Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Mesin Capit dan 20 Pertanyaan Part.3



“Udah Puas?”


Lisa bersenandung ketika dia memegang tangkai sate di tangannya. Satu yang lain memegang plastik berisikan sate cumi yang lumayan besar sehinga hanya diletakkan di dalam kotak dan tidak menggunakan tusuk sate besar. Dia membeli untuk dua porsi. Dalam keengganannya untuk berbagi dengan sang kakak, dia tidak bisa untuk membawa pulang sesuatu ketika dia tahu bahwa dia tidak sedirian berada di rumah. Lagipula, dia tetap akan memarahi Sinar meskipun dia menyodorkan satu porsi sate cumi untuk sang kakak.


Plastik sate cumi itu bergabung dengan plastik jajan yang dia hasilkan dari mesin capit. Meskipun sebenarnya dia hanya memegang yang lebih kecil sedangkan Noren membawakan plastik snack dengan isi yang lebih banyak dari yang ia pegang. Lisa tidak menyuruhnya, tentu saja. Itu mutlak dari keinginan Noren sendiri. Jadi, apa yang bisa dia lakukan jika ada yang bersikeras mekasakan bantuan padanya?


Noren sendiri, selain memegang plastik jajanannya, dia hanya membeli Americano yang sekarang di genggam erat di tangannya. Lelaki itu bahkan meminumnya tanpa kernyitan pahit dari wajahnya seperti dia sangat menikmati rasa pahit yang mengalir di atas indera perasanya.


“Lumayan puas, sih, hari ini. Gue lega banget kayak rasanya beban gue berkurang banyak” Lisa bergumam dengan senang hati, sebelum menggigit satu gigitan besar pada daging cumi di tangannya.


Mereka berjalan beriringan menuju jalan keluar dari Jalan Surga itu. Sudah larut untuk kesenangan di malam hari. Meskipun mereka besok tetap saja menemukan hari libur akhir pecan, tetapi Lisa rasanya sudah kehabisan banyak energi dari seberapa terbakar dia pada hari ini.


Dia bersenang-senang. Tidak bisa dipungkiri, dia jujur tentang bagaimana dia merasa sangat segar dan lega. Meskipun dia tidak memiliki banyak beban yang berarti dan keluar hanya karena suasana hatinya baik. Tidak menghitung bagaimana dia bertemu dengan Noren, tetapi dia bahkan tidak merasa terganggu saat Noren berjalan tepat disebelahnya dengan sangat santai.


“Syukurlah kalau gitu. Aku juga ikut senang kalau kamu senang”


Noren, adalah lelaki yang selalu mencoba untu menempatkan beberapa kalimat chessy yang bisa dia temukan dari seberapa mudahnya lidahnya bergerak mengucap kata. Itu bukan karena dia sering menggunakannya, bahkan dia tidak pernah sama sekali melontarkan hal itu. Namun tentu saja, ini semua karena Lisa yang berhasil membuatnya merasa sangat ringan untuk berbicara dan mencari banyak tipe obrolan di sana-sini. Juga jangan lupakan bagaimana dia merasa sangat bebas semenjak dia berusaha dengan nyata untuk mendekati perempuan itu.


Bisa di bilang, Lisa adalah pintunya dan keberadaan yang dia butuhkan untuk menemukan semua kesenangan hidup dalam masa-masa kehampaannya yang lalu-lalu. Dia beruntung untuk jatuh cinta pada perempuan itu. Banyak langkah yang dengan sukarela dia ambil dan jalankan untuk Lisa karena semuanya pasti akan sepadan dengan apa yang dia rasakan.


Gantungan kunci berbentuk rubah hasil tangkapan Lisa itu, dia simpan baik-baik di saku hoodienya. Berusaha menjaga benda itu dengan sangat protektif karena sang rubah yang nantinya akan dia beri nama dan dia jaga dengan baik terasa seperti benda berharga yang tidak akan pernah jauh dari jangkauannya dan akan di tempatkan di tempat yang terbaik yang bisa dia minta.


Itu barang murah, dia tahu, tentu saja. Bahkan bagi sebagian orang itu tidak begitu penting dan hanya boneka kecil sebagai teman beberapa kunci yang akan diletakkan dimana saja secara acuh. Tapi, usaha yang dilakukan Lisa dengan penuh perhatian dan fokus, juga dengan bagaimana itu adalah salah satu barang permberian Lisa pertama kali adalah apa yang membuat bobot boneka itu terasa berat di dalam kantongnya.


Mungkin, pada suatu kesempatan, Noren akan mengatakan bahwa boneka itu adalah jimat keberuntungannya dalam banyak aspek.


“Aku antar pulang, ya”


Noren tentu saja tidak bertanya. Itu adalah pernyataan dan dia tidak akan meminta opini Lisa dalam hal ini. Dia berhasil mendapati mobilnya yang terparkir di sisi jalan raya yang masih terdapat beberapa kendaraan berlalu lalang meski tidak begitu ramai. Itu juga diparkirkan bersama dengan beberapa mobil lain, jadi dia tidak akan khawatir aka nada sesuatu dengan mobilnya. Pun, mobil kali ini yang dia bawa adalah mobil biasa yang tidak terlalu mecolok.


“Tapi gue pengen jalan” Lisa ikut memperhatikan mobil yang tidak dia kenal. Bertanta-tanya mobil mana yang Noren gunakan hari ini. “Nggak mau naik mobil. Gue pengen kena udara asli” lanjutnya kemudian.


Noren berbalik untuk melihat Lisa dengan agak cemas. “Emangnya kakinya nggak capek, dek?” Dia bertanya. Mengingat bagaimana Lisa selama ini berdiri dan belum beristirahat sama sekali. Namun hasil dari kekhawatirannya adalah nihil ketika Lisa hanya memukul kakinya dan menendanya ke udara, mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


Noren diam untu berpikir. Rumah Lisa tidak begitu jauh dari tempat ini, pun tidak terlalu dekat. Jika mereka menggunakan mobil itu hanya akan sampai dalam sepuluh sampai kurang dari lima belas menit. Noren tidak menghitung secara spesifik tentang jarak yang di tempuh untuk berjalan kaki, tapi yang pasti itu akan sangat jauh dan melelahkan.


“Yakin?” dia bertanya lagi untuk memastikan. Tidak ingin Lisa mengambil pilihan yang akan merugikan perempuan itu.


“Iya yakin. Gue aja ke sini jalan kaki dari rumah. Gue lagi nggak mau pake mobil pokoknya. Kalau emang lo mau pulang naik mobil lo aja nggak apa-apa. Gue bisa pulang sendiri, kok” Lisa memastikan.


Anehnya, dia bukan mengatakan itu sebagai cara untuk segera berpisah dari Noren. Tetapi dari keinginannya yang terdalam hanya untuk berjalan kaki sampai ke rumahnya. Dia hanya ingin merasakan angin malam yang segar menerpa wajahnya dan merasakan lelah dari kakinya sendiri sebelum akhirnya dia akan beristirahat dengan sangat nyenyak.


“Nggak” tegas Noren tanpa sadar. Dia berbalik dan berjalan lebih dahulu di depan Lisa untuk meastikan bahwa dia mengantar Lisa dengan selamat sampai rumah perempuan itu berada. “Aku udah izin sama Sinar kalau aku bawa dan bareng kamu. Jadi, pulangpun aku harus bertanggung jawab atas kamu. Kalau emang kamu mau jalan kaki, aku anterin kamu dengan nemenin kamu jalan kaki sampai ke rumah”


Lisa menatap tidak tertarik pada Noren. Meskipun begitu, dia tetap melangkah menuju di mana Noren berada sehingga mereka bisa berjalan berdampingan.


“Yaudah kalau gitu. Tapi nanti lo bakalan bolak-balik buat ngambil mobil lo lagi, lho. Nggak capek emangnya?”


Menghabiskan waktu yang membuat Lisa bersenang-senang malam ini bersama Noren mungkin adalah apa yang membuatnya melontarkan pertanyaan itu dengan suka rela. Dia bahkan tidak memikirkan banyak hal lagi ketika dia tepat berada bersebelahan dengan Noren. Bahu saling bertabrakkan beberapa kali saat mereka melangkah beriringan.


“Nggak masalah tentang itu. Asalkan kamu udah aku pastiin sampai rumah dengan selamat itu yang paling penting”


“Iya deh, terserah lo maunya gimana. Gue nggak tanggung jawab ya kalau lo ngeluh capek karena maslah ginian” Lisa mengomel untuk jawaban dari ucapan Noren yang terdengar begitu yakin tanpa ada keraguan sama sekali. Dia bahkan terlihat sangat serius sekarang.


“Nggak bakalan ngeluh, kok. Lisa tenang aja”


Berbanding terbalik dari keseriusannya, dia menjawab dengan nada suara santai yang sedikitnya mampu membuat Lisa memutar bola matanya karena reaksi yang tiba-tiba berbeda.


“Oke, terserah” lanjutnya dengan kembali menggigit daging cumi lainnya yang kaya rasa.


Lisa bergumam dengan senang hati seraya tanpa sadar menggoyangkan kepalanya dari kanan dan kiri mengikuti nada riang yang dia dendangkan dengan suara lembut. Jika Noren mendengarkan, dia tidak terlihat berusaha untuk menggoda dan mengisengi Lisa, melainkan lelaki itu hanya terkekeh dengan nada yang senang dan tidak menginterupsi apapun yang sedang Lisa lakukan saat ini.


Suasana malam terasa sangat syahdu. Angin dingin dan segar menerpa wajah mereka dan memainkan rambut yang tidak tertutup apapun. Mengacak helaian lembut sesuai dengan arah yang mereka inginkan. Beberapa orang berlalu-lalang disekitar, tidak peduli dengan orang lain dan lebih memikirkan urusan apapun yang mereka punya. Ada beberapa kucing liar yang berhasil Lisa sapa di beberapa kesempatan dan memberikan sebagian kecil dari cumi yang dimakannya untuk mereka. Lampu-lampu jalanan terasa sangat terang ketika mereka berada di bawahnya, ada segerombol laron yang berterbangan, tetapi tidak begitu banyak sehingga Noren yakin bahwa mereka cepat atau lambat akan memasuki musim hujan yang dingin.


Mereka jalan dengan santai dan tanpa banyak kata. Noren seringkali memasukkan tangannya kedalam saku hoodienya untuk memastikan bahwa barang berharganya masih berada di sana dan aman dari gangguan apapun sementara tangan lain ia bawa untuk menyesap hot Americano miliknya yang menghangatkan tubuhnya dari udara yang terus menerpa.


Jika ini adalah kebahagiaan yang membuatnya membumi, Noren berpikir bahwa dia tidak ingin hari ini berlalu dengan sangat cepat.


Jadi, meskipun dia senang dengan kenyamanan dalam diam yang mereka bagikan sepanjang tujuh menit berjalan kaki yang santai, dia kembali membuka suara.


“Nalisa”


Dia memanggil dengan lembut, berharap perempuan itu mendengar suaranya yang sedikit kecil dan serak. Lisa, yang sedang menyesap jarinya setelah dia memotong bagian kecil untuk dilemparkan pada kucing yang berada di sebelahnya, bergumam untuk menyatakan bahwa dia mendengarkan.


“Gimana kalau kita lanjutin permainan tadi, yuk?” Ajakan lainnya.


Dia berusaha untuk menarik atensi Lisa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sangat dia butuhkan jawaban untuk referensi. Namun, ketika dia bertanya tentang hal itu Lisa menatapnya seperti dia telah menumbuhkan kepala baru dalam kebingungan dan keterkejutan aneh di matanya.


“Hah? Emang kita main apa?” Lisa bertanya, seperti anak kecil yang polos dan tidak mengerti satu katapun di dunia. Ini berlebihan, ya, tapi dia tentu saja tidak paham dengan apa yang diucapkan Noren tiba-tiba.


Noren seharusnya memprediksi ini. Yah, tentu saja dia.


“Tuh, lupa, ya?” Dia tahu Lisa tidak lupa, tapi dia hanya ingin menggoda.


“Dih?! Siapa yang lupa, coba? Orang gue beneran nggak tau permainan apa yang lo bilang. Emang main apa, sih? kan tadi yang main Cuma gue doang? Lo mau main capitan lagi, ya?”


Pertanyaan itu tidak henti diutarakan oleh Lisa dengan tergesa-gesa. Noren memperhatikan bagaimana Lisa terlihat begitu panik dan berpikir keras tentang permainan apa yang di ungkit olehnya.


Aduh, bagaimana ini? Noren menjadi semakin jatuh pada perempuan itu yang gemasnya sama sekali tidak bisa menghilang bahkan dalam waktu sedetik saja. Noren terlalu senang dengan perubahan ekspresi dan reaksi yang diberikan oleh Lisa dalam pembicaraan mereka.


“Bukan” ralatnya ketika Lisa tidak juga berhenti untuk mengucap apapun di bawah napasnya dengan nada kebingungan. “Tadi kita main 20 pertanyaan. Dan kita baru sampai di pertanyaan ke delapan kalau aku tidak salah hitung, Dan kamu sama sekali belum jawab yang terakhir, Dek” tuturnya menjelaskan.


“Hah? Sumpah?” Lisa terlihat sangat terkejut.


Benar. Itu berarti apa yang Alpino katakan tentang bagaimana dia hanya menjawab pertanyaan dengan jujur ketika dia sedang fokus pada hal lain adalah semua yang berupa fakta. Dan tadi Noren pasti sudah mencuri kesempatan yang tiba-tiba muncul untuknya begitu saja.


“Curang banget lo!" Lisa tiba-tiba berhenti dan menarik ujung hoodie Noren dengan tergesa-gesa. Dia bahkan tidak peduli bahwa dia bisa mencipratkan saus satenya kemana-mana. Dia hanya takut dia mengatakan hal-hal aneh selama tanya jawab mereka pada waktu itu.


“Apa aja yang lo tanya ke gue? Pasti aneh-aneh, kan? jawab?! Gue lagi nggak sadar tadi. IH males banget!” Lisa berteriak dengan frustasi. Bahkan jika bisa dibilang dia sedang merengek pada saat itu. Noren mengangkat kedua tangannya untuk berhati-hati pad keganasan Lisa yang tiba-tiba.


“Nggak kok, nggak aneh-aneh. Aku berani sumpah, Dek” dia menjelaskan dengan sungguh-sungguh. Meskipun lucu melihat Lisa yang panik, namun dia tidak sedang ingin menarik sesuatu yang salah tentang hal-hal seperti ini.


“Beneran?!” Lisa, dengan dua mata bulatnya yang begitu serius, bertanya lagi. Kali ini lebih kepada memastikan jawaban yang sesungguhnya.


“Bener. Nggak ada pertanyaan aneh dan kita bahkan baru di pertanyaan ke delapan”


Noren yakin bahwa dia tidak bertanya yang aneh. Tapi apakah pertanyaan terakhir juga merupakan pertanyaan yang tidak masuk dalam hal-hal aneh tersebut? Semoga saja itu adalah hal yang benar-benar umum dan Noren tidak akan merasa bersalah bahwa dia telah melakukan kebohongan yang kecil.


Tapi, pertanyaan itu juga tidak memiliki jawaban, kan? jadi tentu saja, itu tidak masuk dalam hitungan.


“tetap aja itu banyak” Lisa mencibir. Dia melepaskan Noren kemudian sebelum kembali berjalan dengan santai. “Karena itu agak nggak adil buat gue yang nggak bisa nanya waktu itu, sekarang giliran gue buat nanya sama Lo dan lo harus jawab dengan jujur!” tuturnya kemudian dengan penuh kemenangan.


“tapi, kan-,”


“Pertanyaan pertama” Lisa memulai dengan menggoyangkan sate cuminya yang tinggal setengah ke depan wajah Noren dengan bersemangat.


“Tapi kamu udah pernah punya pertanyaan pertama tadi?” selanya.


“Nggak! Tadi nggak dihitung karena gue lagi ngngak sadar” Lisa bersikeras dengan cemberut di wajahnya. “Pokoknya ini pertanyaan pertama gue. Titik” tambahnya dengan semangat yang membara.


Noren diam sejenak, memperhatikan dengan sayang dan suka yang sama sebeum dia membiarkan Lisa untuk melakukan apapun yang dia sukai.


“Oke, oke. Pertanyaan pertama. Silahkan” finalnya kemudian membuat binar wi jawah Lisa kembali. Perempuan itu terlihat bersemangat dari apapun yang coba Noren cocokkan dengan beberapa hari terakhir mereka bersama.


“Bagus!” Lisa berssenandung sebelum berpikir untuk memulai pertanyaan.


“Bentar” Noren mengangkat tangannya bersamaan dengan wajahnya yang jatuh dalam kebingungan dan keterkejutan yang nyata. Dia bahkan tidak sadar bahwa dia hampir menjatuhkan minumannya jika dia tidak mengeratkan cengkeramannya dengan gerakan yang lebih cepat.


“Ini serius kamu nanyanya gitu?” Noren masih terkejut dengan apa yang dia dengar baru saja.


“Kenapa? Emang terlalu berat, ya?”


Lisa, entah karena dia terlalu kekenyangan dan overdosis keseruan dari permainan mesin capit atau apa, tetapi kenapa anak itu terdengar seperti baru saja mengkonsumsi obat berat yang membuatnya bertanya pertanyaan aneh yang tidak termasuk dalam aturan dari permainan itu sendiri?


“Kenapa harus nanya gitu? Kenapa bukan milih pertanyaan basic?” Noren berbicara dengan perlahan, mencoba membuat Lisa sadar bahwa dia tengah meracau sepertinya.


“Oh, salah ya, gue?” Lisa bergumam. Dia memasukkan daging cumi terakhir dalam kunyahannya. Pipinya menggembung dalam acara makannya yang lucu.


“Kalau gitu ganti pertanyaan. Lebih dulu mana, ayam atau telur?”


Noren, dalam segala hal hidupnya yang merasa betapa sempurnanya seorang Nalisa, menghentikan langkahnya dalam sebuah keterkejutan yang mambuatnya berpikir bahwa perempuan itu sepertinya benar-benar sedang sakit. Noren bahkan harus bersandar pada tiang lampu yang berada tepat di sebelahnya untuk menahan dirinya agar tidak rubuh begitu saja.


“Nalisa” Noren mendesah dengan begitu frustasi. Tiba-tiba sekali. “Aku baru tau, kalau kamu ternyata bisa punya mode bodoh juga, ya?” Lalu ada satu hembusan napas paling panjang di akhir ucapannya seperti dia sedang meratap.


“HAH?” Lisa berseru dengan tiba-tiba, agak marah. “Apa maksud lo ngatain gue bodoh?! Udah gila emang. Udah, tinggalin gue, gue mau pulang sendiri aja!”


“Nalisa…” Noren berusaha untuk menghentikkan Lisa yang sekarang mencoba untuk berjalan dengan sangat cepat sembari mengomel di bawah napasnya dengan deru yang relatif sangat cepat seperti dia sedang melantunkan lagu rap.


“Bukan gitu. Eh, tungguin” Noren berusaha untuk menarik lengan Lisa kembali. Dia berhasil, tapi perempuan itu menepis dengan cepat. Masih marah dengan sang lelaki yang merasa bingung dengan perubahan yang tiba-tiba.


“Maksud dari 20 pertanyaan itu, bukan sembarang pertanyaan. Tapi pertanyaan yang ditanyakan untuk mengetahui hal-hal terkait orang yang kamu ajak bermain. Jadi, kamu harus nanya seputar Aku dalam hal ini. Bukan pertanyaan random kayak tadi” Noren menjelaskan dengan senyum yang hadir di wajahnya.


“kalau mau nanya pertanyaan random juga boleh. Tapi bukan ini waktunya. Kita nggak bisa benar-benar main 20 pertanyaan sebagai aturannya dong kalau gitu?” Dia kembali melanjutkan. “Kamu boleh nanya apa aja asal terkait sama aku. Apa aja, oke? Jadi jangan marah, ya?”


Noren tidak tahu bahwa dia memiliki kesempatan seperti itu untuk datang padanya. Jadi, dia merasa sangat aneh ketika dia mendapatkan waktu seperti ini. Berbicara dengan lembut pada Lisa yang jelas memperhatikannya dalam diam dan fokus padanya. Wajah Lisa memerah menahan malu, teapi perempuan itu tidak peduli dan hanya bergumam bahwa dia mengerti tentang itu sekarang.


“Oke.”


Dia memulai kembali. Noren berhasil berjalan berdampingan dengan damai seperti sebelumnya.


“Lebih suka makanan pedas, asin, atau manis?”


Pertanyaan dasar yang cocok. Jadi, Noren dengan bersemangat menjawab.


“Asin dan manis. Kalau pedas nggak terlalu, tapi kalau lagi mau, sih, kadang suka” tuturnya dengan senang hati.


“Musik atau film?”


Pertanyaan kemudian berlanjut dengan tiba-tiba, Noren tidak akan menyela lagi meskipun seharusnya ini adalah giliran dia untuk bertanya. Tapi dia mengalah mengatakan bahwa Lisa tengah membalas dendam tentang delapan pertanyaan sebelumnya.


“Dua-duanya. Tapi lebih sering dengerin musik karena aku jarang punya waktu buat nonton”


“Kaus atau kemeja?”


“Dua-duanya juga. Asal nyaman buat dipakai”


Lisa memutar matanya ketika jawaban Noren bahkan tidak merupakan pilihan yang dia pilih.


“Motor atau mobil?”


“Mobil.”


“Makanan atau souvernir?”


“Konteks oleh-oleh? Hm.. souvernir karena bisa disimpan lama dan dikenang”


“Cinta pertama atau cinta terakhir”


Noren berhentu sejenak, dia bahkan hampir melupakan cara bernapas ketika Lisa memberikan pertanyaan yang jau dari beberapa pertanyaan sebelumnya.


“Dua-duanya. Soalnya cinta pertama aku ya cinta terakhir aku” Noren menjelaskan dengan senyum di wajahnya. “Iya, nggak usah di tanya lagi karena itu kamu, Nalisa”


“Idih, geli” Lisa memberikan wajah jijik lagi, tapi anehnya, dia tertawa ketika melihat Noren yang wajahnya datar seperti anak anjing yang baru saja ditendang. Terlihat agak menyedihkan dan tidak apda tempatnya. “udah, ah, skip. Ganti pertanyaan”


“Musim panas atau musim hujan?”


“Hm.. Hujan biar bisa cari kehangatan kalau ada Lisa didekat aku”


“Orang gila” dia menghujat lagi, tapi suasananya anehnya terasa agak ringan.


“Kebohongan atau Kejujurann?”


“Aduh, susah ini” Noren bergumam agak bercanda. “Kejujuran, Tapi kadang kalau kamu jujur nolak aku ya sakit ya rasanya”


“Makanya, kalau udah ditolak itu mundur” Lisa mencibir. Dia terlihat sangat bersenang-senang malam ini dan tidak terlihat banyak emosi yang muncul di wajahnya dengan raut kekesalan. Itu semua hilang pada malam ini.


“Aku pilih bohong deh kalau gitu” Noren tiba-tiba mengungkit jawaban. Lisa menatapnya dengan aneh dan yakin bahwa Noren akan mengatakan hal-hal aneh lagi padanya. “Pilih kebohongan, jadi aku tau kalau Lisa bilang nggak suka sama aku berarti Lisa lagi bohong. Dan jujurnya itu bahwa Lisa sebenarnya juga suka sama aku”


“Sumpah ya Kak Noren!” Lisa mencubiti sisi pinggan Noren dengan sebal. “Lo mabuk apa gimana, sih? Udah kena kepala lo, ya? Ngeri banget omongan lo. Bangun, oi!”


Noren tertawa terbahak-bahak. Dia menikmati bagaimana Lisa juga merasakan bahwa mereka sedang bercanda satu sama lain dengan cara yang aneh. Dengan itu, pertanyaan mereka terus berlanjut. Lisa yang mulai menanyakan hal-hal aneh dan Noren yang terus muncul dengan kebohongan-kebohongan yang dibercandakan dengan usaha yang begitu keras darinya. Namun diluar dari perkiraannya, Lisa menikmati kepura-puraan tersebut dengan cara yang sama. Mereka anehnya tiba-tiba semakin dekat dengan Lisa yang mencoba untuk menganiaya Noren yang iseng tanpa keseriusan seperti biasanya


Cuaca mulai menjadi dingin disetiap lanngkah mereka, tetapi tidak ada satupun yang menyadari hal itu, Mereka dengan santai berjalan bersama, membawa perasaan yang ringan dan Noren yang bersumpah bahwa dia merasa sangat bahagia malam itu.


.........


...🍁...


...Mesin Capit dan 20 Pertanyaan Part.3 - End...


.........


...🍁...


...🍁🍁...


...🍁🍁🍁...


Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


Enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Lena Laiha, nih!


Jangan lupa mampir yaa🥰


...PROMO NOVEL KARYA LENA LAIHA...


...JUDUL: TIBA-TIBA MENIKAH...


Liana adalah seorang gadis yang terlahir dari keluarga sederhana, sehari-hari ia bekerja sebagai karyawan biasa di kantor tempat ia bekerja. suatu hari semua karyawan mendapat undangan untuk menghadiri acara pernikahan bos muda, tanpa terkecuali. Liana adalah salah satu karyawan yang hadir di acara itu. Diacara yang sangat mewah itu tiba-tiba seorang laki-laki yang tidak Liana kenali secara tiba-tiba menariknya secara paksa, hingga tubuh Liana sedikit terseret. Liana yang sebenarnya bisa bela diri memilih untuk tidak melakukan perlawanan karena ia tidak ingin membuat keributan di acara penting bagi bosnya itu. Liana dipaksa untuk menjadi pengganti pengantin wanita yang telah pergi melarikan diri.



Selamat membaca🥰