
Lisa mengerjap, sekali, dua kali sebelum reaksinya membuat Alpino terkejut. Hampir terjengkal kebelakang dengan mata yang melotot dan tawa yang mengocok perut. Lisa menggebrak meja dan melompat berdiri sebelum menutup mulutnya yang terbuka lebar dalam keterkejutan akan realisasi. Mata perempuan itu sebesar bola dan Alpino tidak bisa untuk tidak menertawakan ekspresi aneh menggemaskan sahabatnya.
Dalam beberapa waktu yang singkat, Alpino merasa begitu lega di dalam. Lisa masih mengingatnya. Tentang hal-hal yang bahkan mereka bicarakan random di waktu itu.
“Gila!” Dia menjerit tiba-tiba setelah keterkejutannya padam. “Sumpah? Ini bakal jadi studio pribadi lo? Lo beli bangunan ini buat di sulap jadi studio milik lo sendiri, brand lo sendiri? Al, gila lo”
“Loh, kenapa gue malah dibilangin gila, sih, Lis. Mana, nih, selamat buat gue-nya?”
“Sumpah, Al. Gue nggak nyangka akhirnya hari ini datang juga! Gila! Ih, gue bangga banget sama lo, Al!”
Alpino, dengan wajah yang memanas dan merah merona karena Lisa memberikannya pujian, melambai dengan cepat di depan wajahnya. Menyuruh Lisa untuk lebih tenang dan tidak menggila ketika perempuan itu berhambur ke arahnya dan memeluk lehernya erat. Teriakan di telinga Alpino membuat pendengarannya berdengung dan lompatan-lompatan kecil yang dilakukan Lisa memaksanya untuk mengikuti gerakan yang sama membuatnya sedikit kewalahan. Lisa masih melakukan selebrasi ketika pada akhirnya Alpino merasa bahwa Lisa mencoba untuk mencekiknya dan mengacak keseluruhan wajah dan kepalanya.
Alpino agak lupa, bahwa Lisa yang bersemangat tentang kebahagiaan dan impian orang lain, bisa menjadi lebih liar daripada apa yang dibayangkan. Sehingga, Alpino harus berusaha untuk melepaskan cengkeraman maut Lisa dari tubuhnya meskipun dia masih tertawa dengan keras karena kebahagiaan yang ditularkan.
“Al, gue seneng banget!” Lisa masih berada dalam euphoria miliknya ketika dia mecubit pipi Alpino dengan bertubi. Sahabatnya hanya bisa pasrah ketika dia tidak berhasil untuk menghalau dan memudarkan sedikit saja energi ekstra yang tercipta dari Lisa.
“Iya, gue juga seneng, Lis. Udah, tenang dulu, ini pipi gue melar kalau lo cubitin terus. Aduh, merah ini, udah sakit banget. Lo nggak kasihan sama gue apa?”
Lisa, setelah bena-benar memperhatikan ringisan sahabatnya, sesegera mungkin menarik tangannya dan memberikan cengengesan lebar pada Alpino yang hanya membalas dengan gelengan kecil dan usapann di wajahnya.
Ada gestur menenangkan diri sebelum Lisa menghela napas dalam dan terkekeh kecil. Matanya menyapu area ruangan, sekarang mampu memahami mengapa Alpino membawanya ke tempat itu dan mengatakan bahwa itu adalah tempat spesial milik Alpino. Sahabatnya itu sudah memimpikan memiliki gedung studio sendiri dengan brand miliknya. Mengembangkan kemampuan fotonya dan mengembangkan bisnis dimana dia bisa menghasilkan uang dari hobinya sendiri.
Duduk dengan tenang kembali. Lisa meneguk minumannya. Dia seperti telah di lewati badai dan menjadi lebih lembut kali ini. Namun, senyum yang masih bersarang tidak bisa disembunyikannya begitu saja.
“Alpino” Lisa memanggil. Kali ini dengan penuh makna.
“Hm?”
“Seneng banget gue, sumpah. Rasanya kayak, gue berhasil nemenin langkah lo dari nol sampai sekarang gitu, nggak, sih?” Dia cekikikan kembali. Agak tersipu dengan aneh.
“Jadi ini, ya, rasanya nemenin orang lain dari nol banget. Aduh, gue ngerassa kayak seorang ibu yang bangga sama anaknya”
“Gue bukan anak lo?” Sanggah Alpino dengan cepat.
“Ih, lo pasti tau maksud gue, Al. Jangan merusak suasana bisa nggak, sih?” Sungut perempuan itu dengan tangan yang berusaha untuk memukul lengan Alpino, tetapi lelaki itu memiliki refleks yang lebih cepat untuk menghindar.
“Ya tapi gue emang bukan anak lo. Kalau mau ngangkat gue sebagai anak, izin dulu sama Mama Adel”
Alpino mengabaikan Lisa yang sekarang sudah cemberut. Menyeringai sedikit, dia mengintip dari balik poninya yang panjang untuk melihat apakah Lisa akan melanjutkan pertikaian canda kecil mereka. Tapi kemudian, untuk seluruh kesukaan dan ketidaksukaan Alpino dalam pertimbangan pembicaraan, Lisa memutuskan untuk tidak mengambil umpan bayolan yang dia lemparkan.
“Lo kapan beli ini gedung, Al? kok gue nggak tau?” Lisa memulai dengan pertanyaan lain. Matanya masih berusaha menangkap sesuatu yang menarik dari ruangan kosong dan bau makanan yang bercampur dengan bebauan khas rumah kosong.
“Gue masih nyicil, Lis” sanggahnya cepat, namun tak memberi jeda untuk sahabatnya berkomentar. “Tapi gue udah survey dari bulan lalu. Nyari yang cocok sama tabungan gue dan tempat yang strategis buat bisnis. Gue sempatin waktu diantara kerjaan, jadi ojek lo, dan main sama anak-anak buat nyari tempat beginian. Lo pasti nyadar gue lebih sering absen dari acara sama anak-anak dan bahkan jarang ada waktu buat lo, kan?”
Lisa mengangguk dengan cepat, dia bahkan tidak menutupinya sama sekali.
“Ya itu makanya. Disamping yang emang job gue mulai rame di ODEZA, gue nyari tempat buat mulai buka studio gue pelan-pelan”
Alpino memandangi ruangan dengan begitu sayang. Dia sudah membayangkan sedemikian rupa dekorasi apa saja yang akan ia atur untuk tempat ini. Dia sudah memiliki banyak desain dan juga plan. Perasaannya membuncah dengan hangat dan kebahagiaan polos dengan tekad penuh tujuan. Dia sangat senang dengan apa yang berhasil dia dapatkan ditangannya saat ini.
“Lo nyari sendirian, Al? kenapa nggak bilang gue? Kita bisa nyari bareng, kan?”
Ada gelengan cepat yang Alpino berikan pada Lisa yang mengernyit. Perempuan itu agak tersinggung, tidak terlalu dalam namun dia merasa sesuatu yang mengganjal. Alpino yang menyadari cepat-cepat mengulurkan tangan untuk mendorong kening Lisa dengan jari telunjuknya.
“Nggak usah ngambekkan” bisiknya cepat dalam tawa. Lisa mendengus, menepis cepat dengan beberapa gerutuan kecil.
“Kan emang niat gue buat kasih kejutan ke lo. Kalau lo nemenin gue dan kita nyari bareng, bukan kejutan namanya, Nalisa”
“Padahal kan kalau nyari bareng lebih enak” Lisa masih sedikit menggerutu. Ada perasaan aneh ketika dia dikeluarkan dari sesuatu yang seharusnya dia berada di dalam hal-hal tersebut. Tapi siapa dia untuk terus mengeluh? Alpino memiliki pemikirannya tersendiri, Jika Alpino memilih untuk memberikannya kejutan seperti ini, siapa dia untuk merasa sedih?
“Lo nggak ngerti konsep kejutan apa gimana, sih. Bandel banget dibilangin” Alpino tertawa. Dia menarik kursinya, memilih untuk duduk bersebelahan dengan sahabatnya dan mengabaikan makanan yang udah tidak terlalu panas lagi.
“Iya deh iya” Menyerah, Lisa berusaha menepis tangan Alpino yang berusaha mengembalikan senyum di wajahnya dengan menarik pipinya. Alpino masih tertawa, senang dengan apapun yang dia alami saat ini.
“Kalau gitu, lo nyari tempatnya sendiri?” Lisa bertanya lagi, kali ini lebih serius.
“Nggak. Gue pergi sama Kina. Nemu tempat ini juga karena si Kina tiba-tiba pengen beli ikan hias” Lisa mengerjap. Dahinya berkerut dengan sebuah nama familiar yang tiba-tiba di angkat dalam pembicaraan.
“Kina stylist di kantor lo?”
Alpino mengangguk sebagai konfirmasi.
“Iya, Kina yang itu. Gue nggak punya temen deket cewek lain selain lo sama anak-anak, tambahan sama si Kina ini juga.” lelaki itu menuturkan.
“Waktu itu gue seharusya survey malem sendirian habis selesai job. Tapi karena Kina nggak ada yang jemput, ya udah gue nawarin dia buat bareng. Dan dia cerita sama gue kalau dia lagi pengen punya temen di kosnya karena dia sendirian terus. Gue nyaranin dia buat adopt hewan, at least kucing apa kelinci gitu, kan. tapi dia malah bilang pengen ikan hias aja. Jadilah gue sama dia muterin sampai ke daerah sini. Rupanya ada yang buka sampe semalam itu. Gue aja kaget”
“Dan waktu gue lihat tempat ini, di depan pintunya di kasih spanduk ‘dijual’ gue langsung tertarik. Gue tanya sama penjual ikan hiasnya itu. Katanya emang udah hampir setahun kosong dan baru banget akhirnya tempat ini dijual. Alasannya orang yang punya udah menetap di Malaysia. Ini juga sebenarnya bekas penginapan gitu. Tapi beneran sudah dikosongin semuanya. Ya udah, gue langsung coba hubungin orang yang punya. Dan syukurnya, gue dibolehin nge-DP dan nyicil tiap bulan nggak pake bunga, lagi. Jadi nggak langsung pure ngebeli gitu, Lis.”
Ada tawa yang puas dari cerita Alpino. Lisa, yang sejak tadi fokusnya sudah utuh hanya untuk Alpino, ikut tersenyum dengan seberapa excitednya lelaki itu menceritakan bagaimana dia menemukan tempat ini. Ada kilatan api di matanya yang bergerak-gerak senang dan ekspresinya yang berubah-ubah.
“Gue ya nggak percaya, dong. Tapi penjual ikannya, waktu gue dateng lagi sama Kina buat nunggu pemiliknya dateng, malah ngomporin juga kayak apa yang Kina bilang. Anjir, kalau lo ikut ya, mungkin lo, Kina sama Pak ***** yang jual ikan di sebelah juga bakalan cocok, deh. Sampai gue dikasih satu ikan koi, katanya buat penangkal hantu-hantu gentayangan disini, gitu. Ikan yang lo liat di belakang itu ikan dari Pak Nonok”
“Sampai sebegitunya?” Lisa mengerjap, agak menjauh dan berhati-hati. Dia tau itu adalah candaan semata, namun dia suka melihat bagaimana Alpino yang saat ini terlalu bersemangat dan tertawa seolah-olah semua orang harus mendengar apapun yang keluar dari bibirnya saat ini.
“Ya masalah angkernya itu bohongan doang, Lis” Ada gelengan yang Alpino berikan bersamaan dengan tangannya yang saat ini mengacak kepala Lisa dengan gemas. “tempat ini kata Pak Mahmud emang sengaja di jual murah, soalnya mau cepat selesai urusan di Indo, gitu. Dan kebetulan gue yang dapat rejeki nompok gini yang ngehubungin langsung, jadi deh sekarng udah punya gue”
“Dan jangan nanyain ikan koi di belakang, itu sebagai hadiah tetangga kata Pak Nonok”
“Pak ***** baik banget, deh. Jadi pengen kenalan” Lisa mulai ikut andil dalam pembicaraan ketika dia merasa cerita Alpino sudah sampai pada ujungnya.
“Iya, nanti gue kenalin deh. Gue jamin lo bakalan cocok banget berbaur sama beliau”
“Dih yakin banget?” Lisa menyikut pinggang Alpino sebelum berbalik untuk kembali ke meja. “Padahal gue mau omelin bapaknya kenapa naruh ikan koi di kolam kotor begitu. Kan kasihan ikannya, tau!”
Dengan wajah penuh keterkejutan lain dan kedua alis yang terangkat geli, Alpino tertawa. Seperti apa yang dia harapkan tentang balasan komentar dari perempuan itu, Nalisa tetaplah seorang Nalisa yang unik.
“Yaudah, nanti lo bebas omelin pak *****. Kita habisin makanan ini dulu, oke? Udah nggak panas lagi, nih makanannya”
“Iyaaa, ini juga mau makan, kok”
Alpino kembali menyeret kursinya ke tempat sebelumya. Dia memperhatikan ketika sahabatnya kembali menyantap makanan dengan lahap. Binar di mata Lisa cocok dengannya, dan dia merasa lebih dari cukup dalam banyak hal keinginan di dunia ini.
Dalam kepulan asap panas yang sudah menghilang ketika dia mengangkat nya ke udara, kilatan pikiran Alpino melayang dengan sebuah keinginan yang hampir berada di ujung tanduk, namun itu kembali terhapus dengan sebuah gelengan cepat ketidakmungkinan.
“Bisa nggak, sih, kita berdua aja kayak gini? Alpino, Nalisa dan tempat impian terbesar gue dalam kehidupan. Kalau gue boleh bilang, hari ini adalah hari sempurna banget buat gue.
Bisa nggak, sih?
Mustahil, ya?
Al, lo nggak boleh hidup di dunia mimpi terus. Ayo sadar.”
.........
...🍁...
...Impian Dan Pilihan Terakhir Part. 2 - End...
.........
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Ippiieee, nih!
Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA IPPIIEEE...
...JUDUL: DOSEN TAMPAN PEMIKAT HATIKU!...
Professor Hugo Raine Richmound
Si jenius dengan paras yang sangat tampan ini mendapat kan gelar sebagai Professor termuda oleh University Of Mainheim Jerman. Dia terlahir dari keluarga konglomerat pemilik Biersdoff Corp yang cabangnya sudah tersebar di berbagai negara termasuk benua Afrika Eropa dan kini Asia.
Raine begitulah dia di panggil oleh orang terdekat nya. Memiliki postur tinggi menjulang189cm, berbadan atletis membuatnya selalu menjadi magnet bagi para wanita yang melihatnya. Ketampanan Kekayaan dan Kehormatan dapat dengan mudah ia dapat kan.
Tetapi tidak dengan hubungan percintaan, hatinya sudah tertutup untuk makhluk yang bernama wanita. Awal Pertemuan nya dengan Gadis yang sangat cantik sang artis terkenal yang notabene adalah mahasiswi di kampus tempatnya mengajar membuatnya berpikir kembali untuk hal yang bernama cinta, saat gadis itu dengan beraninya nekat mencuri Ciumannya, akankah Raine bisa membuka hatinya lagi untuk mencinta?
Kita Saksikan saja bagaimana kisah selanjutnya...
Selamat Membaca ❤