
”Gue jahat, Kak”
Hala tau bahwa seharusnya bukan itu yang dia katakan pertamakali untuk menghapus keheningan di ruangan kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur di atas nakas bersebelahan dengan kasur yang saat ini tengah mereka duduki. Hala tidak tahu bagaimana dirinya berakhir di kamar Sinar dengan lelaki itu yang menggenggam tangannya seolah tidak akan pernah dia lepaskan kapan saja.
Tetapi Hala harus mengakhirinya sekarang. Dia tidak bisa terus menyakiti Sinar seperti ini. Sinar harus menemukan orang lain yang bisa mencintainya dengan sepenuh hati. Bukan dirinya yang sama sekali tidak bisa melepas Heksa dari hatinya meskipun sahabatnya telah berubah menjadi monster gila yang membuatnya ketakutan setengah mati dan membangkitkan kembali serangan paniknya yang telah lama berhasil dia kendalikan.
”Kenapa tiba-tiba, sayang?” Suara Sinar lembut. Hangat dan manis ketika yang lelaki itu lakukan hanyalah mengkhawatirkannya dan saat ini ibu jarinya fokus mengelus punggung tangannya.
”Gue jahat sama lo, Kak. Lo nggak pantes dapatin gue yang brengsek ini” Dia melanjutkan. Meskipun rasanya ingin menikam dirinya sendiri dengan menjadi orang sakit jiwa, agar Sinar bisa lepas darinya adalah satu misi yang harus dia lakukan saat ini.
”Siapa yang bilang, gitu, hm? Hala jangan mikir yang aneh-aneh dulu, ya. Ceritanya bisa nanti aja, oke? Istirahat ya, sayang” Mata Sinar penuh kasih sayang yang ditujukan pada Hala secara terang-terangan tanpa rasa malu sama sekali.
Hala tidak sanggup melihat seluruh cinta di mata Sinar. Dia tidak sanggup karena perasaan bersalah terus menerus memakannya hidup hidup.
”Gue tadi ci*uman sama Heksa, Kak. Dan gue menikmati apa yang dia lakuin ke gue”
Sakit rasanya mengatakan hal yang sama sekali berbeda dengan apa yang terjadi sebenarnya. Sesak di dada Hala menyebar seperti racun yang dengan cepat berproses untuk membunuhnya. Kepalanya menjerit bahwa bukan itu yang seharusnya dia katakan pada Sinar. Bukan itu yang seharusnya dia ceritakan pada lelaki itu. Seharusnya dia berterimakasih pada Sinar, menjelaskan seluruh situasi yang dialaminya.
Tetapi apa yang terjadi? Dia memilih untuk menjadi brengsek dan tidak tahu malu.
Hala tidak sanggup. Dia bersumpah bahwa dia tidak sanggup terus menerus mendapatkan cinta dari Sinar sedangkan dia sendiri tidak mampu untuk membalas semuanya dengan setara untuk lelaki yang tidak bersalah itu.
Sinar diam dalam waktu yang lama. Hala tidak bisa terus menerus berada dalam keheningan ini atau dia akan menangis. Perempuan itu akan meraung kepada Sinar untuk meminta maaf sudah menyakiti lelaki itu. Sudah mengecewakan Sinar sedemikian rupa.
Yang Hala harus lakukan sekarang adalah, membuat Sinar membencinya. Dengan begitu, Sinar tahu bahwa dia mencintai orang yang salah. Biarlah Sinar membencinya. Itu lebih pantas daripada apa yang sekarang lelaki itu berikan padanya.
”Sayang.. jangan bercanda gitu, dong. Nggak lucu, tau” Sinar terkekeh. Meskipun lemah dan terasa sangat dipaksakan karena tubuhnya terlihat kaku. Hala meratap dalam hati. Menjerit ketika genggaman Sinar mengencang di tangannya dan bergetar halus.
”Gue nggak bisa lanjutin komitmen gue sama lo, Kak. Lo pantas buat orang yang lebih baik dari gue. Gue selama ini nggak pernah bisa balas perasaan lo sama sekali, Kak. Gue masih cinta sama Heksa. Gue nggak mau nyakitin lo lebih parah dari ini” Suaranya keluar dengan serak. Rasanya seperti ada tulang ikan yang menyangkut di tenggorokkannya, Hala mencoba untuk menstabilkan suaranya agar terlihat bahwa dia tidak goyah.
”Hala.. please.. gue nggak mau..” Sinar berbisik. Tubuhnya jatuh dalam postur yang menunjukkan kelemahannya.
Hala membuang muka. Dia tidak bisa melihat Sinar yang lebih hancur dari ini. Dia tidak ingin Sinar bersama orang rusak seperti dirinya. Dia ingin menyelamatkan Sinar dari kehancuran yang sama. Bagaimanapun Hala mengatakan yang sejujurnya bahwa dia masih tidak bisa mencintai Sinar seperti lelaki itu mencintainya seluas samudera.
”Kak. Jangan paksa gue. Gue nggak bisa suka sama lo gimanapun juga. Gue udah khianatin lo dibelakang lo. Seharusnya lo kecewa sama gue, kak. Jangan bodoh Cuma gara-gara gue. Gue mau berhenti. Kita selesai, ya, Kak”
Tidak ada pertanyaan. Hala mengatakannya dengan titik di akhir kalimat. Dia ingin melepaskan Sinar agar lelaki itu bisa mencari bahagianya yang lain. Hala tidak ingin membawa Sinar dalam hubungan yang beracun. Sinar harus bisa bebas dari dirinya suka atau tidak.
”Gue nggak mau! Hala, gue sayang sama lo! Gue nggak peduli lo ngelakuin apa dibelakang gue asalkan gue tau kalau lo milik gue, La. Nggak, gue nggak mau ngelepasin lo. Tolong.. tolong Hala. sudah cukup banyak hidup gue berantakkan. Gue nggak sanggup kalau sampai lo ninggalin gue juga, Hala... Please. Jangan pergi dari gue. Jangan..”
Suara Sinar terdengar menyakitkan di telinganya. Hala tidak ingin melihat bagaimana ekspresi Sinar saat ini. Dia tidak sanggup. Jika dia melihat Sinar yang juga rusak, dia takut dia akan mengatakan semuanya kepada lelaki itu tanpa kurang satu apapun. Dia tidak ingin Sinar masuk lebih jauh kedalam masalahnya. Sudah cukup.
Tapi genggaman tangan Sinar semakin erat. Getarannya semakin kuat dan suara Sinar terdengar serak dan rapuh. Sepertinya dia akan menangis. Hala ingin memukul dirinya sendiri jika lelaki itu menangis di depannya. Sinar tidak boleh menangis, dia seorang laki-laki yang kuat. Sinar tidak boleh menangis karena dirinya yang jahat ini.
”Kak. Gue Cuma bisa nyakitin lo. Gue masih suka Heksa, Kak. Gue nggak ada rasa sama lo bahkan ketika kita udah punya komitmen. Gue-,”
”Gue nggak peduli!”
Hala menyentakkan kembali wajahnya pada Sinar. Matanya membulat sempurna saat melihat betapa rusaknya Sinar di depannya. Lelaki itu menangis. Air mata tumpah sedikit demi sedikit di wajah lelah Sinar.
Hala merasa tersayat.
Seharusnya tidak seperti ini.
Hala mendengar helaan napas Sinar bergetar. Meskipun tidak seperti dirinya, air mata Sinar terus turun dari kedua matanya secara perlahan dan tanpa henti. Sinar tidak terisak, tetapi reaksinya menunjukkan seberapa mentahnya emosi lelaki itu sekarang.
”Gue nggak masalah lo main dibelakang gue meskipun gue nggak percaya lo mampu buat ngelakuin itu. Tapi gue berani bersumpah, gue nggak akan permasalahin hal itu asal gue tetap bisa nunjukkin ke lo seberapa besar rasa gue sampai gue bisa buat lo luluh sama gue Hala. gue berani ambil resiko. Gue berani sakit buat lo. Jadi tolong jangan, ya? Jangan tinggalin gue.”
Lihatlah Hala.. apa yang telah perempuan itu perbuat pada orang setulus Sinar.
”Kak.. jangan..”
Hala tidak sanggup untuk melanjutkan sikap teguhnya mengusir Sinar. Dia merasa tenggelam lagi. rasa yang tadi menghancurkannya kini kembali lagi. air mata menyeruak, tetapi Sinar dengan kehangatannya yang alami segera bergerak untuk menyekanya dengan ibu jarinya. Ada senyum lemah di wajah lelaki itu dan pada akhirnya, Hala runtuh.
”Kalau lo kayak gini terus.. Kak.. gue nggak bisa..”
”Tolong jujur sama gue, Hala. jujur apa yang terjadi sampai lo ketakutan kayak tadi? Apa yang buat lo sepanik itu? Tolong sayang. Gue hampir mati ketakutan ngeliat lo kayak tadi. Cerita ke gue kejadian yang sebenarnya? Boleh cantik?”
Kata-kata lembut Sinar seperti menghipnotisnya untuk menceritakan semuanya kepada Sinar. Di antara isakannya yang kembali hadir karena rasa takut yang tak mampu dia bendung lagi, Hala meraungkan semuanya yang terjadi. Dari mulai Ibunya yang menyakiti hatinya sebelum dia mengaku kepada Heksa. Kemudian Heksa yang berubah menjadi orang yang tidak dia kenal. Heksa yang memaksanya untuk kembali dan menjadi egois hingga Heksa yang melakukan pelecehan padanya tanpa persetujuannya.
Semuanya Hala ceritakan pada Sinar yang menyimak dengan sabar. Meskipun di balik itu semua, Hala tahu bahwa Sinar merasa marah. Rahangnya lelaki itu terlihat tegang ketika menyerap semua penjelasan Hala sampai akhir. Jika saja Hala tidak dengan refleks menarik kedua tangan lelaki itu dalam satu genggaman yang ketakutan, Hala yakin bahwa Sinar akan bangkit dan meninju Heksa tepat di rahang.
”Gue.. gue udah jadi pengkhianat, Kak. Lisa.. Lisa benci sama gue, kak. Gue udah nambahin daftar kehancuran Lisa. Gue brengsek, Kak. Gue nggak pantas jadi sahabatnya Lisa. Gue takut.. gue takut kehilangan Lisa. Lisa sahabat gue yang paling gue sayangi, Kak. Tapi gue yang hancurin kepercayaannya dan gue tau.. gue tau banget Lisa benci sama penghianat”
“Shh.. bukan salah kamu, sayang. Lisa pasti ngerti kalau kita jelasin baik-baik, oke? Kamu nggak salah. Kamu dipaksa. Jangan khawatir, ya? Nanti aku bakalan bantu buat nyelesaiin masalah kamu sama Lisa. Nggak apa-apa, oke?” Lagi-lagi, Sinar membujuknya dengan kesabaran ekstra yang dia miliki.
Tatapan Sinar terlalu berlebihan untuk hatinya. Hala tidak bisa mengambil kesempatan seperti ini tetapi Sinar selalu terus menyodorkannya padanya. Memberikannya secara terang-terangan dan tidak tahu malu.
”Kak.. Maafin gue..”
Suaranya kecil. Dia kelelahan.
”Nggak apa-apa sayang. Kamu nggak pernah salah dari awal. Kita istirahat, ya? Kamu pasti capek, kan? Ayo, ayo tidur disini sama aku”
Hala tidak berontak ketika Sinar membantunya untuk berbaring. Lelaki itu dengan cepat memposisikan mereka di tengah ranjang. Tangannya dengan erat memeluk Hala ketika mereka berakhir di bawah selimut yang hangat dan menenangkan. Kecupan kecupan kecil ia sisipkan untuk menenangkan Hala dan membuai perempuan itu ke dalam mimpi.
”Kak. Wajah aku basah. Nanti baju kakak ikutan basah..” dia berbisik, takut menganggu.
”Oh. Mau cuci muka dulu, engga?” Sinar dengan cepat menawarkan.
Tetapi ide tentang beranjak dari kehangatan ini tidak terlalu disetujui oleh otak Hala yang sudah kelelahan. Jadi, Hala hanya menggeleng dan menempelkan wajahnya secara keseluruhan di dada Sinar. Detak jantung lelaki itu membuatnya mengantuk. Meski dia seharusnya merasa bersalah bagai orang jahat, Hala akan mengabaikannya sekarang karena matanya terlalu berat untuk tetap terjaga.
Hal terakhir yang bisa dia ingat sebelum terlelap adalah suara lembut Sinar di telinganya dan kecupan kecil di dahi yang bahkan tidak terasa sama sekali seolah hanya angin lalu. Tapi, kata-kata itu akan membuat kewarasan Hala membunuhnya karena telah menjadi orang paling brengsek di muka bumi ini.
”Tidur nyenyak, sayangnya Sinar. Aku cinta banget sama kamu, La”
...🍁...
...Permintaan Maaf Dan Rasa Bersalah; Takut 2/2...
.........
...🍁🍁🍁...