Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Perjalanan Yang Direncanakan; Dicampakkan?



Lisa sudah tahu dan sudah tidak membantah ataupun menyangkal perasaannya untuk mengatakan bahwa itu adalah liburan yang membuatnya sungguh rileks dan menyenangkan dalam satu dan lain cara. Bukan hanya dia merasa begitu lepas kendali dengan dirinya sendiri tanpa ada pengekangan dalam hal bersenang-senang dan bahkan menemukan kenyataan bahwa dia memiliki berbagai macam tawa dengan serangkaian ide unik yang dapat dia lakukan untuk membebaskan diri dalam ritual bersenang-senang yang dia miliki saat ini.


Benar, Lisa bahkan tidak merasakan keberatan yang sebelumnya ada ketika Noren berada bersamanya dan merupakan otak dari liburan kali ini. Memang, Noren seringkali menggodanya dengan memanggilnya nama kesayangan dan beberapa hal lain yang melebihi batas seorang teman yang dia tetapkan. Anehnya, Lisa tidak menemukan itu menjengkelkan lagi seperti biasanya. Itu hanya keluar dari bibir Noren dan Lisa mengabaikannya beberapa kali ataupun ketika lidahnya mulai berkilah dan jengah dengan godaan terang-terangan yang sedikit berlebihan, dia akan mengeluarkan dengan bantahan yang tidak seserius dan bersekongkol dengan emosinya seperti dia yang biasa.


Entahlah, Lisa merasa bahwa untuk hari ini saja, dia bisa membiarkan Noren juga bersenang-senang dengan apapun yang dia mau. Karena perasaan Lisa saat ini tidak menginginkan hal lain selain kesenangannya dan kebebasannya untuk menyatu dengan alam, perempuan itu membiarkan Noren mengatakan dan melakukan apapun tanpa mereka mulai mempertengkarkan sesuatu.


Setidaknya, tidak sampai Noren meninggalkannya ditengah-tengah acara makan mereka dimana Noren sendiri memutuskan bahwa mereka akan melakukan perlombaan lukis di bibir pantai ketika senja mulai turun dan setelah itu, mereka akan bersenang-senang kemudian untuk menjelajahi seluruh sisi resort hingga janji lain yang Noren sebutkan tentang menaiki kapal pesiar khusus kecil di malam hari dan menikmati kerlip lelampuan yang memang telah di rangkai sedemikian rupa dari bangunan resort dan bahkan memuntahkan kegiatan manis yang telah dipersiapkan seperti melepas lampion kecil di tengah laut agak jauh dari bibir pantai, tetapi masih merupakan lingkup wilayah batasan yang diperbolehkan.


Lisa juga ingat bahwa Noren berjanji akan mengajaknya untuk menikmati kolam air panas di ujung resort yang menampilkan view bulan terbaik yang dengan bersemangat lelaki itu ceritakan padanya.


Namun apa yang dia dapat sekarang?


Lisa baru saja mematahkan kaki kepiting besar dengan baluran saus pedas asam manis sebagai makanan pembuka dari menu yang sangat ingin ia coba karena terasa menggiurkan saat melihat beberapa tamu resort yang memesan makanan yang sama saat Noren mulai sibuk dengan ponselnya dan terlihat sangat serius.


Yah, itu bukan sesuatu yang seharusnya menjadi ketidaksukaan Lisa karena Noren tentu saja bebas melakukan apapun yang dia ingin lakukan. Lisa tidak peduli ketika pembicaraan mereka tentang hal random aneh yang mampu Noren munculkan sebagai bahan percakapan selama menunggu makanan hingga makanan tersebut datang, terpotong dengan begitu saja saat lelaki itu mulai mengalihkan atensinya pada benda persegi panjang tersebut.


Lisa bersumpah dia tidak terganggu. Perempuan itu merasa lebih puas untuk mengumpulkan beberapa kerang yang berada di dekat jangkauannya dan mengambil dagingnya untuk disatukan dengan daging kepiting yang terasa sangat lembut di lidahnya. Jujur, Lisa hanya ingin menangis karena rasanya begitu enak dan mewah. Dia akan mencoba untuk memesan beberapa seafood lagi suatu hari nanti untuk menemukan rasa yang sama yang menggoda indera perasanya. Perutnya juga terasa sangat senang untuk menerima kelezatan yang masuk kedalam pencernaannya seperti bongkahan emas baru yang berkilau memancarkan rasa yang meleleh dalam kesempurnaan kata enak yang tertahan di lidah.


“Wajahnya serius banget. Enak makanannya, Lisa?”


Lisa mengangguk, tidak repot-repot untuk memperhatikan Noren yang dia tahu sedang gelisah di tempatnya. Pun, rasanya dia tidak cukup peduli jika Noren ingin melakukan apapun selama dia masih bisa menikmati rasa makanan yang enak dan juga janji bersenang-senang yang Noren kemukakan beberapa waktu yang lalu. Namun jika tidak, Lisa tidak akan peduli. Tentu saja, tidak semudah itu karena itu akan berakibat fatal bagi Noren sendiri. Lisa tidak bisa menjanjikan dia tidak akan melakukan sesuatu jika Noren memilih apapun yang lelaki itu pilih daripada menepati omong kosong yang coba dia buat Lisa untuk membayangkan keseruan yang terjadi di depan mata dalam beberapa waktu kedepan.


“Syukurlah kalau gitu. Mau tambah lagi? Kerangnya masih cukup nggak? Mau coba kerang bambu atau mau baby gurita? Tadi katanya bakalan ada lima belas menit lagi, kan? kalau mau biar aku pesen buat kamu”


Lisa tahu, Noren tengah berbasa-basi sebelum lelaki itu melakukan apa yang dia akan lakukan. Dalam hal ini, firasat Lisa sudah mengatakan bahwa lelaki itu akan pergi ke suatu tempat dan memohon maaf padanya seperti orang yang melakukan kesalahan berat apapun itu. Yah setidaknya, lelaki itu tahu bahwa dia berada di atas garis yang tipis saat ini.


“Nggak mau. Ini masih banyak. Kalau pesan sekarang takutnya mubazir nggak kemakan. Pesan baby guritanya nanti aja kalau kita udah mau lomba lukis sunset kayak yang lo bilang ke gue tadi”


Lisa bersikukuh. Sebenarnya, memikirkan bahwa dia akan mencoba berbagai menu di tempat itu terdengar sangat menggiurkan. Tapi, Lisa mencoba untuk lebih realistis, perutnya baru saja menelan makanan yang telah dia bawa dari rumahnya beberapa waktu yang lalu dan sekarang sedang menikmati hidangan lain yang tersaji begitu banyak di meja mereka. Lisa takut jika dia hanya lapar mata dan berakhir membuang-buang makanan. Dia tidak begitu suka memikirkannya. Alasan lainnya adalah, dia takut perutnya terkejut dan hanya akan meninggalkannya di belakang dengan pintu kamar mandi yang tertutup dan perut nyeri yang bergemuruh bersemedi di atas dudukan toilet yang tidak terlalu menyenangkan untuk dialami dalam liburan kebebasannya.


Jadi, tidak. Dia akan menikmati makanannya perlahan-lahan dan akan memesan yang lain jika dia sudah menginginkannya lagi.


“Ah, soal sunset..” Noren bergumam dengan bisikan suara kecil dan ringisan yang tidak tertinggal di pendengaran Lisa.


“Kenapa sunset-nya? Jangan bilang bakalan hujan?”


Lisa tahu itu tidak benar. Tetapi ketika dia menengadah dari makanannya untuk memperhatikan Noren, dia mendapatkan kesan bahwa Noren pastilah akan segera beranjak dari tempatnya dalam beberapa waktu kedepan. Namun, ringisan yang dia sertakan dalam nada suaranya itu sama sekali tidak cocok dengan wajahnya yang terbentur senyuman kecil yang puas. Itu aneh, Noren pasti sedang merencanakan sesuatu yang sudah pasti tidak akan Lisa sukai dalam beberapa waktu kedepan.


“Enggak kok. Bukan hujan. Nggak bakalan hujan hari ini karena aku udah cek prakiraan cuaca sejak awal. Jadi, nggak bakalan hujan. Kamu tenang aja, ya” Suara Noren terdengar lembut yang terlontar dari getaran senyuman aneh yang coba ia tahan dengan aneh.


Lisa mengernyit. Pose duduknya sekarang lebih sadar dan lebih tegap. Apapun yang dilontarkan oleh Noren beberapa saat lagi, Lisa yakinkan dia tidak begitu peduli dan tidak terlalu mengganggunya. Di dalam hati, Lisa berharap bahwa Noren tidak melakukan hal-hal aneh yang membuatnya tidak nyaman seperti saat-saat dimana Lisa mengalami mimpi buruk sebelum dia memutuskan untuk membiarkan Noren menjadi temannya.


“Jadi? Lo mau ngapain?” Lisa bertanya dengan blak-blakan. Dia bahkan tidak peduli jika dia mengunyah daging kepiting dari kakinya secara langsung tepat di depan Noren yang memperhatikan dengan kedua matanya yang membulat lucu antara terkejut dan agak disayangi.


“Ah..” Lelaki itu meggaruk bagian belakang kepalanya yang Lisa yakin tidak ada alasan gatal di balik tindak tanduknya. Noren pasti akan mengatakan sesuatu tentang kehadirannya. Firasatnya sudah mengatakan seperti itu.


“Lo mau pergi, kan?”


Bukannya dia tidak memperhatikan. Sejak saat Noren sudah memegang ponselnya, lelaki itu pastilah sudah berniat untuk pergi dari sisinya. Bukannya Lisa mengeluh, tetapi Noren terlalu besar kepala dengan bagaimana janji-janji yang dia paparkan pada Lisa sepenuhnya hanyalah kepalsuan semata jika lelaki itu benar akan pergi begitu saja. Tapi siapa peduli, biarlah Noren pergi dan Lisa bisa mengurus dirinya sendiri.


“Eh, enggak, kok. Siapa bilang?”


Lisa mengerjap, agak aneh ketika Noren yang sebelumnya seperti rusa yang terjebak di lampu merah karena ketahuan oleh lampu sorot yang langsung menerpa, mengelak begitu saja dan mencoba untuk berbohong. Memicingkan mata, Lisa mencoba mencari tahu apa yang membuat lelaki itu membuang pikirannya untuk pergi secepat elakan yang dia semburkan pada nya.


“Oh yaudah kalau nggak. Kenapa harus kaget begitu wajahnya?” Lisa mencibir. Dia tahu bagaimana Noren sedang memiliki pertarungan gejolak dirinya sendiri. Menyeringai, Lisa akan dengan senang hati melihat bagaimana Noren memilih sisi yang akan dimenangkannya.


"Enggak kaget, kok. Kamunya jangan mikir yang macem-macem. Ini aku disini bakalan jagain dan nemenin kamu sampai liburannya selesai”


Noren menutur senyum. Lisa mengangguk, acuh tak acuh dan kembali pada makanannya. Dia tahu bahwa Noren akan pergi cepat atau lambat, tetapi lelaki itu memilih untuk mengulur waktu dengan banyak alasan. Menurut Lisa, jika Noren ingin pergi, silahkan saja. Dia juga tidak melarang sama sekali. Toh, meskipun Lisa akan membuat hidup Noren setelah ini penuh dengan pembalasan dendam karena janji lelaki itu sungguh adalah kepalsuan semata, siapa Noren yang harus tau itu? Itu adalah pembalasan dendam yang akan Lisa lakukan jika Noren sungguh akan pergi begitu saja.


Lisa akan melihat seberapa jauh Noren akan tinggal. Lelaki itu terlalu banyak kebanggaan yang coba dia tekankan dan paksakan.


“Oh gitu” Lisa mengangguk, kembali membuka kerang dan menambahkan nasi yang sudah dibaluri saus yang sama dari tetesan kerang sebelumnya.


“terus, sunsetnya kenapa dong, Kak?” Lisa menyeringai, dia tahu cepat atau lambat lelaki itu akan memilih sisi dan kalah dengan apa yang harus dia lakukan.


Pergi atau tinggal-, dua-duanya bukan merupakan masalsah bagi Lisa. Namun, jika Noren tidak menepati omong kosongnya tentang menghabiskan setengah hari lainnya dengan apapun yang ia lontarkan sebelumnya, Lisa pastikan lelaki itu akan menanggung beban moral yang lebih besa dan Lisa tidak akan pernah melepaskan lelaki itu begitu saja.


Oh, selalu ada pembalasan bagi seorang pembohong. Dan Lisa pastikan dia akan membuat Noren merasakan pembalasannya.


“Ah, sunsetnya-ya..”


Noren terlihat panik, tetapi dia tetap berusaha tenang dengan mencoba mematahkan sisi lobster besar miliknya sendiri.


Bibirnya baru saja akan berucap kata ketika dering ponselnya kembali mengejutkan Lisa. Mata Lisa mengikuti bagaimana Noren melepas sarung tangan plastiknya dan kemudian berdiri untuk mengangkat panggilan telpon miliknya tanpa kata dan tanpa melirik Lisa sama sekali seolah dia sedang sendirian disana. Mengernyit, Lisa mengangkat kedua bahunya juga sama sekali tidak peduli dan melanjutkan acara makannya.


Itu waktu yang lama dibutuhkan untuk melakukan panggilan dengan entah siapapun yang diurus oleh Noren sendiri. Lisa bahkan sudah mulai berdiri untuk memesan beberapa menu yang menariknya untuk mencicipi hidangan lain yang tertera sedemikian rupa.


Ada beberapa cumi dan tentu saja, baby gurita yang dia pesan. Semuanya dengan bumbu dan saus pedas yang menggugah selera. Ada tiram yang juga dia ingin coba serta makanan seperti bulu babi yang menggelitik rasa penasarannya. Tetapi mungkin, itu untuk lain waktu setelah dia mencoba makanan lain yang lebih wajar. Lisa juga bahkan memesan sup rumput laut dan minuman dingin dengan jeli rumput laut di dalamnya. Sungguh, dia merasa begitu banyak makan saat itu, tetapi Lisa hanya ingin mencoba beberapa makanan yang belum pernah coba dia nikmati sebelumnya. Lagipula, makanannya enak. Siapa yang bisa mengoceh tentang nafsu makannya yang membengkak?


Lagipula juga, tidak sering dia melakukan hal seperti ini. Jadi, selagi ada waktu, kenapa tidak sama sekali? Lisa akan mengambil kesempatan ini secara penuh di kedua tangannya dan tidak akan pernah dia sia-siakan.


“Lisa, maaf ya aku tinggalin tadi”


Noren datang lagi. Kali ini wajahnya lebih sumringah daripada sebelumnya. Lelaki itu terlihat takjub dengan beberapa hidangan yang datang silih berganti untuk memenuhi pesanan Lisa.


“Wah, banyak banget makannya. Seneng deh kalau kesayangan aku makan banyak begini. Lisa suka banget seafood, ya?”


Noren menyeringai. Dia kembali memasang sarung tangan plastiknya untuk mengambil lobsternya kembali, dan kali ini, menambahkan dengan sate cumi bakar yang Lisa pesan sebelumnya dan baru saja dihidangkan dengan asap yang mengebul. Lisa membelalak, memukul tangan Noren dan segera menyingkirkan makanan miliknya sendiri.


“Gue belum ambil yang ini. Jangan seenaknya, ya, lo, Kak!” Lisa tahu dia sedang bertingkah kekanakkan sekarang. Tapi, sate itu hanya dua porsi dan dia ingin memakannya yang pertamakali. Noren tidak akan dia izinkan untuk mengambil bagiannya. Lelaki itu bisa memesan sendiri atau mengambil nanti ketika Lisa sudah memakan suapan pertama.


“Aduh lucu banget. Yaudah kalau gitu makan yang banyak, ya. Aku seneng banget lihat kamu makan banyak loh, Lisa” Noren bergumam. Terlihat lebih senang dari sebelumnya.


“Yaudah, kalau gitu jangan ganggu gue makan” Lisa menjulurkan lidahnya, mengejek seperti anak kecil ketika dia terkekeh dengan geli kemudian setelah melancarkan aksinya.


Beberapa waktu, Lisa merasa sedemikian rupa cepat merasa nyaman dengan kehadiran Noren. Mereka bahkan sudah masuk ke dalam mode bercanda saat Lisa membagikan sate cumi bakar pada lelaki itu yang diterima dengan sedemikian rupa wajah bahagia yang coba dia buat di depan Lisa. Mencoba menunjukkan bahwa lelaki itu sedang bersungguh-sungguh.


Hanya saja, candaan mereka tidak cukup lama sampai Noren kembali mendapatkan panggilan masuk. Kali ini, sama seperti tadi. Tanpa kata dan pamit, lelaki itu kembali berbalik untuk mengangkat telpon dan berbicara dengan orang di seberang sana. Lisa berdecih, kepalanya menyuarakan bahwa Noren sangat tidak sopan dan itu sedikit melukai harga dirinya. Namun, dia abaikan karena, apa yang coba dia harapkan dari Noren? Oh, tentu saja tidak ada.


Jadi Lisa berhenti untuk peduli.


Sayangnya, itu terjadi lebih dari tiga kali dan Lisa hampir muak dengan apa yang Noren lakukan. Jika saja lelaki itu mempunyai urusan penting, seharusnya dia lakukan saja dan tidak membuat acara makan Lisa terganggu.


“Kak Noren-,”


Brak!!


Lebih dari itu, Lisa adalah orang yang hampir terkena serangan jantung mendadak karena tingkah Noren yang memukul meja tanpa basa-basi. Mengerjap, Lisa bisa melihat wajah Noren agak frustasi, tetapi beberapa detik menghilang saat dia menghela napas dengan dalam.


Noren dengan gerakan tegas, mengupas sarung tangan plastik yang dia kenakan. Mengambil ponselnya dan mengetik dengan cepat dan entah apa, dia berdiri dengan tatapan paling serius di wajahnya.


“Lisa, gue nggak bisa. Gue harus pergi sekarang.”


Itu saja.


Hanya itu yang disebutkan oleh Noren dengan suaranya yang lantang sebelum lelaki itu bergegas pergi begitu saja. Tidak ada omongan atau ucapan lain lagi saat lelaki itu perlahan menghilang di balik beberapa tanaman palsu dan dinding, menjauh dari Lisa yang menganga tidak percaya.


Dan itu?


Noren tidak memanggil dirinya dengan sebutan aku.


“Hah?”


Mendaftarkan apa yang terjadi adalah sebuah hal yang memakan waktu. Lisa mengerjap beberapa kali dan butuh waktu lama untuk menyadari bahwa nasi dalam cakupan jarinya telah jatuh ke atas plastik mika yang memang dijadikan alas untuk makanan mereka.


Diam dan menutup mulut adalah apa yang dia lakukan sebelum segala hal mampu otaknya proses dalam emosi yang menyinggungnya. Itu seperti kobaran api saat dia menyadari apa yang telah Noren lakukan padanya.


“Anjing”


Dia mengumpat. Menutup matanya saat dia sadar bahwa orang-orang yang tersebar di sana sedang mengomentari apa yang terjadi dari pertunjukan sialan Noren.


“Brengsek! Noren sialan!”


Itu dia. Noren mempermalukannya dengan mengadakan pertunjukkan seperti dia sedang dicampakkan begitu saja. Orang-orang berbisik, mengatakan hal yang sama dengan apa yang kepala emosinya katakan. Dia terlihat seperti seseorang yang dicampakkan dalam acara kencan (meski sebenarnya ini tidak benar sama sekali) dan dia merasa dipermalukan di depan banyak pasang mata.


Wajahnya memerah. Kali ini, dia tidak bisa untuk menahannya lagi. Noren menghancurkan semuanya dan dia sungguh merasa rendah. Tidak ada yang pernah memperlakukannya seperti ini dan Lisa sungguh sangat murka.


Tapi jauh dari makna murka itu sendiri, Lisa merasa malu.


Dia seperti sedang dipertontonkan dan dia sangat malu.


Sebenarnya, jika Noren pergipun, Lisa tidak masalah. Dia bisa menangani dirinya sendiri. Namun dengan Noren bersikap seperti ini padanya?


Lisa tidak akan membiarkan lelaki itu lolos dari ini. Noren akan mendapatkan balasannya.


Tapi kali ini, dia harus menyelamatkan wajahnya terlebih dahulu.


Jadilah dengan itu, dia menelpon Sinar sesegera mungkin.


Meskipun dia merasa ada yang janggal dengan sang kakak-, dalam kemurungan dan tidak adanya omelan emosi panjang lebar yang lelaki itu pasti biasanya akan lontarkan, apalagi terkait dengan masalah sahabatnya-, meskipun agak aneh saat lelaki itu hanya memasang senyuman tidak lepas saat menenangkannya-, dan meskipun bahu sang kakak lebih rendah daripada biasanya saat ia bersandar dalam pelukan menenangkan-, Sinar tetap berusaha untuk mencoba yang terbaik melindunginya dan menjadi orang yang menghabiskan waktu liburan bersamanya.


Meskipun aneh, Lisa lebih berfokus pada putaran emosinya, memutuskan untuk bersenang-senang dan mengumpati Noren di waktu yang sama-, dan kemudian mengambil banyak kesempatan untuk menguasai apa yang telah Noren sialan itu sediakan untuknya-, Dia akan memanfaatkan apapun yang ada disana. Liburannya harus berakhir baik dan dia bisa memikirkan pembalasan yang terbaik untuk Noren setelahnya.


Tidak apa-apa. Lisa berjanji akan membalas dendam cepat pada Noren dan lelaki itu tidak akan lepas dari hukumannya.


“Pokoknya gue harus balas dendam sama sahabat lo, Kak. Bisa-bisanya dia mempermalukan gue di depan orang-orang! Emang udah sinting si Noren brengsek!!”


“Udah, nggak usah dipikirin. Sekarang katanya mau ke kolam air panas? Ayo”


“Kak, lo nggak marah adek lo diginiin sama sahabat lo?”


“Gue serahin sama lo buat marahin dia, dek. gue udah males”


“Hah?”


Ya. Meskipun Kakaknya semakin lama semakin aneh dan tidak seperti biasanya, tapi Sinar benar. Dia yang akan membalas apapun yang Noren lakukan padanya. Saat ini, dia akan fokus bersenang-senang dalam sisa waktu liburannya.


Dia pastikan, Noren akan sadar dengan siapa dia coba bermain.


......................


“Sekarang, masalahnya ada dimana? Sudah berapa kesalahan untuk ini?”


Matanya tajam, jelas sangat kesal.


“Bukannya saya udah milih desain dan segalanya udah rapi sedemikian rupa? Kenapa masih ada yang salah? Coba saya lihat. Ada berapa yang salah produksi? Datanya cepat serahkan sekarang!”


“Maaf, pak, saya janji itu tidak banyak yang salah. Hanya beberapa-,”


“Saya tanya berapa tepatnya yang salah?”


Itu suara tegas. Jelas sangat marah. Orang-orang lain yang berada disekitar segera diam. Berhenti di jalurnya ketika pria kecil dengan rambut klimis menyerahkan data kesalahan yang telah dilakukan.


“tiga ratus enam puluh dua?”


Jelas, itu bukan jumlah yang sedikit untuk disukai Noren sendiri.


“M-maaf-pak, seharusnya tidak-,


“Maaf Pak Noren, saya baru saja dikabarkan bahwa Royal Ritzz Carlton Hotel tiba-tiba membatalkan reservasi dan kerjasama untuk-,”


“Tunggu, apa? Coba ulangi sekali lagi”


Noren merasa, dia akan meledak saat itu juga.


......................


...🍁...


...Perjalanan Yang Direncanakan; Dicampakkan?...


.........


...🍁🍁🍁...


A/N: Halo! maaf udah menghilang beberapa waktu🤧


semoga masih ada yang ingat dan rindu cerita FIYT 🥺🧡


Semoga semuanya sehat dan bahagia ya🥰 Jangan lupa ikuti perjalanan Nalisa-Noren dalam cerita ini!


Komentar dipersilahkan😊