
Mengusap pelipisnya untuk menenangkan syaraf kepalanya yang sudah berdenyut dari beberapa jam yang lalu, Noren merasa seperti dia telah di guyur dengan air dingin yang menyadarkannya dengan apa yang dia lakukan dalam waktu-waktu emosi membara yang membakarnya dengan nyala api.
Yah, dia sadar bahwa dia sudah melakukan hal yang bodoh, jauh dari kata baik yang akan dia ambil hasil positif dimana sudah dia rencakan dengan sematang mungkin dalam beberapa hari terakhir. Tetapi tentu saja, rusak sudah semua rencananya hanya dalam lima panggilan telepon yang mendesak dan kurangnya kemampuan dalam meredakan emosi yang membuatnya frustasi.
Bukannya apa, dia telah menghancurkan rencana penting untuk menjadi lebih dekat dengan Lisa dalam acara berlibur yang sudah dia persiapkan dan pikirkan dengan sangat matang, dimana acara lainnya yang sedang dia rencakan juga sedang berlangsung. Itu seperti menyelam minum air dan melempar dua burung dengan batu. Noren sudah sangat yakin bahwa apa yang sedang dia lakukan bisa berhasil sepenuhnya dan dengan hasil yang sangat mulus. Dia tidak akan pernah mempercayai apa yang terjadi kali ini dalam rencana matangnya yang sudah hancur lebur begitu saja.
Tentu, Noren masihlah sangat marah dan kesal dengan pekerjaan karyawannya, bahkan kepada sekretaris dan asisten pribadinya dalam menyanggupi hal besar yang sedang dia kerjakan. Bukan itu saja, dia yakin Lisa sangat tidak suka dengan apa yang telah Noren lakukan dengan perempuan itu. Noren bahkan sadar bahwa dia tidak meninggalkan kesan baik ketika dia segera pergi meninggalkan Lisa begitu saja. Padahal, mereka masihlah dalam energi yang baik bersama-sama dan menikmati hari libur yang menyenangkan.
Bukan itu saja, Noren bahkan tidak bisa melakukan apapun yang sudah dia bayangkan dalam pikiran dan imajinasi indahnya bagaimana dia dan Lisa akan mengamati bulan purnama yang cantik pada malam itu sembari berendam di kolam air panas yang sudah dia pesankan hanya untuk moment berbagi mereka berdua.
Membenturkan kepalanya ke atas meja kerjanya yang dingin, dengan punggung yang sakit karena terus menerus berada di ruangan yang sama satu malam lamanya tanpa merasakan empuknya kasur untuk beristirahat, dia mengerang begitu keras. Tidak peduli bahwa dia akan membuat suara tidak menyenangkan di ruangan yang kosong dan terdengar begitu aneh dan tentunnya akan menyebabkan gema sama anehnya, Noren hanya ingin menyuarakan rasa frustasinya yang membara.
Pikirannya melayang entah kemana. Ada dua hal yang benar-benar mampu membuat pikirannya terbelah mejadi dua dan tidak bisa memilih salah satunya. Yaitu, tentang bagaimana para bawahannya mengerjakan apa yang harus mereka kerjakan tentang perintah istimewa yang telah Noren sematkan pekerjaan itu pada mereka dan juga, tentang bagaimana citranya di depan Nalisa dan kini kepalanya sedang berputar untuk memikirkan cara meminta maaf pada perempuan itu sehingga Nalisa tidak akan menjadi lebih jauh karena kesalahan bodohnya.
Ya, dia sangat bodoh. Noren paham bagaimana dia bersusah payah untuk memenangkan hati Lisa dalam tiga bulan terakhir, jika dihitung, mungkin ini akan memasuki bulan keempat dimana statusnya saat ini masih bertahan dalam zona teman. Itupun, mereka baru meresmikan hubungan pertemanan satu sisi belum genap satu bulan lamanya. Noren frustasi, hal bodoh ini akan membuatnya dalam masalah untuk mengambil hati Lisa kembali.
Bagaimanapun, dia tidak ingin merusak rencana indahnya dan hubungannya dengan Lisa. Tidak saat dia sudah berjalan sejauh ini dengan seluruh kemampuan berlebih yang dengan bangga dia katakan bahwa dia seperti telah menerjang badai dalam perjalannya mendapatkan hati cinta dalam hidupnya. Tentu saja perjuangannya tidak akan berhenti hanya karena masalah ini saja. Tetapi jika Noren jujur, dia tidak ingin berakhir seperti awal pertemuan mereka. Noren sudah terlalu lengket dan jatuh cinta lebih dalam dengan Nalisa di titik ini hingga rasanya dia bisa gila jika Nalisa kembali memasang tembok besar di antara mereka.
Jadi, demi mengatasi kebodohan ini, Noren akan melakukan apapun untuk menebus kesalahannya. Dia akan melakukan apapun-, bahkan akan memohon dan berlutut di depan Nalisa untuk tidak membencinya karena lelaki itu meninggalkan Lisa secara tidak terhormat di resort itu dimana mereka bahkan sedang dalam edisi liburan.
Noren yang sedang frustasi, segera berdiri dan menghampiri ponselnya yang sudah tergeletak sembarangan di sofa ruang kerjanya, bahkan posisi benda pipih persegi itu sudah terselip diantara sudut sofa. Menghela napas karena dia tahu benda itu tergeletak dengan mengenaskan disana adalah ketika dia melemparkannya secara sembarangan saat memuntah emosi kasar pada Nabila dan karyawan percetakan-, tentu saja kemudian memarahi Chandra karena mengapa tugas penting yang sudah direncakan dengan matang bisa menjadi berantakkan hanya dalam beberapa waktu singkat. Intinya, Noren meledak ketika dia diberitahukan bahwa rencanya berpontensi gagal dan dia tidak sengaja melempar apapun yang berada di genggamannya saat itu juga.
Jemari Noren baru saja akan menekan nomor Sinar untuk mendendangkan frustasinya dan meminta saran yang benar untuk meminta maaf dengan adik sahabatnya itu ketika dia sadar bahwa hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Atau bahkan, itu hanya berada di pihak Sinar karena Noren yakins eratus persen dia tidak akan menjauhkan diri dari sahabatnya itu. Sinar hanya terlalu posesif kepada adiknya dan lelaki itu sedang membiasakan diri. Jadi, dengan kurangnya kedekatan dengan sahabatnya, Noren berbaik hati memberi lelaki itu waktu. Karena Noren yakin, Sinar akan datang padanya pada akhir waktu dan hubungan mereka akan kembali baik seperti waktu-waktu sebelumnya.
Itu adalah pertengkaran kecil dalam persahabatan, jadi, Noren memaklumi aksi Sinar dan memberikan lelaki itu kebebasan untuk selesai dengan apapun yang sahabatnya lalui.
Meringis, Noren memilih langsung untuk menghubungi perempuan pemilik hatinya. Dan kali ini, dia tidak akan mundur atau merasa malu. Karena, Nalisa sudah harus berada dalam genggamannya dalam waktu dekat,. Tidak ada acara bermusuhan kembali lagi atau renggang. Nalisa tidak akan bisa kemana-mana lagi dan Noren ada disana untuk menarik perempuan itu dalam pelukannya.
“Halo, Nalisa… gimana liburannya, bagus?”
“Lo mau mati, ya?”
Noren terkekeh. Oh, bagus. Hubungannya tidak hancur begitu saja. Meskipun mungkin, Noren akan berlutut di depan Nalisa jika perempuan itu memberikan hanya satu perintah saja.
......................
Jadi, oke, Ya. Begitu saja.
Noren memang berlutut di depan Nalisa. Itu bukan kiasan, dia sungguh berlutut di depan perempuan itu ketika dia tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah sang empu saat dia berkunjung. Tentu saja dengan sedikit keterkejutan karena mendapatkan persetujuan untuk benar-benar datang sama sekali jauh dari sulit. Dan untuk keterkejutan lainnya, Lisa memang menyuruhnya untuk berlutut dalam acara permohonan ketika Noren ingin meminta masuk kedalam kediaman bungsu Cakrawijaya itu untuk berbicara.
Jadi, Noren melakukannya. Meskipun pada awalnya Nalisa bersikeras untuk hanya berbicara di teras saja dalam gaya acuh tak acuh, ketika perempuan itu berdecih dan berbisik hinaan untuk menyuruhnya berlutut dan memohon untuk dibiarkan masuk, kaki Noren meleleh begitu saja dan dalam sepersekian detik dia sudah berada dilantai dengan kepala yang mendongak untuk menunjukkan kepatuhannya dan keseriusannya dalam mengatasi masalah yang dia perbuat dimana dia mengakuinya dengan sangat.
Lisa panik untuk beberapa waktu dan segera menarik Noren untuk berdiri dengan wajahnya yang menoleh kesana-kemari dalam gerakan cepat yang menurut Noren sangat menggemaskan. Omelan beruntun telah Lisa kumandangkan sebanyak dia menarik Noren untuk segera masuk dan mendudukkannya di atas sofa dengan sedikit kurang lembut-, yah, itu kasar sebeenarnya. Tetapi Noren tentu saja tidak mempermasalahkan karenea dia pantas untuk mendapatkannya.
Untuk ini, dia sangat jujur- sadar diri.
Yah, meskipun ada udang di balik batu, tetapi untuk itu Noren akan bungkam.
Sampai waktunya tiba.
Namun untuk sekarang, Noren hanya mampu berkedip untuk sesuatu yang dilontarkan Lisa beberapa waktu yang bahkan disadarinya tidak lebih dari satu menit lamanya. Noren hanya sedang berada di luar pikirannya dan dia butuh untuk mengulang apa yang Lisa sampaikan atau bahkan perintahkan padanya.
“Apa?”
Mengehela napas dengan agak dramatis dan wajah bossy yang terlalu dipaksakan, Lisa bersuara dengan tegas,
“Jadi babu gue sehari penuh.” Jelasnya dengan tanpa bisa terbantahkan Itu adalah penuturan tegas yang Noren tidak bisa patahkan dengan kata; ‘tapi’ atau bahkan menolak sama sekali.
“Babu?” Ulangnya membeo. Bukannya Noren tidak paham dengan itu, tetapi dia ingin mendapatkan penjelasan yang lebih jelas dari Nalisa.
“Aduh, lo tuh bisa nggak, sih, dengerin gue serius?” berdecak, Lisa melemparkan pelototan mata bulatnya ke arah Noren dimana dia berusaha sebisa mungkin untuk melebarkan senyuman sayangnya yang sedikit geli. “Babu gue. Atau , assistant pribadi gue sehari penuh yang nurutin apa yang gue mau dan lakuin semua yang gue suruh. Paham nggak sampai disini?”
Nada perempuan itu tinggi dan tegas. Bahkan dengan inipun, melihat Lisa begitu membuatnya ingin tertawa dalam kegembiraan kegemasan dengan balon imajiner melayang disekitar. Ah, dia hanya terlalu jatuh cinta dengan perempuan itu. Dan dengan perintah Lisa kali ini untuk memaafkannya adalah dengan menjadi babu atau assistant pribadi perempuan itu? Bukankah itu adalah kemenangan dan keberuntungan di pihak Noren sendiri.
Karena menjadi assistant atau pesuruh Lisa sepanjang hari penuh berarti dia bisa berada di sisi perempuannya dan dalam jarak yang dekat. Dimana Noren akan bisa menghabiskan waktu lain sehari penuh bersama Nalisa. Siapa yang akan menolak keberuntungan indah ini bagi Noren?
Noren bahkan mengira hubungannya dengan Nalisa akan hancur begitu saja dan dia harus berusaha kembali dengan mati-matian seperti dahulu lagi. Tapi apa yang dia dapatkan? Tentu saja, keberuntungan berlebih dimana dia tidak akan lepas dari sisi Nalisa sepanjang waktu. Tuhan, dia sangat bahagia saat ini. Dan jujur, dia sudah menyerahkan dirinya dan bahkan hatinya sepenuhnya untuk Nalisa seorang, jadi, perintah Nalisa adalah apa yang akan dia penuhi bahkan jika perempuan itu meminta hal-hal aneh di luar nalar, Noren bersumpah dia akan memberikannya untuk perempuan itu.
“Hmm.. bukannya setiap hari juga akunya selalu nurutin apa yang kamu mau, ya, Lisa?”
Tentu, bukan Noren namanya jika dia tidak menggoda yang lebih muda. Noren bahkan tidak akan menyangkal bahwa menggoda Lisa adalah bagian menyenangkan saat mendekati perempuan itu. Reaksi Lisa yang menggemaskan dan juga unik adalah apa yang dengan sangat bersemangat mencoba dia perah dan dapatkan dari calon pasangan masa depannya.
“Bukannya kebalik, ya, Kak? gue yang selalu berakhir nurutin apapun yang lo mau karena lo orangnya pemaksaan banget ke gue?” Lisa berujar dengan ketus. Matanya melirik dengan sinis ke arah Noren yang semakin melebarkn senyumannya tanpa bisa dicegah.
“Wah, berarti aku punya kehebatan yang bisa bikin Lisa luluh sama aku, ya? Jujur, aku mempesona, kan, sayang?” Menaikkan kedua alisnya, dia memulai dengan godaan yang sedikit lebih menjurus. Memang, ini beresiko, tetapi mulutnya gatal hanya untuk melontarkan kata ini pada Lisa yang terlihat nyaman dan menggemaskan duduk jauh di seberangnya. Noren hanya ingin menyentuh dan memeluknya seperti bantal.
“Wah, udah gila lo, ya?! Ini lo dateng kesini mau minta maaf dan dimaafin atau mau cari perkara dan memulai pertengkaran?!”
Uh, Oh. Benar, Noren harus menyerahkan diri kali ini. Dia tidak dalam tempat yang bagus untuk melemparkan godaannya pada Lisa. Dia harus menjadi lebih murah hati dan menahan diri. Jadi, Noren mengangkat kedua tangannya untuk menyerah, memasang wajah yang memelas dan merasa paling bersalah.
Noren tahu, ketika ada jeda yang lumayan lama di antara mereka, Lisa sedang mengujinya dan menganalisa dirinya. Mengintip dari balik mata yang sudah tertutup beberapa waktu yang tidak disadarinya dia berhasil melihat seringai kemenangan Lisa dan balas dendam perempuan itu. Apapun yang berada di kepala kecil perempuan itu, Noren tidak peduli. Bagaimanapun, bahkan jika itu menyiksa dan permintaan aneh-aneh terlontar dari bibir merah sehat itu, Noren akan menurutinya dan menjadi anjing yang sangat patuh.
Untuk kali ini saja, dia harus dimaafkan jika dia ingin rencanaya berhasil.
“Oke, karena lo melas banget pengen maaf dari gue, jadi gue bakalan tetep nerima lo jadi babu gue hari ini dan lihat nanti kalau misalnya gue puas dengan pelayanan lo, gue maafin lo, Kak”
Menyeringai dalam kegembiraan, Noren hampir melompat dari sofa. Dia bahkan sudah berdiri. Ketika Lisa melihatnya dengan tatapan aneh yang konyol, Noren berpura-pura untuk meregangkan tubuhnya. Dengan kedua tangan yang terentang di atas kepala, dia berusaha untuk tidak terlihat lebih seperti badut.
Yah, meskipun hari ini, dia merendahkan diri hanya untuk Lisa. Setidaknya, dia bisa berada di sisi calon pasangannya dalam jarak yang bagus dan tidak lepas dari perempuan itu. Anggap saja ini seperti liburan dan Noren sangat bersemangat untuk apapun yang akan mereka lakukan hari ini.
“Sumpah, lo, tuh orang paling aneh yang gue temui, Kak”
Noren mendengar Lisa menghela napas dengan gelengan prihatin. Matanya mengikuti bagaimana Lisa berdiri dari posisinya dan bergegas melewatinya menuju ruangan apapun yang akan perempuan itu tuju. Jadi, dengan instingnya, Noren mengikuti perempuan itu begitu saja dan berakhir di dapur dengan Lisa yang sudah mengeluarkan susu pisang untuk dirinya sendiri dari kulkas yang terbuka.
“Padahal gue denger citra lo dulu keras banget dan kayak kulkas. Dingin, misterius dan kaku gitu. Tipikal pebisnis aneh kaya raya” Lisa berdecih, geli sendiri dengan ucapannya ketika dia menenggelamkan sedotan plastik kedalam mulutnya. “Tapi selama dekat sama gue, lo nggak pernah kayak gitu, Yah, meskipun keras kepala, tukang nuntut ini itu dan nggak tau malunya untuk ngejar sesuatu nggak bisa hilang, tetep aja semua citra lo yang dulu dimata gue hilang gitu aja” Noren masih mendengarkan ketika perempuan itu mengambil celemek yang digantung di sisi tembok bersebelahan dengan pintu.
“Dan sekarang, lo mau mauan aja dijadiin babu sama gue” lalu cekikikan sebelum Noren merasakan tangannya penuh dengan kain celemek yang terlihat bersih. “Kayaknya pesona gue emang kuat banget memikat lo, ya, kak? gue sampai capek sendiri narik garis buat hubungan kita” menggeleng dengan dramatis, Noren masih memperhatikan dan dia bahkan tidak berusaha untuk mendengarkan apa yang Lisa sebutkan padanya. Itu semua tidak penting karena tentu saja, dia bersumpah pada akhirnya Lisa akan menjadi miliknya. Mau bagaimanapun itu. Jadi biarlah Lisa meninggikan egonya dimana Noren sendiri merasa ego yang dimilikinya sama sekali tidak tercoreng oleh apa yang perempuan itu lontarkan.
“Kan udah aku bilang kalau aku cinta sama kamu. Nggak inget? Apa perlu aku ingetin lagi?”
Noren berbalik untuk menghadang pergerakan Lisa yang seperti ingin pergi dari tempat itu. Meninggalkan Noren dengan celemek tanpa menjelaskan dan berusaha menjatuhkan harga dirinya bukanlah apa yang akan menyinggung Noren begitu saja. Dia bahkan tidak mendaftarkan apapun celotehan Lisa selain tentang perasaannya.
“Aku cinta kamu, sayang. Jadi kamu nggak perlu mikirin aku mau gimana dan kamu juga nggak usah takut kalau kamu nyinggung aku. Karena hati aku udah jadi milik kamu seutuhnya, aku rela jadi apapun yang kamu suruh aku lakuin. Termasuk sekarang, jadi assistant pribadi kamu” Noren mengedipkan matanya ketika tangannya yang tak punya pikiran naik untuk menyentuh pinggang Lisa.
“Hitung-hitung simulasi jadi suami baik buat kamu, kan?
Lisa menampilkan ekspresi paling jijik dan geli yang bisa dia keluarkan dan tunjukkan pada Noren. Perempuan itu segera menjauh dan memukul dada Noren dengan kekuatan yang tidak main-main. Noren mengaduh ketika dia merasakan nyeri di bagian dadanya hingga membuatnya mundur dua langkah kebelakang.
“Brengsek, gue lupa kalo lo maniak aneh yang kewarasannya udah ilang” Lisa menjauh, mengusap lengannya ketika dia merasa merinding dari ucapan yang dilontarkan oleh Noren. Sedangkan yang berucap hanya terkekeh seolah tidak melakukan kesalahan apapun.
“Aduh, kayaknya gue yang udah bego masih mau coba buat kasih kesempatan maaf buat lo. Kak Noren, lo sumpah! Bisa nggak, sih, nggak usah bikin gue merinding begitu?! Tarik nggak ucapan lo atau gue bogem lo sekarang juga?!”
Lisa bergerak melakukan kuda-kuda jauh dari tempat Noren berdiri. Merasa begitu terhibur, Noren tidak membawa hal ini terlalu jauh. Dia tanpa sadar menggumam permintaan maaf dan memakai celemek yang Lisa berikan tanpa kata.
“Kak Noren, lo, tuh. Jangan aneh-aneh. Pokoknya kita udah jadi temen, nggak usah bilang hal-hal yang bikin gue merinding. Coba aja liburan kemarin bukan lo yang nyediain fasilitasnya. Gue ogah banget mau maafin lo, kak. jangan bikin gue eneg sama ucapan aneh lo lagi, Kak. Tolong. Geli banget gue”
“Iya, iya. Udah nyerah, nih aku. Jangan marah-marah lagi” Noren cemberut, menahan diri untuk tidak semakin menggoda. Dia tidak ingin merusak ini semua. Seharusnya begitu sejak awal namun Noren hanya terlalu bersemangat.
“Aku udah pakai celemeknya. Ini aku harus ngapain, dong?”
Lisa berbalik. Menahan diri untuk tenang sebelum melemparkan bekas kotak susunya ke dalam tempat sampah yang tersedia disana. Menepuk kedua tangannya untuk membersihkan sisa air yang mengembun dari bekas kotak susu yang dia minum, Lisa mulai melemparkan perintah untuk Noren.
“Hari ini lo bikin sarapan buat gue. Ini bakalan jadi hari yang panjang, jadi makanannya harus enak dan bikin kenyang” Lisa mulai memberi perintah.
Noren berkedip. Dia melihat kesekeliling ruangan. Merasa kalah, Noren bahkan jarang menginjakkan diri di dapur untuk membuat makanan. Dia lebih sering membuat makanan instan atau melakukan pemesanan dari aplikasi. Atau bahkan, ada beberapa bibi layanan yang akan datang dang memasakkan sesuatu untuknya.
Dalam artian lain, Noren sama sekali tidak bisa memasak.
“Bikin sarapan?” Noren membeo, agak tidak mudah untuk melakukan perintah dari Lisa meskipun perempuan itu adalah cinta dalam hidupnya.
“Iya. Pokoknya yang enak. Ini perintah pertama gue buat lo, Kak. gue mau mandi dulu, mau siap-siap sebelum kita keluar dan bikin acara bareng anak-anak lainnya”
Bersemangat, Lisa menunjukkan aura ceria yang membuat Noren terpana. Tetapi, dia menyadarkan dirinya bahwa dia sedang mengalami krisis saat ini.
Dan apa itu? Anak-anak? Dalam artian, teman-temannya Lisa?
“Anak-anak?” lagi-lagi, dia mengulang. Terdengar seperti orang bodoh.
“Lo dari tadi ngulang omongan gue terus, kak” memutar mata, Lisa terlihat seperti ingin membenturkan sedikit kewarasan kedalam kepala Noren agar lelaki itu bisa berpikir lebih baik.
“Pokoknya hari ini bakalan jadi hari lo yang paling sibuk. Pertama masakin gue sarapan terus lo bakalan dengerin apapun permintaan gue dan permintaan temen-temen gue. Nah sekarang, selamat memasak! Inget, jangan coba-coba ngerusak dapur gue. Bahan makanan ada di kulkas dan lemari”
Lisa berucap dengan ceria ketika dia menepuk bahu Noren dua kali sebelum berlalu.
“Dan inget! Jangan coba-coba godain gue dengan kata-kata aneh lagi, dan jangan sentuh gue! Permintaan maaf lo dipending sampai gue ngerasa lo udah bisa dimaafin. Bye!”
Dan begitulah, Noren berakhir ditinggalkan seorang diri di dalam dapur dengan pengetahuan memasak yang bahkan tidak mencapai angka lima puluh.
...🍁...
...Permintaan Maaf Diterima Dengan Banyak Syarat...
.........
...🍁🍁🍁...