Falling Into Your Trap

Falling Into Your Trap
Tentang Rasa (Sinar Sight) Part.1



HATSYI!!!!


Suara bersin yang keras menggema didalam salah satu ruang kantor yang dipakai untuk melakukan meeting terjadwal pada hari itu. Lelaki yang baru saja akan menyampaikan penutup dari hasil diskusi yang dia lakukan di depan koleganya dan rekan bisnis barunya yang telah berhasil mencapai kesepakatan bersama dalam bisnis, menangkup wajahnya dengan kedua tangan dari rasa malu karena tidak sengaja kembali bersin setelah beberapa kali melakukannya pada saat presentasi, yang pada saat itu hatinya berkomat-kamit doa agar calon rekan bisnisnya itu tidak begitu peduli dengan gangguan yang tidak di sengaja.


Sinar mengeluh dalam hati ketika dia menyampaikan senyum malu-malu setelah berusaha untuk terlihat lebih professional dan berwibawa di depan para koleganya, dia sendiri merasa malu dengan suara bersinnya yang begitu keras dan mengganggu. Takutnya, orang-orang yang akan bekerjasama dengannya merasa takut dengan virus yang akan dia bawa dan tularkan. Tapi, Sinar berani bersumpah bahwa dia dalam keadaan yang sehat dan tidak merasa menangkap sakit apapun yang bisa membuatnya bersin.


Beberapa orang di ruangan terkikik geli karena suara bersinnya yang tak kunjung berhenti. Namun, ada beberapa yang menatapnya dengan khawatir yang dia balas dengan senyuman lebar tanda bahwa dia baik-baik saja dan berjanji dia tidak sedang berusaha menularkan sakit pada siapapun.


“Saya mohon maaf karena beberapa gangguan yang Saya sebabkan sejak tadi. Tapi, Saya mohon jangan terlalu khawatir. Saya yakin Saya sehat sejak sampai disini” Sinar berdehem, memotong penutup dengan menyampaikan kondisinya karena mungkin dia harus meluruskan kekhawatiran. Dia bisa melihat dari sudut matanya bahwa Mas Wildan, sebagai asistennya yang bertugas pada dinas bisnis luar kota ini terlihat begitu khawatir tentang kondisi kesehatannya.


Sinar menngembangkan sedikit cengiran lain untuk kembali menenangkan sebelum dia kembali berucap. “Saya yakin ini adalah ulah adik saya yang Saya tinggal tanpa kabar untuk perjalanan bisnis ini. Dia pasti sedang dalam mode ngambek dan mengatai saya sepanjang hari untuk menyalurkan kekesalannya” Dia terkekeh kemudian. Tatapannya berbinar lega ketika dia dapat melihat raut wajah yang santai dari para koleganya sebelum dia melanjutkan, “Tapi jangan salah sangka, dia hanya merindukan Saya dan khawatir tentang Saya. Adik Saya adalah anak yang baik dan menggemaskan. Dia pasti gelisah karena kakaknya tidak memberikannya kabar. Saya agak merasa bersalah tentang itu”


Sinar tanpa sadar meringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Canggung sedikitnya karena dia tahu bahwa Lisa akan menghajarnya jika dia mengatakan hal sejenis ini. Dia sudah membayangkan sebuah tinjuan ringan menghiasi tubuhnya karena kekesalan sang adik. Tapi juga tidak bisa dipungkiri bahwa dia yakin Lisa pasti sedikit mencemaskannya karena belum memberi kabar sejak kemarin. Sinar bersumpah bahwa dia tidak melakukan itu dengan sengaja. Dia hanya harus mengurus ini dan itu. Belum lagi, Pak Senja, CEO dari perusahaan otomotif yang masih berkembang dan menunjukkan aspek bagus untuk peningkatan bisnisnya ini, agak rewel.


Sinar tidak tahu berapa lama waktu yang dia habiskan untuk mempersiapkan bahan presentasi dan berkas yang meyakinkan untuk menjerat minat calon bisnisnya. Jujur saja, Sinar sudah pernah berusaha untuk menggapai perusahaan yang dikelola oleh Senja, namun ditolak karena satu dan lain hal. Itu sudah beberapa tahun yang lalu, namun sepertinya Senja mulai berubah pikiran sejak mendengar bahwa perusahaannya bekerja sama dengan perusahaan besar AGIOV VOLKS Group milik Noren beberapa waktu terakhir.


Sinar bisa melihat Pak Senja tertawa lebih ringan. Pria itu memiliki pemahaman di wajahnya atas ucapan yang dia lontarkan tadi. Dalam pembelaannya, dia tahu bahwa pria itu memiliki seorang anak perempuan yang sangat dimanjakannya. Jadi, Sinar berasumsi bahwa anak perempuannya itu mungkin akan bersikap sama seperti apa yang dirinya kemukakan tentang Lisa juga.


“Ah, adik perempuan Anda pasti menggemaskan sekali” Pria itu tertawa. Sinar menyetujui hal itu diam-diam di dalam hatinya. Dia tidak akan mengatakan dengan keras karena itu akan mengekspos dirinya sebagai seorang kakak yang protektif terhadap adiknya sendiri. Namun Sinar bertanya-tanya, mengapa ketika Senja mengatakannya, itu terasa seperti Lisa masihlah seorang balita yang lucu.


“Anak perempuan Saya juga seringkali seperti itu ketika Saya ada urusan mendadak dan tidak bisa menemaninya untuk berbelanja atau hanya berjalan-jalan bersama” Dia mulai bercerita. Raut wajahnya terlihat begitu suka. Ini merupakan poin bagus untuk keberlangsungan kerjasama yang terjalin dalam pihak Sinar dan dia tentu saja bersorak di dalam.


“Lain kali, tolong kabari adik Anda dahulu meski hanya sebentar. Dia pasti sangat sedih karena kakaknya pergi dengan tiba-tiba seperti itu” Petuah seorang pria dewasa. Sinar mengangguk dengan ringisan yang disembunyikan dari wajahnya. Dibandingkan dengan kesedihan, dia yakin bahwa Lisa akan menghajarnya dan mengomelinya tanpa ampun tentang hal ini. Rasa sayang Lisa untuknya sebagai adik, terkadang agak unik.


“Kalau begitu, Saya tidak akan menahan kehadiran Anda lebih lama lagi. Segera kabari adik Anda, jangan membuat dia khawatir lebih lama lagi” CEO itu berdiri, membuat asisten dan sekretarisnya juga ikut berdiri bersamanya. “Besok adalah pertemuan terakhir, kabari dia juga bahwa Anda akan kembali ke rumah setelahnya” Ada senyum yang di tawarkan ketika Sinar baru saja berdiri untuk menghormati rekan bisnis barunya itu. Jabatan tangan ia raih dengan ramah dan senyuman.


“Senang bekerjasama dengan Anda, Mas Sinar. Semoga kerjasama ini baik untuk kedua perusahaan”


“Tentu saja, Saya juga Pak Senja. Saya sangat bersemangat untuk kerjasama ini. Terimakasih banyak untuk waktu dan kesempatan yang telah Anda berikan untuk Saya”


Pria paruh baya itu terlihat bangga sebelum menepuk bahu Sinar tiga kali sebelum memberi sinyal pada Sekretaris dan Asistennya untuk segera keluar. Meninggalkan Sinar yang berbalik penuh untuk melihat punggung semi bungkuk itu menghilang dari balik pintu kaca buram ruang meeting.


Setelah pintu terbanting pelan menutup, Sinar melepaskan hembusan napas berat, agak gusar sebelum dia kembali bersin untuk kesekian kalinya hari itu. Dia menarik napasnya sebelum mendengus dan mengusap hidungnya yang memerah. Matanya berair, tetapi enggan untuk ia usap. Sinar hanya melonggarkan dasinya dan kembali duduk di kursi empuk putar itu. Dia akan menikmati sedikit waktu di ruangan sebelum kembali ke hotel. Dia mengomel sesuatu di bawah napasnya sebelum mengacak rambutnya sebal karena hidungnya yang sedikit mampet.


“Pak Sinar nggak apa-apa? Dari kemarin bersin terus nggak berhenti-berhenti. Apa perlu mampir Apotek dulu buat beli obat?”


Sinar bisa mendengar suara Wildan mendekat, semakin keras di telinganya terdengar begitu khawatir. Sinar mengangkat wajahnya, memberikan ekspresi cemberutnya dengan hidung merah dan mata berair. Wildan tertawa ketika dia melihat ekspresi ketidaksukaan yang dia tahu kenapa Sinar memberikan ekspresi itu padanya. Tapi dengan tambahan khas orang sakit flu, itu membuat Sinar terlihat lebih lucu dan kekanak-kanakkan dibandingkan dengan postur professional dan wibawa yang dia berikan ketika berhadapan dengan petinggi perusahaan lainnya. Menunjukkan power yang dia miliki dan asah sejak kecil ketika perusahaannya sedang dalam masa merintis.


“Mas Wildan, udah berapa kali gue bilang jangan manggil begitu kalau nggak ada siapa-siapa” Sinar sedikit merajuk membuat Wildan merasa sedikit geli. Dia terlihat seperti sedang mengasuh adiknya sendiri sekarang. Sebenarnya, sebagian besar waktu ketika mereka sedang tidak bekerja, Sinar sungguh seperti bayi besar yang membutuhkan banyak perhatian.


“Gue nggak apa-apa. Sehat banget malahan. Ini nggak tau kenapa malah bersin-bersin, dong. Yakin banget ini gue, Lisa pasti lagi misuh-misuh dan ngomongin gue sejak kemarin” Dia menggerutu, berdecak sebal ketika dia bangkit dan membenarkan kursi yang baru didudukinya, sadar diri bahwa dia masih berada di perusahaan milik rekan bisnisnya.


“Gue mau langsung ke hotel aja Mas, mau nelpon Lisa. Nanti pesan makanan langsung ke kamar aja. Request air jeruk nipis hangat juga, ya, biar ini bersinnya agak reda. Makanannya juga jangan yang terlalu berminyak, takutnya ini emang tanda-tanda mau flu sama batuk”


Lagi, suara bersin Sinar memenuhi ruangan. Wildan yang baru saja memasukkan laptop dan berkas ke dalam tas, menyetujui dengan gumamam sembari melirik Sinar dengan sedikit rasa iba. Kegiatan Sinar agak banyak dan sibuk beberapa hari terakhir, mungkin ada benarnya bahwa tubuh Sinar tidak bisa mengimbangi kegiatan sibuknya meski sebenarnya dia sudah terbiasa dengan kegiatan seperti ini.


“Oke, nanti Mas pesankan semuanya. Berarti ini juga nanti harus berhenti di Apotek ya, buat beli obat sama vitamin. Jangan sampai beneran sakit, Dek”


Sinar mengangguk. Wajahnya terlihat seperti campuran ingin bersin tetapi tidak terjadi. Dia menggerutu kecil ketika membuka pintu, menunggu Wildan yang mengikuti jejak Sinar untuk keluar dari ruangan. Seperti kebiasaan yang terbalik, Sinar-lah yang seringkali membiarkan Wildan keluar lebih dulu dari dalam ruangan. Pertamakali terjadi, itu membuat Wildan merasa aneh, namun Sinar tidak perduli, katanya lebih suka seperti itu karena Wildan lebih tua darinya dan merupakan salah satu asisten kepercayaannya yang dia minta untuk ikut dengannya dari perusahaan yang berada di Jepang yang pernah dia kelola beberapa tahun sebelum pindah ke perusahaan yang sekarang.


“Iya Mas, yang penting gue mau nelpon Lisa dulu. Sama, air jeruk nipis hangatnya pokoknya jangan dilupain”


“Iya, Dek, aman”


“Hehe, makasih Mas Wildan!”


Acungan jempol yang diberikan bersamaan dengan cengengesan dan mata sipit karena tekanan pipi dari bibir yang terangkat adalah apa yang di dapatkan oleh Wildan setelahya yang membuatnya tersenyum dengan sayang. Sinar sungguh terlihat seperti adiknya sendiri.


...…....


Sinar baru saja selesai dari rutinitas membersihkan diri, mengacak rambutnya dengan handuk dan duduk tepat di depan laptopnya yang menyala, sudah menghubungi adiknya yang ada di kota sebelah untuk melakukan face time. Tinggal menunggu Lisa untuk mengangkat sambungan, maka dia akan bisa berbicara santai dengan sang adik.


Makanan, minuman dan obat-obatan yang dipesankan oleh Sinar dan tentu saja dengan inisiatif yang dimiliki oleh Wildan sudah tersedia dengan lengkap disebelahnya. Jadi sementara menunggu Lisa mengangkat panggilan, dia meminum air perasan jeruk nipis yang asam. Hidungnya agak mengernyit dan bibirnya melengkung kecut, tetapi tenggorokkannya terasa hangat dan dia berharap dia tidak akan terjangkit flu atau sakit apapun itu karena dia benci merasa lemah dengan hidung dan tenggorokkan yang gatal.


Butuh beberapa menit setelahnya sampai wajah Lisa yang cemberut dan kesal muncul di layar laptopnya. Meletakan minumannya dengan cepat, Sinar memberikan cengiran untuk sang adik agar kekesalan itu reda. Namun bahkan dengan itu, Sinar tahu bahwa Lisa tidak mudah luluh karena anak itu sangat keras kepala.


“Adeknya gue yang gemes jangan ngambek gitu dong, nanti cantiknya luntur, lho”


Sinar mencoba menggoda. Wajahnya dia dekatkan ke kamera dan membuat beberapa ekspresi seperti anak kucing untuk membuat adiknya itu luluh, namun yang dia dapatkan adalah dua buah jari kelingking lentiknya yang ditunjukkan ke arah kamera sebagai pengganti jari tengah yang tidak akan berani adiknya itu lakukan pada siapapun, dan tidak akan pernah, sebenarnya. Lisa hanya melakukan itu kepadanya untuk menyalurkan rasa kesalnya dalam bentuk main-main. Jadi, Sinar tahu bahwa dia tidak terlalu dalam posisi yang sulit untuk membujuk sang adik. Dan juga, adiknya tidak akan pernah melakukan hal yang tidak baik seperti itu.


“Oh gitu, ngambek sama gue, ya? Jarinya awasin! belajar dari siapa begitu?”


Sinar tertawa, sebenarnya sudah tau. Namun dia merasa begitu senang dengan dengusan dan bibir yang komat-kamit tanpa suara dari perempuan itu. Wajahnya masih jutek, namun terlihat lebih santai daripada yang dia kira.


“Kelingking doang”


Suaranya terdengar, dan senyuman sinar lebih cerah dari sebelumnya. “Kalau gue bilang belajar dari Hala, percaya nggak, lo?” lanjutnya kemudian. Perempuan itu sepertinya sedang bersantai di kamarnya dengan sepiring anggur hijau di tangannya.


“Kalau gue bilang nggak, gimana?” Sinar menggoda kembali, suka melihat reaksi yang diberikan sang adik.


“Ya udah kalau gitu, deritanya lo. Jangan kaget nanti kalau udah tau Hala luar dalam, lo”


Lisa menyeringai, ikut menggoda sang kakak tentang sahabatnya. Sinar tau, ada kilatan suka dari Lisa jika menyangkut perasaan Sinar tentang Hala. Lisa seolah-olah sangat menyetujui jika dia menjalin hubungan dengan sahabatnya yang bermata bulat dan lucu itu. Rasanya ada sesuatu yang membuat Sinar merasa superior dan percaya diri dengan dukungan sang adik, persetujuan yang terang-terangan diberi untuknya mendekati Hala.


“Emang lo tau dia luar dalam, dek?” Sinar menaikkan alisnya dengan nakal, ikut dalam permainan. Lisa memutar bola matanya sebelum menunjukkan wajah aneh untuk sang kakak.


“Udah ah ngapain bahas Hala, gue lagi marah sama lo, Kak” perempuan itu mencibir. Sinar tertawa dengan lepas sebelum kembali bersin dan tanpa sadar mengumpat seperti rengekan. Lisa mengerjap ketika mendengar suara bersin dan Sinar yang tiba-tiba meraih air perasan jeruk nipisnya yang terlihat keruh di tampilan sambungan face time mereka.


“Lo sakit, kak?”


Lisa terdengar sedikit khawatir, bahkan piring anggurnya sudah dia singkirkan untuk fokus pada sang Kakak. Sinar tanpa sadar tersenyum setelah terbatuk dari tegukan minumannya.


“Bersin doang, gue, dek. Tau nih, gue, ini pasti kerjaan lo, kan? Lo ngomelin gue mulu karena nggak ngabarin lo kalau gue ada dinas luar kota” dia menuduh dengan tatapan yang dibuat sengit. Lisa membalas dengan cibiran dan bibir yang dimajukan untuk mengomel.


“Gue ngomelinnya cuma sekali doang, ya! Makanya kalau pergi pergi tuh, kabarin dulu. Jangan seolah nggak ada beban gitu main pergi doang. Kalau misalnya lo tinggal bukan di rumah gue, sih, gue nggak masalah lo mau kemana aja, Kak. Tapi masalahnya lo sekarang tinggal sama gue, ya, tolong dong kabarnya, jangan malah gue tau kabar lo dari orang lain. Punya abang kok nyebelin banget, sumpah”


Tangan Sinar terangkat untuk menutup bibirnya dengen beberapa punggung jarinya. Senang karena adiknya mengomel juga. Dia senang dengan perhatian yang diberikan meski cara penyampaiannya berbeda. Sinar sebenarnya juga merasa bersalah karena tidak menghubungi Lisa sejak kemarin. Dia pikir karena Lisa sudah sering sendiri dan paham bahwa dia sering berpergian untuk bisnis, Lisa akan paham jika dia sedang tidak berada di sekitar sang adik. Sinar tahu seperti telah di hapal luar kepala bahwa adiknya adalah tipe yang mandiri, jadi, ketika Sinar menghilang, setidaknya Lisa tidak kelimpungan mencarinya.


Namun ternyata, Adiknya tetap merupakan adiknya yang butuh di beri kabar. Benar, dia sekarang sudah menetap bersama dengan sang adik. Seharusnya perempuan itulah yang harus dia kabari tentang keberadaannya. Sinar menarik senyum simpul, mencatat dengan baik di kepalanya bahwa lain kali dia ada urusan bisnis, dia akan menghubungi Lisa secepatnya.


“Pasti Noren, ya, yang ngasih tau?” Abai pada permintaan maaf yang tidak ingin dia sampaikan, Sinar lebih memilih fokus pada hal lain yang disampaikan adiknya.


“Sumpah ya, lo, bukannya ngerasa bersalah dan minta maaf malah nanyain yang itu. Males banget gue sama lo, udah ah, nggak usah pulang sama sekali ke rumah gue lagi, lo, kak. Gue matiin juga, nih!”


“Loh, kenapa makin parah aja ngambeknya, nih? Jangan gitu, nanti nggak gemes lagi, lo, dek”


“Serius, Kak?”


Lisa mendengus, tampak lebih kesal dari sebelumnya. Sinar mengangkat kedua tangannya menyerah, tidak ingin lebih mempermainkan sang adik.


“Iya, iya, jangan dimatiin. Gue kan rencananya emang pengen ngabarin lo, dek” Sinar menyerah. Tidak ingin menggoda adiknya yang sedang dalam mode serius saat ini. “Maafin Kakak lo ini yang tiba-tiba ngilang dan nggak ngabarin, lo, dek. Sumpah, gue nggak kepikiran buat ngabarin siapapun karena lagi ngurus meeting sama perusahaan yang udah lama pengen di gandeng sama Papa itu, yang dulu pernah ditolak. Sekarang waktu ada kesempatan lagi, jadi, ya, gue fokus sama itu doang” Sinar menjelaskan. Lidahnya keluar untuk membasahi bibirnya yang kering. Ada tampilan sayang dan wibawa sang kakak yang hangat ketika dia menjelaskan pada sang adik.


”Bukannya lo nggak penting, dek. Emang seharusnya gue yang sadar diri karena sekarang gue tinggal sama lo. Maafin kakak lo yang kadang bego ini, ya? Udah jangan ngambek lagi, jangan sedih lagi, ini kan gue udah ada kabar dari gue langsung, bukan dari Noren atau orang lain” Sinar mengangkat jempolnya sebagai gestur untuk meyakinkan sang adik bahwasanya dia tulus mengatakan. Meski agak aneh, tapi Lisa membalasnya dengan dua jempol yang sama di dalam layar sambungan mereka. Sinar tekekeh, senang dengan hasilnya.


“Iya, lain kali jangan diulangi” tuturnya kemudian, sedikit memaksa.


“Iya, nggak akan gue ulangi, janji” Sinar membeo, menambahkan satu segel perjanjian di akhir, menempelkan jempolnya di layar yang diikuti Lisa dengan cengiran lebarnya yang puas.


“Nah, kan, jadinya enak ngobrol sama lo, kak. Nggak sebel lagi gue” Dia melanjutkan dengan lebih ceria. Kembali mengambil anggur hijau yang disukainya itu. Pipinya menggembung penuh dengan kepuasan dan rasa senang. “Sedih gue sih sebenernya kalau boleh jujur. Lo abang gue tapi gue taunya dari sahabat lo yang nyebelin itu” Dia meanjutkan dengan suara yang tertahan karena mulut yang penuh.


“Kunyah dulu itu, baru ngomong” ingatnya.


Sinar mengambil minumannya ketika hidungnya terasa tersumbat kembali. Dia mengeluh dalam diam, tidak ingin membuat adiknya semakin khawatir. Wajah lelah Lisa sehabis bekerja membuat Sinar sangat ingin menjaga sang adik, mungkin menemani Lisa untuk menonton film kesukaannya atau bahkan hanya mendengar sang adik bercerita. itu sangat cukup.


“Udah” suara Lisa menggema dari speaker laptop di kamar hotelnya yang sepi.


“Bagus! Keren nih, adek gue”


Sinar tertawa ketika Lisa membuat wajah jijik di kamera.


“Jadi, Noren nggak ngapa-ngapain lo kan, kemarin?” Sinar mengangkat pertanyaan, Lisa menatapnya sangsi.


“Ya enggak lah!” Jeritnya tidak suka. “Kalau dia ngapa-ngapain gue, gue bisa bela diri. Gue hajar duluan tuh orang!” suaranya menggebu-gebu, penuh emosi, membuat Sinar tidak bisa untuk tidak tertawa puas dan sedikitnya senang dengan penuturan Lisa. Dia yakin adiknya akan bisa menangani hal-hal seperti itu. Pun jika sesuatu terjadi pada adiknya, Sinar tidak akan ragu untuk menggorok leher Noren atau siapapun yang berani berbuat sesuatu, detik itu juga.


“Bagus deh kalau gitu” Dia bernapas dengan nyaman. Matanya melirik ke arah gorden, matahari sore menyelinap dari sela yang bisa mereka tembus. “Jadi, kalian ngapain aja kemarin?” tanyanya kemudian.


“Dia cuma jemput gue, ngajakin beli sesuatu ke mall, alun-alun sama makan seafood aja” bibir Lisa mengerucut mengingat kejadian malam kemarin dengan wajah masam. “Sumpah gue capek banget kemarin, eh, malah diajakin jalan. Untung aja ada Alpino malem itu jadi makan seafoodnya bertiga. Kalau berdua doang gue udah ngacir pulang, kali”


Sinar mendengarkan. Meskipun telinganya berkedut ketika nama Alpino disebutkan, dia mengabaikannya. Karena dari cerita sang adik, Alpino ada untuk menenangkan Lisa pada malam itu yang sedang merasa lelah dan tidak nyaman. Setidaknya, hal itu masih menjadi hal positif dari kehadiran Alpino disana.


“Bagus deh kalau gitu” tanggapnya. Tatapannya masih terlihat sayang pada sang adik yang kali ini memasukkan langsung dua buah anggur ke dalam mulutnya. Dia terkekeh geli. Lisa menatapnya dengan pipi menggembung seperti tupai dan Sinar tidak bisa untuk tidak kembali merasa geli dengan tingkah sang adik.


“Kak” dia memanggil dengan serius. Sinar mengangkat kedua alisnya, mendengarkan. “Lo ngasih tau ke Kak Noren kalau gue suka dandelion?” tiba-tiba dia bertanya. Sinar mengerjap pelan, mengernyit kemudian untuk mengingat apakah dia pernah membocorkan itu. Namun, sebuah realisasi menyadarkannya dan dia hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.


“Bukannya lo yang ngasih tau sendiri ke dia, ya, dek?”


“Hah?” Wajah Lisa menyiratkan keterkejutan. “Ih, gue nggak pernah deh kayaknya” rengeknya kemudian. “Nggak mungkin, lah” reaksi penolakan yang khas kemudian hadir.


“Lupa kali lo, dek” singkatnya sebelum mengalihkan pembicaraan. “Lagian ngapain tiba-tiba nanya itu?”


Lisa masih berpikir dengan keras, namun dia menggelengkan kepalanya secepat kilat seperti tidak percaya apa yang Sinar katakan.


“Nggak pernah, ya, gue ngasih tau ke dia” Cemberutnya sebelum melanjutkan. “Dia ngasih boneka beruang ke gue tapi ada dandelionnya. Cantik sih. Tapi kok bisa spesifik gitu, ya?”


Sinar memperhatikan kebingungan yang hadir di wajah Lisa. Sebenarnya Sinar agak penasaran kenapa sang adik bisa melupakan tentang semua hal yang diceritakan Noren kepadanya. Bingung mengapa sang adik sepertinya tidak ingat bahwa dia pernah bertemu Noren dan mengobrol banyak hal dengan sahabatnya itu sebelumnya.


“Ah,” dia membuka suaranya lagi. “Kebetulan doang pasti ya, Kak?” Lisa seperti meyakinkan dirinya sendiri.


Sinar hanya diam. Bibirnya seolah tidak terbuka untuk berbicara. Dia membiarkan Lisa berasumsi sendiri dan percaya dengan apa yang dia percaya. Mungkin ada sesuatu, pikirnya. Mungkin adiknya memang pelupa atau kejadian itu tidak pernah menjadi inti memori dalam kepalanya. Mungkin…


“Yaudah sih, ngapain bahas ini” Lisa menggumam lagi, agak menyesal dengan pembasahan yang dia angkat. Sinar menyodorkan senyum simpul dan tanpa komentar.


Lisa memperhatikannya sebelum mengeluarkan senyum aneh yang khas


“Gue mau oleh-oleh pokoknya” Dia tiba-tiba menuturkan permintaan entah dari mana dengan ekspresi lurus yang tidak disangka.


“Loh tiba-tiba?” Senyum Sinar mengembang lagi. Adiknya memang tidak mudah untuk ditebak, betapa lucunya.


“Serius nih, gue”


Mendengar rengekan lucu sang adik, siapa dia untuk menolak?


“Yaudah, nanti list mau oleh-oleh apa terus kirim ke gue. Nanti gue cariin pas mau pulang”


Dan hanya dengan ucapannya, Sinar hampir terkejut ketika suara adikknya menggema terlalu keras dari speaker laptopnya. Telinganya berdengung membuatnya meringis.


“Sakit telinga gue, dek. Jangan teriak” matanya melotot pada sang adik yang hanya memberikannya cengengesan tanpa dosa dan kedua jari yang membentuk tanda peace.


“Hehe” tawa kecilnya lagi. “Maaf deh” Lanjutnya kemudian.


“Yaudah, sana deh lo, kak. Gue males liat wajah lo. Mending lo nelpon pacar lo. Gue mau mesra-mesraan sama kasur gue alias tidur!”


“Ngejek banget lo dek, sumpah” Sinar memutar matanya. Ingatannya membayangkan satu sosok perempuan menggemaskan secara tiba-tiba. Dia menggeleng dengan senyuman aneh di wajahnya.


“Calon pacar maksud gue” Lisa terkikik mengejek. “Kalau emang bisa jadiin pacar, sih” ejeknya lagi.


Perempatan imajiner hadir di kepala Sinar. Tiba-tiba merasa kesal dengan ejekan sang adik. Tapi ketika mendengar suara Lisa yang sangat puas dan wajah gembira itu, Sinar tidak bisa untuk berlama-lama merasa kesal. Baru saja dia ingin membalas ejekan, satu suara bersin kembali membahana di dalam ruangan. Dia mengerang, mengumpat dengan tidak begitu senang.


“Udah sana, manja manjaan sama Hala. Bilang kalau lo sakit, Kak” suara Lisa masuk ke dalam telinganya yang berdengung.


“Tau aja kalau gue mau manja manjaan” Sinar melempar kembali godaan. Hatinya terasa berbunga-bunga dengan aneh.


“Dih!” Lisa meludah dengan wajah masam.


Ah, rasa rasanya Sinar ingin segera pulang dan membagi banyak cerita pada sang adik. Maklum, dia selalu jauh dengan Lisa. Banyak hal yang tidak bisa dia lakukan bersama adiknya itu. Beban yang harus ditanggungnya sebagai seorang anak laki-laki pertama dan pewaris perusahaan yang mati-matian didirikan dan dikembangkan oleh orangtuanya membuat Sinar lebih fokus dengan hal-hal mengenai bisnis ini sehingga untuk bermain dengan adiknya saja, dia harus mencuri-curi waktu selama masa remajanya bahkan hingga sekarang.


Senyum sayang dia berikan sebelum melambai.


“Sehat sehat ya, dek”


“Lo juga” Lisa berucap dengan cepat, namun tegas. “Jangan sakit, Kak” lanjutnya.


Sinar merasa sesak di dada. Rasa sayang membuncah dan dia merasa sangat berharga.


“Minum obat, jangan makan makanan yang berminyak. Jangan minum es. Tidur yang cukup. Jaga kesehatan lo baik- baik, jangan skip makan juga pokoknya. Jangan sampe di rawat kayak dulu lagi, ya?”


Ah.


Sinar mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Emosi yang tiba-tiba menyeruak membuatnya sedikit terpeleset, namun secepat itu pula dia tepiskan.


“Iyaa bawel” dia mengejek sambil tertawa. “Gue tutup ya, dahh adik gue paling bawel!”


Sinar cepat-cepat memutuskan sambungan mereka. Matanya terpaku pada layar hitam yang memantulkan bayangannya. Napasnya dikeluarkan dengan berat. Lelaki itu melemparkan tubuhnya ke belakang, membuat punggungnya bertabrakan dengan empuk kasur dibawahnya.


Terkadang, perhatian seperti itu adalah apa yang dia cari.


...…....


Jika Sinar boleh jujur, dia merasa sangat kesepian. Dia merasa banyak menanggung beban. Dia merasa banyak menanggung ekspektasi dari orang-orang disekitarnya dan bahkan orang tuanya sendiri. Dia menanggung banyak hal yang sejujurnya tidak bisa dia lakukan seorang diri.


Dia banyak menanggung rasa sakit yang berusaha dia tutupi, banyak kali menanggung air mata yang akan dia simpan seorang diri. Banyak kali mengatakan bahwa dia baik-baik saja, mengatakan bahwa dia kuat dan tidak kelelahan. Banyak kali dia menyakiti dirinya sendiri sehingga dia merasa kewalahan.


Dia adalah anak laki-laki pertama keluarga Cakrawijaya. Anak laki-laki dengan harapan penuh orang tuanya, anak laki-laki yang bertugas sebagai seorang kakak yang bisa menjadi panutan untuk adiknya, menjaga adiknya melebihi dirinya sendiri. Dia adalah anak laki-laki pertama Cakrawijaya yang tidak boleh menunjukkan bahwa dia lemah.


Anak laki-laki keluarga Cakrawijaya, diharapkan untuk tidak pernah menangis.


Sinar mampu dengan percaya diri mengatakan bahwa dia tidak menangis. Tapi dia hanyalah seorang anak laki-laki biasa, yang air matanya bisa membasahi wajahnya kapan saja dia merasa lelah dan jatuh. Sinar bukanlah seseorang tanpa air mata, dia juga bisa kelelahan dan stress. Dia juga memiliki rasa tidak percaya diri yang memakannya dari dalam. Tapi, dia harus menyembunyikan kelemahannya. Dia harus mampu untuk menjadi seseorang yang kuat. Dia tidak bisa terlihat lemah dan menyedihkan.


Sinar bersumpah bahwa dia berhasil menyembunyikan segala kelemahannya di balik pintu tertutup. Namun ada satu orang ini yang berhasil menemukannya di titik terlemah ketika air mata pertama jatuh membasahi pipinya.


Satu-satunya orang yang pernah dan berhasil membuatnya berlutut, menangis seperti anak kecil yang meraung. Satu-satunya orang yang berhasil membuka pintu gelapnya yang tertutup rapat, dimana bahkan adiknya sendiri tidak pernah tau tentang itu.


Seseorang itu adalah seorang perempuan yang sedang dia hubungi dengan harap-harap cemas dan perasaan berbunga-bunga dan buncahan aneh dengan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya yang membuatnya hampir memuntahkan segala isinya.


Satu sambungan yang dia tunggu seolah-olah napasnya dan harapannya hanya berpaku untuk satu orang ini.


Lalu, ketika layar hitam berubah menjadi tampilan sosok seorang perempuan dengan kacamata bulat yang lucu, rambut yang diurai dan jatuh di atas bahu sedang menggendong kucing hitam di satu tangan dan tangan yang lain berusaha menahan kaki kucingnya dengan sebuah benda yang terlihat seperti gunting kuku-, menyapanya dengan senyuman lebar yang manis dan suara yang disukai telinganya, Sinar merasa dia berhasil mengembangkan senyum konyol yang aneh di wajahnya.


Kesengsem dan bucin, (Lisa mengatakannya seperti itu).


Tapi siapa dia untuk megelak? Karena ketika perempuan itu tersenyum padanya, bahkan hanya dari layar laptopnya saja, Sinar sudah jatuh berlutut padanya. Senyum gila dan bahagia, aneh dan konyol, senang dan geli hadir menjadi satu. Dia tidak bisa mendeskripsikan, tapi Sinar tau dia jatuh bangun untuk perempuan itu.


“Halo, Kak Sinar”


“Halo, Hala”


Hala.


Hal berharga lain dan sangat penting yang akan Sinar perjuangkan dalam hidupnya.


Selain keluarga dan adik perempuannya. tentu saja.


............


...🍁...


...Tentang Rasa (Sinar Sight) Part.1 - End...


...🍁...


...🍁...


...🍁...


...🍁🍁...


...🍁🍁🍁...


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Halo! Chocooya kembali🥰 selamat membaca ya~ semoga suka❤❤


Choco hadir kembali dengan rekomendasi novel bagus dari Kak Reni T, nih! jangan lupa mampir yaaa🤗


Yuk liat cuplikannya di bawah inii☟☟☟


...PROMO NOVEL KARYA RENI T...


...JUDUL: TERJERAT CINTA MAFIA TAMPAN...


Adelia Fasha adalah seorang gadis matang berusia 25 tahun, sehari hari ia mencari nafkah dengan berjualan gorengan yang ia jajakan dengan cara berjalan keliling kampung. Suatu hari ia menemukan seorang laki laki dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka. Adelia pun menolongnya dan membawanya ke rumahnya, tanpa ia sadari, bahwa laki laki yang ia tolong adalah seorang mafia.



Jangan lupa mampir yaaa! 🤗


Selamat membaca🥰🌺


Oh iya! Chocooya punya akun IG lohh! boleh silahkan mampir😁


IG: Chocoonyam


Terimakasih 🌺