperti ingin menenangkan Sinar juga, tetapi dia lebih kalut akan posisinya yang berada di tempat yang tidak tepat untuk menunjukkan sentuhan fisik yang mungkin akan menimbulkan salah paham.


Sinar yang sudah mulai merasa terang, tersenyum dengan sayang. Dia dengan berat hati melepaskan pelukannya pada Hala, tetapi masih memegang kedua lengan perempuan itu dengan erat. Masih ingin berlama-lama menenangkan diri dan dia masih belum puas untuk bisa bernapas dengan lebih baik lagi Kegilaannya karena Noren masih menyerang, tetapi dia tahu lebih baik untuk tidak membuat Hala mengambil kembali keputusan baik perempuan itu untuk menemaninya dan berada di sisinya.


“Gue capek banget, La. Gue butuh dipeluk sama lo sebentar aja. Enggak bisa, ya?” Sinar tahu dia seharusnya tidak menarik tali yang itu, tetapi dia butuh untuk mengungkapkannya karen bibirnya sudah gatal untuk bertanya dan dia masih tidak ingin melepaskan Hala begitu saja ketika perempuan itu sudah menyerahkan diri dan waktunya dengan suka rela.


“Gue biasanya nggak bakalan mau dipeluk peluk begitu. Tapi karena kayaknya lo lagi stress banget, gue, sebagai orang baik hati dan tidak sombong memutuskan untuk memberi kesempatan emas buat lo, Kak” Wajahnya serius saat berucap. Perempuan itu menurunkan kedua tangan Sinar di lengannya dengan lembut sebelum pada akhirnya menarik Sinar untuk bergegas memasuki mobilnya kembali.


“Tapi bukan disini. Lo tau nggak sih, ini area kerja gue. Bakalan gila kalau nanti banyak yang salah paham dan mikir yang enggak enggak. Mending kita masuk mobil sekarang dan lo boleh ngobrolin banyak hal sama gue. Mana tau gue bisa bantu apapun yang bikin lo stress begitu kak. Atau, kalau misalnya lo mau pinjem telinga gue buat dengerin curhatan lo, gue dengan senang hati bisa bantu lo”


“Peluk lo, boleh?”


Mata yang sudah bulat layaknya kelereng itu melotot padanya dalam jawaban permintaan yang ia lemparkan. Tersenyum yang pada akhirnya dia bisa merasakan sudut bibirnya tertarik untuk memberikan kurva indah dalam realisai ketenangan kecil, Sinar bersyukur bahwa dia memilih orang yang benar untuk sedikit menyembuhkannya.


“Diem dan cepat masuk mobil, Kak Sinar!”


Bibirnya maju dalam sebal yang lucu. Sinar merasa tubuhnya di dorong dengan ringan. Tetapi entah apakah dia merasa kelelahan mental membuatnya lebih lemah daripada yang seharusnya, dia terjatuh dengan cepat ke atas kursi kemudi. Membiarkan Hala menutup pintu mobil dengan bantingan keras yang membuatnya menggeleng, dia menantikan Hala untuk masuk kembali dan mengisi kursi disebelahnya. Tentu saja itu tidak memakan waktu lama, tetapi ketika Hala sudah masuk dan berada di posisi, Sinar dengan kegilaannya yang masih belum hilang, menarik tangan Hala untuk dia genggam dengan kedua tangannya. Mencoba untuk tetap membumi kembali ketika dia berusaha bernapas dengan baik sesuai irama napas normal yang coba dia cari ketukannya.


“Nggak bisa napas?” Hala bertanya dengan khawatir. “Lo habis ngapain, sih, Kak? sampai sebegitunya? Coba ikutin tempo napas gue. Coba lihat sini” Hala dengan perlahan menarik wajah Sinar untuk menghadapnya. Lelaki yang kini tersenyum dengan lebar dan agak susah bernapas dengan aneh itu tersenyum konyol dalam kelelahan yang terpampang nyata adanya.


“Tarik.. buang.. tarik.. buang.. pelan-pelan..” Hala membimbing dan Sinar yang masih membutuhkan udara dan lelah untuk menarik napas bak orang tak waras mengikuti arahan dengan baik. Cukup beberapa waktu yang terbuang sehingga dia bisa menemukan napasnya dengan lebih baik dan tidak berpikir bahwa dia harus bernapas dengan manual lagi selama sisa hidupnya.


“Boleh peluk?” lagi, pertanyaan yang kali ini membuat Hala menarik tangannya dan memberikannya ekspresi wajah tidak terkesan.


“Mending pergi dari sini dan cari tempat bagus biar lo bisa cerita, deh, kak. nggak usah aneh-aneh” tutur Hala cepat mengabaikan permintaan dari Sinar. Perempuan itu agak tersipu dari apa yang coba Sinar observasi. Mengalah karena opsi untuk mendapatkan tempat yang lebih luas dan bebas daripada di dalam mobil adalah yang terbaik, dia menurut pada saran yang diberikan oleh Hala.


“Tapi.. gue nggak tau mau kemana..”


Itu adalah apa yang Sinar sadari ketika dia menginjak pedal gas dan berbaur dengan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Hala diam sejenak. Dia yakin perempuan itu tengah memandanginya dengan aneh. Tapi Sinar mengatakan kejujuran, dia sama sekali tidak terpikir tempat apa yang bisa menenangkan dirinya begitu saja. Dia mempunyai satu tempat yang bisa dijadikan opsi, namun dia sedang tidak ingin berada di tempat itu. Rumah Nalisa juga bukanlan yang terbaik untuk dia datangi saat ini karena bagaimanapun, itu adalah rumah adiknya dan segalanya mengingatkannya pada betapa tidak becusnya dia sebagai seorang kakak. Dia ingin menjauh dari hal-hal yang mengingatkannya akan kegagalan saat ini. Dia masih belum bisa bertahan dari keterpurukan yang di cercakan Noren padanya.


“Lo udah makan siang, kak?”


Bukannya memberikan jawaban dan kunci dari apa yang seharusnya dia dapatkan soal tujuan, Hala menariknya dalam pertanyaan di luar topik yang membuatnya lengah sesaat.


“Ini baru jam setengah dua belas.. menurut lo, apa gue udah makan siang?” Sinar membalikkan pertanyaan dengan suara kecil.


“Oke kalau gitu” Hala bernapas dengan tenang seolah-olah dia tidak hanya melempar keanehan pada Sinar beberapa saat yang lalu. “Kita ke rumah gue aja sekalian makan siang bareng. Gue tadi pagi masak buat sarapan dan beberapa bahan dan makanan yang gue masak kebanyakan udah gue pisahin. Mungkin, lo bisa agak tenangan di rumah gue setelah makan dan cerita sama gue, Kak?”


“Oke. Makasih… Hala”


“Gue belum ngapa-ngapain, Kak. Fokus sama jalanan”


“Peluk, boleh?”


“Gue bilang, fokus sama jalanan sebelum tangan gue melayang untuk mencelakai kita berdua, Kak Sinar”


Sinar tertawa. itu adalah satu tawa yang dia keluarkan hari ini. Matanya sudah panas, terasa begitu berat untuk hanya menjatuhkan air di dalamnya. Tetapi dia berkedip untuk menghalau kelemahannya jatuh. Tidak sekarang, mungkin nanti. Dia hanya harus menjadi kuat lebih lama lagi.


...….....


Sinar tidak tau bagaimana itu terjadi. Semuanya terasa seperti dia hanya berkedip dan dia berpindah di satu tempat. Berkedip sekali lagi, dia sudah memakan makanan yang dia kunyah lebih lama dari biasanya. Berkedip lagi, dia sudah mendapatkan minuman isotonik dan buah-buahan di tangannya. Berkedip beberapa kali, dia sudah berada di pangkuan Hala dalam buaian lembut jemari perempuan itu bermain di rambutnya. Memijat bagian kepalanya yang terasa sedikit pusing, lebih menyengat dari apa yang bisa dia katakan ketika pikirannya melanglang buana dalam hal-hal menyakitkan yang mencoba untuk menyeruak keluar dari bibirnya yang mampu menumpahkan banyak kata.


Sinar mencoba untuk tidak terlalu oversharing dan memuntahkan semua hal yang terjadi dalam kehidupannya. Perasaannya membuncah, dengan posisi dimana kepalanya berbantalkan paha lembut Hala, mengabaikan geraman kucing hitam milik perempuan itu yang merengek tidak suka karena pemiliknya mempunyai sesuatu yang lain berada di kursi favorit anak bulu itu, segalanya terasa lebih seperti dilingkupi kehangatan yang dia tidak tahu bahwa dia butuhkan selama bertahun-tahun dia hidup untuk dirinya sendiri.


Menutup mata, Sinar mencoba mengingat kembali mengapa dia bisa berada di posisi seperti sekarang. Dia ingat bahwa dia menikmati makanan yang Hala buat, merengek di satu sisi tentang memeluk perempuan itu dan disisi lain dia hanya menurut bagaimana Hala memperlakukannya seperti bayi yang belum bisa mengurus diri. Kemudian, ketika mereka sudah selesai dengan makanan, Hala membawanya ke ruang santai dengan suhu yang lebih rendah menyengat kulit karena hamparan pendingin udara, tetapi lebih hangat dan menentramkan dirinya dalam berbagai macam aspek. Dia sungguh bisa mengatakan, bahwa dia aman berada di mana saja dimana Hala juga ikut hadir di sisinya.


Dia juga ingat bagaimana Hala mengeluh tentang memiliki bayi besar yang harus dia urus dan mengapa dia ditakdirkan untuk menjadi ibu dari bayi-bayi besar yang menyusahkan dirinya begitu saja. Oh, andai saja Hala tahu bahwa Sinar lebih suka mendengar bahwa Hala akan menjadi ibu dari anak-anaknya dan tentu saja, sebagai seseorang yang akan mengurusnya dan membuatnya bahagia juga menghilangkan seluruh beban dari semesta yang terlalu suka bercanda ini. Namun, itu bisa berada di waktu lain. Dia tidak seharusnya memikirkan hal-hal aneh. Sinar harus fokus pada tahap penyembuhan dan penenangan diri dengan metode yang dipakai oleh Hala sekarang.


Dia baru saja ingat bahwa posisi ini adalah posisi sebagai pengganti pelukan yang ia elukan beberapa saat dalam beberapa waktu dimana itu mungkin membuat Hala jengah. Namun alih-alih melebarkan tangannya untuk memeluk Sinar, perempuan itu memilih untuk mengistirahatkan kepala sinar di pangkuannya. Sinar mungkin bisa menangis untuk itu.


“Udah lumayan tenang? Udah enakan kepalanya? Udah bisa napas dengan benar, kan, sekarang?”


Pertanyaan yang tiba-tiba, membuat Sinar tersentak dan membuka matanya cepat dalam penglihatan samar tentang seberapa inginnya dia untuk menelaah ekspresi khawatir Hala.


Merasa terlalu pusing untuk membuka mata, Sinar hanya mengangguk. Ah, dia baru sadar bahwa dia kembali pada masa-masa sulitnya dalam mengatur perasaan dan tubuhnya yang terkejut. Kepalanya sakit dan mungkin saja dia memang menangkap sakit karena kelemahan yang menyerang sistem imunnya yang tak terjaga. Hala mungkin sudah menyadari itu sehingga dia membiarkan Sinar untuk beristirahat dengan kenyamanan yang bisa dia tawarkan.


“Lumayan. Makasih, ya, dek” dia bergumam. Masih enggan untuk membuka matanya karena itu akan membuatnya pusing dan mual di saat yang bersamaan.


“Bohong banget, lo, Kak. lo pucat gitu padahal habis makan. Lo tidur nggak sih semalam?” Hala bertanya dengan lembut. Mencoba untuk tidak membuat Sinar terlalu terkejut.


“Tidur, tapi nggak begitu nyenyak. Kebangun beberapa kali” Disatu sisi, Sinar bisa merasakan bahwa dirinya sedang mengoceh. Kesadarannya tiba-tiba tertarik jauh dalam ketidak sadaran.


“Lo kenapa, sih, Kak? ada masalah apa sampai lo malah begini? Gue jadi takut, sumpah”


Ah, Sinar merasa bodoh. Dia seharusnya tidak membuat Hala lebih khawatir dengan dirinya. Itu sangat tidak perlu. Tetapi, perasaannya membuncah dalam perhatian yang selama ini dia butuhkan. Biarlah. Biarkan dia menikmati hal-hal yang sangat jarang untuk dia dapatkan selama dia selalu berusaha untuk menjadi sosok orang dewasa yang melelahkan.


“Gue capek, La” dia bergumam, bergeser untuk mendapatkan kenyamanan sedikit lebih banyak lagi semetara Hala semakin aktif dengan jemarinya di rambut Sinar. Hangat selimut yang bergeser di tubuhnya yang baru saja dia rasakan membuat lelaki itu mengeluh dalam lantunan sayang.


Sinar semakin tidak sadar, tetapi hal yang membuatnya gila dan kewalahan dalam banyak aspek negative selalu mendapatkan yang terbaik dari dirinya. Jadi, dia tidak sadar ketika dia menggumamkan sesuatu yang lain dimana ketika dia bangun dari ketidaksadarannya suatu waktu nanti, Hala pasti menuntut penjelasan darinya dengan keras kepala.


“Gue ngerasa gagal. Gue gagal jadi manusia.. gue gagal jadi kakak yang baik. Pernah nggak, sih, lo.. ngerasa kayak sampah yang nggak berguna sama sekali?”


.........


...🍁...


...Tempat Pelarian; Calon Rumah Dimana Hati Tertuju. Part 1...


.........


...🍁🍁🍁...


...PROMOSI NOVEL KARYA MAYYA_ZHA...


...JUDUL: FAKE LOVE...


Terbongkarnya perselingkuhan kekasihnya, Derald bersama Chyntia yang berprofesi sebagai artis membuat Aline mendapat hinaan dari Ibu sang kekasih beserta selingkuhannya.


Di saat keterpurukannya ia bertemu dengan Galen, pria urakan. Pria ini menawarkan untuk merubah penampilan Aline. Sering bertemu dengan Galen membuat keduanya memendam perasaan. Tanpa mereka tau, orang tua meraka mempunyai masa lalu yang menyakitkan.


Akankah Aline membalas sakit hatinya terhadap Derald dan Chyntia? Akankah Aline dan Galen bisa bersatu setelah masa lalu orang tuanya terungkap?