Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Daun Gugur; Spesial Untuk Dua Orang : Lainnya



Nalisa sudah pernah mengatakan sebelumnya bahwa dia tidak memiiki banyak keinginan dan harapan yang besar dalam langkah kehidupannya selain dalam kisah cinta yang bak dongeng dan pangeran berkuda putih. Dalam kehidupannya yang dia syukuri sampai sekarang, dia menikmati setiap aspeknya selama dia menghirup dan menghembus oksigen yang diberikan padanya secara cuma-cuma. Lisa bahkan tidak pernah membayangkan sesuatu seperti meletakkan hasil karyanya di hadapan banyak mata memandang.


Dia bahkan merasa seperti sedang bermimpi ketika dia sungguh melihat Dandelion Lamp berdiri tepat di area pajangan barang inovasi baru dan promo yang disusun sedemikian rupa seperti mereka memiliki tempat pajangan pribadi yang mennarik mata. Itu ada di rak tengah dan memiliki ukuran tinggi tersendiri daripada produk lampu lainnya. Dibuat seolah-olah pasang mata setiap orang yang lewat tertarik hanya padanya.


Ada cahaya berwarna kuning cantik dan beberapa warna lembut lainnya menyorot daerah yang ingin dipamerkan Disekelilingnya, diletakkan dekor cantik elegan yang menonjolkan Dandelion Lamp-nya sepeti seorang superstar jika lampu itu adalah manusia sama seperti dirinya.


Ketika pertamakali kakinya menginjak masuk ke dalam gedung Madevision yang lumayan ramai karena saat itu adalah hari libur dan tentunya banyak promo yang sedang berlangsung pada beberapa produk yang ditawarkan disana, dia tidak bisa benar-benar bernapas dengan baik. Selain dari dirinya yang berhasil membumi karena Alpino memegang tangannya dengan erat sesuai dengan janji pria itu, dia tidak bisa menurunkan kadar pusing kepalanya saat dia sungguh berhadapan langsung dengan ide yang dia curahkan di atas kertas sebagai hasil imaji dan frustasinya yang saling bercampur menjadi satu.


Lisa dan Alpino datang tepat ketika Dandelion Lamp dan beberapa barang yang memiliki minat tinggi oleh konsumen diangkut dari sebuah truk besar dan diletakkan tepat di dalam tempat pajangan yang berlangsung. Lisa juga berhasil bercengkrama dengan Jelita dan Leo tentang betapa berterimakasihnya dia karena hasil orisinil otaknya sedang memasuki tahap promosi sebagai barang layak jual sebelum keduanya undur diri untuk melakukan hal-hal lain dengan pimpinan yang memegang kuasa dalam rumah penjualan Madevision dimana akhirnya mereka ditinggalkan berdua saja dalam ramianya pengunjung yang penasaran dan memiliki minat tinggi dalam perabotan rumah tangga.


Mereka berdiri di sisi yang tidak terlalu mencolok dan tidak terlalu mengganggu para pengunjung yang akan melihat-lihat, tetapi cukup dekat untuk mengagumi bagaimana Dandelion Lamp itu berdiri cantik seerti bola salju yang ditaburi bebungaan kuning cerah dan sulur-sulur daun dan kelopak disekelilingnya. Lisa bisa merasakan bagaimana dia tidak berkedip dalam bentuk kekaguman yang tak terhapusnya. Begitu juga dengan Alpino, lelaki itu belum berbicara ketika dia melihat benda itu terpajang dengan sedemikian rupa memanjakan mata.


Itu adalah waktu yang lumayan lama untuk mendapatkan reaksi apapaun dari seseorang yang dia ajak pertamakali untuk melihat karyanya yang saat ini berada tepat di depan mata mereka, Lisa merasakan kegugupannya muncul kembali akibat rasa takut bahwa dia benar tentang bagaimana hanya dia seorang diri yang merasa kewalahan dalam semangatnya tentang lampu itu. Dia menyikut Alpino dengan ringan, berusaha untuk mendapatkan sepatah kata apapun yang bisa menenangkan detak jantungnya yang berdebar terlalu cepat seperti dia baru saja berlari marathon dengan jarak yang sangat jauh.


Alpino hanya bergumam, mata masih melekat pada tampilan lampu dandelion yang detailnya dibuat seolah-olah hidup, berdiri kokoh dan halus dalam belaian lembut semilir angin yang menerpa. Meskipun mereka berada di dalam ruangan yang tertutup dan memiliki pendingin udara yang tengah bekerja demi membuat suhu ruangan menjadi rendah, lampu dandelion itu terlihat seperti berada di sebuah padang rumput yang hampir mati dan hanya dia yang segar dengan tinggi yang menjulang, terselimut dalam kelopak kuning dan hijau yang berusaha melindungi serat-serat benih dari terpaan angin nakal yang ingin meniup mereka agar tersebar dan menjelajahi seluruh dunia bersama angin yang membawanya.


“Al” Lisa mencoba lagi, menyenggol lengan sahabatnya dengan agak keras. Dia sudah tidak sabar ingin mendengar sesuatu dan bukan bisik-bisik orang yang beralu lalang dan berhenti di depan mereka untuk mengamati produk yang sedang dipajang. “Lo jangan diem aja, dong. Ini gue rasanya udah panas dingin kayak lagi interview kerja nungguin respon dari lo, sumpah”


Lisa menggerutu dengan cepat ketika dia berhasil menempelkan diri pada Alpino dan berjinjit untuk berbicara tepat di telinga lelaki itu. Alpino tersenyum, tawa kecil tiba-tiba hadir dengan cepat di wajahnya bersamaan dengan tangannya yang mengerat disekitar jemari Lisa yang ia genggam.


Menoleh, Alpino mengangkat jari telunjuknya untuk menjauhkan kepala Lisa yang terlalu dekat dengan wajahnya. Lelaki itu mendorong melalui dahi Lisa dengan lembut sebelum menghela napas dengan cara yang berlebihan.


“Lo, tuh, sumpah, ya”


Terlalu banyak koma dalam ucapan kata dan terlalu ambigu untuk sebuah respon yang ditunggu sejak tadi. Lisa menyernyit, ibu jarinya yang terselip di genggaman Alpino keluar untuk menekan kukunya di permukaan kulit Alpino yang bisa dijangkau, membuat lelaki itu mendesis tawa dan mengaduh ketika Lisa berusaha mencelakainya lebih dalam.


“Sabar dulu kenapa, sih. Ini gue kan baru ngomong, Lisa” Dia mengangkat tangannya yang lain dan menepuk jemari lisa yang berada dalam genggamannya dengan gemas sebelum akhirnya kepalanya kembali berpaling pada benda yang sedang mereka kagumi dengan cara yang memuja.


“Gue lagi mencoba membuat kata-kata” Gumamnya kemudian. Lisa berdecih sebelum kembali menyegngol lengan Alpino dengan keras.


“Jangan ngedrama deh. Cepetan, menurut lo gimana? Keren, kan? karya gue, nih, separuh hidup gue! Spesial pake telor dua!”


“Hadah, padahal yang ngedrama diri lo sendiri, Nalisa” Alpino terkekeh ketika dia berhasil mengubah Lisa menjadi sangat menggemaskan ketika dia hanya gugup yang tersirat ingin mendapatkan sebuah pujian besar seperti apa yang sedang dia perkirakan dan harap-harap cemas di dalam.


“Alpino Husein Aditama, Anaknya Tante Adel Kemala, lo jangan bikin gue pengen nyekik lo hidup-hidup, dong. Ayo cepat, menurut lo ini ratingnya berapa? Gue butuh penjelasan secara jujur dan gamblang. Gapapa, jujur aja sesuai dengan hati lo”


“Lengkap banget tuh nama gue sama si Mama. Nggak sekalian lo tambahin Bin bapak gue?”


Mata Alpino berkilat senang, dari apa yang Lisa temukan, sahabatnya itu sekarang sedang mencoba bermain-main dengannya. Lisa menangkap sesuatu yang dia mungkin hapal di luar kepala dari bagaimana Alpino bersikap padanya. Lelaki itu mencoba membuatnya kembali rileks dengan berbagai macam cara. Tapi kali ini, Lisa tidak ingin lelaki itu terlalu mengulur-ulur waktu. Dia butuh penjelasan sekarang dan dia tidak ingin berada di garis tipis dimana dia tidak tahu apakah dia akan jatuh atau bisa berlari sampai ke ujung.


Karena, meskipun dia coba mengabaikan pendapat orang banyak tentang apa yang dia lakukan atau dia perbuat, Dia tetap membutuhkan sebuah tanggapan secara langsung dari sahabat terbaiknya. Dia butuh sesuatu untuk menyatakan bahwa dia berhasil akan apa yang dia sedang hasilkan saat ini.


“Alpino Husein Aditama Bin Wangsa Hartanto anaknya Tante Adel Kemala, Sekarang ce—IH, awas tangan lo dingin!”


“Oi,oi,oi,oi! Nggak disebut beneran gitu juga kali, Nalisa! Bener bener emang lo, ya” Alpino, yang berusaha untuk menutup bibir Lisa yang menyuarakan namanya dan kedua orang tuanya dengan cukup keras membuatnya panik sekaligus merasa gemas sendiri Dia agak lupa jika Lisa yang sedang berusaha serius benar-benar akan melakukan apa yang diperintahkan padanya tanpa berpikir dua kali.


“Ya habisnya!”


“Keren.”


Lisa menoleh dengan cepat, menghilangkan cemberut di wajahnya dan mendapati kedua matanya sudah menangkap senyuman hangat nan tulus yang diberikan oleh Alpino yang terlalu dekat dengan dirinya. Lisa menahan diri sejenak untuk mendapatkan maksud dari sahabatnya itu.


“Hah?” adalah apa yang bisa dia ucapkan secara refleks dan itu mampu membuat Alpino tertawa dengan cengiran yang geli di wajahnya. Lisa berpaling. Merasa malu sendiri dengan apa yang dia lakukan.


“Iya, Nalisa. Keren banget. Gue sampai takjub bisa dikasih lihat yang sekeren ini sama lo. Gue bahkan yang nggak begitu peduli sama barang-barang dan yang ngerasa beli sesuatu sembarang aja yang penting bisa dipake, ngerasa kagum dan tertarik banget sama karya lo yang ini, tau”


“Bohong” pipinya ia gembungkan, merasa malu dengan pujian yang berusaha ia elak di luar namun dia terima dengan busungan dada di dalam dirinya sendiri.


“Dih, nggak percayaan banget. Kapan, sih gue bisa bohong sama lo? Lo tau nggak? Gue rasanya pengen beli dan punya satu lampu itu di kosan. Soalnya kalau gue punya kayaknya tidur gue bakalan lebih nyenyak dari sebelumnya, deh”


Alpino, dengan suaranya yang terdengar sangat bersungguh-sungguh membuat Lisa tersipu. Dia merasa sangat senang karena karyanya kembali mendapat pujian yang tulus dari orang-orang terdekatnya. Kali ini adalah sahabat kecilnya yang sangat dia sayangi. Rasanya, hati Lisa begitu penuh dengan buncahan bunga-bungaan yang mekar dan matahari yang bersinar bersamaan dengan para kupu-kupu yang menyanyi diiringi dengan pelangi yang membias perlahan demi peralahan.


Rasa gugupnya hilang, kali ini terganti dengan perasaan pure kebahagiaan dan rasa lega yang luar biasa. Dia senang dengan apa yang Alpino kemukakan dan dia bersyukur bahwa dia tidak akan pulang dengan rasa kecewa dan antisipasi yang terpatahkan. Karena semuanya sudah terbukti dengan bagaimana cara Alpino terlihat sungguh mengagumi karya miliknya.


“Lo orang ketiga yang udah bilang gitu ke gue, hmph!”


“Loh? Katanya gue orang pertama yang ngeliat ini bareng lo? Kok udah urutan ke tiga aja, gue? Lo bohong ya sama gue?”


Lisa mengerjap kecil ketika Alpino menodongnya dengan nada tanya yang begitu serius. Dia tertawa kecil sebelum melayangkan telapak tangannya untuk mengusap langsung wajah Alpino yang sudah tertekuk dengan tidak begitu lembut dan singkat.


“Lo orang pertama yang gue undang dan gue ajak buat lihat karya gue di promosiin dan di pamerin disini. Dua orang lainnya itu orang yang ikut dalam proses pengenalan produk pertamakali di kantor. Kan nggak mungkin ini langsung ada disini aja tanpa melalui proses dan dilihat banyak pasang mata, kan?”


Lisa menjelaskan dengan senyuman yang geli di wajahnya. Orang-orang disekitar berlalu-lalang semakin ramai. Tertarik dengan tampilan yang diperlihatkan dan berbisik-bisik suka dengan lampu dandelionnya. Lisa merasa ditengah-tengah ingiin teriak.


“Miss Jelita sama Hala yang bilang ke gue kalau mereka juga mau beli Dandelion Lamp gue dan pengen punya lampu itu di rumah mereka. Lagian, mereka kan juga bertanggung jawab dengan peluncuran produk gue, Al. Makanya gue bilang lo orang ketiga yang ngomong kalau lo mau punya itu satu buat lo”


Ruang di depannya dan disekitarnya sudah mulai penuh. Lisa mendengar beberapa orang memuji dan bertanya-tanya lampu tidur miliknya dengan suara yang sangat jelas sekali. Dia ingin berteriak lebih keras untuk melepaskan rasa bangga di dalam dirinya. Namun, dia menelanya dengan mencengkeram lebih erat jemari Alpino seraya menggoyangkannya ke depan dan belakang. Lisa bahkan merasakan dirinya sudah seperti anak-anak remaja belasan tahub yang terlalu bersemangat.


“Tapi lo beneran orang pertama yang paling ekslusif gue ajak ke pameran promo peluncuran karya gue. Bahkan lo tau sendiri gue nggak ngajak Hala dan Kak Sinar ke sini duluan, kan?”


“Hadah..” Alpino mendesah, memalingkan wajahnya yang memanas. Berharap Lisa tidak melihat bagaimana merah wajahnya dan hatinya yang menghangat dan debaran yang semakin menggila. Anak itu sungguh mampu menjadi terasngka pembunuhannya.


“Bisaan aja lo bikin orang terbang, ya. Licin banget itu mulut”


“Orang gue bilang kenyataannya, kok!”


Lisa mengelak ucapan Alpino dengan cepat. Dia merapatkan diri ketika lebih banyak orang lain berkumpul disana, membuat mereka harus berpindah tempat dengan cepat. Lisa, tanpa menunggu apapun balasan dari ALpino, menarik tangan lelaki itu untuk bergeser lebih jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya. Matanya masih berbinar, senang sekali dengan keadaan dan orang-orang yang mulai bertanya-tanya tentang karyanya.


“Al!” Dia memekik dalam bisikan. Alpino yang lengah hampir tersungkur ketika suara Lisa terdengat terlalu dekat dengan telinganya. Dia bergidik, berusaha untuk membuat mereka berdua tetap berdiri dengan baik dan tidak terlihat aneh oleh orang-orang di sekitar.


“Sebentar, Lisa. Cari tempat dulu biar kita enak ngobrolnya. Jangan ngagetin, ya”


Dia berusaha untuk tetap tenang. Sebenarnya, dia sedang berusaha untuk menanngkan dirinya sendiri secara diam-diam. Dia bukanlah orang yang terlalu kuat jika diberi banyak serangan oleh Lisa, dia hanya memilii hati yang rapuh dan penuh cinta, jadi mendapatkan serangan bertubi-tubi tentang bagaiman Lisa terlihat hari ini dan sangat lengket padanya membuatnya sulit untuk membangun benteng yang lebih besar agar dia tidak melakukan hal yang tidak diinginkan dan menghancurkan segalanya. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Lisa hari ini. Dia harus menahan diri.


“Eh, ini mau cari tempat duduk?” Lisa bertanya dengan sedikit gumaman kecil. Dia melirik pada lampu dandelionnya kembali, masih terlalu suka untuk menikmati tampilan gagah nan cantik kepemilikannya itu. “Tapi di dekat sini nggak ada tempat duduk. Adanya di bagian sebelah sana..”


Tangannya menunjuk ke arah kiri di lorong lain yang diisi dengan perabotan rak dan lemari dari mulai kayu dan plastik serta berbagaimacam peralatan lain yang tersedia seperti kursi kecil dan beberapa kaca serta gantungan baju. Lorong itu mengarah ke bagaian ranjang dan miniatur ruang kamar dengan ranjang-ranjang empuk berbagai ukuran dan bentuk serta kreasi.


Nalisa sebenarnya agak ragu. Dia masih ingin terus melihat minat dan antusias pengunjung tentang lampu dandelionnya, tapi di satu sisi, dia masih ingin berbicara dengan Alpino mengenai perasaannya tentang hasil karyanya itu. Menimbang, dia menatap ke arah lantai untuk berpikir apa yang lebih baik mereka lakukan saat ini.


“Lo masih pengen disini, ya?” Alpino mengangkat suara bertanya, membuat Lisa tersentak karena Lelaki itu mudah sekali untuk membacanya. Jadi, dia mengangguk dengan sedih. Alpino, sebagai sahabat yang baik dia, lelaki itu mempunyai cara lain untuk membujuknya dengan lebih baik.


“Nalisa, lo lihat, kan disini ramai pengunjung?” dia bertanya dengan lembut. Lisa mengangguk dengan cepat seolah dia sedang diperintah seperti robot. “Kalau ramai pengunjung,. Berarti orang-orang lagi penasaran dengan karya lo. Mereka penasaran, terus ngelihat, terus jadinya tertarik. Kalau mereka tertarik, mereka pengen punya, pengen beli sama kayak yang gue, Hala sama Miss Jelita lo itu mau. Kalau tingkat permintaannya tinggi, berarti karya lo bisa di produksi dengan lebih cepat, kan?”


Lisa tidak bisa menyanngkal bahwa penuturan Alpino adalah apa yang membuatnya meneteskan air liur imaji karena dia sungguh sangat menginginkan itu dan tergiur dengan keseluruhan jalan cerita yang diberikan. Dia ingin itu terjadi. Ingin orang-orang memiliki karyanya yang sangat spesial itu. Yang juga menghangatkan hatinya dengan mudah dan memekarkan sesuatu yang indah yang membuatnya sangat bangga dan bahagia.


“Nah, kalau lo mau itu, biarin aja dulu orang lain lihat. Kita mah, bisa ngaguminnya nanti-nanti kalau udah sepi. Kita biarin Dandelion Lamp lo itu jadi famous dulu biar dia nanti bisa di duplikasi” Ada tawa terselip dari bibir Alpino. Senyumannya tertarik lagi dengan begitu bersemangat. Lisa memperhatikan dengan seksama perubahan yang terjadi setiap kali Alpino berusaha untuk menuturkan sesuatu padanya.


“Sekarang, kita jalan-jalan aja disini, muter-muter sekalian lo bisa nunjukin gue barang-barang yang sukses lo jual dan yang bisa lo rekomendasiin ke gue. Siapa tau nanti kalau gue udah bisa beli rumah pribadi dan, yah, studio pribadi, gue bisa pakai barang-barang bagus hasil rekomendasi lo. Mau nggak?”


Lisa tidak sadar ketika mereka bahkan sudah berjalan beriringan dengan perlahan masuk ke dalam lorong yang dia tunjuk beberapa waktu lalu. Alpino membimbingnya dengan lembut ketika setiap kata dia keluarkan untuk meyakinkan Lisa bahwa mereka harus melepaskan diri dari mengawasi dandelion yang sekarang sedang berusaha untuk menggoda konsumen yang datang.


“Ya mau, lah!” Semangatnya hadir lagi dengan jawaban yang agak keras. Matanya menyalakan api kesenangan penuh tentang bagaimana kompetitifnya dia untuk menunjukkan hasil campur tangannya dalam berbagai produk yang berhasil dia lakukan penjualan di sana.


“Dan sekalian, lo harus ngasih tau gue kenapa lo bisa sampai punya karya sekeren itu. Gue tau lo bucin sama dandelion tapi gue nggak bakalan nyangka yang beneran ada dalam bentuk tiga dimensi itu bisa dihasilkan sekeren dan sebagus itu dari tangan lo. Lo nyolong karya orang di aplikasi panterast, ya? Hayo, ngaku,lo!”


“DIH!!! Al, mulut lo bau bener. Itu karya orisinil, ya, bukan plagiat! Lo beneran minta gue matiin apa gimana, sih, AL?!”


Menjadi sahabat dalam kurun waktu yang lama, Alpino bisa tahu bagaimana cara menarik ulur perasaan Lisa untuk membuatnya kembali menjadi lebih bersemanhat dan berseri-seri. Terkadang, dia harus mengambil beberapa langkah yang agak ekstrim untuk membuat Lisa mengemukakan semua hal dalam satu napas ucapan panjang yang dengan terus terang sangat Alpino sukai bagaimana dedikasinya untuk menyatukan semua cerita panjang dalam satu waktu yang sama.


Alpino juga sangat senang dengan bagaimana dia mampu membuat seorang Nalisa berapi-api dan bersemangat yang menggebu-gebu untuk menunjukkan seberapa besar energinya yang masih ditahan untuk ia keluarkan dalam rasa senang dan kebahagiaan yang sebelumya masih begitu bingung ingin ia lampiaskan pada apa. Jadi, ketika Nalisa mengutuk dan menyahutnya dengan kata-kata melengking di telinganya, Alpino merasa terlalu bangga dengan dirinya sendiri.


“Lo tau nggak, sih? itu gue bikinnya waktu gue stress dan frustasi. Gue kerja lembur selama tiga hari sampe nggak ada tenaga lagi dan kebingungan sampai gue ngehalu mikirin ladang dandelion waktu lihat wallpaper hp gue. Terus gue nggak sadar sudah coret-coret di kertas kosong yang seharusnya gue pake buat ngeprint sample barang. Ah, Al, itu karya orisinil gue!!”


Dengan semangat yang menggebu-gebu untuk memastikan bahwa dia menceritakan semuanya tentang proses pembuatan dandelion lamp itu, dan dengan Alpino yang mendengarkan dalam pandangan memuja hanya pada sosok sahabatnya yang berdedikasi tinggi dalam melakukan story telling, mereka berjalan tanpa arah melewati lorong demi lorong di dalam bangunan gedung luas itu hanya dalam gelembung keseruan mereka sendiri.


Alpino diam-diam merasa bahwa dia mengambil lebi banyak lagi dunia milik Nalisa dalam genggamannya. Meskipun dia tahu bahwa itu hanyalah hal yang tidak bisa membuatnya untuk melangkah lebih dekat.


Ada garis tak terlihat, tetapi terasa sangat nyata di depannya seperti jurang yang sangat dalam.


...…....


Sadar tidak sadar, mereka sudah hampir melakukan perjalanan di dalam gedung itu selama kurang lebih hampir tiga jam. Dimana mereka pada akhirnya kembali di satu titik tepat di depan tempat pajangan Dandelion Lamp yang masih terdapat beberapa pengunjung yang transparan. Bahkan dengan mengunjungi sudut demi sudut bagian dalam gedung, tidak membuat keduanya lelah untuk terus bercerita tentang apapun yang ingin mereka utarakan. Bahkan, sekarang di tangan Lisa sudah ada sebuah boneka berbentuk kelinci dengan telinga yang sangat panjang berwarna biru muda yang aneh, tetapi dengan bahan yang lembut dan menggemaskan, Alpino mengatakan bahwa itu cocok untuknya dan dia akan membeli itu untuk Lisa sebagai hadiah selamat atas karyanya yang sedang dipromosikan Lisa tanpa mengeluh, tentu saja mengambilnya dengan senang hati tanpa keluhan.


Mereka baru saja akan kembali mencari kursi untuk beristirahat barang sejenak sebelum Lisa dikejutkan dengan satu pelukan besar yang mengular di perutnya. Dia baru saja ingin berteriak, tetapi melihat bagaimana Sinar muncul dihadapannya dan suara melengking yang ceria dan lucu dari sosok familiar yang sangat dia kenal, suara pekikannya hanya terdengar seperti ketekejutan biasa yang tak terlalu menarik mata penasaran pada pengunjung.


“Hala anjir! Lo bikin gue jantungan, sialan, lo!’


Tentu saja, siapa lagi jika bukan sahabatnya yang lain, dengan mata bulat besar yang sekarang dibingaki dengan kacamata pipihnya yang terlihat seperti baru. Kepala perempuan itu muncul dari balik punggungnya dan memberikannya cengiran lucu serta tawa khas yang membuat Lisa memutar bola matanya dan mengusap dadanya untuk menetralisir keterkejutannya.


“Hehe, halo, lisa! Halo, Al! gue kira nggak bakaan ketemu sama kalian berdua waktu kesini bareng sama Kak Sinar”


Perempuan itu dengan perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Lisa dan berganti menepuk-nepuk punggung perempuan itu seolah sedang menyatakan rasa bangga yang teramat kepada anaknya sendiri. Lisa berdecih geli sebelum terkikik dan berbalik untuk memeluk Hala dengan erat. Mereka tanpa aba-aba, selayaknya remaja perempuan kemarin sore, melompat-lompat dengan keceriaan dan kegembiraan yang dihiasi dengan pekikan-pekikan kecil bersemangat.


Alpino dan Sinar yang melihat kejadian itu merasakan dua hal menerpa sekaligus. Kegemasan dan tentu saja tak habis pikir dengan kelakukan bak anak kecil yang terlalu berlebihan. Tapi biarlah, demi melihat senyuman puas dan lebar dari kedua perempuan itu, mereka memakluminya dengan tatapan mata sayang yang terasa terlalu berlebihan.


“Yo, bang. Jadi juga lo datang kesini bareng sama Hala” Alpino menyapa lebih dulu pada Sinar.


Lelaki yang lebih tua hanya mengangguk, jelas dengan perasaan suka yang diutarakan lewat mata dan senyuman yang muncul di wajahnya. Lelaki itu terlihat seperti sangat kasmaran dan Alpino yakin dia juga akan terlihat seperti itu jika dia berkaca di cermin besar.


“Yup. Kayak yang lo lihat, gue berhasil bawa Hala jalan bareng sama gue. Emang lo aja yang bisa bawa kabur adek gue? Gue juga bisa, kali” sindirnya dengan main-main. Alpino melempar tawa bersamaan dengan satu kepalan tangan ke bahu kiri Sinar.


“Kan lo juga udah kasih izin, bang. Jangan gitu, lah. Santai aja, bang. Kalau mau, gue nyuliknya nggak bakalan bawa ke tempat yang lo tau malah”


“Emang berani?”


“Ya nggak. Makanya gue bawa ke sini, kan? Biar mudah diciduk”


Sinar tertawa. Meskipun dia tahu bahwa lelaki yang lebih muda darinya itu saat ini tengah menggores garis tipis lainnya kedalam permasalahan yang tidak akan pernah dilupakan oleh mereka karena janji itu sudah menjadi sesuatu yang tertanam dengan ikatan yang kuat.


“Dih, pasrah banget, lo” Tidak ada unsur untuk saling berkelahi, Sinar sebenarnya cukup nyaman dengan pertukaran obrolan mereka.


“Emang jahat ya, lo, bang Sinar” Alpino menggerutu, tetapi tidak terlalu menyinggung. Lagipula, tidak ada niatan negatif appun untuk merusak hari yang bagus ini. “Licik juga, lo. Pantes kalau main menang terus. Gue nggak bakalan lupa lo udah curang di permainan terakhir kita bang. Besok gue bakalan balas dendam lebih parah lagi ke lo. Liat aja!”


“Iya dong, pasti!”


Kedua lelaki itu tertawa, seolah-olah menikmati pecakapan mereka berdua. Meninggalkan Lisa dan Hala yang juga sibuk bercengkerama tentang bagaimana Hala bangga pada sahabatnya karena sudah berhasil menciptakan satu karya. Semuanya terlihat begitu sibuk sendiri sebelum pada akhirnya, kehadiran Jelita mengejutkan keempat orang itu.


“Halo, Nalisa”


Sapaan ramah yang sudah Lisa hapal luar kepala dari bagaimana nada Jelita, sebagai seorang yang dia kagumi terdengar di telinganya, membuat Lisa kembali sumringah untuk menemukan wanita itu berjalan ke arahnya dengan senyuman yang sama bangganya seperti awal pertemuan di pagi hari tadi. Kali ini perempuan yang usianya hanya satu tahun di bawah kakaknya itu datang hanya seorang diri, terlihat lebih anggun disiang hari dengan kecantikannya yang sangat Lisa senangi.


“Halo Miss Jelita. Makasih banyak, ya, Miss. Saya senang banget waktu dapat kabar dari Miss Jelita soal ini. Tadi pagi belum bisa ngobrol bener-bener buat bilang makasih. Terimakasih banyak, Miss Jelita sudah memberi saya kesempatan sebesar ini”


“Aduh, jangan terlalu seperti itu, Nalisa. Saya yang lebih senang lagi karena saya ikut bangga dengan pencapaian kamu hari ini. Selamat, ya. Saya dengar dan pantau tadi selama beberapa waktu, banyak sekali yang berminat dengan Dandelion Lamp kamu. Kalau begini terus, bisa-bisa akan cepat dilakkukan proses produksi untuk penjualannya”


Jantung yang bergemuruh membuat Lisa hampir pusing. Perasaannya begitu membuncah sehingga dia harus mencari pegangan agar tidak melakukan hal-hal bodoh. Tangannya kembali mencari milik Alpino yang dengan senang hati langsung menangkapnya. Sahabatnya itu sekarang sudah berada tepat disampingnya dan memegangnya. Dia tidak peduli jika Sinar nanti mengomel padanya dengan sederet kata yang tak terputus panjangnya.


“Miss Jelita jangan seperti itu. Ini saya jadinya kewalahan karena seneng banget. Tapi makasih lagi, ya, Miss. Nggak tau saya harus gimana. Ini saya udah pusing karena udah bahagia liat Dandelion Lampnya disana. Terus denger yang beginian dari Miss sendiri bikin saya tambah seneng. Nanti kalau saya meledak karena senang yang double triple gimana, Miss?”


Jelita tertawa renyah. Dia terlihat begitu puas dengan reaksi yang Lisa berikan. Meskipun Lisa melihat sesuatu di wajahnya seperti kurang nyaman ketika mendapati tangan Lisa yang terulur dan terkait bersama dengan Alpino, Lisa berusaha mengabaikannya. Dia tahu seharusnya dia tidak membuat Jelita memikirkannya dengan aneh karena tentu saja perempuan itu tahunya bahwa dia dan Noren merupakan calon pasangan masa depan. Perempuan itu pasti bertanya-tanya apakah Lisa sedang mendua sekarang atau bagaimana.


Dia tidak ingin idolanya merasa seperti itu tentangnya, tapi dia butuh Alpino untuk membuatnya tetap membumi. Dia tidak bisa melepaskan kenyamanan yang diberikan oleh sahabatnya. Jadi dengan cepat, Lisa memperkenalkan Alpino pada Jelita.


“Oh iya, Miss. Tadi kan belum sempat kenalan, ya. Ini Alpino. Sahabat saya dari kecil. Dia yang jagain saya bareng sama kakak saya, Miss”


“Oh, begitu?”


Jelita melihat Alpino kali ini dengan warna yang berbeda di matanya. Lisa merasa lebih lega. Dia tidak ingin Jelita melihat Alpino dengan pandangan yang jelek. Tapi tentu saja, dia tidak sedang membela Noren disini. Dia hanya tidak mau segala hal menjadi lebih buruk lagi. Lagipula, dia bahkan tidak menarik tangannya dari Alpino, kan ? karena kenyamanannya ada di Alpino dan masa bodoh dengan Noren apapun itu.


Jelita juga seharusnya sudah tahu, kan? bahwa Lisa dan Noren sama sekali tidak akan menjadi pasangan masa depan.


Tapi dengan semua hal yang terjadi di kantor?


Lisa merasa hampir gila.


“Ah, Halo em-, Miss Jelita? Boleh, kan, saya panggil begitu?” Alpino terlihat kikuk. Wajahnya juga agak aneh ketika dia menyapa Jelita demi kesopanan. Lisa mengeratkan genggaman mereka, ingin bertanya apa ada yang salah dengan lelaki itu dalam bentuk gestur.


“Oh, tentu saja boleh” Jelita menjawab dengan senang hati. Senyum masih hadir di wajahnya.


“Ah, ya. Salam kenal, ya, Miss Jelita. Makasih karena sudah jagain Lisa dengan baik selama bekerja. Semoga Lisa nggak ngerepotin Miss, ya?”


Ada tawa yang agak hambar dan aneh Alpino berikan pada Jelita. Meskipun tidak ada yang menyadari hal itu, tetapi Lisa dengan cepat menoleh untuk melihat apakah ada yang salah dengan sahabatnya itu. Semua hal terasa seperti berbalik dengan cepat sejak saat kedatangan Jelita saat ini. Bukannya dia merasa ingin menghujani Alpino dengan omelan jenaka mereka karena telah menggodanya seperti itu, tetapi dia lebih khawatir dengan keadaan sahabatnya.


“Wah, nggak ngerepotin, kok. Tenang saja. Nalisa anak baik-baik dan dia kalau saya bisa bilang dan bias, sih, saya suka sama kinerja dan dirinya sendiri selama di perusahaan. Lisa banyak membantu saya dan juga anak yang begitu menarik dan rajin dalam pekerjaannya. Saya terbantu banyak sekali”


Lisa dengan refleks menutup mulutnya dalam sebuah tamparan yang menyengat. Dia terkejut dan berbunga-bunga secara bersamaan, menggantikan kekhawatiran sebelumnya yang sempat berkembang. Dia sedang dipuji oleh idolanya sendiri! Lisa tidak tahu keberuntungan apa yang sedang dia alami saat ini. Apakah dia dulu pernah menyelamatkan dunia sehingga dia mendapatkan kebaikan bertubi-tubi dalam satu hari?


Tolong. Jika dia bisa pingsan, dia yakin akan melakukannya saat itu juga.


“Oh? Beneran? Biasanya di rumah dia nggak begitu bisa dibanggain, sih. Dia juga agak nakal anaknya”


“Eh?”


“Kak Sinar, Ih! Sumpah lo, ya! Gue marahh besar!”


Lisa mengerang, menarik dirinya untuk melakukan ancang-ancang menghancurkan sesuatu. Kakaknya itu benar-benar menghancurkan citranya di depan idolanya! Bisa-bisanya, dia?!


“Kak, sumpah? Lo jahat banget. Miss Jelita, saya nggak seperti yang kakak saya bilang, kok. Dia emang gitu, suka ngomong sembarangan!”


Lisa merengek, dia bahkan sekarang sudah menenggelamkan wajahnya di bahu Alpino yang tertawa dan mengangkat tangannya untuk menepuk bahu Lisa dengan lembut. Berbanding terbalik dengan kesenangan dalam tawa hangat yang dia keluarkan.


Lisa menunggu tanggapan Jelita untuk membalasnya. Namun, beberapa waktu, dia tidak mendengar apapun yang akan diutarakan oleh kepala divisinya itu. Ketika dia mengintip, perempuan itu sedang menatap kakaknya yang balas menatap dengan kebingungan aneh di wajahnya yang sudah aneh nan menyebalkan itu.


“Ah” Lisa dengan cepat menegakkan posturnya. “Maaf Miss. Dia kakak saya, Kak Sinar namanya. Dia anaknya emang agak rese, jadi jangan kaget kalau ketemu dia di jalan dan ngelihat Kak Sinar ngelakuin hal yang aneh-aneh dan nggak masuk akal, ya, Miss”


“Udah gila lo, dek. Sejak kapan gue ngelakuin hal gila? Gue masih normal, nggak kayak, lo, ya”


“Dih, kak. Lo nggak pernah sadar diri, ya?”


Lisa tidak peduli, Sinar yang lebih dulu memulai perang dengannya, jadi, dia akan membalasnya dengan hal seperti ini. Dia akan membalas kakaknya sampai lelaki itu bertekuk lutut dan menyerah padanya. Bisa-bisanya lelaki itu mengatakan hal seperti itu di depan idola dan orang yang dia kagumi?!


“Halo, Pak Sinar. Senang bertemu anda, ya. Saya baru tau jika Lisa punya Kakak laki-laki”


“Ah, iya. Senang bertemu anda juga, Ms. Jelita. Aduh, tolong jangan panggil saya Pak. Saya juga masih muda. Bisa tolong panggil yang santai saja”


Sinar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, agak terlihat cangung dari apa yang bisa Lisa simpulkan. Diam—diam, Lisa rasanya ingin terus menggoda kakaknya sehingga dia akan tau bahwa lelaki itu tidak akan bisa mengganggunya dan mengodanya secara sembarangan seperti itu.


Lisa baru saja ingin ikut dalam obrolan ketika Jelita berbicara lagi. Kali ini terlihat seperti malu-malu. Lisa tersentak, menganga tanpa bisa dicegah. Matanya melirik ke arah Hala yang masih diam tak berkutik, dengan wajah polos memperhatikan segala bentuk pertukaran seperti tak kasat mata.


“Ah, Kalau gitu saya panggil Mas Sinar saja, gimana? Atau Kak Sinar? Ah, maaf, anda juga bisa pangil saya dengan santai juga, Mas. Bisa panggil nama saya saja tidak masalah. Saya senang menambah kenalan baru. Apalagi anda adalah Kakaknya Nalisa, jadi, tidak masalah untuk menurunkan formalitas”


“Oh? Begitu, saya juga senang dan berterimakasih karena anda sudah menjaga adik saya dengan baik. Kalau gitu anda juga bisa panggil dengan nama saya saja agar tidak canggung”


“Tapi sepertinya lebih sopan jika saya memanggil dengan menambahkan sedikit kesopanan. Anda keberatan dengan panggilan Mas dari saya?”


Aduh. Lisa pusing. Dia memperhatikan pertukaran aneh di depan matanya. ALpino sepertinya menyadari sesuatu. Mereka saling pandang untuk berbicara lewat telepati, menyalurkan pemikiran yang sama. Kemudian, ketika tatapan Hala dan Lisa bertemu, dengan refleks Lisa memanggil perempuan itu yang sepertinya sebentar lagi sungguh akan menghilang karena keberadaannya sama sekali tak ternotis. Sedangkan dia berdiri tepat disebelah Sinar, meskipun agak di tertutup dengan bahu sang kakak.


“La, lo udah mau pulang, ya? Kok jauhan gitu?”


Tidak menyangka namanya aka dipanggil, Hala terkejut bukan main. Dia bahkan melompat dan memekik dengan aneh karena kejut yang tiba-tiba. Perempuan itu terlihat agak kikuk sendiri.


“A-ah.. nggak, kok..”


“Loh, Hala sejak kapan ada disini?”


“Ah.. halo, Miss Jelita.. hehe”


Lisa memandang Alpino dengan cepat, menarik lelaki itu untuk sedikit menjauh. Dia berjinjit, menekan dirinya pada Alpino dan berbisik di telinga sahabatnya dengan perlahan dan keterkejutan luar biasa. Apino, seolah membagikan sel otak yang sama mengangguk dengan meberikan raut wajah yang cocok dengan keseriusan Lisa.


“Jadi, gimana?”


Alpino berbisik kembali. Menatap langsung pada kedua mata Lisa yang agak panik karena keterkejutan yang tiba-tiba muncul dalam realisasi yang entah benar atau tidak adanya.


“Mau keluar aja? Cari tempat lain?”


Lisa berbisik kembali. Mata masih terlatih pada tiga orang yang kali ini sepertinya sudah mulai menjalankan permbicaraan mereka yang canggung dan agak aneh. Belum lagi raut wajah Hala yang tampak gugup dan tidak pada tempatnya. Lisa sendiri belum pernah melihat Hala seperti itu ketika bersama dengan Jelita. Tidak pernah sama sekali.


“Tadi niatnya mau ngajakin lo makan bakso sekalian nyemil es krim di suatu tempat buat kencan sahabat kita. Mau kesana?”


Mereka saling berkumpul di ruangan masing-masing. Jika dilihat dari jarak yang agak jauh, mereka terlihat seperti dua orang yang sedang merencanakan sesuatu yang jahat daripada hanya berbisik untuk menentukan tempat kabur yang cocok dari segala kecanggungan aneh yang muncul tiba-tiba itu.


“Ih! Kenapa nggak dari tadi!”


Lisa hampir memekik, tetapi Alpino dengan cepat menutup bibir Lisa dengan tangannya. Matanya sudah terlihat sangat serius sekali. Lisa bahkan harus menahan tawanya karena kesadarannya yang tiba-tiba. Mereka tidak bersembunyi di satu tempat apapun. Hanya berdiri membungkuk disana seolah sedang berlindung di suatu tempat transparan dan terlihat mencurigakan.


“Tapi kayaknya kita nyari es krim dulu untuk ngelepasin hal-hal aneh ini dari mood kita. Soalnya gue nggak mau ada keanehan di tempat spesial gue. Kita buang atmosfer aneh ini dulu, oke?”


“eh?”


Menyadari suatu hal, Lisa segera berdiri dengan tegak. Menatap Alpino dengan mata bulat besarnya karena dia sadar bahwa Alpino sempat berkata lelaki itu akan membawanya ke suatu tempat yang spesial untuk dirinya. Lisa semakin penasaran tentang apa yang sedang direncakanan dan tempat sepsial seperti apa yang menjadi sesuatu yang Alpino coba tunjukan padanya.


“Al, sumpah gue hampir lupa. Ayo! Gue harus jadi sesuatu yang spesial buat lo di tempat spesialnya lo. Karena tadi gue udah jadiin lo orang spesial di karya spesial gue! Ayo! Ayo!”


Lisa menarik tangan Alpino dengan semangat yang menggebu. Senyumannya muncul dengan lebar berhasil menyingkirkan atmosfer canggung aneh disekitar yang mengusai sejak tadi. Meskipun ketiga orang lainnya berbalik untuk menatap mereka dengan penasaran.


Alpino berbisik kecil di bawah napasnya seraya melihat ke arah genggaman tangan meeka yang tidak pernah lepas sejak tadi.


“Gue harus yakin... iya kan? Hari ini juga harus yakin. Haha”


.........


...🍁...


...Daun Gugur; Spesial Untuk Dua Orang: Lainnya - End...


.........


...🍁...


...🍁🍁...


...🍁🍁🍁...


Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Euro40, nih!


Jangan lupa mampir yaa🥰


...PROMO NOVEL KARYA EURO40...


...JUDUL: LANGIT JINGGA MERUBAH TAKDIR...


Jingga yang gendut berubah menjadi cantik setelah bertemu dengan Langit. Akhirnya berniat membalas dendam pada keluarganya yang selalu menyiksa dia sejak kecil. Bahkan Kakak tirinya berusaha untuk melecehkannya. Mereka juga selalu menghinanya. Kini dia sudah cantik. Jingga juga menjadi anggota perkumpulan rahasia. hubungannya dengan Langit hanya sebagai teman walau Jingga mencintai Langit. Jingga tahu Langit adalah playboy. Langit takut dengan komitmen dan pernikahan. Sampai suatu hari Langit benar-benar merasa kehilangan Jingga. Dia berjanji tidak akan melepaskan Jingga dan akan menikahinya.



Selamat Membaca🥰