Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Sudah Terbiasa; Teman.



Mereka terlihat seperti anak-anak. Lisa tahu ini agak konyol, tetapi ketika mereka masuk ke dalam sebuah minimarket yang buka 24 jam dan melompat dengan bersemangat untuk menjalankan misi permainan kecilnya, Lisa merasa lebih dari bersemangat. Energinya memuncak seolah-olah meminta untuk dihabiskan malam itu juga dalam beberapa keseruan yang sudah berkeliaran di kepalanya. Berharap bahwa Noren juga bisa salaras dengan apapun yang sedang dia coba kerjakan di antara mereka berdua dan tidak mengacaukan apapun.


“Ayo kita lakuin Rainbow Picnic Challenge!” Serunya ketika dia berbalik dengan tumitnya, berhadapan langsung dengan Noren yang terkejut.


“Hah?” bingung lelaki itu agak lama sebelum mengerjap dengan bingung. “Tapi kita nggak lagi piknik?” lajutnya menyatakan apapun yang sedang mereka lakukan sekarang.


Lisa berdecak. Jari telunjuknya ia goyangkan tepat di depan wajah Noren, dimana dia harus mengangkat tangannya agak lebih tinggi dari bahunya. Melupakan seorang kasir yang melihat mereka dengan gemas, Lisa menarik jarinya dan menempatkannya untuk di tekuk dalam silangan tangan depan dada.


“Emang nggak bisa kita lakuin challenge ini tanpa piknik? Segalanya bisa dilakukan dengan berbagai macam kondisi, Kak” dia menjelaskan dengan gemas.


“Judulnya sudah bilang kalau itu piknik?” kilah Noren lagi. Kali ini senang untuk menggoda Lisa yang terlalu bersemangat terlepas dari setitik kebingungan yang ia coba abaikan dengan cara lebih halus. “Lagian, permainan macam apa itu?”


Lisa, dengan tatapan tak terkesan yang hadir di wajahnya, menghela napas secara dramatis. Jemarinya kembali terlepas hanya untuk ia letakkan di dahi. Memijat tulang yang berbalut kulit lembut disana, membuat gestur betapa dia tidak habis pikir dengan pertanyaan polos dari Noren.


“Dasar orang tua” Lisa berdecak. “Ini, tuh, kayak kita beli jajanan, tapi dengan warna pelangi gitu. Dari merah, kuning, hijau, dan seterusnya sampai warna ketujuh dari pelangi” jelasnya dengan gerakkan tangannya yang tidak dia sadari. Noren memperhatikan dengan sayang.


“Oh, gitu? Terus?” tanyanya dengan perhatian penuh.


“Ya, nanti Gue sama lo bakalan milih jajanan dimulai dari warna merah dulu. Yang paling atas. Tapi nggak boleh ada yang tau satu sama lain. Kita nanti mencar buat pilih jajananya. Pokoknya jangan sampai gue tau apa yang lo beli dan begitupula sebaliknya” Tuturnya dengan semangat yang kembali hadir.


“Tapi nggak langsung sampai tujuh. Jadi, disetiap pemberhentian kita bakalan nyari satu persatu warna. Satu warna satu minimarket pemberhentian!” Matanya berbinar ketika senyum kekanak-kanakakkan menyebar. “Terus nanti di perjalanan pulang, kita bakalan kumpulin jadi satu. Gimana? Udah paham?”


Noren mengangguk. Meskipun Lisa terdengar kekanak-kanakkan sekarang, tetapi dia tidak merasa bahwa itu ide yang buruk. Bersenang-senang dengan Lisa daripada harus naik dan turun bus di tiap pemberhentian mungkin menjadi ide yang kurang menyenangkan untuk mereka berdua dan hanya mendapatkan hasil akhir kelelahan dan bibir yang sakit karena pembicaraan ngalor-ngidul yang mungkin akan terjadi.


Jadi, dengan ide baru dari Nalisa, diapun anehnya merasa sangat suka.


“Oke, aku paham. Jadi, sekarang kita bakalan nyari warna merah, kan?”


“Iya!”


Seruan semangat Lisa membuatnya terkekeh. Mengangkat kedua bahu, dia bersiap untuk menjalankan misinya. Matanya berkeliaran. Baru saja dia berjalan dua langkah ke depan, Lisa sudah menarik jaketnya dengan kuat, hampir membuatnya terjungkal kebelakang.


“Kenapa?” Agak panik, dia bertanya. Wajahnya sudah menandakan kekhawatiran.


Tetapi apa yang dia lihat di depan matanya yang membelalak adalah Lisa yang menengadahkan salah satu tangannya yang tidak menggenggam bagian jaketnya. Salah satu alis di naik-turunkan dalam sebuah gesture yang Noren coba pahami apa itu.


“Apa?” Agak tidak paham, kepalanya menyarankan sebuah hal aneh tentang apakah Lisa meminta dia menggenggam perempuan itu. Tetapi, apakah itu benar? Wajahnya berseri-seri dengan aneh.


Saat Noren mengulurkan tangannya untuk meletakkan di atas tangan Lisa, perempuan itu mendengus dan menepisnya dengan cepat. Bibirnya jatuh kebawah dalam sebuah cemberut aneh sebelum perempuan itu mundur kebelakang sedikit.


“Uang” ucapnya cepat. Noren mengernyit.


“Ih, gue butuh uang. Gue lupa bawa dompet” Ada ringisan aneh yang malu dari Lisa, tetapi perempuan itu berusaha untuk menyembunyikannya. Noren tertawa lepas, dengan cekikikan gelinya yang tertahan karena Lisa sudah melotot kematian padanya, dia sesegera mungkin mengeluarkan uang sebesar tiga ratus ribu dari dompetnya.


“Banyak banget?!” Dengan mata bulat, Lisa mengeluh.


“Nggak apa-apa, buat pegangan” ucapnya santai. Lisa berdecih, ingin mengomentari kesombongan Noren yang bahkan tidak terlintas di kepala Noren sama sekali.


“Nggak, nggak” Lisa menolak. Perempuan itu mengembalikan seratus lima puluh dan menunjukkan setengah dari uang yang Noren berikan. Dia berpikir keras untuk hanya membawa seratus sebagai pegangan, tetapi dia memilih untuk berjaga-jaga dengan uang lebih. Toh, tujuh camilan tidak akan menghabiskan lebih dari seratus ribu, bahkan mungkin akan ada kembalian dari uang tersebut.


“Gue cuma butuh segini. Nanti sampai rumah gue bayar, nggak ada penolakan” Berbicara dengan cepat, dia menepuk beberapa kali tangan Noren yang sudah menggenggam uang yang dia kembalikan. “Udah, nggak usah ngomel aneh-aneh. Ayo, sekarang pergi, huss, huss”


Noren menggeleng dengan cengiran lebar ketika Lisa mendorongnya, mengusirnya seperti seekor kucing di jalanan yang sedang menyebrang agar segera melipir ke tempat yang aman.


“Oke, oke” Noren mengalah, mengangkat kedua tangannya sebelum pada akhirnya kakinya melangkah untuk mencari camilan berwarna merah. Tidak ada yang sulit dengan itu, karena setiap mata memandang, dia menemukan warna itu dimana-mana.


Dengan rak makanan yang hanya sebatas dadanya, Noren bisa memperhatikan Lisa yang berjalan dengan cepat menuju bagian keripik dan minuman. Ada senyuman lebar di wajah perempuan itu. Rasanya, mereka seperti tengah melakukan permainan kencan yang unik dan menyenangkan. Diam-diam, Noren melirik pada uang yang berada di genggamannya. Cengirannya hadir seperti orang bodoh.


Menenangkan diri, hembusan napas berat menandakan langkah kakinya yang mulai menjalankan misi dari Lisa. Mencoba yang terbaik agar matanya tidak mencari perempuan itu sekeras yang dia bisa. Dia tahu, teriakan Lisa dan ekspresi ancaman dari perempuan itu agar dia tidak mengintip adalah apa yang di dapatkan oleh Noren ketika dia ketahuan.


...……....


Mereka tertawa dan saling menggoda satu sama lain tentang camilan yang mereka dapatkan. Perjalanan menggunakan bus, naik dan turun halte, mencari berbagai macam minimarket terdekat terasa seperti tidak ada yang lain di dunia selain mereka berdua. Pada suatu waktu Lisa mengeluh tentang bagaimana Noren berada di sebelahnya dan mendapatkan warna dengan merk camilan yang sama dengan Lisa, itu membuat perempuan itu mengancam dan memukul Noren agar mencari tempat dan merk lain dengan warna yang sama untuk di dapatkan.


Noren yang pada dasarnya sangat suka menggoda, selalu mencoba yang terbaik untuk mendapatkan perhatian, dan lebih lagi omelan Lisa yang menggemaskan dengan pipi yang menggembung karena perempuan itu menyembunyikan kepalanya lagi di bawah tudung hoodie membuat Noren gila di dalam. Sehingga, tanpa bisa dicegah, Lisa akan mencubit tangannya dan menepisnya karena beberapa kali mencoba untuk mencubiti pipinya dan menarik tudung hoodienya kebelakang.


“Dek, jangan dipakai gitu, aku nggak kuat kalau liat kamu gemesin gitu”


Itu adalah apa yang Noren sampaikan ketika dia berjalan menuju kasir dan berada di depan Lisa dengan langkah yang dibuat-buat lebih lama daripada yang seharusnya untuk melangkah.


“Gue emang udah gemes dari lahir. Skip, nggak suka sama gombalan lo, Gue bisa naik darah lama-lama, ya, Kak!”


Dan itu adalah apa yang Lisa tuturkan pada Noren dengan nada yang monoton. Dia memberi jarak yang lebih aman dari tempat Noren berada, bahkan mempersilahkan orang lain untuk mengambil tempat antriannya. Dia mengomel tentang bagaimana Noren menunjukkan dengan terang-terangan merk camilan apa yang berada di tangannya. Lelaki itu sungguh tidak menjalankan permainan mereka dengan sungguh-sungguh dan Lisa sudah membayangkan bagaimana dia akan menceramahi Noren tentang hal itu.


Itu adalah pemberhentian terakhir dalam mencari warna camilan terakhir ketika hujan turun. Diawali dengan gerimis yang menyapa sebelum akhirnya bulir menjadi lebih besar dan besar lagi. Jatuh seperti buliran batu kerikil yang menyerang. Malam semakin dingin dan hujan tidak membantu segalanya menjadi hangat.


Lisa dan Noren berlari dengan tergesa ke sebuah minimarket yang untungnya lebih dekat daripada yang sebelum dan sebelumnya. Napas mereka terengah-engah ketika mereka berhasil berpandangan dengan konyol sebelum tertawa keras. Lisa mendengus menatapi buliran air yang jatuh dari platform saluran air di atas bangunan tepat di depan wajahnya. Jaketnya ia eratkan sebelum mengajak Noren untuk segera masuk ke dalam.


Untungnya juga, baju mereka tidak basah secara keseluruhan dan masih membuat mereka nyaman dengan balutan pakaian yang mereka pakai.


“Ayo, satu lagi” Lisa berbicara lembut, napasnya terhela dengan halus. Seharusnya itu adalah bagian dimana Lisa terlalu lelah dengan kegiatan mereka, tetapi bahkan ketika Noren mencari di wajah perempuan itu apakah guratan kelelahan itu terpeta jelas, itu bahkan tidak terlihat sama sekali. Wajahnya masih ceria, masih bersemangat dan penuh energi.


“Kamu nggak dingin? Mau pulang aja?” tawarnya dengan khawatir. Meskipun Noren tidak bisa melihat gurat kelelahan itu, tetapi tidak bisa dipungkiri bagaimana kecemasannya mulai meroket di dalam dadanya Dia sedang dalam mode untuk melindungi Lisa.


“Nggak, kok! Gue, tuh, lebih kuat dan tahan banting” jelasnya dengan suara remeh. Noren mengangkat kedua alisnya, sibuk dengan kesukaan di wajahnya karena respon yang sudah dipastikannya akan begitu. “Buktinya gue ngehadapin lo aja masih mampu sampai saat ini. Hujan mah nggak ada apa-apanya buat gue” tuturya dengan gerakan tarian lucu. Bibirnya mengerucut lucu dan Noren tidak bisa untuk tidak merasa geli dalam artian suka.


“Oke kalau gitu. Sekarang warna apa yang terakhir”


“Mejikuhibini.. Ungu!” serunya senang. Perempuan itu mendorong pintu minimarket dengan kekuatan yang tidak perlu, melepas dengan cepat hingga Noren sedikit kelabakan ketika dia menahan pintu agar tidak menghantam wajahnya secara tiba-tiba. Menggeleng, Noren mengekor dari belakang segera.


Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan camilan dengan warna yang cocok. Dalam sekejap, tas belanja mereka penuh dengan tujuh camilan yang sudah mereka rencanakan dari awal. Mereka menolak memakai plastik karena Lisa menggerutu itu akan terlihat karena transparan dan tidak akan menjadi kejutan keseruan nanti.


“Masih hujan” Noren bersuara ketika mereka berada di luar minimarket.


“Nggak mungkin kalau kita pulang pakai bus. Soalnya kita harus turun di dua pemberhentian dari jalur ini buat sampai ke rumah kamu. Kalau nunggu reda juga nggak mungkin karena nanti kemaleman. Sinar bakalan khawatir dan aku juga khawatir karena besok kamu bakalan masuk kerja. Aku nggak mau kamu sakit” tutur Noren ketika dia menoleh pada perempuan itu.


Lisa memutar matanya dengan malas sebelum tangannya melayang untuk melambaikan di depan wajah Noren. Seolah-olah dia meremehkan apapun yang Noren katakan padanya dengan serius.


“Tunggu disini sebentar” Ucap Lisa cepat tanpa menunggu respon dari Noren. Perempuan itu segera masuk kembali ke dalam minimarket. Noren yang penasaran, berusaha mengikuti, tetapi ketika Lisa melotot padanya dan mengarahkan tangannya untuk tetap membuat Noren diam di tempat membuat lelaki itu mau tidak mau patuh dengan arahan.


Tentu saja tidak lama ketika Lisa keluar dan memperlihatkan jas hujan plastik sekali pakai yang dibelinya. Kedua alis Noren terangkat dalam banyak pertanyaan.


“Gue lagi pengen main hujan. Kalau mau ikut gue, dipake, kalau nggak biar gue sendirian aja”


Itu disuarakan dengan nada tanpa perdebatan. Lisa sudah memilih dan dia dengan senyuman dan gumaman lebar yang dia perlihatkan sesegera mungkin memakai jas hujan berwarna kuning bebek. Sedang yang diberikan kepada Noren yang sekarang berada di telapak tangannya adalah warna pink lucu. Noren tahu, Lisa sengaja melakukannya.


“Lisa, nanti kamu sakit. Nggak usah” Dia memperingatkan. Tangannya menarik lengan Lisa yang sudah bersiap-siap. Tetapi refleks perempuan itu lebih bagus dari apa yang ia perkirakan.


“Kalau lo cuma mau ngomelin gue, kejar dan hentiin gue, Kak! gue tantang lo!”


Serunya ketika perempuan itu melompat ke bawah guyuran hujan yang masih turun dengan keroyokan. Angin tidak berhembus terlalu kencang, jika bisa dibilang, hujannya masih terpantau aman untuk bergerak di bawah guyuran air alami tersebut.


Memakai jas hujan berwarna pink lucu yang membuatnya berdecak, tidak terlalu peduli selain mencoba menarik Lisa ke tempat yang lebih aman membuatnya mau tak mau mengenakan plastik itu segera.


“Tangkap gue dulu, Kak. Wlee!!”


Perempuan itu mengejek, lidah keluar dengan lucu dan kedua tangan ia layangkan di kanan dan kiri. Persis seperti anak kecil. Noren menahan diri untuk tidak terlalu cinta, tapi yang bisa dia lakukan sekarang adalah senyuaman yang merobek wajah hadir, dan tubuhnya yang memiliki energi penuh untuk segera berlari memenuhi tantangan yang diberikan oleh pujaan hatinya itu.


Jadilah dia, dibalut dengan jas plastik merah muda, mengejar perempuan dengan jas plastik kuning bebek yang kini menantangnya lebih keras dari sebelumnya. Perempuan itu bahkan sudah berlari ke dekat lampu taman yang berbinar dengan terang, membuat perempuan itu terlihat seperti kemuliaan yang indah dari pancaran cahaya dan tetesan air hujan yang jatuh. Jika bisa digambarkan, Noren ingin menangis dalam kebahagiaan yang nyata dan keindahan yang tertangkap di kedua matanya.


Dan dengan itu, dia sudah sangat yakin dengan keputusan yang akan dia ambil hari ini.


...…....


“Lo tau nggak, sih, Kak? Kalau boneka pemberian lo gue namain Ola dan udah jadi samsak tinju gue selama gue kesel dan emosi akan suatu hal. Terlebih sama lo”


“Loh kenapa gitu?”


Mereka, masih dalam guyuran hujan, duduk di salah satu kursi yang mereka temukan secara random ketika kelelahan dalam acara kejar-kejaran mereka yang seperti orang dewasa tidak sadar umur. Dibawah guyuran hujan yang masih utuh, mereka menemukan kenyamanan untuk berbicara satu sama lain.


“Yaiyalah, itu kegunaan Ola selama ini. Soalnya yang sering bikin gue emosi tuh, lo, Kak” dia mencibir. Kakinya yang tak menapak di atas balok semen yang sudah dirambati lumut bergerak ke depan dan kebelakang untuk menendang udara.


“Jangan gitu, dong. Itu kan anak kita. Kenapa kamu nggak memperlakukan dia kayak orang tua yang baik? Parah banget, udah KDRT” Noren menggeleng. Dia menyandarkan diri di bahu kursi, ikut dalam pembicaraan yang tiba-tiba dilontarkan.


“Dih, apaan anak kita. Tolong jangan halu banget, ya. Hilang-hilangan imajinasi yang ketinggian, kak” Omelnya. Hidungnya mengerucut lucu dalam kegelian pernyataan Noren.


“Dan lo tau nggak kepanjangan dari Ola apa?”


“Eh? Ada kepanjangannya?” Wajah bingung Noren membuat Lisa tertawa. perempuan itu mengangguk riang, bahkan terlihat hampir terlalu kuat.


“Ada dong” suaranya penuh dengan kegelian, “Ola alias Orang gila, alias Kak Noren Gila. Itu kepanjangannya” Serunya dengan cepat, bangga seolah-olah dia berhasil memenangkan sebuah penghargaan kejuaraan.


“Jelek banget namanya. Jahat banget kamu, dek” tidak ada indikasi bahwa Noren menyesal, dia hanya senang dengan keterbukaan yang Lisa sampaikan padanya. Lagipula, “Tapi nggak apa-apa, deh. Soalnya ada nama aku di dalamnya meskipun bersebelahan sama kata jelek. Yang penting aku diinget terus sama kamu, dek”


“Dih? Pede banget? Orang jadi samsak tinju, juga?”


“Tapi kamu tetep jahat sama anak kita. Awas aja, nanti aku culik lagi bayi kita biar aku treat lebih baik daripada Mamanya” godanya cepat. Lisa melotot, mencubit sisinya dengan sebal.


“Jelek banget godaan, lo, Kak. mending lo diem”


“Yaudah ini diem”


Noren menurut. Suka dengan bagaimana Lisa menggerutu di bawah napasnya dan terlihat bagaimana perempuan itu berusaha untuk menenangkan diri dan tidak melemparnya dengan pukulan brutal atau cubitan lain lagi.


Mereka tetap diam dalam guyuran hujan dan angin yang kembali menerpa. Noren menghela napas lembut, matanya tertutup untuk menikmati moment yang akan menjadi kenangan yang selalu disimpannya, bersebelahan dengan kenangan lain tentang Lisa yang akan terisi lebih banyak di kemudian hari.


Kenyamanan yang mereka bagi membuat Noren berusaha menetralkan jantungnya. Kepalanya sudah berisik disana-sini untuk menyruhnya segera melakukan hal itu. Jadi, dengan kepalan tangan yang ia kencangkan di sisi tubuhnya, dia berdiri. Memposisikan dirinya dalam satu pandang lurus Nalisa.


“Ngapain, lo?” nada penasaran mengalun di telinganya.


Noren tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Inilah waktunya, inilah yang harus dia lakukan dan dia pastikan akan berjalan dengan lancar. Dia sudah mempersiapkan hal ini, dia yakin dengan apapun hal yang siap untuk di katakannya.


“Lisa, dengerin baik-baik, oke?”


Menetralkan napasnya lagi, dia tersenyum dengan mantap. Tatapan Lisa yang berpendar penasaran dan penuh perhatian padanya membuatnya tersenyum lembut.


“Lisa, aku serius. Aku seneng banget hari ini. Aku sayang banget sama kamu. Aku udah jatuh terlalu dalam sama kamu”


Satu napas dia tarik lagi sebelum kata itu pada akhirnya keluar dari bibirnya .


“Nalisa, Ayo Nikah”.


Lisa mengerjap, bibirnya yang terbuka dalam keterkejutan mengatup dengan perlahan. Debaran jantung Noren menggila di dadanya.


Itu adalah respon yang sangat lama sebelum akhirnya Lisa tersenyum dengan lucu. Tawanya yang terbahak menggema dengan indah. Perempuan itu terlihat lebih geli daripada tersentuh dengan apa yang Noren kemukakan.


Jadi, Dia melompat berdiri untuk mensejajarkan diri dengan Noren. Berdiri satu langkah lebar di depan lelaki itu.


“Maaf, nggak dulu”


Tawanya menyebar lagi seperti pelangi sehabis hujan, seperti setiap warna pada jajanan yang mereka beli dan akan tukarkan dalam permainan ketidaktahuan satu sama lain. Tidak sadar dengan bagaimana runtuhnya hati yang baru saja dilambungkan dalam detakan penuh yang sangat sayang.


“Gue udah nganggap lo temen, Kak. Gue sadar malam ini, beneran sadar. Lo seru kalau jadi temen. Kita cuma memulai dengan langkah kaki yang salah”. Ada senyuman tulus yang menyebar.


Lisa berdiri di depan Noren. Tangannya terulur tepat mengisi jarak yang ada di antara dia dan lelaki di depannya.


“Ayo ulang dari awal” Lanjutnya dengan senyuman manis yang menyebar, sangat cocok dengan wajahnya yang tak terlihat lelah di tengah malam yang gerimis.


“Gue Nalisa Rembulan Cakrawijaya, usia 24 tahun bentar lagi. Kata orang, gue keras kepala, tapi kata temen-temen gue yang lain, gue cuma punya cara gue sendiri dalam bertindak”


Lisa menjelaskan dengan agak kikuk, tetapi dia mengabaikan rasa malu yang menyebar di wajahnya yang lucu.


“Ayo berteman, Kak. Kita berdua. Teman”


Di bawah rintik hujan yang menerpa dengan buliran yang perlahan semakin menyerbu menjadi lebih besar dan berbondong-bondong dari sebelumnya, menyentuh kepala jas plastik yang mereka pakai-,


Ada hal yang tidak Lisa tahu sedang terbangun di dalam diri Noren.


Noren bersumpah, segalanya tidak akan sama lagi dari hari ini.


Persetan dengan teman, Nalisa akan menjadi miliknya lebih dari itu.


Dia bersumpah.


...Sudah Terbiasa; Teman...


.........


...🍁🍁...


...PROMO NOVEL KARYA ALYA AZIZ...


...JUDUL: BERAT HASRAT SANG CALON DUDA...


Menajalani pernikahan toxic selama bertahun - tahun, membuat hubungan Alvino dan sang istri tidak disertai dengan rasa cinta. Hingga pada suatu hari, Alvino harus melihat dengan mata kepalanya sendiri sang istri bercumbu dengan laki - laki lain.


Saat hati yang sudah rapuh kembali di uji Alvino harus tetap bertahan demi kebahagiaan sang putri. Meski disisi lain ia masih membutuhkan belaian seorang wanita, dan saat itulah wanita cantik bernama Aliya hadir dalam hidupnya. Mereka mejalin hubungan terlarang tanpa ikatan pernikahan.