Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Perjalanan Yang Direncanakan Part. 3



“Nalisa, siniin sandalnya biar aku yang bawa”


“Di taruh aja di deket karang aja, Kak. nggak usah dibawain segala”


“Iya, sini, biar aku aja yang taruh di sana. Biar kamu bisa langsung mainan air di depan. Ayo, sini, mana?”


“Serius?”


“Iya sayang, sini. Sekalian barang bawaan kamu nanti aku taruh di tempat yang aman”


“Ini lo yang minta, ya! Bukan gue yang suruh. Nih, taruh di tempat yang aman. Awas aja kalau hilang atau kenapa-kenapa. Lo yang gue suruh ganti rugi dua kali lipat, Kak!”


“Iyaa, tenang aja. Aku bakalan tanggung jawab. Huss, sana main. Jangan jauh-jauh, nanti tenggelem”


“Gue bisa berenang, ya!. Tuh, bawain! Udah, ya, gue kedepan. Jangan ganggu gue! Dadahh~”


Jadi begitulah. Lisa tidak bisa menyangkal seberapa baik perasaannya ketika angin pantai sudah menerjangnya dengan hempasan yang begitu menenangkan dan memuaskan indera perasanya. Desiran ombak ditelinga adalah sedikit kebebasan apa yang dia butuhkan dalam hidup penatnya yang di atur oleh jadwal ini dan itu. Rasanya, ketika dia mencium bau asin pantai setelah berpapasan langsung dengan keindahan ombak dan air yang tercipta secara alami untuk menambah keindahan semesta, Lisa merasa ketegangan di tubuhnya luntur seketika. Dirinya merasakan kebebasan yang sebenar-benarnya sangat dia butuhkan.


Dengan kaki telanjangnya yang menyentuh pasir yang dipanaskan matahari, gaunnya yang berkibar di bawah lutut dengan gerakan melambai beriring dengan beberapa pohon kepala yang sepertinya memang sengaja ditanam di sekitar sana untuk menambah kesan pantai rindang alami yang khas, Lisa merasa sangat puas dengan kesenangan yang dia dapatkan secara langsung.


Jujur saja, ini tidak seburuk yang Lisa pikirkan sejak awal. Meskipun dia sedikit malu dengan bagaimana dia menentang destinasi pilihan yang telah di atur sedemikian rupa oleh Noren, perempuan itu diam-diam bersyukur untuk apapun yang dia dapatkan kini. Dengan pantai yang sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan disekitarnya selain makhluk air yang hidup disekitar pantai-, menjadikan dirinya seolah-olah adalah pemilik pantai itu sendiri. Dimana sebenarnya, memang begitu jika mengingat bahwa Noren menegaskan untuk lingkungan pantai adalah milik mereka berdua secara pribadi jika dia tidak salah tangkap dalam penuturan blak-blakan yang Noren lemparkan padanya beberapa waktu yang lalu.


Kepuasan aneh tersendiri itu ada. Dan jika saja egonya tidak terlalu tinggi, dia akan berterimakasih pada Noren yang saat ini sibuk menggelar sebuah karpet di dekat batu-batu karang yang besar dan tidak terlalu tajam untuk membahayakan keselamatan. Lelaki itu meletakkan dan menata barang-barang berharga yang mereka bawa di atas karpet tersebut tanpa tergesa-gesa seolah dia menikmati watu yang berjalan hanya untuk mereka berdua. Dalam satu lirikan cepat, Lisa bisa melihat bagaimana Noren meletakkan sepatunya dengan rapi di sisi karpet setelah meletakkan tas dan beberapa bekal menyandar dengan batu karang.


Sebenarnya, Noren mengatakan bahwa mereka bisa saja menyimpan barang-barang itu di dalam kamar salah satu villa yang lelaki itu pesankan dimana mereka melakukan tour berkeliling sebelumnya. Tetapi, Lisa dengan keras kepala menginginkan langsung menuju pantai dan ingin menikmati paparan alam nyata daripada hanya mengurusi ruangan yang membatasinya dengan alam terbuka. Sejujurnya dari kekeraskepalaan itu, Lisa hanya ingin mengalihkan dirinya dari bagaimana dia tertarik untuk menjelajah seluruh bagian resort dan menaikkan ego Noren yang sudah terlalu tinggi untuk kesukaannya.


Mungkin lain waktu. Atau mungkin, setelah dia mencoba bersenang-senang dengan air asin yang saat ini menggelitik kakinya dalam buai dingin yang memanjakan. Senyuman Lisa mengembang sebelum dia melompat-lompat di sekitar. Berlarian kesana kemari layaknnya anak kecil sehingga dia bahkan tidak sadar bahwa dirinya sedang tertawa terbahak-bahak ketika mencoba untuk mengejar ombak yang surut, lalu berteriak ketika gulungan ombak kecil mencoba untuk menerjangnya dan meraihnya dalam buai air asin yang dingin.


Lagi-lagi, Lisa merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dia menikmati ini. Jujur, dia bersenang-senang. Dia tidak peduli ketika Noren meneriakkan sesuatu dari tempatnya. Pun, dia tidak peduli ketika Noren berhenti untuk mencoba memanggil dan memutuskan sesuatu yang entah apa itu hingga Lisa merasa dirinya ditinggalkan sendiri dalam beberapa waktu yang lumayan panjang saat dia berusaha untuk mengejar beberapa ikan yang tertangkap di matanya.


Intinya, dia tidak mengerti sejak kapan Lisa mendapatkan ember kecil untuk dirinya sendiri yang berisi hampir penuh dengan kulit kerang atau kelomang yang bisa dijangkau oleh tangannya. Dia juga tidak tahu bagaimana gaunnya hampir basah hingga ke paha dan bagaimana sekarang topinya sudah ia letakkan di atas karang yang agak tinggi. Yang Lisa pikirkan adalah bagaimana cara dia bisa mendapatkan jenis kerang cantik dan mungkin beberapa bintang laun dan hean unik lainnya.


“Halo cantik. Lo bakalan ikut gue masuk dalam ember, ya!”


Itu adalah apa yang dia serukan ketika menemukan satu kulit kerang berwarna ungu berbintik hitam dan cokelat di tangannya. Tertawa dengan senang hati, dia tidak sadar bagaimana ketika dia berbalik, Noren sudah berada di depannya dengan senyuman lebar dan beberapa capit yang telah di siapkan di kedua tangannya dan ember kecil tambahan berwarna merah berkilau.


“Butuh tangan lain untuk berburu hewan laut nggak, nih, sayang?”


Mengerjap sejenak, Lisa tidak bisa berpikir ketika dia hanya mengabaikan panggilan yang dicercakan Noren padanya dan lebih memilih untuk merebut satu capit dari tangan Noren dan mengangguk dengan antusias.


“Kalau pake ini gue bisa nyari gurita sama udang juga, kan, ya?” Serunya. Tidak sadar bahwa dia telah melemparkan mata berbinar yang cerah persis di depan Noren yang hampir meleleh karena lelaki itu lemah dengan bagaimana gemasnya Lisa bersikap.


“Aku nggak tau, sih, bakalan ada udang atau gurita disini. Tapi ini bisa dipakai buat ambil kerang juga” tutur lelaki itu dengan seruan lembut suara sayangnya.


“Yahh..” cemberut Lisa hadir dengan kekecewaan kecil yang muncul, namun kemudian kembali tergantikan ketika perempuan itu dengan antusias menantang Noren dengan perlombaan kecilnya yang tiba-tiba terlintas di kepalanya. “Kalau gitu gimana kalau kita lomba siapa yang bisa dapat kerang paling banyak dan paling cantik? Nanti kalau misalnya gue bilang cukup, berati waktu selesai. Gimana? Harus mau pokoknya gue nggak nerima penolakkan!”


Lisa tidak tahu bagaimana ancamannya bekerja karena dia merasa rahangnya sakit dengan cara yang baik saat dia tertawa dan menyeringai percaya diri. Noren yang sudah menaikkan alis dengan semangat, tentu saja terlihat sangat yakin untuk menerima tantangan yang diberikan oleh Lisa.


“Boleh! Aku mau”


Lagi-lagi, suara itu terdengar lembut seolah-olah membuai Lisa untuk terus berenang dalam euforia kegembiraannya. Jadi, dengan angin yang tiba-tiba memeluk mereka dengan buaian kesegaran yang membuat kulit meremang denegan cara yang baik-, Lisa melompat dan membuat gerakan aneh sebelum menjulurkan capit kecilnya ke arah Noren dengan sangat bersemangat.


“Oke! Kalau gitu, ayo mulai!”


Ada sedikit pekikan ketika angin berhembus dengan lebih kencang dan membuat Lisa sedikit kehilangan keseimbangan. Tetapi karena refleksnya yang lumayan bagus, perempuan itu berhasil berdiri dengan cepat. Bahkan, uluran tangan Noren yang ingin membantu, terhenti di tengah jalan karena bantuan itu sudah tidak diperlukan sama sekali.


“Lo disana, gue di sebelah sini, ya, nyarinya” Lisa menunjuk lagi. Menetapkan area yang akan mereka lakukan pencarian kerang dalam perlombaan kilat.


“Curang banget? Padahal disana lebih banyak kerangnya. Aku mau yang disana boleh? Apa bareng aja kita berdua?”


“Nggak boleh! Udah gue pilih pokoknya. Kak Noren, lo disana aja, oke? Gue nggak nerima penolakan. Udah sana, huss huss!!”


Noren tertawa puas. Cekikikan sehingga Lisa yakin rahang lelaki itu akan lepas dari seberapa lebar dia menyebar tawa. Mengangkat bahu, Lisa memilih untuk kembali pada kesenangannya untuk mencari tujuan dalam permainan kecil mereka. Tetapi, ketika dia baru saja ingin melompat dan mencoba lari ketempat dimana sudah dia incar sebelumnya, tangan Noren menghentikannya seketika.


Lisa ingin bertanya, tetapi lelaki itu terlebih dulu menarik gelang karet hitamnya yang Lisa sebelumya tidak tahu bahwa dia mengenakan apapun itu. Gerakan Noren sangat halus ketika dia melangkah mendekat dan mengatur beberapa helai anak rambut yang bergerak di mainkan oleh angin sebelum menyusunnya menjadi satu dengan sangat perlahan.


Tiba-tiba, kesadaran menyapanya begitu cepat saat gerakan Noren terbaca dengan sangat jelas.


Lelaki itu sedang mengikat rambutnya.


Noren, sedang dengan sangat telaten, mencoba untuk merapikan rambutnya yang memang sebelumnya ia biarkan terurai. Lisa tahu, sejak tadi dia mencoba untuk menyisihkan helai rambut yang dimainkan angin dari sekitar wajahnya, tetapi sama seklai belum menemukan apapun yang bisa mengikat rambut nakalnya. Namun kini, yang ia dapatkan adalah gerakan Noren yang berhati-hati mengikat rambutnya menjadi sebuah ikatan yang Lisa yakin agak berantakkan namun sangat membantu.


“Nah, sudah selesai”


Suara Noren mengejutkannya dari apapun yang sedang dia pikirkan, dimana bahkan kepalanya saja tidak bisa memikirkan apapun karena perbuatan Noren yang bahkan tidak bisa ditebak sama sekali.


“Nah, kalau gini, kan lebih enak. Maaf, ya, kalau masih berantakkan. Itu aku ikat biar rambutnya nggak nakal waktu kamu lagi main. Tenang aja, kamu tetep cantik kok. Lisa tetep gemes dan cantik dimata aku mau gimanapun kamu. Apalagi kalau lagi seneng gini. Hati aku makin nggak karuan di dalam, tau. Mau coba rasain nggak gimana debarannya?”


Mengerjap, Lisa melotot. Paham bagaimana Noren yang licik itu bisa menyelinap begitu saja dengan aksinya yang halus. Sial, Lisa tidak akan terperangkap dalam jebakan rubah jelek di depan matanya ini. Meskipun dia sedang bahagia, Lisa tidak akan mau terus menambah ego Noren yang semakin dan semkin tinggi menyaingi gunung. Untuk yang ini, dia biarkan terselip, namun dia akan menghentikannya sampai disini saja. Tidak ada acara menggoda dalam liburannya dan dia dapat pastikan itu sepenuhnya terjadi.


“Dih, kalau ngomong lancar betul” Lisa mengomel. Menjulurkan lidahnya untuk mengejek sebelum menepuk bahu Noren dengan capit ditangannya sebanyak dua kali. “Nggak usah cari kesempatan dalam kesempitan, ya, Kak. Sekarang, ayo cari kerangnya! Gue pokoknya nggak bakalan kalah dari lo! Liat aja!”


Setelah itu, Lisa tidak berlama-lama untuk menunggu respon dari Noren. Perempuan itu segera berlari dengan tawa yang puas menuju lokasi yang sudah ditargetkannya. Dia tidak mendengar apapun lagi dari Noren ketika dia berhasil bersenandung dan memekik senang saat mendapatkan kerang berukuran lumayan besar dengan corak berkilau indah yang menarik matanya.


Lalu setelah itu, semuanya berjalan seolah Lisa tidak mengingat bahwa dia melakukan banyak hal. Tertawa, menjerit senang dan mengejek Noren disela-sela tangkapannya. Perempuan itu berlali kesana dan kemari untuk memperlihatkan bahwa dia mendapatkan apapun yang terbaik dan bertaruh bahwa Noren sama sekali tidak mendapatkan apapun dan tidak akan mengalahkannya. Pun, Lisa tidak begitu menyadari bagaimana reaksi Noren adalah tertawa dan berpura-pura kalah, tidak mencoba untuk berdebat dan malah membiarkan Lisa untuk mengejeknya, mengalahkannya dan hal lainnya tanpa ada pergolakkan untuk berdebat dengan perempuan itu.


Tidak heran, Lisa tidak mengerti bagaimana perlombaan mencari kerang menjadi acara berlarian di pantai, memercikkan air satu sama lain dan berlarian untuk mengejar dan kabur dari deburan ombak. Di satu sisi, Lisa mengingat bagaimana Noren tertawa terbahak-bahak saat Lisa hampir tergelincir saat pasir menghisap kakinya dan ombak berusaha menerjangnya. Untungnya, lelaki itu dengan sigap menariknya untuk berdiri dan menyeimbangkan posisi. Lisa juga tidak tahu bagaimana dia tetap berdiam diri disana, berpegangan pada Noren dengan sukarela saat ombak lain menggulung mereka sampai setengah paha.


Hal itu berlangsung beberapa waktu sampai Lisa terpikat pada ikan-ikan yang berenang disekitar karang yang berada di dekat mereka. Nyatanya, keinginannya untuk memancing terlalu kuat sehingga dia mendorong Noren dan merengek untuk mendapatkan mereka alat pancing untuk mendapatkan beberapa ikan segar. Anehnya, Noren melambai dan berlari ke arah terpal yang digelar di tempat yang sebelumnya dan menunjukkannya bahwa dia sudah mempersiapkannya dengan sangat baik.


“Wuih? Serius? Kalau gitu aku harus dapat ikannya,nih. Yang banyak biar aku bisa rasain masakan khusus dari kamu”


“Kan kalau dapat ikan. Emangnya disini bisa dapat ikan?”


“ya bisa kalau aku yang mancing”


“Percaya diri banget??”


“Oh, harus dong! Tapi gimana kalau selama aku mancing ikan, kita sekalian makan camilan yang kamu bawa. Aku udah agak lapar ini. Boleh, ya?”


Itu adalah permintaan yang dilemparkan dengan kedua mata memelas khas anak kecil yang berhasil di lemparkan oleh Noren. Lisa memutar bola matanya sebelum terkikik. Perempuan itu, dengan kesadaran penuh mengangguk dan berlari untuk mengambil dua kotak makan yang telah dipersiapkannya dari rumah. Dengan itu, mereka mencari spot memancing yang bagus dimana Noren mengajaknya menaiki satu bukit kecil yang agak datar. Cukup untuk mereka berdua di sana.


Selama mereka bersenang-senang dalam memancing, melontarkan banyak kata random yang berhasil muncul secara spontan di kepala, cuaca yang menemani mereka begitu sangat mendukung. Tidak ada matahari yang begitu terik, itu disimpan di balik awan tebal yang berarak. Pantai jelas-jelas seperti milik mereka pribadi dari bagaimana hanya mereka berdua yang berada disana. Suara deburan ombak yang menerpa karang dan sepoi angin laut yang memanjakan kesegaran kulit menjadi saksi bagaimana mereka bersenang-senang saat ini.


“Udah satu jam tapi lo belum dapat ikan juga. Beneran bisa mancing nggak, sih, lo?”


“Mancing itu butuh kesabaran, sayang. Lagian, ini belum satu jam. Kamu, tuh, harusnya lebih sabar, lho”


“ih, orang udah satu jam beneran ini. Lihat, makanannya udah habis sekotak!”


“Lucu banget. Emang bisa nentuin berapa lama waktu dari seberapa cepat habis makanannya? Lagian ini aku yang makannya lahap karena masakan kamu enak banget. Mau dong sosisnya lagi, coba suapin aku deh. Aaa~”


“Nggak mau! Makan sendiri. Manja banget. Gue bukan Mama lo?”


“Soon to be Mamanya anak-anak aku, sih, sebenernya”


“Haha, lucu. Mulut lo emang minta banget dibungkam, ya, Kak! Nih, gue jejelin sambel!”


Lisa, dengan cepat membungkam mulut Noren dengan satu suapan besar sosis gulung telur yang sudah di baluri oleh saus sambel extra kedalam mulut Noren yang bahkan tidak terbuka secara sempurna. Lelaki itu tersentak, terbatuk seketika ketika mulutnya langsung penuh dan panas dengan cara yang tidak disangka sama sekali.


“Gimana? Mantep suapannya, kan?” Dia tertawa, senang dengan hasil dimana wajah Noren memerah dari seberapa keras dia terbatuk dan mencari air untuk diminum.


“Ini sih namanya cobaan pembunuhan, Nalisa, uhuk!”


Masih terbatuk dan mengeluarkan air mata karena kejutan pedas yang tidak di sangka, Noren mengernyit. Cemberut dengan lontaran omelan yang bahkan sepertinya dia tidak sungguh-sungguh untuk melontarkan.


“Makanya. Jangan ngomong yang aneh-aneh. Untung nggak gue dorong ke bawah, lo, Kak” Lisa mengomel, mencubit sedikit bahu Noren sebelum menyodorkan sosis lain yang lebih kecil dan tanpa saus ke arah Noren dalam sedikit rasa bersalah karena mengerjai lelaki itu sebelumya. “Cepet bersyukur karena gue udah berbaik hatii sama lo!” tuntutnya kemudian dengan senyuman yang terselip tawa geli.


Noren berdecih geli. Memutar bola matanya sebelum mendorong dirinya maju untuk mengambil sosis yang disodorkan Lisa tepat di depan matanya.


“Aku bersyukur, kok. Makasih loh, udah disuapin”


“Nggak disuapin. Lo yang nyamber tangan gue, Kak”


“Gitu banget?”


Lisa cekikikan. Dia kembali meletakkan garpunya di atas kotak makan yang kosong. Berbalik, perempuan itu memilih untuk menikmati pemandangan pantai yang tersaji di depan matanya. Cantik. Lisa tidak sabar untuk menunggu keindahan biru yang jernih berganti dengan oranye pekat yang memanjakan mata. Benar, dia sudah berpikir untuk menonton sunset. Meskipun itu berarti dia harus memutar otak apakah akan tetap berada di pantai sehari penuh atau berbalik kedalam untuk menjelajahi kemewahan resort sebelum berkunjung kembali ke pantai ketika sudah tiba waktunya untuk matahari tenggelam.


Memeluk lututnya, dia yakin pasti memilih opsi kedua yang lebih mungkin. Lisa tidak ingin masuk angin di kemudian hari karena dia bersikeras tetap berada di bibir pantai dengan angin sekencang ini. Mungkin, dia bisa menikmati bersantai di pinggir kolam fasilitas resort atau bahkan berenang disana. Mungkin bisa memilih kolam air panas seperti yang disebutkan oleh Noren sekilas dari penuturan tour kecil yang diadakan beberapa jam yang lalu. Memikirkan itu, Lisa sangat bersemangat.


Namun tiba-tiba saja, perutnya berbunyi seolah-olah dia tidak berhasil memakan setengah kotak bekal yang telah dia persiapkan. Mengerjap, Lisa menoleh ke arah Noren yang sudah menatapnya dengan tatapan geli. Wajah Lisa tiba-tiba memanas. Malu dipergoki masih menginginkan makanan lain bahkan etika satu kotak makanan lagi hanya berisi setengah sosis dan beberapa potong ayam tepung.


“Apa?” Lisa menantang, berusaha untuk mengalahkan rasa malunya. Namun, Noren hanya tersenyum seraya menarik kembali kail pancingannya.


“Makan seafood mau?”


Mulut Lisa terbuka untuk menyeru kata sebelum terpotong dengan ucapan lainnya dari Noren.


“Kebetulan tadi baru aja dikabarin kalau lobster, kepiting sama kerang hijaunya baru dikirim. Fresh banget. Ayo Lisa. Kamu suka kerang hijau, kan?”


Mengerjap, Lisa sungguh tergiur.


“Tapi gue masih mau disini…”


Gumaman itu kecil. Namun, Noren bisa mendengarnya dengan sangat baik.


“Tenang aja. Kita bisa makan disini, kok. Ayo. Kita kebawah sekalian aku mau hubungi pihak pantry dan ngobrol sedikit sama Head Chef nya”


Menemukan pergolakan batin dari Lisa. Noren menggeleng dengan geli dan campuran sayang sebelum menarik tangan Lisa dengan lembut dan membuat perempuan itu mau tidak mau mengikutinya dengan langkah kecilnya yang segera menjadi gerakan cepat karena Noren membisikkan sesuatu ke telinganya. Senyuman Lisa saat itu, kembali menjadi secerah matahari yang baru saja mengintip dari balik gumpalan awan.


......................


“Kak Sinar.. lo bisa dateng kesini, nggak? Gue kesel banget. Kak Noren ninggalin gue gitu aja. Anjing banget, gue berasa jadi kayak cewek yang dicampakkin sama cowoknya meskipun itu nggak bener sama sekali”


“Pokoknya lo kesini bisa nggak, Kak? temenin gue? orang-orang pada ngeliatin gue kayak kasihan sama gue. Kesel banget gue, kak! pokoknya cepat datang, ya! Gue tunggu”


“Brengsek banget emang Kak Noren bego! Kalau emang lo ada urusan ya udah, pergi aja. Jangan buat drama kayak kesannya gue dicampakkin sama lo. Ah, kesel banget gue. Rasanya pengen ngumpat! Kak Sinar, cepetan datang! Pokoknya gue nggak mau liburan gue malah bikin gue badmood!”


“Ini liburan gue. Jadi, gue bakalan bersenang-senang selama disini. Masa bodoh sama Kak Noren. Besok, gue pastiin dia nggak bakalan selamat di tangan gue. Tunggu aja lo, Kak!”


...🍁...


...Perjalanan Yang Direncanakan Part. 3...


.........


...🍁🍁🍁...