Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Hancur Yang Tak Terduga



“Team, waktunya istirahat!”


Hala tersentak dari kegiatannya yang sibuk menghitung diskon promosi salah satu produk yang sedang melakukan cuci gudang akhir tahun kepada salah satu customer yang berminat untuk membeli. Wanita yang terlihat berusia awal tigapuluhan itu tersenyum kecil ketika Hala yang kikuk setelah mendengar seruan dari atasan teamnya untuk menyuruhnya istirahat. Meminta maaf dengan lembut, Hala menyerahkan nota yang telah ia hitung nominal pembeliannya untuk dibawakan ke kasir guna membayar barang pembelian, sang customer memaklumi.


Menghela napas, Hala menyaksikan bagaimana rekan teamnya bergegas memasang tali beludru merah untuk memagari bagian produk yang sedang di promosikan dan beberapa anak lain memberi pengumuman halus kepada customer yang baru saja datang untuk melihat.


Itu adalah waktu makan siang. Istirahat yang Hala yakin bahwa dia tidak sadar waktu telah berlalu begitu cepat. Tentu saja, dari kesibukannya ketika dia memulai menginjakkan kakinya di area kerja, para pengunjung mulai berbondong-bondong datang untuk membeli furniture berkualitas tinggi layak jual dengan setengah harga.


“Hala, lo mau ke cafeteria atas, nggak? Gue pengen bakso gorengnya, nih. Laper banget gue ternyata” Binar datang menghampiri. Perempuan itu mengelus perutnya untuk menyatakan seberapa lapar dia sebenarnya.


“Eh, kayaknya lo duluan aja, deh. Soalnya tadi pagi Heksa bilang kalau dia mau makan siang bareng. Gue baru ingat waktu lo nyaranin bakso goreng” Hala terkekeh. Hampir saja dia mengatakan iya pada rekan kerjanya itu saat peringatan Heksa tentang janji makan siang terlintas di kepalanya.


“Yaelah, La.. lo tiap ada project kerja lapangan pasti selalu aja bareng Heksa. Sekali-kali makan siang bareng kita-kita, dong!” Binar mencibir. Perempuan itu memutar matanya dengan lucu. Hala tau, temannya ini sama sekali tidak berusaha untuk menyinggungnya.


“Ya gimana.. soalnya kalau dari sini lebih dekat dengan tempat kerjanya Heksa. Makanya dia minta makan siang bareng mulu kalau gue kerja lapangan” Jujur Hala dengan senyuman kecil di bibirnya. Perempuan itu kini mengeluarkan ponsel kerja yang ia berikan pada Binar dengan gestur lembut.


“Gue titip ini di tempat yang biasa, ya, Binar. Nanti gue ambil sendiri, kok” Hala menepuk kecil tangan Binar sebelum memberikan kedipan mata kepada sang rekan kerja. “Jangan lupa nanti kasih review bakso gorengnya ke gue. Mana tau gue kepengen” lalu ada kekehan lain sebelum Hala melambai dan bergegas menuju lokernya untuk mengambil ponsel pribadinya.


Berjalan keluar ruangan gedung besar yang penuh dengan barang-barang penjualan, juga dengan banyaknya pelanggan yang datang dan pergi berlalu-lalang disekitar, Hala merasa begitu lega menghirup udara yang akhirnya terasa begitu bebas. Perempuan itu bergumam dengan riang sembari berjalan ringan menuju halte yang tak jauh jaraknya dari basement- tempat biasanya dia menunggu Heksa ketika mereka berjanji untuk makan siang bersama.


“Hari ini Heksa bakalan ngajak gue makan dimana, ya..” Hala bergumam, menelusuri kembali percakapannya dengan Heksa di room-chat pribadi mereka. “Hmm, gue tiba-tiba pengen makan nasi kari di dekat perempatan tugu, deh. Udah lama juga nggak makan disana..” ia mengangguk, senang dengan pemilihan makan siangnya yang muncul dengan cepat.


Mengetik beberapa pesan singkat yang dibalas dengan cepat oleh Heksa yang mengatakan bahwa dia akan segera kesana, Hala menyimpan kembali ponselnya. Kepalanya terangkat dari kegiatannya dan perempuan itu memilih untuk melihat-lihat ke sekitar. Orang-orang ramai mencari tempat makan siang yang mereka inginkan atau hanya sekedar berjalan-jalan tanpa tujuan di hari yang lumayan mendung untuk ukuran siang hari.


Baru saja Hala ingin melompat dari jalanan kecil ke trotoar tempat akses masuk kendaran beroda, tangannya tiba-tiba di tarik dari belakang hingga membuatnya refleks menjerit takut. Jantungnya berdetak tak karuan dan mulutnya ingin memaki orang yang mungkin saja memiliki niat buruk padanya. Namun, ia urungkan begitu dia melihat siapa yang membuat insiden dimana jantungnya seperti ingin melompat dari rongga dadanya.


“Eh? Tante Neli..?” kali ini, dia bingung ketika menyadari wanita seumuran dengan ibunya ada di depan matanya. Ah, bukan hanya seumuran dengan ibunya, wanita itu adalah tetangga rumahnya dan juga teman dekat ibunya.


Sebenarnya, Tante Neli ini sendiri adalah orang yang Hala ketahui bermuka dua. Dia tahu, teman-teman ibunya semua sama munafiknya dengan ibunya sendiri. Atau begitulah yang sebenarnya tidak ingin dia akui namun adalah apa yang dinamakan fakta yang tak bisa disangkal.


“Iya, kan, benar ini Hala..” Tante Neli terdengar sangat ceria saat senyumannya mengembang, Hala ingat betapa dia tidak menyukai ekspresi wanita itu ketika dia berada di rumah bersama keluarganya. “Tante kira tadi tante salah lihat, ternyata beneran nak Hala. Tante senang ketemu kamu disini, nak”


Wanita itu tertawa. Tangan diletakkan di depan bibirnya yang dilapisi dengan lipstick merah yang terlalu terang namun cocok dengan makeup tebal wanita itu.


“Ah, iya, Tante” Hala merespon. Tidak ingin menunjukkan raut ketidaksukaan yang nyata pada wanita itu. “Kok tante bisa ada disini, sih? Lagi liburan ya sama keluarga?” Hala meluruskan posturnya, memamerkan senyuman kecilnya yang ramah dan terkesan dipaksakan.


“Iya, nih. Soalnya si Gerald bakalan kuliah disini. Makanya tante sekalian lihat-lihat daerah tempat Gerald nanti ngekos. Sekalian jalan-jalan mumpung ada di sini. Nak Hala juga tinggal disekitar sini?” Tante Neli begitu bersemangat untuk berbicara, hingga wanita itu kembali menyerocos tanpa menunggu balasan dari lawan bicaranya. “Kalau misal nak Hala tinggal disekitar sini, bisa dong nanti tante minta tolong jagain Gerald? Itu anak agak bandel emang, tapi dia baik, kok. Nggak pernah aneh-aneh anaknya” lanjutnya lagi.


Hala tertawa. Dia tidak yakin bisa memenuhi keinginan wanita itu. Dia tidak ingin ada sangkut pautnya lagi dengan orang-orang rumahnya. Sejujurnya, dia tidak ingin ada sangkut pautnya lagi dengan orang-orang yang berada disekitar ibunya. Atau bahkan ibunya sendiri.


“Hala kerja di sini, tante. Kebetulan lagi project lapangan. Nanti kapan-kapan Hala ajak main Gerald kalau anaknya mau, ya?” Ada harapan dimana Hala ingin Heksa cepat-cepat datang dan menyelamatkannya dari percakapan tidak penting ini.


“Oh, pasti Gerald mau, kok. Kan dulu dia sering nak Hala jagain” Hala meringis ketika wanita itu memukul bahunya dengan tidak main-main.


“Oh, iya,ya.. Hala sempat lupa..” Tidak. Dia tidak lupa. Tapi dia tidak ingin mengingat hal-hal yang sama sekali tidak penting.


“Ah iya, tante. Hala lagi istirahat.. mau dijemput sama temen Hala juga. Tante kalau mau makan siang di dalam gedung ada cafeteria, kok. Makanannya enak-enak. Hala ada voucher juga.. sebentar..” Hala merogoh kantungnya. Jelas, dia ingin segera menghindar. Karena Hala tau bahwa wanita itu suka dengan hal-hal yang berbau gratis dan makanan, dia berharap untuk kali ini dia bisa segera pergi dan mengalihkan perhatian teman ibunya itu.


“aduh, nggak usah repot-repot. Makasih banyak ya, sayang” Meski begitu, Tante Neli terlihat sangat senang saat Hala memberikannya voucher makanan. Dalam hati, perempuan itu meringis melihat vouchernya jatuh ke tangan orang lain. Padahal, dia sudah ingin memakai itu untuk membeli jajan setelah pulang kerja nanti. Tapi ya sudahlah, setidaknya dia harus pergi dari situasi tidak enak ini.


“Kalau gitu, Hala duluan, ya, tante”


“Eh tunggu sebentar, nak Hala”


Yah, Hala lupa bahwa terkadang tante Neli ini sangat bersikeras dan begitu keras kepala. Diam, mencoba untuk menenangkan diri, Hala yakin dia akan mendengar apa yang sama sekali tidak ingin dia dengar.


“Kamu tau nggak, sih, kalau mama kamu sama pak Arkham kemarin habis pulang liburan dari Bali? Kemarin tante dikasih oleh-oleh sama mereka, lho”


Hala mendesis. Tentu, wanita itu tidak akan membiarkannya lolos dengan mudah.


Memasang wajah poker yang baik, meskipun Hala ingin menghajar wanita tua yang entah dia syukuri kejujurannya atau mengutuk kejujuran itu, dia harus tetap mengontrol dirinya dengan baik. Dia sudah muak dengan hal-hal seperti ini. Tante Neli pastilah ingin melihat reaksinya lagi seperti waktu itu.


“Oh, ya? Mama nggak ada ngabarin aku, sih, tante..” ucapnya, hampir seperti desisan. Mood-nya hancur begitu saja.


“Iya. Kemarin tante dikasih pie susu nya yang terkenal itu, loh. Enak banget. Tante pengen ke Bali, deh rasanya” Wanita itu memberikan cengiran yang lebar. Bertingkah sangat polos dengan wajah yang ingin sekali Hala tonjok. “Tapi tante bingung, deh. Padahal dua minggu yang lalu kayaknya masih deket banget sama pak Deon. Tante sering lihat mereka ngobrol lama banget di teras sambil ketawa-tawa. Mana deket banget lagi duduknya. Nempel gitu, tau.. kayak anak muda lah pokonya” kemudian, wanita itu cekikikan seperti apa yang baru dia sampaikan adalah hal terlucu di dunia.


Hala merasa ingin muntah.


“Tapi bukannya mama sama papa kamu belum pisah, ya?” Wanita itu memulai lagi. Sungguh sangat senang melihat bagaimana perasaan Hala seperti diaduk dalam mesin cuci. Dia sungguh ingin menghilang saat ini juga.


“Gimana kabarnya papa kamu? Sekarang lagi sibuk apa? Tante ingatnya dulu pak Ganesh masih kerja di RS.Nagara.. “ wajah yang dibuat sok polos dengan mata bingung yang tidak cocok dengan usia hadir tepat di kedua mata Hala. Jantungnya terasa sakit ketika nama ayahnya disebutkan secara gamblang.


Hala mau tidak mau merasa jijik dengan apapun yang keluar dari mulut busuk wanita itu.


“Papa baik, tante. Sehat juga, kok” Hala tau suaranya terdengar begitu jutek. Tapi biar saja, dia tidak butuh terlihat manis di depan orang busuk seperti wanita itu.


“tapi-,”


“Maaf tante. Aku udah di jemput. Duluan, ya, tante”


Hala ingin menangis ketika dia melihat Heksa melambai dari pinggir halte yang ramai. Dia berlari dengan sangat cepat. Tidak peduli dengan teriakan tante Neli yang masih berusaha untuk mengorek rasa sakitnya dan menyiramnya dengan perasan jeruk nipis dan garam. Tanpa babibu, perempuan itu segera merampas helm dari tangan Heksa yang terkejut dan segera naik ke atas motor. Tangannya yang gemetar memeluk pinggang Heksa dengan erat.


Hala melupakan perut laparnya. Dia melupakan nasi kare yang diinginkannya. Dia juga tidak merespon apapun yang Heksa ucapkan. Perempuan itu bahkan hanya melihat Heksa makan dengan pikiran yang coba dikosongkannya dari bayangan-bayangan menjijikkan atau dia akan muntah di depan semua orang yang sedang menikmati makan siangnya.


Satu tangan dingin yang menyeka keringat dari dahinya membuat Hala terbangun dari kegilaan di dalam kepalanya. Heksa terlihat sangat khawatir. Bahkan, lelaki itu tidak menghabiskan makanan kesukaannya dengan cepat seperti biasanya. Air es teh-nya sama sekali tidak ludes dalam sekali teguk.


“Lo kenapa, sih, La? Dari tadi aneh banget. Makanan lo juga nggak dimakan. Lo lagi sakit?” sahabatnya terlihat sangat khawatir. Hala ingin memuntahkan tangisan ketika mata yang disukainya itu menatapnya dengan pandangan yang menunjukkan bahwa dia peduli padanya.


“Nggak, lo makan aja, Sa. Gue tadi dijejelin roti sama Binar. Jadi udah agak kenyang” dia paksakan tawa agar lelaki itu tidak begitu cemas. Lagipula ini masalahnya. Heksa tidak perlu tau tentang bagaimana perutnya ingin mengeluarkan makanan yang tidak ada disana. Diam-diam, dia juga meminta maaf karena menjual nama Binar untuk kebohongannya kali ini.


“Dih, anjir. Tau gitu gue makan sendirian, nggak usah ngajak lo makan di luar” Heksa mengomel. Wajahnya menjadi agak masam dan sulky ketika dia mengambil sendokan dari piring makanannya. Jujur, Hala merasa tidak enak, tetapi dengan ekspresi lucu Heksa, itu sedikit memudarkan rasa ingin muntahnya.


“Ya, lo salahin Binar aja. Tuh anak udah gue bilang kalau mau makan siang sama lo malah gue dipaksa makan roti sama dia. Maaf, ya. Lain kali gue bakalan nolak dengan tegas. Atau nggak langsung melarikan diri, deh” Hala terkekeh. Tangannya yang terkepal sejak tadi dia angkat untuk menopang dagunya. Memperhatikan Heksa makan dengan damai.


“Mana sini nomer temen lo. Biar gue teror dia karena udah bikin masalah” Wajah sebal Heksa masih hadir. Hala tertawa, senang dengan reaksi yang lucu. Tangannya terangkat untuk mencubit pipi menggembung lelaki itu yang terisi dengan nasi dan kari ayam.


“lucu banget lo, Sa. Kayak hamster gembul”


“Diem, lo. Malah ngalihin pembicaraan” Meski mengomel, Heksa membiarkan cubitan Hala di pipinya meskipun dia agak sulit untuk mengunyah. Hati Hala yang sakit, melembut hanya dengan gestur tidak sadar seperti ini.


“Nggak mau, ah. Nanti lo malah ngedeketin Binar, lagi. Jauh-jauh lo dari temen gue! Buaya!”


“Anjing, lo tuh, ya! Gue serius, La”


“Gue juga serius kalau lo, tuh, buaya yang mirip hamster” Lagi, Hala mencubiti pipi Heksa dengan gemas.


“Sinting, lo. Kayaknya kerja lapangan hari ini bikin kewarasan lo hilang, dah” lelaki itu menggerutu. Masih sama untuk membiarkan Hala menyakiti pipinya.


“Iya kali, ya..” Hala bergumam kecil. Menatap sahabatnya dengan tatapan sayang. Jari yang tadinya mencubiti pipi Heksa, kini beralih mengelus dengan lembut permukaan yang sudah memerah itu.


“Heksa.. boleh nggak kalau lo jadi pacar gue?”


Hala terkesiap saat Heksa terbatuk dengan parah. Dia tau, dia bodoh dan gegabah. Bagaimana dengan jatuh cinta diam-diam dan tidak meminta balasan? Bagaimana dengan hanya mendukung dan mencintai Heksa dengan hanya menjadi teman dan rumah untuk lelaki itu?


Hala gila. Dia ingin menangis karena kegilaannya.


...….....


Mama:


Halo kakak.. tadi mama dapat kabar dari tante Neli kalau dia ketemu kamu waktu lagi kerja, ya?


Katanya kamu makin cantik disana. Makin tinggi juga, makin gemes. Mama jadi kangen deh lihat anak mama yang hebat dan lucu ini..


Kata tante Neli juga kamu kasih voucher, ya sama dia? Jangan baik-baik sama Neli, nak. Nanti dia makin nyusahin kamu, loh..


Kak, Neli nggak ada ngomong yang aneh-aneh, kan sama kamu? Kalau ada di abaikan aja, ya. Neli emang gitu.. suka gossip orangnya..


Terkirim, 14.09


Mama:


Kak.. mama kangen. Kakak nggak mau pulang buat lihat mama sebentar aja?


Atau mama yang kesana, ya? Lihat kakak?


Terkirim, 14.20


Mama:


Yasudah kalau masih nggak mau balas chat mama. Yang penting kakak disana baik-baik aja, kan?


Heksa masih jagain kakak, kan?


Baik-baik, ya sama nak Heksa.. salam buat anak ganteng mama itu juga ya..


Terkirim, 17.23


Mama:


Kak, mama sayang kakak..


Terkirim, 18.09


Hala tidak tahu bagaimana harinya berjalan setelah dia diturunkan di tempat kerjanya dan kembali bekerja seperti robot. Dia tidak ingat bagaimana rekan kerjanya bertanya padanya setiap saat ketika dia melamun dan bertingkah aneh. Hala juga tidak ingat bagaimana dia selesai dengan pekerjaannya, dipanggil oleh Ivoran ke satu ruangan, diperingatkan tentang kesalahan-kesalahan yang tidak biasanya dia lakukan di lapangan.


Hala merasa dia seperti tidak hidup. Bahkan, ketika dia menginjakkan kaki di rumahnya, berganti pakaian dengan tanpa sadar, melewati Pipang- sang bola bulu kesayangannya, untuk hanya duduk di depan TV yang tidak menyala sama sekali.


Hala bahkan tidak sadar ketika Heksa menatapnya dengan tatapan tidak percaya seolah-olah dia baru saja melihat sosok mengerikan keluar dari layar TV seperti di film-film horror.


Yang Hala tau adalah ketika air matanya menetes dengan deras saat melihat bagaimana Heksa terlihat sangat marah dan kecewa padanya. Memohon padanya bahwa apa yang dia katakana adalah hanya sebuah kejenakaan semata.


Oh, apalagi yang tadi dia bilang?


“Gue cinta sama lo, Heksa. Kenapa lo nggak bisa balas perasaan gue?”


“Jangan bercanda sama gue, Hala. Gue nggak suka sama bercandaan kayak gini!”


Benar. Dia menyatakan perasaannya pada Heksa. Bertingkah begitu menyedihkan ketika Heksa membentaknya seolah-olah dia baru sajal melemparkan fakta mengerikan yang tidak seharusnya lelaki itu dengar.


“Lo kalau mau bercanda, bukan topik ini yang bisa seenaknya lo jadiin bahan” Heksa terlihat sangat frusati. Matanya gelap dan sedih- tidak, lebih pada kenyataan bahwa dia kecewa. Terlihat sangat tidak suka dengan apa yang Hala lemparkan padanya.


“Kenapa lo anggap perasaan gue sebagai candaan, Sa?.. gue sayang sama lo..” Hala tidak tahu kapan dia terisak, tapi rupanya dia sudah menangis tersedu-sedu.


Ini salah tante Neli yang datang dan menorehkan luka pada hati rapuhnya mengenai keluarga kecilnya yang rusak. Tidak, ini salah ibunya. Ya, wanita yang melahirkannya lah yang merusak kehidupannya yang berharga.


“Hala, lo tau gue juga sayang banget sama lo. Lo bahkan nggak tau gimana rasa sayang gue ke lo yang sebenarnya. Tapi bukan ini. Bukan ini yang harusnya lo bilang ke gue!” Heksa membentak. Mengacak rambutnya seorah dialah yang gila disini.


“Lo tau? Gue marah. Gue marah banget sama lo yang udah ngerusak hubungan kita. Gue benci banget kalau semuanya udah rusak kayak begini. Ah anjing! Gue kecewa banget sama lo, Hala!” satu teriakan lagi. Lelaki itu berhenti mondar-mandir di depannya. “Sial, gue stress banget!”


“Heksa.. maafin gue..”


“Gue pergi. Malem ini gue nggak mau lihat muka lo lagi. Brengsek gue marah banget. Ah babi!”


Hala tidak bisa mendaftarkan apa yang terjadi. Semuanya terasa begitu cepat. Bahkan ketika dia mendengar pintu utama rumahnya dibanting dengan keras oleh Heksa, bahkan ketika dia mengutuk ibunya di kepalanya dengan keras, bahkan ketika anak kucing kesayangannya melompat ke pangkuannya dan mengusapkan tubuhnya ke seluruh tubuh Hala, yang bisa dia pikirkan adalah bagaimana cara dia mengutuk ibunya dengan seribu kata kutukan yang berbeda.


Sekarang, satu-satunya orang yang dipercaya untuk melindunginya dan menjadi tempat nyamannya sudah pergi. Bahkan, membencinya seperti semua kebaikan siang tadi hanyalah bualan halu semata.


Telinga Hala berdenging, air matanya jatuh seperti tak ingin berhenti.


Heksa membencinya. Orang yang dia cintai membencinya.


Ibunya mengkhianatinya, merusak keluarganya.


Tapi, Hala adalah orang yang harus disalahkan karena merusak hidupnya sendiri.


Dan ketika Hala ingin mengubur dirinya dalam kegelapan buruk, ponselnya berdering dalam satu notifikasi.


Kak Sinar:


Hala.. maaf. Gue kangen sama lo..


Terbaca, 20.59


Hala mungkin gila. Namun, dia tidak bisa lebih gila dari ini ketika dia mulai membiarkan keegoisannya mengambil alih.


...🍁...


...Hancur Yang Tak Terduga– End...


.........


...🍁🍁🍁...


Hai, hai! Choco hadir lagi dengan chapter baru~ hehe


Semoga ini termasuk up cepat ya ><


Oh iya, choco baru buka chat room, loh! Yang mau join bisa langsung join di choc’s room! Join aja langsung dan bebas ngobrolin apapun disana~ boleh promosi juga atau sekalian curcol juga boleh hehe.. ramein ya^^


Oh iya, boleh dong komennya biar kita bisa ngobrol bareng tentang chapter ini dan chapter-chapter terbaru^^


Selamat membaca!❤❤


Salam sayang


Chocooya🥰