Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Acara Kelompok; Presented by Noren



“Hari ini kita belanja!”


Mengerjapkan kedua matanya dengan keterkejutan nyata dari sorakan tiba-tiba, Noren berhenti dengan kegiatannya untuk mengambil piring kotor dari atas meja makan. Lelaki itu baru saja akan meletakkan piring kembali untuk ia cuci. Definisi menjadi babu dari seorang Nalisa adalah mengerjakan segala hal untuk membuat perempuan itu puas.


Demi permintaan maafnya untuk perempuan itu yang harus diterima dan diselesaikan.


Agar hal-hal setelahnya akan menjadi mudah untuk dilaksanakan.


“Belanja?”


Kekakuan kejut yang sebelumnya menguasai tubuh Noren kini sudah kembali pulih. Lelaki itu memilih untuk meneruskan mengangkat piring makan mereka menuju wastafel dan memakai sarung tangan karet berwarna ungu muda yang lucu dimana benda itu diletakkan tergantung dengan rapi dan kering di sisi keranjang khusus.


“Lo pasti denger apa yang gue bilang pertama kali, Kak” Susul Lisa dengan seruan santai. Perempuan itu kini sedang nyaman menyesap susu rendah kalori pagi harinya dengan salah satu jari mulai berselancar di atas layar touchscreen ponselnya. Tatapan matanya bersinar dengan sangat senang, seolah-olah perempuan itu sudah memiliki banyak list yang tersusun rapi di kepalanya sejak awal.


Air keran di hidupkan demi membilas piring kotor ketika Noren dengan telaten membersihkannya. Lelaki itu menggumam kecil sebelum mulai kembali berbicara. “Iya, aku denger. Tapi belanja buat apa? Tadi aku lihat di kulkas masih banyak bahan makanan, kok. Kayaknya kamu nggak perlu belanja banyak buat keperluan selama seminggu, deh” tuturnya sementara Noren sibuk dengan spons dan busa.


“Menurut aku, ya.. soalnya tadi aku ngecek kulkas sebelum masak..” dia menambahkan pembelaan di akhir ketika tubuhnya merinding merasakan tatapan tajam yang melubangi punggungnya bahkan ketika Noren tidak berbalik sama sekali untuk menangkap Lisa melemparkan tatapan laser itu padanya.


“Yang bilang belanja buat gue siapa, sih, Kak?” Lisa mulai kembali sibuk dengan ponselnya. Membalas beberapa chat dengan gumaman senang dan sedikit gerutuan kecil lucu saat dia bereaksi pada balasan dalam pembahasan percakapannya dengan benda persegi panjang itu. “Sebenarnya sebelum lo kesini juga gue udah ngerencanain acara buat gue dan anak-anak. Kan tadi gue udah bilang sama lo kalau kita bakalan ada acara bareng sama mereka. Lo jangan pura-pura lupa, ya. Tadi cuma bikin sarapan doang, itu baru permulaan, tau”


Lisa mengomel dengan tatapan sinis yang diberikanya pada Noren dengan sangat serius. Sebelum kembali lagi sibuk dengan ponsel dan tegukan dari susu yang dihabiskannya dengan cepat. Noren akui, melihat Lisa yang mengomel dan kembali melakukan aktivitasnya dengan acuh tak acuh adalah hal yang membuatnya tidak bisa menahan senyuman di bibirnya. Kembali melakukan aktifitasnya untuk membilas piring, pikirannya mulai melanglang buana. Memikirkan bahwa setiap hari akan hidup seperti ini bersama Nalisa adalah hal yang membuat jantungnya berdebar dan perasaan familiar akan rumah yang menyenangkan dan nyaman untuk sisa hidupnya adalah apa yang sekarang membuat wajahnya memanas.


Mencuri lirikan saat Lisa bergumam lagu kecil dari sudut bibirnya yang tertarik dalam senyuman manis membuat Noren sungguh tidak sabar untuk mewujudkan atmosfer indah disekelilingnya saat ini. Melihat dari bagaimana respon Nalisa yang tidak terlalu pahit, dia bisa pastikan perempuan itu saat ini sedang dalam suasana hati yang sangat baik.


Noren tidak ingin menghancurkannya. Mungkin, hari ini dia juga akan bersenang-senang meskipun judul awal dari acara hari ini adalah menjadi pelayan Lisa dan memberikan seluruh jiwa raganya untuk memenuhi semua keinginan perempuan itu. Namun lagi-lagi, siapa Noren untuk menolak calon pasangan hidup abadinya?


“Oke..” Dia kembali memulai saat membuka sarung tangan karet. “Jadi, hari ini konsep acaranya apa aja? Ada tema tersendiri buat acaranya?”


Lisa meletakkan gelas susunya yang sudah kosong. Perempuan itu berpikir sejenak sebelum mengangkat kedua bahunya. “Enggak ada tema spesial kayak acara Fajri sebelumnya, sih. Anak-anak hari ini cuma pengen kumpul aja. Makan-makan kayak biasanya. Soalnya udah lama juga nggak bareng lagi. Kerjaan mereka hectic terus. Apalagi gue udah kangen banget sama Alpino karena dia sibuuk banget” Ada cemberut di wajah Lisa, ada nada ketidaksukaan sekilas di hati Noren. Namun lelaki itu mengabaikannya secepat yang dia bisa.


“Yah. Jadi cuma kumpul-kumpul biasa doang. Mereka hari ini senggang semua, jadi gue udah semangat banget buat bikin acara di rumah ini. Nanti pengen ngedekor juga sebenarnya” Wajah Lisa secerah matahari dalam pandangan Noren, dan rasa ketidaksukaan menguap begitu saja.


Benar, Alpino hanyalah sahabat Nalisa. Noren bisa memastikan lelaki itu tidak akan bisa melangkah lebih jauh dari batasannya. Dia yakin, Sinar juga telah melakukan hal yang sama. Dulu sekali.. dia ingat ada waktu-waktu itu. Jadi biarlah, hari ini harus diisi dengan hal-hal yang menyenangkan saja. Dan memikirkan hal ini, Noren kembali membawa senyumannya dengan tinggi ketika dia menyeka poni dari sisi dahinya yang agak sedikit menganggu.


“Ah iya, sekalian tadi anak-anak bilang, ada beta game rilisan Heksa sama Al buat uji coba yang mereka kerjain. Katanya, sih, buat bantu-bantu Heksa yang bakalan ada project di kantornya dia. Gue jadi nggak sabar pengen coba main” Nalisa melompat dari tempat duduknya. Mengambil gelas kosongnya dan menggeser Noren dari tempatnya berdiri di dekat wastafel.


“Hm.. kalau gue dekor pake balon sama confetti lucu berlebihan nggak, sih, menurut lo, Kak?”


Noren mengerjap dengan terkejut. Tidak tahu apa yang merasuki dirinya yang begitu percaya diri dalam hal apapun, tetapi ketika dihadapkan dengan wajah Lisa yang terlihat lebih dekat dari sebelumnya membuatnya tidak sadar dan lengah. Lelaki itu berdehem, bergeser sedikit untuk menetralkan dirinya. Malu sendiri karena dia tiba-tiba saja kehilangan kendali diri.


Habisnya, hari ini sosok Nalisa dan angan-angan tentang perasaan nyaman dalam sebuah kekeluargaan bersama terasa lebih nyata dan bahagia, serta begitu indah yang membuatnya sangat terusik. Noren bahkan tidak sadar bahwa Nalisa sedang membilas gelasnya sendiri dengan cekatan dan bahkan sedang meminta pendapatnya.


“Hm.. kayaknya kalau sedikit nggak apa-apa, sih. Soalnya juga bukan acara yang besar kayak ngerayain ultah, kan? kalau emang Lisa suka ya nggak apa-apa. Tapi emangnya nanti kamu nggak bakal di godain sama sahabat-sahabat kamu kalau kamu bikin dekor begituan tanpa ada tujuan yang cocok?”


Lisa diam sejenak. Wajah terkejutnya membuat Noren agak kebingungan. Namun, yang membuatnya lebih terkejut dari apapun adalah ketika Lisa menempatkan telapak tangannya ke atas dahi Noren guna mengecek suhu tubuhnya (yang mana Noren asumsikan sendiri) membuat lelaki itu tidak bisa berkutik tiba-tiba.


“Lo kenapa jadi sok baik gini, deh, Kak?” Hening sejenak sebelum Lisa mendorong kepalanya dengan sedikit kekuatan yang sebenarnya tidak membuatnya terdorong kebelakanga, tetapi tetap membuat Noren salah tingkah. “Aneh banget, aslian. Biasanya lo nyebelin, tapi hari ini kok jadi sok baik gini. Apa jangan-jangan karena lo pengen maaf lo gue terima, ya?” Dahi Nalisa berkerut sedikit sebelum perempuan itu menggeleng seakan mengejek.


“Bagus, bagus. Gerakan yang pinter, ya, Kak. Harus narik hati dengan baik di depan gue buat gue maafin.” Ada anggukan seolah-olah Lisa telah memecahkan sebuah masalah yang besar. “Ah, tapi saran lo nggak penting. Soalnya, gue bakalan temu kangen lagi dengan Alpino setelah beberapa minggu nggak bareng. Gue kangen banget hangout sama dia. Dan tentu aja, karena ini acara launching beta game untuk project Heksa, jadi emang harus ada sesuatu yang sedikit spesial dari acara yang biasa!”


Lisa bertepuk tangan dengan bahagia sebelum dia mulai berlarian untuk mengambil ponselnya yang sudah berdering beberapa kali sejak tadi dengan banyak notifikasi grup. Noren menghela napas, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sial, hari ini dia sangat lemah dengan keceriaan Nalisa sehingga dia bahkan tidak bisa kesal dengan orang lain yang penting untuk calon pasangannya itu.


“Pokoknya!” Nalisa berteriak dengan heboh, “Gue ke atas dulu. Mau ambil tas sama siap-siap sebentar. Hari ini gue mau masak enak, jadi kita belanja ke pasar Gede, ya, Kak!”


“Eh? Kenapa nggak ke supermarket Mall aja, Lisa?” Noren memotong cepat ketika Lisa sudah keluar untuk melompat ke dalam kamarnya.


“Ke pasar Gede dulu, kak. baru nanti ke supermarket sekalian beli balon lucu sama confetti”


“Tapi bukannya di Mall udah lebih lengkap, ya? Atau mungkin buat makanan kita delivery order aja biar kamu nggak capek banget.. Lagian biar bisa lebih banyak waktu kumpul-kumpul, kan?” Noren memberikan saran dengan cepat.


Bukannya Noren tidak ingin mengantarkan Nalisa ke pasar sama sekali. Noren bersumpah akan mengikuti apapun kemauan Lisa jika perempuan itu meminta atau bahkan menyuruhnya. Tapi mungkin, kali ini lebih baik berbelanja di satu tempat yang lebih lengkap jika Lisa ingin sekalian membeli dekorasi.


Lisa terlihat diam sejenak. Mungkin ada banyak pikiran yang berada di kepala perempuan itu. Noren yakin Lisa mungkin sudah tau apa yang sebenarnya dia inginkan, itulah mengapa perempuan itu menyarankan Pasar Gede terlebih dahulu daripada supermarket mall yang jelas-jelas merupakan tempat yang lebih dekat dan lebih lengkap untuk dikunjungi dalam acara yang tidak terlalu mewah dan besar ini.


”Sebenarnya gue pengen bikin bebek cabe ijo sama beli seafood seger, sih, kak. Kalau di supermarket mall kan kadang nggak seseger yang beli langsung di pasar. Bisa milih juga, harga lebih oke..” Lisa bergumam, menyuarakan pikirannya dengan agak tidak sadar. “Gue pengen masakin anak-anak makanan yang mereka suka. Kayak, Alpino suka kerang saus tiram sama cumi krispi asam manis.. Hala suka bebek cabe ijo, Fajri sama Jihan suka kepiting bumbu pedas.. Heksa suka kerang ijo lada hitam sama kayak gue.. jadi kayaknya kalau beli lebih mahal nggak, sih?”


“Kamu tau banget apa yang mereka suka, deh” Noren bersuara tanpa sadar. Namun, dia tentu tahu bahwa dia agak cemburu karena Lisa bahkan tidak memikirkan kesukaannya sedikitpun. Meringis di dalam, dia tahu bahwa itu terdengar sangat menyedihkan.


“Yaiya, dong. Kan mereka anak-anaknya gue!” seruan lucu Lisa berhasil membuat Noren tertawa. lelaki itu tidak mengerti mengapa hatinya membuncah aneh dengan seruan Nalisa yang jelas-jelas mengatakan bahwa teman-temannya yang sudah berusia lebih dari dua puluhan itu adalah anaknya.


“Hm.. gini aja. Kan hari ini aku jadi babunya kamu, ya, Lisa. Gimana kalau untuk makanan berat aku yang tanggung aja, deh. Lagian nanti kamu juga masak banyak makanan kayak gitu lama banget pasti, udah capek duluan dan belum ngedekor juga, kan? yaudah, Lisa buat camilan aja yang simple. Biar nanti aku yang urus makanan sama minumannya. Deal?”


“Hah, serius lo, Kak?”


Mengangkat kedua alisnya, Noren bersandar pada daun pintu dapur dengan kedua tangan yang ia lipatkan di depan dada.


“Kalau misal mau sekalian beli camilannya juga nggak apa-apa, Kok. Kamu tau aku lebih bersedia daripada apapun. Anggap aja ini usaha aku buat minta maaf sama kamu”


Bagus. Tarik hatinya lebih dalam lagi, Noren.


Mata perempuan itu memicing. Lisa terlihat sedang mempertimbangkan ucapan Noren. Sebenarnya, jika di waktu lain, dia akan menolak mentah-mentah tawaran itu. Karena, Noren akan lebih besar kepala ketika apa yang dia berikan diterima oleh Lisa dengan begitu saja. Namun, untuk kali ini, mungkin dia bisa sedikit membiarkan Noren mengambil alih semuanya. Lagipula, hari ini Noren datang untuk meminta maaf karena telah menghancurkan dan meruntuhkan citra Lisa di depan orang-orang resort ketika meninggalkannya begitu saja, bukan?


Jadi, Lisa setuju dengan lelaki itu. Kali ini saja dia akan menerima tawaran Noren dengan cuma-cuma.


“Oke, deal!”


Nalisa melemparkan tangannya di depan tubuhnya untuk menyambut uluran tangan Noren yang sudah setengah jalan menyambutnya. Menyatukam dua telapak tangan untuk menyegel kesepakatan, seringaian hadir di wajah mereka masing-masing. Keduanyapun, menyorakkan seruan kemenangan di dalam hati. Dengan alasan yang sama sekali berbeda.


“Bagus! Aku tunggu di dalam mobil, ya”


“Oke!”


...…….....


“Hm.. merah?”


“Oke, gue ambil yang biru sama putih aja. Nih, bawain ya, Kak”


“Kalau udah tau mau warna apa kenapa nyuruh aku bantu kamu pilih warna?”


“Ya suka-suka gue, dong. Kalau gitu, mending confettinya ikut warna biru atau warna gold, ya, Kak bagusnya?”


“Biru aja biar cocok”


“Gue ambil silver aja deh biar bling-bling. Nih, bawa, Kak”


Memutar matanya, Noren hanya pasrah ketika keranjang belanjaan yang dia bawa sudah penuh dengan berbagai macam hal yang sama sekali melenceng dari apa yang seharusnya mereka butuhkan. Balon dan confetti bahkan baru saja dimasukkan oleh Lisa di atas pernak-pernik yang dijatuhkan beberapa saat lalu sebelum menuju rak yang mereka butuhkan.


Sebenarnya, acara belanja mereka jauh di luar dugaan dimana Noren berasumsi bahwa Nalisa hanya membutuhkan sedikit barang-barang untuk dekorasi dan kemudian mereka akan mencari beberapa restoran yang menyediakan hidangan yang sebelumnya Lisa ingin masak untuk pesta dirumahnya. Namun nyatanya, sudah terhitung dua jam mereka menjejaki kaki di dalam Mall yang tidak terlalu penuh, di bagian pernak-pernik dekor dan bahkan sama sekali belum membeli persediaan makanan.


Nalisa mengatakan bahwa acara akan dimulai setelah makan siang dan jam sekarang menunjukkan pukul sepuluh pagi.


“Ini udah semua?” Noren bertanya ketika Lisa mulai berkeliling lagi untuk melihat-lihat sembari menyenandungkan lagu. Jujur, perempuan itu sangat bersemangat dan tidak pahit tenang dirinya yang menemani. Senang, Noren tidak ingat bahwa dia menikmati hal ini sejak tadi. “Mau langsung ke hypermart beli sesuatu?”


“Hmm bentar, Kak. Ini gue ada lihat tadi ada scented candle. Gue udah lama pengen beli baru tapi belum ada waktu. Yuk, kesana dulu!”


Lisa menunjuk area yang agak jauh. Memicing, Noren memperhatikan beberapa lilin kecil yang disusun sedemikian rupa di area rak terbuka dengan berbagai macam bentuk. Senyuman lebar Lisa mengembang di wajah perempuan itu ketika Lisa dengan setengah berlari kecil menuju tempat yang ditunjuk oleh jari lentiknya. Noren terkekeh sebelum mengikuti perempuan dua puluhan tahun itu yang terlihat seperti anak kecil melihat mainan baru.


Jadi itulah yang terjadi selama mereka berbelanja. Banyak barang-barang yang sama sekali tidak mereka butuhkan untuk pesta kini berada dalam paper bag yang seluruhnya dibawakan oleh Noren dengan suka rela. Mereka juga pada akhirnya menyempatkan berbelanja di bagian makanan ringan dan buah-buahan. Sesekali mencicip buah dan kue sample yang dipajang di daerah penjualan dengan sapaan ramah dari karyawan yang bekerja disana.


Noren mengira waktu berjalan sangat cepat sehingga mereka akan kehabisan waktu untuk mulai mendekor dan memesan makanan untuk makan siang, namun nyatanya semua hal berjalan dengan sangat lancar. Setelah mereka berkeliling di Mall, mereka memilih pulang untuk mulai mencari beberapa resto yang cocok dengan keinginan Lisa di aplikasi pesan antar. Perempuan itu bahkan memikirkan untuk membeli beberapa kue dan cookies seolah camilan yang mereka beli sebelumnya sama sekali tidak cukup untuk enam orang lainnya.


“Kak, bikin note makanannya, bilang yang pedes, ya! Pokoknya pedes banget untuk gue, yang normal untuk Heksa. Tuh anak nggak bisa makan pedes soalnya. Terus jangan lupa buat Alpino juga minta agak pedes aja. Oh iya, sama pesen satu porsi baby gurita buat Kak Sinar, ya! Soalnya gue lupa kakak gue pernah minta kemarin”


Lisa mengoceh pada Noren untuk permintaan makanannya sedangkan perempuan itu sedang bergegas membukakan pagar agar mobil Noren bisa masuk kedalam pekarangan. Nalisa bahkan dengan semagat yang menggebu-gebu mulai berusaha mencari kunci rumahnya di dalam tas sandang kecilnya yang lucu.


Setelah mobil masuk dan terparkir, Noren bergegas mengeluarkan barang belanjaan mereka dari bagasi mobil. Telinganya berusaha menangkap nyanyian bahagia yang di lontarkan oleh Lisa saat pintu sudah terbuka.


“Ayo cepat, Kak! Masuk, masuk. Lo lelet banget, sih. Mana belum pesen makanannya. Ayo, cepetannn” Menggebu-gebu, Lisa mendorong Noren untuk masuk kedalam rumah dengan tentengan di kedua tangannya.


“Sebentar. Nggak bakalan lama kok, ini”


“Taruh di ruang game, Kak. Soalnya nanti mau ngumpul disana. Gue ambil pompa dulu, ya. Lo langsung kedalam aja”


“Oke, siap tuan putri bawel”


“Ngomong apa lo barusan?!” Lisa melotot, mata bulatnya yang lucu membuat Noren begitu gemas. Ingin sekali lelaki itu mencubiti pipi sang perempuan menyalurkan hasrat gemasnya, namun dia tahu pasti apa yang akan Lisa lakukan padanya jika dia melakukan hal itu. Wajahnya akan penuh dengan luka cakaran karena Lisa tidak pernah bermain-main dengan ancamannya.


“Nggak ada apa-apa. Yaudah, ini aku taruh camilannya di dapur aja, ya, sekalian sama kuenya juga. Kamu cari pompa aja dulu, nanti aku lanjut langsung ke ruang game buat taruh bahan dekor”


“Makanannya jangan lupa dipesen!”


“Iyaaaaa, sayangkuu”


Dugh!


“Aduh, jangan gitu, dong. Ini aku lagi bawa barang, Lisa. Nanti jatuh..”


“Kan udah gue bilang! Jangan ngomong macem-macem ke gue!”


Noren tertawa. Meskipun kakinya terasa sakit saat Lisa menginjaknya dengan keras di bawah sandal rumah berbulunya, Noren sudah terbiasa setelah tiga bulan lebih menghadapi Lisa yang seperti itu. Bahkan sebelumnya lebih buruk daripada ini. Setidaknya, hari ini perempuan itu jauh lebih manis daripada saat-saat dimana dia akan di maki dan tidak segan-segan menerima hadiah pukulan.


Berpikir lebih jauh ketika dia berjalan menuju dapur untuk meletakkan kue, sedangkan Lisa berpergian mencari pompa untuk balon, hubungan Noren dan Lisa sungguh sudah di dalam tahap yang sangat baik bagi lelaki itu. Di mulai dari dia menemani malam Lisa di Jalan Surga dengan mesin pencapit yang sangat berharga untuk kelangsungan hubungan mereka itu hingga acara liburan di pantai yang dimana dia sangat menikmati keadaanya sampai itu berubah menjadi buruk karena satu dan lain hal yang membuatnya sungguh kesal pada saat itu.


Hari ini pun rasanya tidak seperti apa yang dia bayangkan. Ia akan mengira bahwa permintaan maaf itu akan sulit, namun sekarang yang dia dapat adalah kemudahan lainnya. Hari ini bahkan bisa dibilang adalah mini date yang manis dimana mereka sarapan bersama, berpergian berbelanja serta mengurus acara pesta bersama. Noren bahkan bisa memastikan bahwa dia sama sekali tidak merasa dia dibabukan pada hari ini.


Jika saja dia bisa terbang, maka Noren pasti akan melakukannya demi memberikan selebrasi untuk dirinya yang berbahagia.


Satu langkah lagi, segalanya pasti sangat sempurna. Saat ini, Lisa sudah nyaman dengannya (begitu instingnya mengatakan dilihat dari bagaimana perubahan sikap yang semakin melembut, menurutnya). Waktunya tidak akan lama lagi dan Noren yakin, apapun yang akan terjadi di depan nanti (secepatnya dimana dia bisa memastikan) akan berhasil dan berjalan dengan sangat lancar.


Rencana pernikahan yang sempurna dengan seorang Nalisa adalah apa yang akan menjadi jalan pembuka kebahagiaan bagi mereka berdua. Itu sudah ada di depan mata. Segalanya sudah bisa dia bayangkan dengan sangat indah.


Dia sangat menantikan moment itu datang dengan segera.


Dan dengan mengatakan segera, itu benar-benar secepatnya.


“Kak Noren! Lo kemana, sih? Katanya cuma naruh kue di dapur? Gue udah bawa pompa sama lem dekor, nih! Cepetann!!”


Suara teriakan Nalisa bergema dengan amarah yang lucu dari ruang game atau ruang bersantai milik perempuan itu.


“Iya, ini mau kesana, kok” serunya dengan cepat. Tidak sadar bahwa dia setengah berlari melintasi dapur untuk menemui perempuannya.


...🍁...


...**Acara Kelompok; Presented by Noren** - Part. 1...


.........


...🍁🍁🍁...


Halo, ini Choco❤


selamat membaca teman teman readers! dan selamat bertemu kembaliii❤❤❤