Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Siapa Pemenangnya



Meja makan sudah berantakkan dengan piring–piring kosong berminyak. Cipratan saus ada di sekitar, hasil panggangan yang gosong ada di beberapa bagian dengan sisa-sisa makanan yang lain. Lima botol besar minuman bersoda sudah kosong menyisakan satu yang masih setengah. Teman-temannya yang lain sudah tumbang, menyisakan Jihan dan Fajri dalam gelembung mereka sendirian, terkikik berdua entah menertawakan apapun yang ada dilayar ponselnya. Alpino dan Heksa sudah bergulingan diatas lantai, memegangi perut dengan wajah yang puas, Hala mengobrol ringan dengan kakaknya yang hampir ngiler di depannya, sedangkan dia sendiri menyaksikan dengan malas keadaan disekitarnya.


Noren? jangan ditanyakan tentang orang itu, dia sedang pergi kemanapun yang dia sukai, menghilang tiba-tiba setelah sebelumnya mengoceh padanya hal-hal aneh yang tidak bisa ditangkap telinga Lisa dengan baik. Tapi toh, ya sudahlah, dia juga tidak terlalu suka dengan kehadiran Noren disini, menghancurkan suasana hatinya yang sedang baik-baik saja. Dia hanya ingin pulang, bukannya menghilangkan lelah, yang ada Lisa merasa lebih letih dari sebelumnya. Yah, karena Noren. Lagi lagi karena orang yang bersikeras sekali ingin menjadi suaminya itu.


Lisa ingat bagaimana Noren mencoba untuk meletakkan banyak makanan di piringnya, berbicara tentang bagaimana Lisa harus tetap sehat dan cantik, dengan pipi penuh yang lucu yang akan menjadi kesukaannya Noren. Lisa hanya memutar mata melihat bagaimana Noren yang sebelumnya kaku menjadi seolah-olah paham bagaimana cara menangani dirinya dengan benar.


“Kak, ayo pulang, gue udah capek banget nih mau tidur”


Lisa bersuara, mengejutkan Sinar yang mengelus rambut Hala. Sinar cemberut ketika menghadap padanya sebelum celingukan ke sekitar mencari temannya yang hilang. “Lo capek dek? tungguin deh itu si Noren balik kesini lagi, paling cuma sebentar doang” Lisa berdecak malas, meraih ponselnya,


“Dia udah pergi tuh dari tadi lama banget juga. Gue capek kak, masa lo ga peduli sih sama gue”


Jurus andalan Lisa itu salah satunya membuat Sinar merasa bersalah karena dia sudah tau kelemahan kakaknya yang paling kuat adalah dengan cara merengek pada yang lebih tua. Sinar yang notabenenya memiliki rasa kasih sayang paling kuat untuk adiknya pasti langsung meleleh jika Lisa berkata demikian. Hala diam-diam tersenyum geli ketika melihat perubahan dari Sinar yang sudah agak cemas.


“Iya dek iya, tapi sebentar lagi, ya? sini sandaran dulu deh sama kakak” Sinar bangkit dan kemudian duduk disebelah Lisa, tidak lupa menendang kaki Alpino untuk bergeser. Menarik kepala adiknya ke atas bahunya dan membelai sang adik. Lisa masih cemberut.


“Kak gue mau pulang” Lisa merengek, dia benar-benar sudah terlalu lelah, merindukan kasurnya dan selimut hello kitty lembutnya di kamarnya yang tersayang. “Iya dek sebentar lagi, ya?”


Hala mendengus geli sebelum beranjak. “Yaudah sih, ini biar gue yang cariin kak Noren ya, tunggu bentar disini” Hala berdiri, merapikan pakaiannya yang kusut sebelum tangannya dicegat Lisa. Perempuan itu tahu bahwa kakaknya gelisah ketika Hala meminta mencari Noren. Pasti anak itu ingin ikut mencari.


“Udah, nggak usah dicari, mending lo bangunin yang lain. itu si Heksa sama Alpino udah molor tuh mereka. Fajri sama Jihan juga tolong ganggu dulu mereka, suruh pulang. Itu orang juga pasti bakal dateng deh bentar lagi. Kalau perlu pengen gue tinggal aja, perut gue juga lagi sakit banget nih, La”


Lisa berbicara panjang lebar, Hala mendengus, menepuk tangan Lisa dengan gemas “Nah, lo aja sama kak Sinar yang bangunin mereka, gue cari kak Noren biar bisa cepat pulang, katanya perut lo sakit. Nggak sopan kalau main ninggalin juga ‘kan”


Lisa berdecak, menyerah untuk membiarkan Hala keluar ruangan. Dia masih bisa melihat kesibukan di sekeliling sebelum dia memeluk erat kakaknya. Sinar mendesah nyaman sebelum mengusap kepala Lisa dengan sayang.


“Perut lo sakit dek? Lo nggak minum kola tadi ‘kan?”


Lisa menggeleng, “Nggak kok, kak. tiap gue mau minum kan lo sendiri yang cegah gue. Apalagi itu temen lo yang ngerusuh banget ke gue” Lisa berdecak, mengingat bagaimana Noren mencoba mencegahnya untuk minum dan malah menawarinya es jeruk dengan senyum yang lebar dan menjengkelkan.


Sebenarnya saat itu, Noren terlihat sangat berwibawa dan ganteng berlebih ketika dia tersenyum senang, tapi Lisa tidak akan mengakuinya dengan keras, karena begitulah, kalau sudah kesal semuanya akan terlihat jelek di depan mata. Lisa mati-matian menyangkal kenyataan bahwa dia terpesona sesaat.


“Bagus dong kalau gitu. Terus perut lo sakit karena apa? kebanyakan makan?” Sinar bertanya lagi, kali ini dengan lembut. Lisa bernapas dengan nyaman karena dia tahu bahwa dia sangat merindukan saat-saat santai dengan kakaknya yang super sibuk ini. “Nggak ada, alesan aja biar Hala nggak nyariin dia”


*C**tak*!


“Aduh kak, kok dipukul sih?!” Lisa merengek ketika kakaknya memukul kepalanya dengan ringan. Iya sih, ringan, tapi tetap saja masih sakit. “Gitu-gitu juga dia temen kakak, dek. Gue juga udah ngasih restu ke dia. Lo nggak boleh gitu”


“Iya tau, iya. ih nyebelin banget sumpah. pokoknya gue masih marah sama kakak gara-gara ini. Sama Mama Papa juga”


Sinar tersenyum kemudian menggangguk dengan ringan. “Iya gue tau kok. Lo bebas mau apa juga, dek”


Lisa diam. Menatap lurus pada bahu sang kakak sebelum menggeleng. Menutup matanya ringan, ada suara blur sejenak sebelum Sinar menepuk punggungnya dengan ringan. “Tuh mereka udah dateng, bangunin yang lain, yuk”


Lisa cepat-cepat berdiri, menoleh kebelakang, dia bisa melihat Hala dan Noren masuk ke dalam ruangan. mengobrol sedikit sebelum Hala akhirnya menangkap tatapan Lisa. “Yuk, kak Noren udah nyiapin mobil juga diluar, udah bayar juga tinggal pulang. Lho-, kok pada belum dibangunin sih mereka?” Lisa mengangkat bahu acuh, membiarkan Hala mengoceh dan sibuk membangunkan Alpino dan Heksa, Noren berbicara sedikit dengan Sinar yang Lisa sangat tidak ingin tahu.


“Dek, Lo balik sama Noren, ya?”


Lisa hampir tersandung. Dia dengan cepat berbalik dan akan membantah ketika Sinar hanya menepuk bahunya dengan tegas dan senyum sekilas sebelum dia mengatur anak-anak yang lain. Rupanya Noren sudah memanggil supir bayaran untuk membawa motor Alpino dan Heksa pulang, jadi mereka berdua akan diantar Sinar. Sedangkan Fajri masih cukup sadar untuk pulang bersama dengan Jihan.


“Kak, lo mau buat gue marah?” Lisa melotot pada yang lebih tua yang hanya mengangkat bahu sebelum menyeret Hala masuk ke mobilnya, meninggalkan Lisa hanya berdua dengan Noren saja.


“Lo kenapa, sih? bikin mood gue buruk aja malem ini?”


Lisa berbalik dengan kesal, kedua tangannya ia lipat di depan dada seraya melayangkan tatapan menghunus penuh ancaman kepada Noren yang hanya tersenyum dan tidak peduli dengan kekesalannya.


“Gara-gara aku, ya? maaf ya, aku nggak sengaja dan nggak bermaksud buat malam kamu buruk kok, Lisa. Aku jujur, aku senang sekarang bisa ngehabisin waktu sama kamu”


Lisa berkedip, menatap Noren dengan tatapan aneh dan geli. Aku? Kamu? Perut Lisa berputar, kenapa rasanya dia ingin tertawa saja? Tapi dia tidak boleh tertawa di depan Noren, dia harus menjadi perempuan yang tangguh yang sulit digapai.


“Ih Kak, Pake bahasa santai aja deh kak, geli gue kalo lo gitu ke gue” Lisa menghentakkan kaki dengan kesal, bibirnya jatuh dalam cemberut penuh dan dia hampir melewatkan bagaimana Noren terkekeh kecil melihat tingkahnya.


“Lagian juga ngapain lo mau nganterin gue? emang ya cowok sukanya modus doang. Gini loh kak, gue nggak bakalan jatuh sekalipun lo coba berbuat banyak hal buat gue. Gue pastiin itu ya! liat aja lo nanti, kak!”


Mungkin bila diibaratkan, mata Lisa bisa keluar dari tempatnya karena kesal setengah mati dan sangat tangguh. tetapi dia sedang merasa sangat lelah dan dia hanya ingin pulang dan berhenti berdebat. Mungkin ini bukan berdebat, tetapi tetap saja, walaupun respon dari Noren sungguh minim, dia tetap tidak bisa mengendalikan rasa kesalnya pada yanglebih tua.


“Iya deh iya. sekarang kan katanya kamu capek, ayo kita naik. Mau pulang, kan?”


Noren tetap tenang, sangat tenang. Dia tidak terpancing amarah Lisa, tidak terpancing dengan omelan Lisa yang menyudutkannya. Bahkan tidak membalas ucapan Lisa yang pastinya akan membuat suasana lebih panas lagi. Disatu sisi Lisa seperti orang bodoh, marah sendiri, kesal sendiri, sebal sendiri, tetapi tetap saja, ini mungkin trik yang digunakan Noren untuk membuatnya merasa bersalah.


Dia tetap tidak akan kalah! dia pastikan itu!


Jadi, dia menatap Noren dengan tatapan kematian yang hanya dibalas dengan senyuman geli dari Noren dan isyarat untuk segera naik ke dalam mobil. Lisa menghela napas kalah sebelum berlari ke kursi penumpang.


...…....


“Denger ya, gue duduk disini bukan karena apa. Gue cuma takut kalau gue duduk dibelakang terus ketiduran entar lo ngapa-ngapain gue lagi”


Lisa melipat kedua tangannya di depan dada, mata melotot ke arah jalanan bersamaan dengan deru mobil yang baru saja dihidupkan oleh Noren. Pria itu mengangguk merasa gemas, sibuk dengan sabuk pengamannya dan persiapan untuk mulai menembus jalanan malam.


Lisa mulai kesal karena sejak tadi Noren hanya membalasnya dengan gerakan kepala saja dan dehaman. Noren menatapnya dengan dengan kedua alis yang terangkat, senyum masih menghiasi wajahnya sebelum dia mulai membuka suara.


“Iya.. aku dengerin semua yang kamu omongin kok. Tapi, Lisa, aku memang bukan orang terbaik di dunia atau di negeri ini, atau bahkan di mata kamu, tapi selama kita belum sah di atas kertas dan di mata Tuhan, kakak janji nggak bakal nyentuh kamu dengan jauh. Sebanyak apapun aku ingin ngelakuinnya”


Ada senyum di akhir kalimat, bersamaan dengan mobil yang mulai berjalan, memasuki area lalu lintas yang masih dihiasi banyak kendaraan lain. Lisa masih sangsi, dia tidak meleleh atau tidak merasakan apapun dari ucapan Noren sama sekali. dia tidak akan percaya, sebanyak apapun pria di depannya itu dapat dipercaya.


Noren melirik Lisa yang sudah diam. tangannya masih bersedekap dengan erat, tatapannya keras kepala jatuh pada jalanan meskipun dia terlihat begitu ingin untuk tidur, kelelahan. Noren menghela napas kecil, mencoba untuk melakukan trik, pendekatan kalau kata orang. Sebenarnya, dia sama sekali belum pernah melakukan hal-hal seperti ini. Sebenarnya juga, sejak lama dia hanya tertarik kepada Lisa, adik dari sahabatnya itu. Jadi, dia hanya mencoba untuk belajar secara imajinatif tentang bagaimana mendekati perempuan seperti Lisa.


Dia membasahi bibir bawahnya sedikit sebelum mencoba untuk membuka percakapan, tapi bahkan sebelum dia bisa, Lisa sudah menoleh kearahnya dengan tajam, seolah semua udara di sekitarnya hilang tiba-tiba, dia lupa caranya bernapas, tetapi kemudian di detik ketiga, Noren ingat bahwa dia sedang menyetir, beruntung fokusnya bisa kembali dengan cepat.


Jantung Noren berdegub kencang. bukan hanya karena seorang Lisa, tetapi karena takut maut di depan matanya. Dia masih mau hidup, dia masih mau menjalin kasih dengan Lisa. Jika dia membawa Lisa pulang tidak dalam keadaan yang sehat, maka dia bersumpah Sinar akan memakannya hidup – hidup. tidak ada pilihan ataupun yang harus dipilih. kewajibannya adalah menjaga Lisa hingga mereka saling menua nanti.


Calon istri ‘kan? hehe


“Kenapa?”


Noren mengerjap ketika pertanyaan itu jatuh dari bibir Lisa. Dia mengernyit, tetapi kemudian dia paham dimana alur pertanyaan itu. Jadi, dia hanya tersenyum kecil, menginjak rem ketika mereka berhenti di lampu merah. Matanya mencari pada Lisa yang masih mencoba untuk mengutarakan kata.


“Kenapa lo nganterin gue sekarang? lo mau coba pendekatan sama gue? mau coba cari celah biar gue luluh sama lo?”


Lisa tidak bergerak, tetapi tatapannya seperti pedang yang menghunus. Noren mendesis, bagaimana mungkin anak yang dulunya cengeng ini begitu kuat dan menggairahkan seperti sekarang? dia harus cepat-cepat bisa meraih Lisa dari sekarang. Atau mungkin saja--, ah otaknya sudah mulai menari-nari kearah sana.


“Kalau aku bilang iya, gimana?” Noren menyeringai. dia senang dengan keadaan ini, dia merasa sangat tertantang dengan sifat Lisa yang sekarang. “Karena kita udah direstuin sama kedua keluarga kita, jadi aku mulai dari sekarang pengen buat kamu luluh sama aku karena yah, kan nanti kita sendiri yang akan ngejalani hidup berdua, ya kan?”


Noren mencoba menahan tawa ketika dia bisa melihat wajah Lisa yang memerah. Ada bunyi lampu pejalan kaki yang hampir habis dan dia berancang-ancang untuk mulai kembali menyetir.


“Nggak, ya! nggak bakalan! gue nggak bakalan luluh sama Lo Kak. Gue bakalan nyari cinta sejati gue. Gue bakalan cari pangeran gue sendiri! dan itu pasti bukan lo. Titik!”


Lisa mengoceh. dia menutup matanya erat, membayangkan dengan ngeri bagaimana nanti dia akan terkekang selamanya dengan Noren.


Yang bukan pangerannya, yang bukan orang yang dia cintai dalam proses manis yang diimpikannya.


“Ya, ‘kan kita nggak tau kedepannya, ‘kan?”


Noren menoleh, menatap Lisa dengan sayang. “Selama aku masih berjuang, selama aku masih mencoba ngeluluhin hati kamu, selama aku masih berusaha untuk buat kamu jadi milik aku-, mungkin masa depan akan berubah, ‘kan? mungkin aja nanti, kamu bakalan jatuh ke aku Lisa. Kita nggak tau, baik kamu ataupun aku. Tapi yang bisa aku janjiin cuma satu-,”


Noren tertawa manis. Tangan kirinya ia lepas dengan lembut dari kemudi sebelum mengusap kepala Lisa dengan sayang. Perempuan itu masih terperangah.


“Aku bakalan berusaha, sesulit apapun itu buat dapatin kamu, karena aku nggak bakalan nyerah dan pastinya nggak bakalan nyerahin kamu untuk siapapun. Selama aku masih bertahan dan berjuang, semuanya pasti bisa berubah”


Ada senyum mematikan yang Noren tahu dia bisa membuat Lisa diam tak berkutik.


“Garis takdir memang ada, tapi jikapun kamu bukan takdirnya aku, aku pasti akan berusaha buat mengubah takdir itu dengan kedua tangan aku. Karena aku tipikal orang yang nggak bakalan nyerahin apa yang harus menjadi milik aku-, diputus dari apapun itu. Jadi, Lisa.. kamu harus siap-siap ya? kamu bakalan kaget nanti”


Ada tepukan sayang dikepalanya sebelum usapan diwajah. Lisa harus menggeleng keras ketika Noren mencubit pipinya dengan gemas dan mencondongkan diri untuk meraih safetybelt-nya.


“A-apa..?”


Napas Lisa terhenti ketika wajah Noren hanya hitungan senti di depan wajahnya sendiri. Yang kemudian dikejutkan dengan senyum miring yang hampir mengubah seluruh sudut pandang Lisa tentang Noren, anehnya sangat membuatnya berbeda dari yang sebelumnya-, dingin, licik-, penuh dengan rencana-, posesif…


Obsesi?


Lisa bergidik sebelum pada akhirnya tersedar dan menyentak Noren menjauh dari dirinya.


“A-apaan sih lo?!”


Lisa ngeri, tetapi Noren hanya tertawa dengan geli sebelum menunjuk ke arah luar dengan isyarat dagunya.


“Udah sampai nih dek, emang kamu masih mau lama-lama sama calon suamimu ini, ya? masih pengen lengket?” Noren mengangkat kedua alisnya menggoda dan Lisa hampir berusaha untuk tidak kebablasan mencakar wajah yang lebih tua.


“Gausah mimpi! Dah, gue pulang. Makasih!”


Lisa, dengan wajahnya yang sudah merah merekah-, entah malu atau marah, pada akhirnya berhasil masuk ke dalam rumah dengan kecepatan penuh. Menemukan kasurnya dan melempar tasnya ke sembarang arah sebelum berteriak dengan kekuatan penuh keatas bantalnya.


“NOREN SIALAN!!!!!”


...…....


Matanya menatap dingin pada bangunan yang sudah dihapalnya luar kepala. menatap ke salah satu jendela, memastikan bahwa Lisa benar-benar ada disana, Noren mengulas senyum, hampir tidak mencapai kedua matanya. Jemarinya berkedut di atas kemudi, sebelum mencengkeram dengan erat. Helaan napas ringan dan tatapan sedingin angin malam-, hampir bisa membekukan sebelum akhirnya kembali datang kehangatan lain yang aneh dari binar matanya saat melihat mobil lain masuk ke dalam garasi.


“Ayo kita lihat-, gue atau lo.. yang bakalan menang, ya?”


...…....


...🍁...


...Siapa Pemenangnya-End...