
Restoran bintang lima yang terpampang mewah di depan mata membuat Lisa mengerjap takjub. Bukannya dia tidak pernah menginjakkan kakinya di tempat makan mewah seperti ini, hanya saja Nalisa lebih memilih untuk menghadiri tempat-tempat yang cukup untuk perutnya yang suka makan enak dengan porsi yang banyak. Meskipun tidak bisa dipungkiri, menghabiskan uang di sebuah restoran ternama tidak buruk. Makanan disana sangat lezat dan dikemas dengan cara yang mewah dan memanjakan mata. Belum lagi tempat yang disediakan adalah yang paling nyaman dan cocok untuk suasana perbincangan keluarga besar.
Nalisa hanya mengunjungi restoran mewah bersama keluarganya untuk urusan bisnis atau hanya berkumpul dan berbincang santai semata. Selain itu, dia tidak pernah mendatangi tempat yang benar-benar ‘wow’ di hari-harinya yang biasa. Bukan karena masalah uang, tetapi dia lebih senang untuk mendatangi tempat yang lebih cocok dengan seleranya yang lebih santai dan sederhana.
“Ini kunci mobilnya, Pak. Saya minta tolong untuk diparkirkan di tempat yang terdekat. Terimakasih”
Suara Kakaknya yang sedang berbincang dengan Valet Parking menyadarkannya dari rasa kekaguman dengan hanya memandangi eksterior restoran itu. Berbalik untuk melihat punggung Kakaknya yang menjulang, Lisa memikirkan percakapan aneh selama perjalanan mereka.
Kakaknya terdengar sangat sedih. Meminta maaf terus menerus seperti dia telah melakukan kesalahan besar terhadapnya. Tapi, Lisa tahu bahwa Sinar tidak akan membuatnya dalam kesulitan, kan? Dia mempercayai Kakaknya dengan sangat. Namun, kesedihan dan permintaan maaf yang melayang diam di dalam ruang sempit mobil membuat perasaannya menjadi agak terlalu berat.
Sempat bertanya untuk apa Sinar meminta maaf sedemikian rupa, namun lelaki itu hanya menghela napas sulit seraya membesarkan volume musik di radio dan hanya memberikannya senyuman simpul dengan usakan lembut di kepala.
Lalu sampai saat mereka tiba, Sinar tidak banyak berbicara sama sekali.
“Ayo masuk, Dek. Mama sama Papa pasti udah nggak sabar buat ketemu lo” Suara Sinar yang berat mengejutkannya.
“Oke! Ayo!” Lisa berbalik dan mengangguk dengan riang.
Satu tangan diselipkan ke lengan kakaknya yang ditawarkan. Perasaan Lisa kemudian kembali berangsur-angsur menjadi bersemangat dan senang. Melupakan hal-hal aneh di dalam mobil. Sinar kemudian menuntunnya untuk masuk ke dalam restoran. Berbincang sedikit dengan resepsionis untuk bertanya dimana keluarga mereka berada, pelayan yang dipanggil untuk ditugaskan segera membawa mereka ke ruangan yang sudah di pesan.
Lisa masih merasa takjub dengan kenyamanan dan kemewahan yang diberikan oleh restoran ini. Bukan hanya eksteriornya yang sangat indah, interiornya juga meneriakkan mahal dan kecantikan yang tiada tara. Di dalam hati, Lisa menulis list untuk merombak suasana dapurnya dengan beberapa ide dari restoran ini.
Sedang memandangi keindahan yang disajikan, tiba-tiba tangan Sinar menjawilnya, membuat Lisa menoleh dengan sangat cepat untuk memandangi kakaknya yang bertubuh lebih besar darinya itu. Alisnya terangkat untuk bertanya, tidak menyuarakan dengan lantang karena mereka kini sedang berada di dalam lift kaca yang sedang mengangkat mereka menuju lantai 11.
“Apa?” bibirnya bergerak tanpa suara untuk bertanya pada sang kakak. Pasalnya, Sinar hanya memandanginya dengan sorot mata yang lagi-lagi membuatnya agak jengah karena seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Namun lagi-lagi, lelaki itu menawarkan senyumannya dengan sorot mata yang sama sebelum akhirnya menunduk sedikit untuk membisikkan sesuatu padanya. Yang agak tidak biasa menurut Lisa.
“Lo harus tau kalau Kakak lo ini sayang banget sama lo, Dek. Oke? Lo cuma harus tau itu” Bisiknya dengan suara lirik.
“Hah?”
Kali ini Lisa berucap dengan lantang, membuat pelayan yang berada di depan mereka terkejut. Menawarkan senyuman permintaan maaf, Lisa terlihat agak kikuk. Sedangkan Sinar hanya kembali berdiri dan menatap pintu lift yang kali ini sudah terbuka, menunjukkan lorong dengan banyak pintu-pintu geser yang dilukis dengan karya seni musim semi tradisional Jepang yang terlihat sangat profesional.
“Ruangan atas nama keluarga Cakrawijaya berada di pintu kedua sebelah kanan. Maaf saya hanya diperbolehkan mengantar sampai disini. Tuan dan Nyonya besar Cakrawijaya sudah terlebih dahulu berada di dalam ruangan. Untuk sajian makanan akan datang dalam lima belas menit lagi, Tuan, Nona. Terimakasih banyak.. Silahkan..”
Pelayan yang mengantar mereka undur diri dengan sangat sopan. Lisa dan Sinar melangkahkan kaki keluar dari lift dan berjalan beriringan melalui lorong yang terlihat agak temaram yang anehnya memancarkan suasana hangat perjamuan antar keluarga. Entah itu hanyalah sugesti milik Lisa sendiri karena dia sangat senang untuk bertemu kedua orang tuanya atau memang seperti itu. Tapi, jika dilihat dari reaksi yang diberikan Sinar, lelaki itu terlihat jauh dari kata semangat yang sama seperti Lisa.
Mengangkat bahu tidak peduli karena kakaknya terus mencoba berusaha untuk terlihat sangat misterius, Lisa segera menarik tangannya dari tautan lengan Sinar, berjalan dengan sedikit melompat karena kebahagiaan untuk segera membuka pintu geser yang berada di depannya. Reservasi atas nama keluarga Cakrawijaya terpampang rapi di plakat tembok sebelah pintu. Terukir dengan font cantik yang menawan dihiasi dengan warna gold yang agak menyakitkan mata.
“Mama, Papa! Nalisa kangen banget!!!”
Itu adalah teriakan yang sama sekali tidak mencerminkan sopan santun sebuah pertemuan yang terlihat formal hanya dari pakaian yang sedang mereka kenakan, namun siapa Lisa untuk peduli ketika dia melompat ke pelukan Mamanya yang sudah menyambutnya dengan cekikikan lucu di wajah dewasa yang sama sekali tidak terlihat keriput mengerikan seperti orang tua seusianya.
Sherely Dayola Cakrawijaya masih terlihat sangat muda, berbanding terbalik dengan suaminya, Huston Agung Cakrawijaya yang terlihat dengan rambut yang sudah hampir memutih dan janggut yang sengaja di panjangkan beberapa bulan terakhir. Lisa ingat bahwa Ayahnya berkata ingin mengepang janggutnya karena sepertinya terlihat menggemaskan dan mempesona. Tolong jangan katakan pada Papanya bahwa itu sama sekali tidak mempesona.
Atau mungkin saja, sih. Karena, meskipun rambut ayahnya hampir memutih, tubuh lelaki itu tetap terlihat kokoh dan bidang. Seperti lelaki tua itu tidak menghabiskan waktunya di gym untuk membentuk otot-otot tubuhnya. Tapi percaya atau tidak, Huston juga tidak terlalu banyak menyentuh gym atau olahraga yang berat di usia paruh baya nya. Pria itu hanya lebih fokus pada olahraga golf favoritenya atau menghabiskan waktu berkuda dan menonton pacuan kuda yang dia gemari.
“Aduh, anak gemas mama yang cantik~ Apa kabar sayang? Mama kangen banget sama anak gadisnya Mama yang cantik nan lucu ini~” Sherely mencubiti pipi anaknya dengan gemas di sela ciuman-ciuman kecil terbukanya di wajah sang anak.
Lisa terkikik geli. Bibirnya mengerucut lucu ketika dia hanya menyerobot Mamanya untuk memeluk erat Wanita yang sudah melahirkannya itu. Menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri dengan ketukan yang sama dan dihiasi dengan tawa manis yang lucu.
“Nalisa sehat, Ma.. anak Mama ini kan pinter jaga diri” Hidung mengerucut gemas sebelum dia mencium pipi Mamanya dengan sayang. “Mama gimana? Baik. Kan? Hm.. Kayaknya beneran sehat dan baik-baik aja. Karena, coba lihat, deh. Mama kayaknya makin muda aja, nih? Senyumnya juga lebar banget. Nalisa yakin Mama pasti living your best life, kan, Ma?”
Sherely tertawa. Anak perempuannya yang sekarang sudah tumbuh lebih tinggi darinya dan memiliki wajah yang mirip dengannya di waktu muda adalah apa yang membuat perasaannya sekarang menghangat. Dirinya sangat menyayangi anak perempuan satu-satunya. Dan hal ini lah yang membuat Sherely yakin bahwa apapun langkah yang akan dia lakukan kedepannya pastilah hanya untuk kebahagiaan sang anak perempuan satu-satunya ini.
“Aduh, aduh.. kelihatan banget, ya?” Seherely mengusap pipinya dengan malu-malu. Tipikal remaja yang sedang dengan pujian gula dari banyak orang.
“Dih, Mama sok malu-malu. Lucu banget” Nalisa terkikik lagi. Perasaan sayang membanjiri hatinya seperti air terjun yang deras.
“Eh, ini Papa dianggurin aja nih jadinya? Nggak ada pelukan buat Papa?”
Huston dengan setelah jas abu-abu rapid an rambut hampit putih yang klimis serta janggut dan brewok yang tumbuh dengan cocok di wajahnya yang sebenarnya masih terlihat tampan, namun tua, datang dengan kedua tangan terbuka dan senyuman sumringah. Kedua mata Pria bertubuh muda itu mengecil hingga menjadi satu garis lurus yang lucu dan tidak begitu cocok dengan tampilan sangar dari rambut wajahnya.
“Papa! Lisa kangen banget juga haha, sudah lama nggak lihat Papa. Bahkan Papa kalau Lisa vidcall kadang nggak bisa karena janji main golf atau sibuk sama Sierra” Nalisa mengomel ketika dia menenggelamkan wajahnya di bahu hangat Papanya yang sangat dia cintai itu.
Huston tertawa dengan suara berat yang terdengar seperti rumah hangat menurut Lisa. Tanpa sadar, anak perempuan Cakrawijaya itu tersenyum lebar dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh kokoh sang Papa. Bau harum yang mewah dimana Papanya sangat suka menusuk hidung Lisa dengan cara yang bagus. Perempuan itu jujur bahwa dia suka suasana seperti ini. Ketika mereka semua bersama menjadi satu keluarga yang utuh.
“Maafin Papa, ya. Tapi tenang aja, anak perempuan Papa satu-satunya cuma Nalisa seorang. Sierra masih kalah dong dibanding kamu” Lisa mendengus, tetapi tetap membiarkan Papanya mengelus kepalanya dengan kasih sayang yang dengan suka dia curi dari pria itu.
“Jangan bandingin Lisa dengan kuda tua Papa, dong!” dia bersungut-sungut. Huston tertawa terbahak-bahak.
“Nggak ada yang ngebandingin. Papa cuma bilang, satu-satunya anak perempuan cantik Papa yang Papa sayang, ya, Lisa. Kalau Sierra kan anak angkat Papa” Lagi. Pria itu tertawa setelah melemparkan jokes yang membuat Lisa memutar kedua matanya. Dia lupa terkadang Papanya sangat sulit untuk ditangani.
“Mama, mama perawatan dimana, kok makin cantik aja Lisa lihat-lihat…”
“Eh, emang kelihatan gitu, yaa? Kemarin Jeng Carolina juga bilang gitu. Padahal Mama cuma ganti serum doang ini..”
Nalisa memilih untuk mengabaikan Papanya yang sekarang cemberut seperti anak-anak. Lebih memilih Mamanya yang sekarang sudah tertarik untuk mengobrol panjang lebar dengannya sembari duduk dengan nyaman di kursi yang tersedia. Disana, Sinar sudah mengambil tempat dan sibuk dengan ponselnya daripada memilih untuk bergaul dengan Mama dan Papanya, atau bahkan hanya mengikuti percakapan bahagia Nalisa.
Nalisa mengangkat bahu. Tidak memperdulikan lagi Kakaknya yang sudah aneh sejak awal. Meskipun dia agak khawatir, tetapi Sinar sama sekali tidak akan bisa untuk menjadi penghancur moodnya hari ini. Keluarganya sedang berkumpul setelah waktu yang sangat lama, jadi Lisa memilih untuk memokuskan dirinya pada kedua orangtuanya. Kakaknya itu bahkan sudah lebih aneh setelah tidak lagi tinggal dirumah bersamanya.
“Ma, Lisa lapar~ Suapin boleh?”
Dia memasang mata bulat berbinar khas anak kucing lucu yang memohon. Biarlah, dia sudah 23 tahun, namun dia melepaskan sifat manjanya hanya pada waktu-waktu tertenu. Seperti saat ini contohnya. Lisa sudah lama tidak bersama kedua orangtuanya, jadi jangan salahkan dia untuk menjadi bayi hanya pada saat ini saja.
“Aduh tiba-tiba aja Mama punya bayi besar disini~” Sherely mengusap kepala Lisa dengan sayang. Tangannya mengambil buah-buahan yang tersaji di atas meja persegi panjang yang dilapisi dengan kain lembut berwarna tulang. Ada beberapa macaron juga yang dihias di piring bertumpuk dan kue-kue mini berbentuk binatang dan bunga-bungaan yang terlihat sangat indah seperti kesenian yang dipajang.
“Buka mulutnya sayang~ Aaa”
Nalisa, dengan semangat yang membara dan kebahagiaan yang membuncah di dadanya dari kehangatan keluarga, sesegera mungkin membuka mulut dan menerima anggur hijau dari sang ibu. Senyum lebar terpatri di wajahnya.
Malamnya akan menjadi malam yang sangat berkesan dan terasa sangat hangat. Seperti selimut di musim hujan yang dingin di depan heater yang berdengung halus.
...……...
Ternyata Lisa salah.
Kebahagiaannya hancur berkeping-keping seperti serpihan kaca yang dihantam oleh benda tajam dari ketinggian seribu kaki. Perasaan hangat seperti dipeluk oleh orang-orang yang disayanginya berubah menjadi percikan amarah dan kekecewaan yang begitu besar. Rasanya, Lisa ingin muntah saja saat hal-hal mulai berbalik menjadi 180 derajat.
Dia tidak pernah mendaftarkan apapun yang sedang terjadi saat ini selama hidupnya. Jangankan itu, beberapa saat yang lalu sama sekali tidak ada pikiran jelek yang datang dan terpikirkan di kepalanya. Lisa tidak melihat tsunami emosi buruk yang akan datang. Tapi inilah nyata adanya.
Sebenarnya dia juga agak bingung kenapa yang tersaji di atas meja hanyalah appetizer saja. Hanya buah-buahan dan kue-kue manis yang tersedia. Lisa mengharapkan makanan akan segera datang, mengingat pelayan tadi mengatakan bahwa makanan akan datang dalam waktu lima belas menit. Namun nyatanya itu hanyalah makanan pembuka tambahan yang sama sekali tidak membuat perut Lisa terisi. Atau, tidak menunjukkan bahwa akan dimulainya makan malam keluarga meskipun anggota sudah lengkap.
Seharusnya Lisa curiga saat itu. Namun, otaknya dan hatinya yang sedang bersemi karena Mama dan Papanya mengecohnya untuk tidak memperhatikan detail kecil yang tersedia. Itulah mengapa dia tersedak ludahnya sendiri ketika pintu utama terbuka menunjukkan orang-orang yang tentu saja, salah satunya dia kenal dengan sangat baik selama hampir empat bulan belakangan.
Noren Agustion Giovano.
Lelaki itu masuk dengan percaya diri. Senyumannya simpul, namun menunjukkan kebahagiaan yang tiada tara. Wajah poker yang bisa Lisa telisik ada disana.
Bukan itu saja. Noren membawa dua orang paruh baya. Pasangan tua seusia Papa Mamanya yang pastilah merupakan pihak milik Noren sendiri.
Lisa, dengan penuh ketakutan melirik ke arah Sinar. Dia tahu bahwa Kakaknya pasti sadar dengan semua ini. Lisa yakin, sangat yakin bahwa Sinar sudah mengetahui hal ini akan terjadi. Itulah kenapa Kakaknya meminta maaf dengan aneh di mobil tadi, membisikkan perasaannya pada Lisa saat di lift dan juga memilih untuk mengabaikan menyapa Papa dan Mama seperti apa yang Lisa lakukan dengan hype yang sangat tinggi beberapa waktu yang lalu.
Daripada ingin menangis, Lisa marah. Sangat marah saat ini sampai dia tidak sadar bahwa dirinya mencengkeram telapak tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Lisa yakin, dari sengatan yang mampu dia rasakan sekilas, kuku-kukunya pastilah sudah mencetak bekas di kedua telapak tangannya.
Lisa merasa sangat mual.
“Nak Noren, selamat datang, sayang~”
Sherely bersuara, menyapa dengan sangat bersemangat saat wanita itu otomatis melempar dirinya dari kursi dan berangsur memeluk Noren seperti lelaki itu adalah anaknya sendiri. Lisa merasa dia bisa muntah saat ini juga. Sinar di ujung kursi, membuang wajah dan lebih fokus pada wine non alkohol di tangannya.
“Halo Ma, senang ketemu Mama lagi secepat ini” Suara Noren melantun merdu, menjijikkan ditelinga Lisa.
Lisa merasa dia ingin membakar ruangan ini dengan kedua tangannya hingga menjadi serpihan abu yang kasar.
“Halo, Papa. Papa kelihatan lebih tampan sekarang. Apa itu gara-gara Noren saranin buat numbuhin jambang juga?” Noren tertawa, diikuti dengan suara baritone Huston yang ikut menghampiri Noren dan memeluk lelaki jangkung itu.
“Hahaha, benar, Nak. Terimakasih ya sarannya. Mama kamu ini jadi makin lengket sama Papa, Nih”
“Sayang!” Sherely memukul suaminya dengan main-main. Terlihat sangat mesra dengan pasangannya.
Lisa tidak bisa berkata-kata. Dia hanya ingin segera kabur. Pergi menyeret Noren dan segera melakukan pembunuhan yang menyakitkan kepada lelaki brengsek itu. Bagaimana mungkin Noren bisa sedekat itu dengan kedua orang tuanya? Bagaimana lelaki itu bisa menyuap Mama dan Papanya? Keluarganya yang sangat dia sayangi dan adalah orang yang akan dia jaga dengan segenap hatinya.
“Ah, Sherely, akhirnya kita ketemu lagi. Kali ini lebih serius, ya” Wanita yang berada di samping Noren kini mulai muncul, tidak lupa mengedipkan matanya seperti sedang berbagi rahasia kecil mereka. Wanita itu yang lebih kecil daripada Ibunya memeluk Sherely seperti ibu-ibu sosialita biasanya. Sherely tertawa dengan suara yang membuat Lisa merasakan lehernya tercekik.
“Jessica! Kau tidak tau seberapa lama aku menunggu waktu ini datang. Aku tidak sabar untuk bisa mengobrol banyak hal ketika nanti kita sudah terhubung sebagai keluarga” Sherely terlihat bersinar ketika dia berbicara panjang kepada wanita tua kecil itu.
“Hahaha, jangan mendahului, aku ingin melihat bagaimana Lisa sekarang. Aku tidak sabar kalian memperkenalkannya kepada kami”
Lisa menelan. Dia tidak ingin mendengar. Dia tidak ingin mengetahui apa maksud dari percakapan orang tua menjengkelkan di depan pintu sana. Dia ingin otaknya mati sekarang. Dia juga tidak ingin sadar bahwa Noren melihatnya sejak tadi. Tidak terbantahkan, tidak goyah. Seperti dia sedang mengukur reaksi Lisa dengan apapun hal yang sedang terjadi disini.
Lelaki itu seperti mengejek. Seperti mengatakan bahwa dia mendekati kemenangannya. Mulut Lisa pahit. Dia merasa kering, namun keringat dingin yang seperti biji jagung itu menghianati kekeringan yang terjadi di dalam dirinya.
“Dallas, jangan menakuti anak gadis yang cantik!” Jessica menyenggol suaminya. Lisa bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia sakit, sangat sakit.
“Maaf, aku tidak menakuti. Aku hanya sangat bersemangat!” Lelaki yang ternyata memiliki perawakan yang sama dengan Noren, tetapi merupakan versi tua dari lelaki itu namun terlihat lebih bijaksana dan memiliki pengaruh pesona yang kuat dimana menunjukkan bahwa dia adalah mantan CEO dan pemilik perusahaan ternama dunia otomotif, membela dirinya.
“Oh, kau sama bersemangat seperti biasanya, Dallas Asterio Giovano!”
“Oh, itu kau akhirnya, Huston Agung Cakrawijaya!”
Dua pria tua itu tertawa terbahak dan melakukan high-five ria seperti mereka adalah dua kawan lama yang lengket. Tipikal bapak-bapak yang saling menemukan teman diantara mereka. Beberapa saat kemudian, para orang tua mulai masuk ke dalam obrolan yang terdengar seperti dengungan lebah di telinga Lisa.
“Hai, Lisa”
Sial. Ini bukan apa yang dia harapkan sama sekali.
Tubuh Lisa menegang. Dia sama sekali tidak ingin menangani ini. Suara Noren terdengar seperti buah busuk yang menjijikkan. Lisa tidak ingin mendongak untuk melihat Noren. Menurutnya, makaron setengah tergigit miliknya yang terletak di piring kecil adalah hal yang harus dia pelototi. Lisa akan kehilangan kendali diri jika dia melihat lelaki itu.
Dia pasti akan membunuh Noren saat ini juga jika dia menatap.
“Terimakasih sudah datang. Aku senang Lisa ada disini hari ini. Jadi, Mama dan Papa bisa melihat perempuan yang aku cintai di depan mata mereka sekarang”
Noren, yang sekarang menarik kursi untuk duduk di antara Lisa dan Sinar mulai menyamankan dirinya di tempat dimana tidak ada yang mengundangnya untuk datang. Lisa menggeram, dia ingin mencekik. Jadi, kepalanya terangkat dengan cepat seperti dia akan mematahkannya agar dia bisa melihat Noren dengan mata pembunuh yang kejam.
”Gue dijebak sama monster brengsek kayak lo, ya, njing!” Dia mendesis. Matanya melotot. Namun, Noren hanya tersenyum dengan lebar dan mengangkat jari telunjuknya ke atas permukaan bibirnya sendiri.
“Shh.. calon pengantin nggak boleh ngomong kotor. Apalagi di depan Papa sama Mama kita, ya?”
Si Monster ini! Lisa merasa empedunya naik ketika Noren dengan sengaja mengedipkan mata sialannya.
“Lo-,”
“Ya ampun! Calon mantu mama cantik banget! Pa! Ayo cepat kita bicarakan pengaturan pernikahannya! Mama nggak sabar menyambut Lisa kedalam keluarga besar kita!”
Jessica Carollyn Giovano. Lisa bersumpah, jika dia memiliki lebih banyak kekuatan di kemudian hari, dia juga pasti akan menyeret wanita tua itu kedalam kejahatan pembunuhan miliknya.
Keluarga Giovano, terbakarlah di neraka!
...🍁...
...Acara Makan Malam Dua Keluarga Besar...
.........
...🍁🍁🍁...
^^^Udah ketemu camer aja nih liss🤗^^^
gabole nyakitin orang ga bersalah loh Nalisa🤫