Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Perasaan Yang Mulai Terbiasa



Suatu hari ketika dia hanya menatap keluar jendela dan pada hampaan awan yang berusaha untuk berkumpul menjadi beberapa kelompok di langit biru yang bersih dan terlihat sangat memanjakan mata, Nalisa memikirkan hal-hal aneh yang terjadi dalam hidupnya. Dulu, dia merasa sangat damai dan sejahtera, dengan tidak memikirkan hal-hal yang memang tidak seharusnya dia pikirkan. Segalanya berjalan sesuai apa yang dia inginkan meskipun memang keinginannya tidak pernah yang terlalu berat dan menyulitkan.


Tetap saja, hidup adalah hidup. Banyak hal yang tidak diperkirakan akan menyapanya seperti badai. Ambil salah satu contoh dimana dia diharuskan untuk berpindah dari satu Negara ke Negara lainnya dimana dia harus bisa menyesuaikan diri dengan baik. Dia harus meninggalkan sahabat-sahabatnya dan hanya bisa berkomunikasi dengan mereka menggunakan internet. Dia harus mencari teman baru yang bisa menemaninya selama dia berada jauh dari apa yang dia sebut rumahnya yang nyaman.


Tentu, semua itu tidak membuatnya merasa berbeda. Dia bisa menjadi Nalisa dimanapun dia menginjakkan kakinya dan dia masih senang dengan apapun yang dia terima. Dia memang pernah dihadapi dengan permintaan orang tuanya untuk melanjutkan sebagai penerus perusahaan berkembang mereka, tetapi dia diperbolehkan untuk menolak apapun yang tidak dia inginkan. Jadi, ketika dia merasa bahwa dia tidak ingin berada dalam hal bisnis keluarga, dia mengatakan dengan tegas untuk mengeluarkannya dari list sebagai pewaris perusahaan dengan alasan dia tidak menyukai hal-hal terkait apapun yang orangtuanya kerjakan dan harapan yang dipancarkan oleh mereka.


Beruntungnya dia, Kakaknya sebagai orang yang selalu melindunginya maju paling depan untuk mendukung keinginannya. Orang tua merekapun menyetujuinya dengan harapan bahwa suatu saat nanti Sinar harus menghasilkan dua anak laki-laki sebagai calon pewaris dari tiga perusahaan yang mereka kembangkan.


Sinar pada waktu itu hanya mengiyakan di depan orang tuanya dengan acuh tak acuh sebelum pada akhirnya dia mengomel di belakang bersama dengan Lisa untuk menunjukkan ketidaksetujuannya tentang bagaimana dia bisa menghasilkan anak begitu saja ketika dia bahkan belum benar-benar berada dalam fase asmara yang dia idam-idamkan. Hal itu semata-mata hanya untuk menyelamatkan dan membebaskan adiknya dari tanggung jawab besar seperti kebanyakan anak dari para pebisinis agar usaha keluarga tidak terputus dan jatuh ke tangan orang luar.


Lisa juga tidak terganggu tentang bagaimana dia berakhir bekerja di perusahaan orang lain bersama sahabatnya dan mengeluh hanya untuk kepuasan hidup tentang hal-hal yang dia alami. Semuanya Lisa terima dengan cukup baik dalam kehidupannya. Itu tidak begitu luar biasa. Dia hanya menjalankan hidup sebagai sesuatu yang dia nikmati dalam hidupnya.


Itu baik, semua hal selama duapuluh tiga tahun terakhir hidupnya sangat bagus dan banyak hal bisa dihitung menjadi hal-hal yang sangat menyenangkan dimana dia bisa mengekspresikan dirinya dan tidak terlalu mencolok dalam kehidupannya. Dia suka menjadi dirinya sendiri dalam setiap aspek kehidupannya yang menyenangkan dan kurang dari menyedihkan. Semuanya terasa begitu normal dan dia hanya senang dengan itu.


Jadi, ketika dia dihadirkan dengan satu orang yang merusak hidupnya yang dia katakan sebagi normal dalam rasa kesukaannya, kehidupan yang sudah membuatnya merasa puas menjadi sesuatu yang menariknya ke lubang besar menganga di bawah kakinya .


Noren tidak hanya menyeretnya masuk kedalam lubang itu, melainkan juga memporak-porandakan seluruh kehidupan Lisa menjadi kacau balau seperti rollercoaster dengan rel kereta yang gila-gilaan atau angin ribut yang menyapu semua ketenangan dan kedamaian yang bertahun-tahun telah dia ciptakan.


Usianya hampir menginjak duapuluh empat tahun ketika dia merasakan malu yang luar biasa dan hinaan yang cukup untuknya mengacaukan hal-hal apapun yang berada di depannya dan hanya berteriak dengan frustasi. Tentu saja, lain dan tidak bukan tersangka utamanya adalah seorang Noren yang tidak mempunyai kewarasan dalam hidupnya.


Lisa pernah bertanya-tanya, hal gila apa yang selama ini Noren lakukan dalam hidupnya? Tidakkah cukup hanya mengacaukan kehidupannya sendiri daaripada hanya mengacaukan milik orang lain?


Begitulah yang Lisa pikirkan ketika semua hal aneh terjadi tepat di depan matanya dan di dalam hidupnya saat ini. Lisa, akhir-akhir ini menemukan kehidupannya yang baru, jungkir balik dengan cepat.


Seperti saat ini.


Sudah satu bulan lamanya dia berakhir menjadi omongan karyawan satu kantor dengan senyuman lebar dan godaan jengkel yang terus menerus dia terima setiap hari. Tentu saja itu akan terjadi. Di pagi hari itu, dia berjalan dengan menutup wajahnya yang sangat memerah, didampingi oleh Hala yang dia titahkan untuk menjaga dirinya dari siapapun yang akan melontarkan banyak gunjingan aneh di telinganya, dia menahan napas dan melontarkan kutukan, bersiap untuk berlari dari sana dan hanya mengunjungi tempat dimana Noren berada untuk menguburnya hidup-hidup sejauh enam kaki di bawah tanah.


Berlawanan dari apa yang dia perkirakan waktu itu, anak-anak di kantor memang menggodanya habis-habisan dan berbisik-bisik disekitarnya. Namun itu bukan untuk mengejeknya, melainkan iri dengan apa yang dilakukan Noren hanya untuk Lisa seorang dan menunjukkan cintanya dengan cara yang unik dan menyenangkan. Mereka bahkan berkata bahwa Lisa adalah orang yang sangat beruntung yang dapat merasakan kasih sayang sebesar itu dari seseorang yang bahkan sulit untuk dilihat reaksi apapun dari wajahnya.


Tentu, Lisa merasa aneh dari bagaimana banyak pasangan yang ingin merasakan hal yang sama seperti yang Lisa dapatkan. Anehnya lagi, Lisa tidak mengerti bahwa orang-orang disekitarnya mengatakan bahwa mereka sulit untuk medapatkan dan melihat reaksi dari seorang Noren. Padahal, Noren seringkali datang dan menjemput Lisa dengan seringaian konyol bodohnya dan kata-kata chessy menyebalkan yang akan terlontar kapanpun dia hadir dalam ketidaksukaan Lisa.


Noren adalah orang yang banyak ekspresi dan suka menyumbangkan tawa meski itu agak aneh. Dia bahkan banyak berbicara ketika bersama dengan Lisa. Noren bukanlah seseorang yang dingin dan tanpa ekspresi seperti apa yang mereka bilang. Lihat? Dengan hanya dari kegilaan yang dia lakukan, bukankah itu sudah memperlihatkan kepribadian lelaki itu dengan jelas?


Noren adalah seorang lelaki dewasa dengan pemikiran konyol kekanak-kanakkan dan pandai dengan godaan licik yang dengan terang-terangan coba dia tunjukkan.


Lantas, mengapa mereka masih menyelamati Lisa dengan ucapan bahwa dia seperti meluluhkan pangeran es kutub selatan?


Orang-orang itu jelas saja aneh. Dia sampai berpikir, apakah hanya dia sendiri yang waras di bumi ini dalam beberapa bulan terakhir?


Lisa bahkan merasa sangat beruntung bahwa aksi gila yang Noren lakukan untuknya tidak sampai diliput oleh berita seperti lambe turah dan sebagainya yang menginginkan sensasi dari kisah orang-orang besar yang memiliki jabatan dan terkenal di kalangan pengusaha sampai dengan selebriti. Bisa-bisa nanti jika hal ini akan sampai pada penyiar televisi gossip, dia akan menjadi artis dadakan yang sangat tidak ingin dia bayangkan tentang hal-hal seperti itu. Lisa sampai merinding sendiri ketika memikirkannya.


Berbicara tentang aksi gila yang Noren lakukan hari itu, dia berhasil melarikan diri saat jam istirahat dari para karyawan yang ingin berterimakasih padanya lagi dan lagi karena gilanya Noren kembali mengirimkan truk makan siang untuk seluruh karyawan kantor. Dimana lelaki licik itu tahu bahwa saat itu adalah akhir bulan dan itu mampu mengambil hati para karyawan karena telah dengan percuma memberikan mereka kebutuhan untuk hari yang begitu krusial dalam hal ekonomi dan mencari makanan sebelum hari gajian tiba.


Benar-benar seperti seekor rubah! Dia mengatakan itu dengan keras ketika dia menyeret Hala masuk ke dalam taksi hingga mengejutkan sopir yang bertanggung jawab akan perjalanan mereka. Lisa tidak peduli, dia hanya menjerit frustasi di dalam taksi yang melaju dan Hala yang memberi alasan pada sang supir untuk membiarkan mereka membuat gaduh selama perjalanan. Untuk kebaikan sang supir, Lisa merasa sangat berterimakasih dengan cara yang begitu konyol sampai saat ini.


“Pokonya gue pengen obrak-abrik itu wajahnya dia kalau dia udah ada di depan gue! Pokoknya lo nggak boleh ngehalangin gue buat bunuh orang, La! Gue harus cekik dia sampai mati dan nyumpal mulutnya pakai kaus kaki gue biar beneran hilang itu nyawa! POKOKNYA JANGAN TAHAN GUE!”


“I-iya.. nggak bakalan gue halangin kok…”


“Neng, ini nanti saya nggak akan ikut terseret kasus pembunuhan, kan?”


“Tenang aja, Pak. Nanti saya yang akan biayain bapak buat melarikan diri ke luar negeri biar nggak ketangkep polisi”


“N-neng?”


“INI BISA NGEBUT NGGAK SIH? GUE UDAH GA TAHAN PENGEN NGUBUR TUH ORANG HIDUP-HIDUP! GASNYA DIINJEK COBA PAKKKK!!!”


“I-iya neng, ini udah saya injek gasnya”


“Maafin temen saya ya pak..”


“Saya takut, neng”


“Saya juga takut, pak sebenarnya..”


“HALA LO BISA DIEM GA SIH?! TELPON KAK SINAR SURUH NGUNCI RUANGANNYA BIAR TUH ORANG GILA GA LARI DARI AMUKAN GUE!”


“Ini gue bisa mohon ampun aja sama Allah ga sih.. ngeri banget, Lisa..hiks”


Begitulah kira-kira apa yang terjadi di dalam taksi dalam perjalanan yang memakan waktu setengah dari jarak yang seharusnya mereka tempuh untuk berada di gedung Cakra Eston Sprareparts.Ltd karena Noren sedang berada di sana untuk urusan bisnis apapun bersama dengan Kakaknya.


Memang, Lisa berhasil untuk menganiaya Noren di ruangan sang kakak yang hanya diam di sudut bersama dengan Hala dan menyaksikan bagaimana dia melakukan pertarungan yang menyebabkan pertumpahan darah dengan Noren. Itu agak mengerikan dan cocok untuk tontonan sebenarnya jika dilihat dari persepsi Hala dan Sinar. Karena tentu saja, di sana ada Lisa yang dengan beringas menyerang Noren yang hanya menyebarkan tawa dan hanya pasrah menerima amukan apapun yang dilayangkan Lisa padanya. Meskipun dengan beberapa penahanan yang dia lakukan agar tidak mengalami kerusakan yang serius meskipun rambutnya akan selalu menjadi sasaran empuk jemari perempuan itu.


Memang, Lisa puas untuk menganiaya pada hari itu. Tapi, siapa sangka itu hanya permulaan yang membuat Lisa mepertanyakan apa yang salah dari dirinya sendiri.


Noren tetaplah Noren. Apapun yang akan Lisa lakukan kepada lelaki itu, maka Noren akan membalasnya dua kali lipat hanya untuk mengambil seluruh perhatian Lisa sepenuhnya. Dia bersemangat tentang hal-hal yang akan terjadi dan dengan senang hati akan menguji keseluruhan reaksi yang Lisa bisa berikan untuknya.


Mulai dari hal ini, segalanya seperti jatuh ke dalam jurang dengan sukarela daripada berusaha memanjat untuk menemui jalan keluar.


Apa yang tidak Lisa pikirkan adalah, hal-hal itu yang membuatnya mulai terbiasa.


Lisa mulai terbiasa dengan kehadiran Noren dan seluruh kekacauan yang Noren sebabkan dalam hidupnya. Dia mengakui itu dengan realisasi yang begitu mengerikan ketika itu menghantamnya begitu saja.


Anggap saja seperti hal ini;


Mereka mulai bertemu secara acak di malam hari di Jalan Surga. Mereka akan memulai pertengkaran kecil-kecilan hingga besar-besaran yang mengakibatkan seluruh pengunjung Jalan Surga menjadikannya dan Noren sebagai tontonan gratis. Itu agak berbatu di awal sebeum mereka kemudian mulai disatukan dengan acara permainan dan 20 pertanyaan yang seringkali menjadi akal-akalan Noren untuk menanyakan hal-hal gila dan random pada Lisa begitupula sebaliknya.


Itu terjadi begitu saja. Nalisa bahkan seperti sudah menyerah pada hidupnya dan hanya merasa bahwa dia sudah dikutuk dengan keseharian yang seperti itu. Noren, sudah abadi dalam hidupnya sebagai pengganggu kecilnya yang kadang kala menjadi partner dalam permainan capit boneka di Jalan Surga. Di suatu hari yang lain, Noren akan menjadi partnernya dalam hal makanan dari seberapa banyak dia mengajak Lisa untuk makan bersama. Di hari lain, Noren akan menjadi partnernya dalam jalan-jalan harian yang dilakukan setelah menjemputnya pulang kerja dan mereka akan mengunjugi banyak tempat bersama.


Hidup seperti rollercoaster yang di sapa oleh angin ****** beliung yang memusingkan. Segala hal terjadi dalam waktu singkat seperti hanya membalik telapak tangan dan mengedipkan mata.


Lisa bahkan tidak akan mempercayai dirinya yang sedang mengamuk di kantor Sinar pada hari itu akan berakhir menjadi sebegitu dekat dengan Noren dan terbiasa seperti ini pada hari ini.


Tentu saja hadiah-hadiah yang gila-gilaan itu tidak akan pernah memiliki akhir dan hanya akan membuat hidupnya semakin sengsara, tapi lagi-lagi, dia sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Dia sudah mulai mengatakan terimakasih kemballi meskipun tanpa rasa ketika teman-temannya atau bahkan karyawan yang berada disana mengatakan selamat padanya dan mendoakan tentang hubungannya dengan Noren akan menjadi hal yang terhebat yang pernah ada. Meskipun di akhir hari, Ola adalah korban yang jika dia bisa meraung rasa sakit, dia akan lakukan dan tunjukkan pada satu dunia dan membalaskan dendam pada siapapun yang membuat Lisa menghajarnya habis-habisan.


Seperti apa yang lagi-lagi terjadi hari ini.


Noren mengajaknya untuk menonton satu film aksi yang sedang di gandrungi anak muda sekarag. Lisa, dengan semangat yang tiba-tiba menguasainya menerima ajakan Noren dengan senang hati. Mereka berkendara ke bisokop terdekat pada hari minggu sore karena Noren pada hari itu ada kunjungan mendadak di kantornya dari salah satu rekan bisnisnya yang menyempatkan diri untuk datang dan menemuinya.


Itu menjadi hari yang baik bagi Lisa karena dia sudah sangat bersemangat dengan film ini. Dia belum bisa menonton dalam beberapa waktu karena sedang memiliki banyak pekerjaan yang membuatnya bahkan lupa bahwa film yang dia tunggu-tunggu sudah tayang sejak dua hari yang lalu. Dia ingin menonton dengan teman-temannya, namun jika ingin mengadakan acara bersama, maka tidak ada yang bisa diajak dengan cara terburu-buru seperti itu. Dia pernah mengajak Alpino untuk menemaninya,tetapi lelaki itu sedang ada tugas di luar kota untuk hunting tempat baru untuk pekerjaannya. Jadi, memiliki kesempatan yang bagus, dengan Noren pun tidak masalah selama dia bisa menonton.


Mereka berkendara dalam percakapan yang terkadang nyaman dan terkadang memiliki banyak kekonyolan dan umpatan yang saling dilontarkan bolak-balik. Anehnya agak menyenangkan menurut Lisa seperti dia mendapatkan udara segar yang baru.


Dia ingin mengatakan bahwa Noren tidak seburuk itu, tapi dia tidak akan karena Noren bahkan tidak cocok dengan label itu. Bagaimanapun Noren bersikap denganya, dia adalah yang terburuk dari yang buruk. Jadi lepaskan apapun kata positif untuk sang lelaki dari kedua mata dan pendengaran Lisa. Dengan apapun, Noren adalah hal paling berantakkan yang terjadi dalam kehidupannya.


“Katanya filmya sedih. Butuh tisu, nggak?”


Itu adalah tawaran Noren pertama ketika mereka sedang memilih ruangan studio yang nyaman untuk mereka tonton. Awalnya Noren menyarankan untuk memilih yang bisa tiduran saja karena sepertinya Lisa suka menonton sembari rebahan dengan nyaman. Namun Lisa menolak karena dia ingin menonton dengan serius film yang satu itu.


“Dih? Kata siapa? Lo udah nonton duluan? udah liat spoiler, lo?” Lisa memuntahkan kata.


“Bukan spoiler sih, tapi lihat review orang yang sudah nonton sebelumnya. Ini beneran kamunya nggak butuh tisu? Buat jaga-jaga aja, dek” lelaki itu menawarkan lagi.


“Nggak usah. Gue nggak bakalan nangis cuma karena film doang!”


“Kata orang yang nangis cuma gara-gara nonton movie Raya And The Last Dragon” Noren memutar matanya sebelum menarik keluar dua buah tisu mini yang berada di dalam dashboardnya dan meletakkannya di dalam tas mini yang dia bawa. “Ini aku bawa buat jaga-jaga, ya. Biar kamunya nanti kalau mau nangis nggak lap ingus di baju aku” tawanya keluar kemudian.


“Diem” Lisa mencubit paha Noren dengan tanpa perasaan sembari membelaakkan kedua mata untuk memperingai Noren agar dia tidak banyak berbicara aneh. Meskipun lelaki itu benar, tapi dia tidak suka dengan fakta yang dilemparkan padanya begitu saja.


“Ini gue udah pilih tempatnya. Kita nonton di ScreenX aja biar puas. Udah, ya, ayo keluar. Jangan lupa beliin gue camilan kayak biasanya. Nih”


Lisa menyodorkan ponsel Noren yang menjadi alat untuk menentukan tempat dan acara menoton mereka. Noren mengambilnya dengan anggukan dan tanpa kata. Mereka mulai keluar dari mobil dan segera masuk ke tempat tujuan mereka.


“Rame juga, ya” Noren bergumam ketika dia menyaksikan banyak orang yang bergerombol di tempat tujuan mereka.


“Ya iyalah, namanya film terlaris dan udah ditunggu-tunggu banyak orang” Sahut Lisa dari sisinya. Perempuan itu sedang sibuk dengan ponsel dan tasnya. Seperti sedang membalaskan pesan dari teman-temannya jika Noren bisa melihat sekilas tampilan layar meskipun agak terlalu buram untuk kesukaannya.


“Mau pegangan nggak? Biar nggak kesasar di keramaian, nih. Takut nanti kamunya hilang”


Ada cengiran yang ditawarkan ketika Lisa mendongak untuk memberikan tatapan kematian untuk Noren. Tetapi, lelaki itu tetap acuh tak acuh dan menawarkan tangannya yang sudah terangkat di udara untuk digenggam oleh Lisa. Tapi, yang dia berikan kemudian adalah tepukan keras di telapak tangan yang tiba-tiba, menyebabkan sengatan menjalar dari tempat yang bersentuhan.


“Aduh, ngeri banget mainnya kekerasan”


“Udah, diem. Nggak usah aneh-aneh lo. Masih mending gue setuju mau kesini bareng lo, Kak. Mendingan lo pergi sana buat beli camilan. Gue tunggu di pintu masuk studio”


“Iya, iya. Jangan hilang pokoknya. Nanti aku sedih kalau pasangan kencan aku hilang di keramaian”


“Sekali lagi lo ngomong aneh begitu, gue aniaya lo di depan banyak orang biar masuk headline berita tau rasa lo! Biar semua partner kerja lo tau kelakuan lo yang minus gini”


“Seram banget kesayangannya Noren”


“Mau mati?”


Noren tertawa dan mengangkat kedua tangannya untuk menyerah sebelum memilih untuk memesan camilan yang Lisa inginkan. Lelaki itu kemudian menghilang diantara orang-orang yang berserakan di dalam ruangan. Lisa memilih untuk menemukan tempatnya sendiri, menunggu ditempat dimana sudah ia katakan pada Noren sebelumnya.


Dia merasa senang, menantikan film yang sudah dia idam-idamkan.


...….....


Tentu saja, hal itu berakhir dengan Noren yang kembali mengolok-oloknya setelah mereka selesai menonton hingga mereka sekarang berada di gerai makanan siap saji yang digemari banyak masyarakat dan tidak pernah sepi. Lisa meminta untuk makan malam di salah satu cabang McD karena dia sedang ingin Oreo Mcflurry untuk menenangkan dirinya yang baru saja menghabiskan sisa air mata dimana itu menguras energinya secara keseluruhan dalam kerapuhannya menonton film-film yang menyedihkan.


“Tuh, katanya engga bakalan nangis” Lagi dia menguji emosi Lisa dengan tambahan menusuk pipi Lisa yang memerah dengan telunjuknya. Cepat-cepat dia tarik tangannya ketika Lisa sudah menawarkan satu kepalan tangan di depan mata sang lelaki yang sekarang cekikikan dengan riang.


“Ya, kan, mana tau kalau sedihnya bisa sampai begini!” Lisa merengek dengan tiba-tiba. Tidak peduli dengan siapa yang berada di depannya, dia hanya ingin untuk menyudahi emosi sedihnya dan tidak ingin berlama-lama lagi dalam ratapan kesedihannya.


“Makasihnya ke aku mana? Kan udah jadi pahlawan yang siap sedia bawain tisu sebagai perlindungan pertama dari kekacauan air mata”


“Dih, lebay banget lo, sumpah”


Noren mengabaikan. Dia senang bahkan dengan cara seperti ini. Meskipun Lisa tidak pernah absen dengan ketus yang selalu dia berikan pad Noren, namun hubungan yang mereka bangun perlahn-lahan mulai menjadi sesuatu yang lebih baik lagi dan menyenangkan. Noren sangat menikmati bagaimana perubahan ini terjadi dari hari ke hari. Sebentar lagi mungkin, tujuannya akan tercapai dengan cepat. Dia hanya ingin mempercayai hal itu.


“Ya udah, itu dimakan dulu es nya biar nggak meleleh” Noren menyodorkan tangannya ketika Lisa ingin membuang tisu yang telah selesai menghapus air matanya. Meski awalnya bingung, namun Lisa meletakkkan tisu itu di tangan Noren.


“Kamu mau makan sekalian, kan? mau pesen apa biar aku yang pesanin. Kamu habisin aja es nya dulu, gih”


“Samain aja kayak punya lo, Kak. Gue lagi males mikir buat makan apa”


“Oke kalau gitu. Tunggu sebentar, ya”


Lisa memperhatikan ketika Noren membersihkan bekas tisu yang dia pakai. Lelaki itu bahkan tidak terlihat jijik dengan apapun yang sekarang berada ditangannya. Memilih untuk mengambil es krimnya sendiri, Lisa membiarkan dia ditinggalkan sendirian. Dia membiarkan dirinya larut dalam remahan oreo yang manis dan es vanilla yang meleleh di lidahnya dengan menyenangkan sembari mengecek notifikasi perpesanan grupnya yang sedang ramai entah membahas apa. Seluruh penghuni grup muncul satu persatu dan Lisa tidak bisa untuk tidak penasaran tentang apa yang sedang dibahas di sana.


Dua buah nasi ayam spicy dengan Cola hadir di meja mereka ketika Lisa baru saja memberikan satu balasan di dalam grup chat miliknya. Noren hadir dengan begitu cepat membawakan makanan yang membuat perutnya tiba-tiba merasa begitu lapar. Tiba-tiba dia bersyukur dengan pilihan yang Noren berikan untuknya.


“Es nya udah habis belum?” Suara berat lelaki itu tiba-tiba menyapa saat dia duduk. Lisa mengangguk mengatakan bahwa dia sudah menghabiskan mereka semua hingga tak bersisa.


“ini nggak apa-apa ya aku beliin Cola aja? Soalnya takut kamu enek kalau aku beliin yang manis manis lagi. Kan udah makan es krim?”


Lisa mengerjap beberapa kali dengan keterkejutan yang tiba-tiba. Dia mengangguk seperti robot ketika dia malah membayangkan Kakaknya yang berada di depannya alih-alih sahabat lelaki itu.


“Kenapa?” Noren bertanya ketika melihat sedikit keanehan dari reaksi yang Lisa berikan.


“Eh, nggak sih. Gue kira tadi lo itu Kak Sinar” Dia tertawa canggung. Noren memberikan eskpresi yang anehnya seperti sedikit pemahaman.


“Oh, emang udah biasa ya mesen es krim sebelum makan dulu sama Sinar?”


“Iya. Biasanya dia cuma beliin gue cola atau teh biasa biar nggak terlalu banyak makanan manis. Apalagi kan pesen ayamnya yang spicy”


Noren mengangguk sebagai tanda pemahaman. Dia mulai mengelupas plastik nasinya sebelum kembali berbicara dengan tiba-tiba.


“Bagus deh kalau gitu. Aku jadi tau gimana cara jaga kamu yang baik dan benar” lalu ada tawa di akhir kata sebelum ucapan seriusnya kemudian dilontarkan lagi. “Tapi jangan samakan aku sama Sinar, ya. Aku nggak mau dianggap sebagai kakak kamu”


“Dih, siapa juga yang mau jadi adeknya lo, kak” Lisa memutar bola matanya dengan kesal.


“Bagus deh, kalau gitu.” Dendangnya dengan senyuman lebar yang senang. “Kamu mau kulit ayamnya?”


Untuk kebiasaan yang Noren kembangkan beberapa waktu, dia akan menawarkan Lisa sedikit bagian dari makanannya. Dan untuk kesopanan dan keengganan Lisa, dia biasanya menolak. Dan tentu saja, berlaku untuk hal ini juga. Lagian, dia sudah suka dengan porsinya sendiri. Mau itu kulit ayam sekalipun. Diam-diam, dia berpikir jika Hala yang ada di posisi ini, perempuan itu pasti meminta lebih dulu dengan kedua mata yang bulat besar dan berbinar-binar.


“Nggak, buat lo aja. Gue udah cukup” sahutnya dengan cepat kemudian.


“Oh, oke” Noren menyetujui dengan tenang. “Makan yang banyak, Lisa”


“Pasti. Mana mau gue sok jual mahal di depan lo, Kak” Omelnya ketika dua mulai berkutat dengan makanannya sendiri.


Itu akan menjadi sepuluh menit pertama yang santai dan nyaman ketika Lisa tiba-tiba memiliki keinginan untuk memulai percakapan di antara mereka. Dia merasa hanya sedang ingin berbicara.


“Kak Noren” Noren mengangkat kepalanya dari makanannya ketika Lisa memanggil. Sepenuhnya perhatian dan fokus tiba-tiba ada pada Lisa. Lisa kikuk sejenak sebelum dia menyadarkan dirinya bahwa itu hanya Noren. Jadi, dia melanjutkan.


“Lo tau, kan kalau kak Sinar suka sama Hala?”


Noren terlihat tidak pada tempatnya, namun dia mengangguk pada pertanyaan.


“Udah lama banget dia suka sama Hala, sih, setau aku. Tapi kayaknya belum ada kemajuan juga itu mereka berdua” Noren menjawab, matanya melirik ke atas untuk mengingat kapan pertamakali Sinar mulai mengungkit tentang perasaannya untuk satu orang perempuan itu. “Memangnya, sekarang sudah ada kemajuan?”


Lisa menggeleng sebagai konfirmasi dan itu terlihat terlalu dramatis. Noren menahan dirinya untuk tidak tertawa dengan kegemasan yang dia dapatkan di depan matanya.


“Belum ada sama sekali. Gue bingung, frustasi juga sama mereka berdua, sih. padahal kalau jadi pasangan mereka bakalan jadi yang tergemas di antara anak-anak. Soalnya Kak Sinar kan bucin banget tuh sama Hala, nah, Hala-nya ini seneng banget digemesin sama orang, mana udah biasa manjain Heksa, kan, jadi gue yakin kalau Kak Sinar yang bucin parah ini bersatu sama Hala yang bisa nanganin dan manjain kak Sinar dengan baik, hubungan mereka pasti jadi yang paling indah buat di julidin yang lain”


Lisa tertawa, membayangkan jika sahabat dan kakaknya itu bersatu. Pasti sangat menyenangkan hanya untuk menggoda mereka berdua.


“Masa iya, gitu?”


“Iya. Gue udah berandai-andai, tau”


Noren menatap Lisa yang kini mengunyah ayam dengan senang hati. Tertawa dari apapun yang sedang dia bayangkan dan pikirkan di kepalanya. Noren mendengus ketika kasih sayang yang Lisa miliki tertuju pada kakaknya dan sahabatnya adalah apa yang membuatnya menjadi hangat dan berdebar-debar. Suatu saat nanti, mungkin Noren bisa membayangkan bagaimana Lisa menceritakan tentang dirinya dalam rasa sayang yang sama dengan orang lain disekitarnya.


“Kenapa malah berandai-andai tentang hubungan Sinar sama sahabat kamu?”


“Loh? Emangnya nggak boleh?” senyuman Lisa tiba-tiba jatuh untuk membuat cemberut yang nyata di wajahnya. Dia mendesis pada Noren, ingin mengatakan bahwa Noren telah menghancurkan sedikit kesenangan yang dia miliki.


“Bukannya nggak boleh” Noren mengangkat suaranya saat ia tahu bahwa suasana hati Lisa saat ini hamir menyentuh jengkel karena reaksinya. “Tapi daripada membayangkan hubungan orang lain, kenapa nggak bayangin hubungan tentang kita aja?”


“Dih, berharap banget lo!”


“Ya, kan, maksudnya gini,” Noren mengambil tegukan minumannya sebelum dia duduk tegak dan menawarkan satu senyuman penuh pada Lisa dengan begitu menggoda. Lisa yang menyadari apa yang akan Noren katakan, tidak begitu bersemangat tentang apa yang akan dia dengan beberapa waktu kedepan.


“Aku kan juga bucin sama Lisa. Aku bahkan udah mastiin kalau Lisa bakalan jadi pasangan masa depan aku. Sekarang kita juga udah keluar buat banyak kencan berdua, dan bahkan malam ini juga kita masih kencan, makan bareng juga. Aku juga gemes banget sama Lisa. Udah banyak kali aku bilang ke Lisa kalau aku cinta sama Lisa, kan? kenapa nggak mikirin tentang hubungan kita aja yang juga bakalan lebih manis daripada Sinar dan sahabat kamu itu?”


“Ini, nih. Lo kalau dibaikin malah ngelunjak, ya. Diem atau gue semprot mata lo pake cola? Geli banget, gue, sumpah, Kak!” Lisa menggerutu di bawah napasnya dengan tangannya yang melambai untuk menunjukkan bahwa Noren harus berhenti.


“Lo harus lihat bulu gue naik semua ini karena merinding dengan apa yang lo bilang barusan. Nih, lihat!”


Noren tertawa ketika Lisa menyodorkan tangannya tepat ke depan mata Sinar dengan lebih dari kekuatan yang dibutuhkan, hampir menyerempet wajah lelaki itu jika Noren tidak siap untuk mengelak dengan refleks yang cepat, paham dengan apa yang akan terjadi. Dia tertawa ketika dia benar-benar melihat bulu tangan yang berdiri, menunjukkan bahwa perempuan itu sedang tidak bohong.


“Aduh, aku jadi sedih, nih” rengeknya kemudian dengan tiba-tiba.


Noren, dengan semua hal yang dia lakukan hari ini, hatinya bergemuruh ketika Lisa tertawa dengan senang hati di depannya. Sepertinya, perempuan itu sangat menikmati untuk menunjukkan kekalahan Noren tentang bagaimana hubungan mereka sedang berlangsung. Namun, apa yang tidak Lisa pahami tentang bagaimana perasaan Noren sesungguhnya adalah, kenyamanan yang ditimbulkan dari hubungan mereka berdua membuat Noren, jauh di dalam hati, sudah bersiap-siap untuk menunjukkan seberapa besar dia bisa membuat Lisa nyaman disekitarnya dan perlahan demi perlahan bisa menetap di dalam hati perempuan itu dengan senyum lebar yang merobek wajah.


Dia sekarang, sedang bersenang-senang dalam tawa yang Lisa nyanyikan untuknya meski niat perempuan itu jauh berbeda.


“Nggak apa-apa, deh kalau sekarang di tolak dulu. Lagian di akhir hari nanti, kita bakalan bisa jadi pasangan yang serasi, kan, sayang?”


Noren mengedipkan satu mata menggoda, membuat Lisa kembali menunjukkan ekspresi muntah yang berlebih-lebihan


“Bilang sekali lagi, gue potong lidah lo, kak! Mending sekarang lo makan, sumpel mulut lo dengan makanan lo sebelum gue yang sumpelin sampai ke tenggorokkan lo!”


Sebenarnya Lisa terkejut ketika dia bahkan merasa sudah terbiasa dengan panggilan sayang dari Noren. Itu terjadi begitu saja selama masa hubungan mereka yang aneh ini. Terkadang mereka bertengkar, terkadang mereka bisa cocok dalam kebanyakan pembicaraan random yang tiba-tiba.


Mengabaikan hal itu dan tawa Noren, Lisa meraih ponselnya yang berbunyi. Notifikasi grup chat yang menyematkan namanya membuatnya tertarik. Menggulir isinya, Lisa bahkan tidak bisa berpikir dengan benar sebelum mulutnya mengucap kalimat ajakan yang membuat orang lain tersedak makanan pedasnya sendiri.


“Kak, Lo mau ikut gue ngumpul bareng anak-anak, nggak, Jum’at depan?”


Di satu sisi, Noren bisa merasakan bagaimana sesuatu telah terbalik di dalam perutnya.


“Hah?”


.........


...🍁...


...Perasaan Yang Mulai Terbiasa- End...


.........


...🍁...


...🍁🍁...


...🍁🍁🍁...


Terimakasih sudah membaca sampai disini🥰


enjoy and see u next! 🤗


...☟☟☟☟☟☟☟...


Halo choco kembali merekomendasikan novel keren karya kak Anisyah S, nih!


Jangan lupa mampir yaa🥰


...PROMO NOVEL KARYA ANISYAH S...


...JUDUL: KISAH CINTA CEO DAN DOKTER CANTIK...


Aditya Bramansta Wijaya seorang CEO tampan nan dingin dipertemukan dengan seorang wanita Cantik yang berprofesi sebagai seorang Dokter yang bernama Erlin Putri Sanjaya, Dan di setiap kali pertemuannya pasti terjadi konflik diantara keduanya, hingga saat pertemuan yang terakhir Erlin menabrak mobil Aditya dari belakang, yang membuat Aditya mengajukan sebuah persyaratan pada Erlin untuk mengganti rugi dengan menjadi Kekasih bohongannya, demi menghindari sebuah perjodohan, Akankah Aditya bisa terbebas dari perjodohan Keluarga nya, dengan menjadi kan Erlin sebagai Kekasihnya bohongannya??



Selamat membaca🥰