Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Perjalanan Yang Direncanakan Part. 2



Ajakan berlibur yang dikemukakan Noren sungguh membuat Lisa keluar dari jalur pikirannya. Itu adalah waktu yang benar-benar tepat seolah-olah lelaki itu hanya melemparkan anak panah dengan mata tertutup tetapi tetap mendapatkan poin sempurna dalam satu kali tembakan. Lisa tidak ingat bagaimana panggilan video itu membuatnya gagap di sepanjang jalan dalam menentukan reaksi apa yang harus dia kemukakan. Sejujurnya itu adalah kejut yang nyata dimana Nalisa yakin sekali bahwa dia terlihat seperti tikus yang tertangkap sedang mencuri remahan keju sebagai camilan makan malam pengisi perut.


Pasalnya, Noren mengemukakan itu tanpa pikir panjang, kata-kata mulus meluncur dari bibirnya yang seperti tahu apa yang harus dia katakan dengan lugas dan percaya diri. Bagi Lisa, segalanya terlalu tiba-tiba. Perempuan itu merinding memikirkan bagaimana Noren seperti berada dalam garis lurus edarnya dan rencana yang tersusun di kepalanya. Menyeramkan bagaimana orang lain dapat membaca keinginannya sedemikian rupa sehingga Lisa merasa bahwa dia begitu terbuka dan mudah dibaca.


Lagipula, siapa yang bisa menghakiminya untuk tidak merasa takut jika rencananya yang baru beberapa saat lalu terlintas dikepalanya dengan tiba-tiba, hanya dibagikan oleh Hala sebagai sahabatnya yang muncul entah darimana untuk menyapanya-, bisa sampai begitu cepat pada Noren sebagai orang luar yang sama sekali tidak berada di sisinya ketika dia merencanakan liburan itu sendiri.


Namun, keinginan bertanya dan mendesak Noren dalam pembahasan kebetulan aneh itu harus terpotong karena rekan kerjanya yang berhambur masuk kedalam ruangan dengan beberapa gerutuan dan perkacapan kekesalan juga lelah membuat Lisa tersadar bahwa dia sedang berada di jam kerja dan bahkan belum memasuki waktu istirahat. Percakapannya dengan Noren harus berakhir hingga membiarkan Lisa untuk memikirkan sesuatu yang sungguh harus dia yakini bahwa hal ini bukanlah hanya kebetulan semata.


Bisakah Hala memberitahu Noren begitu saja tanpa sepengetahuan Lisa? Karena tentu saja, orang pertama yang tahu tentang rencananya adalah sahabatnya. Namun, ketika Lisa bertanya secara gamblang ketika dia medekati Hala, perempuan itu menggeleng dengan wajah berkerut yang bingung bercampur ketidakpercayaan tentang Lisa menuduhnya sebagai pembawa pesan untuk Noren.


Mengabaikan itu, Lisa memilih opsi lain yang liar di dalam kepalanya. Apakah itu mata-mata? Atau apakah Noren memiliki seseorang yang ditugaskan untuk menguntit dirinya dan memberitahukan segala aktivitasnya pada lelaki itu? Memikirkannya, Lisa menjadi semakin merinding.


Kepalanya terus berputar memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam kebetulan aneh ini. Hingga dia tidak ingat berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaannya, tidak ingat bagaimana dia bisa memakan makan siangnya, tidak mengingat bagaimana detail pembicaraanya dengan Jelita dan bagaimana pada akhirnya dia memakai blazer dan menarik tasnya di bahu setelah sebelumnya mematikan layar monitornya untuk bersiap pulang. Kepala Lisa rasanya sakit. Dia tidak mengingat dengan jelas beberapa hal karena ketakutan dan keanehan yang kepalanya pikirkan secara berlebihan hingga dia, dengan mata yang membola dan mulut yang menganga-, berhadapan langsung dengan Noren yang melambai di depan mobilnya dan memberikannya senyum paling lebar yang lelaki itu bisa berikan padanya.


Benar. Noren menjemputnya. Lelaki itu sudah mengatakannya pada Lisa sebelum sambungan video terputus secara sepihak tanpa respon lebih lanjut dari Lisa. Dipikirkan sekarang, dengan Noren yang berada di hadapannya dalam jarak dekat dan dengan tangan hangat lelaki itu yang diletakkan di bahu Lisa, segala autopilot tubuhnya perlahan-lahan mulai mengembalikan kesadarannya dari lingkup kecil balon pikiran aneh berlebihannya.


“Mata-mata?”


Lisa mengerjap saat itu. Dia sudah duduk di mobil memasang safetybelt ketika Noren bersiap untuk menekan pedal gas yang dibubuhi dengan tawa menggelitik dari lelaki itu sendiri seolah dia sedang mendengar guyonan paling lucu di dunia. Mata lelaki itu menyipit saat Lisa memelototinya untuk menunjukkan bahwa dia sedang serius. Tetapi, Noren hanya melepas satu tangannya dari kemudin dan mendorong kening Lisa dengan dua jari telunjukanya dengan sentuhan lembut yang menunjukkan kegemasan. Lisa mengaduh atas reaksi, mencubit paha Noren sebagai gantinya.


“Nggak, kok. Emang cuma kebetulan aja. Aku emang udah rencanain mau ajak kamu jalan-jalan bareng aku. Jadi, nggak usah mikir yang aneh-aneh, ya. Kamutuh, isi kepalanya udah terkontaminasi sama film-film aneh yang kamu tonton, nih kayaknya”


“Film gue nggak aneh! Selera film lo aja yang jelek, Kak!”


“Loh, emang kamu tau selera aku gimana, Lisa?”


“Ya, karena lo bilang selera film gue jelek, berarti selera lo yang jelek. Semua film yang gue tonton bagus-bagus, ya! Nggak terima gue kalau lo bilang film gue jelek!”


“Wah, seneng banget Lisa udah tau selera aku gimana. Berarti Lisa udah perhatian sama aku, kan, ya?”


“Dih? Sumpah, ya, gue bingung banget sama jalan pikiran lo gimana, Kak. Capek, mending diem deh”


“Nalisa.. Nalisa. Bisa nggak, sih, sehari aja nggak gemesin? Nanti kalau aku kelepasan nerkam kamu gimana? Bukan salah aku, ya?”


“Sumpah, kak. Bagian mana dari gue yang lagi ngomelin lo bisa dibilang gemesin? Emang bener lo gilanya udah nggak ketolong. Sekarang diem dan biarin gue pulang ke rumah dengan tenang. Lo nyetir aja yang bener pokoknya kak Oke? Oke. Udah nggak usah di tanggapin. Diem!”


Lisa masih mendengar cekikikan dari Noren yang terdengar begitu geli dan puas sendiri. Lelaki itu menggeleng dengan gelengan kecil yang tampaknya membuat pergolakan sendiri di pikirannya. Lisa menghela napas, mencoba untuk menenangkan diri dari gejolak sebelumnya. Menurunkan kursinya sedikit sehingga dia bisa setengah berbaring untuk mengistirahatkan punggungnya, suara pernyataan Noren membuatnya mengeluh.


“Siapa bilang kita mau langsung pulang? Ada tempat bagus yang makanannya enak banget. Aku mau bawa kamu cobain itu hari ini. Jadi, kencan makan malam dulu sama aku, ya, Lisa”


Itu dia. Seharusnya Lisa tahu kemana ini akan berakhir. Ya sudahlah, dia akan berakhir dengan perut yang kenyang dan makanan gratis. Tidak ada ruang untuk berdebat karena Noren keras kepala. Lisa sudah melalui ini sebelumnya dan bahkan banyak pemaksaan yang lebih parah sebelum mereka berteman. Jadi, Lisa memilih untuk berguling ke kiri dan menutup matanya. Isi kepalanya butuh istirahat sebentar dan tentu saja, itu adalah strategi untuk membungkam Noren dari mengajaknya berbicara-, atau dalam hal ini, berdebat.


“Aku sambungin radio ke playlist aku, ya? Siapa tau kamu juga suka. Buat tambahan info tentang seleranya aku”


Yah, dan untuk itu juga. Lisa tidak ingin berdebat. Dia lebih suka memikirkan, makanan apa yang akan disajikan didepannya nanti karena Noren sepertinya tidak akan mengatakan padanya apa itu sebelum Lisa yang bertanya lebih dulu. Jadi, tentu saja, tidak. Dia lebih suka untuk menebak di antara alunan musik Somebody To You milik The Vamps yang menyerbu ruang kecil mobil yang anehnya nyaman karena dia sudah terlalu familiar di dalamnya.


Sebentar, pilihan musiknya..


Noren pasti memilih dari lagu-lagu yang tengah viral dan tentu saja, Lisa tahu apa yang coba Noren sampaikan padanya dari lagu itu.


Tapi sekali lagi, dia lebih memilih untuk mengabaikan daripada menarik tinggi ego lelaki itu untuk meroket.


Noren aneh. Lelaki itu selalu memiliki jalan pikir yang Lisa tidak bisa tebak sama sekali selain seberapa gigihnya dia untuk melangkah dalam kotak romantisasi yang telah digariskan oleh Lisa dengan sangat jelas bahwa mereka tidak akan pernah bisa bersama selain hanya berteman. Yah, jadi, biarlah dia melakukan apapun. Lisa tidak peduli selama itu masih ada di bawah air dimana dia bisa menanganinya dengan sangat baik dan percaya diri.


......................


“Kak, rame nggak tempatnya?”


“Nggak, kok. Aman”


“Jauh nggak tempatnya? Gue nggak mau kalau jauh terus macet. Gue mau liburan, bukan mau capek dijalan dan emosi seharian, Kak”


“Nggak, kok. Nggak macet dan nggak jauh juga. Nggak sampai ke kota sebelah juga, Nalisa. Kamu tenang aja,ya”


“Emang mau kemana, sih, Kak? Gunung? Tempat wisata? Pantai? Gue nggak mau yang ribet-ribet dan sekalian biar bisa nentuin outfit gue biar cocok sama tempat dan situasinya”


“Kamu kalau penasaran plus panik, ngomelnya makin gemes gitu, ya? Tenang dong, Lisa. Ini hati aku nggak kuat kalau kamu makin gemesin gitu”


“Gue lagi nggak main-main, ya, Kak! Ayo dong, serius sebentar”


“Hahaha, iya, kita ke pantai di perbatasan kota. Nggak sampai dua jam kesana. Soalnya aku tau jalan pintas. Udah siap? Ayo, Lisa!”


“Hah? Eh, Kak, bentar--,”


Lewat sehari dari bagian lelah dalam pekerjaan hidupnya, disinilah Lisa sekarang berada. Berkendara selama dua jam kurang hanya untuk berada di depan sebuah resort mewah yang Lisa tidak pernah pikirkan akan menginjakkan kaki disana. Matanya membelalak untuk mengamati sekitar yang hanya menjeritkan banyak uang untuk dihabiskan dalam kenyamanan yang sedang dipersembahkan dengan begitu menggoda.


Bukannya Lisa tidak bisa untuk menghabiskan waktu disana seorang diri sebagai pilihan perjalanan liburannya, namun dia lebih memilih yang terlalu biasa dan sederhana. Lagipula, dia hanya ingin mencari kebebasan dari penatnya kerja dan hiruk-pikuk keadaan kota. Resort pantai jauh daripada apa yang dia pikirkan. Dia kira, Noren hanyalah membawanya ke pantai sederhana dimana dia bisa meneriakkan banyak kata yang ingin ia keluarkan. Duduk di tepi pantai dan menggambar di atas pasir menggunakan kayu yang tersebar dimanapun ia bisa meraihnya atau bahkan hanya membuat rumah dan istana pasir sebelum berlarian mencari kerang dan kehidupan makhluk air lainnya.


Sebenarnya, resort pantai dimana Noren membawanya adalah tempat yang memanjakan mata. Sesaat setelah dia menginjakkan kaki keluar dari mobil milik Noren, dengan topi bundar besarnya dan tas piknik miliknya yang sudah ia siapkan makanan kecil yang didekor sedemikian rupa hanya untuk kesenangannya sendiri-, terasa begitu tidak pada tempatnya. Bagaimana mungkin kepalanya yang memikirkan untuk mendatangi pantai berbatu dengan sebaran kerang dan karang juga pasir empuk yang terkena sengatan matahari bisa berubah menjadi tempat mewah yang memanjakan fasilitas yang mengundangnya untuk menginap dan memanjakan diri dengan segala fasilitas yang mereka tawarkan secara totalitas.


Lisa mengerang, berbalik untuk menghadapi Noren yang hanya tersenyum setelah berhasil menata rambutnya yang teracak oleh angin pantai yang khas.


“Kenapa? Ada yang salah?”


Noren bertanya tiba-tiba ketika lelaki itu sudah berada di hadapan Lisa yang menatapnya dengan tatapann tajam penuh dengan kata-lata yang sama tajamnya untuk ia keluarkan. Atau, kebingungan dan ketidak setujuan tentang bagaimana pilihan tempat yang Noren pilihkan untuk acara liburan mereka. Atau setidaknya, acara liburan Lisa sendiri. Seharusnya Lisa tidak membiarkan Noren ikut andil dalam hal ini. Lelaki itu hanya mencoba menghancurkan banyak hal.


Seharusnya ini bukan kejutan. Tetapi tetap saja, Lisa terkejut. Bahkan untuk dirinya sendiri.


“Loh? Ini kan pantai? Nanti di dalem di antar sama golf-car biar sampai ke pantainya” Noren menawarkan senyum. Matanya melirik ke sekitar parkiran yang terdapat tujuh sampai Sembilan mobil lain yang terparkir. Menyadari sesuatu, Noren merengut, agak menunjukkan wajah bersalahnya.


“Maaf, ya, Lisa. Tempatnya nggak bisa sepi banget. Soalnya aku juga agak dadakan minta reservasi buat hanya kita berdua. Tapi nggak apa-apa, ya? Orangnya cuma sedikit dan aku udah pastiin nanti pantainya cuma boleh dipakai buat kita berdua aja. Nggak apa-apa, ya?”


“Kak Noren, lo… aduh, gue nggak tau mau ngomong gimana. Aduh, gue sebel banget”


Lisa merasa antara ingin mencakar Noren saat itu juga atau menariknya untuk menenggelamkan lelaki itu jauh ke dalam air laut dalam percobaan pembunuhan. Mengapa lelaki itu selalu mencoba untuk membuatnya kesal dalam berbagai macam hal? Tidakkah Noren bisa sekali saja melakukan hal yang benar untuk kesenangan Lisa sendiri?


“Kenapa, Lisa? Emang salah? Aku emang udah rencana bawa kamu kesini. Tenang aja, tempatnya nyaman, kok. Nanti kalau misalnya kamu mau nikmatin fasilitasnya bisa. Aku udah pesan kamar buat kamu. Atau kalau kamu mau naik boat atau kapal juga bisa. Resortnya sebagian punya aku juga. Jadi, kita kesini buat lakuin semua yang kamu mau. Buat liburan kamu sama aku”


Lisa rasanya ingin menangis frustasi. Benar. Noren adalah orang yang sangat kaya. Dia memiliki banyak properti dan itu tidak bisa disangkal. Lelaki itu memiliki kedudukan paling tinggi dalam bisnis yang sedang dia pegang dan kehidupan lelaki itu selalu diselimuti oleh kemewahan kemanapun dia pergi. Sejujurnya, ego Lisa agak tersanjung dengan bagaimana Noren terlihat begitu polos dalam mengatakan bahwa dia melakukan semuanya untuk Lisa. Namun, Lisa tahu dengan pasti, di dalam tubuh dan pikiran Noren, ada iblis yang bersemayam.


Tentu saja, Lisa sudah melewati hari-hari sial itu hanya karena kegigihan dan kegilaan Noren. Noren itu iblis. Monster bersemayam disana. Namun, dia berhasil menyembunyikannya di dalam senyuman polos dan kedua mata bening yang memancarkan kesucian yang dibuat-buat. Lisa sudah tahu lebih baik untuk tidak terjatuh dalamm perangkap itu.


Menghela napas, dia berdiri dari posisi berjongkoknya yang tidak dia sadari dia melakukan itu. Bahkan, Noren yang panik sudah ikut berjongkok di depannya dan berusaha untuk menariknya berdiri. Lalu, dengan wajah kesalnya, Lisa menjulurkan kotak bekal makanan yang dia bawa dari rumahnya kehadapan Noren yang mundur karena gerakan tiba-tiba.


“Lo paham nggak, sih? ini buat apa gue bikin dan bawa kalau tujuan kita ke sini? Sumpah, ya, kak. Gue tau lo kaya dan destinasi liburan lo juga beneran punya orang kaya. Tapi di pikiran gue, liburan itu ke tempat yang bebas doang. Kalau gini, gimana rencana gue buat teriak di tepi pantai kayak orang gila sama buat main pasir? Kan gue rencananya mau liburan”


Merengut, Lisa merasa sungguh kewalahan. Namun apa yang didengarnya kemudian membuatnya sungguh ingin menyeret Noren ke tengah laut dan menenggelamkannya disana untuk dimakan oleh ikan hiu atau paus sekalian.


“Aduh, Lisa. Beneran aku bisa kena serangan jantung kalau kamu gemes kayak gini terus!” Lelaki itu berseru tiba-tiba.


Lisa mengerjap ketika Noren mengambil tas makanannya dari tangannya dengan lembut. Lelaki itu tersenyum dan menepuk kepala Lisa dengan gemas. Sekarang, senyuman tipis itu menyebar menjadi sebuah senyuman lebar bergigi yang tampak sangat puas.


“Ini juga tempat liburan. Toh, ini juga ada pantainya. Kalau kamu mau teriak, teriak aja. Nggak ada yang larang. Kalau kamu mau mainan pasir, main aja. Nggak ada yang bakalan ngomongin kamu tentang apa yang kamu lakuin. Aku bakalan pastiin itu karena kayak apa yang aku bilang, meskipun aku nggak bisa booked semuanya khusus buat kita berdua, pantainya udah aku pesen cuma buat kita berdua aja”


Mata Noren menyipit karena senyumnya yang menekan pipi. Tampak sangat puas dengan ucapannya.


“Terus tentang makanan yang kamu bawa, kenapa emangnya? ada yang salah? Toh nanti kita bisa makan berdua di dekat pantai. Lagian aku juga pengen banget coba masakan kamu. Terus, kalau kamu mau makan seafood juga bisa. Pokoknya, jangan mikir yang sulit banget. Nikmatin liburan hari ini, ya? Tempatnya bagus, nyaman juga. Udah, jangan mikir berat banget di kepala kecil lucu kamu itu”


Lisa terkesiap saat Noren merunduk untuk melihat wajahnya yang sedikit tersembunyi dari topi lebarnya. Wajahnya berseri-seri sebelum mencubit pipi Lisa dengan gemas. Lisa menjauh, menepis dengan cepat dari sentuhan. Tetapi wajahnya memerah. Tentu saja itu bukan karena omelan Noren atau sentuhan lelaki itu padanya. Tapi, karena ucapan Noren membuatnya sedikit malu.


Benar. Ini adalah liburannya. Jadi, dia akan menikmati apa yang disajikan di depan matanya. Lagipula, dia bisa menikmati pantai dan kebebasan. Sama saja dengan pantai lainnya. Hanya saja, pantai yang ini diselimuti oleh bangunan mewah memanjakan mata yang dimana sedikit membuat Lisa ingin menjelajahi tempatnya dengan kedua kaki telanjang dan mata yang penasaran.


Tapi sekali lagi, ego Lisa masih mengambil yang terbaik dari dirinya sendiri.


“Tapi gue pengen mancing terus bakar ikan di tepi pantai. Emang bisa?”


Dia tahu itu terlalu berlebihan. Tapi dia lebih senang untuk membuat Noren kalah karena tentu saja, hal itu tidak akan mampu dilakukan di tempat seperti ini, kan?


Namun, di luar perkiraannya, Noren hanya tersenyum dan mengangguk dengan antusias. Lelaki itu bahkan dengan beraninya memutar tubuh Lisa dan membawanya untuk melangkah masuk menuju gerbang villa yang mewah dimana karyawan di tempat itu siap sedia di posisi mereka masing-masing dalam pekerjaannya.


“Kamu mau bikin pesta atau buat api unggun di tepi pantai juga bisa. Udah aku bilang, kamu bisa lakuin apapun yang kamu mau di tempat ini. Semuanya. Apa aja. Ini liburan kamu, jadi di tempat ini, aku jamin semua yang kamu butuhin bakalan bisa kamu dapatin, Nalisa”


Itu dia. Lisa kalah.


Di tempat ini, dalam liburannya, Lisa kalah pertamakali untuk Noren.


Baik, dia akan melakukan apa yang dia mau. Noren sudah menawarkan dan dia tidak akan membiarkan semuanya lepas dari tangannya. Lisa akan menikmati ini. Dia yakin dia tidak akan menyesalinya. Noren yang akan menyesal karena Lisa akan melakukan apa saja yang bisa membuat lelaki itu malu dengan tingkahnya dan membayar semua di wajahnya. Lisa akan bersenang-senang. Dia bisa memastikan itu dalam pikirannya yang sekarang sudah terbalik dan membakar semua keresahan di awal.


“Serius? Semua yang gue butuhin buat liburan bakalan bisa terpenuhi disini?”


Lisa melirik Noren yang berada di sebelahnya. Dekat dengannya dan entah kenapa dia sendiri enggan untuk melepas tangan Noren yang masih melingar di punggungnya.


“Semua yang kamu butuhin. Janji”


Entah bagaimana, Noren terlihat dan terasa lebih halus saat ini. Dia bahkan tidak menggoda yang terlalu berlebihan. Seperti lelaki itu sungguh ingin membuat ini menjadi hari yang baik dan normal dimana mereka bisa bersenang-senang dengan tanpa adanya gangguan. Lisa sedikit bertanya-tanya, tetapi itu tenggelam di suatu sudut terjauh ketika Noren kembali bersuara lagi saat golf-car sudah berada tepat di depan mereka.


“Ini liburan kamu, dan aku bakalan nemenin kamu sampai liburan kamu hari ini berakhir. Ayo bersenang-senang, ya, Nalisa”


Lalu senyum itu.


Tunggu dulu-, Kenapa rasanya, ada sedikit kepercayaan terbuka untuk Noren saat ini?


Lisa ingin mengelak dan menyadarkan diri, tetapi sesuatu menahannya dan dia hanya.. tergelincir untuk menikmati liburannya saat ini.


Sepertinya, dia sungguh membutuhkan liburan, dan dengan itu, semua akal sehatnya terdorong jauh di belakang.


Lalu yang bisa dia pikirkan adalah,


Saatnya bersenang-senang!


...🍁...


...Perjalanan Yang Direncanakan Part. 2...


.........


...🍁🍁🍁...


A/N : Haloo balik lagi sama chapter baru FIYT🥰 maaf agak lama up karena satu dan lain hal. Semoga chapter ini bisa dinikmati, ya!


Selamat membaca🥰


...And Welcome July🧡...