
“Gue nggak mau nikah, kak.. gue nggak mau nikah kalau bukan sama pilihan gue.. gue masih pengen bebas..”
Beberapa waktu setelah Lisa memuaskan diri untuk memukul kakaknya dengan kepalan tangan untuk meredakan kehancuran hati dan pikirannya yang rusak, dia mendapati dirinya berada dalam pelukan sang kakak. Mereka kini sedang berada di ruangan santai yang biasa mereka gunakan untuk menonton film atau sekadar bermain game. Lisa juga masih ingat bahwa ini adalah ruangan yang sama tempat dirinya dan teman-temannya melakukan pesta kecil-kecilan beberapa waktu yang lalu.
Miris rasanya melihat situasi saat ini. Dingin dari pendingin ruangan yang biasanya sangat menyejukkan kulit dan menimangnya hingga nyaman hanya membuai, sekarang mejadi dingin yang menusuk kulitnya seperti sedang menggoreskan luka berdarah untuk menyerang hatinya yang sudah buyar.
Pandangan Lisa kosong, dia bahkan melihat hitam dari bagaimana ruangan hanya dibantu dari penerangan lampu kecil meja yang menjadi favorit Lisa. Tidak ingin cahaya dari lampu ruangan yang cerah mengekspos dirinya yang rapuh, atau bahkan tidak ingin lampu berbintang indah miliknya mengejek kehancurannya yang begitu menyedihkan. Lisa sebenarnya hanya ingin sendirian, tetapi rasanya, dengan kakaknya yang merengkuhnya sedemikian rupa, Lisa tahu bahwa dia membutuhkan sangat membutuhkan dukungan.
“Gue nggak percaya Papa tega ngelakuin ini ke gue, Kak. Gue selama ini bahkan nggak pernah kepikiran Papa atau Mama bakalan ngerebut kebebasan yang mereka kasih ke gue dengan cara yang jahat kayak gini..” Suaranya lirih, ditelan hampir kegelapan ruangan dan suhu yang rendah.
“Papa bahkan sampai ngancem gue buat bawa gue pulang ke Jepang dan ngurung gue di rumah utama kalau gue masih keras kepala buat nolak pernikahan ini.. gue nggak mau.. kepala gue sakit, Kak. Hati gue sakit” Dia terisak, kembali menenggelamkan kepalanya di dada Sinar.
“Gue juga masih muda Kak.. gue baru duapuluh tiga tahun. Gue belum siap buat nikah muda. Gue juga ngerasa gue masih anak-anak. Masih banyak yang bisa gue lakuin di kehidupan gue. Pernikahan buat gue masih menakutkan, Kak. Gue bahkan belum jadi pribadi yang terbaik buat diri gue sendiri… gimana bisa Papa dan Mama maksa gue nikah kayak gini?”
Lagi dan lagi, Lisa melontarkan banyak alasan dimana dia bisa membela dirinya untuk tidak dipaksa menikah sedemikian rupa. Itu adalah apa yang bisa dia pikirkan untuk sekarang. Meskipun kepalanya terus menerus menyerukan orang jahat yang tidak lain dan tidak bukan adalah Noren yang merupakan kunci dimana semua ini bisa terjadi, dia masih memaksakan alasan lain yang koheren untuk memberikan validasi mengapa dia pantas untuk dikeluarkan dari pernikahan bodoh ini.
“Gue yakin Papa sama Mama udah dicuci otaknya sama Kak Noren. Orang jahat kayak dia pasti bisa ngelakuin banyak hal buat keserakahan dia. Kak Noren orang gila, Kak. Dia monster jahat! Dia udah jahatin gue!”
Lisa menyuarakan dengan sakit dari sela-sela suara kesar yang ia serukan. Suaranya memantul bergema di ruangan yang dingin. Lisa bisa merasakan dekapan sang Kakak semakin erat disekeliling tubuhnya. Belum lagi, usapan tangan lembut di kepalanya hampir berhenti sepersekian detik sebelum kembali mengelus permukaan rambutnya dengan kasih sayang yang menetes dari tindakan itu.
“Lo juga ikut serta dalam hal ini, Kak. Otak lo juga udah dicuci sama Kak Noren sampai lo rela adek lo ini direnggut kebebasannya dengan nikah paksa bodoh!” Lisa merasa emosinya memuncak lagi, mengingat kembali pada waktu itu bagaimana pertamakali Noren diperkenalkan pada dirinya.
“Kenapa, sih, lo bisa-bisanya ada di pihak Kak Noren daripada adek lo sendiri, Kak? Kenapa lo bisa percaya kalau orang lain bisa jagain gue sementara gue sendiri merasa terancam dengan kehadiran dan paksaan-paksaan bodohnya dia?” Lisa menutup matanya erat, menghapus bulir air mata yang masih menetes keluar dan tidak terbendung.
“Dan kenapa lo bisa sahabatan sama orang kayak Noren, sih? Lihat apa yang terjadi sekarang? Papa Mama ngancem gue, kebebasan gue direnggut dan gue dipaksa nikah sama orang yang sama sekali nggak gue cinta? Bukan orang yang benar-benar gue pilih buat jadi seseorang yang mau gue habisin waktu gue sampai gue mati..”
“Coba lo posisikan diri lo jadi gue, Kak! Coba lo dipaksa nikah sama orang lain dan bukan sama orang yang lo cinta? Coba lo bayangin lo dipaksa nikah sama orang lain dan bukan Hala? Kalau gue inget, lo cinta mati sama sahabat gue itu, kan? Coba lo posisikan diri lo jadi gue, kak! Lo harus tau seberapa hancurnya gue sekarang..”
“Pernikahan bukan permainan buat gue..” Lisa menghela napas. Tubuh sang Kakak tegang dikulitnya. Bahkan, usapan menenangkan dikepalanya berhenti sekejap mata. Sinar berhenti bernapas untuk sesaat, hati-hati saat dia akhirnya menghembuskan napas yang sedang dia tahan.
“Gue pengen suatu saat gue nikah sama orang yang gue temui, yang sayang sama gue dan gue juga sayang sama dia. Gue pengen suatu saat gue nikah sama orang yang bisa jadi rumah buat gue pulang, buat gue bersandar kalau gue lagi sedih, kalau gue lagi sakit. Gue pengen pernikahan gue sekali seumur hidup, kak..” Lisa mengoceh lagi. Dia tidak akan membiarkan Sinar memutuskan segala hal yang ingin dirinya keluarkan.
“Gue bahkan belum pernah ngerasain jatuh cinta, Kak. Gue belum pernah ngerasain gimana rasanya sayang banget sama orang sampai gue nggak mau kehilangan dia dalam konteks asmara, Kak. Kalau tiba-tiba gue dipaksa kayak begini dengan alasan Kak Noren jatuh cinta sama gue, gua jadi takut dengan cinta itu sendiri, kak..”
“Daripada cinta, Kak Noren bisa gue bilang terobsesi sama gue” Lisa menghela napas, kepalanya sudah pusing dengan banyak hal dan rahangnya sudah sakit karena dia tidak bisa berhenti berbicara.
“Padahal gue juga nggak paham apa yang bikin dia terobsesi sama gue?”
Lisa merasa ada yang memukulnya dengan kuat. Dia bahkan sampai tegak dan berbalik untuk melihat sang Kakak dengan kedua mata yang membulat besar seperti sebuah realisasi langsung menghantamnya dengan kecepatan cahaya.
“Benar.” Dia berbisik, meyakinkan dirinya sendiri lagi. “Apa yang buat dia sebegininya pengen gue jadi istrinya? Dia juga bilang dia cinta sama gue, tapi setelah gue ingat-ingat lagi, kita juga belum pernah ketemu sama sekali. Sumpah, Kak. Gue tau sahabat lo itu aja waktu lo bawa kerumah dan ngenalin ke gue..”
Lisa menarik napas. Dia baru ingat sekarang bagaimana semuanya terasa sangat tidak masuk akal. Sebenarnya, apa yang diinginkan Noren dari dirinya? Lisa hanyalah seorang perempuan berusia dua puluh tiga tahun biasa. Dia bukan salah satu penerus perusahaan keluarganya dan dia juga tidak menginginkan hal itu. Dia hanya karyawan perusahaan biasa yang menjalankan hidup dengan keinginannya sendiri. Itu tidak besar, tidak benar-benar berkesan. Namun dia sangat puas menjalani kehidupannya.
Pun, jika melihat dari tampang dan perawakannya juga-, Lisa termasuk kategori perempuan yang biasa-biasa saja. Dia yakin dirinya cantik, tapi ada lebih banyak orang dan perempuan diluar sana yang lebih cantik daripada dirinya. Lisa juga yakin dirinya tidak terlalu mencolok sebagai seorang perempuan. Di kantornya saja, dia bisa mengkategorikan beberapa orang yang sangat dan jauh lebih cantik dari dirinya. Miss Jelita contohnya.
“Kak.. lo pasti tau, kan?”
Sekarang, dia memusatkan tatapannya pada Sinar yang masih bersandar di bahu sofa. Meminta jawab dari banyaknya pertanyaan yang dirinya lontarkan pada sang Kakak yang sejak awal memulai semua ini. Sinar harus bertanggung jawab dengan apapun yang sudah dia mulai dan lelaki itu tidak akan bisa melarikan diri seperti seorang pengecut.
Lisa melihat Sinar menghela napas berat dan dalam. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan lelaki itu untuk di ungkapkan. Namun disana Lisa, duduk tegap dan tidak bergerak untuk meminta jawaban yang sebenar-benarnya dari orang jahat pertama yang mengacaukan hidupnya. Kakaknya yang dia cintai sampai mati yang juga merupakan salah satu pion penghancur kehidupan bebas indahnya.
“Apa yang harus gue jawab dari semua pertanyaan lo ke gue, dek? Gue bahkan nggak tau sebagian besar dari pertanyaan lo yang bisa gue jawab” Sinar mendengus, kali ini lebih pasrah dan kalah daripada sebelumnya.
“Lo pasti tau semuanya, Kak! Lo yang bawa Kak Noren ke dalam hidup gue, lo yang pertamakali bilang si monster jelek itu calon suami gue dan lo yang juga tau kalau semua hal tentang pernikahan ini nggak pernah jadi bahan candaan sejak awal. Lo juga yang tau kenapa Noren bisa sebegininya sama gue dan terakhir, lo juga yang paham kenapa Mama dan Papa bersikeras maksa gue buat nurutin pernikahan gila ini!”
Lisa berteriak. Dia tahu dirinya setidaknya lebih baik tenang dan tidak meledak-ledak. Dia terlalu kasar dengan kakaknya yang bahkan disana untuk menenangkannya. Tapi masa bodoh dengan semuanya, dia hanya ingin jawaban atas rasa penasarannya saat ini. Dia butuh jalan keluar agar dia bisa berpikir dengan jernih dan waras.
“Gue nggak bohong pas gue bilang gue nggak tau jawaban dari setengah pertanyaan lo, dek. Tapi gue bisa jawab apa aja yang gue tau.. meski sedikit dan nggak muasin lo, tapi gue janji gue nggak pernah bohong sama lo tentang hal ini” Sinar bersuara dengan tenang, namun ada kepastian dalam suaranya yang netral itu.
“Gue juga udah muak dengan semuanya, dek.” Dia menambahkan, kali ini menggeser tubuhnya untuk duduk dengan nyaman di sofa dan membiarkan angin dingin menusuk kulitnya ketika kehangatan dari sang adik digeser dalam jarak yang cukup disampingnya.
“Gue tau gue salah. Gue nggak mikirin bakal jadi serumit ini dan bahkan bikin lo sakit sampai sebegininya, dek. Tapi sumpah, gue nggak pernah setuju dengan cara nikah paksa kayak gini. Lihat lo sakit gue juga sakit, dek. Gue berani sumpah..”
Lisa memperhatikan Sinar yang menatapnya dengan sorot mata sedih. Dia sedang tidak berpura-pura sekarang. Lisa menguatkan dirinya. Dia meyakinkan bahwa Sinar tidak akan berbohong dan mengada-ada tentang semua permasalahan ini. Jadi, Lisa diam untuk mendengarkan dengan lebih baik.
“Lo tau? Gue masih berantem sama Noren sampai saat ini” Suaranya dingin, menusuk seolah-olah Lisa ikut merasakan kekecewaan sang Kakak dari bagaimana dia melepaskan sebuah kejujuran baru.
Lisa terkejut. Dia bahkan tidak tahu bahwa Sinar bertengkar dengan Noren. Seingatnya, mereka masih baik-baik saja meskipun ada satu waktu dimana Lisa melihat Sinar yang acuh tak acuh dengan kehadiran Noren. Atau mungkin, Lisa hanya tidak terlalu mengamati keadaan sekitar? Tapi, dengan seberapa baiknya Noren berbicara mengenai sang Kakak disetiap kesempatan yang ada, lelaki itu membuatnya seolah-olah mereka masih bersahabat dengan sangat baik.
Ah, benar.
‘Pantas Kak Sinar nggak datang waktu gue buat acara bareng anak-anak…’ ingatan Lisa berbisik padanya. Dan realisasi menghantamnya seperti tabrakan mobil.
Lisa mengangguk mendengar penuturan Sinar. Benar, dia ingat pada waktu itu ketika Sinar mengatakan dia akan tinggal dan mengambil alih perusahaan di kota ini dan bahkan menetap bersamanya. Lisa pada waktu itu, sangat senang dengan kehadiran sang Kakak yang hadir kembali di dalam hidupnya.
“Gue tau gimana dia bisa jatuh cinta sama lo sebenarnya. Tapi, gue nggak bisa ngomongin hal ini ke lo karena gue takut yang keluar dari mulut gue bakalan berbeda jauh dari apa yang ada dalam perspektifnya Noren. Lo harus tanyain ini ke Noren sendiri. Gue minta maaf.. gue takut kalau gue bakalan ngerusak ini lagi dan malah bikin masalah baru”
Lisa ingin protes, tapi Sinar membungkamnya dengan kembali menuturkan semua fakta yang dia tahu dan dia miliki untuk segera dibagi kepada Lisa.
“Intinya, waktu itu dia datang ke gue dan bilang kalau dia cinta sama adek gue. Sama lo. Dia minta izin sama gue buat deketin lo setelah dia berhasil mengambil alih pekerjaan Ayahnya disini. Gue awalnya ragu karena Noren bukan tipe yang halus buat deketin orang lain. Terlebih, buat deketin orang yang dia suka. Bukannya gue tau siapa aja yang dia suka atau perbedaan yang mencolok tentang gimana dia deketin orang yang bikin dia jatuh cinta…
Tapi dari gimana cara penyelesaian dia dengan orang lain, cara dia ngejalanin bisnisnya.. Noren bisa dibilang salah satu pengusaha yang agak picik dan agak gila untuk dapatin kesepakatan bisnis. Ini yang jadi perspektif gue tentang gimana dia bakalan deketin lo, dek. Gue tau gimana gilanya dia waktu dia berusaha buat narik hati lo buat jatuh ke dia”
Lisa mendengarkan penuturan Sinar dengan lamat-lamat. Berusaha untuk memahami penjelasan dari sang Kakak. Sedangkan Sinar ditempatnya sedang memainkan jemarinya yang panjang dan berkeringat meskipun suhu ruang saat ini sangat rendah.
“Tapi gue nggak tau dia bakalan senekat ini tentang lo, Lis. Gue berani sumpah gue udah bilang ke dia kalau dia nggak boleh sampai nyakitin lo. Gue udah bilang sama dia kalau lo berhak buat milih keputusan lo sendiri. Gue bahkan sudah berkali-kali ngingatin Noren tentang hal-hal ini ke dia. Tapi nyatanya… gue nggak tau lagi bisa sampai gini, dek. Bahkan, Noren berani minta izin sama Papa dan Mama dibelakang gue…”
“kenapa lo nggak coba buat-,”
“Gue udah coba buat sadarin Noren tentang hal ini. Gue udah bilang sama dia buat nggak maksa lo. Noren harus dapat keputusan dari lo dan bukan dari dirinya sendiri. Tapi, dia satu langkah di depan gue, Dek. Dia udah berhasil yakinin Mama sama Papa kalau lo harus nikah sama dia. Kalau lo harus jadi milik dia. Gue bahkan sampai sekarang masih nggak bisa ngeliat wajahnya dia dengan benar. Hasrat gue pengen mukul Noren besar banget, tapi gue nggak punya kemampuan buat ngelakuin hal itu”
Sinar menghela napas dengan kasar. Kepalanya kali ini ia sandarkan ke sandaran sofa. Mendongak, matanya menutup seperti sedang memikirkan banyak hal yang ingin dia sampaikan pada Lisa yang saat ini masih membatu.
“Gue nggak punya kuasa lebih buat ngelawan Papa sama Mama… karena…” Ada erangan aneh yang Sinar suarakan, terdengar sangat frustasi. “Karena gue juga punya kesepakatan sama Papa dan Mama.. tentang hidup gue..”
Lisa mengerjap. Masih tidak paham dengan apa yang sedang Kakaknya katakan padanya.
“Sebenarnya lo nggak harus tau tentang ini. Bahkan, lo nggak perlu tau tentang kesepakatan bodoh dalam keluarga ini.. tapi gue.. gue egois dek. Gue juga pengen egois dalam hidup gue..”
“Apa maksud lo, Kak?” Kali ini, rasa penasaran Lisa sudah sampai di ubun-ubun. Dia perlu tau semuanya. Dia harus tau apapun yang terjadi dalam keluarga yang Lisa tahu bahwa Cakrawijaya adalah keluarga yang hangat dan saling menyayangi satu sama lain.
Namun, Sinar hanya tersenyum lemah dan menggeleng.
“Ini bukan tentang gue. Dan ini nggak perlu jadi permasalahan lo. Yang mau gue bilang disini intinya, mungkin karena keegoisan gue ini Papa dan Mama malah senang dengan adanya orang yang mau meminang lo. Apalagi itu Noren. Anak dari pengusaha besar dan juga salah satu penerus perusahaan dengan pondasi yang kuat. Noren benar-benar apa yang bisa didambakan sama orangtua kita, tau”
“Kak.. lo. Jangan-jangan lo juga… lo dipaksa-,”
“Gue” Sinar menghentikan Lisa untuk berbicara lebih lanjut. Lelaki itu dengan tegas menyatakan bait ucapannya yang belum dia selesaikan.
“Gue awalnya juga senang dengan kehadiran Noren yang nunjukin rasa cintanya sedemikian besar kepada lo, dek. Gue dengan senang hati dan yakin, percaya sama sahabat gue yang bakalan nge-treat lo dengan benar. Tapi sayangnya, kepercayaan gue dikecewakan sehebat ini. Gue bahkan ngerasa nggak punya wajah buat ada di depan lo lagi”
“Makanya..” Sinar menatap Lisa dengan perasaan asin yang sangat bersalah. “Makanya gue nggak bisa berdiri di sisi lo tadi. Sebelumnya, gue bersumpah gue udah berusaha buat nahan orangtua kita. Gue berusaha buat kasih waktu lebih banyak buat lo sama Noren untuk mutusin dimana perasaan kalian berada. Tapi nyatanya gue gagal..”
“Gue minta maaf, Lisa.. kakak lo ini beneran payah..”
Air mata Lisa menggenang lagi. Perasaannya bergetar. Dia tidak tahu dimana dirinya berdiri atau apa yang akan dia lakukan dimasa depan dengan informasi ini. Mungkin dia masih marah dengan Kakaknya. Tapi, mendengar bagaimana Sinar berusaha untuk berdiri atas kebebasan adiknya dibelakang Lisa sendiri membuat Lisa luluh.
Dia tidak mengerti tentang bagaimana keluarganya yang harmonis ini ternyata begitu rusak di dalam. Dia bahkan tidak bisa mempercayai orangtuanya lagi dengan keadaan ini. Tapi untuk Kakaknya, mungkin ada dinding kebencian yang runtuh dengan semua kejujuran dan kasih sayang yang Kakaknya selalu beri padanya sedemikian rupa besarnya.
Lisa tidak mengharapkan apapun yang buruk dalam hidupnya. Tapi disinilah dia berada. Diantara gelap dan terang dunia yang bahkan tidak pernah dia pikirkan dalam langkah-langkah yang dia ambil di kehidupannya.
Agaknya mengerikan. Tapi dia tahu bahwa dia memiliki Kakaknya disini yang akan mendukungnya dan akan menjadi tameng baginya. Meskipun payah dan goyah serta tidak stabil yang akan runtuh secepat angina menerpa, Lisa bersyukur dia tahu ada yang berdiri untuknya disampingnya dan tidak hanya dirinya sendiri yang berdiri melalui badai ini semua.
“Kakak..” Lisa kembali memeluk kakaknya. Kali ini lebih erat.
Mungkin dia tidak akan keluar dari pernikahan paksa ini. Dari permasalahannya yang membuatnya sakit kepala. Tapi entah kenapa, perasaannya lebih lega saat ini. Mungkin karena pengakuan sang kakak. Mungkin karena Kakaknya berbicara tentang apa yang dia tidak tahu. Meskipun tidak semua pertanyaan terjawab dan tidak ada solusi tentang permasalahan ini-, badai emosinya meluap ke udara tipis yang kali ini terasa tidak menyerangnya dengan kuat lagi.
“Gue udah bilang sama lo kalau lo adalah adik gue satu-satunya yang paling gue sayangi. Lo adalah adik gue yang berharga, Lisa. Gue rela ngelakuin apa aja buat lo bahagia..” Sinar kembali merengkuh Lisa. Menepuk punggung adiknya dengan lembut dan menenangkan.
“Meski gue kalah disini dan jadi salah satu penyebab rasa sakit lo.. tapi gue cuma bisa usahain satu hal buat lo. Gue bakalan usahain buat ngulur waktu pernikahan lo, dek. Cuma itu yang bisa gue lakuin buat lo. Selebihnya, entah lo yang mulai jatuh cinta juga sama Noren, atau lo berhasil berdiri sendiri di depan orangtua kita… Atau.. atau Noren yang bakalan menyerah tentang lo.. gue nggak bisa janjiin apapun selain usaha buat mundurin pernikahan lo”
Lisa menghela napas. Dia tidak yakin beberapa pernyataan kakaknya akan bisa dia lakukan dengan sempurna. Mendengar Noren yang akan menyerah tentangnya adalah hal yang menghibur. Namun dia juga tidak yakin tentang itu.
Adapun tentang orangtuanya…
Mungkin Lisa bisa memikirkannya nanti. Dengan janji usaha yang Sinar lontarkan padanya. Lisa yakin dia akan bisa melepaskan dirinya dari pernikahan bodoh yang tidak dia inginkan ini.
...🍁...
...Kakak dan Adik; ******Hubungan****** Darah Yang Kental...
.........
...🍁🍁🍁...