
Lisa sadar bahwa dia sedang berada di tengah dua orang yang berusaha untuk mendapatkan perhatiannya yang dilakukan secara sangat tidak halus. Dengan kata lain, Lisa bisa melihatnya sejelas matahari pagi atau bahkan sejelas wajah merah kakaknya yang sedang berurusan dengan panggangan dan perhatian yang dia dapat dari pujaan hatinya dengan senyuman lebar di wajahnya.
Tentu saja, Lisa tidak memikirkan hal-hal aneh yang terjadi di awal-awal persaingan bodoh itu dimulai, yang mungkin hanya satu orang dari keduanya yang sangat berusaha keras agar semua perhatian Lisa tertuju padanya secara penuh.
Itu dimulai seperti ini;
“Al, ini lo makan juga dagingnya, jangan minum air terus. Kembung lo nanti tau rasa”
Lisa meletakkan daging panggang yang sudah matang langsung ke atas piring kecil yang berada di depan Alpino. Tangan lelaki itu masih memegang gelas yang berembun di bagian luar, tangannya sudah jelas basah, tetapi dia tidak melepaskan benda itu barang sejenak.
“Sayurnya juga, jangan ngemilin jamur mulu, lo. Makan yang lain juga. Tumben banget lo hemat makan malam ini. Lo tau konsep All You Can Eat, nggak, sih? Rugi, noh, nanti Fajri kalau lo nggak gercep makannya”
“Iya, ih, bawel. Gue udah ngemilin semua makanan dari tadi sampai begah perut gue. Ini lagi diem bentar buat nurunin makanannya sekalian istirahat ngunyah. Lo aja nggak liat gue nyolong daging pas lagi dipanggangin dari tadi sampai gue di geplak sama bang Sinar”
Mendengar penuturan Alpino, Lisa berhenti meletakkan berbagai macam makanan di atas piring sahabatnya itu. Alpino memberikan cengiran yang merembet ke arah ringisan malu yang aneh di wajahnya. Itu membuat dia terlihat lebih konyol daripada wajah memelas yang ternyata hasil dari kekenyangan yang dia rasakan.
“Lah, emang udah parah lo, Al. Pantes aja Kak Sinar dari tadi misuh nggak jelas karena ayamnya dia nggak nambah-nambah. Rupanya lo pelakunya, ya?”
Tawa yang diberikan oleh Alpino membuat Lisa hanya geleng-geleng kepala. Niatnya yang hanya ingin memberi makan sahabatnya yang sejak mendudukkan diri di kursi bersebelahan dengannya hanya diam tak berkutik dan fokus pada gelas minumannya, ternyata hanya sekedar empati sia-sia belaka. Alpino dan segala hal yang terkadang Lisa lupa bahwa sahabatnya itu juga sama saja dengan kedua temannya yang lain. Mereka akan menggila bersama jika sedang dipersatukan di satu tempat yang sama. Itulah mengapa mereka cocok satu sama lain.
“Soalnya tadi Heksa yang duluan ngajakin gue. Ya gue ikutan, soalnya menggiurkan, sih, tinggal nyolong makan doang dan nggak ribet nge-grill nya”
“Ini kayaknya Heksa biang keroknya banget ga sih? salah pergaulan lo, Al. Bahaya”
“Dih, temen lo juga itu, Lis”
Alpino terlihat bersenang-senang ketika Lisa memperhatikannya. Sembari mengunyah, dia memperhatikan bagaimana sahabatnya itu kini kembali meneguk minuman dinginnya dan membenarkan postur tubuh agar duduknya menjadi lebih nyaman untuk kesukaannya.
“Oh, iya, ngomong-ngomong gimana kerjaan lo akhir-akhir ini? Maaf, ya, gue sibuk mulu nggak bisa nemenin lo keluar jalan-jalan walau cuma sebentar”
Lisa yang sedang menikmati daging ayam yang dipanggang kakaknya dan sudah disodorkan langsung untuknya meringis mendengar penuturan yang diberikan Alpino. Yah, benar. Kesibukan sang sahabat itulah yang membuat Noren semakin memiliki banyak waktu untuk mengganggunya dan Lisa membuka ruang Alpino yang dimilikinya sedikit untuk Noren ambil dan masuki. Itulah mengapa Lisa tidak begitu murka ketika Noren melakukan kegilaan yang luar biasa gila dan memalukan kepadanya.
“Nggak apa-apa, Al. Kerjaan lo lebih penting daripada jadi ojek dan babysitter pribadi gue. Lagian kerjaan gue juga baik-baik aja, sih. Tapi, lo harus tau, selama nggak ada lo, hidup gue udah kayak neraka, sumpah!”
“Hah? Gimana?”
Wajah bertanya milik Alpino terlihat sangat serius. Jika bukan karena Lisa merasa ingin memuntahkan seluruh keluh kesahnya malam ini dengan seserius mungkin, dia akan meletakkan telunjuknya dengan cepat untuk menghilangkan lipatan diantara kedua alis dan dahi Alpino yang mengernyit, menimbulkan beberapa lelkukan dalam disana.
“Iya, lo tau nggak, sih--,”
“Nalisa, kamu bisa bantu aku sebentar, nggak?”
Itu adalah waktu dimana pada akhirnya Noren masuk dan menganggu percakapan yang baru saja akan dimulai dengn segenap perasaan dan rengekan pelepas beban yang bisa membantuya sedikit rileks untuk beberapa waktu kedepan. Belum lagi, dia belum benar-benar bisa berbicara banyak dengan sahabat kecilnya yang sangat dia rindukan kehadirannya akhir-akhir ini karena jadwalnya yang tidak cocok dengan milik Lisa sendiri.
“Gue sibuk, lo minta bantu yang lain aja sana yang free”
Itu adalah refleks bagus yang dia bangun untuk Noren, ketus yang akan selalu berenang dalam nada yang dia lontarkan. Lagian, siapa suruh untuk mengganggunya melakukan sesi curhat bebas dan nyaman dengan sahabatnya?
“Nggak bisa ini, tolong, dong. Mata aku kemasukan asap, perih banget. Kamu tega sama kakak, Dek?”
Lisa melotot pada lelaki itu yang kini mengerjapkan kedua matanya berulang kali, berusaha untuk memperlihatkan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan seseorang yang bisa membantunya melepaskan rasa perih yang menusuk. Lisa berdecak, dia tidak ingin sama sekali diganggu oleh lelaki itu. Tapi ketika dia melihat kesekeliilng, entah memang teman-temannya berusaha untuk membiarkan hanya Lisa yang membantu keributan yang Noren timbulkan karena sekarang mereka sibuk dengan partner bincang mereka satu sama lain-, atau bahkan hanya berpura-pura untuk membiarkan Lisa mengurus tamunya sendiri-, mereka abai pada kejadian.
Jadi, mau tidak mau Lisa berdiri untuk membantu Noren. Dia dengan segenap rasa ingin mengacak-acak wajah merah Noren yang terkena asap panggangan dari beberapa lama waktu yang dia habiskan, berakhir dengan baik hati dalam kekesalan yang dia tahan untuk menghembuskan udara ke sekitar mata berair lelaki itu. Dia mengambil tisu bersih untuk mengusap bagian disekitar mata agar tidak menyebabkan iritasi yang berlebihan. Rasanya, dia seperti sedang mengurus bayi nakal yang manja.
“Udah baikan belum matanya? Masih perih?” Untungnya Lisa adalah manusia yang masih memiliki perasaan iba yang manusiawi. Jadi, dia berusaha untuk memastikan keberadaan Noren sudah baik-baik saja.
“Udah” Cengir Noren kemudian sebelum melanjutkan, “Makasih, ya, sayangnya aku. Udah lebih baik, nih, karena kamu yang bantu”
Noren yang gila, dan Noren yang tidak tahu diri. Lisa melayangkan tangannya untuk mencubit lengan Noren dengan kulit yang terpampang karena lengan baju yang dia lipat jauh hingga ke siku. Matanya masih memberikan pelototan tajam sebagai peringatan keras untuk tidak menyebakan kegilaan yang sangat tidak penting malam itu.
“Diem atau gue jorokin wajah lo ke panggangan, Kak” Desisnya penuh ancaman sebelum kembali ketempatnya dimana Alpino memperhatikan mereka sejak awal.
“Serem banget lo, Lis. Jangan gitu, ah, sama bang Noren”
“Al!! Lo harus tau kalau Kak Noren tuh udah gila. Emang pantes dia digituin, ih!”
Meskipun begitu, di tengah rengekannya pada Alpino, dia bisa melihat sahabatnya menyeringai menikmati bagaimana Lisa memberikan ancaman sadis pada Noren. Dia terlihat senang dengan interaksi yang mengungkit perihat untuk membinasakan lelaki yang lebih tua dimana orang tersebut sekarang memilih untuk sibuk fokus pada apa yang dia kerjakan.
“Emangnya gimana? Ada cerita seru apa, nih, selama gue nggak ada disekitar?”
Lisa, yang mendengar bagaimana rasa tertarik Alpino untuk mendengarkan ceritanya yang telah diinterupsi oleh Noren secara sepihak merasa bersemangat lagi kali ini. Dia menarik kursinya untuk mendekatkan diri pada Alpino dalam bentuk persiapan untuk bercerita serius dengan beberapa drama yang dilebih-lebihkan disana-sini.
“Jangan bilang cerita seru, ini tuh cerita tentang gue yang hidup di neraka. Jadi-,”
“Lisa, bisa bantuin aku lagi nggak? Ini lengan baju aku turun, takutnya malah kotor. Apron aku juga ikatannya nggak kecang. Bisa bantuin, nggak? Tangan aku lagi penuh..”
Ada ratapan dan wajah memelas yang coba dibuat-buat oleh Noren. Lisa hampir berhasil untuk kehilangan ketenangannya ketika dia tidak habis pikir bahwa Noren bisa memperlihatkan sisinya yang seperti itu di depan teman-temannya yang lain, terlebih di depan Alpino dimana sahabatnya itu sekarang terlihat tidak percaya dengan apa yang Noren tunjukkan pada mereka.
“Lo kenapa ganggu banget, sih? benerin sendiri! Gue bukan pembantu, lo, Kak Noren” Dia mendengus, kali ini benar-benar hanya ingin mendorong kepala Noren ke atas panggangan dan mengguyurnya dengan bumbu-bumbu yang berserakan di sekitar.
“Kalau aku bisa, sih, udah aku lakuin sendiri dari tadi. Tolong, sayang?”
“Astaghfirullah, ya Allah. Ngucap gue, Kak. Sumpah. Ini kalau gue cakar wajah lo bisa nggak, sih?!”
“Jangan dicakar, dong. Maunya disayang-sayang”
Dia sadar bahwa rahangnya sudah bisa dibilang jatuh ke atas lantai bersebelahan dengan heels yang dia pakai hari ini karena mendengar dengan jelas pernyataan gila dari Noren. Kepalanya sakit, terasa berdenyut dengan kejutan yang hanya ingin membuatnya berteriak begitu saja.
Lisa memang mengatakan bahwa dia bisa dibilang sudah terbiasa ketika Noren memanggilnya dengan kata sayang ketika mereka bersama. Namun, jika dia melakukan ini berkali-kali dan memuntahkan kalimat penuh keju yang menjijikkan itu di depan teman-temannya, Lisa rasanya ingin mengubur dirinya jauh-jauh di bawah tanah, jauh dari kehadiran orang yang sudah tidak waras itu.
“Bang, sini. Gue yang bantuin, ya? Maaf kalau lo ribet banget sendirian. Seharusnya gue juga ikut bantu, kan?”
Alpino tiba-tiba berdiri, menawarkan. Lisa dengan kedua matanya yang berbinar dan dengan haru yang tiba-tiba merasuki jiwanya, merasa sangat terselamatkan dengan kebaikan hati sahabatnya yang bisa dibilang sedang melindunginya saat ini.
Lisa bisa melihat raut wajah Noren yang sangat tidak senang. Jatuh dengan cara yang lucu dan berbanding terbalik dari apa yang dia berikan pada Lisa sebelumnya.
“Lo makan aja, Al. Gue minta tolong Nalisa, soalnya. Lagian lo belum cobain masakan gue, kan?”
Alasan pertama dari Noren yang dikemukakan dengan ekstra cepat tanpa berpikir dua kali lebih banyak.
“Eh? Nggak apa-apa kok, Bang. Nanti, kan, habis gue bantuin lo, gue juga bisa makan”
“Nggak. Gue mintanya bantuan dari Lisa, Al. Bukan , lo”
Lisa memijat dahinya dengan tenaga berlebih sebelum menarik Alpino untuk duduk kembali ke kursinya. Dia berjalan dengan langkah yang berat kemudian ke tempat dimana Noren berada dengan omelan dan gerutuan yang dia ucapkan seperti mantra di bawah napasnya sendiri.
“Lo, tuh, ya, kalau nggak ngerusuh sebentar aja kayaknya nggak tenang banget hidup, lo kak. Sini, mana yang longgar biar gue iket sekencang mungkin biar lo nggak bisa bernapas dan enyah sekalian”
“Hehe, aku suka kalau kamu udah ngomel gemes, gini. Perhatiannya ke aku aja, dong, dek. Jangan dibagi-bagi, ya?”
Jika hukum membunuh itu bukanlah sesuatu yang menimbulkan dosa, mungkin Lisa sudah melakukannya jauh sebelum lelaki itu mengambil seluruh kewarasannya hingga tak bersisa.
“Lo-,”
“Lisa, ini dagingnya kalau dimakan pakai seledri enakan di celup ke bumbu blackpapper atau barbeque? Kalau sekalian gue tambahin mayo enak nggak, ya?”
Satu suara dari Alpino pada saat itu, adalah apa yang membuat kegilaan ini semakin menjadi.
Jika hal itu adalah permulaannya, maka hal-hal yang berlangsung terjadi seperti ini;
“Dek, ini coba dagingnya dicicipi dulu, baru banget matangnya. Aku tambahin lada hitam tadi, kayaknya enak. Ayo, sini cobain”
“Lisa, kalau misalnya gue mau celupin daging ke dalam rebusan kuah, enakan yang pedas atau yang gurih? Lagi pengen nyoba, nih, gue”
“Dek, bisa bantuin gue ambilin bawang Bombay-nya? Mau coba aku panggang sekalian ini. Kamu kesini deh, biar kita sekalian masak bareng-bareng. Mau?”
“Lo haus nggak, Lis? Mau gue bawain milo plain lagi atau air es aja? Biar agak legaan itu tenggorokkannya minum air putih”
“Mau minum air hangat aja, dek? Biar lebih lega tenggorokkannya sehabis makan-makanan berat”
“Dingin, Lisa? Ini pakai jaket gue aja. Gue tau lo nggak tahan dingin. Nih, biar agak hangat badannya”
“Sayang-,”
“STOPPP!!!!!”
Wajah Lisa memerah. Dia tidak habis pikir dengan hal-hal yang membuatnya kewalahan. Matanya menatap nyalang pada Alpino dan Noren secara bolak-balik. Tidak percaya bahwa Alpino juga akan membuat kepalanya pecah. Tapi tentu saja, dia tidak akan menyalahkan hal itu pada sahabat tersayangnya. Yang memulai pertama kali adalah Noren. Lelaki itulah yang pantas untuk disalahkan.
“Lo kenapa ikut-ikutan, sih, Al! Jangan ikutan gila kayak Kak Noren, deh. Sumpah gue stress!”
Giginya bergemeletuk sebelum dengan gerakan kilat menyerbu ruang pribadi Noren dan mencengkeram kerah kemeja lelaki itu. Noren yang terkejut, hampir refleks untuk menepis pergerakan Lisa untuk pembalaan dan pertahanan dirinya yang telah terlatih sejak lama. Namun, ketika otaknya menyadari dengan cepat bahwa itu adalah Lisa, dia hanya menahan diri dan mengangkat kedua tangannya yang memakai sarung tangan plastik dan memberikan cengiran bodoh pada sang perempuan.
Lisa bisa melihat Noren melirik ke arah belakang tubuhnya dimana Sinar pasti berada disana dari bagaimana ekspresi aneh yang Noren beri sebagai kode pada kakaknya.
“Kak, gue tau lo gila, tapi jangan begini juga. Lo beneran mau gue lempar dari atas sini atau gimana, sih?! Jawab gue!!”
Perempatan imajiner hadir di dahi Lisa ketika Noren hanya tersenyum dan terlihat bersenang-senang.
Kapan?
Dia bertanya-tanya dengan segenap puing-puing kewarasan yang masih bisa dikumpukannya meskipun sedikit.
Kapan Noren bisa mempelajari pelajarannya untuk tidak mengacaukan ketenangan seorang Nalisa?
Lalu ada pertanyaan ini lagi,
Kapan? Kapa Noren akan berhenti menjadi orang gila dan hanya enyah dari kehidupan berharganya itu.
Ataukah sepertinya, lelaki itu hanya akan menghilang jika Lisa yang mengakhiri lelaki itu dengan kedua tangannya sendiri?
Oh, Lisa pastikan dia akan merancang rencana pembunuhan terbaik untuk menyingkirkan Noren dalam hidupnya. Dia harus bergerak cepat untuk ini.
“Kamu kok tega sama aku, sayang? Aku nggak ngapa-ngapain, loh”
Ah, Noren yang ini seharusnya tau lebih baik bagaimana cara untuk menutup mulut besarnya jika dia sungguh masih ingin menghirup udara segar dan pulang ke rumahnya tanpa goresan luka sedikitpun.
Sayangnya, dia lebih memilih kematian di depan mata.
Alasannya adalah, dia suka dengan reaksi Lisa saat dirinya menggoda perempuan itu.
Menggemaskan-, katanya.
“Sinting!”
...…. ...
Hal-hal terjadi begitu saja. Rasanya seperti kegaduhan yang tidak akan ada habisnya jika Lisa dan Noren tidak dipisahkan oleh Kakaknya dan juga teman-teman mereka yang lain. Alpino memperhatikan dalam jarak yang cukup agar dia tidak terkena pertikaian apapun yang disebabkan oleh Lisa dan juga Noren. Kedua orang itu menggila dari apa yang bisa Alpino deskripsikan. Dia sungguh terpukau dengan pertunjukkan yang terjadi begitu saja tanpa bsia dicegah.
Itu adalah Lisa dengan Niat membunuh yang berusaha mengguncang nyawa Noren keluar dari tubuhnya. Noren, dengan sadar diri berusaha untuk menghalangi apapun serangan yang Lisa berikan padanya. Melindungi rambutnya dari jemari perempuan itu yang bahkan rasanya terlihat seperti sudah alami dan berpengalaman. Ketika Alpino memperhatikan, itu bahkan seperti hanya Noren yang sudah hapal dan terbiasa dengan keadaan dan serangan-serangan yang Lisa berikan padanya.
Tetapi, untuk sedikit cubitan yang dia terima di dadanya dan menyenggol perasaannya, Noren terlihat sangat bahagia dari bagaimana dia hanya tertawa dengan terbahak-bahak dan melontarkan apapun yang bisa membuat Lisa semakin mengamuk.
Seharusnya-, Alpino merasakan tarikan itu lagi, Seharusnya yang berada di posisi Noren adalah dirinya. Tetapi dia yakin bahwa dia hanya akan menggoda Lisa dengan pujian yang membuat sang perempuan tersipu dan bahagia, bukan kemarahan dan emosi gila-gilaan seperti itu.
Yah, bagaimanapun Alpino ikut andil dalam membuat hal-hal seperti ini terjadi. Dia hanya tergelitik rasa kesal karena Noren berusaha untuk merebut perhatian Lisa darinya. Dia yang merasa sangat kompetitif dan kesal karena kecemburuan, mulai bertingkah seperti anak-anak untuk mengimbangi apa yang Noren lakukan. Belum lagi dengan panggilan sayang yang terang-terangan Noren panggil untuk Lisa. Itu membuatnya agak menggila dari pola pikirnya yang jernih.
Alpino, memarahi dirinya sendiri dalam diam.
“udah, ah, ini jangan pada ribut begini. Habisin makanannya, waktunya udah mau habis, nih. Tinggal sedikit lagi”
Suara Hala menginterupsi. Perempuan itu yang telah berhasil membawa Lisa untuk duduk di kursinya dan membenarkan penampilan Lisa yang sudah berantakkan itu mengambil jalan tengah untuk ketenangan yang harus mereka dapatkan dan juga agar mampu membuat Lisa lebih merasa santai dari adrenalinnya. Lisa cemberut ketika tatapannya masih jatuh pada Noren yang terlihat sama sekali tidak bersalah. Santai dan masih menatapnya dengan pandangan jenaka yang menggoda.
“Hala, tolong katain gue bego dong karena udah ngundang orang gila yang namanya Noren itu. Gue nyesel pake banget, sumpah”
Alpino mendengar bagaimana Lisa merengek pada Hala. Perempuan itu bahkan sudah memeluk Hala dan menyembunyikan wajahnya di perut yang lain. Hala tertawa, begitu juga Jihan yang menepuk punggung Lisa dengan dramatis
Jelas, Alpino paham sekarang.
Lisa tidak benar-benar kesal dan marah dalam tingkat emosi yang tinggi pada Noren. Mereka sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Pertengkaran yang mereka lakukan sudah seperti makanan sehari-hari. Itulah sebabnya kenapa Noren terlihat sudah lebih siap dan hapal dari metode serangan Lisa yang dilemparkan padanya. Semuanya sudah seperti kebiasaan.
Lantas, seberapa lama absen-nya Alpino dalam kehidupan Lisa? Apakah dia sudah pergi begitu lama sehingga dia bahkan tidak menyadari bagaimana hubungan Noren dan Lisa sudah mengalami banyak kemajuan aneh yang tidak bisa dia tempatkan dengan benar di lidahnya sendiri?
“Derita lo, sih, Lis” Tawa Hala menular pada Noren yang cekikikan di dalam rangkulan Sinar. Alpino merasa dadanya bergemuruh dengan sakit. Dia mencoba menahan diri dengan baik. Merapatkan kedua kakinya dan dudu dengan tegak di kursinya. Agak kaku.
“Ini kayaknya lebih enak makan yang manis-manis, kan, ya?” Lagi, Hala mencoba untuk mencairkan suasana yang memang sudah mendingin sejak dilerainya mereka berdua. “Gue minta keluarin dessertnya aja sekarang gimana? Biar bisa nikmatin makanan penutup sambil cerita-cerita karena fokus makannya udah habis?”
“Boleh juga, tuh, la. Minta aja sekarang, lagian makanannya tinggal sedikit juga. Bisalah ini habis bentaran doang” Fajri angkat suara.
“Oke kalau gitu. Jihan, ini gantiin gue dulu. Biarin nih anak ngerengek dulu sama, lo, ya. Gue mau request dessertnya kebawah”
Jihan, dengan tawanya yang khas segera menganggu. Alpino memperhatikan bagaimana perempuan itu dengan senang hati menggantikkan tempat Hala. Membiarkan Lisa tenggelam dalam perutnya dan dia mengelus kepala sahabatnya dengan lembut. Lisa terlihat bernapas dengan lebih tenang saat ini. Alpino tahu apa itu, kebiasaan Lisa ketika dia hanya ingin meenangkan diri. Biasanya, jika dia merengek pada Alpino, maka dia hanya akan mengusap punggung Lisa dan memberikannya pelukan dan tepukan yang menenangkan juga.
“Gue ikut, La!”
Tentu saja, itu suara Sinar yang memanggil dan mengajukan diri. Tapi sayangnya, Hala menggeleng dengan senyuman riangnya yang berupa perintah sebelum dia mengatakan pada Sinar untuk tetap disana dan membantu yang lain menghabiskan makanan yang tersisa. Dan tentu saja, untuk menjaga Noren agar tidak kambuh lagi godaan untuk melakukan argument konyolnya dengan Nalisa.
Alpino menggigit bibir bawahnya ringan sebelum tanpa kata, dia berjalan cepat untuk mengikuti Hala menuju lantai bawah. Tidak peduli Sinar yang meneriakinya, dia hanya ingin membicarakan sedikit hal-hal pada perempuan itu. Setidaknya, dia ingin mengkonfirmasi sesuatu.
...….....
“Kenapa? Lo cemburu lagi karena sahabat lo deket sama orang lain selain lo? Lo ngerasa ditinggal lagi sama Lisa karena dia dekat sama Kak Noren?”
Itu adalah apa yang Hala katakana ketika Alpino mengajaknya untuk keluar dari café sebentar setelah meninggalkan request pada bagian kasir untuk mengeluarkan dessert mereka. Angin dingin yang menerpa wajah secara tiba-tiba dengan lebih segar dan kurang berisik membuat Alpino merasa kepalanya yang penuh bisa merasakan kebebasan yang menghinggapinya dengan cepat. Itu setidaknya bisa membuat dirinya berpikir dengan lebih jernih daripada kekalutan seperti beberapa waktu lalu.
Dan tentu saja, seperti bisanya dimana Hala masih ingat tentang bagaimana hubungan awal mereka dulu yang tidak begitu baik karena Alpino kecil merasa bahwa Hala merebut Lisa darinya begitu saja.
“Nggak gitu, astaga” Dia menepuk kepalanya, tak habis fikir dengan sarkas yang masih saja diungkit sampai saat ini. “Lo kenapa, sih, masih inget aja bagian waktu itu? Udahlah, udah lama juga berlalu. Lo masih belum bisa maafin gue, ya?”
Tawa Hala terdengar bersamaan dengan deru motor besar yang melaju dalam jarak beberapa meter di depan mereka sebelum Alpino menahan napas dari apa yang dilontarkan padanya kembalid dengan begitu cepat. Hala, rupanya memiliki ingatan yang kuat sekali dalam beberapa hal yang seharusnya dia hanya bisa lupakan saja tentang itu.
“Gue udah maafin, kok. Tapi, ya, gimana, ya. Gue mau ngasih pertanyaan lain juga percuma. Soalnya lo dulu pernah keukeuh banget bilang kalau lo nggak suka sama Lisa dengan cara romantis. Jadi alasan gue tau lo ngikutin gue buat ngobrol bareng kalau nggak tentang kecemburuan lo karena sahabat lo direbut, ya apa lagi?”
Oh, Hala. Andai saja perempuan itu bertanya untuk kedua kalinya, Apakah dia masih akan berpikir sama seperti itu? Lagipula, usianya sekarang sudah bukan seorang anak berusia dua belas tahun lagi. Seharusnya perempuan itu tahu ada banyak hal yang berubah, termasuk tentang perasaan.
Tidakkah begitu?
“Enak banget lo bikin asumsi, ya” tangannya terangkat untuk mendorong kecil dan ringan kepala Hala dengan jari telunjuknya. Hala merintih kecil sebelum memberikannya pukulan keras di tangan yang sama yang telah menyentuh kepalanya.
“Emangnya gue salah?” tantangnya kemudian ketika mata bulatnya sekarng sudah tidak memberikan tatapan tajam kembali. Sorot itu sudah lebih lembut dan sayu. “Kalau gitu ngapain lo ngikutin gue sampai ke bawah dan minta gue buat ngobrol sebentar sama lo? Gue kan juga mau nikmatin es krim gue”
“Haduh, bawel banget, sih, lo, La. Sama aja lo sama Lisa. Sebelas dua belas banget bawelnya” dia mengeluh, bayangan Lisa yang suka mengomel ini dan itu padanya tiba-tiba hadir dalam bayangannya membuat sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman hangat.
“Gue udah sering bilang kalau gue sama Lisa itu sepaket, jadi bawelnya sama. Cepetan, ah, Lo mau ngobrolin apa. Disini dingin, tau!” Hala mengeluh dengan cepat,. Bibirnya maju membentuk kerucut lucu.
“Ya, itu, Lo bener” Mengalah, dia menahan dirinya untuk hanya menendang kerikil di sekitar kakinya. Bertahan untuk membuatnya tetap tenang. “Menurut lo, hubungan Lisa sama Bang Noren gimana? Kalau gue lihat, sih, kayaknya mereka udah deket banget, ya, berdua?” bibirnya ia gigit, menyembunyikan fakta bahwa dia agak gugup.
Hala bergumam lamat-lamat seperti hanya ingin menyiksanya.
“Gue kurang tau pasti, sih. Karena gue juga jarang bareng Lisa beberapa bulan belakangan ini. Gue sama Lisa juga sama-sama sibuk. Kerjaan kita juga kadang agak bertentangan. Manalagi gue juga sering kedapatan kerja lapangan sama bantu bagian media sosial di belakang dan bawa kerjaan pulang ke rumah. Jadi, udah jarang banget gue sama Lisa meskipun satu kantor dan ruangan kita cuma kepisah sekat doang”
Ah, sepertinya ketika Alpino tidak ada disekitar Lisa, Noren mengambil tempatnya yang sedang kosong.
“Gue juga ngerasa mereka semakin dekat, sih. Kak Noren kadang kalau gilanya kumat, kantor kecipratan banyak rezeki, asal lo tau” Hala tertawa ketika dia menambahkan kata. Matanya seperti melayang memikirkan sesuatu hal. “Dan pernah beberapa kali kalau ada kejadian begitu, Lisa udah kayak biasa aja. Bahkan kalau ada yang ngasih selamat tentang hubungannya dengan Kak Noren pun, dia cuma ngangguk dan bilang makasih. Sambil senyum lagi”
Ada sesuatu yang berbunyi di dalam dadanya. Retak yang menjalar berusaha untuk tidak menganga menjadi lebih besar.
Ah. Rasanya agak berdenyut.
“Oh, gitu, ya” gumamnya lembut seperti napas yang dia tarik dengan lebih halus.
“ya, gitu, sih setau gue. Soalnya Lisa belum cerita apa-apa ke gue” Hala melirik ke arah Alpino yang sekarang memilih untuk menatap langit malam yang bersih tanpa kerlipan bintang. Polusi menutupi indahnya mereka hingga tak bersisa.
“Lo juga sibuk banget akhir-akhir ini, Al. itu, udah kesampaian emangnya?”
Alpino tersentak sedikit. Kepalanya dengan cepat menoleh ke arah Hala saat senyum malu-malu dan sedikit senang yang menjalar berusaha mengubah rasa yang menguasainya.
Dia mengangguk kemudian.
“Syukurnya udah, La. Tempatnya cocok buat selera gue dan lokasinya juga nggak terlalu pelosok. Masih ada di kota. Harganya juga udah cocok banget sama gue, jadi kemarin gue langsung ambil. Ya, meskipun nyicil sedikit-sedikit, sih, La”
Ada ringisan kecil di belakang suaranya, tetapi dia masih tidak menutup rasa bangga yang menyusup ke dalam hatinya untuk menyembuhkan sedikit luka retakan yang disebabkan beberapa waktu yang lalu. Wajah Hala juga terlihat berseri-seri dengan pernyataan. Tepukan hangat Alpino rasakan di punggungnya.
“Sumpah, keren banget sobat gue satu ini! Nggak apa-apa, malahan itu udah keren banget, lho, Al. Salut gue sama lo. Pokoknya gue doain yang terbaik buat lo. Ini juga pasti jadi langkah awal pasti buat lo, kan?”
“Gue harap..ya”
Ada helaan napas kecil disertai dengan sedikit harap yang berusaha ia tumpuk perlahan demi perlahan.
“Lo udah bilang ke Lisa kalau lo udah punya calon studio pribadi milik lo sendiri?”
Pertanyaan yang seharusnya Hala tahu jawabannya apa tanpa bertanya. Namun, Alpino tetap menggeleng dengan gerakan kecil.
“Rencananya, sih, besok, sekalian mau ngajakin main bareng”
Hala memiliki pemahaman di wajahnya dengan bibir yang terbuka membentuk huruf o yang lucu.
“Aneh reaksi lo. Ngapain mangap-mangap kayak ikan? Tutup!”
Tawanya seketika berhambur ketika dia mengangkat tangannya untuk mendorong rahang Hala naik. Menyatukan kembali kedua bibir yang terbuka. Hala memberi cekikikan kecil sebelum lagi-lagi menepuk bahunya dengan tepukan ringan yang bersahabat.
“Nggak seru, lo” Dia berkicau, “Tapi yang penting lo jangan sampai lupa kasih tau ke Lisa, ya. Dia yang excited banget ngedukung impian lo soalnya. Tenang aja, gue bakalan diem dan pura-pura gatau kalau nanti dia cerita ke gue. Takutnya kalau dia tau gue yang tau pertamakali tentang studio yang lo beli, dia bakalan ngambek sama gue dan tentunya sama lo juga, Al”
“Yang bikin gue ngungkit soal studio perasaan lo, deh, pertamakali”
“Diem. Gue lagi berusaha buat nggak menimbulkan huru hara dan menyelamatkan nyawa lo dan nyawa gue secara bersamaan”
Mereka berbalik, berjalan kembali ke dalam café yang lebih hangat daripada di luar sana. Suara musik Jepang dari penyayi Yoasobi yang sedang banyak digemari menyapa mereka dalam hangatnya ruangan.
“Hala”
“Apa?”
Alpino menawarkan senyum.
“Lo pernah dengar nggak, sih, tentang, perasaan berubah dan berkembang sepanjang jalan?”
Ada tatapan aneh dari Hala. Alpino tau dia merasa sedikit berlebihan. Tapi dia hanya ingin meluapkan sesuatu hanya dari isyarat yang hanya dia yang harus mengetahuinya. Itu tentu saja dia suarakan, saat dia melihat bagaimana Noren dan Lisa kembali dalam argument mereka yang lebih kecil. Kali ini lebih sederhana dan nyaman tentang kehadiran satu sama lain. Meskipun banyal sarkas di sana-sini, Alpino bisa melihat bagaimana Lisa tidak benar-benar terganggu dengan apa yang Noren serukan dalam pembicaraan mereka berdua.
“Maksud, lo?”
Alpino tidak menjawab. Dia hanya menepuk kepala Hala dengan lembut sebanyak tiga kali sebelum meninggalkan perempuan itu di belakang dengan seringaian miring yang nyata. Berharap Hala tidak bisa membaca apa yang sedang dia utarakan dalam teka teki.
.........
...🍁...
...Plain Milo V.S Daging Panggang Bumbu Part.2- End...
.........
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
Enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo! aku dateng bawa promo keren lagi hari ini🤩 kali ini aku mau promosiin karya keren dari kak Kisss🤗 Pasti udah pada tau, kan, kak author keren ini? karyanya selalu muncul di banner beranda! pasti isi ceritanya menarik dan keren banget kan, ya? jadi, yuk, kita mampir ke karyanya kak author Kisss! bagi yang penasaran, bisa baca dulu blurb nya di bawah ini👇👀
...PROMO NOVEL KARYA KISSS...
...JUDUL: BALAS DENDAM ISTRI YANG TAK DI ANGGAP...
Kinara adalah istri yang tak di anggap kehadirannya oleh Andreas. Penampilan nya yang tak terurus membuat dirinya kerap kali di hina oleh orang-orang sekitar. Setelah melahirkan tubuh Kinara bertambah gemuk membuat Andreas semakin jijik melihatnya. Sehingga suatu malam Andreas membentak anaknya karena menangis di tengah malam membuat Kinara tak terima. Seorang ibu tak akan rela anaknya di bentak?! Ternyata tak hanya dirinya yang tak di anggap. Melainkan buah hatinya juga, Andreas tak menganggap kehadiran anak kandungnya itu. Kinara yang jenuh pun memilih bercerai dengan Andreas! Kinara bersumpah akan membalas dendam pada Andreas dan orang-orang sekitar yang selama ini memandangnya dengan sebelah mata. Lalu bagaimana kisah Kinara yang berjumpa dengan Duda Tampan satu anak.
Selamat membaca🥰