Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Tempat Pelarian; Calon Rumah Dimana Hati Tertuju. Part 2



Sinar tidak tahu berapa lama dia tidak sadarkan diri. Dia tidak bisa menghitung gelap yang dia rasakan dalam buai ketenangan yang selama ini tidak sadar bahwa dia sangat membutuhkannya. Mungkin dua atau tiga jam, atau mungkin lebih. Dia hanya tersadar ketika suara-suara dari luar menariknya dari buai yang tidak ingin ia tinggalkan. Namun, ketika dia ingin kembali mengurung dirinya dalam tidur tanpa mimpi yang sangat menenangkan juga candu, dia mendengar bisik-bisik suara berat orang lain dan bantalnya yang bergerak-gerak dengan gelisah, mencoba untuk tidak terlalu banyak membuat gerakan yang kemungkinan besar itu dilakukan agar dia tidak terganggu dalam kenyenyakan hibernasi indahnya.


Sinar sadar bahwa dia masih tertidur dengan kepala ditempatkan di tempat yang sama seperti sebelumya, tidak berpindah atau dipindahkan. Pangkuan Hala masih selembut dan senyaman yang dia rasakan pertamakali. Berat selimut bulu yang berada di tubuhnya, ditarik hingga bagian atas sikunya samar-samar bisa dia rasakan.


Namun lagi, dia tidak bisa. Karena suara berat orang lain sepertinya membuat Hala lebih gelisah. Masih menutup matanya dan menarik tanganya dalam lipatan yang lebih kencang di bawah selimut bulu, dimana dia tersadar bahwa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya dan mendengkur dengan nyaman tak terganggu pergerakkan, Sinar bisa mendata semuannya meski matanya masih merekat dengan begitu sempurna. Indera perasanya naik dengan lebih tinggi ketika penglihatannya tertutup, tebakan demi tebakkan menyerang kepalanya dengan jawaban yang hampir bisa dibilang seratus persen benar.


Kucing berbulu hitam lebat dengan bercak putih milik Hala pastilah beban yang berada di dadanya. Suara yang terus menerus menanyakan perihal sesuatu yang tidak begitu mampu ia daftarkan masih dalam buai kantuk, sangat bisa dia pastikan siapa itu.


Sinar menunggu beberapa saat, membiarkan Hala berbicara dalam bisik agresi yang dia utarakan untuk Heksa. Satu orang yang sudah pasti berada di rumah pribadi Hala dari seberapa sering Sinar mendengar dan bahkan melihat sosok lelaki itu di sekitar. Dia bahkan adalah orang yang menaruh kecemburuan nomor satu ketika dia melihat Heksa menunggu di dalam rumah Hala ketika mereka melakukan jalan-jalan malam berdua dimana Sinar dengan sangat suka menyebutnya sebagai kencan.


Butuh beberapa waktu yang terasa seperti selamanya ketika kesadarannya mulai penuh dan paham bahwa Hala sedang menyuruh Heksa untuk segera pulang, gestur tangan yang bergerak-gerak, mungkin mengusir kehadiran lelaki itu dimana Sinar hanya ingin menyeringai kemenangan-, dapat ia rasakan meskipun begitu halus dalam gerakan. Dia bisa mendaftarkan pertanyaan aneh Heksa tentang bagaimana Hala bisa berada di rumah dengan Sinar dipangkuan dan fakta bahwa lelaki itu dengan panik mencari kesana-kemari kehadiran Hala di tempat kerjanya untuk jemputan pulang bersama.


Ada gemuruh yang tidak terlalu disukai Sinar. Menyebalkan ketika dia sadar bahwa ada orang lain yang terlalu lengket dengan rumah-nya. Namun, siapa dia untuk menggongong amarah kecemburuan dimana dia sudah di bebankan dengan banyak masalah yang datang bertubi-tubi menyerangnya sebegitu rupa? Cemburu adalah opsi lain. Lagipula, Hala ada di dekatnya dan memilihya dengan bagaimana fakta itu dinyatakan saat Heksa memilih untuk menuruti permintaan Hala agar lelaki itu kembali ke rumahnya sendiri.


Telinga Sinar bergerak ketika dia mendengar helaan napas berat dan dalam dari Hala, seolah-olah perempuan itu lega dari apapun yang menganggunya. Beberapa saat berlalu, dia bisa merasakan gerakan tangan Hala yang mengusap keningnya sebentar sebelum berbalik untuk mengelus bola bulu yang meringkuk di dada Sinar. Itu seperti beban yang terangkat dengan lebih banyak saat Hala memindahkan kucing yang sedang tertidur ke sisi lain. Sinar tanpa sadar menddesaah lega dengan napas yang stabil.


“Yang tadi datang, Heksa, ya?”


Sebenarnya, Sinar tidak ingin mengutarakan hal itu saat pertamakali dia membuka bibirnya untuk berucap. Itu datang dengan suara yang salah, tetapi dia tidak bisa menarik kata lagi ketika dia merasakan tubuh tegang dari Hala dan wajah terkejut ketika Sinar mengintip dari balik matanya yang terbuka secara perlahan.


“Astaga, gue kaget” perempuan itu mengulas dadanya dengan siku yang diangkat tinggi-tinggi. Hati-hati agar tidak mengenai wajah Sinar dalam ketidaksengajaan. “Kak Sinar kalau bangun jangan tiba-tiba gitu, dong. Kasih aba-aba sedikit, kenapa, sih? untung lo nggak langsung gue jatuhin ke bawah, Kak” Hala mengomel, tetapi itu keluar dengan gerutuan dari bibir yang dimajukan dalam kerucut lucu.


Semua kegelisahan Sinar lenyap seketika. Dia tersenyum ketika dia mengangkat tubuhnya dalam posisi duduk. Kepalanya masih agak pusing tetapi dia merasa lebih segar dari pada apapun. Menyadari suatu hal, dia melihat kebawah. Dua kancing bagian atasnya terlepas dan dasinya dilonggarkan. Hala pasti yang melakukannya untuk membuat tidur Sinar lebih nyenyak meskipun masih dalam balutan kemeja putih dan celana bahan yang tidak terlalu nyaman. Gemuruh sayang muncul dan Sinar merasa terlalu penuh.


Didepannya, Hala menatapnya dengan khawatir.


“Masih sakit nggak, Kak, kepalanya?” nada khawatir menetes bagai madu dari suara perempuan itu. Sinar menggeleng ringan sebelum dikejutan dengan air putih yang sudah di sodorkan padanya. Sinar tidak tahu itu berasal darimana dan sejak kapan, tetapi dia menerima dengan tanpa banyak keluhan.


“Kalau masih sakit mending lo istirahat aja lagi. Bentar..” dengung suara Hala terdengar bagai nada buaian di telinganya. Sinar terkesiap ketika telapak tangan perempuan itu sudah berada di dahinya untuk mengecek suhu tubuhnya. Jantung Sinar menggila, dia merasa sangat kewalahan. “Bagus, udah nggak terlalu panas lagi. Maaf, ya, Kak, lo nggak gue kompres. Soalnya gue nggak tega buat bangunin lo kalau gue siapin kompresnya. Takut kepalanya tambah pusing”


“Nggak usah, dek. ini udah lebih dari cukup” Sinar menyela dengan cepat. Dia tidak bisa mendengarkan banyak perhatian lagi dari Hala karena dia baru saja bangun. Dia tidak siap untuk rasa sayang yang mengembang bagai balon di dalam dadanya. Terlalu indah untuk menutup semua kegelisahan yang hadir di waktu-waktu sebelumnya.


Sinar memilih untuk menyerahkan gelas pada Hala sebelum dia melakukan tindakan impulsif lagi untuk menarik perempuan itu dalam pelukannya. Hala pasti sudah terlalu lelah dengan dirinya. Lelaki itu sadar bahwa dia mungkin lebih banyak mengganggu dan menyulitkan perempuan itu sekarang ketika dia sudah kembali bisa berpikir dengan jernih dan koheren.


“Gimana kaki lo? Pegel ngggak, gue pinjem jadi bantal?”


Sinar memperhatikan. Dia tahu bahwa dirinya adalah beban yang berat. Perempuan itu juga pasti melalui kegelisahan yang sama untuk tetap berada di posisi dan tidak bergerak demi menjaga Sinar untuk tetap aman. Tangannya terulur untuk mengusap tempurung lutut Hala dengan lembut. Sedikit merasa bersalah dari kebanyakan rasa senang dan haru yang menyelip di sana sini.


“Nggak, kok, Kak. tenang aja, udah biasa”


Hala memberikannya cengengesan lucu ketika perempuan itu menepis tangannya dengan lembut. Dia menepuk pahanya dengan ceria untuk menunjukkan kebenaran dari ucapannya. Sinar tahu apa arti biasa itu. Jelek dalam perasaan, dia memilih untuk mengabaikan. Karena dia tahu, dia bukan yang spesial untuk saat ini bagi Hala. Tapi setidaknya, dia senang telah mendapatkan sedikit kemewahan itu.


“Syukur, deh, kalau gitu” Helaan napas dan senyum dia berikan. Tangannya menggaruk kepalanya, mengacak urai rambutnya yang berantakkan. Hala terkekeh kecil. “Maaf ya kalau gue nyusahin, lo, Dek. Makasih udah ngasih gue ketenangan. Gue agak lega sekarang rasanya” gumamnya tulus. Matanya menyorot pada Hala dengan kasih sayang yang luar biasa. Berharap perempuan itu menyadari seberapa penting dan berharga dirinya untuk Sinar seorang.


“Gue seneng dengernya, kak” Helaan napas terdengar sebelum Hala berdiri untuk meregangkan tubuhnya. Baju kaosnya agak terangkat ketika dia menarik tinggi kedua tangan di udara dan Sinar menarik dirinya untuk melihat ke arah yang lain.


“Tapi lo berhutang banyak penjelasan sama gue” tuturnya cepat dalam ancaman satu kedipan mata tegas. “Lo inget, nggak, udah ngomongin hal jelek sebelum lo tidur? Gue mau nuntut kejelasan dari hal-hal bodoh yang lo bilang ke gue”


Sinar terpaku. Ia menyandarkan tubuhnya ke bahu sofa ketika sudut bibirnya terangkat dalam senyuman tipis. Tentu saja, Hala akan memarahinya seperti itu.


“Gue mau lo tarik semua ucapan lo tentang lo jadi orang yang gagal. Enak banget mulut lo ngomong kayak begitu, Kak” perempuan itu membuat wajah yang tidak menyenangkan. Kerutan dahinya semakin dalam dan Sinar memiliki keinginan kuat untuk menghapusnya dari wajah Hala dengan sapuan lembut jemarinya.


“Tapi, yah, gue harap lo beneran mau cerita ke gue soal itu. Kalau misalnya lo emang nggak nyaman buat cerita, gue bisa nunggu”


Sinar tertohok dengan ucapan cepat yang diutarakan oleh Hala. Dia terkadang lupa bagaimana Hala yang mengancam dan mendesaknya untuk bercerita ini itu tetap menghargai keputusannya dalam menumpahkan kegelisahan pribadi miliknya. Dia menghargai batasan dan dia terdengar sangat tulus untuk menenangkan apapun yang sedang di alami oleh Sinar saat ini. Bagian terdalam yang kebanyakan orang sulit untuk utarakan tetapi hanya butuh orang lain untuk ada di sekitar agar mereka berpikir dengan lebih baik dan bernapas dengan deru ketukan yang teratur.


“Tapi tentu aja gue nggak terima lo ngatain diri lo sendiri kayak begitu” lanjutnya ketika perempuan itu menarik selimut bulu yang Sinar jatuhkan dan melipatnya dengan tangan yang telaten. “Pokoknya senyaman lo aja, Kak. gue bakalan nunggu lo ngomong tentang keadaan lo hari ini. Lo kenapa sebenernya sampai bikin gue panik kayak orang linglung. Sampai bikin gue bolos kerja dan bohong sama atasan gue, dan bahkan bohong sama Lisa” Decakannya berupa fakta dan Sinar merasa sedikit bersalah tentang itu.


“Pokoknya lo harus tanggung jawab!’ Titahnya cepat. “Tapi nanti aja setelah lo bersih-bersih dan kita makan malam bareng. Lo duduk disini sebentar, gue siapin air hangat sama bajunya. Gue punya baju Heksa di kamar sebelah yang bisa lo pake. Heksa kebanyakan suka baju oversize soalnya kalau buat santai”


Sinar menahan keluhan yang sangat ingin dia lontarkan. Tapi, seperti orang bodoh dia, dari sekian banyak yang bisa dia katakana, pertanyaan yang tidak memiliki bobot penting ia utarakan dengan keras.


“Makan malamya bareng Heksa?”


Tidak berbobot untuk orang lain, tetapi ini sangat krusial untuknya.


“Nggak. Heksa udah gue suruh buat makan di luar aja soalnya dia juga ada acara sama temen kantornya. Tuh anak kalau nggak gue suruh buat nimbrung grup kantor acara luaran mana mau, pasti” Sinar melihat Hala terkekeh lucu, entah membayangkan apa. “Jadi, makasih karena lo disini bareng gue, Kak. biarin dia sesekali aktif di rombongan kerjaan biar cepat naik dari magang jadi pegawai tetap. Biar bisa bangun koneksi juga si Heksa”


“Ah, gitu, ya..” Benar, Hala adalah orang yang sangat perhatian. Heksa sangat beruntung untuk diurus 24/7 oleh calon hidup masa depannya ini.


“Iya, Kak. Yaudah, lo tunggu disini, ya. Air hangatnya gue siapin dulu” ucapnya cepat ketika dia meletakkan selimut di bagian lain dari sofa.


“Oh iya, Hala” Sinar memanggil, mencegah perempuan itu untuk segera menghilang dari ruangan.


“Setelah makan.. mau keluar?” suaranya tenang, namun penuh harap.”Gue janji gue cerita sama, lo, La”


Untuk pertanyaan dan pemintaan akan waktu untuk perempuan itu, Sinar merasa lega dan puas ketika Hala mengangguk dengan acungan jempol persetujuan.


“Apapun yang buat lo nyaman, Kak, gue oke aja”


Itu adalah apa yang Hala serukan bersamaan dengan dirinya yang menghilang dalam acara menyiapkan air mandi untuk Sinar.


Dia tentu saja tidak ingin menangis. Tapi siapa dia untuk meramalkan masa depan beberapa waktu berikutnya?


….


Sesuai dengan apa yang Sinar pinta pada Hala, setelah membersihkan diri, memakai pakaian Heksa yang cocok di badannya, memakan masakan lezat buatan Hala lagi setelahnya dalam sedikit canda hangat meja dapur ruang makan, pada akhirnya Sinar dan Hala sudah berada di sebuah area bowling centre.


Pertamakali, Sinar masih sama seperti sebelumnya dimana dia tidak memiliki tujuan meski dia adalah orang yang mengajak. Lelaki itu sudah mencari tempat di kepalanya dan bahkan melakukan survey internet, tetapi sama sekali tidak suka dengan gagasan berada di luar ruangan karena suhu dingin dimana hujan turun sekitar waktu mereka makan malam. Itu tidak lebat, tetapi hawanya menghantarkan Sinar dalam ingatan pergantian musim dari bagaimana angin berhembus kencang. Dia juga tidak suka dengan beberapa tempat yang tidak cocok dengan kenyamanannya. Lagipula, mereka akan menceritakan banyak hal penting dan Sinar tidak mungkin mengatakan kegundahannya di tempat yang membuatnya mual.


Tetapi semua resahnya menghilang ketika dia megingat perkataan Wildan tentang bagaimana cara lelaki itu melepas stress. Dia juga ingat ajakan lelaki itu ketika mereka sedang disibukan dalam pekerjaan yang membuat tekanan batin meraung. Jadilah dengan sedikit ingatannya tentang tempat itu, dia berhasil membawa Hala ke sebuah ruangan yang ia ambil khusus untuk dirinya dan Hala menikmati berbagai fitur yang telah di sediakan disana.


Untuk sebuah kesenangan awal, Hala sibuk dengan kegiatannya memilih bola bowling.


“Yang ini.” Sinar terkejut ketika Hala dengan susah payah menarik satu bola berwarna hijau. “Gue suka hijau. Ini warna keberuntungan! Coba, deh, Kak. pasti langsung strike” tuturnya dengan semangat ketika dia memberikan cengiran lebar pada Sinar yang terperangah, agak kewalahan. Lelaki itu tersenyum dengan sayang sebelum mengangguk.


Sinar menghampiri lintasan bowling yang sudah ia atur sebelumnya dan memposisikan dirinya dengan gestur sebaik mungkin. Dia fokus pada titik bidik jauh di ujung sana., tangannya mengelus permukaan licin bola sebelum melemparkannya dengan gerakah mulus professional. Matanya menilik, berharap bahwa itu mampu untuk merobohkan pin. Tetapi sayang, itu hanya bergeser dan melalui selokan di sebelah kanan. Sinar merasa bodoh dalam keterkejutan. Biasanya, dia lebih bagus dalam permainan.


Berbalik, Sinar mencoba untuk menangkan ekspresi kekecewaan dari Hala, tetapi yang ia dapat hanyalah tawa menggelegar perempuan itu yang kini memegang perutnya seolah dia baru saja memuntahkan kotak tertawanya yang tergelitik ribuan bulu.


“Kayaknya gue emang selalu gagal dalam hal apapun..” Sinar mendesah, dia kembali membayangkan hal-hal yang membuatnya mual. “Maaf, ya, Hala.. gue-,”


“Diem, kak” sanggah perempuan itu ketika dia sudah berdiri disebelah Sinar dengan bola berwarna hijau lainnya. Kali ini lebih terang. “Coba lagi. Tadi kakak kayaknya belum diberkati sama peri hijau. Nih, mungkin peri hijaunya sekarang sudah memberkati kakak”


Sinar mengerjap dalam pernyataan random yang Hala jabarkan. Perempuan itu masih tertawa dengan cekikikan lucu ketika menyerahkan bola. Kedua alisnya terangkat untuk memaksa Sinar mengambil. Dengan gelengan lucu dan bibir yang tertarik seringai geli, Sinar memutuskan untuk mengambil dan mencoba lagi.


Kali ini Hala tidak meninggalkan sisinya. Perempuan itu masih berada di posisi yang sama dalam jarak aman agar tidak mengganggu gerakan Sinar. Suara semangat dan teriakan keyakinan dari Hala membuat Sinar membuncah. Lelaki itu tertawa sebelum kembali melempar bola dengan harapan itu akan mengenai titik dan merobohkan semua pin. Jantungnya berdegub kencang, namun dia tidak sengaja berteriak heboh saat bola menghancurkan semuanya dalam satu gelinding penuh.


“Tuh, kan! keberuntungan! Lo hebat, Kak! lagi! Lagi!”


Hala melompat dengan semangat. Sinar tidak tahu bagaimana kepercayaan dirinya kali ini melambung tinggi sehingga dia tidak sadar sudah mengambil bola dan melemparkannya dengan berbagai macam gaya, lagi dan lagi. Teriakan kemenangan di sana sini, kekalahan dan kekesalan mengikuti di belakang sebelum teriakan volume tinggi berhasil mencetak kebahagiaan dalam kepuasan malam itu. Di beberapa titik, Sinar tidak tahu bahwa dia mulai berbicara dalam racauan yang didengarkan Hala dengan begitu sabar.


“Gue capek sama hidup gue. Rasanya kayak gue nggak punya pilihan sama sekali. Gue sudah harus ngelakuin ini dan itu sesuai arahan. Gue nggak pernah di ajarin buat memilih apa yang gue inginkan. Gue harus memilih apa yang bagus buat perusahaan dan buat kedua orang tua gue”


“Kadang kalau pilihan gue salah, gue selalu dapat hukuman. Gue selalu dikatain tentang keenggak becusan gue dalam banyak hal yang menurut orang lain mudah. Kadang, gue dapat tuntutan yang berlebih dan gue nggak boleh ngeluh dan mundur dari banyak hal yang udah dibebankan ke gue. Harapan yang mereka kasih berat banget sehingga gue kewalahan dan kadang bingung kemauan gue itu sebenarnya apa”


“Di satu sisi gue seneng karena gue nggak perlu milih masa depan. Gue udah tau harus apa, gue udah tau harus kemana. Tapi sayang, semuanya nggak ada yang bener-bener gue nikmati. Hidup gue serasa digerakin sama orang lain. Gue berasa boneka hidup yang digerakin pake tali”


“Gue nggak punya siapa-siapa, bahkan temen sekalipun. Itu kenapa waktu gue punya satu aja yang ngerasain pahitnya hidup sama kayak gue, gue ikat dia dalam hidup gue sebagai satu-satunya temen terbaik yang gue punya. Yang tulus, yang dimana gue bisa kasih kepercayaan berlebih ke dia”


“Gue selalu ngelakuin yang terbaik biar dia nggak nyesel temenan sama gue. Biar dia nggak ngerasain gimana kesepiannya tanpa orang-orang yang paham situasi yang gue alami. Gue selalu coba yang terbaik buat ngertiin dia dan selalu ada buat dia. Gue nggak paham, dari sekian banyak hal yang gue coba lakuin, kenapa semuanya selalu berakhir dengan kegagalan?”


“Nggak cuma gagal buat temen, gue juga gagal sebagai seorang kakak dalam hubungan saudara. Gue benci ngerasa lemah kayak begini. Gue benci ketika gue nggak bisa lindungi adek gue. Gue benci ketika gue yang malah salah ambil keputusan. Gue udah mikirin berkali-kali apa yang gue lakuin adalah yang terbaik buat adek gue. Buat Lisa… tapi kenapa semua yang gue percayai sekarang malah jadi boomerang yang ngerusak semua kepercayaan gue? Gue takut, La..”


“Keenggak becusan gue, kesalahan pilihan yang gue ambil, keraguan gue dalam hal yang harus gue pilih… semuanya bikin gue rasanya mau gila. Gue ngerasa gagal.. gagal tentang hidup..”


“Hala, kalau gue nggak percaya dengan diri gue sendiri, lo bisa nggak naruh kepercayaan buat gue meski cuma satu persennya?”


“Tolong.. bilang ke gue kalau semuanya bakalan baik-baik aja. Tolong… kasih gue kepercayaan meski cuma nol koma persen..”


Sinar tidak tau apa yang terjadi ketika dia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Tetapi yang bisa dia rasakan adalah, pelukan hangat Hala yang erat ketika dia dipaksa untuk membungkuk dan dihangatkan dalam rengkuhan lembut layaknya sebuah perisai dari kejahatan dunia luar. Bagai selimut yang membungkusnya dari neraka yang bernama kehidupan.


Hanya satu gerakan itu, Sinar memuntahkan segalanya yang selama ini hanya bisa terbendung di dalam jeruji rasa isi hatinya.


Dia tidak menangis. Tidak-, masih belum.


Malam masih lebih panjang daripada apa yang dia perkirakan.


.........


...🍁...


...Tempat Pelarian; Calon Rumah Dimana Hati Tertuju. Part 2...


.........


...🍁🍁🍁...


...PROMOSI NOVEL KARYA RENI.T...


...JUDUL: TERJERAT CINTA MAFIA TAMPAN...


Adelia Fasha adalah gadis matang berusia 25 tahun yang mencari nafkah dengan berjualan gorengan yang dijajakan berjalan keliling kampung. Suatu hari dia menemukan seorang pria tergeletak di pinggir jalan tidak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka.


Dia menolong pria yang sedang dalam keadaan terluka dan hilang ingatan tersebut ke rumahnya, tanpa dia sadari orang yang dia tolong tersebut adalah seorang bos mafia.


Apa yang akan terjadi selanjutnya? bagaimana reaksi Adelia saat tahu tentang identitas pria yang sebenarnya adalah seorang bos mafia yang di kenal kejam dan tidak punya perasaan?