
“Ini pasti ulah lo, kan? ngaku lo, Kak!”
Lisa, dengan ekspresi kesalnya ketika dia menyuruh Noren untuk masuk dan segera melipir menemui kakaknya, menendang tulang kering Sinar yang membuat lelaki itu hampir terjungkal dengan peralatan game yang sedang ia bawa. Perempuan itu menuduh dengan tatapan tajam. Kaos kebesarannya yang menenggelamkan postur tingginya terangkat tidak sampai di bagian perut ketika dia mencoba untuk meraih kedua bahu Sinar yang mengelak.
“Dih? Kenapa lo yang nggak suka banget, dek?” Memutar bola matanya dengan cekikikan khas hasil kejahatan Sinar, lelaki itu mengejek sebelum melenggang pergi ke ruang tengah dimana Noren sudah duduk dengan nyaman di sofa. Dari lorong, Sinar bisa melihat sahabatnya tengah meletakkan beberapa paperbag yang dibawanya dengan rapi di atas meja yang tersedia.
“Ih Kak! Lo nggak denger apa yang semalem gue bilang ke, lo? Serius, ini pasti ulah lo yang mau balas dendam sama gue gara-gara gue ngusik ketenangan lo dengan lagu-lagu yang gue nyanyiin dan gue setel seminggu penuh? Ngaku, lo!”
Lisa yang sebal mengekor dari belakang tubuh jangkung berisi kakaknya. Kepalanya hanya sebahu si sulung Cakrawijaya sehingga Lisa yakin jika orang melihat dari depan satu pandangan lurus, dia tidak akan terlihat sama sekali. Dari punggung belakangnya, Lisa bisa melihat betapa lebarnya punggung kakaknya yang dia tahu sangat nyaman dan selalu jadi tempat bersandarnya. Tetapi untuk kali ini, dia tidak melihat punggung itu dengan tatapan sayang, lebih pada tatapan laser kematian dimana dia ingin sekali melubangi daging yang menempel pada tulang tebal sang kakak.
“Siapa yang bales dendam, elahh? Orang dia dateng buat main game sama gue, kok. Kebetulan aja si Noren datengnya hari ini, sehari setelah lo cerita ke gue” Dia tertawa geli, melirik ke belakang, Sinar bisa melihat bagaimana bibir adiknya sudah maju beberapa senti ke depan. Pipinya sudah menggembung menyaingi pipi ikan buntal. “Nih, lo nggak lihat apa peralatan game di tangan gue? Kita, tuh cuma pengen main hari ini. Jangan kepedean lo kalau Noren dateng buat ngeliatin lo”
Lelaki itu memuntahkan kata dengan suara cempreng aneh yang dibuat-buat. Bibirnya ditarik ke kanan dan kiri untuk membuat gerakan ledekan.
“Tapi, ya, mungkin juga niat lainnya begitu. Dia kan bucin banget ke lo, dek. Haha. Lo, tuh, bukannya disapa dan kangen kangenan malah ngacir marahin gue. Nggak baik, Dek”
“Ogah!”
Lelah sendiri untuk menghadapi kelakukan gila kakaknya, Lisa memilih untuk berhenti. Dia merasa lelah sendiri. Tidak ada gunanya membuang-buang tenaga untuk hal yang tidak beguna seperti ini. Bagaimanapun kakaknya akan menang. Noren sudah ada di rumahnya, jadi apa yang bisa dia lakukan lagi? Dia tidak mungkin menendang Noren begitu saja. Lagipula, dia juga sudah acuh tak acuh dengan kehadiran lelaki itu. Dan jika Noren berulah? Dia hanya tinggal memuntahkan kata sarkas dan Ola akan kembali menjadi sasaran empuk emosinya.
Lisa menghela napas berat seolah-olah sedang melepaskan beban hidupnya yang sebesar jangkar. Jemarinya dengan naluriah memijat pelipisnya. Dia memilih untuk menyerah sebelum sebuah kesadaran tiba-tiba menyapanya dengan cepat.
“Bentar, bentar” Tangannya bergerak di udara seolah-olah mencoba untuk menenangkan diri dari gestur yang berulang. “Kalau lo pengen main kenapa malah bawa-bawa peralatan segala macem begini turun dari kamar lo?”
Tatapannya sudah menaruh curiga. Dia menganalisis ketika kakaknya hanya memberikannya seringai lebar yang bodoh seolah-olah sadar bahwa dia sedang melakukan kelicikan lain yang merugikan Lisa.
“Kak!” Lisa hampir menjerit matanya melotot tidak percaya pada kakaknya yang memilih untuk menggoyangkan tubuhnya untuk mengejek. Dia masih menunggu untuk kesadaran Lisa disuarakan dengan keras sebelum dia akan melarikan diri dalam waktu cepat.
“Lo mau pake ruang santai gue buat lo sama Kak Noren main?” tanyanya dengan horror. Lisa, sebelum membiarkan Sinar untuk kabur, dia sudah lebih dulu berinisiatif menarik baju kakaknya dengan seluruh kekuatan kekesalan di ujung kepalan tangannya. Giginya bergemeletuk.
Kakaknya seperti sedang mencoba untuk menarik dan mengukur batas emosi yang dimilikinya. Balas dendam lelaki itu lebih kuat daripada apa yang dia perkirakan.
“Iya?” berpura-pura bodoh adalah apa yang Sinar lakukan sekarang, tetapi Lisa tidak mengambil kegilaan yang kakaknya lepaskan.
“Nggak usah pura-pura bego, Kak Sinar!” Lisa merengek, “Kan gue udah bilang kalau gue mau nonton Dr.Strange hari ini! Kak Sinar, sumpah lo, Kak, jahat banget!”
“Loh kan gue yang udah booking duluan?” elaknya dengan cepat.
“Kapan?!” Lisa menuntut, kali ini lebih ingin menjaga ruangan kesayangan kedua miliknya daripada mengurusi soal kehadiran Noren saat ini.
“Sekarang!”
Sinar berteriak seperti anak kecil ketika dia kabur dengan kecepatan super menuju ruang santai yang memiliki mini home teater milik Lisa. Lelaki yang hampir memasuki kepala tiga itu tertawa dengan keras, bergema diseluruh penjuru rumah sebelum berteriak pada Noren saat melewati sosok lelaki yang ditinggalkan itu.
“WOI REN AYO CEPAT NGIKUT!!”
Lisa melihat dari tempatnya berdiri. Noren yang terkejut dan refleks menarik semua barang yang berada di atas meja dan berlari untuk mengikuti Sinar dengan tergopoh-gopoh ke ruangan dengan pintu cokelat mahony dan bertandakan ‘santai ya nyantai’ dengan beberapa stiker planet, bintang-bintang dan jangan lupakan dandelion yang dia dekor sedemikian rupa. Ada senyuman matahari yang cerah di atas papan tanda yang sekarang terbalik karena Sinar mendobrak pintunya dengan kekuatan yang berlebihan.
Lisa meratap. Dia menolak lupa bahwa kakaknya lebih gila dan menyebalkan. Mennghela napas dengan dramatis, Lisa berjalan lunglai menuju ruangan yang sejak semalam coba dia impikan bagaimana kenyamanan yang akan datang dengan kelembutan sofa dan plushie, ditambah semangkuk popcorn dan ayam tepung krispi yang dilengkapi dengan soda dingin untuk menonton salah satu film yang sudah dia nanti-nantikan.
Argh! Balas dendam sialan milik Sinar menggagalkan semuanya. Terlebih dengan kehadiran Noren yang tiba-tiba! Lisa harus memikirkan cara membalas dendam yang lebih parah untuk kakaknya. Itu cepat atau lambat harus mampu dia lakukan. Lisa bersumpah dengan kobaran api yang menggeliat disekitarnya seperti sesosok tokoh kartun pemarah.
Membenarkan papan tanda yang terbalik, Lisa memilih untuk bersandar di daun pintu yang terbuka. Ruangan masih terang benderang ketika Sinar, dengan lidahnya yang menyembul keluar dari sela bibirnya saat dia berkonsenterasi sedang sibuk memasangkan peralatan gamenya agar menyambung dengan layar televisi besar. Sedangkan Noren, lelaki itu terlihat tidak begitu menggebu seperti kakaknya. Noren berhati-hati dengan gerakkannya, terlihat lebih santai. Tangannya cekatan membantu Sinar dengan apapun yang lelaki itu butuhkan.
Tidak butuh waktu yang lama sampai keberadaannya disadari, Noren yang pertamakali tersenyum padanya dan melambai kecil. Ada sapaan yang terucap dari bibirnya tetapi untuk beberapa momen, Lisa tidak sadar bahwa Noren sedang berbicara dengannya.
“Lisa?”
Suara Noren agak khawatir. Lisa mengerjap, terkejut dengan mengapa dirinya tenggelam dalam pemikiran kosong yang aneh. Dia tidak memikirkan apa-apa dan hanya mengamati. Lisa menyalahkan ini pada kakaknya.
“Apa?!”
Ketusnya tanpa benar-benar berusaha untuk menggoreskan jejak sakit hati. Noren yang sudah terbiasa hanya tertawa.
“Oh, kirain nggak sadar” ucapnya dengan seringai aneh lucu di wajahnya.
Lisa memutar matanya malas. Dia akan beranjak pergi dan misuh dalam hati sebelum suara kakaknya kembali menarik dirinya untuk tetap tinggal.
“Lisa, mending lo ikutan kita main aja, sini. Sekalian lo coba cari camilan bareng si Noren. Soalnya dia cuma bawa oleh-oleh dari Finland” Sinar berseru. Lelaki itu bahkan tidak melihatnya ketika berbicara. Masih sibuk kali ini dengan mengatur beberapa hal di layar televisi lebar yang sudah menyala. Lisa melirik ke arah paperbag yang kali ini terlihat bersinar karena aura mahal yang langsung tercium ketika Sinar mengatakan bahwa itu adalah oleh-oleh Finlandia.
Ah, jadi itu adalah alasan kenapa Noren tidak hadir delapan hari berturut-turut dan tak meninggalkan jejak apapun. Yah, bukannya dia bertanya-tanya tentang itu.
“Atas dasar apa lo kira gue mau lo suruh-suruh?” Dia memilih untuk fokus menggertak sang kakak. Dia masih kecut dengan kelakukan Sinar.
“Insting” celetuk lelaki itu dengan acuh tak acuh. Dia masih terlalu senang dengan apapun yang dilakukannya. Lisa melotot pada lelaki tiang menyebalkan itu dalam respon yang tak terduga.
Sialan. Kakaknya memang meminta untuk mendapatkan pelajaran darinya. Kakanya harus melihat apa yang akan Lisa lakukan nanti. Itu pasti akan membuat lelaki itu lebih sengsara dari apapun yang Sinar bisa bayangkan.
“Sinting” Dia menggerutu.
“Udah, Lis. Ayo sini. Kita cari makan bareng-bareng”
Noren tiba-tiba angkat suara. Dia tersenyum dengan kelicikan yang tersembunyi di wajahnya. Lisa menatap dengan skeptis.
“Kamu nggak mau?” Noren menggoda seidikit, tangannya terangkat untuk menutup sebagian mulutnya dari pandangan Sinar ketika dia bersuara kembali. “Makan enak gratis?” lajutnya dengan kekehan gelinya seolah mengajak Lisa melakukan hal kriminal.
Lisa pada awalnya mengernyit, agak aneh sebelum dia tiba-tiba menggeleng dengan decihan yang berubah menjadi kekehan tawa. Mengangguk dengan sangat bersemangat dan hati-hati, Lisa masuk ke dalam ruangan. Menghapus semua kekesalannya pada sang kakak, dia memiliki banyak ide di kepalanya. Jadi, dia datang mendekati Noren dan melompat pada sofa untuk merebut ponsel kakaknya yang sudah berada di tangan Noren entah sejak kapan.
Lelaki yang baru saja dia temui lagi, kali ini tidak secara diam-diam lagi menyuarakan kesukaannya ketika Lisa sudah berada di sebelahnya. Dekat dengan jarak jangkaunya. Lisa, yang kembali merasa familiar dengan kehadiran Noren membiarkan lelaki itu mendekat padanya. Sama-sama membungkuk untuk melihat layar ponsel Sinar yang kali ini sudah terbuka aplikasi pesan antar makanan.
“Mau porotin uang Sinar dari makanan yang mana, nih?” Noren bersuara. Lisa entah kenapa merasa geli dengan nada yang digunakan Noren di dekat telinganya. “Nggak usah lihat harga, pilih aja yang kelihatan enak” Saran Noren kemudian.
“Persis perkataan orang kaya yang baru aja balik dari Finland bawa banyak barang buat oleh-oleh” Lisa mendesis tawa. Pahanya ia hentakkan pada Paha Noren. Lelaki itu hanya tertawa, tidak begitu terkejut dengan reaksi.
“Yah begitu. Udah biasa, sih” Dia bersolek, mengikuti permainan Lisa. Diam-diam dia merasa sangat puas karena interaksi mereka tidak berubah meskipun Noren tidak bisa berhubungan dengan Lisa beberapa waktu karena perihal pekerjaannya. Lisa menyikutnya, membuat dia tak bisa berhenti dalam euforia kesenangan yang dirindukannya.
“Makanya, kalau bisa pilih aja yang paling mahal. Mumpung orangnya nggak sadar, tuh. Biar kita bisa makan enak”
"Yo'i pasti!"
Ada beberapa percakapan yang lancar dan santai dengan Noren. Lisa bahkan tidak sadar ketika beberapa kali jari mereka bersentuhan saat sedang menunjuk makanan. Jika pandangan Sinar berbicara, mereka berdua yang duduk di ujug sofa, saling menempel dan fokus dengan layar ponsel adalah pemandangan terbaik yang memperlihatkan mereka seperti sepasang kekasih yang sedang sangat akur.
Di beberapa kesempatan, mereka juga berdebat tentang makanan yang dipilih. Rasa familiar yang menyebabkan keduanya cepat bersantai satu sama lain adalah respon yang cepat. Perasaan lama yang menyerukan bahwa mereka bukan orang asing satu sama lain adalah faktor utama. Jadi, ketika Lisa kembali mengeluh ini dan itu hanya karena masalah makanan adalah apa yang sudah terlihat seperti biasa. Lagi-lagi, mereka serasi seperti itu. Reaksi alamiah yang menggemaskan.
Jika melihat pemandangan ini dalam pandangan Sinar, maka Sinar bisa mengatakan bahwa keduanya sedang melakukan cekcok kekasih yang menggemaskan. Sinar merasa geli sendiri dengan apapun yang dilihatnya. Noren yang berseri-seri dan Lisa yang seperti tidak sadar dan sangat santai. Dia bertanya-tanya hubungan seperti apa yang sudah terjalin di antara keduanya sampai saat ini. Tapi sepertinya, proses Noren sedikit membuahkan hasil. Mungkin, beberapa langkah lebih maju?
Lisa bisa mengeluh ini dan itu, tidak suka dan emosi ketika dia menyebut nama Noren semalam dan bahkan tadi pagi. Tetapi apa yang terjadi saat ini? Lisa bahkan tidak peduli ketika dia hanya tertawa dengan apapun yang Noren ucapkan padanya dan mengomel ketika Noren berusaha menggodanya. Dalam hitungan detik kemudian, mereka mulai kembali cekcok sebelum bersatu dalam percakapan yang cocok.
“Lama banget pilih makanan? Mau main apa, nih, Ren?”
Sinar mengangkat suara ketika dia sadar bahwa Lisa dan Noren pastilah sedang merencanakan sesuatu yang licik. Dia tahu bahwa saldo yang dia isi di dalam aplikasi pesan antar makanan bisa-bisa ludes saat itu juga. Atau malah kurang sama sekali. Dia harus menghentikan hal-al merugi itu secepatnya.
“Ini bentar lagi. Cerewet banget, tadi di suruh cari makan” Lisa mengomel. Dia menekan beberapa kali di atas layar sebelum Sinar segera menarik ponsel itu dari tangan Lisa.
“Ini bentar lagi. Cerewet banget, tadi di suruh cari makan” Lisa mengomel. Dia menekan beberapa kali di atas layar sebelum Sinar segera menarik ponsel itu dari tangan Lisa. Tetapi gerakan Lisa sangat cepat sehingga dia sudah lebih dahulu melompat dan menghindar dari kakaknya. Sinar dan Noren bahkan sama sekali belum berkedip.
“Buset” Sinar berkomentar lebih dulu. Lelaki itu menggeleng, sadar diri ketika Lisa sudah berada di pojokan dan masih sibuk memilih makanan. Wajahnya terlihat lebih serius daripada sebelumnya.
“Dompet gue nangis, nih. Yakin” serunnya. Wajah lelaki itu sudah terlihat pasrah daripada apapun. “Pokoknya kalau kalian pilih makanan yang aneh-aneh, gue bakalan tagih biaya dari kalian juga. Nggak ada penolakan. Anjir. Salah gue, salah banget”
“Yaudahlah, Nar. Biarin dia pilih makanan apa aja. Lagian lo juga yang nyuruh dia milih bareng gue, kan? duit lo banyak, tolong” Noren mengomel. Ada tawa senang yang di lontarkan. Wajahnya berseri-seri ketika dia memilih untuk mengambil peralatan game VR yang sudah siap.
“Apaan, nggak ada, nggak ada” Sinar mengomel. Lagi-lagi terlihat seolah menyesali pilihan hidupnya.
“Duh, adek kesayangan lo juga, Nar. Udah biarin. Duit bisa dicari, adek lo cuma satu-satunya di dunia”
“Dih, bucin?”
“Ya emang”
Sinar menyikut Noren dengan cepat. Wajahnya mengekspresikan rasa jijik yang nyata. Dia memberi gestur mual tepat di depan wajah Noren yang kemudian di balas dengan pukulan di kepala. Sinar mengeluh sebelum merebut controller dan menyerahkan kacamata VR pada Noren.
“Lo yang bayar?” sahutnya kemudian.
“Kan udah gue bilang dia adek lo?”
“Tapi dia kan soon-to-be-yours?”
“Yaelah!” Noren terkesiap, cepat-cepat memakai kacamata VR-nya, meminimalisir salah tingkah yang mungkin timbul secara tiba-tiba. Jantungnya serasa dipompa dengan kecepatan super.
“Yaudah iya, gue yang bayar. Puas lo?” lanjutnya kemudian dengan nada jengkel karena kalah. Sinar tertawa puas. Kemenangan sempurna ada di depan mata. Mudah sekali untuk membuat Noren bertekuk lutut padanya.
“Yaiya dong puas. Gimana, main apa kita, brodi?”
Memakai gloves yang tersedia dan menarik controller lain, Noren dengan bersemangat memilih salah satu permainan yang sudah di persiapkan. Itu adalah permainan Battle Royale, Population:One yang rilis dua tahun lalu, tetapi mereka bersenang-senang dengan permainan ini di waktu luang, meski beberapa waktu sebelumnya mereka lakukan di waktu dan tempat yang berbeda. Ini adalah kali pertama mereka bermain bersama dalam satu tempat yang sama.
“Okeee, Lets go! Jangan beban lo, Ren”
“Jangan ekspos gue depan adek lo, anjir. But, okelah, game start!”
Dan dengan begitulah mereka larut dalam permainan apapun yang tengah mereka mainkan. Membiarkan Lisa dengan pilihan makanannya seorang diri. Di beberapa kesempatan, suara berisik mereka sangat mendominasi ruangan. Lisa yang sudah memesan, memilih untuk berhati-hati agar tidak megganggu mereka. Dia mematikan lampu utama perlahan, menghidupkan lampu galaksi miliknya, merendahkan suhu ruangan dan duduk dengan nyaman di sofa untuk memperhatikan.
Permainan mereka terlihat cukup seru. Lisa bahkan sempat tertawa ketika mereka berdua bertabrakan dengan tidak sengaja. Keluhan sang kakak dan pada akhirnya omelan dan umpatan Noren tertangkap telinganya. Lisa agak aneh mendengarnya di beberapa waktu karena Noren tidak pernah benar-benar mengumpat di depannya meskipun lelaki itu sering mengajaknya untuk adu mulut. Tetapi Noren kebanyakan tertawa, menuntut dengan kata-kata santai yang standar dan mengancam dengan kalimat paling sopan yang dia kira akan menciutkan seorang Nalisa.
Makanan datang hampir setengah jam kemudian. Lisa terlalu larut dengan acara menonton permainan kedua orang dewasa yang terlihat lebih seperti bocah saat ini ketika dia menyadari bahwa dia tetap tinggal. Mengemil beberapa yang menggugah seleranya, Lisa menyadari beberapa hal yang menarik perhatiannya.
Itu tentang Noren. Lelaki itu anehnya terlihat lebih kurus dari biasanya, rambutnya lebih panjang beberapa senti dan terlihat tidak selembut biasa.
Dia pasti stress di beberapa waktu. Tetapi senyum lelaki itu masih sama seperti biasa. Terkadang hangat dan lebih banyak menyebalkan dan menimbulkan emosi juga pertengkaran aneh.
Lisa menggeleng, mendengus ketika dia mengusap telinganya yang berdengung saat suara teriakan Noren menggema sebelum Sinar menyusul dengan seruan lebih keras kemudian.
“Dih, ngapain juga gue sadar hal gituan. Kali aja emang dari awal dianya begitu, cuma gue aja yang nggak sadar” dia berbisik, mengomel diam-diam. Kepalanya pasti sedang bermasalah.
.........
...🍁...
...Sudah Terbiasa; Familiar...
.........
...🍁🍁🍁...
Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰
enjoy and see u next! 🤗
...☟☟☟☟☟☟☟...
Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Nurul, nih! Jangan lupa mampir yaa🥰
...PROMO NOVEL KARYA ST NURUL NG...
...JUDUL: GELORA NODA & CINTA...
Violet gadis remaja 18 tahun harus menerima pil pahit atas kesalahan Dewandaru, Dewandaru yang berencana untuk menculik dan merusak Widuri, kakak sepupu Violet malah salah sasaran, karena antara Violet dan Widuri, memiliki kemiripan yang sulit di bedakan sehingga Dewandaru, sangat sulit membedakan antara Violet dan Widuri, apalagi diantara mereka tidak saling kenal .
Violet mengalami depresi berat setelah mengalami penculikan dan pemerkosaan atas dirinya , Dewandaru , setelah dinyatakan bersalah dia mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya .
Atas perbuatan Dewandaru, Violet, melahirkan seorang anak lelaki , setelah keluar dari penjara Dewandaru, berusaha mencari keberadaan Violet, yang di sembunyikan oleh kedua orang tua Dewandaru, di luar kota . Mampukah Violet bangkit dari keterpurukannya?
Selamat Membaca 🥰