Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Kepanikan Sinar



Sinar tidak menyadari bahwa dia sudah memuntahkan banyak kata yang bahkan tidak bisa dia ingat sebagian besar apa. Dia hanya terus bersuara, tertawa, berucap ini dan itu, bercerita di sana-sini, tertawa lagi, tersipu hingga dia tidak sadar bahwa di beberapa titik dia merasa bibir dan rahangnya menyengat menyerukan rasa pegal. Lelaki itu bahkan harus mengusap rahangnya sejenak dan berusaha untuk menetralkan sengatan sebelum dia kembali berbicara lebih banyak lagi. Bersenang-senang dalam permainan kata dan canda tawa lebih banyak dari yang bisa dia duga.


Sejujurnya, perasaannya sekarang seperti sedang di angkat ke atas langit dengan gelembung ringan trasnparan. Membanting semua gundah gulana dan resah yang dia tahu masih menguasainya beberapa waktu yang lalu. Segala hal negatif yang dia lalui tidak bisa menghilang begitu saja meskipun dia mencoba. Meskipun dia memiliki seseorang disampingnya, dia masih memiliki perasaat pahit di sudut hati yang menggumpal. Meskipun sejak tadi tidak akan dia pungkiri bahwa dia sedikit bersenag-senang, tetapi membicarakan sesuatu yang berlandas kesukaannya pada orang baru yang memiliki satu frekuensi dengannya adalah apa yang membuatnya sangat bersemangat.


Sebenarnya, Sinar tahu bahwa dia juga tidak terlalu expert soal anime, dia juga tidak terlalu terobsesi seperti penyuka lainnya. Dia hanya mengoleksi beberapa yang dia suka dan beberapa yang bisa dia tonton di waktu senggang. Hanya saja, rasanya dia seperti memimpin seseorang yang baru saja tertarik kedalam bidang yang setengahnya bisa dia kuasai dalam perasaan suka. Tentu saja, dalam hal ini adalah Jelita. Perempuan itu terlihat sangat berminat dengan percakapan soal anime adaptasi manga apa yang terbaik hingga yang terburuk.


Sinar sedang melalui khotbah tentang Jujutsu Kaisen ketika mereka berjalan ke stan yang menjual merch anime tersebut. Jelita yang mendengarkan dengan antusias, menunjuk beberapa karakter dan Sinar merasa pusing karena dia tertarik dan ingin membawa pulang banyak hal.


“Mas Sinar pasti mau beli yang itu, ya?” Jelita menunjuk, menggoda dengan suara kekehan yang sadar karena tebakannya pasti sudah benar. Sinar yang tertangkap basah, meringis dalam tawa aneh yang dikeluarkannya. Jemarinya menggaruk kepala dengan gugup. Tetapi kemudian, dia menggeleng dengan penuh keyakinan. Menutup hatinya untuk tidak gegabah dalam membeli merch yang seperti itu. Sinar hanya tidak yakin, apakah itu memang benar yang terbaru atau dia hanya lupa bahwa dia sudah memiliki itu di rumah.


“Aduh, ketahuan” Sinar mengeluh, bermain-main dalam niat hiburan percakapan di antara lelaki itu dan Jelita. “Tapi kayaknya gue udah punya, deh, Gojo yang itu. Gue agak lupa juga. Takutnya kalap kebeli yang ini, eh, waktu ngecek koleksi udah ada” Dia beralasan dalam kejujuran yang tidak dia buat-buat.


“Benerann, Mas? Nanti waktu di cek nggak ada, nyesel, loh” Jelita berusaha membujuk dalam goda konyol yang dia lemparkan. Merasa sudah dekat dan memiliki banyak peluang untuk mengenal satu sama lain, Jelita semakin maju dalam rasa kenyamanan yang baru-baru ini di tawarkan oleh Sinar sedemikian rupa. Sinar saja saat ini bahkan sudah berbicara dengan santai dengannya.


“Nggak bakal nyesel, sih, kayaknya, Kan gue bisa langsung ke Jepang buat beli dan nambah koleksi gue kalau emang yang ini belum ada sama sekali” SInar menyeringai konyol. Tidak ada kesombongan yang berarti, lelaki itu hanya memberikan bumbu canda dalam pembicaraan mereka. Jelita tertawa dengan geli, memukul lengan Sinar tanpa tenaga yang berarti, kepalanya menggeleng sebagai reaksi untuk menunjukkan bahwa Sinar sedanmg besar kepala saat ini.


“Sombong banget, Mas Sinar. Awas, Mas. Kalau didenger yang lain, nanti mas dikatain terus viral gara-gara ini. Aku nggak ikut-ikutan. Ya!”


“Eh, iya, ya. Ngeri banget manusia jaman sekarang. Amit-amit, deh. Mending sekarang kita foto bareng cosplayer aja, yuk. Gue mau foto sama Yuji dan Gojo. Kalau nemu Megumi, sekalian aja foto tiga. Tolong Fotoin gue, ya, Jelita”


“Roger, Mas! Aman kalau sama aku”


Sinar dengan bersemangat, melambai untuk mengajak wanita itu bergegas. Membiarkan beberapa pengunjung yang ingin melihat merch yang dijajakan dari ruang yang ditempati mereka beberapa saat yang lalu. Langkah-langkah kecil dan besar beriring disetiap derap jalan tujuan mereka. Para cosplayer tersebar di sana dan disini dengan berbagai macam karakter yang mereka peragakan. Sinar agaknya terlalu tenggelam ketika dia menemukan cosplayer yang dia cari, lengkap dalam tiga yang dia sebutkan tadi.


“Ini, disini, nih, Jelita” Sinar berbalik untuk menemukan Jelita yang berjalan masih dengan anggun dan senyum yang tidak lepas dari wajahnya. “Ayo, lo jangan jauh-jauh, nanti hilang. Ini lagi rame soalnya” sedikit mengomel karena refleks, Sinar melihat bagaimana Jelita sedikit terkejut. Sadar dengan apa yang dia lakukan, Sinar berusaha melontarkan permintaan maaf. Tetapi Jelita tertawa dengan lucu dan perlahan meningkatkan pergerakannya untuk berdiri tepat bersebelahan dengannya.


“Maaf, ya, Mas Sinar. Nanti saya jalannya lebih cepat lagi, deh” Jelita terlihat tersipu, lebih santai dan puas ketika menoleh untuk menatap wajah Sinar secara penuh.


Memberikan ringisan yang tidak perlu, Sinar melambai dengan kikuk.


“Aduh, jangan minta maaf, itu jobdesk gue karena udah ngomelin lo gitu aja” Sinar mengangkat tangannya untuk menempelkan pada masing-masing. Terangkat setiggi dada, tangkupan tangan itu menurun bersamaan dengan kepalanya yang membungkuk sebagai gestur permohonan maaf mendramatisir. Seringaiannya lebar ketika mendengar tawa Jelita yang geli dan tepukan lain di lengannya.


“Mas berlebihan banget. Mas Sinar jangan lucu-lucu gitu, dong. Aku dari tadi ketawa sampai sakit perut, ini”


“Wah, bahaya dong. Jangan sampai sakit perut, disini susah cari toiletnya. Penuh pasti. Lihat aja gedung udah kaya tempat persiapan demo”


“Mas Sinar.. bukan itu maksudnya aku!” Jelita agak histeris ketika dia membuat wajah terkejutnya yang geli. Sinar terpingkal.


“Iya, iya, paham. Bercanda, ya, Jelita” Mengacak rambutnya, dia melemparkan ringisan senyum kecil sebagai penutup bayolan yang dia lemparkan. Melihat ke arah beberapa orang yang sudah memiliki sesi foto dengan cosplayer yang dia tuju, sesegera mungkin dia mengeluarkan ponsel untuk menyerahkannya pada Jelita.


“Tolong fotoin gue, ya. Yang ganteng! Bisa?” Sinar menawarkan dengan cengengesan konyol. Jelita tentu saja dengan senang hati menyetujui.


“Tenang aja. Mas Sinar mau pose gimana aja pasti bisa aku fotoin seganteng mungkin” Wanita itu memberi jempol yang terangkat.


“Berarti itu karena gue emang ganteng, dong?” percaya dirinya meningkat pesar. Sinar mengerutkan hidungnya, geli sendiri dengan apa yang dia lontarkan.


“Bukan. Tapi karena aku yang pinter foto, sih, Mas” Lidah kecil menjulur keluar, Jelita mengejek Sinar yang langsung terkesiap sebelum dia kembali tertawa. Sinar yakin, rahangnya akan rusak sebentar lagi.


“Iya, deh, iya. Maaf kalau gue nggak ganteng” Sinar menghela napas penuh drama.


“Ganteng, kok” Celetuk Jelita cepat. Agak tersipu. “Mas Sinar ganteng banget, kok! Sekarang, jadi mau ambil foto, nggak? Itu mereka udah pada lihatin kita loh, Mas. Soalnya Mas drama terus dari tadi”


Melepas dari apapun keterkejutan aneh yang di dengarkan telinganya, Sinar refleks berbalik untuk menemukan tiga cosplayer yang sudah menatapnya penuh arti sekaligus menunggu. Sinar merasa agak malu, dia dengan cepat menghampiri ketiganya dan berbincang dengan penuh semangat. Mengabaikan beberapa kata yang menggoda interaksinya dengan Jelita, Sinar berhasil membawa ketiga cosplayer itu untuk berfoto bersama.


Banyak jepretan yang Jelita ambil. Diantaranya adalah yang normal dengan pose andalan yang ia punya dan kemudian beberapa diantaranya yang berserakan adalah foto dengan pose aneh yang membuat Jelita sebagai tukang foto tertawa terbahak.


“Kakaknya mau saya fotoin juga dengan pacarnya, nggak? Nanti satu-satu biar ada foto bareng sama cosplayer kece kayak kita. Atau nanti bisa minta tolong temen saya buat fotoin kita bareng”


Itu adalah apa yang diserukan salah satu yang melakuan cosplay Yuji ketika Sinar sudah selesai memotret Jelita dengan ponsel milik wanita itu sendiri. Agak terkejut, wajahnya memerah padam ketika Yuji mengatakan bahwa dia dan pacarnya. Hatinya berbunga-bunga. Seketika Sinar merasa agak mual karena rasa senang yang membara di dadanya.


“Ah.. Pacar..” Dia agak terbata dalam pengucapan itu. Menggaruk telinganya, dia sedang salah tingkah.


Jelita yang tersipu dengan banyak perasaan membuncah didalam dadanya, merasa pusing dengan bagaiana reaksi yang diberikan oleh Sinar. Diam-diam, sebuah gelembung harapan muncul. Mungkinkah jalan hubungannya akan berbunga dengan indah dan berwarna-warni? Menepis debaran jantungnya yang menggila, wanita itu dengan cepat angkat suara.


“Maaf, Kak, kita nggak-,”


“Santai aja, Kak. soalnya kita juga mau ikut dalam perjalanan momen lucu pasangan kekasih. Apalagi tadi kita lihat Kakaknya lucu banget berdua” Kali ini, karakter Megumi yang menimpali. Membuat Jelita lebih salah tingkah lagi.


Jelita, berbalik pada Sinar yang masih berada dalam pikirannya yang entah apa. Wajah lelaki itu terlihat begitu merah. Lucu dan menggemaskan betapa dia terlihat. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, Jelita menghampiri dan hendak menegur Sinar untuk apapun yang membuat lelaki itu tenggelam dalam pikirannya hanya dari apapun perkataan yang dilontarkan para cosplayer.


“Mas-“


“Kalau gitu, Hala, lo mau foto bareng gue?”


Jelita mengernyit. Agak tersentak dengan nama yang baru saja terlontar dari bibir Sinar. Panggilan lelaki itu bukan untuk Jelita, melainkan untuk satu orang yang bahkan Jelita sadari sudah tidak bersama mereka. Dia terdiam. Tangannya jatuh dan rasa nyeri juga bingung tiba-tiba mengacaukannya.


“La, gimana? Kok lo diem aja?”


Sinar yang tidak juga mendengar balas dari orang yang dia tuju, mengerjap. Berbalik untuk melihat kesekeliling untuk menemukan Hala. Raut wajah kebingungan muncul, dia mengerjap ketika menangkap Jelita yang tepat berada didepannya. Sedangkan, cosplayer yang kebingungan, memilih untuk membiarkan kedua orang itu berbicara.


“Jelita, Hala kemana, ya? Kok nggak ada disini?” Dia bertanya perlahan. Jelas tidak sadar.


“Dari tadi emang udah nggak ada, Mas. Bahkan waktu kita mampir ke stan Haikyuu Hala nggak sama kita lagi”


Seperti tersadar, darah Sinar seketika membeku.


“Hala.. nggak bareng kita?” Sinar memastikan. Ketika dia melihat Jelita mengangguk. Pikirannya kacau dengan tiba-tiba.


“****, kok bisa nggak ada? Dia nggak ketinggalan di belakang, kan?!”


Sinar panik. Dia sadar sebenarnya dia tidak boleh meninggikan suaranya pada Jelita. Tapi apa daya, dia merasa sangat bodoh karena sedari tadi tidak sadar bahwa Hala tidak bersama mereka. Bahkan Sinar lupa tentang apa yang terakhir kali dia dan Hala bicarakan. Sinar mengutuk dirinya di dalam. Mencoba untuk mengendalikan dirinya ketika Jelita meraih ponsel perempuan itu perlahan dari genggaman tangan Sinar. Mungkin takut bahwa benda itu akan hancur dalam genggaman sekuat itu.


Bahu Sinar tegang. Jelita paham untuk tidak memperburuk keadaan meski dia sendiri mencoba mengabaikan harapan yang patah hanya dalam sepersekian detik.


“Serius Hala udah nggak bareng kita waktu di Haikyuu? Bukannya itu agak lama ya sampai kita ke stan JJK?”


Jelita mengangguk perlahan. Agak berhati-hati dengan Sinar yang ini.


“Anjing! Kok gue bisa nggak sadar?!” Dia mengutuk. Kali ini mulai bergerak untuk menengadahkan kepalanya guna mencari di antara kerumunan pengunjung yang hadir. Para cosplayer yang sadar dengan apa yang salah, memilih pamit pada Jelita dengan bisikan yang mencoba paham. Jelita mengangguk sopan dan meminta maaf.


“Bego banget, lo, Sinar! Kalau Hala hilang dan kenapa-kenapa, lo nggak bakalan gue maafin. Brengsek!” Mengumpat, Sinar tidak bisa berhenti untuk panik. Dia mulai lebih dari gelisah. “Tolol banget lo! Bisa-bisa nya nggak sadar kalau Hala udah nggak ada di samping gue. Tolol banget lo Sinar”


Jelita yang sudah agak awas, mencoba menenangkan.


Sadar dengan keburukan apa yang akan dia sebabkan, Sinar menghela napas gusar paling dalam. Dia menarik dirinya. Menawakan sedikit senyum yang bergetar pada Jelita.


“Maaf, ya, Jelita” lagi, ada hembusan gusar lain yang dia berikan. Agak frustasi sebenarnya. “Ini bukan masalah sesimpel itu. Gue tau dia udah besar dan bisa jaga diri sendiri. Tapi gue nggak bisa berhenti nyalahin diri gue kalau ada apa-apa sama dia. Bukannya gue nggak percaya sama Hala. Tetep aja, dia awal sama gue, pergi sama gue. Dan itu berarti dia tanggung jawab gue” Cercanya cepat.


“Disini rame banget. Gue nggak bisa nggak panik kalau dia nggak ada sama sekali disamping gue. Ya Allah, bisa gila gue kalau tetap diam kayak gini”


“Mas, tenang dulu. Aku yakin nggak bakalan ada masalah, kok” Jelita mencoba lagi. Kali ini, jalannya lebuh hati-hati. “Coba di telpon aja dulu, Mas” Usulnya kemudian. Sinar mengutuk lagi tiba-tiba pada dirinya sendiri. Karena panik, dia bahkan tidak berpikir dengan jernih.


Meraih ponselnya, lelaki itu segera menekan kontak Hala degnan cepat. Berharap perempuan itu akan mengangkat. Sinar bersumpah, jika Hala terluka atau terjadi apa-apa dengan perempuan itu, dia tidak akan mengampuni dirinya sendiri.


Katakan bahwa dia terlalu berlebihan saat ini. Tapi, apa yang bisa disalahkan tentang itu ketika perasaannya yang sedang mengambil alih tubuh dan kepalanya saat ini?


“Nggak diangkat..”


Itu adalah perasaan dimana Sinar merasa ingin memukul dirinya sendiri. Dia terdiam, mengingat kembali bagaimana dia bisa sampai melupakan perempuan itu begitu saja. Dan saat dia sadar, Sinar tidak bisa berhenti mengatai dirinya dengan sangat buruk. Benar, dia sudah mengabaikan Hala sejak Jelita masuk dan membuatnya lupa akan segala hal.


“Tolol banget, sumpah, Sinar”


“Mas..” Jelita memberanikan diri untuk menyentuh lengan Sinar. Lelaki itu tersentak. Menawarkan senyuman kecil tanda sedikit ketenangan, wanita itu melanjutkan. “Jangan cemas dulu. Coba Mas Sinar telpon Lisa aja, tanya apa Hala ikut mereka. Tadi, kan, kita emang nggak sadar udah berpencar gitu. Mas Sinar tenang, ya?”


Seperti tersadar, Sinar mengangguk. Mengganti kontak yang ia panggil, dia memberikan senyuman terimakasih yang dipaksakan pada Jelita. Yang menerimanya hanya mengangguk dengan pemahaman yang jelas.


Menarik Jelita dengan tiba-tiba di pergelangan tangan perempuan itu, Sinar meletakkan ponselnya di telinga dengan perasaan sedikit lega karena Lisa mengangkat. Dia membawa Jelita untuk bergerak mengikutinya. Langkah agak panik, tergesa dengan usaha untuk meyingkir dari banyaknya pengunjung.


“Dek, lo dibagian mana?” tanyanya tanpa berbasa-basi.


“Loh Kak? ini gue lagi di bagian barat. Lagi nemenin Kak Noren bayar merch Anya sama Yor yang gue naksir” suaranya terdengar riang. Sinar sedikitnya senang bahwa adiknya baik-baik saja.


“Oke, gue kesana, ya. Bilang sama Noren buat stay disana. Jangan kemana-mana” Itu bukan permintaan, melainkan perintah yang dia tegaskan.


“Okee. Kita nggak kemana-mana, kok, Kak. terus ini kenapa Kakak kok panik banget? Ada apaaan?” Sebenarnya Sinar agak takjub bagaimana Lisa bisa membaca keadaannya. Tapi sekali lagi, dia yakin bahwa dia memang terlihat jelas sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


“Hala sama lo nggak, dek?” Napasnya tertahan, Sinar berharap bahwa Lisa memberikan jawaban yang dia butuhkan.


“Loh? Gue kira Hala ngikut lo sama Miss Jelita..”


Oke. Sudah Sinar putuskan, dia akan mengitari gedung besar sialan ini dan membelah lautan manusia yang berada disini hanya untuk menemukan keberadaan Hala. Dimanapun perempuan itu berada, Sinar akan menemukannya secepatnya.


“Kak? Hala sama lo, kan?”


“Iya sama gue”


Dia tahu Jelita menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa ketika dia mengatakan itu pada Lisa. Sinar sudah tidak bisa memikirkan bahwa dia sedikit kurang sopan pada Jelita karena menarik wanita itu mengikutinya, tetapi dia tidak bisa lebih sabar lagi membuang banyak waktu.


“Tapi tadi lagi pamit ke toilet. Gue disuruh ketempat lo bareng Jelita. Bentar lagi gue sampai. Di stan SpyXFamily, kan, dek?” Sinar dengan tergesa bertanya. Coret itu, menuntut.


“Lahh, kenapa Hala ditinggal, Kak? lo, ya, bener-bener!” Lisa menggerutu di telinganya. Sinar berusaha untuk tidak meneriakkan kepanikannya pada sang adik. Dia sedang tidak rasional saat ini.


“Ini mau nganter Jelita buat kumpul sama lo sama Noren. Nanti gue jemput Hala lagi. Pokoknya gue bentar lagi sampai. Tunggu, ya”


Itu titahannya pada sang adik dalam panggilan terakhir. Ketika dia sudah melihat stan yang dimaksud dan mencari keberadaan adiknya dan Noren yang saat ini sedang berbincang seolah Lisa tengah mengabari Noren bahwa mereka ada di sini, Dia berbalik pada Jelita dan menghentikan wanita itu di tempatnya. Menghela napas berusaha menenangkan diri, Sinar meraih kedua bahu Jelita dan menepuknya dengan gerakan yang lembut, rasa bersalah.


“Maaf, ya, lo harus lihat gue kayak gini. Dan maaf juga jadi penyebab kepanikan buat lo. Gue nggak maksud apa-apa. Nanti kita ngobrol lagi habis gue temuin Hala, ya? Sekali lagi gue minta maaf kalau bikin lo nggak nyaman”


Sinar tulus, berterus terang. Lelaki itu menarik lengan Jelita yang dia cengkeram sebelumnya. Melihat guratan merah disana, Sinar mengusap bagian itu dengan perlahan. Namun, reaksi Jelita masih netral. Semoga dia tidak benar-benar menyakiti perempuan itu.


“Dan ini, gue minta maaf buat ini. Nanti kalau gue udah selesai, gue yang bakalan ngobatin. Sekali lagi, sorry”


Jelita mengangguk. Dia bahkan tidak bisa berkata-kata.


“Pergi duluan ke Lisa, ya? Gue mau langsung cabut nyari Hala. Tolong banget buat kasih alasan bagus buat adek gue. Jangan sampai dia panik juga sama kayak gue” Sinar memohon. Matanya bersinar dengan ketegasan dan harapan. Jelita bahkan merasa bahwa dia sedang di bawa kedalam percakapan drama yang terlalu berlebihan.


Kepala wanita itu berteriak dengan rasional, bahwa Hala adalah orang dewasa yang bisa datang dan pergi kapan saja. Lagipula, perempuan itu pasti sedang menikmati dirinya sendiri. Jelita punya perasaan ini, dimana Hala sengaja untuk memberi waktu berdua antara Sinar dan dirinya. Mungkin saja, perempuan itu tahu bahwa Jelita ada rasa untuk Sinar, kan?


“Tenang aja, Mas. Aman, kok. Yaudah, sana cari Hala. Mas Sinar juga hati-hati, ya?”


Sinar mengangguk. enepuk lengan Jelita untuk memastikan bahwa wanita itu akan baik-baik saja, dia memilih untuk segera beranjaka pergi. Mungkin saja Hala ada di tempat sebelum mereka berada di stan pertama, atau mungkin saja benar ada di toilet. Untuk saat ini, Sinar akan mencoba untuk mengacak segala isi dalam gedung untuk menemukan perempuan itu.


Otak rasionalnya paham bahwa dia tidak perlu sampai menggila seperti ini. Tetapi begitu banyak perasaan membuncah yang tidak bisa dikontrol dan di kunci dalam satu sisi hatinya membuat Sinar menyerah dalam kepanikan cemas.


Bisa saja ada orang jahat yang menakali Hala-nya.


Bisa saja ada anak nakal yang mengganggun Hala-nya.


Bisa saja Hala tersesat di gumpalan lautan manusia, bisa saja Hala terluka di satu titik.


Dan bisa saja perempuan itu sendirian di sudut ruangan merasa bahwa dirinya tidak begitu penting dan memang pantas untuk ditinggalkan.


Pikiran Sinar liar untuk beberapa saat. Dia memutar hampir setengah gedung untuk mencari. Berusaha menelpon kembali ponsel Hala untuk mendapatkan kabar. Namun dia kembali pada dering yang tak terjawab, meninggalkan lubang di perutnya.


Itu adalah pencarian yang membuatnya frustasi ketika dia pada akhirnya-,


Hala ditemukan, sedang berjongkok di salah satu stan yang menjual bento cake karakter di stan bertuliskan Toradora dengan wajah sumringahnya yang berseri-seri.


Sinar tidak bisa lebih lega dari itu.


“Hala!”


“Loh? Kak Sinar??”


...🍁...


...Kepanikan Sinar...


.........


...🍁🍁🍁...


Note:


Chapter besok masih seputar hubungan Hala dan Sinar, ya😊