
Jika Alpino jatuh cinta pada sahabatnya dengan penuh percaya diri dan rasa sayang yang dia tunjukkan dengan kesadaran penuh, namun terhalang oleh janji yang ia segel dalam hidupnya;
Fajri yang jatuh cinta pada sahabatnya dengan penuh rasa insekuriti dan ketakutan nyata akan sisi negatif yang dia miliki akan opsi kehilangan sehingga dia membangun batas perasaanya sendiri;
Hala akan mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada sahabatnya dalam hening ruang yang dikuncinya. Dalam diam, di balik bibir yang mengatup tipis dan hati berbisik rasa dengan ketenangan yang dengan bangga dirinya mengatakan bahwa dia memiliki kontrol perasaan paling hebat di seantero semesta.
Hala seratus persen yakin bahwa, tidak ada satu orangpun yang bisa mengatakan dia sedang atau bahkan, sudah jatuh cinta pada satu orang tertentu di dalam setiap langkah kehidupannya yang bergerak maju.
Dia mungkin akan cekikikan di satu tempat karena dia berhasil mengelabui semua orang. Dia akan berjalan dengan penuh percaya diri, mengatakan bahwa dirinya tidak terpengaruh oleh perasaan apapun yang hinggap dalam hatinya, tidak terpengaruh akan godaan yang datang dari mana saja tentang dia yang tidak peduli pada perihal romansa masa muda-, meski sebenarnya hal-hal romansa sangat mampu untuk mempengaruhinya dengan kuat.
Sebenarnya, banyak yang berspekulasi tentang perasaannya. Mata hatinya sudah terlihat untuk siapa itu di arahkan. Banyak yang menggodanya tentang rasa cintanya ke satu orang itu, namun dengan kebohongan dan elakan terbaik yang dia sampaikan dengan wajah lurus penuh keseriusan, orang-orang selau percaya bahwa spekulasi dan tuduhan mereka tidak benar adanya. Dia adalah seorang aktor dengan lidah licin yang bisa menjadikan sebuah kebohongan menjadi keseriusan yang nyata. Hingga yang ada hanyalah godaan dari orang-orang hanya untuk mengajaknya masuk dalam candaan ringan membentuk suasana.
Dia pintar menyembunyikan hatinya, pintar pula membual untuk menjadikan segala hal menjadi nyata. Bukannya dia ingin membohongi semua orang, bukannya dia berbohong dalam hal-hal buruk untuk membuat kekacauan ini itu di dalam kehidupan sosial. Sayangnya, kebohongan pintarnya ini adalah siasat yang terbaik yang bisa dia lakukan untuk menutupi perihal rasa pribadinya.
Dia tidak ingin mengekspos perasaannya ke dunia. Dia tidak ingin orang lain tau bahwa dia sedang menyimpan rasa. Dia ingin menghargai perasaannya dalam diam, cintanya hanya dalam gelembung yang dia punya saja. Dan juga, dia melakukan hal itu untuk tidak membuat sesuatu menjadi kacau dan berantakkan. Kebohongan yang dia lakukan adalah sebagai strateginya untuk hidup dalam zona nyamannya yang konstan.
Dia tidak suka masalah karena hidupnya sudah dikerubungi oleh berbagai macam hal yang membuat kepalanya hampir terpisah dari tubuhnya, hatinya yang robek dari rongga dadanya. Dia tidak suka semua hal itu. Sudah cukup masalah pribadinya yang mengacaukan setiap serat otaknya, setiap sel tubuhnya yang lelah dan mati rasa. Dia tidak ingin masalah menghampiri hatinya juga.
Meski sebenarnya, dengan jatuh cinta pada sahabatnya yang acuh tentang cinta adalah hal yang menyakitinya luar dalam.
Tidak.
Hala akan menyangkal bahwa dia sakit karena perasaannya sendiri. Dia menyangkal dengan keras setiap kali rasa sakit itu hadir di saat-saat tertentu. Dia akan menghindari perasaan hitamnya yang menariknya ke relung hati tergelapnya hanya untuk merengek dan menangisi hidupnya yang kacau dan penuh masalah, bahkan menambahkannya dengan menjatuhkan hati pada seseorang yang sangat terlarang.
Sulit rasanya untuk hanya diam dan menyimpan perasaannya dibalik senyum riang dan sumringah serta kata ucapan bahwa dia baik-baik saja dan bahagia. Sulit rasanya untuk menyegel semua cerita yang ingin dia ceritakan pada dunia bagaimana jantungnya terasa bergejolak dan sakit disaat yang bersamaan. Sulit baginya untuk tidak hanya mengomel tentang bagaimana dia merasa.
Tapi bagi Hala, semua itu cukup.
Cintanya cukup, hanya untuk dinikmati dirinya sendiri, seorang diri untuk merasa tanpa harap lebih untuk hubungan lebih lanjut. Semuanya terasa cukup baginya hanya untuk melarikan diri dari permasalahannya dengan mengembangkan rasa dalam garis batas tertentu untuk satu orang itu. Dia tidak akan maju untuk perasaannya, tidak akan menuntut untuk rasa itu agar dikembalikan. Dia senang dengan gelembung cinta nano-nano nya, pun dia menikmati jalan cerita hidupnya yang kadang hanya ingin menariknya untuk menyerah.
Namun selama ada satu orang itu yang di genggam dalam hati paling tulusnya tanpa meminta balas, dia merasa bahwa dia cukup untuk terus melangkah maju menyingkirkan permasalahan pribadinya.
Setidaknya dia berhasil melakukan hal itu sampai detik ini dia bernapas.
Dan dia yakin akan melakukannya sampai perasaannya hanya akan menghembus ke udara segar, menghilang dari dalam hatinya karena fase cinta itu sudah habis masanya.
Begitulah yang dia percayai. Yang dia ingin percayai.
Tentu saja, satu orang yang menempati hatinya selama beberapa tahun kebelakang satu dan tidak lain juga tidak bukan adalah Heksa sendiri. Sahabatnya-, tidak, coret itu, Hubungan yang dia jalani dengan Heksa bahkan tidak pantas lagi di sebut sebagai sahabat. Hubungannya dengan Heksa sudah lebih memasuki fase spesial di atas kata sahabat itu sendiri.
Jika orang-orang bertanya tentang kata yang lebih besar maknanya dari cinta, maka Hala akan bertanya tentang kata yang lebih besar maknanya dari sahabat.
Hala dan Heksa memiliki hubungan dengan kedudukan satu langkah di atas persahabatan, namun begitu jauh di bawah hubungan kasih sayang romansa. Hubungan mereka berada mungkin di tengah-tengah di antara keduanya, hingga Hala sendiri menyerah mencari kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan mereka sampai dengan sekarang.
Hala ingat, dia menemukan sosok pengecut dan cengeng itu ketika kenaikan kelas 5 di sekolah dasar. Benar, Heksa adalah anak yang lemah dan cengeng waktu itu. Jadi, mengamati dan berada di sisi lelaki itu dalam masa pertumbuhan pesatnya, adalah satu hal yang membuatnya kagum dengan segala bentuk perubahan yang nyata adanya.
Meskipun, sifat manjanya dan sangat membutuhkannya tidak pernah berubah hingga detik ini.
Seperti bagaimana sekarang terjadi. Ah, setiap hari terjadi.
“Laa!”
Teriakan dari suara bass yang meninggi itu memenuhi keseluruhan rumahnya yang hening. Hala yang baru saja selesai memandikan kucingnya hampir terperanjat dengan seberapa besar teriakan itu menggema di telinganya. Meskipun sudah seringkali terjadi, refleks kaget Hala masih menjadi sesuatu yang tidak pernah berubah, Dia selalu terkejut kapanpun Heksa mulai berteriak dengan tidak sabaran dan dengan rengekan aneh yang membuat Hala pusing dengan cara terbaik-, terkadang juga sangat menyebalkan.
“Lo lihat kemeja hitam gue nggak? Gue cari di lemari kok nggak ada, ya? Gue butuh, hari ini dresscodenya pake item-item”
Dia berteriak lagi. Suara langkah kakinya mulai mendekat ke arah Hala yang baru saja ingin menyalakan hairdryer untuk mengurus bulu basah Pipang-, sang kucing, dengan sangat tergesa dan agak panik. Hala memutar bola matanya malas ketika dia menyelimuti kucingnya yang kedinginan kembali hanya untuk memutar tubuhnya untuk menemukan sosok Heksa yang hanya dengan boxer nya dan handuk yang dikalungkan di lehernya membuka pintu ruangan dengan wajah tertekuk yang panik.
“Ada di ruang setrika, coba di lihat dulu itu, belum sempat gue pindahin ke lemari” dia menjawab dengan tenang. Lelaki di depannya, tanpa bisa berekspresi dan setengah telanjang memilih untuk berlari ke arah ruang setrika yang disebutkan demi untuk menemukan pakaian yang dicarinya.
Sudah terbiasa dengan pemandangan, Hala tidak akan mengelak bahwa keadaan yang terjadi di rumahnya ini adalah kebiasaan yang mereka bangun bersama. Sudah lama sekali, dia tidak ingat kapan itu pertama kali terjadi, tapi rasanya seperti tidak ada kecanggungan yang terjadi. Semua hanya berjalan dengan santai seolah-olah tidak ada yang terganggu.
Hala juga tidak akan mengomentari bahwa ini adalah rumahnya, sedang rumah Heksa sendiri ada di sebelah. Anak itu seringkali menginap di rumahnya, bahkan lebih banyak tertidur di ranjangnya daripada ranjang dingin lelaki itu sendiri. Bahkan, hampir setengah lemari milik Hala terisi dengan pakaian Heksa seolah dia ada di mana-mana. Tapi sekali lagi, itu adalah hal yang tidak ada satupun dari mereka ingin mengomentarinya.
“Hala!”
Lagi, panggilan itu menggema di seluruh rumahnya seolah-olah Heksa tidak mengingat bahwa mereka masih mempunyai tetangga di kanan dan kiri yang akan mengomel lagi tentang betapa berisiknya anak itu di pagi hari.
Hala menjawab dengan gumaman dan lebih memilih fokus dengan kucingnya yang membutuhkan perhatiannya dari pada lelaki dewasa yang masih seperti bocah bongsor pengganggu. Derap langkah kaki setengah berlari Heksa bergema di ruangan, lagi-lagi, sudah terbiasa dengan suara-suara gaduh yang disebabkan oleh lelaki itu.
“Dasi gue yang merah garis garis kuning dimana, deh? Gue cari kok nggak ada? Aduh, udah jam berapa ini gue kalau telat nanti bakal di omelin sama Pak Sasongko”
Dia mengomel di bawah napasnya sembari mengancingkan kemejanya yang masih setengah terkancing. Bagian bawahnya masih di balut boxer seolah dia melupakann celana kerjanya sendiri. Hala menarik bibirnya menjadi satu garis tipis setelah merasa bahwa Pipang sudah selesai di keringkan dan sudah dalam kondisi yang lebih baik untuk dibiarkan bermain bebas, dia memilih untuk memuasatkan perhatiannya pada bayi bongsor lain yang hidup di rumahnya ini.
“Ada di lemari gue, deket gue gantung mukena. Coba cari yang bener, jangan panikan, masih jam setengah delapanan juga, sih, Sa”
“Oke” Dia menjawab dalam satu napas sebelum kembali berlari ke kamar untuk mencari dasinya.
Hala membiarkan, dia memilih untuk mengemas bekal yang sudah dia siapkan sejak pagi tadi sebelum lelaki itu bangun dari tidur mati-nya. Mempersiapkan apa yang dibutuhkan oleh Heksa sudah seperti bagian dari kebiasaannya sehingga itu semua menjadi rutinitas yang tidak perlu dia keluhkan untuk sebagian besar kehidupannya yang dihuni dan ditumpangi oleh makhluk tampan menyebalkan dan disayangi satu itu.
“Hala!!”
Lagi.
Hala menepuk dahinya tepat ketika dia telah memasukkan kotak bekal ke dalam tas khusus dan menyimpannya di sebelah tas ransel kerja milik Heksa.
“Kalau kaos kaki gue dimana, dah? Nggak nemu ini yang satunya”
Kepala lelaki itu menyembul dari balik pintu kamarnya bersamaan dengan satu tangan yang melambaikan kaus kaki hitam bergaris abu di ujungnya. Wajahnya merengut, persis seperti anak kecil yang tidak puas dengan banyak hal yang tidak bisa ditemukannya di dunia.
Jika dia tidak terbiasa dengan hal seperti ini, Hala pasti akan membuang Heksa jauh-jauh dari kehidupannya. Namun apalah daya, anak lelaki itu sudah memiliki tempat spesial di hatinya dan perasaannya akan berdarah di dalam dan menyalahkannya hingga dia merasa menderita jika anak bongsor manja dan rewel itu dia enyahkan dari kehidupannya.
Jadi, Hala tidak bisa untuk menyingkirkan Heksa meski dia sangat ingin untuk melakukannya.
“Cari baik-baik, deh, Sa. Gue simpen itu sepasang kok. Lo tadi ambilnya dimana? Emang nggak dalam satu gulungan?”
“Kalau ada mah, nggak bakalan gue tanyain sama lo, La” rengeknya dengan bibir cemberut yang sangat tidak cocok dengan perawaka tubuhnya yang bongsor dan wajahnya yang jika sedang tidak bersamanya akan kehilangan kelembutannya dan kemanjaannya, diganti dengan seorang Heksa yang sok dingin dan jaim. Dia tahu bagaimana lelaki itu mengubah dirinya menjadi orang lain tanpa banyak usaha yang dia perlukan. Sudah terlalu banyak waktu bersama untuk dia paham bagaimana hal itu terlihat dan terbaca dengan hampir sempurna.
Dengan langkah santai, Hala menuju untuk membantu Heksa menemukan barang-barangnya yang tersebar di seluruh penjuru rumah. Entah apa yang dilakukan oleh lelaki itu hingga dalam mencari barang saja, dia sampai membutuhkan banyak waktu dan kepanikkan yang tidak perlu.
“Ini apa?” Hala melambaikan satu kaus kaki yang dicari Heksa. Anak itu bersungut-sungut sebeum menghela napas lega.
“Oke, makasih” ucapnya dengan berlalu. Duduk di sisi ranjang untuk memakai kaus kakinya dengan benar. Hala menggeleng dengan tidak percaya sebelum berbalik untuk meraih celana panjang Heksa yang tergantung di belakang pintu.
“Celana lo jangan lupa dipakai, Sa. Ceroboh banget, astaga”
Heksa terlihat kehilangan jejak sebentar sebelum dia mengangkat kepalanya hanya untuk memberikan cengengesan anak anjing yang tidak berguna dan seperti sebuah kebodohan yang nyata ketika dia menyadari bahwa dia sama sekali belum mengenakan celana kerjanya.
“Hehe” dia terengah-engah tanpa rasa malu. “Makasih, La. Lupa kalau gue belum pake celana. Emang cuma lo doang yang bisa gue andalkan. Best banget, Hala-nya gue”
Ada dua jempol yang dia berikan, mengambang di udara masih dengan cengiran yang tidak berguna untuk kesehatan jantung Hala yang lemah. Perempuan itu mencibir, masih memperhatikan bagaimana Heksa melompat untuk berdiri dan memakai celana kerjanya seperti dia tidak mempunyai banyak waktu di dunia ini.
“Bocah gede nyusahin” Hala mencibir sebelum dia melambai, memberikan kode pada lelaki yang kini sibuk berkaca untuk membenahi rambutnya. “Sarapan dulu sebelum berangkat. Bekal udah gue siapin, ransel lo juga jangan ketinggalan. Gue mau keluar ngajak Pipang jalan-jalan”
“Hah?”
“Lo nggak kerja?” tanyanya dengan penasaran yang hadir di wajahnya.
“Kerja lapangan gue, nggak ke kantor. Jadi gue masih punya banyak waktu buat jalan sama anak gue” Jelasnya membuat Heksa manggut-manggut dengan cepat sebelum kembali untuk memoles rambutnya agar lebih disukainya.
“Oke” singkatnya kemudian dengan acuh tak acuh.
Jadi dengan itu, Hala membiarkan Heksa untuk bersiap-siap dengan cara heboh dan gaduhnya lagi dan memilih untuk menemukan kucing kesayangannya untuk menghirup udara segar pagi hari di sekitar jalanan komplek perumahan.
...….....
Hala baru saja berhasil memasangkan tali khusus untuk mengajak pipang yang aktif berjalan-jalan ketika Heksa muncul dari dapur dengan semangat yang lebih kuat dari sebelumnya. Dia sudah sarapan, Hala mengamati ketika dia membawa kotak bekal dan ranselnya yang sudah terpasang sempurna di punggungnya. Bibirnya masih basah karena air yang diminumnya ketika Hala memperhatikan.
“Lah, masih belum keluar juga?” Dia bertanya dengan ekspresi terkejut yang tau.
“Nungguin lo selesai sekalian mau ngunci pintunya” Hala beralasan. Heksa sudah mempunyai kunci rumahnya, lelaki itu juga tidak pernah lupa untuk mengunci pintu seberapa hebatpun kecerobohan yang berhasil diperbuat oleh Heksa sendiri.
Hala hanya ingin mengantar lelaki itu ke depan rumah dalam sedikit kesempatan yang bisa dia ambil.
Heksa terlihat tersenyum dengan senang. Entah karena apa, tapi Hala bisa yakin bahwa lelaki itu sedang tidak meledeknya karena keinginannya yang mampu di baca, atau hanya sebuah keseringan yang terjadi diantara mereka. Heksa mungkin sudah terbiasa.
“Gue tinggal pake sepatu ini. Sebentar”
Hala memperhatikan sejenak ketika Heksa mengambil sepatu yang sudah dipersiapkan Hala beberapa waktu yang lalu. Lelaki itu bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk memasangnya secara sempurna di kedua kakinya dan mengikatnya dengan penuh semangat. Ketika dia melompat untuk berdiri, ada senyuman sumringah yang dia hadirkan untuk Hala.
“Yaudah, gue berangkat dulu, ya. Lo jangan jauh-jauh jalan-jalan sama anak ganteng gue, kasian dianya nanti capek. Lo juga jangan sampai terlambat buat kerja. Jangan mentang-mentang lo kerja lapangan jadi bisa santai-santai, ya. Kena potong gaji tau rasa, lo”
Heksa dan mulut besarnya yang kadang membuat Hala ingin sekali menjambak rambutnya yang sudah dengan susah payah dia rapikan. Terkadang, keinginan itu begitu kuat karena terdengar sangat menarik untuk mengacaukan hari seorang Heksa. Tapi dia urung karena tidak ingin menambah banyak keributan di pagi hari.
“Dih, Gue bukan lo, ya. Gue tepat waktu kalau mau kerja” Hala balas dengan cibiran sebelum melanjutkan, “Terus sejak kapan lo nerima Pipang gue jadi anak lo? Biasanya juga jadi bapak tiri jahat, lo” dia mengomel ketika dia mengangkat kucingnya dalam pelukannya.
Untuk kesenangan Hala sendiri, dia bisa melihat kilatan rasa geli dan kesenangan yang hadir di mata Heksa bersamaan dengan senyuman lebarnya yang seperti memancarkan kebahagiaan di pagi hari. Hala tersenyum tipis, suka mendengar bagaimana jantungnya berdetak halus untuk lelaki di depannya yang sangat tidak sadar.
“Gapapa, yang penting gue tetep bapaknya” Heksa mengambil satu kesimpulan final sebelum dia melompat kedepan untuk mencium kepala kucing yang saat itu telihat sangat tenang di dalam pelukan. Wajahnya gemas, tetapi dia tidak mengambil banyak waktu sebelum lelaki itu menjentik kening Hala dengan lembut.
“Gue berangkat kerja dulu, lo juga jangan lupa sarapan. Nanti kabarin aja biar gue jemput, oke?”
Hala mendengus ketika dia mengusap dahinya yang masih terasa sakit meski jentikan itu tidak lebih dari sengatan yang ringan.
“Aman itu.” Hala menjawab, mengikuti langkah Heksa keluar dari rumahnya. “Hati-hati!” Serunya ketika Heksa berlari menuju rumahnya yang sesungguhnya untuk mengambil motor miliknya. Lelaki itu mengangguk sebelum menghilang ke dalam pagar, meninggalkan Hala yang tidak repot-repot untuk menunggu lelaki itu benar-benar berangkat.
Dalam kegembiraan kecil pagi harinya, dia membiarkan Pipang membimbing langkahnya untuk membawanya pergi kemana saja buntelan bulu itu inginkan.
Rutinitas pagi harinya terasa jauh lebih penuh jika dia memikirkannya dengan lebih baik lagi.
Tapi tentu saja, perasaannya jatuh dengan lebih hangat. Terbukti dari rasa gatal yang membuat bibirnya tidak lelah untuk tersenyum dengan sangat lebar.
...…....
Namun bersamaan dengan perasaan hangat dan bahagia yang meyebar, tidak bisa dipungkiri bahwa itu berjalan bersamaan dengan sesuatu yang memperburuk keadaan. Meski itu bukan masalah yang akan membuat kepalanya pecah, tetap saja moodnya akan turun dan hancur dengan berantakkan sepanjang sisa hari itu.
Dua buah pesan masuk secara bersamaan dalam getaran notifikasi ponselnya. Hala tidak mengharapkan apapun dari siapa yang mengiriminya pesan, namun pesan tersebut dikirim oleh dua orang yang menghadirkan dua reaksi yang berbeda.
Yang pertama adalah pesan yang menghancurkan moodnya untuk sebagian besar waktu.
Namun anehnya, pesan kedua adalah pesan yang menghangatkan hatinya dengan cara lompatan imajiner yang lucu. Agak aneh, tidak disangka membuatnya begitu bertanya-tanya ada apa dengan dirinya. Namun, dia tidak berani untuk mencari tahu lebih lanjut karena itu akan mengacaukan banyak hal di sistem otaknya yang mulai rusak.
Jadi, reaksinya adalah konstan. Menghapus pesan pertama dan lebih memiih untuk membalas pesan kedua. Setidaknya, pesan kedua adalah apa yang bisa menggantikan mood buruknya menjadi sedikit lebih baik. Hala yakin, kedua pesan itu sama-sama tidak berbobot, namun dia lebih senang untuk memilih opsi yang tidak membuatnya menjadi monster jelek yang murung.
Diam-diam, dia berterimakasih pada Sinar karena telah mengiriminya pesan di waktu yang persis dia butuhkan.
Agaknya, itu menyenangkan untuk memilih perasaan baik-baik saja.
...…....
Mama
Kak Hala apa kabar? Nggak kangen mama? Kakak kapan pulang? Mama kangen sama kakak…
08.10 AM
Kak Sinar☀
Dek, gue pulang nanti malem, paling nyampenya besok pagi agak subuhan sih. Soalnya pakai jalur darat bareng Mas Wildan.
Lo mau gue bawain oleh-oleh apa? Sebutin aja, oke? Pokoknya harus disebutin apa aja soalnya kalau lo bilang terserah, gue bawain sama toko-tokonya sekalian buat lo. Sama mbak-mbak penjaganya juga kalau bisa gue bawain.
Ini pesannya dibales, ya? Jangan dianggurin. Soalnya gue lebih suka semangka dari pada anggur, sih. haha
08.10 AM
...…........
...🍁...
...Tentang Rasa (Hala Sight) : Bibir terkatup, Hati Berbisik...
.........
...🍁...
...🍁🍁...
...🍁🍁🍁...
terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo~ choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Muda Anna, nih!
Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA MUDA ANNA...
...JUDUL: APA SALAHKU, TUAN?...
Ningtiyas Paramitha adalah gadis 18 tahun baru lulus SMK jurusan tata busana. Dia harus menerima takdir dinikahkan siri dengan paksa oleh ayahnya dengan lelaki dewasa berumur 30 tahun dan telah memiliki istri bernama Alfarizi Zulkarnain. Kontrak nikah selama lima bulan tetapi Neng selalu mengalami kekerasan baik lahir maupun batin. perlakuan suami sirinya yang selalu melampiaskan kekesalannya akibat kesalahan istri sahnya. Setelah empat bulan berlalu Al meninggalkan Neng begitu saja, tanpa disadari Al meninggalakan benih janin di kandungan Neng. Akhirnya Neng meninggalkan desanya yang selama ini menjadi kebanggaannya. Pergi ke Jakarta untuk merubah nasib dan menyongsong masa depan yang lebih baik bersama janin yang dalam kandungan. Sayangnya takdir pertemukan mereka kembali setelah delapan tahun berlalu. Dengan situasi yang berbeda, apakah mereka akan bersatu kembali setelah Al mengetahui memiliki keturunan. Apakah Neng menerima cinta Al?
Selamat membaca🤗